Kawal Kasus Penistaan Agama di Facebook, Umat Islam Sambangi PN Klaten

KLATEN (Jurnalislam.com) – Gabungan elemen muslim Klaten mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Klaten, Jalan Klaten – Solo KM.2, Klaten Utara pada Kamis (24/8/2017). Kedatangan mereka guna mengawal kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Rozak Ismail Sudarmaji (29) alias Aji.

Aji dinilai telah melecehkan Habib Rizieq dan agama Islam dalam status facebooknya. Hal itu kemudian dilaporkan oleh Ketua Majelis Mujahidin Klaten, Bony Azwar ke Polres Klaten, pada 19 Mei lalu.

Bony Azwar mengatakan, kedatangan puluhan ormas Islam ini untuk memberi dukungan kepada Jaksa dalam menegakan hukum dengan adil dan transparan. Menurutnya, Aji telah melanggar pasal 156 dan156 a tentang ujaran kebencian dan penistaan agama.

“Sudah jelas kedatangan kita untuk tegaknya supremasi hukum. Kami disini memberikan support pada Jaksa dan hakim untuk menegakkan keadilan. Dalam hal ini Rozak Sudarmaji yang melecehkan agama telah melanggar UU,” tegas Bony dalam orasinya.

Sementara itu, Suyadi Abu Fatih, ketua FPI (Front Pembela Islam) Klaten meminta umat Islam mengawal kasus pelecehan agama yang dilakukan Aji. Sebab, kata Suyadi, jika dibiarkan maka akan muncul penista agama lainnya.

“Perlu diingat saudara, kasus penista agama belum selesai di Klaten ini, muncul lagi pelecehan baliho HRS, Jadi luruskan niat untuk membela agama Allah agar supremasi hukum khususnya di Klaten bisa menghukum 5 tahun si Rozaq (Aji),” ucapnya.

Klarifikasi Menhub Soal Maskapai Vietnam: Pramugari Dipastikan Tidak Berbikini

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memastikan pramugari maskapai Vietjet Air akan memakai pakaian yang sopan.

“Pramugari dipastikan tidak [berbikini]. Saya sudah sampaikan karena Indonesia kan mayoritas penduduk Muslim sehingga meminta mereka untuk menghargai,” ujar Budi usai menghadiri peresmian rute di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Selasa (22/8/2017).

“Mereka juga sepakat untuk tidak melakukan itu,” tambahnya.

Sebelumnya, penolakan terhadap ‘maskapai bikini’ ini muncul setelah video para pramugari Vietjet berbikini itu viral di media sosial.

Mengenai video yang viral itu, VietJet Air mengklarifikasi bahwa kejadian tersebut merupakan promo spesial rute menuju wisata pantai.

“Pelayanan model berbikini itu adalah salah satu rute mereka ketika menuju tempat wisata pantai, dan itu cuma terjadi satu kali,” kata Wakil Presiden VietJet Air, Dinh Viet Phuong.

Ormas di Surabaya Protes Pemerintah Terima Kunjungan Partai Komunis Vietnam

SURABAYA (JurnaIislam.com) – Puluhan massa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Masyarakat Jawa Timur Untuk Selamakan Indonesia dari Komunis dan Anteknya (FORSIKA) pada Rabu (23/8/2017) berunjuk rasa memprotes kebijakan pemerintah menerima kunjungan Sekjen Partai Komunis Vietnam, Nguyen Phu Trong di Indonesia.

Para demonstran yang menggelar aksi di luar gedung Grahadi di Jalan Gubernur Suryo itu antara lain dari Front Pancasila, Front Pembela Islam, Front Anti Komunis, Hidayatullah Surabaya, Syabab Hidayatullah Surabaya, serta dari beberapa elemen dan komunitas masyarakat Jawa Timur.

Korlap aksi, Arukat Djaswadi mengatakan, penolakannya atas kerjasama pemerintah Indonesia dengan Vietnam karena dinilai telah mencederai UU No. 27 Tahun 1999 tentang larangan berhubungan dengan organisasi komunisme baik di dalam maupun luar negeri.

Baca juga: Ini Kekhawatiran Ulama Atas Kerjasama Pemerintah dengan Negara Komunis

“Oleh karena itu pertemuan antara pemerintah Republik Indonesia dengan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam (PKV) Nguyen Phu Trong adalah merupakan bentuk pelanggaran yang serius terhadap undang-undang,” tegas Arukat.

Arukat menegaskan kembali TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966 tentang pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI). Oleh sebab itu, ia mendesak pemerintah untuk menjungjung tinggi supremasi hukum.

“lndonesia adalah negara berdasarkan hukum (Rechtssstaat) bukan berdasarkan kekuasaan (Machsstaat), oleh karena itu kebijakan pemerintah tidak boleh bertentangan dengan hukum dan perundang undangan yang berlaku di Indonesi,” paparnya.

Baca juga: Perppu Menyasar Ormas Islam, DSKS : Harusnya Komunis dan Separatis

FORSIKA, kata Arukat, menolak dengan tegas keterlibatan partai atau Negara komunis baik secara langsung maupun tidak terhadap kebangkitan komunisme, marxisme, leninisme dan stalinisme di Indonesia.

“Forsika mendukung statemen Presiden RI untuk bersama-sama menggebuk PKI kalau mereka bangkit kembali,” tutupnya.

Sebagaimana diketahui, kunjungan Nguyen Phu Trong di Indonesia berakhir hari ini. Di Indonesia ia ditemui Presiden Jokowi dan Ketua DPR RI, Setya Novanto.

Insiden Bendera Terbalik, KH Cholil Ridwan: Jangan Sampai Nasionalisme Kalahkan Keislaman

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, KH Cholil Ridwan menegaskan bahwa jangan sampai nasionalisme mengalahkan keislaman seseorang. Pernyataan itu terkait insiden bendera Indonesia terbalik dalam buku panduang SEA Games 2017.

“Seorang muslim mukmin yang soleh pasti menjadi Nasionalis sejati, tapi seorang nasionalis belum tentu mukmin soleh, mungkin muslim abal-abal, jika muslim soleh, maka dia pasti rela mati membela negara,” ungkapnya kepada Kiblat.net di Jakarta, Rabu (23/8/2017).

Ia pun menyebut bahwa dengan insiden bendera terbalik ini, banyak para nasionalis yang kebablasan. Dengan kata lain, lanjutnya, lebih meninggikan nasionalismenya daripada keislamannya.

“Jadi ini nasionalisme yang kebablasan, berlebihan, lebay, bahwa harusnyan ada nasionalisme lokal, dan regional. Indonesia Malaysia Brunei, Singapur dan Mindanao, itu regional. Disana banyak orang Indonesia kok, padang banyak, apalagi orang jawa di Malaysia,” pungkasnya.

Eduard, Mualaf Keturunan Yahudi yang Menginjak Tanah Suci

Catatan Haji 2017 Jurnalis Islam Bersatu (JITU) #2

NAMA lengkapnya Eduard Arnold van Der Elst. Ia keturunan Belanda, namun berdarah Yahudi. “Ayah saya keturunan Yahudi. Ibu saya keturunan Cina,” cerita Eduard.

Selasa, 22 Agustus, menjadi hari yang amat dinanti oleh Eduard. Ia menginjakkan kakinya di bumi Madinah, bumi yang dahulu dihuni oleh nenek moyangnya, bangsa Yahudi, setelah menempuh perjalanan 6 jam dari Jeddah.

Eduard benar! Dulu, sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, orang-orang Yahudi telah menetap di Madinah. Yang terbesar ada tiga suku, yakni Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah.

Mereka, sebagaimana kebanyakan orang Yahudi, memiliki fanatisme ras yang sangat tinggi. Mereka menganggap kaum di luar ras mereka sebagai kaum yang bodoh, hina, dan primitif. Bahkan mereka menghalalkan darah orang-orang di luar kaum mereka untuk ditumpahkan dan hartanya dirampas.

Bagi mereka, mengambil harta dan hak orang-orang di luar ras mereka, tidak akan membuat mereka berdosa. Mereka selalu membangga-banggakan ras mereka sebagai ras yang paling unggul di antara bangsa-bangsa lain.

Lalu datanglah Rasulullah SAW dan para sahabatnya membawa Islam ke Madinah, dan mengubah negeri itu menjadi negeri yang berperadaban luhur. Tentu saja ini semua dimulai dari masjid, yakni Masjid Nabawi.

Baca juga: Mahmud Sangaji, Nelayan Sorong yang Berhaji Tahun Ini

Namun, menurut UstazBachtiar Nasir, saat berbincang dengan Hidayatullah.com menjelang perjalanan dari Jeddah menuju Madinah, Selasa (22/8/2017), masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW bukanlah Masjid Nabawi, melainkan Masjid Quba.

“Kita jangan lupakan Masjid Quba, sebab masjid itulah satelit peradaban Madinah,” tutur Bachtiar. Di dekat masjid inilah, tepatnya di sebuah lembah (wadi) bernama Ranuna, umat Islam untuk pertama kali menggelar shalat Jumat. Dan, shalat Jumat tersebut, menjadi peristiwa pertama berkumpulnya umat Islam untuk beribadah dalam jumlah besar. Kelak, di wadi ini berdiri sebuah masjid bernama Masjid Jumat.

Namun, Masjid Quba dan Masjid Jumat tidak terletak di kota Madinah. Ia terletak di luar Madinah, tepatnya berjarak 4 km arah selatan dari Masjid Nabawi. Adapun masjid pertama yang dibangun Nabi SAW di Madinah adalah Masjid Nabawi.

Di Masjid Nabawi-lah Rasulullah SAW mulai menghimpun dan membina kader-kader Muslim. Masjid Nabawi tak sekadar dipakai sebagai tempat beribadah, namun juga sebagai pusat perkaderan, perekonomian, pengaturan siasat perang, bahkan pembagian ghonimah.

“Saat ini masjid hanya dijadikan sebagai tempat shalat. Tak ada lagi kader-kader militan Muslim lahir dari dari rahim masjid,” kata Farid Ahmad Okbah, pimpinan Yayasan Al Islam Bekasi, Jawa Barat, saat menunggu pemberangkatan dari Jedah menuju Madinah Selasa (22/8/2017).

Setelah peradaban Islam menguasai Madinah, kaum Yahudi semakin merasa dengki. Kedengkian ini sudah muncul sedari awal sebab Nabi Akhir Zaman yang dijanjikan Allah SWT ternyata bukan dari kelompok mereka.

Baca juga: Tahun Ini Yayasan Al-Manarah Al-Islamiyah Hajikan 123 WNI

Rasulullah SAW telah berupaya bersikap adil kepada mereka. Rasulullah SAW bahkan bertoleransi dengan menyusun perjanjian antara kaum Muslim dan Yahudi di Madinah. Namun ternyata kaum Yahudi sendirilah yang melanggarnya. Mereka akhirnya terusir dari tanah Madinah.

Eduard, kakek dari tiga cucu yang masih memiliki darah Yahudi, tak bisa lagi melihat kampung nenek moyangnya di Madinah. Ia hanya bisa mendengar ceritanya saja.

Namun, perjalanan jauhnya selama 9 jam dari Indonesia menuju tanah Arab tentu bukan untuk bermelankolis dengan sejarah nenek moyangnya yang kelam di bumi Madinah. Bukan!

Edward, yang baru memeluk Islam pada tahun 2012 ini, berangkat ke Tanah Arab atas undangan Kedutaan Besar Arab Saudi, guna menunaikan ibadah haji.

Labaik Allahumma labaik!*

Reporter: Mahladi/INA

Ini Kekhawatiran Ulama Atas Kerjasama Pemerintah dengan Negara Komunis

SOLO (Jurnalislam.com) – Beberapa perwakilan ormas Islam dan ulama Soloraya mendatangi Gedung DPRD Surakarta, Rabu (23/8/2017). Mereka menolak kunjungan Sekjen Partai Komunis Vietnam, YM Nguyen Phu Trong dan menyayangkan kerjasama pemerintah dengan negara kiri tersebut.

Perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta, Ustaz Nur Hadi Wasena mengaku kecewa. Menurutnya, apa yang dilakukan pemerintah itu telah hati menyakiti rakyat Indonesia.

“Kita prihatin dan ini menyakiti hati rakyat Indonesia yang hari ini disuruh memegang TAP MPRS XXV yang mana komunis itu dilarang, tapi justru dari penyelenggara negara ini berbuat seperti itu,” katanya di Gedung DPRD Surakarta, Rabu (23/8/2017).

Sementara itu, Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Soloraya, Tengku Adzar khawatir jika kerjasama dengan negara-negara komunis dapat membuka peluang paham komunisme kembali berkembang di Indonesia.

“Orang-orang yang dulu mempunyai latar belakang komunis bisa merasa punya angin segar karena tokoh-tokoh komunis disambut pemerintah,” paparnya.

Wakil Ketua DPRD Surakarta, Jaswadi menyambut baik kedatangan sejumlah ulama Solo dan berjanji akan menyampaikan aspirasi mereka.

“Nanti akan kita sampaikan ke DPR Pusat dan semoga Presiden bisa mengerti, dan nanti setelah ketua pulang akan kita rapartkan,” tandas Jaswadi.

Jalin Kerjasama dengan Komunis, DSKS Tegur Presiden

Soal Kunjungan DSKS Ingatkan Presiden Soal TAP MPRS 1966

SOLO (Jurnalislam.com) – Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) mengingatkan Presiden Republik Indonesia dan ketua DPR RI untuk lebih selektif dalam menjalin kerjasama internasional. Pernyataan itu terkait kedatangan Sekjen Partai Komunis Vietnam, YM Nguyen Phi Trong ke Indonesia belum lama ini.

“Kepada Presiden RI agar lebih hati-hati, cermat, selektif dalam mencari kerjasama nasional maupun internasional,” kata Suwondo, Sekretaris DSKS saat beraudiensi dengan DPRD Kota Surakarta, Rabu (23/8/2017).

Larangan partai komunis dan komunisme, kata Suwondo telah ditegaskan dalam TAP MPRS No XXV tahun 1966.

“Karena presiden pun harus tunduk dan taat terhadap hukum dan konstitusi, dan jangan sampai melanggar sumpah jabatan sebagai presiden,” paparnya.

Untuk itu, DSKS meminta Ketua DPR RI menggunakan haknya untuk mengetahui maksud dan tujuan Presiden RI bekerjasama dengan Partai Komunis Vietnam.

“Jangan sampai Presiden RI melampaui batas dan kewenangannya baik terhadap TAP MPRS No XXV tahun 1966 dan Undang undang no 27 tahun 1999 yang bisa berpotensi pada konsekwensi politik dan hukum,” tukas Suwondo.

Selain itu, Suwondo juga menyinggung pernyataan Jokowi saat menanggapi isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia beberapa bulan lalu. Di hadapan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Jokowi dengan tegas mengatakan ‘Gebuk PKI’.

LAZIS PLN Pusmankon Resmikan Pusat Kesehatan Masjid di Gajahmungkur Semarang

SEMARANG (Jurnalislam.com) – LAZIS PT PLN Pusat Manajemen Konstruksi (Pusmankon) bekerjasama dengan LAZNAS Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) Perwakilan Jawa Tengah meresmikan program Pusat Kesehatan Masjid , bertempat di Masjid Miftahul Jannah RW IX Kelurahan Gajahmungkur, Kota Semarang, Rabu (23/8/2017).

Acara diawali dengan sambutan-sambutan dan dilanjutkan dengan layanan kesehatan. Kegiatan layanan kesehatan tersebut berupa konsultasi pada dokter, PMT balita, pengobatan umum, serta cek laborat sederhana kepada warga yang hadir.

Acara layanan kesehatan keliling ini merupakan bentuk kepedulian kesehatan pada masyarakat penduduk di sekitar PT PLN Pusat Manajemen Konstruksi (Pusmankon). Selain itu, acara ini juga disertai dengan penyuluhan tentang rubella dan campak dari puskesmas setempat .

Terpilihnya Masjid Miftahul Jannah untuk diadakan layanan kesehatan karena merupakan daerah padat penduduk yang butuh bantuan. “Terima kasih atas bantuannya, warga sangat antusias akan terselenggarannya acara ini dan semoga ini bukanlah yang terakhir,” tutur Sajuri selaku Ketua Takmir Masjid.

“Semoga kerjasama ini bisa ditingkatkan dan bisa lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Priyanto perwakilan dari Lazis PT PLN Pusat Manajemen Konstruksi.

Sementara itu Djoko Adhi selaku Kepala Kantor Perwakilan IZI JATENG menyampaikan, program ini merupakan ikhtiar untuk memberdayakan masjid sebagai pusat peradaban, ” ini kita mulai garap sisi kesehatannya semoga kedepan banyak hal yang bisa kita solusikan di masjid, jadi masjid tidak hanya untuk tempat sholat dan ngaji saja, tapi juga memberikan manfaat yang lebih untuk kemakmuran ummat,” pungkasnya.

Siaran Pers

Pusat Kesehatan Masjid Gajahmungkur Semarang

 

Pusat Kesehatan Masjid Gajahmungkur Semarang
Pusat Kesehatan Masjid Gajahmungkur Semarang

Idul Adha 1438 H Jatuh pada Jum’at, 1 September 2017

JAKARTA (Jurnalislam.com)Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan tanggal 1 Zulhijjah 1438 H jatuh pada Rabu, 23 Agustus 2017. Artinya, Idul Adha 1438 jatuh pada Jumat, 1 September 2017.

Kepastian ini merujuk pada hasil sidang isbat awal Zulhijjah 1438 H yang digelar di Kantor Kementerian Agama, Jl. MH Thamrin Nomor 6, Jakarta, Selasa (22/8/2017).

Baca juga: Mahmud Sangaji, Nelayan Sorong yang Berhaji Tahun Ini

“Sudah kami tentukan bahwa tanggal 1 Zulhijjah jatuh pada Rabu, 23 Agustus 2017. Maka, dapat dipastikan bahwa Hari Raya Idul Adha jatuh 10 hari dari besok. Pada 1 September 2017,” ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nur Syam.

Berdasarkan laporan hasil pengamatan Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama, posisi hilal telah terlihat di sejumlah titik lokasi Rukyatul Hilal awal Zulhijjah 1438 H.

Sejumlah titik pantau antara lain berada di Pantai Lageun Aceh Jaya, Bukit Cermin, Kepulauan Riau, Gedung Kanwil Kemenag DKI Jakarta lantai 7, Pusat Observasi Bulan Pelabuhan Ratu (Sukabumi), Bosscha Lembang, Mercusuar Anyer serta di Bukit Condrodipo, Kabupaten Gresik.

Nur Syam berharap, Hari Raya Idul Adha dapat mengeratkan kebersamaan dan kerukunan antarumat. “Mudah-mudahan dengan semangat kebersamaan dan harmoni, kerukunan, kita sangat berbahagia dan bersyukur pada Allah bisa rayakan Hari Raya Haji secara bersamaan,” pungkasnya.

Mahmud Sangaji, Nelayan Sorong yang Berhaji Tahun Ini

JEDDAH (Jurnalislam.com) – Mahmud Sangaji seorang nelayan. Tangannya yang kekar hitam dan guratan di wajahnya menyiratkan ia pekerja keras. Kakap merah menjadi tangkapan favoritnya. Ia bisa jual ikan tersebut seharga Rp 60 ribu per ekor.

“Panjangnya bisa segini,” kata ayah satu anak ini kepada hidayatullah.com seraya mensejajarkan kedua tangannya membentuk jarak sekitar 30 cm.

Mahmud tinggal di Sorong, Papua Barat. Ia memang asli Papua. Ia jarang meninggalkan kampung halamannya kecuali untuk melaut.

Namun, Rabu, 16 Agustus 2017, ia terbang menuju Jakarta. Ia bersama 29 warga Papua lainnya mendapat undangan khusus dari Allah Subhanahu Wata’ala untuk menunaikan ibadah haji tahun 1438 H/2017 ini.

Adalah Syeikh Khalid al-Hamudi, Pendiri Yayasan al-Manarah al-Islamiyah, yang berpusat di Arab Saudi, menjadi perantara undangan tersebut. Dan, hari ini, Selasa, 22 Agustus 2017, kaki hitam Mahmud, yang terbiasa menjejak pasir Sorong, telah menjejak tanah Madinah.

“Masya Allah, masya Allah, saya tak pernah membayangkan bisa pergi haji,” jelasnya seraya menyunggingkan senyum.

Ia tampak gagah berdiri di tanah Jeddah, dengan jubah putih membalut kulitnya yang hitam, selepas pesawat mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi.

Demikianlah bila Allah Subhanahu Wata’ala telah berkehendak, tak ada satu pun makhluk yang bisa mencegahnya.

Mahmud, seorang nelayan yang tak pernah membayangkan bisa melihat Baitullah, justru lebih dahulu terbang ke Tanah Suci ketimbang jutaan kaum Muslim lain yang lebih mampu darinya.

Barangkali, ada selarik doa yang pernah dilantunkan Mahmud di masa lalu dan diijabah oleh Allah Subhanahu Wata’ala sehingga ia dimudahkan berhaji ke Tanah Suci.

Barangkali juga, ada doa dari orang-orang yang menyayangi Mahmud yang juga diijabah oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Itulah kuasa Allah.

Jangan pernah berhenti berdoa. Jangan pernah berhenti berupaya. Labaik Allahuma labaik.

Reporter: Mahladi/INA