Tahun Ini Yayasan Al-Manarah Al-Islamiyah Hajikan 123 WNI

JEDDAH (Jurnalislam.com) – Rombongan jamaah haji Indonesia yang diberangkatkan oleh Yayasan Al-Manarah Al-Islamiyah tiba di Jeddah pagi ini (22/08) waktu setempat. Mereka terdiri dari tokoh masyarakat, perwakilan instansi dakwah dan pendidikan serta elemen lainnya.

“Seluruhnya berjumlah 123 orang dari berbagai wilayah di Indonesia,” terang Ustadz Umar Makka selaku ketua rombongan kepada Islamic News Agency (INA).

Di antara rombongan terdapat sejumlah tokoh seperti Ustadz Bahtiar Nasir, Ustadz Tengku Zulkarnaen dan Ustadz Farid Ahmad Okbah. Turut serta pula 25 orang kepala suku di Papua dipimpin oleh Ust. Fadlan Garamatan. Tampak pula dalam rombongan, hafidz cilik Alana Ragil Prasetyo (8) asal Banjarnegara yang ditemani oleh kedua orangtuanya.

Menurut rencana, setibanya di Jeddah mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Madinah Al-Munawarah. “Kita tidak langsung berihram karena kita akan ke Madinah dulu,” tutur Umar Makka. Dari Madinah rombongan akan berumrah terlebih dahulu melalui miqat Birr Ali.

Rombongan akan berada di Tanah Suci selama 20 hari, mengerjakan haji tamattu. Yaitu haji yang dikerjakan bersama umrah yang dijeda dengan tahalul.

Yayasan Al-Manarah Al-Islamiyah adalah sebuah lembaga yang berkantor pusat di kawasan Pasar Minggu, Jakarta. Bergerak dalam aktivitas dakwah, sosial dan pendidikan.

Reporter: Tony/INA

Indonesia Harus Sebenar-benarnya Merdeka

Oleh: AB Latif (Direktur Indopolitik Watch)
72 tahun sudah negeri ini merdeka. Gegap gempita perayaan kemerdekaan Indonesia begitu luar biasa. Tak terhitung berapa biaya dari berbagai macam kreasi yang dibuatnya. Ibarat usia manusia, umur negeri ini sudahlah sangat tua. Usia yang tua ini justru Indonesia tidak berdaya di hadapan kekuatan kapitlaisme global dari Barat dan Timur. Jikalau begitu, bagaimanakah mewujudkan kerja nyata untuk sebenar-benarnya merdeka?
Kemerdekaan berasal dari kata dasar merdeka yang artinya bebas (dari jajahan orang lain). Artinya bangsa ini sudah merasa terbebaskan dari penjajahan fisik bangsa lain. Tanpa disadari justru kita saat ini berada dalam gegaman penjajah yang dengan seenaknya menguasai seluruh aset kekayaan negeri ini. Jika kita sibuk tarik tambang dengan tali, maka wujudkan tarik semua aset tambang untuk dikelola secara berdikari. Mengapa tidak?
Ketidakberdayaan Indonesia kini bisa kita lihat dari berbagai peristiwa yang sudah begitu kasat mata. Meikarta yang dibangun di tanah Indonesia layaknya seperti kota Shenzhen di China yang sangat eksklusif dan luar biasa bahkan telah mendapatkan penghargaan dari MURI ternyata belum ada ijinnya. Tanpa ijin Lippo Grup dari china sudah bisa membangun dan bahkan sudah terjual 16.800 unit. Lantas dimana kewibawaan negeri ini ?
Reklamasi 17 pulau di Jakarta, kini sudah berjalan dengan bangunan-bangunan yang luar biasa serta dipasarkan di china, juga belum ada ijinnya. Pendirian pabrik semen di Bolaang Mongondow yang didirikan dari investor china juga tidak ada ijinnya sehingga ditutup oleh Bupati, dan akhirnya Bupatinya jadi tersangka.
Pembangunan patung dewa perang Kwan Sing Tee Koen setinggi 30,4 meter di Tuban Jawa Timur yang sempat juga dapat penghargaan dari MURI dan menelan dana Rp. 2,5 milliar, ternyata juga belum ada ijinnya. Sampai hari ini pun belum ada keputusan. Hampir semua proyek negeri ini diberikan kepada china. Tidak hanya proyeknya saja, bahkan tenega kerjanya pun di impor dari negeri china.
Pengaruh hutanglah yang membuat Indonesia tak berdaya. Total utang Indonesia ke China saja dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang luar biasa. Bahkan kini tercatat pada bulan mei 2017 mencapai 15,491 milliar dollar AS (Republika.co.id). Dari jerat inilah akhirnya Indonesia dalam kondisi labil dan tersandera. Kondisi jebakan hutang ternyata sesuai dengan apa yang disampaikan oleh seorang peneliti dari Jepang Masako Kuranishi dari Universitas Tsurumi dan Universitas Seigakuin yang sudah jauh-jauh hari memperingatkan Indonesia.
Masako Kuranishi telah mengingatkan Indonesia agar sangat hati-hati terhadap gerakan China di Asia terutama di Indonesia. Ia sampaikan “China punya rencana atau konsep besar sejak Oktober 2013 terhadap Asia, yaitu Maritime Silk Road atau sering dijuluki One Belt One Road (OBOR), yang dilemparkan ide ini oleh Xi Jinping. Secara kasar bisa dikatakan munculnya hegomoni china terhadapa Negara-negara di kawasan Asia“. Artinya, China sengaja membuat berbagai kemanisan terutama hutang yang tinggi saat ini kepada Indonesia, dengan tujuan supaya Indonesia akan mengalami kesulitan dalam pengembalian sehingga terikat semakin kuat kepada china. inilah penguasaan China terhadap Indonesia.
Ironi sekali apa yang di alami negeri ini. Ternyata negeri Indonesia yang besar dan subur ini terkungkung dan tidak berdaya di hadapan asing dan aseng. Bahkan ketergantungan negeri ini sangatlah luar biasa. Negeri ini sudah tak mampu mandiri atau berdiri sendiri. Ketergantungan itu kian terasa dan begitu membebani kaum pribumi. Fakta menunjukkan hampir semua komoditi pertanian justru diimpor dari luar negeri. Seolah penguasa negeri ini sudah merasa tak mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri. Lihat apa yang tidak impor hari ini. Gula impor, bawang putih impor, tebu impor, singkong impor, beras impor, sapi impor, cabai impor, garam impor, bahkan cangkul pun impor dari china. Lalu dimana wibawa negeri ini?
Buah dari ini semua, Indonesia kini menjadi negara terbuka. Semua bebas mengeruk kekayaan di Indonesia. Untuk itu semua kini Indonesia terapkan bebas visa untuk semua orang asing, dan kini warga asing boleh memiliki properti di Indonesia, boleh kuasai 100% industri gula dan karet, bebas kuasai 100% saham restoran dan perusahaan jalan, boleh kuasai 100% saham di pemangkit listrik dan lain sebagainya. Bebas membangun walau tanpa ijin. Inikah yang di maksud kemerdekaan ?
Sebagai anak bangsa, kita ingin kemerdekaan dengan sebenar-benarnya. Kemerdekaan sejati akan bisa diraih hanya dengan menerapkan Islam secara total dan menyeluruh. Hanya dengan inilah keadilan dan kesejahteraan bisa terwujud. Merdeka sejati berarti tunduk pada Ilahi dan membebaskan negeri ini dari cengkraman penjajah berwujud neoliberalisme dan neo-imprealisme.*

ICID Isykarima Karanganyar Wisuda 32 Mahasantri

KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Islamic Centre I’dadu Du’at (ICID) Isykarima kembali menggelar Wisuda Mahasantri Angkatan ke 6 dan ke 7 Serta Angkatan ke 3 Mahasantri Putri pada Ahad (20/8/2017) di Auditorium Ma’had Tahfidzul Qur’an Isykarima Gerdu Karangpandan Karanganyar. Pada wisuda kali ini sebanyak 20 Wisudawan dan 12 Wisudawati dengan khidmat mengikuti prosesi wisuda.

Ketua ICID, Ustadz Andriyono berpesan kepada para wisudawan dan alumni untuk istiqomah berdakwah mengamalkan ilmu yang telah didapat selama di ICID.

“Tetaplah berdakwah kepada masyarakat dan kalian baru akan memulai mencari ilmu yang sebenarnya. Ajaklah masyarakat untuk berbuat baik dengan Ilmu-ilmu yang telah kalian pelajari selama ini,”tuturnya kepada Jurnalislam.com usai acara.

Sementara itu, pimpinan Yayasan Isykarima, Ustadz Syihabudin Al Hafidz dalam sambutannya menyampaikan tentang pentingnya membentuk masyarakat yang dekat dengan Al Qur’an guna mewujudkan masyarakat yang maju.

“Kalau kita menginginkan masyarakat kita maju dan terbebas dari penjajahan maka kita harus dekat dengan Ilmu dan Dakwah,” paparnya.

Mudir Ma’had Aliy Darul Wahyain, Ustadz Rosyid Ridho Ba’asyir dalam tausyiahnya berpesan kepada para wisudawan untuk mempersiapkan diri terjun kepada umat secara langsung. Sebab, kata dia, mempelajari ilmu syar’I yang sesungguhnya adalah ketika terjun berdakwah kepada umat.

“Anda sekalian baru akan memulai belajar ilmu syar’i yang sesungguhnya sebab Kalian akan berdakwah kepada masyarakat dan umat,” katanya.

Lebih lanjut, Ustadz Rosyid juga menekankan para wisudawan untuk mempunyai jiwa mujahid dan mujtahid (pembaharu). Menurutnya, dua golongan orang itulah yang dibutuhkan di zaman saat ini yang penuh dengan fitnah.

“Untuk itu dekatlah kalian terhadap kedua golongan tersebut,” tuturnya.

Program Hapus Tato Gratis Singgah di Ponpes Darusunnah Wangon

WANGON (Jurnalislam.com) – Program Hapus Tato gratis yang digagas Gerak Bareng Community, IMS, Bank Muamalat dan DPP Hidayatullah memasuki pekan ke 3. Program kali ini digelar di Ponpes Modern Darussunah, Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada Ahad (20/8/2017).

Ada yang sedikit berbeda kali ini, karena penyelenggaraan di ponpes untuk seleksi hafalan benar-benar dilaksanakan. Dan sejumlah peserta tidak keberatan dengan syarat yang ditetapkan panitia.

Agus Priyanto (35) dari Purbalingga, yang sudah hijrah sejak 2005 mengaku persyaratan menghafal ini bukan menjadi hal yang sulit. Pasalnya, Agus benar-benar ingin berubah secara sempurna.

“Alhamdulillah saya hafal seluruh ayat surat Arahman,” katanya.

Sementara itu, Pembina Pondok Pesantren Modern Darus Sunnah Wangon, Priagung Rajasa Negara, mengatakan, dengan menerapkan syarat hafal Al Qur’an bagi peserta hapus tato tidak lain agar mereka yang sudah hijrah benar benar ingin bertaubat dan lebih akrab dengan ayat ayat Allah.

“Kami jadikan syarat hafalan ini untuk sarana mendekatkan mereka yang telah taubat dengan Alquran,” ucapnya.

Selain itu, syarat tersebut juga sekaligus untuk menerapkan hadist Rasulullah yang intinya. “Sebaik baik dari kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al Qur’an”.

Sedangkan, Founder Gerak Bareng Community, Ahmad Zaki mengatakan program hapus tato gratis yang diadakan di Wangon ini peminatnya tetap antusias.

“Peminat yang ikut program (layanan hapus tato) ini di Wangon tetap banyak, mereka datang dari Purwokerto, Purbalingga, Cilacap, Ajibarang dan sekitarnya,” imbuhnya.

Setelah di Wangon, insyaaAllah program layanan hapus tato akan berlanjut ke wilayah Solo, Yogyakarta dan Surabaya.

Direktur Islamic Medical Service (IMS) Imron Faizin mengatakan, Wangon-Banyumas ini merupakan kota kedua yang dikunjungi oleh mobil hijrah IMS DPP Hidayatullah untuk program layanan hapus tato, setelah wilayah Bandung.

Menurut Imron, banyak permintaan untuk program layanan hapus tato dari kota-kota lain, tidak hanya pulau Jawa. Tapi Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera juga sangat mengharapkan kehadiran Mobil hijrah tersebut.

“Semoga layanan ini terus berjalan dengan baik, sehingga dapat membantu para sahabat dan saudara-saudara Muslim yang telah berhijrah,” harap Imron.*

Siaran Pers

Gelar Acara INBOX di Samping Masjid Agung, Pemkab Tasikmalaya Dikritik

SINGAPARNA (Jurnalislam.com) – Pagelaran musik INBOX yang digelar di dekat Masjid Agung Baitulrahman Kabupaten Tasikmalaya menuai banyak kritikan. Pagelaran musik yang bekerjasama dengan program di salah satu TV swasta itu digelar sebagai bagian dari rangkaian hari jadi Kabupaten Tasikmalaya.

Anggota Fraksi PKB Kabupaten Tasikmalaya, Usman Kusmana menilai pagelaran musik yang dilakukan dekat masjid agung merupakan langkah yamg tidak linier dengam visi Kabupaten Tasikmalaya yang religius islami.

“Kurang bijak pemerintah daerah menggelar kegiatan seperti itu di dekat tempat ibadah, disitu kan pasti joget-joget, jingkrak-jingkrak dan pakaiannya pun tidak mendidik,” papar Usman kepada wartawan, Sabtu (19/8/2017).

Usman juga menyesalkan sikap Pemkab Tasikmalaya yang memilih pagelaran musik di dekat masjid agung. Padahal banyak lokasi lain yang bisa dipakai.

“Mesjid agung itu simbol yang suci bagi umat Islam di Kabupaten Tasikmalaya. Baiknya kalau dipinggir masjid menggelar dzikir bersama, shalawatan bersama dan yang mencerminkan nilai keislaman,” tambah Usman.

Kecaman juga mulai ramai di media sosial Facebook. Banyak netizen yang merasa heran dengan Pemkab Tasikmalaya menggelar pagelaran musik di dekat masjid.

Salah satunya status yang ditulis akun milik Iim Imanullah. Dalam Statusnya iim menyinggung gelaran musik didekat masjid agung dengan visi misi Kabupaten Tasikmalaya religius islami.

“Antara jargon religius islami di Kab Tasik dengam budaya hedonisme/hura2caliweura.. sampai melahirkan acara inbox dihalaman samping masjid agung (Gebu) Bojongkoneng Kab. Tasikmalaya” tulis Iim dalam statusnya.

Sebelumnya, pagelaran tersebut sempat dikecam sejumlah ormas dari BKPRMI, GAZA, KPAB, SWAP, Mujahdin, FPI, PPM, dan AMS Kabupaten dan Kota Tasikmalaya. Mereka menilai, pagelaran musik di dekat masjid merupakan salah satu bentuk pelecehan terhadap Islam.

“Mau acara Band atau acara dangdut diadakan di samping Masjid, ini bentuk pelecehan dan penistaan terhadap umat Islam di Tasikmalaya,” ujar Ketua KPAB Yudi Rusmayadi saat beraudiensi di Polres Tasikmalaya, Jumat (18/8/2017).

Dalam paparannya H.Aas meminta agar acara Inbox SCTV menampilkan artis-artis nya berpakaian sopan dan santun, mengingat acara itu posisinya disamping tempat suci Masjid Agung.

“Kita berharap panitia Inbox harus berkomitmen agar seluruh artis yang tampil termasuk hostnya berpakaian sopan tidak memperlihatkan aurat dimuka umum, apalagi ini lokasinya dekat dengan Masjid Agung Kabupaten Tasikmalaya,” tambah pengurus Ormas Islam Al Mumtaz Tasikmalaya.

Demi Keadilan, LUIS Desak Polisi Segera Rampungkan Kasus Siyono

KLATEN (Jurnalislam.com) – Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) mendatangi Mapolres Klaten untuk mencari tahu perkembangan proses penyidikan kasus Siyono, Jumat (18/8/2017) pagi ini.

Rombongan yang terdiri dari Edi Lukito, Ibnu Nugroho dan Endro Sudarsono diterima Kanit 1 Reskrim Iptu Andi dan beberapa staf di ruang Reskrim Polres Klaten.

Endro menjelaskan, berdasarkan laporan Polisi No. LP/B/154/V/2016/JATENG/RES.KLT tanggal 15 Mei 2016, sudah 20 bulan lebih proses hukum kematian Siyono berjalan di Polres Klaten. Namun, belum ada perkembangan yang berarti. Untuk itu, LUIS mendesak Polres Klaten untuk segera menyelesaikan kasus ini secara hukum, dengan beberapa pertimbangan.

“Kematian Siyono tidak wajar, karena ada luka memar di bagian kaki dan patah tulang di bagian dada yang sudah dibuktikan oleh autopsi yang dilakukan oleh Komnas HAM dan Muhammadiyah,” terang Humas LUIS Endro Sudarsono pada Jurnalislam.com, Jum’at (18/8/2017).

Kendati dua anggota Densus 88 telah divonis bersalah dan mendapat sanksi internal berupa mutasi dan dibebastugaskan dari kesatuan Densus 88, namun menurut Endro hal itu belum cukup. Mengingat, kata dia, masih ada beberapa saksi yang belum diperiksa termasuk keluarga Siyono dan pelapor.

“Sudah ada putusan sidang kode etik Polri bahwa ada pelanggaran SOP saat penanganan Siyono dan yang bersangkutan sudah diberi sanksi, Beberapa saksi juga sudah diperiksa termasuk keluarga Siyono dan para terlapor,” paparnya.

“Harus ada kepastian hukum untuk kasus pidana apapun dan siapapun pelakunya, termasuk kasus kematian Siyono,” tandasnya.

Oleh sebab itu, demi terciptanya rasa keadailan di masyarakat LUIS berharap kepolisian segera menuntaskan kasus Siyono.

“Jika terdapat kesulitan dan kendala dalam mengungkap kasus kematian Siyono, kita meminta Kapolda Jateng bisa mengambil alih penanganan kasus ini guna penyidikan lebih lanjut,” kata Endro.

HUT RI, Kodim 1608 Bima Gelar Doa Bersama 171717

BIMA (Jurnalislam.com) – Dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 72, Komando Distrik Militer (KODIM) 1608 Bima menggelar Do’a Bersama dan Muroja’ah untuk kedamaian NKRI bertajuk Indonesia Lebih Kasih Sayang. Acara yang berlangsung pada kamis (17/8/2017) berlangsung di pondok pesantren Al-Husainy Kelurahan Monggonao, Kota Bima.

Komandan Kodim 1608 Bima, Letnan Kolonel Yudil Hendro mengatakan, kegiatan tersebut untuk menjalin silaturahim antar elemen bangsa dalam rangka menjaga keutuhan NKRI,” kata Yudil dalam sambutannya.

“Kami berharap dengan adanya kegiatan ini kita semua bias berkumpul, bersilaturahim, kita berdoa bersama terhadap keinginan, tujuan, serta visi yang sama karena itu adalah harapan kita bersama, karena TNI itu tujuannya hanya satu yaitu bagaimana menjaga keutuhan NKRI.

Dengan silaturahim, kata dia, diharapkan segala permasalahan yang menimpa bangsa ini dapat diselesaikan dengan baik.

“Karena kalau kita sering bersilaturahim maka setiap ada masalah akan ada solusi dan jalan keluarnya,” paparnya.

Kegiatan peringatan HUT RI dengan menggelar doa bersama itu merupakan yang pertama kalinya. Panglima TNI, Jenderal Gatot Numantyo menginstruksikan bawahannya untuk menggelar doa bersama anak bangsa pada 171717 (tanggal 17 Agustus pukul 17 tahun 2017).

HUT RI, Ustadz Abu Dapat Remisi Tiga Bulan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ulama karismatik yang ditahan di LP Gunung Sindur Bogor, ustadz Abu Bakar Ba’asyir mendapat Remisi Umum (RU) tiga bulan pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Hal itu disampaikan Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna H. Laoly.

“Iya (ustadz Abu dapat remisi) tiga bulan,” katanya kepada para wartawan di Lapas IIB Anak Wanita, Tanah Tinggi, Tangerang, Banten, Kamis (17/8/2017) dilansir Republika.

Menurut Yasonna, remisi itu diberikan karena sudah ada justice collaborator (JC) yang diberikan oleh Densus kepada pihaknya. Selain itu, faktor usia Ustadz Abu juga menjadi pertimbangan dirinya mendapat remisi.

“Pokoknya prosedurnya seperti itu karena PP 99 kan itu. Satu lagi, kan dia sudah uzur,” kata dia.

Yasonna juga menjelaskan, saat ini Ba’asyir ditahan di Lapas Gunung Sindur, Bogor. Menurut dia, Ba’asyir berkelakuan relatif baik di sana. Perlakukan yang diberikan terhadapnya pun dinilai manusiawi.

“Dia tidak lagi di Pasir Putih. Relatif baik dan kemarin dia berobat kami berikan. Kemudian selalu ada pendamping di dalam yang menemani beliau,” terang Yasonna.

Ustadz Abu divonis 15 tahun penjara pada 2011 majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan . Majelis menilai ustadz Abu terlibat pelatihan militer di Bukit Jalin Jantho, Aceh.

Selain ustadz Abu, pemerintah juga memberikan remisi kepada 34 narapidana terorisme lainnya.

FUI Bima Desak Victor Laiskodat Segera Diproses Hukum

BIMA (Jurnalislam.com) – Menyikapi pernyataan provokatif politisi Partai Nasdem, Victor Laiskodat, Forum umat islam (FUI) Bima mendatangi kantor DPRD Kota Bima, Selasa (15/8/2017). Ketua Forum Umat Islam Bima, Ustadz Asikin menyampaikan, pihaknya tersinggung atas pernyataan Victor Laiskodat.
“Kami umat Islam merasa tersinggung dengan pidato provokasi tersebut, dan bukan itu saja, kami juga merasa terlukai serta terancam dengan isi pidato dari Victor tersebut,” ujar Ustadz Asikin kepada Jurnalislam.com,
“Oleh karena itu, kami meminta kepada Badan kehormatan dewan untuk memecat serta memberhentikan saudara Victor Laiskodat secara tidak hormat,” tegasnya.
Selain itu, kedatangan FUI ke DPRD Kota Bima juga untuk memberikan dukungan kepada Pemuda Islam NTT yang telah melaporkan Victor Laiskodat kepada kepolisian. “Karena mereka telah kehilangan ketenangan serta merasa terancam dengan isi pidato tersebut, apalagi mereka adalah merupakan kaum minoritas di daerah tersebut,” paparnya.
Ia mendesak pihak kepolisian untuk segera memproses laporan tersebut untuk mencegah reaksi umat Islam yang lebih besar lagi.
“Sudah banyak yang melaporkan saudara Victor, bahkan beberapa partai politik pun sudah ikut melaporkan, tapi kenapa sampai sekarang dia belum di proses,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Kota Bima, Ferry Sofyan menyampaikan, pihaknya menyesalkan pernyataan Victor. Menurutnya, pernyataan Victor itu berpotensi memecah belah keutuhan NKRI.
“Kami juga merasa keberatan dengan apa yang menjadi isi pidato dari saudara Victor Laiskodat karena melukai hati umat Islam, berpotensi memecah belah anak bangsa sehingga berbahaya bagi kelangsungan hidup di NKRI ini,” papar Ferry.
“Kami akan sampaikan tuntutan FUI Bima ini,” pungkasnya.

Ekonomi Masih Terjajah, Din Syamsuddin: Kita Belum Merdeka

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju (PIM) Prof Din Syamsuddin mengatakan, selama ini banyak orang yang masih terjebak pada klaim dan simbol Pancasila tetapi tidak dengan isinya. Keadaaan negara seperti ini, kata Din, berarti masih jauh dari kata kemerdekaan, kemajuan dan kedaulatan Indonesia.

“Jika kita hanya merayakan kemenderkaan sementara membuka diri bagi keterjajahan, penguasaan ekonomi dan energi kita adalah asing, berarti kita belum merdeka. Maka merdekakanlah diri dari sistem ekonomi yang tidak sesuai dengan Pancasila,” kata Din di Jakarta, Selasa (15/8/2017) dilansir AntaraNews.

Din mengatakan selama Indonesia masih menerima kapitalisme maka Indonesia telah mengabaikan sila kelima dalam Pancasila.

“Keadaan negara kita yang hiruk pikuk saat ini, boleh jadi karena kita mengabaikan Pancasila,” ujarnya.

Menurut dia, pemerintah banyak melanggar nilai Pancasila salah satunya mengenai pandangan bahwa agama harus dijauhkan dari negara.

Din mengatakan agama tidak mungkin dipisahkan dari Pancasila dan potlik, karena sila pertama Pancasila adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa”.