Serangan Taliban Merupakan Ancaman Eksistensial Bagi Pemerintahan Afghanistan

Serangan Taliban Merupakan Ancaman Eksistensial Bagi Pemerintahan Afghanistan

AFGANISTAN(Jurnalisla.com)–Pemerintah Afghanistan menghadapi “ancaman eksistensial” setelah Taliban meningkatkan serangan mereka pasca kesepakatan AS Februari 2020 dengan Taliban, sebagaimana dilaporkan badan pengawas AS pada Kamis (29/07/2021).

Inspektur Jenderal Khusus AS untuk Rekonstruksi Afghanistan (SIGAR) mengatakan dalam laporannya, serangan Taliban terhadap target Afghanistan melonjak dari 6.700 dalam periode tiga bulan hingga kesepakatan Doha menjadi 13.242 pada periode September-November 2020. Dan serangan tetap berada diatas 10.000 dalam setiap periode tiga bulan berikutnya.

Amerika Serikat setuju untuk menarik semua pasukan dari Afghanistan dengan harapan Taliban akan merundingkan kesepakatan damai dengan pemerintah Kabul.

Namun sejak saat itu pembicaraan damai Taliban dengan pemerintah Afghanistan terhenti, tetapi AS tetap melanjutkan penarikan pasukan ke tingkat hanya tersisa beberapa ratus sekarang, dengan batas waktu sampai 31 Agustus untuk penarikan keseluruhan.

Selama Januari-Maret 2020, hanya ada 510 kematian warga sipil dan 709 korban jiwa, terang SIGAR dalam laporannya, mengutip data dari pasukan gabungan AS-NATO di Afghanistan.

Setelah itu jumlahnya melonjak, mencapai 1.058 kematian dan 1.959 terluka pada kuartal ketiga tahun 2020 dan terus berlanjut pada level yang tinggi. Data terakhir, untuk April dan Mei tahun ini, menunjukkan 705 kematian warga sipil dan 1.330 korban, ungkap SIGAR dalam laporannya.

“Tren secara keseluruhan jelas ini tidak menguntungkan bagi pemerintah Afghanistan, yang dapat menghadapi ancaman eksistensial jika tidak ditangani,” kata inspektur jenderal badan pengawas itu, John Sopko.

Lebih lanjut John Sopko mengatakan laporan itu menunjukan gambaran serius yang kontras dengan “menyebarnya optimisme berlebihan” yang menandai upaya pimpinan AS untuk membangun kembali dan memperkuat Afghanistan.

“Berita yang keluar dari Afghanistan kuartal ini suram,” katanya.

Dihadapkan oleh serangan baru Taliban, pasukan keamanan pemerintah Afghanistan “tampak terkejut dan tidak siap, dan sekarang mundur.” sambung Sopko.

“Yang sangat mengkhawatirkan adalah kecepatan dan kemudahan Taliban yang tampaknya merebut kendali distrik di provinsi utara Afghanistan, sebuah daerah yang pernah menjadi benteng sentimen anti-Taliban.” pungkasnya. (Bahri)

Sumber: The New Arab

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X