Mullah Baradar Janjikan Pemerintahan yang ‘Inklusif’ dan Pentingkan Ekonomi

Mullah Baradar Janjikan Pemerintahan yang ‘Inklusif’ dan Pentingkan Ekonomi

AFGANISTAN(Jurnalislam.com) – Mullah Abdul Ghani Baradar, kepala kantor politik Taliban, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa mereka sedang dalam proses membentuk pemerintah yang inklusif menyusul pengambilalihan secara cepat atas negara itu pada bulan lalu.

“Saya meyakinkan orang-orang bahwa kami berusaha untuk meningkatkan kondisi kehidupan mereka, dan bahwa pemerintah akan bertanggung jawab kepada semua orang dan akan memberikan keamanan karena itu diperlukan untuk pembangunan ekonomi, tidak hanya di Afghanistan tetapi di seluruh dunia,” katanya dalam konferensi pers di ibu kota Kabul, sebagaimana dilansir Al Jazeera, (4/9/2021)

Baradar menambahkan bahwa pentingnya keamanan diperlukan untuk memulai proyek-proyek ekonomi besar di negara itu,

“Jika kita mampu memberikan keamanan, kita akan mengatasi masalah lain, dan dari sini roda kemajuan dan kemajuan akan dimulai,” katanya, seraya menambahkan bahwa tidak akan ada upaya yang terlewati untuk mencapai tujuan tersebut.

Taliban mengambil alih ibu kota Kabul hampir tanpa perlawanan pada 15 Agustus menyusul kemajuan pesat di Afghanistan, ketika pasukan asing pimpinan Amerika Serikat mundur dari negara itu dan Presiden Ashraf Ghani melarikan diri.

Pada hari Jumat, sumber-sumber di dalam Taliban mengatakan kepada kantor berita Reuters, Baradar akan memimpin pemerintahan baru di Afghanistan, bersama juga Mullah Mohammad Yaqoob, putra mendiang pendiri Taliban Mullah Omar dan juga Sher Mohammad Abbas Stanikzai.

Baradar menjabat sebagai wakil menteri pertahanan ketika Taliban terakhir memerintah Afghanistan antara tahun 1996 dan 2001. Setelah jatuhnya pemerintahan Taliban saat itu, Baradar menjabat sebagai komandan militer senior yang bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan koalisi, menurut pemberitahuan sanksi PBB.

Dia ditangkap dan dipenjarakan di Pakistan pada 2010. Setelah dibebaskan pada 2018, dia mengepalai kantor politik Taliban di Doha, menjadi salah satu tokoh paling menonjol dalam pembicaraan kelompok itu dengan Amerika Serikat dan penandatanganan perjanjian mereka di ibu kota Qatar akhir tahun 2020.

Rabu lalu, Stanikzai mengatakan kepada stasiun radio Pashtun BBC bahwa perempuan akan dapat terus bekerja, tetapi “mungkin tidak memiliki tempat di pemerintahan masa depan atau posisi tinggi lainnya.”

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid juga mengatakan kepada surat kabar Italia La Repubblica minggu ini bahwa wanita akan dapat bekerja sebagai perawat, di kepolisian atau sebagai asisten di kementerian, tetapi mengesampingkan bahwa akan ada menteri wanita. (Bahri)

Sumber: Al Jazeera

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X