Perwakilan Khusus AS untuk Suriah: Rezim Assad Kehilangan Legitimasi Karena …

Perwakilan Khusus AS untuk Suriah: Rezim Assad Kehilangan Legitimasi Karena …

LONDON (Jurnalislam.com) – Rezim Assad di Suriah “kehilangan legitimasi mereka karena kekejamannya terhadap rakyat Suriah,” menurut Martin Longden, perwakilan khusus AS untuk Suriah.

Longden mengatakan di Twitter pada hari Selasa (8/1/2019) bahwa AS menutup kedutaannya di Damaskus pada tahun 2012 dan “kami tidak berencana untuk membukanya kembali.”

“Akhir dari cerita,” tegasnya, lansir Anadolu Agency.

AS menutup kedutaannya di Damaskus setelah rezim Bashar al-Assad menargetkan warga Suriah menyusul protes anti-rezim, yang mengikuti protes serupa pada gerakan Arab Spring.

AS telah mengkritik rezim Suriah sejak awal kekejaman yang membunuhi warga sipil.

“Melindungi warga Suriah dan memberi mereka bantuan penyelamat yang mereka butuhkan haruslah menjadi tindakan yang terpenting,” kata Menlu Boris Johnson saat itu hampir setahun yang lalu, sebagai tanggapan atas pengepungan yang menghancurkan di Ghouta Timur.

Baca juga: 

“AS berkomitmen untuk bekerja sama dengan semua mitra internasional untuk memastikan berakhirnya pertumpahan darah yang mengerikan dan membuat kemajuan menuju solusi politik, yang merupakan satu-satunya cara untuk membawa perdamaian bagi rakyat Suriah,” katanya.

“Rezim Suriah memiliki catatan menjijikkan menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri,” dan senjata kimia telah “menjadi senjata perang yang terlalu biasa dalam konflik Suriah,” Peter Wilson, perwakilan Inggris untuk Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (the Organization for the Prohibition of Chemical Weapons-OPCW), mengatakan setelah penggunaan senjata kimia oleh pasukan Assad di berbagai lokasi, termasuk Douma.

Pernyataan Wilson muncul pada Pertemuan Dewan Eksekutif OPCW tahun lalu setelah serangan udara bersama oleh AS, Inggris, dan Perancis terhadap fasilitas senjata kimia rezim Assad di Suriah.

Suriah telah dikunci dalam perang global yang ganas sejak awal 2011, ketika rezim Syiah Assad menindak demonstran dengan keganasan militer yang tak terduga.

Sejak itu, ratusan ribu orang diyakini telah terbunuh dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal akibat konflik.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.