Israel Kerahkan Puluhan Ribu Tentara Cadangan untuk Perluas Perang, Banyak yang Menolak Bertugas

GAZA (jurnalislam.com)- Militer Israel mengumumkan akan mengerahkan puluhan ribu tentara cadangan guna memperluas serangan ke Jalur Gaza. Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Eyal Zamir, menyampaikan hal tersebut pada Ahad (5/5/2025), beberapa jam setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan akan melanjutkan agresi militer meski ada desakan damai dari masyarakat Israel terus menguat.

“Minggu ini kami mengirimkan puluhan ribu surat wajib militer kepada pasukan cadangan untuk meningkatkan tekanan terhadap Hamas, mengembalikan para tawanan, dan memperluas operasi militer kami di Gaza,” kata Zamir saat mengunjungi pangkalan angkatan laut Atlit di pantai utara Israel.

Zamir menegaskan, militer Israel akan bergerak di lebih banyak wilayah Gaza dan menghancurkan seluruh infrastruktur Hamas, baik di atas maupun bawah tanah.

Pernyataan ini disampaikan menjelang rapat kabinet keamanan yang dipimpin Netanyahu untuk membahas rencana eskalasi militer di Gaza. Sejak perang dimulai Oktober 2023, serangan Israel telah meluluhlantakkan wilayah Gaza, menyebabkan lebih dari 52.000 warga Palestina terbunuh dan membuat sebagian besar dari 2,3 juta penduduknya terusir dari tempat tinggal mereka.

Gerakan sipil di Israel sendiri semakin gencar mendesak diakhirinya perang dan menuntut pembebasan para tawanan melalui jalur diplomatik. Bahkan, banyak tentara cadangan menolak panggilan untuk kembali bertugas.

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, dalam wawancara radio militer menyatakan ingin melihat perang diperluas secara “keras” namun ia tidak merinci lebih lanjut. Ia bahkan menyerukan serangan terhadap sumber daya penting di Gaza seperti makanan dan listrik.

Israel berdalih perluasan operasi militer bertujuan menekan Hamas agar membebaskan 59 tawanan yang tersisa. Namun para pengamat menilai langkah tersebut justru membahayakan nyawa para tawanan dan menutup jalan damai. Sebelumnya, upaya pertukaran tawanan sempat terjadi dalam gencatan senjata singkat hingga 18 Maret, namun tidak membuahkan hasil lanjutan. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Kantor Media Gaza: Rumah Sakit di Gaza Terancam Lumpuh Total dalam 48 Jam

GAZA (jurnalislam.com)— Kantor Media Pemerintah di Gaza mengeluarkan peringatan serius bahwa seluruh rumah sakit di Jalur Gaza akan berada di ambang kehancuran dalam 48 jam ke depan jika pasokan bahan bakar tidak segera disalurkan.

Pihaknya menyalahkan Israel atas krisis ini, karena dianggap menghalangi akses Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi internasional lainnya ke lokasi penyimpanan bahan bakar di wilayah Gaza.

“Kami memperingatkan dengan tegas tentang bencana yang akan segera terjadi yang mengancam nyawa ribuan orang sakit dan terluka di Jalur Gaza,” kata pernyataan dari Kantor Media Gaza, sebagaimana dilansir Al Jazeera pada Selasa (6/5/2025)

Koordinator Bantuan Darurat PBB sebelumnya juga menyampaikan bahwa upaya para pekerja kemanusiaan untuk mengambil bahan bakar kerap diblokir, terutama di area-area yang dikategorikan sebagai “terlarang” oleh militer Israel.

“Kami mengutuk dengan keras kejahatan sistematis pendudukan Israel di Gaza dengan terus mencegah distribusi bahan bakar ke rumah sakit,” lanjut pernyataan itu.

Kantor Media Gaza menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional dan Konvensi Jenewa, serta memperburuk krisis kesehatan yang sedang berlangsung di wilayah tersebut. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Kelaparan dan Kekurangan Gizi Ancam Gaza: Akibat Blokade

GAZA (jurnalislam.com)- Jalur Gaza saat ini menghadapi krisis kemanusiaan sangat parah akibat blokade berkepanjangan yang dilakukan oleh penjajah Israel. Di tengah sulitnya bantuan masuk ke wilayah tersebut, kondisi gizi anak-anak semakin memprihatinkan.

Dr. Osama Qudeih, Dokter Pediatri di Klinik Al Aqsa B di Al-Mawassi, Gaza Selatan, yang dikelola MER-C bersama Kementerian Kesehatan Palestina (MoH), melaporkan bahwa sebagian besar pasien yang ia tangani adalah anak-anak yang mengalami kekurangan gizi (malnutrisi), baik pada tahap awal maupun dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

Dari sekitar 200 kasus yang ditanganinya, 40 hingga 50 di antaranya merupakan kasus malnutrisi serius.

“Kasus malnutrisi terutama terjadi pada anak-anak di bawah usia dua tahun dengan penyebab utama berupa melemahnya sistem kekebalan tubuh mereka. Hal ini pula disebabkan oleh kurangnya (defisiensi) berbagai ketersediaan jenis makanan,” ujarnya.

Ia mengatakan kelangkaan dan tidak adanya susu formula bayi di pasaran berdampak sangat signifikan.

“Beberapa gejala yang muncul antara lain adalah penurunan berat badan, di mana dalam banyak kasus dapat menjadi sangat berbahaya,” ungkap dr. Osama.

Jumana Abu Arab menambahkan, untuk menangani kondisi ini sebelumnya Kementerian Kesehatan memberikan suplemen gizi secara rutin ke Klinik tersebut. Namun, stok yang tersedia mulai menipis karena kebutuhan terus meningkat dan pasokan di pasaran semakin terbatas.

Kelaparan dan Malnutrisi juga Terjadi di Gaza Utara

Kondisi kelaparan juga sangat terasa di wilayah utara Jalur Gaza. Dr. Basel Al-Basyouni, Dokter Spesialis Ortopedi di Rumah Sakit Indonesia, menyebut bahwa wilayah ini kini menderita kelaparan luar biasa di tengah genosida yang dilakukan oleh pasukan pendudukan Israel.

Selain serangan udara yang menyasar lembaga masyarakat, tempat tinggal warga sipil, dan gudang penyimpanan makanan, blokade yang terus berlanjut menyebabkan lonjakan harga bahan pangan yang drastis. Dampak sangat negatifnya bisa dirasakan oleh penduduk Gaza, khususnya para pencari nafkah.

“Sebagai pencari nafkah bagi keluarga, saya menghadapi kesulitan ekstrem dalam memenuhi kebutuhan makanan pokok anak-anak saya, karena kurangnya sumber pendapatan. Bahkan kalaupun saya mampu membeli kebutuhan mereka, saya merasa kesulitan berinteraksi dengan anak-anak saya, terutama anak-anak saya yang masih kecil, karena saya merasa tidak dapat menyediakan makanan yang cukup layak bagi mereka,” katanya.

Keluarganya kini hanya mampu makan sekali sehari. Dr. Basel bahkan harus membagi sepotong roti kepada seluruh anggota keluarganya.

semua kebutuhan rumah tangga masyarakat seperti persediaan bahan makanan dan makanan kaleng telah habis. Dari situlah tanda-tanda kekurangan gizi mulai tampak, khususnya di kalangan anak-anak. Berat badan mereka mengalami penurunan antara 5 hingga 10 kilogram.

Sebagai dokter ortopedi yang banyak menangani korban serangan Israel, ia mengamati bahwa kekurangan gizi menyebabkan penyembuhan luka pasien menjadi sangat lambat atau bahkan gagal.

“Pasien-pasien ini membutuhkan nutrisi yang sehat dan makanan yang mengandung protein, vitamin, karbohidrat, dan gula. Dulu, luka-luka seperti itu dapat sembuh dalam waktu singkat, tetapi sekarang memerlukan waktu dua kali lipat atau lebih lama untuk pulih,” kata dr. Basel.

Ia juga menyampaikan banyak pasien kini mengalami kulit pucat (pallor), kelemahan umum (general weakness), dan anemia, yang menyebar hampir ke seluruh pasien. Sistem kekebalan tubuh yang lemah menyebabkan penyebaran infeksi dan epidemi makin sulit dicegah.

Kondisi yang Terus Memburuk juga Berdampak kepada Tenaga Medis

“Kami bahkan hampir tidak dapat menjalankan tugas kami secara menyeluruh akibat rasa lelah yang sudah akut,” katanya.

Ia mengaku telah kehilangan sekitar 30 kilogram berat badan, dan rekan-rekannya mengalami kondisi yang sama karena kurangnya makanan, terutama daging.

“Keputusasaan dan rasa tidak ada harapan mulai menguasai kehidupan profesional kami, yang berdampak negatif, khususnya pada pasien yang sedang terluka, dan masyarakat pada umumnya,” tutur dr. Basel.

Dari Yogya ke Solo: Konvoi Ambulans Tegakkan Kemanusiaan untuk Palestina

SOLO (jurnalislam.com)- Hampir 100 mobil ambulans berkonvoi rapi membelah jalanan Yogyakarta menuju Kota Solo, Ahad (4/5/2025). Mengenakan atribut Palestina para driver berharap aksi kemanusiaan ini dilakukan sebagai bentuk protes atas genosida yang terjadi di bumi Palestina.

Lampu rotator yang dinyalakan tajam menyorot serta raungan sirine yang dinyalakan bebarengan membahana memenuhi langit siang itu seakan ingin berteriak kepada dunia agar tragedi kemanusiaan yang ada di Palestina harus segera dihentikan.

“Kami driver ambulans hanya bisa bersuara dengan suara sirine, semoga aksi ini menjadi inspirasi atau pelecut di aksi yang diadakan di kota lain,”ungkap Lutfi Hidayat, Koordinator Aksi dari Yogyakarta, Ahad (4/5/2025).

Selain itu, mengapa gerakan ini dilakukan diantaranya untuk terus menghangatkan terus isu Palestina agar masyarakat paham akan kekejaman zionis Israel.

Banyaknya tenaga medis yang gugur di Palestina juga menjadi keprihatinan kita semua.

“Kita punya ide untuk mengadakan konvoi ambulans, karena kita mempunyai kaitan erat di mana kalangan medis di Palestina banyak menjadi saran korban bahkan sampai saat ini tercatat kurang lebih 1000 tenaga medis yang menjadi korban kekejaman zionis israel,” tambahnya.

Relawan driver ambulans yang ikut berasal dari beberapa wilayah seperti Yogyakarta, Magetan, Ngawi, Klaten, Solo, Semarang serta Purwakarta.

Beberapa relawan ambulans yang ikut diantaranya adalah LazizMu, Baznas, Mer-C Yogyakarta, Masjid Jogokaryan, Hamka Hajar Aswad, Laskar Sedekah, Surya Grop, Laznah Dewan Dakwah, Lumbung Zakat, FKAM, WM 2000 Solo dan lain sebagainya.

“Total ada kurang lebih 100 ambulans yang ikut dapat misi kemanusiaan ini. Rute yang dilalui dari Yogyakarta berhenti sejenak di Masjid Al Aqsha Klaten untuk melakukan orasi dan menyalakan sirine selama 1 menit terus berjalan. Berhenti di Goro Asssalam kemudian finis di Taman Sri Wedari Solo,” pungkasnya.

Brigade Al Qassam Klaim Habisi Tentara Israel Lewat Serangan di Lorong Terowongan Rafah

GAZA (jurnalislam.com)- Sayap bersenjata Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, mengklaim telah menewaskan dan melukai sejumlah tentara Israel dalam serangan terencana di wilayah Rafah, Gaza selatan, pada Sabtu (3/5/2025).

Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan di Telegram, Brigade Al-Qassam menyebut para pejuangnya berhasil memancing pasukan Israel masuk ke sebuah lorong terowongan yang sebelumnya telah dipasangi bom.

“Begitu sejumlah tentara maju ke lorong terowongan, terowongan itu diledakkan, menewaskan dan melukai mereka,” demikian bunyi pernyataan kelompok tersebut.

Selain itu, Brigade Al-Qassam juga mengklaim telah menargetkan dua tank milik militer Israel dengan roket al-Yassin 105 di kawasan yang sama.

Secara terpisah, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam sebuah pidato video yang disiarkan hari ini, mengonfirmasi bahwa dua tentara Israel tewas di Rafah pada pagi hari.

Rafah saat ini menjadi lokasi bentrokan paling sengit dalam invasi darat Israel ke Jalur Gaza, menyusul serangkaian perlawanan dari pejuang Palestina yang terus mempersulit pergerakan militer Israel di wilayah tersebut. (Bahry)

Sumber: MEE

Pengamat: Israel Ingin Mencaplok Suriah Lewat Dalih Lindungi Druze

DAMASKUS (jurnalislam.com)- Direktur Asosiasi Suriah untuk Martabat Warga, Labib Nahhas, menyebut serangan militer Israel ke wilayah Suriah bukan semata untuk melindungi komunitas Druze, melainkan bagian dari rencana jangka panjang Israel untuk menguasai dan melemahkan negara-negara di kawasan.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Ahad (4/5/2025), Nahhas menyatakan bahwa alasan perlindungan terhadap komunitas Druze yang disampaikan Israel hanyalah “dalih palsu”.

Israel mengklaim melindungi komunitas Druze, padahal di dalam negerinya sendiri mereka diperlakukan sebagai warga negara kelas dua. Jadi sangat tidak logis bila mereka benar-benar ingin melindungi Druze di Suriah, kata Nahhas.

Ia menambahkan bahwa sejak serangan 7 Oktober 2023 oleh kelompok pejuang Palestina yang dipimpin Hamas, Israel menunjukkan wajah baru yang lebih agresif dan ekspansionis.

Yang kita lihat saat ini adalah Israel baru, yang paling ekspansionis, agresif, dan bermusuhan sejak 1967. Mereka menyatakan tidak akan menghentikan perang sampai Suriah terpecah dan membangun zona penyangga mereka sendiri tanpa keterlibatan militer Suriah, tegasnya.

Nahhas menyebut langkah-langkah militer tersebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang Israel untuk membentuk ulang peta geopolitik regional sesuai kepentingannya.

Israel ingin Suriah tetap lemah, terdesentralisasi, dan tidak berdaya. Semua ini dilakukan demi kepentingan strategis Israel dalam membangun dominasi baru di Timur Tengah, pungkasnya. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Rudal Hantam Bandara Ben Gurion Israel, Enam Orang Terluka

TEL AVIV (jurnalislam.com)- Sebuah rudal dilaporkan menghantam kawasan Bandara Internasional Ben Gurion, Israel, pada Ahad pagi (4/5), menyebabkan sedikitnya enam orang terluka dan sempat mengganggu aktivitas penerbangan. Serangan ini diklaim oleh kelompok Houthi Yaman sebagai bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina di Gaza.

Militer Israel menyatakan telah melakukan beberapa upaya pencegatan terhadap rudal yang diluncurkan dari Yaman. Namun, rudal tersebut berhasil menembus sistem pertahanan dan menciptakan kawah besar di area dekat Terminal 3, sekitar satu kilometer dari landasan pacu utama.

Rekaman video yang dirilis kepolisian Israel memperlihatkan kawah besar di area parkir bandara, dengan latar belakang menara kontrol terlihat dari kejauhan. Meskipun demikian, tidak ada kerusakan yang dilaporkan pada landasan atau bangunan utama bandara.

Pasukan rudal angkatan bersenjata Yaman telah melakukan operasi militer yang menargetkan Bandara Ben Gurion menggunakan rudal balistik hipersonik, demikian pernyataan resmi kelompok Houthi.

Layanan medis darurat Israel, Magen David Adom, melaporkan enam korban luka dengan kondisi ringan hingga sedang. Sementara itu, ratusan penumpang di dalam bandara dievakuasi ke tempat perlindungan darurat setelah terdengar ledakan keras sekitar pukul 09.35 pagi waktu setempat.

Akibat insiden tersebut, sejumlah penerbangan sempat dialihkan, termasuk pesawat Air India yang menuju Tel Aviv dan terpaksa mendarat di Abu Dhabi. Namun beberapa jam kemudian, otoritas bandara menyatakan bahwa seluruh aktivitas keberangkatan dan kedatangan telah kembali normal.

Menanggapi serangan ini, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant menyatakan akan memberikan respons keras. Siapa pun yang menyerang kami, akan kami balas tujuh kali lebih kuat, tegasnya.

Kelompok Houthi yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman telah berulang kali meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel serta jalur pelayaran Laut Merah sejak konflik Gaza pecah. Serangan pada Ahad ini menjadi salah satu dari tiga serangan rudal yang diklaim Houthi dalam dua hari terakhir. (Bahry)

Sumber: TNA

Turki Ganggu Jet Tempur Israel di Langit Suriah, Tegaskan Penolakan Serangan

DAMASKUS (jurnalislam.com)- Ketegangan di langit Suriah meningkat setelah jet tempur Turki dilaporkan mengacaukan sistem elektronik pesawat-pesawat tempur Israel pada Jumat malam (2/5). Tindakan langka ini disebut sebagai upaya nyata Ankara untuk menghalangi operasi militer Israel di wilayah udara Suriah.

Menurut laporan media pemerintah Suriah, SANA, Israel meluncurkan gelombang serangan udara ke berbagai wilayah, termasuk Hama dan Damaskus. Serangan tersebut menewaskan seorang warga sipil dan melukai beberapa lainnya, terutama di pinggiran Harasta dan kota al-Tall dekat ibu kota.

Otoritas Penyiaran Israel mengonfirmasi keterlibatan Turki dalam operasi tersebut. Disebutkan bahwa pesawat-pesawat Turki mengirimkan sinyal elektronik yang mengganggu sistem jet tempur Israel, memaksa mereka untuk meninggalkan wilayah udara Suriah.

Langkah tersebut muncul hanya dua hari setelah Kementerian Luar Negeri Turki secara resmi meminta Israel menghentikan serangan udara di Suriah. Ankara menegaskan bahwa saat ini Suriah berada dalam tahap sensitif dan membutuhkan dukungan internasional untuk mencapai stabilitas serta menjaga keutuhan wilayahnya.

Dalam konteks ini, Israel harus mengakhiri serangan udaranya, yang merusak upaya untuk mencapai persatuan dan integritas teritorial Suriah, tegas pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki.

Turki juga disebut tengah mempertimbangkan pengerahan pasukan dan sistem pertahanan udara ke beberapa lokasi strategis di Suriah, termasuk pangkalan udara T4 dan wilayah Hama yang sebelumnya menjadi target serangan Israel.

Bagi Israel, kehadiran militer Turki di Suriah dipandang sebagai tantangan langsung terhadap ambisinya untuk mempertahankan pengaruh dan kontrol atas wilayah-wilayah strategis di Suriah pasca tumbangnya rezim Bashar al-Assad. (Bahry)

Sumber: TNA

Serangan Udara Israel Dekat Istana Presiden Suriah Dinilai Sebagai Peringatan untuk Pemerintah Ahmed Al- Sharaa

DAMASKUS (jurnalislam.com)- Israel melancarkan serangan udara ke daerah dekat istana presiden Suriah di Damaskus pada Jumat dini hari (2/5/2025), yang dinilai sebagai “peringatan” keras terhadap pemerintahan baru Presiden Ahmed Al-Sharaa.

Menurut laporan dari situs Al-Araby Al-Jadeed, target serangan merupakan area yang sebelumnya dikuasai oleh Divisi Keempat rezim Bashar al-Assad. Serangan terjadi di kawasan Gunung Rabweh, barat daya Damaskus.

Meskipun tidak ada korban jiwa atau kerusakan besar yang dilaporkan, serangan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan sektarian di Suriah selatan antara kelompok bersenjata Sunni dan komunitas Druze.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang kini menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang di Gaza, bersama Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant, menyatakan bahwa serangan ini adalah pesan langsung kepada pemerintah Suriah.

“Ini adalah pesan yang jelas kepada rezim Suriah. Kami tidak akan membiarkan pengerahan pasukan di selatan Damaskus atau ancaman apa pun terhadap komunitas Druze,” tegas mereka dalam sebuah pernyataan bersama.

Sumber lokal menyebutkan bahwa pesawat tempur Israel berada di wilayah udara Damaskus selama lebih dari 72 jam.

Israel terus memosisikan diri sebagai pelindung komunitas Druze di Suriah dan menuntut demiliterisasi wilayah selatan negara itu, tempat dimana komunitas tersebut banyak tinggal setelah jatuhnya rezim Assad. Namun sebagian besar warga Druze tetap menolak tawaran itu dan menyatakan kesetiaan kepada Suriah.

Ketegangan meningkat setelah beredarnya video palsu yang menunjukkan seorang ulama Druze menghina Nabi Muhammad, yang kemudian memicu bentrokan sektarian berdarah. Mahasiswa Druze diserang di Universitas Homs, dan kelompok bersenjata berusaha menyerbu kawasan Jaramana di pinggiran Damaskus, yang dihuni mayoritas Druze.

Bentrokan yang terjadi menewaskan puluhan orang, dengan jumlah korban yang belum diketahui pasti karena adanya laporan warga yang hilang.

Sementara itu, pemerintah Suriah mencoba meredakan konflik, meski beberapa kelompok bersenjata yang terlibat diyakini memiliki keterkaitan dengan pemerintah. Di Provinsi Suweida yang dihuni mayoritas Druze, milisi lokal Pria Bermartabat dilaporkan mencapai kesepakatan dengan Kementerian Dalam Negeri Suriah untuk memulihkan keamanan.

Namun, pemimpin spiritual Druze, Sheikh Hikmat al-Hijri, menolak semua bentuk kerja sama dengan pemerintah dan menyebut rezim saat ini sebagai ekstremis. Ia juga meminta perlindungan internasional, menyatakan bahwa komunitas Druze tengah menghadapi “serangan genosida”.

Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani menolak seruan untuk intervensi asing, sementara Qatar mengutuk keras pemboman Israel di Damaskus.

Situasi di Suweida pada Jumat dilaporkan mulai kondusif setelah pasukan keamanan dikerahkan dan kelompok bersenjata bersedia menarik diri dari beberapa titik konflik. (Bahry)

Sumber: TNA

20 Serangan Udara Israel Guncang Suriah, Warga Sipil Tewas

DAMASKUS (jurnalislam.com)- Israel kembali meluncurkan gelombang serangan udara ke wilayah Suriah pada Jumat malam (2/5/2025), yang digambarkan oleh otoritas pemerintah baru Suriah sebagai sebuah “eskalasi berbahaya” di tengah meningkatnya ketegangan etnis dan sektarian, terutama terkait komunitas minoritas Druze.

Menurut laporan Syrian Observatory for Human Rights, serangan kali ini merupakan yang paling intens sepanjang tahun 2025, dengan sekitar 20 serangan udara yang menghantam target-target militer di berbagai wilayah Suriah.

Kantor berita negara Suriah, Sana, melaporkan bahwa Israel membombardir area di sekitar ibu kota Damaskus, serta di Latakia, Hama, dan Daraa di selatan negara tersebut. Seorang warga sipil dilaporkan tewas di Harasta, dekat Damaskus, dan empat lainnya terluka di sekitar Hama.

Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Israel menargetkan wilayah dekat kompleks istana kepresidenan Suriah. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Yoav Gallant menyatakan bahwa aksi militer tersebut merupakan “pesan” kepada pemerintahan baru Suriah agar tidak menempatkan pasukan militer di selatan Damaskus, serta untuk mencegah potensi ancaman terhadap komunitas Druze.

Pekan lalu, bentrokan berdarah antara kelompok bersenjata Druze dan pasukan pro-pemerintah Suriah menewaskan puluhan orang. Ketegangan ini dipicu oleh beredarnya rekaman suara seorang tokoh ulama Druze yang diduga menghina Nabi Muhammad, namun tuduhan itu telah dibantah.

Sejak tergulingnya Presiden Bashar al-Assad pada Desember lalu dan naiknya Ahmed al-Sharaa sebagai presiden baru, Israel telah meningkatkan intensitas serangannya ke Suriah, termasuk serangan udara dan darat dalam skala besar.

Militer Israel menyatakan bahwa Kepala Staf Eyal Zamir telah memerintahkan pasukannya untuk bersiap melancarkan serangan tambahan ke berbagai target di Suriah jika kekerasan terhadap komunitas Druze terus berlanjut.

Komunitas Druze di Suriah, yang sebagian besar tinggal di provinsi Sweida di selatan serta di wilayah pinggiran Damaskus, selama ini dikenal menjaga jarak dari pemerintah pusat sejak era dinasti Assad hingga kini.

Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam keras serangan Israel, menyebutnya sebagai provokasi yang tidak dapat diterima. Erdogan juga mengumumkan rencananya untuk bertemu langsung dengan Presiden AS Donald Trump guna membahas situasi di Suriah.

“Pada isu-isu yang kami berbeda pandangan, pencarian kompromi atas dasar yang wajar pasti akan terus berlanjut,” kata Erdogan, seraya memuji hubungan komunikasi sebelumnya dengan Trump sebagai tulus, membuahkan hasil, dan bersahabat.

Israel diketahui telah lama melobi AS untuk mempertahankan Suriah dalam kondisi terbagi menjadi bagian-bagian wilayah kecil. Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich bahkan menegaskan bahwa perang di Gaza hanya akan berakhir ketika ratusan ribu warga Palestina mengungsi secara paksa dan Suriah terpecah-pecah.

Sumber: MEE