Waketum Persis: Penyesalan WNI Eks ISIS Patut Jadi Pertimbangan Pemerintah

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Pemerintah resmi menolak pemulangan WNI Eks ISIS ke Indonesia.

Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Waketum PP Persis) Dr. H. Jeje Zaenudin menilai ada beberapa aspek yang patut dipertimbangkan.

Jeje menilai dari aspek HAM, Pemerintah RI mesti mempertimbangkan karena banyak dari mereka yang sebenarnya adalah korban propaganda, disebabkan awam sehingga mudah ikut terperdaya.

“Terutama para wanita dan anak anak yang harus ikut kemauan para suami atau ayah mereka tanpa memahami sama sekali permasalahan di Suriah dan ISIS,” kata Jeje dalam keterangan yang diterima Jurnalislam, Selasa (11/2/2020).

Jika dalam kondisi seperti itu, rasa kemanusiaan kita tentu terusik saat mereka dibiarkan terlantar di negeri orang tanpa identitas kewarganegaraan.

Dari aspek yang lain menurut Jeje, mereka yang dengan sengaja meninggalkan negerinya dan melepaskan kewarganegaraannya kemudian  berpindah ke negara lain dan menyatakan sumpah setianya sebagai warga negara tersebut, tentu dinilai telah melanggar perundang-undangan terkait kewarganegaraan, dan bisa dianggap melecehkan negara kelahirannya sendiri.

“Wajar saja, jika muncul penolakan dari masyarakat sekitarnya,” tambah Jeje menyorot masalah keamanan.

Jeje menegaskan, secara syariat Islam diajarkan bahwa kesalahan dan dosa apapun bisa ditebus dengan taubat nasuha.

Dalam tinjauan fikih, seorang warga sipil, mengikuti  perang di negeri orang tanpa instruksi dan izin pemimpin dalam negerinya sendiri, dapat dihukumkan sebagai pembangkangan kepada pemimpin.

“sebab keterlibatan jihad orang itu, harus atas komando para ulama dan pemimpin,” ujarnya.

Tetapi ketika ia menyatakan kesalahannya dan berikrar untuk kembali setia kepada kepemimpinan di dalam negerinya, Jeje memandang permintaan mereka patut dipertimbangkan dan dikaji maslahat serta mafsadatnya.

“Disini pemerintah harus bersikap bijaksana dan berbesar hati dalam menyikapinya,” ungkap Jeje.

Wakil Ketua Umum PP Persis itu menegaskan, masalah pemulangan eks ISIS itu dikembalikan kepada peraturan perundangan yang berlaku secara nasional maupun konvensi internasional, serta kebijakan para pemimpin dengan mempertimbangkan aspek syariat, hak asasi manusia, serta dampak yang mungkin ditimbulkannya.

‘Palestina Sulit Miliki Negara Sendiri, Tanda Internal Umat Sedang Lemah’

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Sejarawan Dr Tiar Anwar Bachtiar menyebut Palestina menjadi tolak ukur kekuatan umat Islam di dunia.

Menurutnya, jika umat Islam sebanyak ini saja tidak bisa berperan terhadap pembebasan Palestina, itu menandakan bahwa internal umat sedang lemah.

“Jadi kalau umat islam dan negara Islam ini untuk sekedar memberikan negara yang definitif kepada rakyat Palestina saja tidak bisa, itu tandanya kita lemah sekali,” kata dia kepada Jurnalislam di Pondok Pesantren Roja, Sukoharjo, Senin (10/2/2020).

Padahal, menurutnya, yang bisa diharapkan untuk kemerdekaan Palestina adalah umat Islam sendiri.

“Ratusan negara Islam tidak bisa membantu orang orang Palestina untuk punya negara sendiri, ini yang kita prihatinkan,” imbuhnya.

Karenanya, menurutnya, ulama memiliki peran sentral dalam menggerakkan masyarakat untuk membantu Palestina.

Untuk itu ia mendorong para ulama untuk serius menjelaskan permasalahan Palestina kepada umat Islam.

“Sehingga para ulama harus menjadi salah satu faktor yang mengingatkan masyarakat dan pemimpin untuk secara serius menberikan perhatian kepada Palestina,” pungkasnya.

Sejarawan: Ulama Memiliki Peran Sentral dalam Pembebasan Palestina

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Sejarawan Dr Tiar Anwar Bachtiar menyebut Palestina menjadi tolak ukur kekuatan umat Islam di dunia.

Untuk itu ia mendorong para ulama untuk serius menjelaskan permasalahan Palestina kepada umat Islam.

Hal tersebut karena hal penting karena menurut Dr. Tiar, satu-satunya yang bisa diharapkan dalam pembebasan Palestina adalah umat Islam sendiri.

Untuk itu ulama disebut Dr Tiar menjadi salah satu faktor penting dalam membebaskan Palestina dari penjajahan Israel.

“Sehingga para ulama harus menjadi salah satu faktor yang mengingatkan masyarakat dan pemimpin untuk secara serius memberikan perhatian kepada Palestina,” kata dia kepada Jurnalislam. di Pondok Pesantren Roja, Sukoharjo, Senin (10/2/2020).

“Para ulama para dai ini harus mengingatkan kepada masyarakat tentang masalah Palestina ini, karena memang ini persoalan yang nanti akan menjadi pertaruhan islam di dunia,” pungkasnya.

Polda Jateng Panggil Pelapor Kasus Dugaan Penistaan Agama Muwafiq

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Polda Jawa Tengah melakukan akhirnya memanggil Anis Fathon selaku pelapor kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahmad Muwafiq beberapa waktu silam.

Anis dimintai keterangan guna kepentingan penyelidikan di Kantor Subdit KAMNEG Direskrium Polda Jateng pada senin (10/2/2020).

Menurut salah satu kuasa hukumnya, Muhammad Amin dalam keterangannya Anis menyatakan ketersingungannya atas ceramah Ahmad Muwafiq yang menceritakan masa kecil nabi Muhammad.

“Tadi pelapor sudah diperiksa terkait laporannya, intinya pelapor tersinggung dalam ceramah yang disampaikan pembicara Ahmad Muwafiq pada acara tempel bersholawat,” katanya kepada Jurnalislam.

“Menceritakan kisah kecil kepribadian Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasalam yang bertolak belakang dari kisah kisah yang sebenarnya, sehingga perbuatan perkataan tersebut sangat menyinggung perasaan umat Islam atau menistakan agama yang dia anut,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia berharap aparat kepolisian dapat bersikap tegas dalam kasus tersebut agar tak memunculkan pelaku pelaku” penistaan agama di kemudian hari.

“Dapat segera ditindak lanjuti oleh Polda Jawa Tengah,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq dilaporkan oleh Anis Fathon ke Polda Jawa Tengah pada 15 Desember 2019. Gus Muwafiq dianggap melanggar pasal 156 a tentang penistaan agama terkait ceramahnya yang menceritakan masa kecil Rasulullah.

Resmi, Pemerintah Putuskan Tolak Kepulangan WNI Eks ISIS

BOGOR (Jurnalislam.com) Pemerintah memutuskan tak memulangkan ratusan WNI Eks ISIS ke Indonesia.

Hal ini diputuskan dalam rapat kabinet yang digelar tertutup oleh Presiden Joko Widodo dan sejumlah kementerian di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/2).

“Pemerintah tidak ada rencana memulangkan teroris, bahkan tidak akan memulangkan foreign terrorist fighter (FTF) ke Indonesia,” ujar Menko Polhukam Mahfud MD.

Dari data terbaru, kata Mahfud, terdapat 689 WNI eks ISIS yang tersebar di sejumlah wilayah seperti Suriah dan Turki.

Sebelumnya disebutkan ada 660 WNI. Mahfud mengatakan, keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan keamanan bagi ratusan juta penduduk di Indonesia.

“Keputusan rapat tadi pemerintah harus beri rasa aman dari ancaman teroris dan virus-virus baru terhadap 267 juta rakyat Indonesia. Karena kalau FTF ini pulang bisa jadi virus baru yang membuat rakyat 267 juta tidak aman,” katanya.

sumber: cnnindonesia

Anies Kenang Sosok Bachtiar Effendy Sebagai Pejuang Politik Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan bahwa almarhum Prof. Bachtiar Effendy adalah tokoh yang berintegritas tinggi. Hal itu disampaikannya saat menghadiri peluncuran buku biografi Prof. Bachtiar Effendy.

Dalam peluncuran buku berjudul ‘Mengenang Sang Guru Politik Prof. Bachtiar Effendy’ yang diselenggarakan di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Senin (10/2), Anies bercerita tentang awal mula perkenalannya dengan Prof. Bachtiar Effendy.

“Kita semua merasakan betapa besar kontribusi mas Bachtiar Effendy selama hidupnya dengan tulisan dan pikiran beliau, khususnya terkait dengan dunia politik dan perjuangan umat Islam,” katanya.

Menurut Anies, tidak banyak tokoh seperti Prof. Bachtiar Effendy, yang merupakan seorang lulusan pesantren, lalu mengabdikan diri untuk negeri melalui beberapa sumbangsih pemikiran-pemikirannya.

Pemenang dalam Pilkada 2017 lalu itu mengapresiasi penulisan biografi tokoh agama maupun bangsa yang memiliki integritas tinggi, seperti Prof. Bachtiar Effendy dan semisalnya.

“Saya mengapresiasi tradisi untuk menulis pikiran, pengalaman tentang seorang pribadi yang sudah wafat, sehingga pengalaman dari atau interaksi pikiran dari yang sudah berpulang ini sepanjang usianya bisa tersalurkan kepada banyak orang,” ujar Anies.

Anies menambahkan, yang menarik dari seorang Prof. Bachtiar adalah kejeliannya melihat transisi demokrasi, melihat bagaimana institusi demokrasi tumbuh berkembang, partai politik tumbuh berkembang, dan bagaimana itu bisa diintegrasikan dengan aspirasi umat Islam.

“Bila tidak diwujudkan dalam bentuk tulisan maka yang tahu hanya yang baca,” katanya.

Ketua DDII: WNI Eks ISIS Sudah Menyesal, Selanjutnya Tergantung Kebijakan Pemerintah

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Dalam beberapa pekan belakangan, isu pemulangan bekas kombatan Islamic State (ISIS) ramai diperbincangkan.

Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) pun meminta pemerintah bersikap bijaksana dan berbesar hati dalam menyikapinya.

Ketua DDII Mohammad Siddik mengatakan, jika dibiarkan saja, maka bisa membawa  efek negatif. Indonesia akan malu di luar negeri, sebab satu negeri tidak mengakui bangsanya sendiri.

“Mereka buat salah, betul iya, tetapi sekarang mereka meminta maaf. Apakah negara sebagai ibu pertiwi tidak memperhatikan hal ini?,” katanya.

Dia menegaskan, ini menjadi kewajiban negara, meskipun pada dasarnya para WNI bekas ISIS itu telah berbuat kesalahan yang nyata.

Tapi sebagai negara mayoritas Islam, maka harus bijaksana dan berhati besar.

“Jadi kita harus berbesar hati lah, warga negara kita yang sudah di sana, dan mereka pasti akan taubat kalau disuruh bikin pernyataan juga mereka akan bikin pernyataan. Sekarang mereka sudah mengikuti, sudah menyaksikan sendiri, bagaimana keadaannya tidak seperti yang mereka bayangkan,” paparnya.

Siddik meyakini bahwa apa yang selama ini ada dipikiran WNI bekas ISIS soal surga di tempat itu tidak terjadi.

“Yang jelas ini bukan cara berdakwah atau menyampaikan nilai-nilai Islam. Nah sekarang mereka (WNI eks ISIS) sudah menyadari dan mereka minta maaf mau pulang. Banyak di antaranya anak-anak kecil, ibu-ibu, janda, banyak yang suaminya jadi korban, tidak tahu mereka kemana,” katanya.

Korban Meninggal Akibat Virus Corona Tembus 1000 Orang

CINA (Jurnalislam.com)-+Angka kematian total yang disebabkan virus corona baru (2019-nCoV) mencapai 1.011 orang per Selasa pagi (11/2/2020). Ini terjadi setelah provinsi Hubei, pusat virus corona berada, melaporkan 103 kematian baru.

Dalam laporan hariannya, komisi kesehatan Hubei juga mengkonfirmasi 2.097 kasus baru di provinsi tersebut. Akibatnya, saat ini total kasus yang disebabkan virus mirip SARS itu mencapai lebih dari 42.200 kasus di China saja.

Virus corona yang mematikan pertama kali muncul pada bulan Desember di kota Wuhan, provinsi Hubei, China. Virus yang diyakini berasal dari hewan liar yang dijual di sebuah pasar seafood di Wuhan itu hingga saat ini belum memiliki vaksin.

Dalam hal penyebaran, virus ini diketahui sudah menyebar ke sedikitnya 26 negara sejauh ini. Yaitu di China, Jepang, Singapura, Thailand, Korea Selatan, Malaysia, Australia, Vietnam, Jerman, Amerika Serikat, Prancis, Makau, Inggris, Uni Emirat Arab, Kanada, Filipina, India, Italia, Rusia, Spanyol, Nepal, Swedia, Sri Lanka, Kamboja, Finlandia, Belgia.

Virus yang memunculkan gejala seperti demam dan batuk pada penderitanya ini awalnya dilaporkan menyebar melalui kontak langsung dengan penderita dan umumnya menjangkiti mereka yang memiliki riwayat perjalanan ke Wuhan. Namun, lembaga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan belakangan virus juga telah menjangkiti mereka yang tidak memiliki riwayat perjalanan ke Wuhan.

Akibat ini, WHO mengirim ke Wuhan sebuah tim yang ditujukan untuk membantu menangani wabah ini. Ketua WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus telah mengumumkan keberangkatan tim yang dipimpin lembaganya tersebut ke China pada Sabtu lalu.

“Tim ini dipimpin oleh Dr Bruce Aylward, veteran darurat kesehatan masyarakat masa lalu,” kata Tedros dalam sebuah tweet.

Sumber: cnbcindonesia

Bogor Barat Akan Kembangkan Kampung Santri

BOGOR (Jurnalislam.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terus berupaya meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakatnya.

Beberapa di antaranya dengan melakukan penataan kawasan wisata dan memperbanyak kampung tematik.

Di Kecamatan Bogor Barat, Pemkot Bogor berencana membangun Kampung Tematik Santri, Kampung Tematik Sunda dan pengembangan Situ Gede menjadi kawasan agro wisata.

Camat Bogor Barat Juniarti Estiningsih menjelaskan, pihaknya akan membangun Kampung Santri di Kelurahan Loji. Sedangkan, Kampung Sunda akan dibangun di Pegantongan, Kelurahan Balungbangjaya.

“Di Kelurahan Bubulak juga akan dibangun Kampung Lauk,” kata Esti, Senin (10/2/2020).

Dalam musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan yang dilakukan pada, Jumat (7/2/2020) Esti juga menyampaikan keinginannya untuk menata kawasan Bogor Barat.

Dia menjelaskan keinginannya untuk mengembangkan Situ Gede menjadi agrowisata.

“Mudah-mudahan Situ Gede ini akan menjadi kawasan wisata yang terintegrasi dengan kawasan di sekelilingnya yang nantinya akan menjadi ekowisata kebanggaan Kota Bogor khususnya warga Kecamatan Bogor Barat,” ungkap mantan Kepala BPBD Kota Bogor ini.

Sumber: republika.co.id

Dewan Dakwah Nilai Sebagian WNI Eks ISIS Justru Adalah Korban Propaganda

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dalam beberapa pekan belakangan, isu pemulangan bekas kombatan Islamic State (ISIS) ramai diperbincangkan.

Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia pun meminta pemerintah bersikap bijaksana dan berbesar hati dalam menyikapinya.

Ketua Umum DDII, Mohammad Siddik mengatakan WNI eks ISIS itu bisa diberdayakan untuk berdakwah secara baik sesuai UUD 1945, menyampaikan nilai-nilai Islam secara benar, secara konstitusional, tidak dengan kekerasan.

Sebab Islam tidak mengajarkan kekerasan, tidak boleh membunuh.

“Memang itu cara salah, tapi kita sebagai warga negara harus secara objektif menilai ini cara yang salah,” kata Siddik dalam keterangan pers yang diterima Jurnalislam di Jakarta, Selasa (11/2/2020).

Menurut dia, WNI yang dulunya bergabung bersama ISIS adalah korban.

Sebab, sudah banyak bukti bahwa ISIS bukan gerakan Islam. Selain itu, WNI tersebut banyak yang tidak paham tentang agama Islam.

Padahal dalam Islam dilarang berbuat keji layaknya yang dilakukan ISIS.