Ramadhan 1441 H, Sinergi Foundation Salurkan 12.475 Kebaikan untuk Masyarakat Dhuafa

BANDUNG(Jurnalislam.com)–Selama bulan suci, Sinergi Foundation berhasil menghimpun 12.475 bantuan untuk masyarakat dhuafa di penjuru Indonesia dan Gaza. Bantuan tersebut berupa 6.455 paket ifthar di Indonesia, 2.000 paket ifthar di Gaza, 644 paket yatim, 776 paket sembako untuk jompo dhuafa, dan 2.600 zakat fitrah.

CEO Sinergi Foundation menjelaskan, seluruh bantuan ini disebar ke penjuru Indonesia, seperti Aceh, Kalimantan Utara, Riau, Sumatera Barat, Jawa Barat, NTT, Lombok, hingga Papua Barat. “Tak lupa seberkas Bahagia ini juga dibagikan untuk saudara kita di Gaza, tepatnya di Rafah, Khan Younis, dan Gaza sebelah utara. Jika dijumlahkan, total penyaluran ada 95 titik,” kata Asep.

Ia menuturkan, Ramadhan 1441 H ini sungguh berkesan. Nuansa ibadah kali ini diselimuti wabah COVID-19. Meski masyarakat berada dalam karantina, katanya, Sinergi Kebaikan tak pernah surut. Ia berharap, seluruh kebaikan di bulan suci ini menjadi tabungan #AmalTerbaik bagi masyarakat.

Apalagi, ia meneruskan, mengingat banyak masyarakat dhuafa tengah kesusahan karena pandemi ini. Dengan ekonomi yang terperosok, mereka kesulitan untuk bertahan hidup.

“Alhamdulillah, Ramadhan ini kita bisa sama-sama ringankan beban saudara kita yang membutuhkan. Di bulan berikutnya, semoga #SinergiKebaikan tetap terjalin dan bisa terus menguat. Insya Allah, setiap sinergi yang terjalin, dibalas berkali lipat oleh-Nya,” tutur Asep.

Terakhir, ia pun mengucapkan terima kasih pada masyarakat yang terlibat dalam Sinergi Kebaikan di Sinergi Foundation. “Jazakumullah para donatur! Salam hangat dari para mustahik dan relawan Sinergi Foundation yang bertugas,” tandasnya. []

 

AQTC Peduli Umat di Pengujung  Bulan Ramadhan

CIANJUR(Jurnalislam.com)–Menanggapi momen Ramadhan 1441H, Yayasan Annahl Quran Training Center (AQTC) Cianjur Jawa Barat, menggulirkan program perdananya berupa pendistribusian ratusan paket lebaran anak yatim, sembako, dan zakat fitrah, Sabtu, (23/05/2020).

Paket-paket tersebut disebarkan di tiga tempat diantaranya; Kampung Mualaf Ciranjang Cianjur, Warga sekitar Pondok An-Nahl Desa Cibulakan Cianjur, dan Desa Kramatmulya Kuningan Jawa Barat.

Yayasan Annahl Quran Training Center memiliki tiga program utama meliputi keagamaan, kemanusiaan dan sosial. Dan pada bulan Ramadhan kali ini AQTC mengukir dua program, sosial dan keagamaan. Adapun keagamaan dengan mengumpulkan zakat fitrah dari kaum muslimin sedangkan sosialnya membagikan paket sembako untuk dhuafa, jompo dan guru ngaji serta bingkisan lebaran untuk para anak yatim.

Alhamdulillah, meskipun ini merupakan program pertama AQTC namun antusias dari para muhsinin sangat luar biasa,” ujar Taofik Dayatuloh selaku Pimpinan.

Harapan Abu Nahla Assundawy demikian sapaan akrabnya, semoga dengan di distribusikanya zakat fitrah di kampung Mualaf khususnya bisa menjaga keistiqomahan dan keimanan mereka. Adapun paket sembako dan paket lebaran untuk para anak yatim agar mereka bisa merasakan kebahagiaan pada hari raya Idul Fitri.

Neneng Jamilah mewakili Muhsinin mengungkapkan,  Insya Allah  AQTC adalah yayasan yang sangat berkhidmat pada kepentingan umat, tidak hanya dalam bidang pendidikan islam dan dakwah, khususnya mencetak generasi qur’ani, tetapi dalam bidang sosial pun sudah terbukti dengan adanya program santunan untuk fakir miskin dan anak yatim. Tentunya ini sangat mendukung dan membantu program pemerintah dalam rangka kepedulian sosial. Semoga Yayasan AQTC semakin maju, diberkahi Allah dan banyak umat yang berpartisipasi untuk mendukung program-programnya.

Adapun untuk seketariat AQTC beralamat di Jl. Bayabang Km. RT.004 RW.003 Kamp. Garogol Kulon Desa Cibulakan Kec. Cugenang Kab. Cianjur – Jawa Barat. */Mas Andre Hariyanto

 

Jakarta Care Line ACT Tetap Beroperasi Saat Idul Fitri

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Kepedulian tidak kenal hari libur, begitu pula dengan Jakarta Care Line. Di hari raya Idulfitri, layanan antar beras gratis Jakarta Care Line tetap beroperasi mendistribusikan beras agar kebahagiaan hari raya dirasakan oleh setiap warga Jakarta dan sekitarnya.

Puluhan jalur telepon Jakarta Care Line juga aktif selama 24 jam. Tidak hanya itu saja, kesempatan berbagi pun tetap dibuka bagi dermawan yang ingin menyalurkan kepedulian terbaiknya bagi saudara sebangsa.

Sejak Jakarta Care Line diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, puluhan ribu kepala keluarga telah menikmati beras yang dikirimkan ke rumah-rumah mereka. Menjelang Idulfitri ini, Anies Baswedan pun kembali memastikan layanan Jakarta Care Line tetap berjalan. Sabtu (23/5) Anies mengunjungi langsung kantor pusat layanan Jakarta Care Line. Dalam kesempatan tersebut, ia turut melayani calon penerima manfaat yang menelepon nomor Jakarta Care Line.

“Hari ini saya mengunjungi kantor ACT, melihat langsung layanan Jakarta Care Line. Saya ingin menyampaikan rasa hormat, kagum, dan salut bagi mereka yang bekerja di belakang layar (tim Jakarta Care Line) untuk membantu saudara-saudara kita yang ekonominya terdampak Covid-19. Terima kasih untuk ACT, terima kasih untuk semua,” ungkap Anies, Sabtu (23/5).

Hingga 22 Mei 2020, Jakarta Care Line telah mendistribusikan bantuan beras ke 152.570 keluarga, memberdayakan ratusan relawan serta pengemudi ojek daring yang perekonomiannya terdampak wabah Covid-19. Penanggung Jawab Jakarta Care Line Agus Budi Hariyadi mengatakan, jangkauan yang ada akan diperluas. “Jangkauan Jakarta Care Line telah mencapai Area Jabodetabek, termasuk wilayah kabupaten. Nantinya penerima manfaat akan terus bertambah,” jelasnya.

Sebaran layanan Jakarta Care Line sampai saat ini sudah mencapai di 183 kecamatan di 13 kota/kabupaten yang ada di 3 provinsi dengan ratusan ribu penerima manfaat. “Dengan luasnya jangkauan serta banyaknya penerima manfaat, program ini juga melibatkan banyak ojek daring serta relawan,” tambah Budi.

Jakarta Care Line yang masuk dalam jaringan Humanity Care Line ini merupakan layanan pemenuhan pangan masyarakat di saat adanya pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Kebaikan serupa juga akan terus diluaskan, beberapa di antaranya yang sudah mulai berjalan ialah Malang Raya Care Line, Butta Toa Care Line, dan Makassar Care Line dari ACT Sulawesi Selatan.

 

 

 

Peradaban Sedekah

Oleh: Aulia Ikhsan Fahdiat

Apa yang muncul di benak dan perasaan kita saat mendengar kata “sedekah”? Kotak amal, sumbangan panti asuhan, sunatan massal, berbagi sebagian kecil harta untuk fakir dan miskin, sedekah untuk tetangga yang membutuhkan, dan masih banyak lainnya yang mungkin muncul di benak kita. Semua hal di atas tentunya tidak salah karena memang selama ini sedekah sangat identik dengan hal tersebut. Mungkin belum banyak yang melihat sedekah sebagai sesuatu yang besar, yang menaungi segala amal kebaikan, baik berupa zakat, infak, kurban, dan wakaf. Suatu amal yang bukan hanya bersifat karitatif atau sementara saja, tetapi juga bisa memberdayakan dan memuliakan orang yang kita beri sedekah. Sesuatu yang punya tujuan besar dan sebagai bagian dari gambaran Islam yang rahmatan lil a’lamin.

 

“Bukankah Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah, dan pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah.” (HR Muslim).

 

Istilah sedekah dalam hadis di atas artinya tidak hanya sebatas membagikan harta bendawi sehingga bisa dimonopoli kalangan berada (aghniya). Dalam bahasa lain, sedekah adalah upaya berbagi kebaikan dengan mengoptimalkan kemampuan diri untuk membahagiakan orang lain sehingga menimbulkan perasaan lega dari pelakunya.

 

Sedekah adalah sebuah amal sosial dalam Islam sekaligus sebagai salah satu pilar atau pondasi yang membuat Islam bisa melewati masa 1.500 tahun. Karena itu, bagi orang fakir, miskin, dan tak berdaya sekalipun, Islam memberikan kesempatan untuk bersedekah karena sedekah bukan hanya berupa harta tetapi juga berupa amal perbuatan baik lainnya.

 

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276).

 

Kalau kita mentadaburi makna dari firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala tersebut maka sungguh dahsyat maknanya. Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir As-Sa’di, hlm. 109 menjelaskan bahwa harta riba itu akan sirna. Bisa jadi secara kasat mata (dzatan) memang musnah atau secara maknawi (shifatan), berkah harta itu akan hilang. Bisa jadi Allah menimpakan berbagai musibah atau Allah cabut keberkahan pada hartanya. Kalau harta riba tersebut juga ia infakkan, tidak mendapatkan pahala, bahkan hanya menambah ia jatuh dalam jurang neraka.

Syaikh As-Sa’di mengungkapkan lagi bahwa sedekah itulah yang akan membuat harta itu berkembang dan semakin bertambah berkah. Pahala dari orang yang bersedekah semakin bertambah karena ingatlah bahwa balasan itu sesuai dengan amalan. Harta riba bisa hancur dikarenakan ada tindakan zalim dan mengambil harta orang lain tanpa jalan yang benar.

Dari Adh-Dhahak, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Allah menghancurkan riba maksudnya adalah sedekah, jihad, haji, dan salat dari pelaku riba tidak diterima.” Sedangkan sedekah itu akan menyuburkan dan memberkahi harta di dunia dan melipatgandakan pahala dan ganjaran di akhirat.

 

Kembali kepada Surah Al Baqarah ayat 276, kenapa riba harus dimusnakan? Ini karena dampaknya sangat mengerikan bagi pelakunya. Kondisi saat ini, banyak orang kehilangan pekerjaan, banyak keluarga yang sangat membutuhkan, dan banyak orang miskin baru sebagai dampak dari pandemi Covid-19. Ini menjadi peluang para rentenir dan pelaku riba secara institusi untuk menjerumuskan para pelakunya ke lembah dosa dan jurang api neraka. Kita ingin umat dan seluruh masyarakat sadar bahwa Islam punya jawaban dari setiap permasalahan. Islam menjadi Solusi dan salah satunya adalah melalui rangkaian kerja nyata lembaga dari dana sedekah umat.

 

Aksi Cepat Tanggap sebagai lembaga yang dikenal bergerak di bidang kemanusiaan, kerelawanan, dan kedermawanan punya tujuan yang besar yaitu mengentaskan kemiskinan, menghancurkan riba, dan menyuburkan sedekah. Dua program utama yang dilakukan adalah program penyelamatan kehidupan dan membangun kehidupan. Program yang bukan hanya bersifat sementara tetapi berkesinambungan, terus hadir membersamai masyarakat Indonesia yang membutuhkan.

 

Alhamdulillah, segala aksi ACT sudah berjalan 15 tahun. Ini semua terjadi karena sedekah dari para pahlawan kemanusiaan. Sedekah bukan hanya berupa sedekah harta benda, tetapi juga sedekah tenaga, waktu, pikiran, dan segala macam perbuatan baik. Semua untuk mewujudkan aksi kemanusiaan berkesinambungan dalam membantu mereka yang membutuhkan.

 

Saat ini ACT di bawah naungan Global Islamic Philanthropy (GIP), sebuah baitul maal global. GIP menghimpun dana sedekah umat sebanyak-banyaknya dengan tujuan membantu umat dengan sebaik-baiknya, agar umat bangkit, berdaya, dan berjaya. Dan kita semua bercita-cita menjadi bagian dari perjuangan dalam kemenangan dan kejayaan Islam di akhir zaman ini.

 

Kita ingin membangun sebuah kesadaran akan betapa pentingnya dan strategisnya sedekah dalam sebuah perjuangan Islam. Kita tentu sudah mendengar betapa Abu Bakar Radhiallahu’anhu menyedekahkan seluruh hartanya dan Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu menyedekahkan setengah dari hartanya untuk perjuangan Islam. Ustman bin Affan serta Abdul Rahman bin Auf betapa besar sedekah yang mereka berikan untuk tegaknya Islam, belum lagi sedekah dari para sahabat lain baik berupa harta maupun jiwa untuk perjuangan meraih kemenangan Islam.

 

Peradaban sedekah merupakan hal yang sangat strategis, dan tujuan kita adalah membuat masyarakat sadar bahwa sedekah punya kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Orang yang sedekah bisa membawa pahala ahli salat, ahli puasa, dan ahli Alquran. Dengan hartanya dia telah membantu pembangunan masjid, dengan hartanya dia memberi makan orang yang berpuasa, dengan hartanya dia mencetak serta menyebarkan Alquran dan kitab-kitab para ulama.

 

“Tidaklah salah seorang di antara kalian bersedekah dengan satu biji kurma dari sumber penghasilan yang baik kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya kemudian Allah memeliharanya sebagaimana salah seorang di antara kalian memelihara anak kudanya atau anak untanya sampai seperti sebesar gunung atau lebih besar lagi.” (HR. Bukhari & Muslim)

Sebaik-baiknya dermawan adalah relawan dan sebaik-baiknya relawan adalah dermawan. Peradaban sedekah membuat nyata peradaban dermawan dan mewujudkan pribadi yang rahmatan lil ‘alamin. Allahu akbar!

*Penulis Direktur Komunikasi Kreatif ACT

Jika Gelar Shalat Id di Lapangan, Masyarakat Diharap Tetap Patuhi Protokol Medis

KARANGANYAR (Jurnalislam.com)- Ketua Aliansi Umat Islam (AUI) Karanganyar ustaz Fadlun Ali meminta Meminta kepada Presiden Jokowi dan segenap jajarannya untuk memberi dukungan kepada Bupati Karanganyar Juliyatmono yang memberikan izin kepada warganya yang akan melaksanakan shalat Idul Fitri secara berjamaah di masjid maupun tanah lapang.

 

“Untuk menghormati keputusan Bupati Karanganyar dalam hal pemberian ijin pelaksanaan sholat Iedul Fitri 1441 H dan memberikan apresiasi dan dukungan kepada bupati Karanganyar dalam pemberian ijin pelaksanaan sholat Iedul Fitri 1441 H di kabupaten Karanganyar,” katanya kepada jurnalislam.com Jum’at, (22/5/2020).

 

Ia juga mengajak masyarakat untuk trrus berdo’a memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar wabah penyakit covid -19 diangkat dari muka bumi.

 

“Menyeru kepada takmir masjid, PHBI untuk menghidupkan syiar Islam dengan menyelenggarakan sholat idul fitri 1441 H di halaman masjid maupun tanah lapang dengan menerapkan protokol kesehatan,” ungkapnya.

 

Sebagaimana diketahui sebelumnya, meski ditegur oleh Gubenur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Bupati Karanganyar Juliyatmono tetap memberikan ijin bagi warganya yang akan melaksanakan shalat idul fitri 1441 H di masjid dan tanah lapang.

 

Namun demikian, ia tetap menghimbau untuk tetap memperhatikan protokoler kesehatan seperti mengunakan masker, membawa sajadah, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir serta membawa hand sanitizer.

Zona Hijau, Aliansi Umat Islam Karanganyar Dukung Keputusan Bupati Izinkan Shalat Id

KARANGANYAR (Jurnalislam.com)– Keputusan Bupati Karanganyar Juliyatmono yang memberikan izin warganya untuk melaksanakan shalat Idul Fitri secara berjamaah mendapat dukungan dari Aliansi Umat Islam (AUI) Karanganyar.

 

Ketua AUI Karanganyar ustaz Fadlun Ali beralasan bahwa Kabupaten Karanganyar saat ini menjadi zona hijau dalam penyebaran virus covid-19. Ia juga berpedoman pada fatwa MUI Pusat Nomor 28 Tahun 2020 Tentang Panduan Kaifiat Takbir Dan Sholat Idul Fitri Saat Pandemi Covid-19

 

Selain itu, Bupati Karanganyar Juliyatmono juga sudah menjelasakan bahwa fase penyebaran virus covid-19 mengalami tren penurunan dan sudah bisa ditangani dengan baik.

 

“Jika umat Islam berada di kawasan terkendali atau kawasan yang bebas covid-19 dan diyakini tidak terdapat penularan seperti di kawasan pedesaan atau perumahan terbatas yang homogen, tidak ada yang terkena covid-19, dan tidak ada keluar masuk orang, sholat Idul Fitri dapat dilaksanakan dengan cara berjamaah di tanah Iapang, masjid, mushalIa atau tempat lain,” kata Ketua AUI Karanganyar ustaz Fadlun Ali kepada jurnalislam.com jum’at, (22/5/2020).

 

Ia juga mencermati kebijakan pemerintah pusat yang dianggap tidak konsisten dalam melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar daiam rangka Percepatan Penanganan COVID 19.

 

“Seperti pelanggaran aktifitas masyarakat di mall, pasar dan tempat hiburan dengan menggelar konser musik. Membuka kembali moda transportasi umum darat, udara dan transportasi laut, disisi lain Pemerintah menerapkan tebang-pilih dengan membatasi, melarang aktifitas Ibadah bagi pemeluk agama,” ungkapnya.

 

Namun demikian, pihaknya menghimbau umat Islam di Karanganyar yang akan melaksanakan shalat Idul Fitri di tanah lapang maupun masjid untuk tetap mengikuti protokoler kesehatan sesuai dengan ketetapan pemerintah.

 

“Menghimbau kepada umat Islam Karanganyar untuk tetap tenang, sabar dan beraktifitas Ibadah secara khusyu’ sesuai himbaun fatwa MUI dan Ikhtiar menjaga kebersihan mengikuti protokol kesehatan sesuai himbauan dari Pemerintah,” tandasnya.

Malam Takbiran, ACT Gelar Muhasabah Akbar Online

JAKARTA(Jurnalislam.com) –Agar malam kemenangan tetap semarak dan penuh kesyahduan, Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengajak publik untuk menyaksikan Muhasabah Akbar.

Dengan tetap memperhatikan kaidah pembatasan jarak sosial, acara akan berlangsung secara daring pada Sabtu (23/5) nanti, mulai dari pukul 16.00 WIB hingga 22.00 WIB.

“Tujuan dari acara ini, kita ingin mengajak semua elemen masyarakat memanfaatkan momentum akhir menyambut hari kemenangan dengan wujud syukur melalui Muhasabah Akbar dan doa bersama untuk keselamatan umat Islam dan seluruh bangsa Indonesia,” kata Lukman Azis, Direktur Komunikasi ACT, pada Rabu (20/5) ini.

Muhasabah Akbar akan dihadiri oleh beberapa pendakwah yang akan mengisi kajian. Mereka antara lain Ustaz Amir Faishol Fath, Ustaz Hilman, Syeikh Ali Jaber, dan Mamah Dedeh. Selain itu, 12 qari Internasional akan turut melantunkan ayat-ayat Alquran di acara ini.

Acara yang akan dipandu oleh beberapa anggota Kajian Musawarah, yakni Chand Kelvin, Reza Aditya, dan Ali Zaenal ini juga akan menghadirkan hiburan dalam Konser Kemanusiaan. Sejumlah musisi akan meramaikan segmen tersebut. Salah satunya adalah grup Adam, yang populer mengkover lagu “Aisyah”.

Melalui segmen Humanity Talks, para relawan akan membagi pengalaman mereka selama berkecimpung di dunia kemanusiaan yang salah satunya dipandu oleh Fenita.

Humanity Talks juga akan diramaikan oleh Din Syamsudin dan Anies Baswedan. Selain itu ada juga laporan langsung dari aksi-aksi kemanusiaan ACT pada malam takbiran nanti.

Lukman menjelaskan, selain untuk muhasabah diri, acara ini juga bertujuan untuk menggalang kepedulian terhadap sesama. Kepedulian digalang melalui program Sahabat Usaha Mikro Indonesia (UMI) dan membantu saudara di Palestina.

“Jadi kita akan benar-benar merangkul dan berkolaborasi aktif bersama para dai atau ustaz, artis, komunitas dan donatur atau sahabat dermawan melalui aksi nyata bersama. Insyaallah, Muhasabah Akbar ini tidak hanya menjadi sarana evaluasi diri kita bersama, tetapi juga dapat menggerakan dan menginspirasi orang lain untuk berbagi kepedulian,”tambahnya.

Acara ini terselenggara berkat dukungan dengan berbagai pihak seperti dari media, termasuk Jurnalislam.com.

DKI Perketat Perbatasan Jelang Idul Fitri

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pemeriksaan keluar-masuk Jakarta selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) fase ketiga akan dilakukan di 12 titik mulai hari ini, Jumat (22/5). Ketentuan ini sesuai Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 47 Tahun 2020.

“Mulai hari ini, sesuai Pergub Nomor 47 Tahun 2020, setiap orang yang akan masuk maupun ke luar Jakarta di dalam 12 ‘check point’ kami melakukan pemantauan, itu wajib dan harus bisa menunjukkan Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) Jakarta,” kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo dihubungi di Jakarta, Jumat (22/5).

Ke-12 titik tersebut di antaranya berada di jalan-jalan di batas wilayah administrasi DKI Jakarta, seperti di Kalimalang, Jalan Raya Bogor, Jalan Raya Bekasi, Lenteng Agung, Pasar Jumat, Pos Polisi Kamal serta Kalideres.

Kemudian dua lagi berada di tol arah keluar Jakarta. “Satu di tol Jakarta-Cikampek di kilometer 47 kemudian ada satu di tol Tangerang-Banten di Cikupa,” kataSyafrin.

Sanksi yang akan dikenakan pada dua jenis kendaraan, yakni angkutan antarkota dan pribadi. Untuk angkutan antarkota, akan diputarbalikan jika bergerak k luar kota atau dari luar ke dalam kota.

“Kemudian kendaraan pribadi, jika pergerakan antarwilayah Jabodetabek kami persilahkan. Namun begitu yang bersangkutan keluar kota, selama memenuhi persyaratan, ada surat tugas, surat keterangan sehat, KTP-nya lengkap, maka yang bersangkutan kami berikan jalan,” kata Syafrin.

SIKM Jakartabisa diajukan langsung oleh masyarakat yang memenuhi syarat dan membutuhkannya, secara daring di laman web corona.jakarta.go.id. Masyarakat tinggal mengikuti langkah-langkah yang tertera di laman tersebut.

“Jadi tinggal diklik itu, kemudian dilihat persyaratannya, diungahdan langsung diproses, paling lama hari berikutnya untuk perizinannya,” katanya.

Proses untuk pengajuan izin pun di dalam website itu sangat “user friendly”. “Artinya siapa pun bisa melakukan proses dan ini sangat membantu untuk masyarakat, sangat sederhana,” kataSyafrin.

Hingga hari Kamis (21/5), Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi DKI Jakarta mencatat ada 6.220 kasus konfirmasi positif.

Sumber: republika.co.id

Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1441H Jatuh Pada Ahad 24 Mei

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Pemerintah menetapkan 1 Syawal 1441H/2020M jatuh pada hari Minggu, 24 Mei 2020. Penetapan ini berdasarkan sidang isbat yang dipimpin Menteri Agama Fachrul Razi, di Kantor Kementerian Agama Jalan MH Thamrin No. 6, Jakarta, Jumat (22/05).

 

“Sidang isbat secara bulat menetapkan 1 Syawal 1441H jatuh pada hari Minggu, 24 Mei 2020,” ujar Menag dalam konferensi pers yang digelar usai Sidang Isbat 1 Syawal 1441H.

 

Menurut Menag, sidang menyepakati keputusan tersebut karena dua hal. “Pertama, kita telah mendengar paparan Tim Falakiyah Kemenag yang menyatakan tinggi hilal di seluruh Indonesia di bawah ufuk, yaitu berkisar dari minus 5,29 sampai dengan minus 3,96 derajat,” kata Menag.

 

Dengan posisi demikian, maka hilal tidak dimungkinkan untuk dilihat. Hal ini selanjutnya terkonfirmasi oleh pernyataan para perukyah yang diturunkan Kemenag.

 

Pada tahun ini, rukyah dilaksanakan Kemenag pada 80 titik di Indonesia. “Kita mendengar laporan dari sejumlah perukyah hilal bekerja di bawah sumpah, terdiri dari provinsi Aceh hingga Papua. Di 80 titik tersebut, tidak ada satu pun perukyah dapat melihat hilal,” ujar Menag yang didampingi Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto dan Ketua MUI Abdullah Jaidi.

 

Karena dua alasan tersebut, Sidang Isbat menyepakati untuk mengistikmalkan (menyempurnakan) bulan Ramadan menjadi 30 hari sehingga tanggal 1 Syawal 1441H jatuh pada hari Minggu, 24 Mei 2020.

 

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Sidang Isbat Awal Syawal 1441H hanya dihadiri secara fisik oleh Menteri Agama Fachrul Razi, Wamenag Zainut Tauhid Sa’adi, Ketua Komisi VIII Yandri Susanto, Ketua MUI KH Abdullah Jaidi, dan Direktur Jenderal Bimas Islam Kamaruddin Amin.

 

Sementara para pimpinan ormas, pakar astronomi, Badan Peradilan Agama, serta para pejabat Eselon I dan II Kementerian Agama lainnya mengikuti jalannya sidang isbat melalui media konferensi video.

 

Sebelumnya, pakar astronomi dari Tim Falakiyah Kementerian Agama Cecep Nurwendaya menegaskan bahwa tidak ada referensi empirik visibilitas (ketampakan) hilal awal Syawal 1441H bisa teramati di seluruh wilayah Indonesia pada hari Jumat, 22 Mei 2020.

 

Hal ini disampaikan Cecep saat memaparkan data posisi hilal menjelang awal bulan Syawal 1441H/2020M pada Sidang Isbat Awal Syawal 1441H, di Jakarta.“Semua wilayah Indonesia memiliki ketinggian hilal negatif antara minus 5,29 sampai dengan minus 3,96 derajat. Hilal terbenam terlebih dahulu dibanding matahari,” terang Cecep.

1,7 Juta Orang Terdaftar Relawan Desa Tanggap Covid

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar mengatakan, saat ini jumlah relawan desa untuk Covid-19 sudah mencapai 1,7 juta orang.

Apabila penanganan pandemi di desa berfokus pada penguatan pembatasan fisik dan imunitas, maka akan berdampak signifikan terhadap penyelesaian Covid-19 di tingkat nasional.

“Jumlah relawan desa tanggap Covid-19 ini sudah mencapai 1.743.343 orang. Rasionya 82 persen dari 61.670 desa menujukkan jika desa sudah siap sekali untuk lakukan penanganan Covid-19 yang tentu pada proporsi desa yaitu ODP (Orang Dalam Pemantauan) selesai ditangani di desa,” kata Abdul, dalam keterangannya, Kamis (21/5).

Jika merujuk pada rasio itu maka satu relawan bakal tangani 68 warga desa. Jika relawan bertambah maka rasio semakin kecil apalagi tidak semua warga desa membutuhkan penanganan.

“Sampai hari ini, dana desa sudah dipakai untuk desa tanggap Covid-19 atau Relawan Desa Lawan Covid-19 mencapai Rp 2,59 triliun. Ini relatif kecil dengan jumlah desa 74.953,” kata dia menambahkan.

Hal ini, kata Abdul, menujukkan penanganan Covid-19 di tingkat desa cukup efisien dan efektif karena skalanya kecil. Pemetaannya tidak terlalu kompleks, zonasinya mudah dicermati secara lebih massif. Fokusnya tidak lagi bicara wilayah tapi bisa bicara orang atau warga.

Sementara itu, Abdul juga memberikan perkembangan informasi mengenai penambahan ruang isolasi. Hingga saat ini, sebanyak 19.590 desa yang telah miliki ruang isolasi dengan jumlah tempat tidur sebanya 78.360 unit.

Sumber: republika.co.id