Imam Masjid Agung Taipei: Ibadah Boleh Sesuka Hati Namun Dukungan Keuangan dari Negara Tidak Ada

TAIWAN (Jurnalislam.com) – Imam Masjidil Haram Taipei mengatakan bahwa umat Islam diperlakukan setara di negara pulau kecil yang otonom, meskipun ia mengatakan mereka tidak mendapatkan dukungan keuangan dari pemerintah.

Dalam sebuah wawancara dengan Anadolu Agency, Kamis (20/10/2016) Ibrahim Gao mengatakan bahwa sekitar 200.000 Muslim di Taiwan bebas untuk beribadah sesuka hati.

“Umat setiap agama dapat dengan bebas melakukan kegiatan mereka sendiri di bawah kerangka konstitusional dan hukum,” katanya.

Dia menyoroti kesamaan sistem Taiwan, tetapi mengeluh tentang kurangnya dukungan keuangan dari pemerintah yang mengatakan bahwa mereka yang mempraktekkan Islam merupakan “minoritas kecil dari [keseluruhan] penduduk” yang berjumlah 23 juta.

Dari 200.000 Muslim di negara itu, hanya setengah yang merupakan penduduk setempat, kata Gao, dengan sisanya adalah migran yang tiba di negara itu karena alasan pekerjaan.

Karena mereka tidak hidup sebagai satu komunitas, “mereka secara politik lemah,” katanya.

Imam juga mengangkat isu kurangnya perwakilan Muslim di parlemen dan lembaga-lembaga negara.

Masjid Agung Taipei adalah yang terbesar dan paling terkenal di antara tujuh masjid Taiwan.

Bagaimanapun peran Masjid tersebut dalam masyarakat lokal lebih besar daripada di banyak komunitas Muslim lainnya karena sekolah Taiwan tidak menawarkan pendidikan agama, baik itu Islam, Kristen, atau Budha.

“Ini adalah tanggung jawab orang tua untuk pendidikan agama Islam bagi anak-anaknya,” kata Gao, menambahkan bahwa mereka juga mengatur kegiatan pendidikan di Masjid-masjid.

Warga sipil Aleppo Tolak untuk Meninggalkan Kota

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Unjuk rasa meletus pada Kamis malam di distrik-distrik timur Aleppo yang terkepung, di mana penduduk daerah tersebut mengkonfirmasi mereka menguasai kota dan menyatakan penolakan mereka untuk pergi, ElDorar AlShamia melaporkan, Kamis (20/10/2016).

Aksi dukungan menyambut faksi Syrian Resistance yang menggagalkan serangan sengit terhadap kota, mengecam serangan yang dilakukan oleh pasukan Syiah Nushairiyah Assad dan sekutunya (Rusia dan Iran), untuk menekankan kepatuhan penduduk terhadap mereka – namun mereka bertekad untuk tinggal di lingkungan mereka dan tetap bertahan.

Koalisi pejuang Suriah di Aleppo mengatakan, tujuan Moskow dan rezim Syiah Bashar al-Assad adalah mengosongkan warga sipil di daerah yang dikuasai mujahidin dan para pejuang oposisi sehingga mereka dapat mengambil alih seluruh kota.

“Mereka berbicara tentang koridor kemanusiaan, tapi mengapa mereka tidak mengirimkan bantuan makanan dan obat-obatan untuk masuk ke Aleppo timur yang terkepung meringankan penderitaan kami? Kami hanya ingin pembom Rusia menghentikan pembunuhan anak-anak kami. Kami tidak ingin pergi,” kata Ammar al-Qaran, penduduk di distrik Sakhour kepada Aljazeera.

Bagian Timur Aleppo yang terkepung mulai hidup dalam keadaan tenang setelah gencatan senjata diumumkan oleh Rusia, yang akan diperpanjang dalam upaya menekan rakyat dan faksi perlawanan untuk keluar menuju provinsi Idlib, tapi di hari pertama gencatan senjata tidak ada keluarga yang pergi ke arah jalur keluar.

Perang Hari Ke-5: Pengakuan Warga Sipil Mosul kepada Al Jazeera

IRAK (Jurnalislam.com)Al Jazeera berbicara kepada penduduk yang terjebak di dalam kota saat pertempuran untuk merebut kembali Mosul memasuki hari kelima.

Keluarga di Mosul, Irak, mengatakan mereka hidup dalam ketakutan dan putus asa saat operasi militer untuk merebut kembali Mosul dari Islamic State (IS) semaakin intens.

Berbicara kepada Al Jazeera di telepon dari dalam Mosul, Kamis (20/10/2016), Abu Yazan, 36, yang tidak mau nama sebenarnya digunakan karena takut akan pembalasan dari kelompok IS, mengatakan “tidak mungkin” melarikan diri Mosul pada tahap ini.

“.. Tidak ada jalan keluar bagi kami sebagai keluarga. Bahkan jika kita berpikir untuk melarikan diri dari kota, yang tidak mungkin pada saat ini. Kami sedang dijadikan sandera; IS menjadikan seluruh kota Mosul sebagai sandera,” kata ayah dari tiga orang anak itu.

Abu Yazan mengatakan satu-satunya jalan yang bisa ditempuh keluarga adalah ke negara tetangga Suriah melalui jalan barat Mosul yang memotong melalui padang gurun. “Saya memiliki tiga anak, yang termuda berusia 4 tahun, dan yang tertua adalah 11 tahun. Saya tidak akan pernah mempertaruhkan nyawa mereka dan menyeberangi gurun dengan mereka. Kami mungkin akan menjadi target, bisa mati kehausan, atau bahkan tersesat.”

Sejak operasi dimulai, Abu Yazan mengatakan IS “meningkatkan jumlah pasukan mereka di kota dan juga meningkatkan penjagaan di pos pemeriksaan,” menambahkan bahwa kelompok itu “memaksa siapa saja yang memiliki kendaraan untuk mengganti plat mobil mereka dengan yang dibuat oleh IS, yang bertuliskan ‘Negara Niniwe’ “, untuk mencerminkan Niniwe Governate – dimana Mosul adalah ibukota khalifah yang mereka proklamirkan sendiri.

Abu Yazan adalah salah satu dari 1,5 juta warga sipil yang terperangkap di dalam kota. Saat Irak, Kurdi dan pasukan koalisi mendorong ke kota, badan-badan bantuan internasional telah memperingatkan konsekuensi potensial terhadap kehidupan sipil.

ac055cc3ec854594a2668a66fdaacb36_18“Ada kekhawatiran nyata bahwa serangan untuk merebut kembali Mosul bisa menghasilkan bencana manusia yang mengakibatkan salah satu krisis perpindahan manusia yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir,” William Spindler, juru bicara badan bantuan PBB, mengatakan.

PBB memperkirakan sebanyak satu juta warga Irak mungkin meninggalkan rumah mereka dalam hitungan pekan.

Mosul, kota terbesar kedua di Irak, jatuh ke tangan IS pada bulan Juni 2014 dan saat ini merupakan kubu besar terakhir di negara itu. Walaupun usaha untuk mengambil kembali kota ini dilihat sebagai langkah positif bagi pemerintah Irak, operasi itu memliki risiko yang mengancam hidup warga sipil yang mencoba melarikan diri dari bawah kendali IS atau terjebak dalam baku tembak.

Meskipun banyak ancaman yang berasal dari pasukan IS, organisasi hak asasi manusia telah menemukan bahwa warga sipil juga rentan terhadap penganiayaan oleh milisi Syiah Irak pada Unit Mobilisasi Populer (Popular Mobilisation Units-PMU) yang disponsori negara.

PMU, yang sebagian besar terdiri dari milisi Syiah tetapi juga terdapat kelompok Sunni dan kelompok lain, secara resmi ditunjuk sebagai bagian dari angkatan bersenjata Irak pada bulan Februari 2016, setelah mengambil peran utama dalam memerangi IS sejak tahun 2014.

PMU telah dilaporkan menculik, membunuh, dan menyiksa warga sipil dalam operasi terakhir mereka untuk merebut kembali wilayah dari IS di Ramadi.

Abu Yazan mengatakan penduduk Mosul berharap pasukan PMU “tidak diperbolehkan memasuki kota.”

“Kami terjebak. Tidak ada tempat aman di Mosul. Kami takut akan pemboman acak, kami kuatir jika milisi sektarian Syiah masuk ke dalam Mosul.”

Sebuah laporan terbaru yang dirilis oleh kelompok hak asasi yang berbasis di Inggris, Amnesty International, merinci kebrutalan yang dialami warga sipil di tangan IS, Milisi Syiah Irak, dalam konfrontasi sebelumnya.

ccbcec3019e94bb9ab08bfb046fc010e_9

“Sangat penting bahwa semua pasukan yang terlibat – Irak, Kurdi, dan koalisi pimpinan AS – tidak menargetkan warga sipil dan melakukan segala upaya untuk menghindari serangan yang tidak proporsional di daerah pemukiman sipil, dan memastikan agar warga sipil yang ingin melarikan diri memiliki rute aman untuk melarikan diri,” Donatella Rovera, penasihat respon krisis senior untuk Amnesty, mengatakan kepada Al Jazeera, Rabu.

Menurut PBB, sekitar 3,3 juta warga Irak, atau 10 persen dari 33 juta penduduk Irak, telah mengungsi dari rumah mereka sejak awal krisis pada bulan Januari 2014, ketika IS menguasai sejumlah besar wilayah negara.

Lebih dari satu juta warga Irak mengungsi antara tahun 2006 dan 2008 akibat perang sektarian di Irak, menyusul invasi pimpinan AS dan penjajahan pada tahun 2003. Operasi Mosul ini diperkirakan akan menghasilkan eksodus massal warga sipil lain, yang paling menderita selama konflik.

Abu Yazan mengatakan ia berharap serangan militer akan berakhir secepat mungkin. “Mungkin satu-satunya cara yang mengakhiri penderitaan kita adalah ketika operasi dilakukan dan tentara Irak memegang kontrol atas Mosul.

Setelah Duduki 12 Desa, Pasukan Peshmerga Terus Bergerak Menuju Kota Mosul

IRAK (Jurnalislam.com) – Pasukan Peshmerga pada hari Kamis (20/10/2016) merebut beberapa desa di sebelah timur laut Mosul pada hari keempat operasi militer besar untuk “membebaskan” Mosul dari kelompok Islamic State (IS), menurut sumber-sumber militer.

“Pasukan kami membebaskan 12 desa di tiga sumbu sepanjang perjalanan menuju Mosul dari timur laut,” Younis Al-Quran, seorang perwira militer Peshmerga, kepada Anadolu Agency, Kamis.

Awal pekan ini, pasukan Irak, yang didukung oleh serangan udara koalisi pimpinan AS, melancarkan serangan untuk merebut kembali Mosul – benteng terakhir IS di Irak utara, yang dikuasai mereka Sejak pertengahan 2014.

Enam dari desa yang direbut hari Kamis tersebut terletak di sepanjang sumbu Nawran, lima di sepanjang sumbu Bashiqa dan satu sepanjang sumbu Tel Saqf, kata Al-Quran.

“Dengan pembebasan desa Khorsabad pada sumbu Nawran, pasukan Peshmerga sekarang berada di 12 kilometer sebelah utara Mosul,” kata Al-Quran.

Menurut sumber Peshmerga yang berbicara dengan Anadolu Agency pada kondisi anonimitas karena pembatasan berbicara kepada media, kemajuan mereka didukung oleh kekuatan koalisi udara yang dipimpin AS.

Odai al-Hamdani, seorang perwira tentara Irak, mengatakan kepada Anadolu Agency pada hari Kamis bahwa pasukan khusus Irak telah tiba di daerah Al-Khazir (terletak sekitar 40 kilometer di sebelah timur Mosul) sebelum merencanakan merebut kota lain yang dikuasai IS.

Dalam perkembangan terkait, Departemen Pertahanan Irak mengumumkan bahwa tujuh desa di selatan Mosul telah jatuh ke pasukan Irak, Rabu.

“Pasukan Polisi Federal maju dari selatan sepanjang sumbu Qayyarah dan berhasil merebut kembali desa Al-Bijwaniyah, Al-Bijwaniyah al-Thalitha, Al-Daraj, Al-bikr al-Owla, Al-bikr al-Thaniya, Al-Mankouba dan Al-Raflah,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan, Kamis.

Ia menegaskan bahwa milisi IS telah mengalami “kekalahan besar” selama pertempuran.

Pada hari Rabu, Kementerian Dalam Negeri mengumumkan bahwa pasukan Irak telah menguasai total 352 kilometer persegi wilayah selatan Mosul sejak operasi untuk merebut kembali Mosul secara resmi dimulai akhir Ahad malam.

Presiden Irak Fuad Masum menyatakan bahwa Mosul – setelah direbut kembali dari IS – akan “diadministrasikan oleh penduduk Mosul itu sendiri dari semua latar belakang agama dan etnis.”

Dalam sebuah pernyataan hari Kamis, Masum menekankan kebutuhan untuk mempertahankan persatuan Irak dengan tujuan mencapai “penghapusan akhir” IS dan membangun “Irak yang stabil dan makmur.”

Mosul akan dibebaskan “oleh rakyat Irak”, tegasnya, dan akan dijalankan oleh orang Irak dari “semua ras dan kepercayaan.”

IS merebut Mosul pada pertengahan 2014 sebelum menduduki sebagian besar wilayah di utara dan barat Irak.

 

Serangan Udara Turki Bunuh 200 Pasukan PKK-PYD di Suriah Utara

ANKARA (Jurnalislam.com) – Serangan oleh pesawat-pesawat tempur Turki menewaskan hingga 200 milisi PKK/PYD di Suriah utara, kata militer Turki, Kamis (20/10/2016), lansir Anadolu Agency.

Dalam sebuah pernyataan, Staf Umum Turki mengatakan antara 160 hingga 200 anggota kelompok teror tewas dalam serangan yang dilakukan sebagai bagian dari Operasi Periai Efrat (Euphrates Shield).

Pernyataan itu tidak menjelaskan lokasi tepat serangan tetapi PKK/PYD baru-baru ini mencoba untuk mengambil Al-Bab, sebuah kota sekitar 37 kilometer (23 mil) di timur laut Aleppo, dalam upaya untuk menyatukan dua wilayah yang mereka kendalikan – Afrin dan Manbij.

Menurut sumber lokal, yang berbicara dengan syarat anonim, serangan ini membawa PKK/PYD ke dalam konflik dengan Tentara Pembebasan Suriah (Free Syrian Army-FSA) yang didukung Turki pada hari Selasa dan Rabu.

Militer Turki tidak memberikan kerangka waktu serangan udara tetapi mengatakan 18 target hancur dalam serangan jet yang menjatuhkan 26 bom. Target termasuk sembilan bangunan yang digunakan sebagai kantor pusat, tempat penampungan dan gudang senjata serta sebuah mobil lapis baja, dua kendaraan bersenjata dan dua kendaraan tak bersenjata, kata pernyataan itu.

Dalam pernyataan sebelumnya yang dikeluarkan Kamis, militer mengatakan 11 target stasioner lain dan tujuh target bergerak hancur dalam serangan yang dilakukan pukul 21:11-23:59 waktu setempat (1811 dan 2059GMT) Rabu.

PYD cabang Suriah keduanya terdaftar sebagai kelompok ektremis yang didukung AS, dan Uni Eropa hanya melihat PKK saja yang dianggap sebagai organisasi teroris.

Operasi Perisai Efrat diluncurkan pada bulan Agustus untuk membersihkan daerah perbatasan utara Suriah dari ektremis. FSA serta tank, artileri dan pesawat Turki menargetkan kelompok IS dan PKK/PYD dalam operasi ini.

PKK melanjutkan operasi bersenjata puluhan tahun pada bulan Juli tahun lalu. Sejak itu, serangan teroris PKK menewaskan lebih dari 700 personel Turki dan juga merenggut nyawa banyak warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, sementara hampir 8.000 milisi PKK tewas dalam operasi militer.

Umat Islam Bima: Ahok Dapat Mengancam Disintegrasi dan Instabilitas Bangsa

BIMA (Jurnalislam.com) – Pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di depan masyarakat Kepulauan Seribu, Rabu (28/9/2016) lalu, telah mengundang kontroversi. Dalam pidato itu, Ahok menyinggung surat Al-Maidah ayat 51 dengan ucapan ‘dibohongin pakai Surat Al-Maidah 51’. Menanggapi itu, umat Islam Bima membuat pernyataan sikap yang disampaikan kepada kepolisian (Polres) Bima Kota, Kamis (20/10/2016).

Dalam pernyataan itu, umat Islam Bima mengapresiasi serta mendukung penuh fatwa dan tanggapan resmi MUI Pusat terkait pernyataan petahana Ahok itu beberapa waktu lalu. Mereka menilai, Ahok dapat mengancam terjadinya disintegrasi bangsa dan instabilitas keamanan nasional.

Berikut pernyataan lengkap umat Islam Bima;

1. Mengapresiasi dan mendukung sepenuhnya ketegasan MUI pusat atas penistaan Al-Quran dan penghinaan terhadap umat islam oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
2. Mengutuk keras pelecehan kitab suci Al-Qur’an oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang dapat mengancam terjadinya disintegrasi bangsa dan instabilitas keamanan nasional.
3. Pernyataan Ahok yang telah menistakan Al-Quran telah menyinggung SARA.
4. Mendesak keras Kapolri untuk segera menangkap memproses serta mengadili Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sesuai undang-undang yang berlaku.
5. Bilamana tuntutan kami tidak dipenuhi oleh kapolri, maka umat islam akan melakukan gerakan secara massif.
6. Menyeru kepada seluruh umat Islam untuk bersatu padu melakukan gerakan protes secara masif atas penistaan Al-Quran dan penghinaan terhadap umat Islam.

Lagi, Ribuan Umat Islam Bima Tuntut Seret Ahok ke Lembah Hukum

BIMA (Jurnalislam.com) – Hari ini, ribuan umat Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) Bima melakukan aksi mengecam penghinaan terhadap Al-Qur’an yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Massa mendesak, petahana Ahok diadili karena dinilai telah menistakan al-Qur’an.

Aksi itu berlangsung dari Lapangan Serasuba menuju DPRD kab Bima kemudian menuju Walikota, Polres Bima Kota dan diakhiri di DPRD kota Bima. Aksi konfoi yang disertai orasi itu diikuti oleh ribuan peserta yang terdiri dari puluhan ormas Islam yang berada di Kota dan Kabupaten Bima.

“Kami umat Islam Bima tidak terima setelah kitab suci serta para ulama kami di hina dan dinistakan, maka oleh karena itu kami turun ke jalan untuk melakukan aksi untuk menuntut keadilan terhadap sang penista Al-Qur’an,” kata ketua FUI Bima, Ustadz Asikin disela-sela aksi.

Aksi ini, kata dia adalah aksi yang lahir dari ketersinggungan serta kemarahan umat Islam yang ada di Bima setelah adanya kasus penistaan Al-Qur’an.

“Kami sebagai umat muslim bertanggung jawab ketika kami mengetahui Al-Quran dihina, ulama di hina, maka tidaklah benar apabila dia hanya berdiam diri, karena sesungguhnya semuanya nanti akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah,” tandasnya.

Oleh karena itu, umat Islam Bima turun ke jalan untuk menuntut agar Ahok segera di seret dan di tangkap serta diadili. “Jangan sampai kasus ini berlarut, karena hari ini umat islam sudah terlalu marah dengan pernyataan Ahok yang menistakan Islam,” tegasnya.

Ditemui di Polres Bima Kota, Wakapolres Bima Kompol Nanang S.Ik. berjanji akan menyampaikan tuntutan dari umat Islam Bima ke Polri. Dalam audiensi itu massa menyampaikan pernyataan sikap umat Islam Bima.

“Kami berjanji akan menyampaikan pernyataan ataupun tunutan dari umat Islam Bima ke Polri, dan kami berharap nanti akan ada penyelesaian yang konkrit terhadap kasus ini,” pungkasnya.

Muslim Spanyol Tunaikan Umrah dengan Berjalan Kaki Sejauh 9000 Km

SPANYOL (Jurnalislam.com) – Seorang Muslim Spanyol dilaporkan telah berjalan lebih dari 9.000 kilometer untuk melakukan umrah setelah berangkat dari Paris lima setengah bulan yang lalu.

Menurut surat kabar Kuwait Al Rai, Rabu (19/10/2016) Ishaq bermaksud melakukan perjalanan dari Perancis ke Makkah dengan berjalan kaki. Dia memiliki budget hanya 5.000 euro (10 euro per hari) untuk perjalanan dan menolak menerima uang dari orang-orang di jalan.

3398389791Ishaq juga menemui banyak kesulitan selama perjalanan karena kondisi cuaca yang keras. Dalam satu kesempatan, ia mengalami mati rasa di tangan dan kaki karena kedinginan.

Ishaq bukanlah yang pertama melakukan perjalanan ke tanah suci dengan berjalan kaki.

Pada tahun 2012, seorang pria Bosnia tiba untuk beribadah haji tahunan setelah berjalan sepanjang 5.700 kilometer. Tahun ini seorang Muslim China dan Muslim Rusia juga pernah melakukan perjalanan haji dengan bersepeda.

IS Diperkirakan Gunakan Senjata Kimia dalam Perang Mosul

IRAK (Jurnalislam.com) – Pasukan yang berperang melawan Islamic State (IS) di Mosul mengatakan mereka memperkirakan kelompok IS menggunakan senjata kimia mentah saat mencoba mempertahankan Mosul dari serangan.

Seorang pejabat mengatakan kepada Reuters, Rabu (19/10/2016), bahwa pasukan AS telah mengumpulkan sisa-sisa granat/mortir IS untuk diuji kandungan kimianya karena kelompok tersebut dikenal sering menggunakan gas mustard di masa lalu.

Para pejabat pasukan mengatakan dalam sebuah pernyataan sebelumnya yang tidak diungkapkan ke publik bahwa mereka telah mengkonfirmasi adanya kandungan sulfur mustard dalam munisi IS pada 5 Oktober.

Sementara itu, Jenderal Senior Irak Letjen Thalib Shaghati kepada wartawan di sebuah pangkalan militer pada hari Selasa mengatakan bahwa hingga 6.000 pasukan IS saat ini berada di dalam kota. Dia tidak mengatakan berapa banyak dari mereka yang merupakan warga negara asing.

Sumber mengatakan bahwa lembaga kemanusiaan menguatkan antara 100.000 hingga 400.000 warga sipilmengungsi dari pertempuran di Mosul dan berupaya menuju Suriah, wilayah administrasi Kurdi-Irak atau perbatasan dengan Turki.

Kerem Kinik, kepala organisasi Bulan Sabit Merah Turki, mengatakan kepada The Associated Press pada hari Rabu bahwa “aspek kemanusiaan” dari operasi Mosul belum dipikirkan dengan baik oleh pasukan koalisi.

 

Jauhkan dari Resolusi UNESCO atas Masjid Al Aqsha, Hamas Kecam Sekjen PBB

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Kelompok Palestina Hamas mengecam Sekjen PBB Ban Ki moon karena menjauhkan diri dari resolusi UNESCO yang menyangkal koneksi Yahudi dengan bangunan Masjid Al Aqsha, World Bulletin melaporkan, Rabu (19/102016).

Pada hari Selasa (18/10/2016), dewan eksekutif UNESCO secara resmi mengadopsi sebuah resolusi yang menetapkan bahwa Masjid Al Aqsha sebagai warisan Islam murni.

Ban mengatakan bahwa situs suci tersebut milik semua agama.

“Sekretaris Jenderal menegaskan kembali pentingnya Kota Tua Yerusalem dan Dindingnya bagi tiga agama monoteistik dan menekankan pentingnya hubungan agama dan sejarah bangsa Yahudi, Muslim dan Kristen ke tempat suci itu,” kata juru bicara Banm Estefan Dogrec.

Hamas menggambarkan pernyataan Ban sebagai “pelanggaran atas tugasnya.”

ban-ki-moon“Pernyataan-pernyataan ini merupakan bukti pelanggaran [Ban] terhadap resolusi internasional untuk melayani kepentingan Israel,” kata kelompok Perlawanan Palestina, Hamas, dalam sebuah pernyataan.

Bagi umat Islam, Masjid Al-Aqsha merupakan tempat suci ketiga di dunia. Zionis Yahudi merujuk daerah tersebut sebagai “Temple Mount,” mengklaimnya sebagai situs dua candi Yahudi di zaman kuno.

Israel menjajah Yerusalem Timur, di mana Masjid Al Aqsha berada selama Perang Timur Tengah 1967.

Militer Israel secara brutal menganeksasi Yerusalem pada tahun 1980 – dalam sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional – dan mengklaimnya sebagai ibukota negara Yahudi.