Kehilangan Lebih dari 30 Desa, IS Ledakan Hotel Bintang Lima di Kota Mosul

IRAK (Jurnalislam.com)Islamic State (IS) meledakkan sebuah hotel bintang lima di kota Mosul, di utara Irak saat operasi untuk merebut kembali kota yang dikuasai IS tersebut sedang berlangsung.

Berbicara kepada Anadolu Agency pada hari Sabtu (22/10/2016), petugas Irak Saadi al-Shemari mengatakan militan telah menanam bom jenis TNT di Ninova International Hotel di Mosul utara dan meledakkannya.

“Hotel mewah berlantai 11tersebut rusak parah,” katanya.

Terletak di tepi Sungai Degla, hotel yang memiliki 236 kamar itu dianggap yang terbesar di Mosul.

Pekan lalu, militer Irak, yang didukung oleh serangan udara koalisi pimpinan AS, melancarkan serangan untuk merebut Mosul.

IS telah kehilangan lebih dari 30 desa sejak serangan dimulai, saat tentara Irak dan sekutunya maju di kota melalui beberapa arah.

IS merebut Mosul, kota terbesar kedua di Irak, pada pertengahan 2014 sebelum menduduki sebagian besar wilayah di utara dan barat negara itu.

Tentara Irak, didukung oleh sekutu lokal di darat dan koalisi udara yang dipimpin AS, merebut kembali banyak wilayah beberapa bulan terakhir. Namun IS masih menguasai beberapa bagian negara, termasuk Mosul.

Protes atas Penutupan Masjid, Ribuan Muslim Roma Shalat Jumat di dekat Colosseum

ITALIA (Jurnalislam.com) – Ribuan Muslim shalat Jumat di dekat Colosseum Roma untuk memprotes penutupan Masjid dan tempat ibadah Muslim lainnya di Italia, World Bulletin melaporkan, Jumat (21/10/2016).

Sholat dilakukan atas pembatasan yang tidak adil pada kebebasan untuk mempraktekkan keyakinan umat Islam di negara itu, menurut panitia yang menyebut aksi mereka adalah merespon penutupan lima masjid darurat baru-baru ini dengan alasan administrasi.

Jamaah bersujud di atas sajadah dan terpal pada trotoar beberapa meter dari amphitheater kuno Colosseum Roma. Beberapa membawa spanduk bertuliskan “Perdamaian” dan “Buka kembali Masjid”.

Banyak Muslim Italia menduga pemerintah daerah menanggapi iklim ketidakpercayaan yang disebabkan oleh serangan baru-baru ini di Eropa dengan menutup tempat-tempat ibadah dengan alasan masalah mudah diselesaikan, seperti membatasi jumlah toilet di tempat tertentu.

Protes itu diselenggarakan oleh muslim Bangladesh, Dhuumcatu, yang mengeluh bahwa tempat ibadah Muslim di Roma dicap ilegal oleh otoritas dengan alasan pelanggaran bangunan.

Muslim Italia ingin City Hall campur tangan.

“Kami merasa orang menunjukkan jari mereka pada kami,” kata Francesco Tieri, seorang mualaf yang bertindak sebagai koordinator untuk sejumlah kelompok Islam.

“Tidak ada kemauan politik untuk mengakui bahwa kami ada di sini dan bahwa kami adalah masyarakat yang damai. Kami terpaksa menyewa tempat untuk sholat – Yang bagi kami adalah seperti menghirup udara… yaitu jika kami tidak dapat melakukannya, kami mati.”

Politikus Barbara Saltamartini – dari Partai Liga Utara yang anti-imigrasi – menyebut demonstrasi hari Jumat tersebut sebagai “provokasi yang tidak dapat diterima” yang seharusnya tidak pernah diizinkan untuk berlangsung di Roma.

Polisi mengkonfirmasi penutupan beberapa tempat ibadah (Masjid). Dalam sebuah pernyataan, polisi mengatakan pihak berwenang menjamin kebebasan berpikir, tetapi dalam kerangka hukum.

Di Italia, Islam tidak diakui sebagai agama resmi, tidak seperti Yudaisme atau Mormon, dan banyak umat Islam dari Afrika Utara dan Asia Selatan merasa didiskriminasikan atas dasar ras dan agama.

Menurut angka resmi, ada lebih dari 800.000 Muslim yang tinggal di Italia secara legal, dan para pejabat memperkirakan 100.000 lainnya hidup di sana secara permanen tanpa surat-surat resmi.

Angka itu menunjukkan bahwa komunitas Muslim berjumlah lebih dari 1,5 persen dari populasi dan Islam adalah agama kedua yang paling-diikuti di negara Romawi yang sebagian besar Katolik itu.

Sebagian sholat berlangsung di rumah dan pusat-pusat kebudayaan Islam – sebuah peningkatan yang oleh beberapa politisi sayap kanan katakan membuat mereka sulit untuk memantau, dan takut meningkatkan risiko “radikalisasi”.

Menteri Dalam Negeri Angelino Alfano mengatakan pada bulan Agustus bahwa “masjid mini di garasi” seharusnya tidak diperbolehkan.Partai-partai sayap kanan telah menyerukan larangan pada setiap Masjid yang dibangun dengan dana dari donor di luar Italia.

Roma adalah rumah bagi Masjid terbesar di dunia barat, namun usulan untuk membangun masjid bergaya tradisional di tempat lain sering menghadapi perlawanan dari dewan lokal.

Komandan Nurddin al Zanki: Pertempuran untuk Bebaskan Aleppo akan Segera Digelar

SURIAH (Jurnalislam.com) – Komandan faksi Nurddin al Zanki “Tawfiq Shahabuddin” mengumumkan bahwa “Grand Epic of Aleppo” pertempuran untuk membebaskan kota Aleppo dan mematahkan pengepungan rezim Assad di wilayah timur dari kota akan dimulai, ElDorar AlShamia meaporkan Jumat (21/10/2016).

Shahabuddin pada akun Tweet-nya: “Dalam nama Allah, dan Allah Maha Besar, sebentar lagi orang-orang di Aleppo akan bergembira, Islam dukung kalian melalui panah malam (Doa-doa kalian, maka doakanlah), mungkin Allah akan menjadikan kita penakluk.

Dia juga sampaikan pada faksi revolusi dengan mengatakan, “wahai faksi Revolusi tinggalkan perbedaan Anda, dan singkirkan lengan baju Anda, dan berperilaku sebagai satu tubuh, karena perbedaan sumber kekalahan kita, Rabb melarang kita, berarti bahwa tidak akan ada revolusi setelah hari ini.”

Dia juga mengirim pesan kepada warga sipil di daerah yang akan dibebaskan, di mana ia berkata, “Wahai orang-orang kami di daerah yang akan dibebaskan mungkin Anda pernah membantu para (mujahidin) pejuang, dan menyelamatkan keluarga yang terjebak, dengan melakukan yang terbaik, ia menyampaikan pada pendukung revolusi mengatakan, “wahai pendukung revolusi, kami meningkatkan dukungan pada Anda untuk keberhasilan pertempuran ini, dengan harta atau usaha, pada setiap pertempuran yang terjadi sebelumnya tapi pertempuran untuk Aleppo adalah satu-satunya yang kita butuhkan.”

Shahabuddin juga bersumpah pada pasukan Syiah Assad dengan tegas mengatakan, “Shabiha Bashar tunggu balasan dari kami dan kami akan menghancurkan kalian.

Shahabuddin berjanji bahwa ruang operasi faksi Jaysh al-Fath, di samping ruang operasi Fateh Haleb dalam waktu dekat akan memulai pertempuran baru yang ditujukan untuk mematahkan serangan yang ditujukan pada distrik-distrik timur Aleppo, dan untuk menguasai wilayah baru di distrik-distrik barat, di mana lebih dari lima ribu mujahidin sedang mempersiapkan untuk menyerang, sumber militer kelompok melaporkan.

Ahrar al Syam Bunuh 20 Pasukan Assad di Barat Ghouta

SURIAH (Jurnaislamcom) – Sekitar 20 anggota pasukan Nushairiyah Assad dilaporkan tewas oleh perangkat peledak improvisasi (IED) pada Jumat di kota yang terkepung “Deir Khobiah” di Barat Ghouta, lansir ElDorar AlShamia, Jumat (21/10/2016).

Faksi jihad Ahrar al Syam, menurut kantor Media kelompok, meledakkan 2 bom IED yang dilewati mobil yang membawa anggota pasukan rezim Assad, hingga menyebabkan kematian lebih dari dua puluh pasukan di jalan ke Deir Khobiah di barat Ghouta, dan menghancurkan sebuah kendaraan yang dilengkapi dengan senapan mesin kaliber 23 mm di garis depan, di pabrik “al-Malek” di kota yang sama.

Faksi telah mampu mematahkan serangan yang dilancarkan pada kota Khan al-Sheih di Ghouta barat Damaskus, membebaskan kota “Deir Khobiah” yang sekitar lima bulan lalu telah dikepung pasukan rezim Assad.

Pekikan Takbir 70 Ormas Islam se-Jawa Timur Respon Penista Agama

SURABAYA (Jurnalislam.com) – 70 ormas Islam se-Jawa Timur yang tergabung dalam Gabungan Umat Islam Bersatu (GUIB) gelar aksi unjuk rasa yang dilanjutkan audiensi dengan Kepolisian Daerah (Polda) Jatim, Jum’at (20/10/2016). GUIB yang dikawal langsung oleh MUI Jatim itu mendesak petahana DKI Jakarta Ahok untuk segera ditangkap dan diadili.

Gabungan umat Islam yang berjumlah 8000 peserta melakukan long march usai sholat Jum’at berjamaah di Masjid Al-Akbar Surabaya menuju Polda Jawa Timur. Dalam aksi itu ribuan massa meneriakan tangkap, adili dan hukum mereka yang telah melakukan penistaan terhadap Al-Qur’an.

Sebanyak 20 orator dari berbagai ormas Islam diterjunkan, Ustadz Hamzah Baya misalnya, di depan kantor Polda Jatim ia membakar semangat massa dengan seruan Jihad terhadap para penista Al-Qur’an.

“Siapa yang ingin mati syahid? Siapa yang berani memerangi orang kafir karena ini? Siapa yang berani memerangi Ahok yang telah melakukan penistaan terhadap Al-Qur’an?” ungkapnya memberi semangat.

8000 Peserta GUIB di Surabaya

Sesampainya di Polda Jatim, sebanyak 12 perwakilan ormas diterima oleh Polda untuk melakukan audiensi dengan pihak Polda Jatim yang diwakili oleh Wakapolda Jatim, Brigjen Gatot Subroto.

Dalam audiensi itu, Brigjen Gatot Subroto mengaku kasus penistaan agama ini sedang ditangani langsung oleh Mabes Polri. Ia juga mengatakan umat Islam harus tetap tenang melihat kasus ini.

“Kami pihak kepolisian akan mengusut kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Kasus ini ditangani langsung oleh pihak Mabes Polri dan Kami saat ini sedang mengumpulkan barang bukti dan saksi,” terangnya.

Menanggapi itu, perwakilan massa mengecam jika dalam waktu yang ditentukan tidak ada perkembangan, umat Islam se-Jatim akan menurunkan massa dengan jumlah yang lebih besar.

Agenda tabligh akbar bertajuk “Aksi Bela Islam” ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Habib Zain Al-Khaf.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pada hari Jum’at (21/10/2016) umat Islam Indonesia melakukan aksi serupa di berbagai daerah. Mereka mengecam Ahok untuk segera diadili karena diduga sudah melakukan penistaan agama.

Ribuan Umat Islam Jawa Barat Berunjuk Rasa Desak Ahok Segera Ditangkap

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Ribuan warga Jawa Barat menggelar aksi menuntut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, agar segera ditangkap karena kasus penistaan agama.

Aksi dimulai usai shalat Jumat di Pusdai Jabar, dilanjut longmarch ke Gedung Sate dan berakhir di Balaikota Bandung Gedung Merdeka, Jumat (21/10/2016). Acara ini dihadiri puluhan elemen umat Islam seperti: Persis, Hidayatullah, FUI, Muhammadiyah, Garis, FPI, LPI, Gema Keadilan, Pemuda Persis, KAMMI, FSLDK, API, Pondok Quran, dll serta elemen perguruan Pencak Silat se-Jawa Barat.

“Kami menuntut Ahok agar segera ditangkap karena menista Agama,” kata Asep Syarifudin selaku Ketua Aliansi Pergerakan Islam (API) Jawa Barat di depan Gedung Sate Bandung dilansir dari alhikmah.co

Kalau polisi tak sanggup menangkap Ahok, biar kami yang menangkap Ahok,” teriak massa. Aksi berjalan dengan tertib dan damai dimulai dengan pembacaan surat Al Maidah ayat 51 dan diakhiri dengan doa.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa Ahok melakukan penghinaan terhadap al Quran juga para ulama. Serentak, elemen umat Islam di berbagai wilayah seluruh Indonesia melakukan aksi protes pernyataan gubernur DKI Jakarta tersebut dan menuntut Ahok segera ditangkap.

Gelombang Kecaman untuk Ahok Sampai di Semarang

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Gelombang protes dan kecaman untuk petahana Ahok tidak bisa dibendung, mulai dari Ibukota DKI Jakarta hingga berbagai daerah. Semarang misalanya, siang ini ratusan umat Islam di Semarang mengadakan aksi damai menuntut aparat untuk segera memenjarakan Ahok.

Ratusan umat Islam yang tergabung dari berbagai ormas Islam seperti Jama’ah Ansharusy Syariah, HTI, MCI dan Jama’ah sholawat dan Maulud itu berunjuk rasa dari Masjid Baiturrahman Simpang Lima menuju Bundaran Air Mancur di Jl. Pahlawan, Semarang, Jum’at (21/10/2016) siang.

“Tujuan aksi ini menuntut supaya Ahok segera diadili dan mendukung fatwa MUI pusat munghukum Ahok karena melecehkan Al-Qur’an dan ulama,” kata kordinator aksi, Marjuki kepada jurniscom disela-sela aksi.

Sementara itu, Abu Sumayyah salah satu orator mengatakan gemuruh takbir berkumandang di seluruh pelosok negeri, merespon dugaan penistaan agama oleh petahana DKI itu. Ia khawatir, umat Islam dengan semangat jihad akan bertindak represif jika kepolisian tidak bertindak cepat atasi Ahok.

Orasi di Semarang menuntut Kepolisian percepat adili ahok

“Kami khawatir akan muncul generasi-generasi Islam seperti Muhammad bin Maslamah ketika pekikan takbir tidak dihiraukan oleh Kapolri untuk memenjarakan Ahok,” tegasnya.

“Kami berdiri disini menuntut dipenjarakannya Ahok laknatullah,” cetusnya lagi.

Pantauan jurniscom, beberapa diantara para peserta memberikan selebaran kepada pengguna jalan. dan membentangkan spanduk bertuliskan “Minta Maaf Boleh Saja Tapi Proses Hukum Harus Berlanjut”, ” Tangkap Ahok Demi Harga Diri Umat dan Bangsa” dan ” Fatwa MUI Bahwa Ahok Harus Diproses Hukum”.

Acara yang dihadiri ratusan umat Islam itu berakhir menjelang sholat ashar dan membubarkan diri secara tertib.

Aksi di Solo Raya Mendesak Kepolisian untuk Tidak Tebang Pilih Menjalankan Roda Hukum

SURAKARTA (Jurnalislam.com) – Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) dan sejumlah Elemen Islam Solo Raya kembali menggelar aksi unjuk rasa, mendesak Kapolri untuk mengadili Basuki Tjahya Purnama alias Ahok. Massa meminta surat yang telah di keluarkan MUI segera di laksanakan.

Elemen Islam Solo Raya yang terdiri dari ribuan umat Islam itu melakukan Aksi mulai dari Masjid Agung Surakarta di Jln. Masjid Agung, Baluwarti, Pasar Kliwon menuju Masjid Baitussalam Tipes Solo pada Jum’at (21/10/2016) siang.

“Kami berharap surat MUI Pusat yang terkait dengan pelecehan dan penistaan terhadap Al-Qur’an oleh petahana Ahok untuk segera diproses secara hukum secepatnya. Semua warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum” ujar kordinator aksi, Edy Lukito di perempatan Singosaren Plaza.

Dalam orasinya itu Edy mengatakan, kemarahan umat Islam terhadap Ahok sudah tidak dapat dibendung lagi. Aparat penegak hukum dinilai lamban untuk memproses hukuman Ahok.

“Kami selaku umat Islam sangat marah akan ucapan Ahok, ia dengan jelas menistakan Al Qur’an. Akan tetapi kami juga marah akan lambannya Kapolri memproses Ahok secara hukum,” tegasnya.

Untuk itu, ketua LUIS mendesak kepolisan untuk tidak tebang pilih dalam menjalankan roda hukum. Tidak menilai dari strata tertentu.

“Jangan hanya orang yang miskin dan lemah saja yang di proses secara hukum, sedangkan orang-orang yang berduit, pejabat, konglomerat hukum menjadi tumpul,” pungkasnya.

Aksi diakhiri dengan sholat ashar berjamaah di Masjid Baitussalam Tipes dan para peserta membubarkan diri dengan tertib.

Sebagaimana diketahui, hari ini puluhan ribu umat Islam dari berbagai daerah melakukan unjuk rasa, mengecam aparat penegak hukum untuk mengadili Ahok.

Reporter : Rommy, Ridho Asfariy

Amir Ansharusy Syariah Nusra: Kami Akan Kawal Proses Hukum Ahok

BIMA (Jurnalislam.com) – Menanggapi kasus pelecehan dan penistaan terhadap Al-Qur’an yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Amir Jamaah Ansharusy Syariah Wilayah Nusa Tenggara, Ustadz Abdul Hakim menegaskan akan mengawal proses hukum kasus tersebut.

“Kami akan terus mengawal proses hukum terhadap Ahok, jangan sampai terkesan polisi menutup mata, sehingga dikhawatirkan akan muncul lagi aksi yang lebih masif,” katanya kepada Jurniscom, Kamis (20/10/2016).

Ustadz Abdul Hakim menyatakan, Ahok telah menghina kitab suci umat Islam dan telah merendahkan para ulama.

“Oleh karena itu sudah menjadi tanggung jawab setiap dari umat muslim ketika dia tahu agamanya dihina, kitab sucinya dihina, ulamanya dihina, maka tidaklah benar kalau kemudian kita diam,” lanjutnya.

Ia mengingatkan Ahok agar tidak bermain api dengan kaum muslimin. “Umat Islam dilarang oleh nabinya mencari musuh, tetapi jangan coba-coba ganggu agamanya, dan siapapun yang melakukan hal itu dia pasti akan dikalahkan,” tegasnya.

Ustadz Abdul Hakim khawatir, jika aparat dan pemerintah tidak mengambil langkah tegas atas perilaku Ahok, umat Islam sendiri yang akan menghakimi Ahok.

“Kalau ini dibiarkan maka kami khawatir si Ahok akan menghadapi pengadilan jalanan,” ujarnya.

“Hukum adalah panglima tertinggi, jangan sampai hukum itu tumpul ke atas dan tajam ke bawah, maka jangan hanya mempermainkan dan memaniskan kata, tetapi tnjukanlah bukti nyata,” pungkasnya.

Kekhawatiran Meningkat akan Kemungkinan Konflik Sunni-Syiah di Mosul

ANKARA (Jurnalislam.com) – Saat operasi militer untuk memperebutkan kota Mosul di utara Irak dari Islamic State (IS) dimulai awal pekan ini, beberapa pihak telah menyuarakan keprihatinan mereka akan konsekuensi yang mungkin muncul dari konflik Sunni-Syiah di wilayah tersebut.

Mereka telah menyuarakan peringatan terhadap keterlibatan langsung milisi Syiah dalam membebaskan kota menyusul laporan bahwa IS telah melakukan kekejaman terhadap penduduk Sunni di bagian lain Irak.

“Ada risiko konflik internal antara pasukan Peshmerga dan Hashd al-Shaabi [milisi Syiah] setelah IS sepenuhnya keluar dari Irak,” kata mantan Kepala Staf Umum Irak Babekir Zebari.

“Posisi terlemah di Irak adalah Sunni Arab dan Turkmen,” tambah Abdul-Nasir al-Mahdawi, mantan gubernur provinsi Diyala Irak.

“Kurdi mendapatkan dukungan internasional dan Syiah yang berkuasa saat ini; Turkmen tidak memiliki kekuatan yang melindungi mereka. Sehingga sangat normal jika Turki peduli dengan mereka,” katanya.

Mahdawi menyarankan agar Irak dan Turki bekerja sama untuk memastikan bahwa tidak ada kelompok etnis di wilayah tersebut yang menjadi target.

Peran Turki dalam operasi itu telah menciptakan ketegangan antara Ankara dan Baghdad, yang telah meminta bantuan Turki setelah jatuhnya Mosul ke tangan IS pada Juni 2014.

Sejak itu, pasukan Turki telah melatih ribuan pejuang Irak dan Peshmerga di sebuah kamp di Bashiqa, sebelah timur laut Mosul.

Tapi Baghdad baru-baru ini mulai mengeluh tentang kehadiran pasukan Turki dan bulan lalu pertengkaran diplomatik meletus mengenai masalah ini.

Presiden Recep Tayyip Erdogan telah berulang kali menekankan bahwa pasukan Turki akan tetap berada di Bashiqa.

Erdogan menunjuk kekhawatiran Turki atas kepentingan penduduk Arab dan Turkmen Sunni di Mosul.

Sekretaris Jenderal Turkish-Arab Dialogue Platform dan penasihat dari Abdullah Gul, mantan Presiden Turki, Ersat Hurmuzlu juga berpendapat bahwa Turki tidak bermain dengan sektarianisme di wilayah tersebut.

“Ada Sunni dan Syiah Turkmen di Tal Afar [kabupaten di Provinsi Nineveh barat laut Irak],” katanya, dan mengutip Erdogan saat mengatakan: “Tal Afar milik orang-orang yang berada di sana.”

Hurmuzlu menekankan bahwa integritas teritorial Irak sangat signifikan bagi Turki.

Pemimpin Iraqi Turkmen Front Irsyad Salihi juga menunjuk kehadiran warga di Mosul dari berbagai agama dan etnis.

Menggarisbawahi “sensitivitas” masalah ini, Salihi mengatakan: “Kami berharap tidak ada hal buruk yang terjadi di Mosul, yang akan menguntungkan IS.”

“Mereka yang mendorong IS di wilayah ini adalah kekuatan yang ingin melihat Irak terbagi, Muslim didorong pada konflik sektarian, dan runtuhnya perekonomian daerah,” tegasnya.

Awal pekan ini, pasukan Irak, yang didukung oleh serangan udara, melancarkan serangan untuk mengambil kembali Mosul – benteng terakhir IS di Irak utara, yang dikuasai oleh IS sejak pertengahan 2014.