GNPF MUI Bantu Langsung Korban Banjir Bima

BIMA (Jurnalislam.com) – Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI menyambangi korban banjir Bima. Kedatangan yang dipimpin langsung oleh Ustaz Bahtiar Nasir (UBN) itu untuk melihat langsung dampak banjir bandang serta membantu korban banjir.

“Bantuan yang kita bawa berupa pakaian, makanan, dan untuk bantuan berupa uang tunai serta karpet untuk masjid akan kita distribusikan secepatnya, mengingat pentingnya kebutuhan masyarakat akan bantuan tersebut,” kata UBN kepada jurniscom disela-sela penyerahan bantuan di Masjid Baitul Makmur, Kelurahan Na’e, Bima, Senin (30/1/2017).

Pantauan jurniscom dilapangan, sesampainya rombongan GNPF di Bima, Senin (30/1/2017) GNPF langsung berkeliling kota Bima untuk melihat secara langsung sejauh mana kerusakan ataupun dampak dari pada banjir bandang yang menggenangi kota Bima berapa waktu lalu.

Pada kesempatan itu GNPF MUI mengunjungi beberapa titik yang menjadi lokasi terparah pasca banjir diantaranya, SD IT Lukmanul Hakim, Kelurahan Na’e, Kelurahan Dara.

Lebih dari itu, UBN sapaannya mengimbau warga Bima untuk tetap sabar menghadapi ujian dari Allah.

“Kami berharap semua warga bisa bersabar menghadapi ujian ini, serta bantuan yang diberikan nanti bisa bermanfaat untuk semua,” papar UBN memotivasi.

GNPF Tiba di Bima, Pemerintah: GNPF Dapat Menenangkan Korban Banjir Bima

BIMA (Jurnalislam.com) – Pagi tadi, rombongan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI mendatangi kota Bima. Kedatangan GNPF untuk bersilaturahmi, membantu korban banjir dan menggelar acara tabligh akbar disambut baik oleh pemerintah kota Bima.

“Kami ucapkan selamat datang di kota Bima kepada para ulama dari GNPF MUI. Kehadiran ulama GNPF MUI membuat kami bangga,” ujar wakil Walikota Bima, H. A Rahman H Abidin sesaat menyambut GNPF di Kantor Walikota Bima, Jl. Soekarno-Hatta, Kota Bima, Senin (30/1/2017).

Rahman mengatakan, kehadiran rombongan GNPF dapat membuat masyarakat Bima khususnya korban banjir senang dan semangat kembali.

“Insya Allah dengan kehadiran para ulama ini akan membuat masyarakat yang menjadi korban banjir menjadi sabar, menjadikan masyarakat menjadi bersemangat kembali, dan menjadi motivasi tersendiri kepada seluruh masyarakat kota Bim,” ungkapnya bahagia.

“Kami juga memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh ulama yang sudah mau menyempatkan waktunya untuk mengunjungi kota Bima,” lanjutnya.

Pantauan jurniscom dilapangan, selain bertemu dengan jajaran pemerintah kota Bima, rombongan ulama GNPF yang dihadiri oleh pimpinan GNPF, Ustaz Bahtiar Nasir, Zaitun Rasmin serta Dewan Syuro FPI juga berkeliling melihat keadaan serta memberikan bantuan kepada masyarakat korban banjir.

Abu Jibril: Rencana Kemenag Sertifikasi Penceramah Batasi Dakwah Islam Indonesia

SOLO (Jurnalislam.com) – Rencana Kementrian Agama (Kemenag) untuk mensertifikasi Dai atau penceramah dinilai Wakil Amir Majelis Mujahiddin akan membatasi penyebaran risalah Islam yang ada di Indonesia. Sebab, itu akan membatasi kebebasan berdakwah para penceramah.

“Itu berarti membatasi gerak langkah dakwah di Indonesia, sehingga dari Kemenag akan memberikan aturan-aturan yang apabila itu nanti dilanggar oleh Dai maka tidak boleh berdakwah lagi,” katanya kepada jurniscom seusai memberikan materi di Ngruki, Sukoharjo, Ahad (29/1/2017).

Ayah dari pemilik Arrahmah.com itu mengatakan, dengan disertifikasinya penceramah ini akan membuat para Dai hanya akan menyampaikan Islam sesuai apa yang diiniginkan oleh pemerintah, seperti halnya yang dilakukan di negara Malaysia.

“Kalau di Malaysia itu bisa dijadikan contoh, disana ada surat ijin untuk mengajar bernama Tauliyah, siapa yang tidak mempunyai Tauliyah maka tidak boleh mengajar dan kalau mengajar maka akan di tangkap, dengan begitu maka siapa yang layak mengajar dan tidak ada kebebasan untuk itu,” terang Abu Jibril.

“Itu adalah diantara cara-cara yang dilakukan oleh orang-orang anti Islam yang membisikkan Kemenag untuk menghalangi kebebasan dakwah oleh umat Islam,” pungkasnya.

Reporter: Arie

GUIB: Stop Kriminalisasi Ulama, Tegakkan Supremasi Hukum Secara Adil!

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Berbagai laporan pelanggaran hukum yang secara masif ditujukan kepada beberapa ulama di Indonesia ditanggapi serius oleh Gerakan Umat Islam Bersatu Jawa Timur (GUIB Jatim). Menurutnya, ini adalah bentuk kriminalisasi para ulama.

“Kecurigaan umat Islam ini bukan tidak beralasan karena segala proses hukum ini muncul ditengah para ulama yang berusaha membangkitkan umat Islam,” jelas GUIB Jatim dalam rilis yang diterima jurniscom, Ahad (29/1/2017).

“Tegakkan supremasi hukum secara adil tanpa tebang pilih demi menegakkan UUD 1945 Pasal 27 ayat 1 yakni segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum. Stop kriminalisasi ulama!,” tambahnya.

GUIB menyatakan, aparat penegak hukum bukan alat politik sehingga dapat digunakan untuk melindungi pihak-pihak maupun golongan tertentu. Sebab, ia menilai saat ini ada standar ganda penerapan hukum.

Tidak hanya itu, kata GUIB, sangat disesalkan dengan adanya pembangunan opini dan wacana oleh beberapa pihak bahwa umat Islam yang berjuang menegakkan Al-Maidah 51 dan melawan isu komunisme adalah bagian kelompok yang intoleran dan anti-kebhinekaan.

“Wacana tersebut merupakan kegagalan memahani konteks dan kedudukan umat Islam yang justru sedang menjaga Kebhinekaan dan NKRI. Bersamaan dengan hal tersebut, munculnya sikap represif untuk membungkam kebebasan perpendapat oleh pemerintah yag ditandai dengan pemblokiran situs-situs Islam secara sepihak,” tegas GUIB.

Oleh sebab itu, GUIB mendesak pemerintah untuk mencari resolusi politik untuk mencari solusi bersama agar permasalahan Bangsa ini tidak larut berkepanjangan. Kepemimpinan nasional tidak boleh melemah.

Lebih lanjut GUIB mengimbau umat untuk tetap bersatu, menjaga keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari berbagai ancaman terutama dari komunisme yang sudah terlihat di Indonesia.

“Mengajak seluruh umat Islam untuk bersatu dan memperkuat ukhuwah untuk menolak seluruh pemikiran dan aktivitas yang berhubungan komunisme demi tegaknya NKRI dan Pancasila,” pungkasnya.

 

Reporter: Adit

Unjuk Rasa atas Larangan Imigrasi Muslim oleh Donald Trump Meningkat

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Protes terhadap larangan Presiden anti-Islam AS, Donald Trump, terhadap pengungsi dan imigran dari beberapa negara mayoritas Muslim berlangsung di kota-kota di seluruh AS, termasuk di New York City dan Washington, DC, Aljazeera melaporkan, Ahad (29/01/2017).

Di ibukota AS, ribuan orang berkumpul di luar Gedung Putih, sementara lebih dari 1.000 demonstran berkumpul di New York City Battery Park untuk berdemonstrasi menentang perintah eksekutif Trump, yang menempatkan pembatasan keras terhadap imigrasi dari tujuh negara mayoritas Muslim.

Berbicara kepada Al Jazeera di New York City Battery Park, Hizam Mohammed Saleh, seorang keturunan Yaman berusia 45 tahun, mengatakan: “Saya datang ke sini karena saya menginginkan perdamaian untuk semua orang, dimana hukum imigrasi seharusnya sama bagi semua orang.”

Jessica Taube, 37, membawa anak-anaknya mengikuti protes. “Saya tidak percaya pada pembatasan. Kita semua manusia dan kita semua berbagi dunia yang sama dan layak mendapatkan tempat untuk menjadi bahagia dan sehat,” katanya kepada Al Jazeera.

“Saya memiliki anak-anak saya di sini karena saya ingin mereka belajar bahwa … Dalam era Trump, itulah yang akan menyelamatkan kita – yaitu komunitas.”

Sehari sebelumnya, ribuan demonstran berkumpul di bandara di seluruh negeri saat tersebar berita bahwa imigran dan wisatawan sedang ditahan di sana. Di antara mereka yang ditahan adalah warga legal yang memiliki kartu hijau AS.

Demonstran bubar hanya setelah seorang hakim federal membatalkan sebagian perintah eksekutif Trump mengenai imigrasi, menegaskan bahwa wisatawan yang telah mendarat di Amerika Serikat dengan visa yang sah tidak harus dikirim kembali ke negara asal mereka.

Pengacara telah mengajukan kasus hukum dalam menanggapi perintah yang mencakup larangan masuk 90 hari pada warga Suriah, Irak, Somalia, Sudan, Iran, Libya dan Yaman.

Hakim Distrik AS Ann Donnelly Sabtu malam menunda sementara putusan menyangkut puluhan orang yang ditahan di bandara menyusul tindakan Trump. Jumlah orang yang ditahan tidak jelas.

American Civil Liberties Union (ACLU), yang mengajukan gugatan class action terhadap larangan tersebut, memuji penundaan eksekusi sementara tersebut sebagai kemenangan.

“Putusan ini mempertahankan status quo dan memastikan bahwa orang-orang yang telah diberikan izin untuk berada di negara ini tidak dihapus secara ilegal keluar dari wilayah AS,” Lee Gelernt, wakil direktur Proyek Hak Imigran ACLU, mengatakan.

Beberapa laporan mengatakan pihak imigrasi masih menerapkan larangan secara sporadis di sejumlah bandara.

Jaksa Umum dari 16 negara bagian AS – termasuk California, New York dan Pennsylvania – mengeluarkan pernyataan bersama pada hari Ahad mengutuk tindakan Trump.

“Kami berkomitmen bekerja untuk memastikan saat beberapa orang mungkin menderita dari situasi kacau yang telah dibuat,” kata pernyataan itu.

Senator AS John McCain dan Lindsey Graham, keduanya dari Partai Republik Trump, mengatakan pada hari Ahad bahwa perintah Trump malah akan lebih banyak membantu merekrut “teroris” daripada meningkatkan keamanan AS.

Menlu Swiss Cekal Trump atas Larangan Muslim ke AS

SWISS (Jurnalislam.com) – Menteri Luar Negeri Didier Burkhalter menyebut perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump yang menyerukan larangan perjalanan pada tujuh negara mayoritas Muslim sebagai tindakan diskriminatif dan melanggar hukum internasional.

“Kami selalu menentang diskriminasi individu karena agama mereka atau negara asal. Dalam hal ini, perintah eksekutif yang diambil oleh AS jelas berjalan ke arah yang salah,” kata Burkhalter dalam sebuah pernyataan pada hari Ahad (29/01/2017), lansir World Bulletin.

Mencatat bahwa Swiss juga berkomitmen untuk memerangi ekstremisme, ia memperingatkan bahwa setiap tindakan yang diambil untuk memerangi teror, “harus menghormati hak-hak dasar dan hukum internasional”.

Administrasi Trump pada hari Jumat menangguhkan masuknya warga dari Timu Tengah selama sedikitnya 90 hari karena ia mengklaim kebijakan ini akan melindungi AS dari teror, yang sebenarnya kebijakan tersebut hanya Islamophobia Trump pada kaum Muslim.

Mengenai kekhawatiran tentang bagaimana menerapkan kebijakan Trump, terutama untuk warga yang memiliki dua-kewarganegaraan yang tinggal di Swiss, Burkhalter mengatakan: “Kami berada dalam kontak dengan pihak berwenang AS untuk mendapatkan informasi sejelas mungkin pada modalitas yang direncanakan dan berhak mengambil langkah-langkah yang membela hak-hak warga negara Swiss yang bersangkutan.”

Setelah Membunuh Putri Syeikh al Awlaki, Helikopter Apache AS Jatuh Ditembak Mujahidin AQAP

YAMAN (Jurnalislam.com) – Sebelumnya putra ulama al Qaeda, Syeikh Anwar al Awlaki yang terbunuh dalam serangan pesawat tak berawak AS pada tahun 2011, kini putrinya berada di antara anak-anak yang meninggal dalam serangan AS terhadap mujahidin al-Qaeda di Yaman pada hari Ahad (29/01/2017), Middle East Eye melaporkan.

“Dia terkena peluru di lehernya dan menderita selama dua jam,” kata kakeknya dari anak yang berusia delapan tahun tersebut.

“Mengapa membunuh anak-anak? Ini adalah pemerintahan baru AS – ini sangat menyedihkan, kejahatan besar,” kata Syeikh Nasser al-Awlaki kepada Reuters.

Serangan yang menewaskan putri Syeikh Awlaki adalah bagian dari serangan fajar di Yaman selatan, hari Ahad yang menewaskan sejumlah pasukan AS dan sekitar 30 orang lainnya termasuk mujahidin al-Qaeda dan warga sipil, pejabat lokal Yaman mengatakan.

Itu adalah korban pertempuran pertama pemerintahan Trump dan merupakan operasi pertama di Yaman, cabang al-Qaeda yang kuat yang sering menjadi target serangan pesawat tak berawak AS.

Petugas medis di tempat kejadian mengatakan 30 orang meninggal, termasuk 10 perempuan dan tiga anak-anak.

Pertempuran di distrik pedesaan Yakla provinsi al-Bayda membunuh seorang pemimpin senior di cabang al Qaeda Yaman, Abdulraouf al-Dhahab, bersama dengan mujahidin lainnya, kata al Qaeda.

Sedikitnya tiga komando pasukan AS juga tewas dalam operasi di mana pesawat militer mereka, helikopter Apache jatuh tertembak dan hancur di tempat.

Rongsongkan Helikopter Apache AS yang jatuh ditembak AQAP
Rongsongkan Helikopter Apache AS yang jatuh ditembak AQAP

“Operasi dimulai saat fajar ketika sebuah pesawat tanpa awak mengebom rumah Abdulraouf al-Dhahab, dan kemudian beberapa helikopter datang dan menurunkan pasukan khusus di rumahnya dan membunuh secara brutal semua orang yang berada di dalam rumah,” kata seorang warga, yang berbicara tanpa menyebut nama.

“Selanjutnya, orang-orang bersenjata melepaskan tembakan ke arah tentara AS yang meninggalkan daerah itu, lalu helikopter membom orang-orang bersenjata tersebut serta sejumlah rumah dan menyebabkan sejumlah besar korban.”

Seorang petugas keamanan Yaman dan seorang pejabat setempat menguatkan laporan itu. Fahd, seorang warga setempat yang meminta agar hanya nama pertamanya yang digunakan, mengatakan beberapa korban tetap berada di bawah puing-puing dan bahwa rumah-rumah dan Masjid setempat juga rusak dalam serangan itu.

Dalam pesan di akun Telegram resminya, al-Qaeda berkabung atas kematian al-Dhahab sebagai “pejuang suci” serta atas mujahidin yang gugur, tanpa menentukan berapa banyak dari mujahidin yang syahid.

Dalam 9 Jam, Lebih dari 2.600 Orang Menyumbang untuk Masjid Victoria yang Terbakar

TEXAS (Jurnalislam.com) – Pada hari Sabtu (28/01/2017) lebih dari 2.600 orang menyumbang untuk membangun kembali sebuah Masjid di Victoria, Texas setelah kebakaran merobohkannya, World Bulletin melaporkan, Ahad (29/01/2017).

“Kami akan membangun kembali, dengan CINTA!” kata halaman Facebook Victoria Islamic Center, dengan gambar yang menunjukkan kobaran besar dan asap hitam mengepul di atas struktur bangunan.

Kampanye gofundme.com untuk mendanai pembangunan kembali Masjid – yang memiliki jamaah sekitar seratus orang – sudah mencapai seperempat dari yang dibutuhkan, yaitu sebesar $ 450.000, pada Sabtu sore meningkat menjadi $ 119.670 dalam waktu sembilan jam.

Sebuah penyelidikan di tingkat lokal dan federal – termasuk oleh FBI – sedang berlangsung, saat penyebab kebakaran belum ditentukan.

Pesan dukungan untuk Masjid tertuang pada hari Sabtu di media sosial dan halaman gofundme.

Cody Cluff, seorang penyumbang menulis: “Banyak rekan senegara Anda yang mencintai dan menghargai Anda dan orang-orang beragama Islam. Anda adalah bagian indah dari komunitas kami, dan saya minta maaf untuk kebencian yang dilakukan pada Anda. Semoga Anda diberkati dengan keberanian, kekuatan, dan kedamaian.”

Betsy Brune mengatakan: “Kami sangat menyesal tentang masjid Anda. Kami akan membela sesama warga Amerika kami yang hanya ingin hidup dan beribadah menurut yang mereka harapkan. Ini adalah janji utama negara kita.”

Manajemen Masjid mengucapkan terima kasih atas dukungan pada halaman Facebook-nya. “Curahan dukungan dari komunitas Victoria dan seluruh bangsa yang indah ini sangat fenomenal! UNITED WE STAND (Bersatulah Kita)! Jangan mempolitisasi tragedi ini! Tetap Bersatu,” tulis mereka.

Serangan anti-Islam telah meningkat sejak pemilihan Donald Trump menjadi presiden AS pada 8 November. Presiden Trump telah menjadi kritikus vokal dari kebijakan pemerintah terhadap yang dia sebut “teror Islam radikal,” lalu menjanjikan dan menerapkan sejumlah langkah menentangnya.

Langkah-langkah tersebut termasuk sebuah perintah eksekutif membatasi aliran pengungsi ke AS dari tujuh negara mayoritas Muslim dan melakukan “pemeriksaan ekstrim” untuk prosedur pemeriksaan identitas, serta proposal untuk memiliki pencatatan informasi Muslim.

Sepulang dari Indonesia, Pengacara Muslim Myanmar Ditembak Mati di Bandara Yangon

MYANMAR (Jurnalisam.com) – Seorang pengacara Muslim yang terkait dengan Liga Nasional untuk Demokrasi (National League for Democracy-NLD) yang saat ini berkuasa ditembak mati di sebuah bandara di bekas ibukota Myanmar, Yangon, pada hari Ahad (29/01/2017) menurut seorang pejabat polisi, lansir World Bulletin.

Ko Ni adalah seorang advokat Mahkamah Agung dan penasihat hukum NLD. Nay Myo Naing, seorang polisi yang bertugas di bandara internasional Yangon, mengatakan bahwa pengacara itu “meninggal di tempat”.

“Sopir taksi terdekat juga tertembak saat ia berjuang melawan pria bersenjata itu,” kata petugas sambil menambahkan bahwa sopir meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Pria bersenjata yang diduga terlibat dalam penembakan itu kemudian ditangkap di TKP. Dia diidentifikasi sebagai Kyi Lin, 53, warga Mandalay, kota kedua terbesar Myanmar.

Juru bicara NLD Nyan Win mengatakan Ko Ni baru saja kembali dari Indonesia bersama dengan pejabat pemerintah dan pemimpin Muslim Myanmar lainnya, termasuk pemimpin mahasiswa terkemuka Mya Aye yang pergi untuk belajar tentang pengalaman negara tentang rekonsiliasi nasional.

“Saya tidak tahu siapa yang ingin membunuhnya,” kata Nyan Win melalui telepon, menambahkan insiden itu telah menyebabkan mereka shock.

Pasukan Koalisi Arab Tembak Jatuh Drone Iran di Mokha

YAMAN (Jurnalislam.com) – Pasukan Koalisi Arab, dengan bantuan Angkatan Udara UEA di Yaman, pada hari Sabtu telah menghancurkan sebuah pesawat militer tak berawak (drone) Iran di kota pelabuhan utara Mokha, lansir Al Arabiya News Channel, Sabtu (28/01/2017).

Pesawat itu dikendalikan melalui ponsel, dimaksudkan untuk menargetkan pasukan Yaman yang berpartisipasi dalam pembebasan kota Mokha.

Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Yaman, Jenderal Ahmed Saif Al Yafei menegaskan bahwa pasukan Yaman mendeteksi drone tersebut selama pengawasan daerah utara di Mokha, menambahkan bahwa pesawat hendak lepas landas untuk misinya ketika dihancurkan oleh rudal udara ke permukaan (air to surface) yang berkoordinasi dengan Angkatan Udara UAE yang beroperasi di Yaman.

Dia mengatakan bahwa setelah terkepung, milisi Syiah Houthi mulai menggunakan senjata yang diselundupkan dari Iran ke Yaman, termasuk drone yang hancur tersebut.