Remaja Muslimah Diserang Hingga Terluka dan Telanjang, Umat Islam Belgia Kecam Keras

BRUSSELS (Jurnalislam.com) – Kaum Muslim Belgia pada hari Jumat (6/7/2018) mengecam keras serangan Islamophobia baru-baru ini di negara itu.

Dalam pernyataan bersama, Badan Eksekutif Muslim Belgia (the Belgian Muslim Executive Body-EMB) dan Pusat Islamique Belge (the Centre Islamique Belge-CIB) mengatakan seorang gadis Muslim berusia 19 tahun menjadi sasaran di kota Charleroi, Belgia, karena agamanya.

Mereka mengatakan “serangan tercela” tersebut tidak hanya menargetkan Islam, tetapi nilai-nilai dasar dari semua masyarakat Belgia dan kebebasan beragama.

“Kekerasan tidak boleh ditanggapi dengan kekerasan,” kata pernyataan itu, seraya menambahkan bahwa mereka percaya bahwa polisi dan pengadilan akan mengambil tindakan yang diperlukan terkait insiden itu.

Remaja Muslimah Belgia Dirobek Bajunya dalam Serangan Islamophobia

Pada Senin malam, dua penyerang menyerang seorang remaja Muslim di kota Anderlues, dilaporkan merobek pakaiannya, meninggalkannya dengan bekas luka akibat benda tajam di dada, kaki, dan perutnya hingga bagian atas telanjang .

Pada hari Rabu, jurubicara Inter-federal Centre for Equal Opportunities (UNIA) Bram Sebrechts mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa menurut pendapatnya serangan itu dimotivasi oleh Islamophobia.

Namun, Kantor Kejaksaan Charleroi akan membuat keputusan tentang sifat serangan itu, kata Sebrechts.

Anggota parlemen Belgia yang berasal dari Turki, Mahinur Ozdemir mengatakan, wanita muda itu keluar pada malam hari untuk mencari kucingnya ketika dia diserang.

Ozdemir mengatakan korban bisa saja dibunuh.

“Jika langkah-langkah tidak diambil, akan mustahil untuk mencegah serangan seperti itu,” katanya.

Uni Eropa akhir-akhir ini menyaksikan meningkatnya Islamophobia dan kebencian terhadap para migran dalam beberapa tahun terakhir yang dipicu oleh propaganda dari partai-partai sayap kanan dan populis, yang telah mengeksploitasi ketakutan atas krisis pengungsi dan terorisme.

1 Warga Palestina Gugur dan 396 Terluka oleh Serangan Pasukan Zionis

GAZA (Jurnalislam.com) – Pasukan penjajah Israel membunuh seorang pengunjuk rasa Palestina pada hari Jumat (6/7/2018) di tengah-tengah agitasi selama beberapa bulan terhadap pendudukan tanah Palestina, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

Ashraf al-Qidra, seorang juru bicara kementerian, mengatakan selama demonstrasi di As-Sadr, timur Jalur Gaza, Mohammed Jamal Abu Halima, 22 tahun, menjadi martir oleh peluru zionis.

396 warga Palestina lainnya juga terluka oleh peluru tajam Israel dan tabung gas.

Ribuan Wanita Palestina Unjuk Rasa, 134 Terluka Ditembak Pasukan Israel

Sebuah pernyataan tertulis yang dikeluarkan oleh Angkatan Darat Israel mengatakan para prajurit merespon orang-orang Palestina yang mencoba menyeberangi pagar dengan tembakan artileri dan tembakan senjata berat, lansir Anadolu Agency.

Sejak unjuk rasa dimulai pada 30 Maret, 137 demonstran Palestina telah menjadi martir – dan ribuan lainnya terluka – oleh tembakan tentara penjajah Israel.

Para pengunjuk rasa menuntut “hak untuk kembali” ke rumah dan desa mereka di Palestina yang bersejarah sejak mereka diusir pada tahun 1948 untuk memberi jalan bagi negara baru Israel.

Mereka juga menuntut diakhirinya blokade Jalur Gaza yang sudah berlangsung satu dasawarsa, yang telah menghancurkan perekonomian kantong pesisir dan merampas banyak komoditas pokok bagi 2 juta penduduknya.

PM Zionis Netanyahu Intruksikan Parlemen Israel Masuki Masjid Al Aqsha 3 Bukan Sekali

Pejuang Suriah Akhirnya Sepakati Gencatan Senjata Bersyarat di Daraa dengan Rusia

SURIAH (Jurnalislam.com) – Saat matahari terbenam pada hari Jumat (6/7/2018), sebuah konvoi besar kendaraan lapis baja dan tank berbendera Rusia dan Suriah berjalan menuju persimpangan perbatasan Nassib-Jaber yang menghadap ke Yordania.

Pergerakan kendaraan menunjukkan bahwa kawasan strategis penting, yang selama bertahun-tahun dikuasai oleh oposisi anti Assad, sekarang di bawah kendali pasukan pro rezim Suriah.

Beberapa jam sebelumnya, para pejuang oposisi yang memerangi serangan rezim Nushairiyah di provinsi Deraa Suriah selatan telah mencapai kesepakatan dengan para perunding dari Rusia, sekutu besar rezim Suriah Bashar al-Assad.

Petugas Medis: Rezim Assad Gunakan Semua Jenis Senjata di Daraa

Berdasarkan kesepakatan itu, pihak oposisi setuju untuk menyerahkan senjata berat mereka. Sebagai gantinya, tentara Suriah setuju untuk meninggalkan empat desa – Kahil, al-Sahwa, al-Jiza, al-Misaifra – di timur Deraa, sumber mengatakan kepada Al Jazeera.

Pejuang yang menentang kesepakatan itu akan diberikan jalur aman ke daerah yang dikuasai oposisi di Suriah utara. Sehingga, pejuang Tentara Pembebasan Suriah (Free Syria Army-FSA) dan keluarga mereka diharapkan untuk pergi ke provinsi utara Idlib dan ke daerah kecil di bawah kendali oposisi dekat Dataran Tinggi Golan. Rincian bagian ini diharapkan akan dibahas dalam beberapa pekan mendatang.

Berdasarkan perjanjian itu, pasukan Suriah tidak akan diizinkan untuk tetap berada di wilayah yang diambil kembali oleh rezim, sumber mengatakan kepada Al Jazeera.

Sebaliknya, polisi militer Rusia akan dikerahkan di sepanjang perbatasan dengan Yordania, mengamankan kota-kota dan desa-desa yang tercakup oleh kesepakatan itu. Persimpangan Nassib yang secara strategis penting akan berada di bawah manajemen pegawai sipil rezim Suriah dan polisi militer Rusia.

Kehadiran polisi militer Rusia adalah kunci untuk perjanjian dan jaminan yang diberikan kepada oposisi dan warga sipil.

Ini juga merupakan salah satu konsesi utama yang diperoleh Yordania, yang khawatir bahwa milisi Syiah Internasional yang bertempur bersama pasukan rezim Syiah Assad akan menguasai daerah itu di perbatasan utara.

Konsesi ini akan memungkinkan puluhan ribu pengungsi Suriah di sepanjang perbatasan Yordania untuk kembali ke rumah mereka karena banyak yang ketakutan menjadi sasaran pasukan rezim.

Menurut badan pengungsi PBB, UNHCR, 60.000 dari lebih dari 320.000 orang yang melarikan diri dari pertempuran sengit sejak 19 Juni telah ditempatkan di sepanjang perbatasan dengan Yordania. Sisanya mencari perlindungan di perbatasan dengan dataran Golan yang diduduki Israel.

Pengungsi Warga Daraa Meningkat Hingga 320.000, Rusia Lanjutkan Negosiasi Hari Ini

Tidak ada komentar langsung dari rezim Assad dan para pendukungnya di Rusia. Namun mengambil alih penyeberangan Nasib adalah kemenangan besar bagi rezim Suriah, yang pada akhirnya ingin membuka kembali perbatasan sebagai rute perdagangan yang signifikan.

Hal ini juga berpotensi memungkinkan tentara Suriah untuk mendorong lebih jauh ke selatan melalui daerah di sebelah timur kota Deraa, di mana wilayah oposisi menyempit ke koridor tipis di sepanjang perbatasan Yordania. Ini akan membagi wilayah menjadi dua.

Kesepakatan Jumat itu terjadi sehari setelah Jordania, yang menampung lebih dari 1,4 juta pengungsi Suriah dan telah menutup perbatasan utaranya, mengatakan pihaknya berhasil meyakinkan oposisi Suriah dan Rusia untuk bertemu lagi.

Tapi pengumuman itu hanya muncul setelah sebelumnya rezim maju menuju penyeberangan perbatasan Nassib, sumber di lapangan mengatakan.

Mengomentari negosiasi, Jumana Ghunaimat, juru bicara rezim Yordania, mengatakan kepada Al Jazeera: “Solusi di Suriah adalah politik, bukan militer. Perang dan lebih banyak pertempuran tidak akan menghentikan perjuangan rakyat Suriah.”

Ghunaimat menambahkan: “Kita harus menghentikan perang, dan itulah tujuan utama negosiasi yang kita mediasi.”

Menurut oposisi, Moskow sebelumnya menolak tuntutan mereka untuk menyerahkan senjata berat mereka secara bertahap dan menyediakan jalur aman bagi para oposisi dan warga sipil yang tidak ingin hidup di bawah kekuasaan rezim untuk menuju wilayah oposisi di tempat lain.

3.000 Mahasiswa dari 54 PTKIS Ikuti PIONIR di Ponpes Cipasung Tasikmalaya

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni dan Riset (Pionir) Kopertis Wilayah II Jabar Banten digelar di Lapangan Helipad Cipasung Kampus Institut Agama Islam Cipasung (IAIC) Singaparna Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (6/7/2018).

Ketua Panitia Lokal Pionir H Dendi Yuda menuturkan, kegiatan Pionir ini baru pertama kalinya dilaksanakan. IAIC menjadi tuan rumah kegiatan yang akan dilaksanakan selama tiga hari mulai Jumat hingga Minggu (6-8/7/2018) ini.

”Ada delapan materi lomba yang akan dilaksanakan, diantaranya voli, tenis meja, catur, syahril Quran, kaligrafi, paduan suara, riset dan lomba karya ilmiah,” tutur Dendi dilansir Radar Tasik, Kamis (5/7/2018).

Ia mengatakan, ajang ini akan diikuti sekitar 54 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKIS) dengan jumlah peserta lebih dari 3.000 mahasiswa. Pionir ini menjadi ajang untuk menggali potensi mahasiswa dalam bidang olahraga, seni dan karya ilmiah.

Selain itu, menjadi ajang untuk bersilaturahmi dan penguatan jaringan antar perguruan tinggi Islam swasta yang ada di Jawa Barat dan Banten.

”Kami sebagai tuan rumah sudah bersiap. Mulai dari tempat perlombaan hingga asrama. Kami sudah menyiapkan 21 asrama di Pondok Pesantren Cipasung yang bisa menampung sekitar 3.000 orang. Asrama ini akan digunakan untuk menginap para peserta,” terangnya.

Dendi juga menuturkan, ajang Pionir yang akan dihadiri ribuan peserta ini bisa mengangkat nama Kampus Cipasung dan Pondok Pesantren Cipasung yang kaya akan sejarah.

Kegiatan ini rencananya akan dihadiri selain oleh Gubernur Jawa Barat, Bupati Tasikmalaya, Rektor Perguruan Tinggi Islam, Perwakilan dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) dan lainnya.

“Acara akan kita mulai setelah Shalat Jumat. Dalam pembukaan ada kreasi seni, pencak silat 100 anak, tari zapin 100 santri Cipasung, ada juga defile,” ungkapnya.

Gubernur Anies Tutup Multaqo Ulama dan Dai Internasional ke-V

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan resmi menutup gelaran Multaqo atau Pertemuan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa ke-V di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, Jum’at (6/7/2018).

Dalam sambutannya, Anies berharap agar acara seperti Multaqo ini dapat terus berlangsung. Ia juga berpesan untuk penyelenggaraannya semakin lebih baik lagi.

Menurutnya, pertemuan itu penting karena dihadiri oleh para ulama dari banyak negara.

“Kita bisa merasakan dari dekat kehadiran ulama dari berbagai belahan dunia ini,” ujarnya.

Secara khusus, Anies juga menyampaikan apresiasinya kepada utusan da’i dan ulama dari Indonesia yang telah memberikan warna di kancah dunia.

“Saya ucapkan terima kasih telah ikut membawa nama umat Islam Indonesia,” terangnya.

Ini Pidato Anies Baswedan di Hadapan Para Ulama Dunia

Anies menambahkan, Multaqo tersebut juga menghasil 10 poin rekomendasi. Diantaranya adalah bagaimana memperkuat Jakarta sebagai salah satu pusat peradaban dalam konteks nasional dan internasional.

Pertemuan yang digelar sejak Selasa (3/8/2018) dihadiri oleh sebanyak 600 ulama dan dai serta para narasumber baik dari Indonesia maupun Timur Tengah.

Reporter: Yahya G. Nasrullah/ Islamic News Agency (INA)

10 Rekomendasi Multaqo Ulama dan Dai Internasional ke-V

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Multaqo (pertemuan) Ulama dan Dai V resmi ditutup pada Jumat (6/7/2018). Acara yang digelar sejak Selasa (3/6/2018) di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat ini dihadiri oleh lebih dari 600 dai dan ulama dari Indonesia dan berbagai negara Asia Tenggara, Afrika dan Eropa.

Dalam penutupan tersebut, Sekjen Persatuan Dai dan Ulama se-Asia Tenggara, Ustadz Jeje Zainuddin membacakan 10 rekomendasi dari Multaqo tersebut.

1. Menekankan pentingnya rahmat dalam Islam dan hidup berdampingan secara damai dan harmoni antara Muslim dan non-muslim dan bahwa cinta terhadap kebaikan antar sesama merupakan hal yang baik, maka seharusnya tidak menginginkan keburukan untuk dirinya sendiri dan orang lain

2. Untuk mencapai persatuan dan kesatuan di antara umat. Perlu berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang komprehensif dan terintegrasi yang sejalan dengan kaidah-kaidah ilmiah dan praktis yang telah disusun oleh para ulama otoritatif dari masa ke masa.

3. Pentingnya membangun kemitraan kerja sama antara lembaga-lembaga dakwah dengan berbagai lembaga-lembaga ilmiah dan pendidikan baik pemerintah atau swasta, dalam rangka mencapai perdamaian, stabilitas, kemajuan, pembangunan dan kemakmuran dalam naungan ridha Allah SWT.

4. Meningkatkan peran strategis lembaga-lembaga dakwah dan kontribusinya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Muslim di berbagai bidang dan disiplin ilmu dalam rangka mewujudkan misi “khairu ummah” dan “ummatan wasatha”.

5. Memperkuat posisi keluarga sebagai institusi terkecil dan pondasi dasar bangsa dan negara, melalui pendidikan dan pengembangan karakter yang mulia yagn sejalan dengan ajaran Islam yang hanif.

6. Mendorong para ulama dan da’i untuk melakukan revolusi penyampaian dakwah yang cepat dengan memanfaatkan teknologi informasi (IT) dan media sosial sebagai media untuk menyampaikan dakwah Islam yang berorientasi kepada budaya literasi.

7. Mengingat Indonesia adalah negara Muslim terbesar dalam hal jumlah penduduk, ia harus memainkan peran utama dalam menciptakan perdamaian dunia melalui dakwah dan pendidikan yang didukung oleh kebijakan pemerintah yang benar

8. Karena Jakarta sebagai Ibu Kota Negara memiliki berbagai keragaman agama, etnis, sosial, budaya dan lain-lain, maka setiap orang yang bekerja di bidang dakwah Islam harus mengambil metode dan strategi yang dapat membina dan mempertahankan kohesi sosial.

9. Memperkuat kedudukan kota Jakarta sebagai pusat Peradaban berbasis Dakwah dan Pendidikan Islam di konteks nasional dan internasional.

10. Membentuk panitia khusus untuk merealisasikan seluruh keputusan forum multaqa ini dengan melibatkan semua unsur-unsur terkait.

Reporter: Gio

Suhu di Dieng Capai 10 Derajat Celcius, Embun Membeku

BANJARNEGARA (Jurnalislam.com) – Bersamaan dengan datangnya musim kemarau, temperatur udara di dataran tinggi Dieng memasuki masa yang paling dingin. Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara (BMKG Banjarnegara) Setyoaji Prayoedhi, menyebutkan temperatur udara di Dieng pada malam hari bisa mencapai di bawah 10 derajat celcius.

”Temperatur ini, tentu sangat dingin. Untuk itu, wisatawan yang berkunjung ke Dieng pada masa-masa sekarang ini, mau tidak mau harus mengenakan jaket yang cukup tebal,” ujarnya, Jumat (6/7/2018).

Dia juga menyebutkan, selama ini masyarakat Dieng mengenai istilah bun upas yang artinya merujuk pada embun beracun. Eko menyebutkan, istilah tersebut digunakan masyarakat Dieng karena bun upas sering menyebabkan tanaman kentang banyak dibudidayakan warga setempat menjadi mati.

Bun upas itu, sebenarnya bukan berarti embunnya mengandung racun. Melainkan karena suhu udara yang sangat dingin, menyebab air embun yang menempel pada tanaman kentang membeku, sehingga mematikan tanaman kentang,” katanya.

Eko menyatakan, fenomena bun upas memang kerap terjadi pada musim kemarau di dataran tinggi Dieng. Namun bun upas biasanya tidak terjadi di seluruh kawasan, melain di beberapa titik (spot) perkebunan kentang. ”Areal yang biasanya terkena bun upas, biasanya lahan yang berada di dataran tinggi dan lembah dengan ketinggian di atas 2.000 meter mdpl,” katanya.

Berdasarkan pengamatan cuaca di Stasiun Geofisika Banjarnegara, pada sebagian wilayah Banjarnegara yang memiliki ketinggian 608 mdpl, tercatat suhu udara rata-rata dalam empat hari terakhir berkisar antara 20,7-23.4 derajat Celsius pada siang hari, 18,2-19,2 derajat Celsius pada malam hari.

”Dengan asumsi bahwa setiap kenaikan ketinggian 100 meter terjadi penurunan suhu 0,5 derajat Celsius, maka di daerah Dieng yang memiliki ketinggian sekitar 2.065 mdpl suhu udara rata-rata berkisar antara 13,7–16,4 derajat Celsius pada siang hari, dan 11,2 – 12,2 derajat Celsius pada malam hari.”

Puluhan Mahasiswa di Bandung Unjuk Rasa Tolak Kenaikan Harga BBM

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pembebasan berunjuk rasa menolak kenaikan harga BBM di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (6/7/2018). Dengan dijaga ketat aparat kepolisian, mereka berorasi dan membawa poster dan spanduk bertuliskan keluhan, penderitaan dan kekesalan masyarakat terhadap pemerintah yang diam-diam menaikkan tarif BBM non subsidi.

“Jelas kami menolak kebijakan pemerintah yang menaikan harga BBM, sebab hal itu merupakan kebijakan yang tidak pro terhadap masyarakat,” kata Indra Lesmana selaku Ketua Gema Pembebasan Jawa Barat usai melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung sate.

Indra melanjutkan, menaikan BBM seharusnya bukan menjadi pilihan utama untuk menanggulangi naiknya minyak dunia, sebab Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumberdaya alamnya, terutama minyak.

“Adapun minyak dunia naik seharusnya menaikan BBM bukanlah pilihan utama sebab Indonesia merupakan negara kaya dengan sumberdaya alam yang melimpah,” kata Indra.

Seperti diketahui, per tanggal 1 juli lalu pemerintah menaikan harga BBM non subsidi sebesar Rp 600 hingga Rp 900 per liternya. kenaikan harga BBM tersebut tanpa diumumkan ke publik sehingga banyak rakyat yang tidak mengetahuinya.

Mahasiswa meminta agar pemerintah mencabut kebijakan menaikkan harga BBM yang dinaikan pada tanggal 1 juli lalu sebab akan berdampak pada daya beli masyarakat.

“Menyerukan rezim Jokowi segera mencabut kebijakan harga BBM sebagai bukti penentangan terhadap,” pungkasnya.

Dalam aksinya para mahasiswa ini membawa sejumlah poster dan spanduk yang bertuliskan penolakan terhadap kebijakan pemerintah menaikan harga BBM.

Aksi tersebut berjalan dengan damai dengan dikawal ketat oleh petugas kepolisian. Usai aksi para mahasiswa ini saling bersalaman dengan polisi sebagai bentuk bahwa mahasiswa dan aparat tidak bermusuhan.

Reporter: Saifal

Pengungsi Warga Daraa Meningkat Hingga 320.000, Rusia Lanjutkan Negosiasi Hari Ini

DARAA (Jurnalislam.com) – Setelah hari-hari negosiasi gagal dimediasi oleh Yordania, yang telah berulang kali menyerukan gencatan senjata segera, faksi oposisi dan Rusia diperkirakan akan melanjutkan pembicaraan pada hari Jumat (6/7/2018).

Sekitar 320.000 orang telah mengungsi sejak serangan dimulai bulan lalu.

Sementara 60.000 orang lainnya terjebak di perbatasan Nassib-Jaber yang menghadap ke Yordania, ribuan lainnya kini berada di sepanjang perbatasan barat dengan Dataran Tinggi Golan yang dijajahi Israel.

Namun baik Yordania dan Israel mengatakan mereka tidak akan menerima pengungsi ke negara mereka.

Petugas Medis: Rezim Assad Gunakan Semua Jenis Senjata di Daraa

Mohammed Khalil dan keluarganya meninggalkan Nassib menuju area perbatasan 10 hari yang lalu.

Ayah dari dua orang, yang mengungsi dua kali sebelumnya dalam beberapa hari terakhir, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ribuan orang di dekat perbatasan mencoba untuk bertahan di bawah teriknya sinar matahari, tanpa akses ke pasokan dasar.

PBB mendesak Yordania untuk menerima beberapa pengungsi dari Deraa Suriah

“Siapa pun di sini yang memiliki tenda dianggap beruntung,” katanya dari daerah yang memisahkan penyeberangan perbatasan kedua negara.

Menurut dia, beberapa kematian terjadi karena infeksi dari gigitan ular, yang banyak berkeliaran di daerah padang pasir terbuka. Tanpa akses ke peralatan medis dan antibiotik yang memadai, banyak dari korban jiwa ini tidak dapat diselamatkan.

Gencatan Senjata di Daraa Gagal, Ini Penyebabnya

Khalil mengatakan dia juga menyaksikan beberapa kematian yang diakibatkan oleh konsumsi air yang tercemar.

“Tak satu pun dari badan bantuan internasional hadir di sini,” katanya tentang daerah yang sebagian besar ‘tidak dilengkapi dengan peralatan memadai’.

Meskipun beberapa bantuan yang diberikan oleh warga Yordania telah tiba pada hari Rabu, Khalil mengatakan bantuan tersebut hampir tidak cukup untuk puluhan ribu orang – kebanyakan wanita dan anak-anak – saat ini di daerah perbatasan.

Khalil, 23, berharap untuk kembali ke Nassib dalam waktu dekat.

“Kami tidak menginginkan apa pun,” katanya. “Yang kami minta adalah rasa keamanan dan stabilitas yang langgeng.”

Petugas Medis: Rezim Assad Gunakan Semua Jenis Senjata di Daraa

SURIAH (Jurnalislam.com) – Ribuan warga Suriah dari sejumlah kota yang dikuasai oposisi di sisi timur Deraa telah pergi ke daerah yang menghadap perbatasan Yordania, ketika pasukan rezim Syiah Bashar al-Assad dan sekutu-sekutunya menekan dengan serangan mereka untuk menguasai Suriah barat daya.

Banyak keluarga yang mengungsi pada hari Kamis (5/7/2018) disebabkan gencarnya serangkaian serangan udara “menghancurkan kota” yang dilancarkan intensif dan secara spesifik menargetkan kota Deraa, dan daerah sekitarnya termasuk kota Nassib, Om Elmiathin, Saida, al-Shayah dan Tafas, aktivis dan petugas medis mengatakan kepada Al Jazeera.

“Pemboman tersebut tidak menyelamatkan siapa pun. Mereka [pasukan rezim] tidak membedakan antara warga sipil dan personil militer, atau antara rumah, masjid dan rumah sakit,” Amer Abazeid, juru bicara Pertahanan Sipil Suriah yang dikenal sebagai White Helmets, mengatakan kepada Al Jazeera dari kota Deraa.

“Pasukan rezim saat ini menggunakan semua jenis senjata terhadap desa-desa tersebut, termasuk bom barel dan rudal surface-to-surface,” katanya.

Rezim Assad Gelar Serangan Besar pada Zona Gencatan Senjata Barat Daya Suriah

Sedikitnya enam warga sipil tewas dalam serangan Kamis, yang dimulai setelah jeda singkat hasil negosiasi antara faksi oposisi dan Rusia rusak.

Pada 19 Juni, pasukan Nushairiyah Assad, bersama dengan bantuan militer Rusia, memulai serangan mereka di Deraa dan provinsi Quneitra yang berdekatan.

Tim pertahanan sipil di Deraa mengatakan mereka masih bekerja untuk menghitung lebih banyak korban, Abazeid mencatat.

“Sudah semakin sulit untuk melakukannya tanpa akses ke titik medis,” jelasnya.

Bulan lalu, angkatan udara Suriah menargetkan sedikitnya enam rumah sakit dan titik-titik medis di seluruh Deraa, sehingga menantang petugas medis untuk merawat dan menghitung warga sipil, dan mereka yang kehilangan nyawa.

Sudah 198.000 Warga Tinggalkan Daraa, Hindari Serangan Brutal Assad

Serangan udara yang diluncurkan oleh pasukan Syiah Assad diperkirakan telah menewaskan lebih dari 175 orang sejauh ini.

PBB mengatakan kehidupan lebih dari 750.000 warga sipil berada dalam bahaya akibat pertempuran yang sedang berlangsung antara pasukan pemerintah dan oposisi. Oposisi sekarang kebanyakan terletak di kota-kota di front timur, dekat dengan daerah perbatasan.

Kareem al-Aswad, seorang aktivis di kota Deraa, mengatakan pemboman Kamis telah menyebabkan keluarga mengungsi dan berkumpul di daerah yang berjarak kurang dari 1 kilometer dari perbatasan Yordania.

Artileri Assad Hantam Yordania, Menlu Ayman: Pasukan Kami Siap Bela Negara

“Serangan udara menargetkan ruang terbuka di kota-kota yang terletak di sepanjang garis yang berdekatan dengan daerah perbatasan,” al-Aswad mengatakan kepada Al Jazeera dari pinggiran kota Deraa.

“Ruang-ruang ini tidak kosong … Mereka adalah kamp pengungsi,” katanya.

“Mereka dalam sepuluh hari terakhir menjadi tempat berlindung bagi orang-orang terlantar yang melarikan diri dari berbagai bagian Deraa,” al-Aswad menambahkan, menggambarkan suara bom tersebut seperti “menghancurkan daratan.”

Lelaki berusia 23 tahun itu mengatakan banyak dari anggota keluarganya termasuk di antara mereka yang memilih untuk pergi, tetapi beberapa memilih untuk tetap berharap bahwa negosiasi akan berakhir dengan baik kali ini.