FOZ Desak Pemerintah Tetapkan Gempa NTB Sebagai Bencana Nasional

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gempa bumi yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat telah menewasjab lebih dari 476 jiwa, 498.799 warga mengungsi. Forum Zakat (FOZ) mempertanyakan sikap lamban pemerintah yang tak kunjung menetapkan gempa bumi NTB sebagai bencana nasional.

“Kami sangat menyayangkan sikap pemerintah pusat yang belum juga menaikkan status gempa Lombok menjadi bencana nasional”, ujar Bambang Suherman, Ketua Umum FOZ di Kantor Inisiatif Zakat, Condet, Jaktim, Senin (20/08/2018).

Menurut Bambang, dengan dampak kerusakan yang signifikan di tiga kabupaten dan masih berlanjutnya gempa susulan hingga Minggu (19/8) malam mencapai 7 SR seharusnya pemerintah pusat segera turun tangan dan menetapkan gempa bumi NTB sebagai bencana nasional.

“Kami mendesak pemerintah pusat untuk segera menetapkan bencana ini sebagai bencana nasional”, pungkasnya.

Sebelumnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Ahad (19/8) merilis getaran gempa 7.0 Skala Richter (SR) yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) malam ini, terasa hingga ke Jawa Timur. Namun guncangan gempa di Jawa Timur masuk kategori gempa ringan.

Sebelumnya, Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera juga menyampaikan permintaan senada kepada pemerintah.

Reporter: Gio

Begini Kondisi Pemukiman di Lombok Timur Pasca Gempa (Video)

LOMBOK TIMUR (Jurnalislam.com) – Gempa bertubi-tubi yang melanda wilayah Lombok dan sekitarnya telah meluluhlantakkan wilayah tersebut. Kabupaten Lombok Timur menjadi salah satu daerah paling parah yang terdampak gempa.

Pagi ini, Senin (20/8/2018) Reporter INA News Agency mengabadikan gambaran kondisi tersebut dalam sebuah video singkat. Berikut videonya,

PKS Desak Pemerintah Tetapkan Gempa Lombok Sebagai Bencana Nasional

Sebelumnya gempa yang melanda Lombok pada awal Agustus lalu, menyebabkan lebih dari 460 orang meninggal dan menyebabkan lebih dari 350.000 orang mengungsi.

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Lombok dan sekitarnya kembali diguncang gempa beruntun pada Ahad (19/8/2018) malam dan Senin (20/8/2018) pagi. BMKG menyebutkan gempa berkekuatan 7,0 SR dan 5 SR di Lombok NTB merupakan aktivitas baru, berbeda dari gempa pada 5 Agustus 2018 lalu.

Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera mendesak Presiden Jokowi menetapkan gempa beruntun di Lombok sebagai Bencana Nasional.

“Pak Jokowi harus merespon cepat Gempa beruntun hebat di Lombok agar segera dinaikan situasinya menjadi Bencana Nasional,” katanya melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, Senin (20/8/2019).

Baca juga: Pengungsi Lombok Harap Setiap Masjid Gelar Shalat Taubat

Sebelumnya gempa yang melanda Lombok pada awal Agustus lalu, menyebabkan lebih dari 460 orang meninggal dan menyebabkan lebih dari 350.000 orang mengungsi.

“Saya sudah minta status gempa Lombok dinaikkan ke level Bencana Nasional ketika berbicara di Forum Indonesian Lawyers Club (ILC) pada hari selasa 14 Agustus 2018 lalu, dan tanggal 19-20 ini terjadi gempa hebat beruntun lagi, saya harap jangan sampai pemerintah lambat menyatakan status bencana ini lagi,” ujarnya

Ia mengingatkan gempa hebat beruntun di Lombok sudah pantas ditetapkan sebagai bencana nasional mengacu pada Pasal 7 UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Pasal 7 menyebutkan wewenang pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, di antaranya penetapan status dan tingkatan bencana nasional dan daerah.

Penetapan status dan tingkat bencana nasional dan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c memuat indikator yang meliputi jumlah korban, kerugian harta benda, kerusakan prasarana dan sarana, cakupan luas wilayah yang terkena bencana, dan dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan.

Legislator FPKS DPR RI itu juga mengajak seluruh elemen bersatu untuk membantu Lombok. “Di tengah meriahnya ASEAN GAMES 2018 di Jakarta-Palembang, Mari kita bersatu untuk mendukung lombok,” pungkasnya.

Reporter: Gio

Catatan Jurnalis: Belajar Berbagi Dari Pengungsi Lombok

“Kita di sini tidak senang dan butuh bantuan. Tapi kita masih bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup,” imbuh Taufik, warga Sembalun Lumbung

LOMBOK TIMUR (Jurnalislam.com) – “Allahu Akbar, Laa ilaaha ilallah … ” Azan isya berkumandang syahdu. Panggilan-Nya memecah haru. Rindu.

Tampak para pengungsi berduyun-duyun menuju masjid darurat yang terbuat dari bambu dan terpal. Tak ada yang berdiam diri di dalam tenda. Semua melangkah menuju panggilan yang sama. Panggilan untuk menegakkan shalat, panggilan menuju kemenangan.

Tak ada status sosial yang membedakan. Semua berbaur dalam kebersamaan. Khusyuk dalam penghambaan. Tersungkur dalam sujud pengharapan. Menangis dalam jerit doa permohonan. Semua berharap, agar bencana yang menimpa mampu mengokohkan iman. Bukan menambah kekufuran.

Bakda Isya, malam tampak pekat. Tak ada nyala listrik. Yang ada hanya sinar bintang yang berkedipan. Di pengungsian, beberapa semeton (pemuda) berusaha membuat penerangan dari api unggun. Mereka duduk di atas lampak (tempat duduk), sembari meletakan telapak tangan di atas api. Indah.

Baca juga : Dari Masjid, Lombok Bangkit

Kopi hitam Rinjani, singkong, dan ubi bakar, menjadi menu klasik saat merindu. Ya, mereka menyebut kebersamaannya itu dengan sebutan ‘merindu’. Sebuah tradisi yang merekatkan ukhuwah.

Malam itu warga bercerita ihwal kronologi gempa yang terjadi. Mengurai kembali masa-masa mengerikan sekaligus menyedihkan. Menggambarkan suasana, dan meniru suara-suara jeritan saat gempa berkekuatan 6,4 SR terjadi pada Minggu pagi (29/7/2018).

Tak hanya sekedar berkisah. Warga pun menyampaikan beribu hikmah.

Taufik, warga Desa Sembalun Bumbung, Sembalun, Lombok Timur, menyampaikan hikmah yang ia dapat usai gempa.

“Saya sedih kalau mengingatnya. Rumah hasil bekerja selama sepuluh tahun, roboh dalam hitungan detik. Tapi saya tetap bersyukur dan ambil hikmahnya. Mungkin kita banyak dosa, sehingga Allah peringatkan melalui bencana,” ungkap ia, Minggu (12/9/2018) kepada INA News Agency.

Obrolan panjang malam itu berakhir dengan mutiara hikmah yang saya dapatkan dari keteguhan hati korban menghadapi ujian.

“Kita di sini tidak senang, Kang. Kita di sini butuh bantuan. Tapi kita masih bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup. Walau kita korban, tapi masih banyak yang keadaannya di bawah kita,” jelas Taufik.

Sedekah di saat susah

Tak ada satu pun rumah yang bisa ditempati warga Desa Sembalun Bumbung. Rumah mereka hancur. Bahkan sebagian besarnya rata dengan tanah. Namun mereka masih memberi dalam kesempitan.

“Kami ingin berbagi rezeki. Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah,” ungkap Oza, warga Sembalun yang juga relawan Sinergi Foundation.

Pagi itu, belasan mobil pick up bermuatan sayuran melaju menuju Lombok Utara. Lokasi terdampak parah gempa berkekuatan 7,0 Skala Richter. Pemuda Sembalun tampak berada di antara dus-dus sayuran.

Jarak yang ditempuh selama 3-4 jam itu sebenarnya sangat melelahkan. Tapi mereka tampak bahagia saat sampai di lokasi pengungsian.

Baca juga: Mengharukan, Pengungsi Lombok Timur Sumbangkan 45 Ton Sayuran ke Lombok Utara

Mereka turunkan satu persatu dus besar berisikan tomat, stroberi, dan makanan hasil panen lainnya. Pemandangan yang haru, saat pengungsi Desa Gangga, Lombok Utara, menerima sumbangan dari sesama pengungsi di Lombok Timur.

Sebelumnya, saat gempa pertama, pada 29 Juli 2018 berdampak di Lombok Timur, orang-orang dari Lombok Utara datang untuk memberikan bantuan. Kini, kebaikan itu berbalas. Ya, kebaikan akan selalu berbalas kebaikan.

Mereka pengungsi dan mereka berbagi. Mereka pengungsi dan mereka saling peduli. Itulah yang terus kami renungi. Hingga kami sadari, bahwa kami tengah belajar berbagi dari pengungsi.

Reporter: Hilman Indrawan | INA News Agency

4 Skenario Besar yang Akan Terjadi di Idlib dalam Waktu Dekat

SURIAH (Jurnalislam.com) – Hanya beberapa pekan setelah militer rezim Nushairiyah mencetak kemenangan di selatan, Presiden Bashar al-Assad tampaknya akan sepenuhnya membuka front baru, yang lebih kompleks, dalam perang negara yang sekarang berada di tahun kedelapan.

Provinsi Idlib di barat laut adalah benteng pertahanan terakhir faksi-faksi jihad dan oposisi bersenjata Suriah di negara itu. Saat ini Idlib adalah rumah bagi hampir tiga juta orang, separuh dari mereka adalah pengungsi internal, dan menutup jalan raya komersial utama yang menghubungkan Suriah ke Turki dan Yordania.

Selain berbagi perbatasan dengan Turki, Idlib berdekatan dengan provinsi Latakia, sebuah kubu rezim Suriah yang merupakan rumah bagi pangkalan militer terbesar sekutu utamanya, Rusia.

Baca juga: 

Pentingnya strategis Idlib membuat serangan yang dipimpin rezim Syiah Assad  akan segera terjadi, kata para ahli, dan jika Idlib direbut maka sebagian besar negara akan berada di bawah kendali Assad.

Namun, beberapa skenario dapat terungkap di Idlib, mengingat kehadiran langsung Turki yang mendukung kelompok oposisi bersenjata tertentu di daerah tersebut dan beroperasi sebagai kekuatan penjamin untuk memastikan “zona de-eskalasi” yang disepakati dengan sekutu Assad Rusia dan Iran pada pertemuan di Ibukota Kazakhstan, Astana.

Pengamat percaya bahwa serangan terhadap oposisi akan membuat Assad dengan menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi untuk pertama kalinya sejak 2015, ketika intervensi Rusia dalam perang Suriah membalikkan situasi menjadi menguntungkan rezim Syiah Assad.

Berikut adalah empat skenario yang paling banyak diharapkan.

Skenario A: Serangan penuh yang menghasilkan ‘pertumpahan darah’

Serangan habis-habisan oleh pasukan Syaih Assad terhadap faksi-faksi jihad / oposisi di Idlib adalah perkembangan yang paling mungkin, menurut para analis.

Mereka mengatakan serangan seperti itu akan serupa dengan serangan rezim baru-baru ini yang menargetkan wilayah-wilayah lain yang dikuasai oposisi, yang paling baru adalah di Deraa dan Ghouta Timur, meskipun mereka termasuk dalam “zona de-eskalasi” yang bertujuan untuk menopang gencatan senjata.

Di tengah serangan ganas, Rusia menengahi serangkaian kesepakatan agar para oposisi menyerah, hingga sebagian besar berangkat dengan keluarga mereka menuju Idlib, yang dijuluki sebagai “tempat pembuangan” bagi para pengungsi.

Dalam beberapa pekan terakhir, pasukan pemerintah mulai berkumpul di dekat Jisr al-Shughour, sebuah kota di tepi barat Idlib. Awal bulan ini, mereka meluncurkan tembakan artileri dan roket di daerah yang berdekatan dengan provinsi Hama, media setempat melaporkan.

Sebaliknya, faksi-faksi jihad atau oposisi utama di Idlib baru-baru ini mengumumkan pembentukan koalisi baru, dengan sekitar 70.000 pejuang berjanji untuk melawan pasukan Syiah Assad dan sekutunya.

Aliansi, yang dikenal sebagai aliansi Front Pembebasan Nasional, mencakup sekitar 11 kelompok Tentara Pembebasan Suriah (Free Syrian Army-FSA) yang didukung Turki. Tapi aliansi itu tidak termasuk Hayyat Tahrir al-Sham (HTS), yang dipimpin Jabhat Fath al Sham (JFS) yang saat ini menguasai sekitar 60 persen dari provinsi.

Di masa lalu, Rusia menyebut kehadiran HTS sebagai alasan untuk menyerang daerah di Idlib Suriah.

Baca juga: 

Serangan sporadis seperti itu telah mendorong ribuan warga sipil melarikan diri lebih dalam ke wilayah yang dikuasai oposisi atau ke tetangga Turki.

Warga bisa “melarikan diri lagi” dalam menghadapi serangan besar, Omar Kouch, seorang analis Suriah yang berbasis di Turki, mengatakan kepada Al Jazeera, Ahad (19/8/2019).

Eskalasi dan kekhawatiran baru-baru ini atas dorongan di lapangan mendorong PBB untuk memperingatkan bulan ini tentang kemungkinan “pertumpahan darah sipil”, dengan mengatakan bahwa serangan dapat mencabut sekitar 700.000 warga Suriah – jauh lebih banyak daripada jumlah orang yang mengungsi dalam serangan sebelumnya.

Situasi ini bisa sangat sulit bagi mereka yang menolak untuk tinggal di daerah yang dikuasai pemerintah.

Walaupun operasi sebelumnya berakhir dengan negosiasi transfer pejuang dan keluarga mereka ke utara, serangan Idlib akan membuat warga mendapatkan ultimatum; yaitu menyeberang ke Turki, jika Ankara mengizinkan, atau sekali lagi tetap hidup di bawah pengaruh langsung Assad.

“Setiap serangan di daerah barat laut, yang penuh sesak dengan orang-orang yang terlantar, kemungkinan akan sangat traumatis bagi warga sipil,” kata Aron Lund, seorang ahli Suriah dan rekan Century Foundation.

“Fakta bahwa para oposisi tidak akan keluar dan banyak dari mereka adalah pejuang militan Islam para jihadis, sehingga kemungkinan akan berjuang sampai akhir, akan memperburuk keadaan,” tambahnya.

Membombardir provinsi padat penduduk yang dipenuhi dengan zona sipil dan kamp pengungsian kemungkinan besar akan menjadi bencana besar, para ahli memperingatkan.

“Ini akan berubah menjadi pembantaian,” kata Kouch.

Skenario B: Turki mencegah serangan berskala besar

Turki telah menjadi tuan rumah lebih dari tiga juta pengungsi Suriah dan menutup perbatasannya dengan Suriah sejak tahun lalu, dan hanya memungkinkan aliran barang-barang bantuan kemanusiaan.

Pasukan Turki juga sekarang berbasis di daerah perbatasan Idlib, serta di Afrin dan Al Bab setelah melancarkan operasi militer terhadap pasukan Kurdi di utara Suriah.

Turki telah mencoba untuk menghindari serangan terhadap Idlib, terutama dengan memanfaatkan perjanjian yang disepakati melalui jalur diplomatik Astana untuk mempertahankan gencatan senjata abadi – dan mungkin berhasil melakukannya.

“Turki berusaha membangun pengaruh, meningkatkan tekanan, dan menawarkan bujukan untuk akhirnya mencabut dan membagi Hayyat Tahrir al-Sham, sehingga mereka dapat mengontrol politik Idlib,” Lund menjelaskan.

Baca juga: 

“Sama seperti mereka mengontrol Afrin dan wilayah Al Bab,” katanya.

Turki mengatakan alasan utamanya untuk mendukung pejuang FSA di Suriah adalah untuk memerangi kehadiran Unit Perlindungan Rakyat Kurdi – atau YPG – di timur laut. Ankara menganggap YPG sebagai bagian dari Partai Pekerja Kurdistan yang terlarang (PKK), yang telah melancarkan operasi bersenjata berdarah selama beberapa dasawarsa melawan negara Turki di bagian tenggara negara itu.

Ankara juga mempertahankan kehadirannya di Idlib untuk mencegah serangan darat di tengah harapan untuk memindahkan puluhan ribu pengungsi Suriah kembali ke rumah mereka.

Pada bulan Mei, sama seperti mencoba untuk menentukan nasib provinsi melalui pembicaraan diplomatik dan perlucutan senjata yang ditujukan untuk mencegah serangan rezim pemerintah, Turki menyiapkan 12 pos pengamatan di sepanjang daerah perbatasan Idlib.

Kehadiran Turki di utara Suriah membuat Rusia harus terlibat dalam beberapa tingkat diplomasi, Lund menjelaskan, karena serangan “tidak akan hanya menjadi masalah militer.”

“Perjanjian [de-eskalasi] Rusia-Turki dapat memblokir serangan pemerintah Suriah di barat laut … Tetapi bahkan jika demikian, itu bukan jaminan untuk tenang dan damai,” katanya.

“Bahkan jika dia tidak memiliki dukungan Rusia untuk serangan skala penuh, Assad masih bisa berusaha untuk mengambil alih daerah di sekitar tepi wilayah itu,” tambah Lund.

Serangan kecil semacam itu dapat diluncurkan untuk mendapatkan kembali konsesi khusus dari kelompok-kelompok oposisi seperti pertukaran tahanan atau penyeberangan perbatasan, termasuk Bab al-Hawa menyeberang perbatasan Turki-Suriah.

“Assad memahami keterbatasan kekuatannya dan tidak mungkin untuk melancarkan serangan militer tanpa pemahaman politik, yang ditengahi oleh Rusia, yang melibatkan Turki dan mungkin Kurdi,” kata Firas Maksad, direktur Yayasan Arab yang berbasis di AS, kepada Al Jazeera.

Didirikan pada tahun 2015 dan didukung oleh Amerika Serikat, wilayah kekuasaan Demokrat Suriah (SDF) Kurdi mengontrol wilayah timur Sungai Eufrat. Mereka telah berhasil menguasai bagian-bagian kunci Suriah timur laut, termasuk wilayah-wilayah yang menampung sebagian besar cadangan minyak dan gas negara itu.

Skenario C: Perdebatan Oposisi meningkat

Pejuang oposisi dapat membentuk front persatuan dalam menghadapi serangan pemerintah yang didukung Rusia, tetapi mereka juga dapat berbalik melawan satu sama lain – seperti yang telah terjadi sebelumnya.

“Fraksi oposisi dapat mencoba berbagai hal, mungkin ada pertikaian, dan pemerintah mungkin dapat menyerang daerah-daerah tertentu bahkan jika penaklukan kembali sepenuhnya tetap sulit dipahami,” kata Lund.

Meskipun mungkin ada konfrontasi antara HTS dan koalisi baru, Lund mengatakan anggota HTS juga bisa bertengkar satu sama lain, karena beberapa “lebih bersedia” bekerja dengan Turki daripada yang lain.

“Pertikaian ini mungkin bukan pertempuran besar, tetapi bisa berupa skirmising dan hanya tekanan militer,” kata Lund.

Dalam beberapa pekan terakhir, serangkaian “pembunuhan” memukul Idlib, di mana anggota HTS dibunuh oleh mantan afiliasi mereka. Serangan yang datang dalam bentuk tembakan artileri hidup adalah hasil pertikaian, terutama antara Ahrar al-Sham dan Nour al-Din al-Zinki – yang sebelumnya terkait dengan HTS.

Kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan FSA juga ditargetkan, menurut monitor perang yang berbasis di Inggris, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observatory for Human Rights).

HTS, kekuatan Idlib yang paling dominan, sebelumnya telah ditinggalkan dari resolusi gencatan senjata dan upaya de-eskalasi, dan pada tahun 2016 ditetapkan sebagai “kelompok teroris” oleh Rusia.

Dengan memisahkan diri dari al-Qaeda pada Juli 2016, HTS berusaha untuk menemukan kembali dirinya sebagai gerakan kelompok bersenjata nasionalis, berharap untuk mendapatkan pengakuan internasional atas sikapnya yang “lebih moderat”, menurut Ahmed Abazeid, seorang peneliti Suriah yang tinggal di Istanbul.

“HTS berhasil membangun kekuatan ekonomi di Idlib,” kata Abazeid kepada Al Jazeera. “Mereka mungkin mengejutkan semua pihak dan mengaktifkan koalisi Front Pembebasan Nasional,” katanya.

Abazeid mengatakan HTS tidak melihat perlunya bergabung dengan koalisi dengan sekutu yang lebih kecil, meskipun upaya Ankara memecah-belah dan mengintegrasikan kelompok itu dengan koalisi Turki.

Menurut Lund, tujuan Turki tidak akan menghapus HTS melainkan hanya melunakan HTS, menghilangkan sebagian besar “elemen anti-Turki” dan akhirnya bisa berkaloborasi dengan FSA.

Baca juga: Analisis: Turki Perhitungkan Kekuatan Hayat Tahrir al Sham di Idlib

FSA, entitas longgar kelompok oposisi yang terdiri dari pembelot tentara Suriah dan warga sipil biasa, telah berusaha menjatuhkan kekuatan Assad dan pemerintahannya sejak kebangkitan oposisian Suriah pada tahun 2011.

FSA sekarang di ambang kekalahan total dan telah lebih terfragmentasi menyusul serangan Ghouta dan Deraa dengan peningkatan pembelotan.

Kouch percaya “kesepakatan de-eskalasi” adalah rencana untuk mengusir oposisi FSA dari daerah-daerah yang berada di bawah kendali mereka.

Dia berpendapat membongkar FSA adalah bagian besar dari kesepakatan Rusia-Amerika, yang menjadi jelas ketika Washington memutuskan untuk menghentikan dukungan keuangan dan logistiknya bagi para oposisi di selatan ketika rezim pemerintah melancarkan serangannya terhadap oposisi di Deraa pada bulan Juni.

Skenario D: Oposisi menyerah

Akhirnya, dalam kasus penyerahan oposisi melalui kesepakatan yang diperantarai Rusia, seperti dalam kasus-kasus sebelumnya, ada kemungkinan bahwa kelompok-kelompok oposisi akan menyetujui persyaratan yang dikenakan pada mereka, kata Maksad, dari the Arabia Foundation.

Para oposisi yang menolak kesepakatan menyerah akan hidup diasingkan, baik di Turki atau di tempat lain, katanya.

Kelompok-kelompok oposisi, terutama koalisi, mungkin dipaksa menyerah karena tekanan dari Turki, yang ingin menghindari serangan, Abazeid memprediksi.

Dan dalam kasus HTS, hanya tersisa dua pilihan yang masuk akal, katanya lagi.

“Mereka akan bergabung dengan koalisi, dan dengan demikian bergabung bersama Turki, atau bergabung dengan mantan sekutu Jihad mereka [al-Qaeda],” tambah Abazeid, sebagian karena gagal mencapai pengakuan internasional yang diperlukan untuk membawanya secara politik.

Penyerahan diri seperti itu, dalam bentuk apa pun yang mungkin mereka lakukan, akan membuatnya semakin sulit untuk menerapkan solusi politik terhadap konflik yang berkepanjangan, menurut para analis.

“Transaksi politik seperti itu tidak pernah terjadi, dan tampaknya semakin tidak akan mungkin terjadi … Masih ada berbagai jenis perjanjian politik, tetapi mereka tidak mungkin melanggar kekuasaan Assad,” tambahnya.”Tidak akan ada transisi politik yang dirundingkan di Suriah,” kata Lund.

Reformasi politik, jika pernah dilaksanakan, akan membawa perubahan konstitusional yang dangkal dalam kenyataan yang didominasi oleh Assad, kata para ahli Al Jazeera.

“Tidak ada transisi politik, tetapi rekonstitusi aturan Assad dengan penerimaan internasional diam-diam,” kata Maksad.

Namun, blok oposisi politik utama tetap optimis terhadap solusi politik. Mereka bersikeras penghapusan Assad adalah prasyarat untuk perdamaian – tetapi mengakui bahwa “kekuatan nyata” terletak di tangan Rusia.

“Assad tidak memenangkan perang … Assad adalah alat yang digunakan oleh Rusia dan Iran,” Yahya al-Aridi, juru bicara untuk Komisi Negosiasi Suriah, mengatakan kepada Al Jazeera.

Baca juga: 

Ia percaya transaksi yang diperantarai oleh Rusia sebelumnya antara pemerintah dan kelompok oposisi, yang menyebabkan pemindahan paksa warga sipil bersama dengan pejuang dan keluarga mereka, adalah “bentuk ketundukan” terhadap otoritas militer Rusia di Suriah.

Tanpa menghiraukan skala potensi serangan yang dipimpin pemerintah di Idlib, penduduklah yang harus membayar harga tertinggi.

Lebih dari separuh penduduk provinsi mengungsi secara internal, tinggal di kamp-kamp informal dan tidak memiliki akses ke layanan kesehatan dasar , makanan dan air minum, menurut PBB.

Selama beberapa tahun, penduduk pribumi Idlib telah mengandalkan jasa HTS, yang mengenakan pajak atas air, listrik dan transportasi, Amar al-Daqaq, yang berasal dari selatan Damaskus, mengatakan kepada Al Jazeera dari Idlib.

Sambut Idul Adha, Presiden Afghanistan Ajukan Gencatan Senjata dengan Taliban

KABUL (Jurnalislam.com) –  Dalam perkembangan penting, Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani pada hari Ahad (19/8/2018) mengumumkan gencatan senjata bersyarat terhadap Taliban menjelang Idul Adha, sebuah Hari Raya Muslim, yang efektif mulai Senin, 20 Agustus.

Merujuk upacara untuk menandai Hari Kemerdekaan ke-99 Afghanistan di istana Darul Aman yang ikonik di Kabul, Ghani mengatakan gencatan senjata akan berlangsung selama tiga bulan asalkan Taliban juga menghormatinya.

Dia mengatakan keputusan telah dibuat setelah konsultasi luas dengan berbagai segmen masyarakat Afghanistan dan ulama Islam di seluruh dunia.

40 Pasukan Bentukan AS Tewas dalam Serangan Terbaru Taliban

“Ketika kita mendekati Idul Adha, dan untuk menghormati keinginan berbagai segmen masyarakat Afghanistan […] dan untuk menghormati keinginan para ulama dari dunia Islam yang berkumpul di masjid suci dan untuk menghormati keinginan dari Organisasi Kerjasama Islam dan penjaga dua masjid kudus, Raja Arab Saudi, kami mengumumkan gencatan senjata yang akan berlaku mulai besok, Senin, hari Arafah, sampai hari kelahiran nabi yaitu, Maulid al-Nabi, (19 November) asalkan Taliban juga mengikutinya,” kata presiden Afghanistan.

Dia melanjutkan dengan mengatakan gencatan senjata dapat diperpanjang selama Taliban memperpanjang gencatan senjata mereka.

Ghani mengatakan gencatan senjata memberi peluang bagi pemerintah Afghanistan untuk melaksanakan pembangunan dan reformasi yang diprakarsai oleh mendiang Raja Ghazi Shah Amanullah Khan.

Presiden menyerukan kepemimpinan Taliban untuk menyambut keinginan warga Afghanistan untuk perdamaian abadi dan nyata, dan bersiap-siap untuk pembicaraan damai berdasarkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam.

17 Tahun Perang Gak Kelar-kelar, AS Akan Negosiasi Lansung dengan Taliban

“Pemerintah Afghanistan telah menghilangkan semua rintangan untuk perdamaian yang bertahan lama melalui langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tambahnya.

Jens Stoltenberg, sekretaris jenderal NATO, menyambut langkah itu. “Saya mendorong Taliban untuk menunjukkan kepedulian mereka terhadap warga Afghanistan dengan menghormati itu,” dia tweeted.

Pakistan juga menyambut baik pernyataan gencatan senjata itu.

“Pakistan mendukung penuh semua upaya yang berkontribusi untuk mencapai stabilitas yang tahan lama dan perdamaian abadi di Afghanistan. Rakyat Afghanistan layak menerimanya. Bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Afghanistan, pengumuman itu memiliki arti yang lebih penting,” kata Kantor Luar Negeri Pakistan dalam sebuah pernyataan.

“Kami juga menyerukan kepada semua pihak yang membela tradisi suci pengorbanan selama Idul Adha untuk melaksanakan gencatan senjata dalam permusuhan – lebih disukai untuk jangka waktu yang lebih lama,” tambah pernyataan itu.

Rayakan Idul Adha dengan Keluarga, 47.000 Warga Suriah Tinggalkan Turki

HATAY (Jurnalislam.com) – Sebanyak 47.000 lebih warga Suriah telah meninggalkan Turki untuk merayakan Hari Raya Idul Adha dengan keluarga mereka di Suriah.

Warga Suriah kembali ke negara mereka melalui gerbang perbatasan di provinsi Hatay, Turki selatan, kata koresponden Anadolu Agency, Senin (20/8/2018).

Pada awalnya, mereka membuat janji melalui internet, lalu mereka meninggalkan Turki setelah menunjukkan paspor dan dokumen resmi lainnya di gerbang perbatasan.

Mereka akan mulai kembali ke Turki mulai 27 Agustus.

Erdogan pada Putin: Jika Rezim Suriah Maju ke Idlib, Kesepatan Damai Batal

Hari Raya Idul Adha tahun ini diperkirakan akan dirayakan pada 21 Agustus.

Pada hari Sabtu, dilaporkan bahwa lebih dari 35.000 warga Suriah, termasuk anak-anak, telah meninggalkan Turki sejak awal Agustus melalui Gerbang Perbatasan Oncupinar di provinsi tenggara Kilis.

Qasim al-Qasim, seorang pejabat di gerbang perbatasan sisi Suriah, mengatakan kepada Anadolu Agency pada hari Sabtu bahwa 35.840 warga Suriah kembali ke negara mereka untuk merayakan Idul Adha.

Dalam 6 Bulan Rezim Syiah Assad dan Rusia Bunuh 1.793 Warga Sipil Suriah

Qasim mencatat bahwa perdamaian telah kembali di wilayah itu setelah operasi kontra-teror Turki di Suriah barat laut.

Warga Suriah, yang menggunakan gerbang perbatasan di provinsi Kilis, akan mulai kembali ke Turki mulai 3 September, tambahnya.

Gempa Bertubi-tubi, Ansharusyariah Ajak Semua Pihak Muhasabah dan Bertaubat

Muhasabah dengan sebaik-baiknya karena sesungguhnya setiap musibah itu ada hikmah di balik setiap kejadiannya

SOLO (Jurnalislam.com) – Gempa dengan skala 7,0 magnitudo kembali mengguncang wilayah Lombok dan sekitarnya pada Ahad (19/8/2018) sekitar pukul 21.56 WIB. Ini adalah gempa terbesar kedua setelah pada 5 Agustus lalu, gempa 7,0 skala richter juga melanda wilayah ini.

BMKG menjelaskan, gempa 7,0 SR tadi malam merupakan aktivitas baru yang berbeda dengan gempa sebelumnya. Tercatat lebih dari enam kali gempa susulan dengan skala lebih kecil terjadi pada hari Ahad (19/8/2018) kemarin.

Juru bicara Jamaah Ansharusy Syariah, Abdul Rochim Ba’asyir

Setiap muslim meyakini bahwa segala peristiwa terjadi atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Termasuk gempa bumi di Lombok yang telah merenggut ratusan jiwa dan memporak-porandakan wilayah tersebut.

Oleh sebab itu, umat Islam harus memetik hikmah di balik kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan bangsa ini dengan berbagai musibah.

“Kita sebagai orang-orang mukminin seharusnya menjadikan ini sebagai i’tibar (mengambil pelajaran-red). Sangat disayangkan apabila kejadian ini dimaknai sebagai peristiwa alam semata,” kata Juru bicara Jamaah Ansharusy Syariah, Ustadz Abdul Rochim Ba’asyir kepada Jurnalislam.com, Senin (20/8/2018).

Baca juga : Pengungsi Lombok Harap Setiap Masjid Gelar Shalat Taubat

Ustadz Iim juga mengajak semua pihak untuk bermuhasabah dan bertaubat atas segala dosa dan maksiat yang dilakukan hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menegur bangsa ini dengan berbagai musibah.

“Muhasabah dengan sebaik-baiknya karena sesungguhnya setiap musibah itu ada hikmah di balik setiap kejadiannya. Siapa tahu mungkin karena dosa-dosa yang banyak terjadi sehingga Allah sedang menegur kita,” kata dia.

“Khususnya kepada masyarakat Lombok, kami mengimbau para ulama di sana untuk mengajak secara masif kepada seluruh masyarakat NTB, kalau perlu untuk melakukan shalat taubat,” sambungnya.

Ia juga mengajak umat Islam untuk membantu masyarakat terdampak gempa di Lombok dengan segenap kemampuan, termasuk mendonasikan harta dan memanjatkan doa.

Laporan Terbaru: 24.000 Muslim Rohingya Dibunuh Pasukan Myanmar

LONDON (Jurnalislam.com) – Lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh pasukan pemerintah Myanmar sejak Agustus 2017, menurut laporan baru, Anadolu Agency melaporkan, Ahad (19/8/2018).

Angka-angka itu terungkap dalam laporan – Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tidak Terungkap (Forced Migration of Rohingya: The Untold Experience) – dirilis oleh Badan Pembangunan Internasional Ontario (the Ontario International Development Agency), yang melibatkan para peneliti dan organisasi dari Australia, Bangladesh, Kanada, Norwegia dan Filipina.

Pengungsi Muslim Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh dari Myanmar mengatakan lebih dari 40.000 warga Rohingya menderita luka tembak, kata laporan itu.

Penelitian ini menyatakan perkiraan jumlah Rohingya yang terbunuh hingga 23.962 (± 881) dari jumlah yang diberikan Doctors Without Borders sebelumnya yaitu sebanyak 9.400.

Lebih dari 34.000 orang ditembak dan lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, menurut penelitian.

Ia juga mengatakan 17.718 (± 780) wanita dan gadis Rohingya diperkosa saat tentara Myanmar dan polisi secara sistematis menargetkan kelompok yang paling teraniaya di dunia tersebut.

Baca juga: Ternyata Pembantaian Muslim Rohingya Direncanakan Myanmar, Begini Laporannya

Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 115.000 rumah-rumah Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak.

Laporan sebelumnya oleh Doctors Without Borders mengatakan sedikitnya 9.400 warga Rohingya tewas di Rakhine dari 25 Agustus hingga 24 September tahun lalu.

Kelompok kemanusiaan mengatakan jumlah itu termasuk 730 anak-anak di bawah usia 5 tahun.

Studi baru memberi bukti contoh kebrutalan oleh tentara Myanmar dan perlakuan tidak manusiawi terhadap minoritas Rohingya.

Salah satu kasus paling mengganggu yang dilaporkan oleh kelompok studi itu adalah kisah seorang wanita Rohingya berusia 21 tahun, Hasina Begum yang “cukup beruntung untuk dapat bertahan hidup dan melarikan diri ke Bangladesh.”

Di desanya Tolatuli (Moungdaw), Begum mendengar suara tembakan dan melihat militer membakar desanya dan membunuh orang. Dia dan keluarganya, bersama dengan yang lain, berlindung di tepi sungai tetapi personil tentara mengepung mereka dan mulai menembak, menewaskan 50-60 orang dalam rentetan tembakan pertama.

Beberapa dari mereka melompat ke sungai tetapi hanya beberapa yang selamat.

Baca juga: Petinggi PBB: Muslim Rohingya Tidak Mungkin Kembali ke Myanmar, Ini Alasannya

Tentara membunuh semua orang dalam empat hingga lima jam ke depan dan membakar tubuh mereka dengan lubang yang digali di tanah. Para anggota tentara kemudian mengambil bayi Begum yang berusia empat bulan dan melemparkannya ke dalam api yang menyala.

Para prajurit Myanmar memperkosa wanita muda, termasuk Begum, sebelum membakar bangunan tempat mereka berada sebelumnya lalu pergi.

Begum dan adik iparnya kemudian berhasil mencapai perbatasan Bangladesh-Myanmar dalam beberapa hari berikutnya.

Sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras terhadap komunitas Muslim minoritas tersebut, menurut Amnesty International.

Lebih dari 40 persen pengungsi Rohingya berada di bawah usia 12 tahun, menurut PBB dan banyak lainnya adalah orang lanjut usia yang membutuhkan bantuan dan perlindungan tambahan.

Permukiman di Kutupalong dan Nayapara di distrik Cox’s Bazar di Bangladesh menampung hampir semua pengungsi yang datang dari Myanmar.

Baca juga: Aung San Suu Kyi Dinobatkan sebagai Tokoh Nomor 1 Islamophobia Dunia

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kaum Muslim yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat sejak ratusan  orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, mutilasi, dan penghilangan yang dilakukan oleh pasukan Budha Myanmar.

Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut bisa dianggap sebagai kejahatan berat terhadap kemanusiaan.

Innalillahi, Lombok Kembali Diguncang Gempa 7 SR

LOMBOK (Jurnalislam.com) – Gempa dengan kekuatan 7 magnitudo kembali mengguncang Lombok, Ahad (19/8/2018) pukul 21.56 WIB. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam twitternya menyatakan, gempa tersebut tidak berpotensi tsunami

“Magnitude: 7.0, 19-Aug-2018 Pkl. 21:56:27 WIB, Lokasi: 8.28 LS 116.71 BT (30 km TimurLaut LOMBOKTIMUR-NTB), Kedalaman: 10 Km, TIDAK berpotensi TSUNAMI,” tulis akun twitter @infoBMKG

Dalam pantauan reporter Jurnalislam.com di lapangan, warga yang sedang beristirahat sempat panik dan berlarian keluar tenda.

Berikut video singkat hasil rekaman relawan Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) di Dusun Karang Jurang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara.

Warga masih berada di luar tenda karena gempa susulan dengan skala lebih kecil masih terjadi hingga saat ini. Tercatat sudah 3 kali gempa susulan dengan magnitude 5,6 dan 5,8 skala richter.

Laa Hawla wa Laa Quwwata illa Billah..

Reporter: Ridwan Abdullah