Ali Ngabalin Sebut #2019GantiPresiden Makar, Begini Penjelasan Pakar

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Beberapa waktu lalu, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mocthar Ngabalin mengatakan #2019GantiPresiden adalah gerakan melawan hukum. Bahkan ia menyebutnya sebagai gerakan makar yang ingin menggulingkan pemerintahan yang sah.

Menurut politisi yang baru diangkat sebagai Komisaris Angkasa Pura I itu, #2019GantiPresiden bermakna bahwa pukul 00.00 tanggal 1 Januari tahun 2019 presiden harus diganti. Oleh sebab itu, ia menyimpulkan gerakan #2019GantiPresiden adalah gerakan makar dan inskonstitusional.

Tak sampai disitu, lebih tegas lagi, Ngabalin menuding #2019GantiPresiden sebagai gerakan pengacau keamanan negara yang harus dibubarkan.

Pakar hukum tata negara, Prof. Dr. Asep Warlan Yusuf membantah keras pernyataan tersebut. Menurut Prof Asep, gerakan #2019GantiPresiden adalah gerakan konstitusional yang dilindungi undang-undang. Di dalamnya tidak ada agenda untuk mengganti presiden melalui jalur inkonstitusional.

“Jadi aneh kalau ada yang mengatakan, sejak januari itu sudah berlaku ganti presiden di luar pemilu, itu hanya kedangkalan cara menafsirkan dan cara memahami fakta itu,” kata Prof Asep saat dihubungi Jurnalislam.com, Selasa (4/9/2018).

Ali Mochtar Ngabalin dan Presiden Joko Widodo

Menurut Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Parahyangan Bandung ini, para tokoh dan aktivis gerakan #2019GantiPresiden menginginkan pergantian presiden melalui pemilu yang sah, yaitu pada 17 April 2019 nanti. Tidak ada indikasi dan bukti yang mengarah ke arah inskonstusional.

“Coba tanya kepada mereka yang melakukan deklarasi, tanya kepada tokoh-tokohnya, ada tidak mereka yang bermotivasi untuk inkonstitusional dalam cara mengganti presiden, dugaan kuatnya tidak ada. Mereka ingin pemilu yang sah, yang sesuai aturan, itu kemudian harapannya, ya ganti presiden itu,” paparnya.

Tapi konsekwensinya, lanjut Asep, jika presiden petahana menang lagi, maka pendukung #2019GantiPresiden harus menerimanya dengan lapang dada. Begitu sebaliknya jika petahana kalah.

“Jika begitu kan negara demokrasi yang berkeadaban, demokrasi yang professional,” tukasnya.

Asep menjelaskan, #2019GantiPresiden adalah peristiwa politik yang harus disikapi dengan politik. Oleh sebab itu, ia menyayangkan jika ada pihak yang justru membawanya ke ranah hukum.

“Saya agak heran cara menyikapi tata cara hukum, seolah-olah ini peristiwa hukum, padahal ini peristiwa politik yang harus disikapi dengan politik juga, bukan dengan cara dibawa-bawa ke ranah hukum,” jelasnya.

“Coba kita lihat Bawaslu, KPU, menyatakan bahwa itu tidak ada hubungannya, tidak ada kaitannya dengan persoalan kampanye,” sambungnya.

Ia menambahkan, gerakan #2019GantiPresiden tidak pernah menyosialisasikan program-program paslon tertentu apalagi menyebut nama calon.

“Jadi tidak murni kualifikasi kampanye, jangan dilanggar. Undang-undang pemilu kan sudah menjelaskan,” kata Asep

Menurutnya, gerakan #2019GantiPresiden adalah soal hak menyampaikan pendapat yang dilindungi konstitusi, tidak ada pelanggaran hukum disana.

Ia juga merasa heran ada pihak yang menyebut #2019GantiPresiden adalah ujaran kebencian.

“Coba kalau ada kalimat kepada orang. Kalau kita lihat dari rumusannya tindak pidana ujaran kebencian, tidak pada orang, tidak pada institusi. Bahkan yang lebih na’if lagi, mengatakan sejak pukul 00.00 tahun 2019 itu dianggap ganti presiden, kok dangkal banget cara menerjemahkan itu,” pungkasnya.

Kecam Intimidasi terhadap UAS, Alumni Al Azhar : Beliau Berpaham Aswaja

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Indonesia menyatakan sikap atas adanya intimidasi terhadap salah seorang alumni Al Azhar, Ustaz Abdul Somad yang membatalkan sejumlah kajiannya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sebelumnya, melalui instagram Ustaz Abdul Somad (UAS) menyebut ada beberapa ancaman dan intimidasi terhadap ceramahnya yang akan digelar di Grobogan, Kudus, Jepara dan Semarang.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Jurnalislam.com, Ketua OIAA Indonesia TGB M Zainul Majdi dan Sekjen Muchlis Hanafi menyatakan bahwa sejumlah tuduhan kepada UAS adalah tidak benar.

Ikatan Alumni Al Azhar menegaskan bahwa Ustaz Abdul Somad merupakan salah satu putra terbaik bangsa Indonesia sekaligus Alumni Universitas Al Azhar Mesir.

“Dalam menjalankan dakwahnya, Ustaz Abdul Somad sama seperti Alumni Al Azhar lainnya yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang benar sesuai paham Ahlusunnah wal jamaah dengan selalu mengedepankan semangat wasathiyah al-Islam (moderasi Islam),” katanya.

Menurut OIAA Indonesia, ceramah UAS selama ini memberikan pemahaman tentang kebangsaan dan keindonesiaan. Tak hanya itu, UAS juga disebut telah berdakwah hingga pelosok.

“Dilihat dari persepektif apapun, UAS sudah terbukti berjasa dalam mengukuhkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai persatuan dan persaudaraan bangsa, di samping mengukuhkan nilai-nilai keislaman yang benar,” ujar OIAA Indonesia.

OIAA Indonesia juga  mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga persatuan, menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan dan kebhinekaan serta mengedepankan persaudaraan Islam demi menciptakan kehidupan berbangsa dan bernengara yang lebih kondusif.

“Kita tidak perlu memberi ruang sekecil apapun terhadap tindakan intimidasi, teror dan tuduhan yang tidak berdasar.,” pungkasnya.

 

Diduga Ingin Menikam, Seorang Pemuda Palestina Ditembak Mati Pasukan Zionis

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Pasukan penjajah Israel telah menembak mati seorang pria Palestina setelah ia diduga mencoba menikam seorang tentara di sebuah pos pemeriksaan dekat pintu masuk pemukiman ilegal di kota Hebron, Tepi Barat yang diduduki, menurut militer Israel.

Kementerian kesehatan Palestina menegaskan bahwa Wael Abdulfattah al-Jaabari yang berusia 28 tahun meninggal pada hari Senin (3/9/2018) pintu masuk Kiryat Arba, sebuah pemukiman illegal zionis Yahudi di pinggiran timur Hebron, kota terpadat di Tepi Barat, lansir Aljazeera.

Tidak ada orang Israel yang terluka.

Sebuah ambulans Bulan Sabit Merah Palestina (Palestinian Red Crescent) dicegat oleh tentara Israel yang memblokir daerah itu sehingga tidak bisa mencapai tempat kejadian, media setempat melaporkan.

Baca juga: 

Kiryat Arba adalah rumah bagi ratusan pemukim illegal Yahudi yang tinggal dengan penjagaan ketat tentara dan berada di antara beberapa ratus ribu orang Palestina.

Pemukiman dianggap ilegal menurut hukum internasional dan merupakan titik pelik utama bagi upaya perdamaian antara Israel dan Palestina.

“Seorang penyerang Palestina mendekati seorang pasukan keamanan Israel yang menyeberang dekat Kiryat Arba … dengan pisau di tangannya. Sebagai tanggapan, pasukan IDF menetralkan (membunuh) si penyerang,” klaim militer Israel dalam sebuah pernyataan.

Video dari tempat kejadian yang beredar di media berita lokal dan media sosial menunjukkan al-Jaabari terbaring di lantai, tubuhnya berlumuran darah dan dikelilingi oleh tentara dan pemukim  Israel.

Baca juga: 

Satu video beredar, menunjukkan pasukan Israel membungkus tubuh pria berusia 28-tahun tersebut dengan kantong plastik hitam.

Menurut saksi, jenazahnya kemudian dimasukkan ke dalam kendaraan militer yang meninggalkan lokasi itu ke lokasi yang tidak diketahui, lapor kantor berita Maan.

Al-Jaabari selamat oleh istri dan dua anaknya, yang rumahnya dilaporkan terletak sekitar 15 meter dari pintu masuk permukiman.

Baca juga: 

Sejumlah kelompok hak asasi manusia lokal dan internasional telah menyuarakan keprihatinan mereka bahwa pasukan penjajah Israel telah menerapkan kebijakan “tembak-untuk-membunuh” ketika menghadapi warga Palestina.

Polisi Israel melonggarkan peraturan tembak ditempat pada bulan Desember 2015, mengizinkan tentara untuk melepaskan tembakan dengan peluru tajam, terhadap para pelempar batu atau bom molotov sebagai pilihan awal, tanpa harus menggunakan senjata yang tidak mematikan terlebih dahulu.

Bongkar Pembantaian Muslim Rohingya, Wartawan Reuter Ini Divonis 7 Tahun Penjara

YANGON (Jurnalislam.com) – Pengadilan Myanmar pada hari Senin (3/9/2018) memvonis dua wartawan kantor berita Reuters tujuh tahun penjara karena penyelidikan atas pembunuhan warga Muslim Rohingya yang dilakukan oleh polisi dan tentara Myanmar.

Wa Lone, 32, dan Kyaw Soe Oo, 28, dituduh melanggar Undang-Undang Rahasia Resmi, yang menetapkan hukuman maksimal 14 tahun penjara selama investigasi atas pembunuhan 10 pria Rohingya di negara bagian Rakhine barat.

Hakim Ye Lwin dari Pengadilan Distrik Utara di Yangon mengatakan, setiap jurnalis dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara karena mereka dinyatakan bersalah mendapatkan dan memiliki dokumen rahasia yang mungkin ditransfer ke kelompok-kelompok pemberontak yang berperang melawan pemerintah.

Baca juga:

Wa Lone mengatakan keputusan itu tidak adil.

“Kami tidak melakukan kesalahan apa pun, dan kami tidak takut. Kami masih percaya pada demokrasi dan kebebasan berbicara,” kata Wa Lone, lansir Anadolu Agency.

“Kami akan berjuang untuk keadilan sampai akhir,” katanya.

Pengacara pembela Than Zaw Aung mengatakan keputusan itu tidak adil. “Kami akan melakukan semua upaya secara hukum.”

Kedutaan Amerika Serikat, setelah putusan bersalah, menyerukan kepada Myanmar agar segera membebaskan para wartawan, dengan mengatakan itu adalah “kemunduran besar” bagi Pemerintah Myanmar yang menyatakan bahwa tujuan negara mereka adalah untuk memperluas kebebasan demokratis.

Baca juga: 

“Cacat yang jelas dalam kasus ini menimbulkan keprihatinan serius tentang aturan hukum dan independensi peradilan di Myanmar,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Perancis juga mengecam hukuman tersebut dan menegaskan kembali seruannya untuk pembebasan dua jurnalis yang dipenjara, serta memungkinkan akses bebas media di Rakhine.

“Perancis menegaskan kembali komitmennya yang terus-menerus terhadap kebebasan pers dan kebebasan berekspresi, dan penghormatan atas kebebasan ini merupakan landasan masyarakat demokrasi,” kata Kementerian Luar Negeri Perancis dalam sebuah pernyataan.

Jerman dengan tajam mengkritik keputusan pengadilan, dengan Komisaris Hak Asasi Manusia pemerintah Baerbel Kofler mengatakan bahwa itu adalah “pukulan serius” yang menekan kebebasan di Myanmar.

“Kedua wartawan itu dinyatakan bersalah melakukan pengkhianatan berdasarkan hukum dari era kolonial. Mereka tidak melakukan apa pun selain mengejar kebenaran di Rakhine (negara bagian),” katanya dalam sebuah pernyataan.

Keputusan itu juga mengundang kecaman dari kelompok-kelompok hak asasi lokal dan internasional.

Human Rights Watch yang bermarkas di New York mengatakan hukuman itu menandai “kemunduran baru untuk kebebasan pers dan kemunduran lebih lanjut untuk hak-hak” di bawah pemerintah yang dipimpin oleh Penasihat Negara Aung San Suu Kyi, yang dituduh gagal menghentikan kekejaman militer pada Muslim Rohingya.

“Hukuman berat terhadap wartawan Reuters menunjukkan kesediaan pengadilan Myanmar untuk memberangus mereka yang melaporkan kekejaman militer,” kata direktur HRW Asia Brad Adams.

Setelah penangkapan mereka, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo ditahan tanpa komunikasi selama dua pekan, dimana mereka dilarang tidur dan dipaksa berlutut selama berjam-jam selama interogasi, menurut para wartawan dan pengacara mereka.

Baca juga: Laporan Terbaru: 24.000 Muslim Rohingya Dibunuh Pasukan Myanmar

“Hukuman ini tidak akan menyembunyikan kengerian yang dialami Rohingya dari dunia,” kata Adams.

“Mereka hanya mengungkapkan keadaan bebas berbicara di negara dan kebutuhan tindakan internasional yang mendesak untuk membebaskan jurnalis ini.”

Reporters Without Borders (RSF) juga mengutuk keputusan itu dan menegaskan kembali seruannya untuk segera membebaskan para wartawan.

“Hukuman bagi Kyaw Soe Oo dan Wa Lone adalah pukulan berat yang menekan kebebasan di Myanmar,” kata Sekretaris Jenderal RSF Christophe Deloire dalam sebuah pernyataan.

“Karena sistem peradilan dengan jelas mengikuti perintah dalam kasus ini, kami meminta pejabat paling senior di negara itu, dimulai dengan pemimpin pemerintah Aung San Suu Kyi, untuk membebaskan para jurnalis ini, yang kejahatannya adalah hanya karena mereka melakukan tugasnya. Setelah tuntutan yang menggelikan, putusan keterlaluan ini jelas mempertanyakan transisi Myanmar ke arah demokrasi, ”tambahnya.

Jaringan Hak Asasi Manusia Burma (Burma Human Rights Network-BHRN) yang berbasis di London juga mengutuk hukuman bagi kedua jurnalis Reuters tersebut, mengatakan bahwa itu menandakan “kegagalan lain administrasi the National League for Democracy untuk melindungi hak asasi manusia dan kebebasan pers di Burma.”

“… dan sangat kontras dengan impunitas yang dinikmati oleh militer atas kejahatan yang diekspos oleh para wartawan ini,” pernyataan yang diterbitkan Senin itu menambahkan.

Jerman Ajak Masyarakat Dunia Cegah Bencana Kemanusiaan di Idlib

BERLIN (Jurnalislam.com) – Jerman mendesak masyarakat internasional untuk bertindak melawan bencana kemanusiaan di provinsi Idlib di Suriah di tengah laporan tentang potensi serangan militer oleh pasukan rezim Syiah Nushairiyah Assad.

“Kami akan melakukan segalanya untuk mencegah bencana kemanusiaan di Idlib,” Menteri Luar Negeri Heiko Maas mengatakan pada konferensi pers di Berlin pada hari Senin (3/9/2018), Anadolu Agency melaporkan.

Menlu Jerman, Negeri Heiko Maas
Menlu Jerman, Negeri Heiko Maas

Baca juga: 

“Ini akan menjadi salah satu topik utama selama kunjungan saya ke Turki pada hari Rabu dan Kamis,” tambahnya.

Terletak di dekat perbatasan Turki, Idlib adalah rumah bagi lebih dari 3 juta orang Suriah, banyak di antaranya melarikan diri dari kota-kota lain yang diserang oleh pasukan rezim Assad.

Baca juga: 

“Kami telah menyaksikan kebrutalan rezim Assad di masa lalu … itu adalah situasi yang sangat, sangat serius,” kata Maas.

Dia juga memperingatkan bahwa eskalasi militer akan sangat merusak upaya yang sedang berlangsung untuk solusi politik atas perang saudara tujuh tahun di Suriah.

Pejuang Idlib, Hayat Tahrir al Sham
Pejuang Idlib, Hayat Tahrir al Sham

Erdogan Ajak Perdagangan Dunia Tidak Ketergantungan pada Dolar AS

TURKI (Jurnalislam.com) – Ketergantungan perdagangan internasional pada dolar AS harus diturunkan karena menjadi kendala bagi Turki, kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Senin (3/9/2018).

“Kami mengusulkan untuk memperdagangkan mata uang kami sendiri daripada dolar AS,” kata Erdogan pada KTT Dewan Turki ke-6 di Pusat Kebudayaan Rukh Ordo di Kyrgyzstan, lansir Anadolu Agency.

Pemimpin Turki itu mengatakan Turki dan negara-negara sahabatnya tidak boleh menunda memerangi Organisasi Teror Fetullah (FETO).

FETO dan pemimpinnya di AS, Fetullah Gulen mengatur kudeta yang kalah pada 15 Juli 2016, yang menyebabkan 251 orang menjadi martir dan hampir 2.200 orang terluka.

Baca juga: 

Ankara juga mengatakan FETO berada di belakang operasi jangka panjang untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi institusi Turki, khususnya militer, polisi, dan peradilan.

Erdogan menambahkan bahwa organisasi teroris itu juga telah membentuk struktur organisasi dengan mendirikan institusi pendidikan di seluruh dunia dan juga di Turki.

KTT ini diselenggarakan oleh Presiden Kyrgyzstan Sooronbay Jeenbekov di Pusat Kebudayaan Rukh Ordo.

Selain presiden Turki, Azerbaijan, Kazakhstan, dan Uzbekistan, perdana menteri Hongaria juga berpartisipasi dalam acara ini sebagai pengamat.

Pemuda Muhammadiyah Sayangkan Ada Pihak Intimidasi Ustaz Abdul Somad

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengurus Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah ikut menanggapi pembatalan agenda ceramah Ustaz Abdul Somad (UAS) di beberapa kota di Jateng dan Jatim. Dijelaskan UAS dalam akun instagramnya, pembatalan itu disebabkan oleh adanya intimidasi dan ancaman apabila UAS tetap hadir menyampaikan ceramah di kota-kota tersebut.

Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah, Pedri Kasman menegaskan, intimidasi terhadap UAS merupakan bukti kemunduran dalam kehidupan berbangsa.

“Ini praktek intoleransi yang mengancam persatuan,” katanya kepada Jurnalislam.com, Senin (3/9/2018).

Menurutnya, pihak-pihak yang tidak setuju dengan ceramah UAS sebaiknya melakukan dialog yang bermartabat. Jangan main persekusi.

Selain itu, harusnya pihak-pihak tersebut sebaiknya juga memberikan model ceramah alternatif yang disenangi umat.

“Jadi berfastabiqul khairat saja. jangan merasa benar sendiri dan secara telanjang membunuh akal sehat,” pungkasnya.

Bulan ini, UAS dijadwalkan mengisi ceramah diMalang, Solo, Boyolali, Jombang, dan Kediri. Sementara di Oktober, membatalkan ceramahnya di Yogyakarta. Sedangkan di Desember, janji dengan Ustaz Zulfikar di daerah Jawa Timur.

Islamic Leadership Academy Kelima Digelar di AQL

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Islamic Leadership Academy (ILA) yang kelima resmi dibuka oleh Dewan Pembina Young Islamic Leaders, KH Bachtiar Nasir, di gedung Arrohman Quranic Learning Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Ahad (2/9/2018).

UBN mengungkapkan, ILA yang kelima ini adalah kelanjutan dari program Young Islamic Leader, sebuah sayap organisasi di bawah AQL yang fokus kepada proses kaderisasi kepemimpinan yang lebih profesional dan lebih maju.

“ILA ini diperuntukkan khususnya kepada usia muda yang produktif, dan alhamdulillah Tim Penyelenggara menangani ini dengan serius dan mengundang narator dan para narasumber yang kompeten di bidangnya,” ungkap UBN di gedung AQL, Tebet, Jakarta Selatan, Ahad (2/9/2018) malam.

Mantan Ketua GNPF Ulama ini juga mengatakan bahwa peserta ILA ini luarbiasa, ada peserta yang datang dari berbagai daerah datang hanya untuk mengikuti kaderisasi ini.

“Di dalamnya saya masukkan juga beberapa unit dari AQL yang nantinya akan membantu pelatihan ini. Kaderisasi ini berbayar, untuk internalisasi mereka dan ini juga gak terlalu mahal, karena tempat kita sendiri,” tukasnya.

Abdurrahman Rasyid, Wakil Ketua Umum Young Islamic Leader. Mengungkapkan bahwa ILA adalah organisasi kepemudaan yang bertujuan mencetak kader pemimpin muda yang memiliki wawasan, baik secara keagamaan maupun ilmu global, seperti ekonomi, teknologi, wirausaha dan politik.

“Jadi memang bukan hanya sisi agamanya saja, tapi juga dari sisi globalnya kita coba sampaikan. Ada juga pelatihan skill kepemimpinan,” ungkapnya usai peluncuran ILA kelima ini.

“Di sini nantinya akan ada semacam pemaparan materi di dalam kelas di bidangnya masing-masing dan kemudian ada tanya jawab, yang endingnya nanti adalah bagaimana mengimplementasikan ilmu-ilmu tersebut di masyarakat,” lanjutnya.

Rasyid mengungkapkan salah satu materi yang akan disampaikan adalah metode pengaplikasian dari ilmu yang telah disampaikan. Menurutnya, nanti akan ada program Praktek Kerja Juang, sehingga ilmu yang sudah didapatkan kemudian diimplementasikan dan nantinya juga akan dipresentasikan, seperti apa dan sejauh mana manfaat dari pelatihan di kelas ini.

ILA kelima ini diadakan dari bulan September sampai pertengahan November, dan kelas akan diadakan pertemuan setiap akhir pekan, namun bukan hanya di kelas, akan ada juga outingclass seperti outbond yang terkait dengan kerjasama, saling menunjukkan skill kepemimpinan dan memberikan keputusan dalam waktu cepat. Rasyid mengungkapkan, ILA kelima ini kurang lebih akan ada 18 pertemuan.

“Output yang jadi ILA, yang ada sampai saat ini, ada beberapa temen kita yang sudah mengimplementasikan ilmu dari ILA ini. Ada sahabat kita dari ILA satu, mbak Serly, dari materi yang ia dapat, bisa ia sampaikan dalam ajang di televisi. Itu salah satu trobosan, bisa mengenalkan konsep-konsep yang ditawarkan seorang pemimpin yang bukan hanya secara global, secara ekonomi bisnis, tapi juga dalam sisi keagamaanya,” ungkapnya.

Peserta Islamic Leadersiip Academy

Rasyid mengungkapkan sasaran peserta adalah anak muda yang memiliki potensi, baik dari keilmuannya maupun dari potensi strategis, posisi di lingkungan masyarakat.

“Ketika mereka sudah mendapatkan ilmu dan mendapatkan posisi yang lebih strategis, mereka dapat mengimplementasikan ilmunya dengan baik,” ungkapnya.

Terkait dengan usia peserta, Rasyid mengungkapkan bahwa usia yang disasar adalah pemuda dan pemudi produktif, berkisar antara umur 25 hingga 40 tahun.

“Ada penyaringan juga di awal, bukan sekedar mendaftar, tapi ada proses interview, seleksi di tahap awal, sejauh mana wawasan teman-teman pendaftar dan seberapa kuat niat mereka untuk menuntut ilmu,” ungkapnya.

ILA kelima ini, sebut Rasyid ada sekitar 54 orang, dengan rincian 50 orang terdaftar secara reguler, dan 4 orang melalui beasiswa. Sedangkan angkatan 1-4 ada 300 orang, ada yang di masyarakat untuk memimpin.

“Ada yang sudah bergerak di bidang masing-masing, ada yang sudah bergerak di bidang industri, kemudian ingin belajar tentang kepemimpinan, mereka belajar di sini,” tukasnya.

Salah satu peserta ILA kelima, Abdika Permana, peserta asal Padang mengungkapkan bahwa ia belajar di ILA ini harapannya adalah untuk mempelajari ilmu kepemimpinan Islam. Ia yang sekarang bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia mengungkapkan bahwa ia akan menerapkan ilmu yang ia dapat di ILA ini di kantornya.

“Sekarang saya kerja di perusahaan telekomunikasi. Saya pengen belajar banyak tentang kepemimpinan islam, hidup harus berimbang antara dunia dan akhirat, saya rasa udah lama gak belajar secara terstruktur banget ttg pendidikan islam, nah disini kesempatan saya untuk mengambil itu,” ungkapnya.

“Tentunya ada harapan untuk membuat perusahaan yang saya di dalamnya untuk lebih baik, setelah dari sini. Akan saya terapkan juga dan praktekkan di kantor saya, dan saya tau juga karena dari temen saya di kantor, alhamdulillah kantor saya juga sudah ada pengajiannya. Banyak alumni sini juga di sini, mengelola bidang IT,” tukasnya.

Reporter: Muhammad Jundii

UAS Diintimidasi, PKS: Mereka Kelompok yang Tidak Suka Islam Maju

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ustaz Abdul Somad (UAS) membatalkan sejumlah jadwal ceramahnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur karena mendapat ancaman dan intimidasi dari pihak yang tidak bertanggungjawab.

Hal tersebut mendapat respon dari sejumlah tokoh. Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera menyatakan, ancaman yang diterima UAS telah membuat umat Islam bersedih.

“Segala bentuk usaha menghalangi atau mempersulit dakwah UAS adalah bentuk kelompok yang tidak suka lihat umat Islam maju,” katanya kepada Jurnalislam.com, Senin (3/9/2018).

Mardani menegaskan, UAS adalah aset bangsa yang sangat dibutuhkan untuk mencerdaskan publik.

Ulama melayu itu menyatakan membatalkan sejumlah agenda ceramah di beberapa kota di pulau Jawa melalui akun Instagramnya. Ia pun meminta maaf dan memohoan umat Islam untuk maklum.

Mualaf Center Indonesia : Terjadi Pendangkalan Akidah di Lombok

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Aktivis Mualaf Center Indonesia (MCI), Dewa Putu Sutrisna mengungkapkan bahwa tidak semua aktivitas nonmuslim di kawasan pengungsian umat Islam adalah kristenisasi. Menurutnya, kristenisasi memang terjadi namun istilah yang lebih tepat menggambarkan aktivitas tersebut disebutnya pendangkalan akidah.

“Apa yang kami dapatkan dilapangan, data-data kami dari relawan Mualaf Center Indonesia, memang-memang ada (aktivitas nonmuslim), tapi tidak semuanya istilah kristenisasi ya. Ini yang harus dipahami, yang mereka lakukan adalah pendangkalan akidah,” kata Dewa kepada Jurnalislam, Ahad (2/8/2018).

Mualaf Center Indonesia, menurut Dewa Putu sudah mengirimkan tim relawan ke Lombok, termasuk ketuanya Steven Indra Wibowo.

Ia mengatakan banyak laporan dan data yang diperoleh relawan Mualaf Center Indonesia di pengungsian. “Kami tahu barang-barang logistik yang tidak bisa masuk ke Lombok, kami tahu berapa banyak mie instan yang habis dimakan tikus, beras yang jadi kutu, itu kami tahu semua data-datanya Dan ini sudah kami keluhkan kepada beberapa pihak yang terkait dan kami sudah sampaikan,” tambahnya.

MCI pun mendapatkan data beberapa wilayah pengungsian yang terdapat aktivitas pendangkalan akidah.

“Kami ini kan adalah mantan-mantan nasrani, mantan-mantan Katolik, Protestan dan memang sudah membekali, karena mereka sudah tahu walaupun bukunya terselip gambar onta, terselip gambar tertentu, mereka sudah tahu, ini adalah program-program pendangkalan akidah,” katanya.

Di tempat itu, relawan MCI memberikan pendampingan penguatan akidah. “Alhamdulillah, dan inshaallah ini sampai semua beres mereka selalu ada disana, bergantian,” pungkasnya.