Turki-Saudi Bentuk Tim Gabungan Selidiki Bersama Kasus Jamal Khashoggi

ANKARA (Jurnalislam.com) – Sebuah tim gabungan Turki-Saudi akan menyelidiki hilangnya wartawan Saudi Jamal Khashoggi atas permintaan Kerajaan, kata asisten presiden Turki pada hari Kamis (11/10/2018).

Berbicara kepada Anadolu Agency, Ibrahim Kalin mengatakan: “Dalam kerangka kerja sama erat antara Turki dan Kerajaan Arab Saudi dan atas saran Kerajaan, tim kerja gabungan antara Turki dan Arab Saudi akan dibentuk untuk menyelidiki kasus Jamal dalam segala aspeknya.”

Baca juga: Intel AS Curigai Pangeran Salman Terlibat atas Terbunuhnya Jamal Khashogi

Khashoggi telah hilang sejak 2 Oktober, ketika ia mengunjungi Konsulat Saudi di Istanbul.

Otoritas Saudi belum memberikan penjelasan yang jelas tentang nasib Khashoggi ketika beberapa negara – terutama Turki, AS dan Inggris – mendesak klarifikasi.

Intel AS Curigai Pangeran Salman Terlibat atas Terbunuhnya Jamal Khashogi

WASHINGTON DC (Jurnalislam.com) – Senator Republik Lindsey Graham mengatakan dia akan mencari sanksi ekonomi yang bersifat menghukum terhadap Pangeran Mahkota Saudi Mohammad bin Salman dan pejabat lainnya di kerajaan itu jika penyelidikan resmi AS menunjukkan bahwa mereka terlibat dalam pembunuhan Jamal Khashoggi.

Graham mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Kamis (11/10/2018) bahwa dia telah membaca data intelijen AS yang menunjukkan keterlibatan pemerintah Saudi dalam hilangnya penulis Saudi itu.

“Saya sudah melihat intel. Itu sangat mengerikan. Anda tidak harus menjadi Sherlock Holmes untuk mengetahui hal ini,” kata Graham.

Wakil jurubicara Deplu AS Robert Palladino mengatakan pada hari Rabu bahwa walaupun dia tidak dapat berkomentar mengenai masalah intelijen, sedikitnya dia dapat “mengatakan secara definitif bahwa Amerika Serikat tidak memiliki pengetahuan awal tentang hilangnya Jamal Khashoggi”.

Komentar itu muncul sehari setelah Washington Post – media tempat Khashoggi menulis kolom – melaporkan bahwa intelijen AS telah mencegat komunikasi pejabat Saudi yang berencana menculik wartawan dan kritikus terkemuka.

Baca juga: Begini Perkembangan Terbaru Kasus Terbunuhnya Wartawan Arab ’Jamal Khashoggi’

Khashoggi, yang telah menghabiskan tahun terakhir di Amerika Serikat dalam pengasingan setelah melarikan diri dari Arab Saudi di tengah-tengah tindakan keras terhadap mereka yang kritis terhadap kerajaan, menghilang pada 2 Oktober setelah memasuki konsulat Saudi untuk mendapatkan surat-surat yang diperlukan untuk menikah.

Menurut beberapa media, mengutip sumber-sumber Turki yang tidak disebutkan namanya, polisi di Turki percaya penulis itu tewas di dalam fasilitas diplomatik. Arab Saudi mempertahankan Khashoggi meninggalkan konsulat sebelum menghilang.

Graham mengatakan bahwa jika Saudi terlibat AS akan perlu mengambil “tindakan tegas”.

“Mereka, Saudi, menempatkan kami di tempat yang buruk, dan mereka harus membayar mahal, karena saya tidak ingin ada yang bingung tentang bagaimana perasaan kami tentang hal-hal seperti ini,” kata Graham.

Baca juga: Erdogan: Buktikan Kalau Wartawan Saudi Tewas di Luar Konsulat Arab

“Jika ternyata orang ini terbunuh atau dianiaya oleh pemerintah Saudi, kami memperkirakan hal seperti ini dilakukan juga oleh [Presiden Rusia Vladmir] Putin dan kami menjatuhkan sanksi keras padanya ketika dia melakukannya. Jadi, semua yang kami lakukan untuk Putin, juga ingin saya lakukan ke Arab Saudi.”

Sebuah kelompok bipartisan dari 22 senator AS mengirim surat kepada Presiden Donald Trump pada hari Rabu memicu penyelidikan pemerintah AS di bawah UU Magnitsky, undang-undang sanksi 2012 yang awalnya ditujukan untuk Rusia dan diperluas oleh Kongres pada tahun 2016 untuk berlaku secara global.

Graham mengatakan dia yakin Trump mengambil pendekatan yang benar dengan mengikuti proses investigasi Magnitsky dan, jika ditunjukkan, dia tidak akan mentolerir pembunuhan Khashoggi.

“Aku akan melepaskan sanksi dari Hades,” kata Graham. “Saya ingin menjadi contoh dari pemerintah saat ini dengan melakukan hal ini. Saya tidak ingin orang lain berpikir bahwa jika mereka memiliki aliansi dengan kami, maka kami tidak peduli dengan nilai.”

Baca juga: Senator AS Peringatkan ‘Neraka Bayarannya’ Jika Jamal Khashoggi Dibunuh

Graham menambahkan bahwa dia tidak puas dengan percakapan kemarin dengan Duta Besar Saudi di Washington. “Saya tidak percaya apa pun yang mereka katakan,” kata Graham kepada Al Jazeera.

Graham juga menarik perbedaan antara bereaksi terhadap kematian Khashoggi dengan sanksi ekonomi dan membatasi penjualan senjata AS ke Arab Saudi atau membatasi dukungan militer AS untuk perang di Yaman.

“Perang Yaman adalah perang proksi dengan Iran,” kata Graham, menambahkan bahwa Yaman dan Khashoggi adalah “dua hal yang berbeda,” sebuah sentimen yang digemakan oleh anggota Republik lainnya.

Pada hari Kamis, Trump mengatakan dia tidak melihat alasan untuk memblokir investasi Arab Saudi di AS.

“Mereka [Saudi] menghabiskan $ 110 miliar untuk peralatan militer dan untuk hal-hal yang menciptakan lapangan kerja … untuk negara ini,” kata Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih. “Saya tidak suka dengan konsep menghentikan investasi sebesar $ 110 miliar ke Amerika Serikat, karena Anda tahu apa yang akan mereka lakukan? Mereka akan mengambil uang itu dan membelanjakannya di Rusia atau Cina atau di tempat lain.”

Baca juga: Trump Bahas Hilangnya Khashoggi dengan Pemimpin Tinggi Arab Saudi

“Segala sesuatu yang kita tahu menunjuk kepada pemerintah Saudi dan belum satupun dari kita ingin melompat ke kesimpulan. Jika saya harus bertaruh hari ini, mereka merencanakannya, mereka membunuhnya dan mungkin orang yang sangat tinggi menyadarinya,” kata Bob Corker dari Tennessee, ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat, mengatakan kepada Al Jazeera.

Proses Magnitsky, yang melibatkan penyelidikan 120 hari, “menciptakan banyak tekanan” pada Saudi dan Gedung Putih di bawah pimpinan Trump, katanya.

“Kami sangat menyadari bahwa pemerintah memiliki investasi politik yang sangat besar di Arab Saudi yang berkaitan dengan proses perdamaian seluruh Timur Tengah,” kata Corker.

“Kami harus mengirim sinyal sejak awal bahwa membunuh wartawan adalah hal yang tidak pantas dan jika dia (MBS) terlibat, harus ada sanksi.”

Kisah Imam Masjid Al-Mujahidin Saat Tsunami Menerjang Desa Wani

“Tinggi, tinggi sekali itu pak, warnanya hitam, seperti ular kobra rupanya,” kata kakek 5 cucu itu menggambarkan ombak besar yang melaju cepat dan terus mendekat.

DONGGALA (Jurnalislam.com) – Waktu shalat magrib kan segera tiba, Tanwir Haji Mursaid (60), bersiap menuju masjid Al-Mujahidin, Pelabuhan Wani II, Kecamatan Tanatopea, Kabupaten Donggala. Ia adalah imam di sana.

Masjid Al-Mujahidin terletak persis dekat dermaga Pelabuhan Wani II. Jamaah shalat magrib masjid seluas 10 x 15 m2 itu biasanya sekitar 3 sampai 4 baris. Begitu kata Pak Tanwir.

Saat itu, tidak ada kekhawatiran sedikitpun, Pak Tanwir yang sudah rapih dengan sarung tenun dan batiknya, berjalan tenang menuju masjid terbesar di kecamatan Tanatopea.

Bapa Tanwir Haji Mursaid, Imam Masjid Al-Mujahidin. Foto: Ally/Jurniscom

Waktu magrib pun tiba, Pak Tanwir meminta sang muazin untuk mengumandangkan azan. Namun tak tiba-tiba bumi berguncang, masjid bergoyang-goyang seperti ditimang-timang.

“Prak, prak, prak” suara bangunan berjatuhan, Pak Tanwir sempat terjatuh berkali-kali di dalam masjid, kemudian berlari menyelamatkan diri.

Ternyata, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan Sulawesi Tengah berduka. Gempa 7,4 SR diikuti tsunami dan likuifaksi (pencairan tanah) melanda beberapa wilayah di titik di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi, beberapa saat sebelum maghrib, Jumat (28/9/2018).

Kekagetan Pak Tanwir bertambah saat berada di luar masjid yang menghadap pantai itu, ia diperlihatkan sosok hitam tingginya melebihi Kapal Sabuk Nusantara 39 yang sedang bersandar di dermaga Pelabuhan Wani.

Kapal Sabuk Nusantara 39 yang terseret tsunami. Foto: Ally/Jurniscom

“Tinggi, tinggi sekali itu pak, warnanya hitam, seperti ular kobra rupanya,” kata kakek 5 cucu itu menggambarkan ombak besar yang melaju cepat dan terus mendekat.

Tak Tanwir menjelaskan, berdasarkan penuturan warga desa Wani yang selamat dari terjangan tsunami, ombak hitam itu bukan air laut, melainkan semburan lumpur dari dalam tanah bawah laut yang terbelah ketika gempa terjadi.

Warga itu bernama Ambo, saat ini Ambo tengah dirawat di Puskesmas. Pak Tanwir mengisahkan, saat kejadian Ambo sedang berada di kapal pengangkut barang yang bersandar di dermaga untuk memindahkan pupuk ke dalam gudang kapal.

Ambo sempat terseret jauh oleh tsunami, beruntung dia selamat dan hanya terluka di bagian punggung saja.

Melihat ombak hitam nan tinggi itu, Pak Tanwir berlari menuju rumah untuk menyelamatkan sang istri.

Mereka bersama warga pelabuhan Wani lainnya berlari sejauh 5 km menjauhi pantai. Hampir tidak mungkin bagi kakek 60 tahun berlari tanpa henti dengan jarak sejauh itu. Tapi itulah yang dialami Pak Tanwir saat tsunami menerjang pesisir Wani.

“Saya bawa lari istri dan cucu saya, saya terus lari jauh-jauh dari pantai, kira-kira 5 km,” tutur Pak Tanwir mengisahkan.

“Sa (saya-red) juga heran kenapa saya bisa kuat lari sejauh itu,” sambungnya.

Beruntung, Pak Tanwir bersama seluruh anggota keluarganya selamat dari tsunami yang juga menerjang beberapa daerah lainnya seperti Kota Palu dan Kabupaten Donggala. Tapi rumah Pak Tanwir beserta isinya tak terselamatkan lagi. Rumahnya hancur terseret puluhan meter dari lokasi asalnya.

“Rumah kami sudah tidak ada pak, hancur kena tsunami,” tutur Pak Tanwir lirih.

Tak hanya rumah Pak Tanwir, pemukiman penduduk di sekitar Pelabuhan Wani II juga hancur digusur tsunami. Tsunami menyapu bersih semua bangunan yang dilewatinya.

Kondisi Dewa Wani, Kecamatan Tanatovea, Kab Donggala, Sulteng. Foto: Ally/jurniscom

Tsunami meninggalkan pemandangan suram yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Desa Wani II, tempat ia lahir dan dibesarkan kini luluh lantak. Kayu dan batu-batu dermaga berserakan dimana-mana. Kapal Sabuk Nusantara 39 sebesar itupun terseret hingga “mendarat” di tengah-tengah pemukiman warga.

Belum lagi nyawa yang hilang. Hanya delapan jenazah warga Pelabuhan Wani II yang berhasil ditemukan, sementara puluhan lainnya dinyatakan hilang. Mereka yang selamat pun tak luput dari luka-luka. Termasuk istri Pak Tanwir yang sempat dirawat karena luka di bagian kaki akibat terjatuh beberapa kali saat menyelamatkan diri.

Namun semua warga terkejut ketika Masjid Al-Mujahidin yang posisinya tepat di bibir pantai, tidak mengalami kerusakan berarti. Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan kuasa-Nya pada masjid berkubah hijau ini.

Padahal nyaris tak ada yang penghalang antara masjid dengan laut. Meski bangunan di sekelilingnya hancur berkeping-keping, tapi ia tetap kokoh berdiri. Beberapa bagian masjid memang retak-retak, tapi masjid berwarna hijau itu masih layak dipakai.

Ia dikelilingi kayu-kayu dari rumah-rumah yang hancur dan material yang dibawa tsunami dari laut. Sebuah kapal nelayan bersandar tepat di halaman depannya.

“Masjid itu masih utuh pak, tak ada rusak,” kata seorang warga.

Menatap Laut. Bapa Tanwir Haji Mursaid, Imam Masjid Al-Mujahidin. Foto: Ally/Jurniscom

Sore itu, Selasa (9/10/2018) Pak Tanwir sedang berdiri termenung di atas dermaga samping Kapal Sabuk Nusantara 39 yang mendarat.

Tatapannya tajam melihat ke arah laut lepas, seolah melemparkan tanya, kenapa engkau menjadi begitu buas.

Namun Pak Tanwir paham betul soal hikmah di balik musibah.

Ia yakin ada pesan Tuhan di balik bencana yang dialami manusia. Karena mutiara akan berserakan di pantai saat badai usai dan pelangi tiba ketika hujan mereda.

“Ini peringatan sudah, peringatan ini, semoga cepat sadar semua orang ini,” tutur Pak Tanwir.

Lantunan ayat suci mulai diperdengarkan dari Masjid Al-Mujahidin. Itu tandanya Pak Tanwir harus segera pulang untuk bersiap menunaikan panggilan-Nya.

Sebagai imam masjid, Pak Tanwir kerap mengingatkan warganya untuk bergegas menyambut panggilan shalat.

Di akhir perbincangan, Pak Tanwir sedikit menyinggung musabab musibah hari Jumat itu terjadi.

Salah satunya adalah kesyirikan yang ada dalam ritual adat Palu Nomoni.

Meskipun Pak Tanwir tak menjelaskan secara terperinci, tapi ia dengan tegas menolak tradisi tersebut.

Menurutnya, ritual itu sudah tidak perlu dilakukan lagi karena ada unsur syirik di dalamnya.

“Waktu Palu Nomoni pertama kali diadakan lagi, itu ada angin kencang, petir. Tak perlu lagi itu Palu Nomoni, itu syirik,” tegasnya.

Beberapa warga Palu yang sempat diwawancarai tim Jurnalislam.com memang tidak setuju dengan ritual Palu Nomoni. Alasan mereka seragam. “Itu syirik”.

Penulis: Ally Muhammad Abduh

Ini Update Laporan Lengkap BNPB Terkait Gempa-Tsunami Sulawesi Tengah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kepala Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, masa tanggap darurat diperpanjang dengan pertimbangan masih banyaknya masalah yang harus diselesaikan di lapangan.

“Maka untuk menyelesaikan itu diperlukan kemudahan akses. Agar penanganan bisa lebih cepat, untuk itu masa tanggap darurat diperpanjang 14 hari kedepan. Yaitu 13 Oktober sampai dengan 26 Oktober,” katanya dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jaktim, Kamis (11/10/2018).

Selain itu, Sutopo menjelaskan masa tanggap darurat pasca bencana Sulawesi Tengah diputuskan dalam rapat koordinasi yang dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Tengah bersama Kementerian dan Lembaga beserta para Bupati.

Selain masa tanggap darurat, rapat tersebut juga memutuskan batas akhir pencarian korban. Sutopo memaparkan, sebenarnya dalam rapat sebelumnya yang dilakukan pada 8 Oktober, telah disepakati bahwa hari ini adalah periode terakhir evakuasi secara resmi. Namun karena ada beberapa permintaan dari warga untuk perpanjangan waktu pencarian korban, maka diputuskan untuk diperpanjang 1 hari.

“Sehingga masa pencarian korban akan dihentikan mulai tanggal 12 Oktober. Besok sore akan diakhiri secara resmi, paginya masih akan dilakukan pencarian oleh tim Basarnas, TNI, Polri, PMI dibantu relawan lain,” terang Sutopo.

Meski begitu, lanjutnya, bukan berarti evakuasi akan benar-benar dihentikan. Hanya saja tidak akan dilakukan secara besar-besaran seperti sebelumnya dan akan diserahkan kepada Basarnas kota Palu.

“Selanjutnya, basarnas akan menyerahkan evakuasi lanjutan kepada Basarnas kota Palu. Jika masih ada warga yang mencari korban dan sebagainya kita himbau untuk tidak melakukan karena kondisi jenazah sudah rusak dan dapat menyebabkan penyakit,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menyebutkan bahwa korban jiwa akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala yang telah ditemukan per Kamis (11/10/2018) mencapai 2.073 jiwa.

Dari jumlah tersebut, BNPB menguraikan bahwa sebagian besar korban jiwa berasal dari kota Palu yaitu sebanyak 1.663 jenazah. Sementara itu, di Donggala ditemukan 171 jenazah, di Sigi 223 jenazah, Parigi Moutong 15 jenazah dan Pasangkayu, Sulewesi Barat 1 jenazah.

BNPB menjelaskan bahwa dari jumlah tersebut 994 jenazah telah dimakamkan secara massal. Sedangkan 1.079 jenazah lainnya dikembalikan pada pihak keluarga dan dimakamkan di pemakaman masing-masing keluarga. Hingga saat ini tercatat 680 orang berstatus korban hilang.

Untuk korban luka, BNPB melaporkan bahwa 2.549 orang menderita luka berat dan 8.130 orang mengalami luka ringan. Sehingga total korban luka mencapai 10.679 orang.

Dalam peta sebaran pengungsi yang juga tercantum dalam laporan tersebut, terdapat 112 titik posko pengungsian dengan jumlah penghuni 78.994 jiwa dari total 87.725 pengungsi. Sisanya, lebih memilih untuk mengungsi ke luar daerah Sulawesi tengah.

Tercatat, bangunan rusak akibat gempa dan tsunami sebanyak 67.310 unit berasal dari berbagai daerah. Terbanyak dari kota Palu sejumlah 65.733 unit disusul Sigi 897 unit dan Donggala 680 unit. Jumlah tersebut belum termasuk 99 fasilitas pribadatan dan 20 fasilitas kesehatan yang juga turut hancur. Setidaknya 1 rumah sakit, 10 puskesmas dan 4 puskesmas pembantu serta 5 puskedes luluh lantak akibat bencana alam tersebut.

Evakuasi Korban Likuifaksi di Petobo Resmi Dihentikan, 180 Jenazah Ditemukan

PALU (Jurnalislam.com) – Evakuasi pencarian korban pencairan tanah atau likuifaksi di Kelurahan Petobo, Palu Selatan, Palu, Sulawesi Tengah resmi dihentikan. Sesuai dengan arahan pemerintah bahwa tanggap bencana gempa-tsunami Sulawesi Tengah berakhir hari ini, Kamis (11/10/2018).

Tim SAR mengakhiri proses evakuasi dengan doa bersama yang diikuti oleh seluruh tim SAR gabungan yang terlibat dalam pencarian di tempat ini.

“Iya tadi saat evakuasi berakhir kami semua menggelar doa bersama. Kemudian juga ada acara ramah-tamah sesama anggota dan juga ada evaluasi,” kata Safety Officer Basarnas untuk Petobo, Chandra Kresna di Petobo, Kamis (11/10/2018).

Chandra menuturkan total jenazah yang dievakuasi dari kelurahan Petobo tercatat ada 180 jenazah. Jumlah tersebut termasuk 5 jenazah yang ditemukan hari ini.

“Sedangkan untuk tim SAR gabungan yang terlibat berjumlah 121 personel dengan menggunakan eskavator dan satu buldoser,” katanya.

Meski evakuasi korban telah dihentikan, para korban selamat masih berharap keluarga mereka yang hilang bisa ditemukan.

Sebab, diduga masih ada ribuan jenazah yang tertimbun didalam reruntuhan bangunan yang tenggelam akibat likuifaksi di tempat ini.

Hingga berita ini diturunkan, BNPB di Jakarta mengabarkan untuk memperpanjang masa tanggap darurat bencana selama 14 hari dan proses evakuasi selama satu hari.

Reporter: Ally Muhammad Abduh

Wali Kota Palu Berencana Dirikan Monumen di Petobo dan Balaroa

PALU (Jurnalislam.com) – Wali kota Palu, Hidayat berencana mendirikan monumen di wilayah yang terkena dampak pencairan tanah atau likuifaksi yakni Petobo dan Balaroa. Hidayat menyebut sudah berkordinasi dengan pihak-pihak terkait.

“Ada Gubenur, Kapolda, Danrem, BNPB, kemarin semua rapat bahwa ada keputusan sementara tanggal 12 itu ditutup, pencarian dan evakuasi di 2 tempat lokasi itu,” katanya kepada wartawan seusai jumpa pers di rumah jabatan wakil wali kota Palu, Rabu, (11/10/2018).

“Rencananya di dua lokasi kejadian itu akan dijadikan monumen dan juga ruang terbuka, ada beberapa warga korban, ahli waris yang menyampaikan sendiri kami siap,” imbuh Hidayat.

Namun, kata Hidayat, pihaknya masih menunggu surat pernyataan kesediaan warga atas rencana tersebut, selain dengan warga, pemerintahan kota Palu saat ini sudah berkordinasi dengan pemuka agama untuk meminta persetujuan atas rencana yang sudah disepakati dirinya dan pemerintahan kota provinsi tersebut.

“Surat itu kami minta pernyataan warga, kami menunggu itu, karena gubenur minta itu, keputusan rapat harus ada itu, kan rapat kemarin ada pemuka agama, ketua MUI, ada dari FKUB, tokoh agama lain,” ujarnya.

“Kami juga surat menyurat ke tokoh-tokoh agama seperti MUI, persatuan gereja, kita sudah minta fatwanya,” tandasnya.

Sudah 300 Jenazah Ditemukan di Perumnas Balaroa

PALU (Jurnalislam.com) – Hingga hari ke tiga belas pasca gema- tsunami yang melanda Sulawesi Tengah, Badan Nasional Penangggulangan Bencana (BNPB) mencatat 2.045 jasad korban berhasil teridentifikasi.

Salah satu fokus pencarian berlokasi di Perumnas Balaroa, Kota Palu. Di lokasi ini, Badan SAR Nasional (Basarnas) menemukan 300 jenazah.

“Sekitar 300 korban tertimbun telah ditemukan, kondisinya sudah membusuk,” kata anggota regu Tim 5 Basarnas, Dwi Adi kepada awak media di Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (11/10/2018).

Jumlah tersebut diperkirakan masih bertambah, mengingat pagi ini Tim SAR menemukan 3 jenazah lagi dalam satu titik penggalian.

Dilokasi ini, diduga masih banyak korban meninggal yang tertimbun reruntuhan akibat likuifkasi.

Meski masa tanggap darurat akan selesai pada hari ini, Kamis (11/10/2018), namun proses evakuasi di Perumnas Balaroa tetap dilakukan.

“Untuk Basarnas sendiri masih menerima informasi apabila ada info dari keluarga korban untuk mencari keluarganya yang tertimbun reruntuhan,” jelas Dwi.

Sebanyak 20 personel Tim SAR dari Basarnas yang dibantu tim relawan rescue Aksi Cepat Tanggap (ACT) masih melakukan proses evakuasi di komplek perumahan berpenduduk 800 kk ini. Evakuasi dibantu dengan 6 unit escavator.

Reporter: Ally Muhammad Abduh

Ini Jawaban Wawali Kota Palu, Pasha ‘Ungu’ Menyoal Kekurangan Logistik Pemerintah

PALU (Jurnalislam.com) – Wakil Wali kota Palu, Sigit Purnomo atau yang karib disapa Pasha ‘Ungu’ mengatakan, saat ini posko darurat yang berada di rumah jabatannya kekurangan logistik, terutama kebutuhan dan perlengkapan bayi, ibu hamil dan kebutuhan perempuan.

“Kalau hari ini masyarakat berteriak kebutuhan susu, keperluan bayi, pembalut wanita, ibu hamil termasuk tenda. Kalau keperluan seperti mie instan kita sudah ada, tapi cukup hari ini katakanlah siang ini, tapi nanti malam makan apa,” katanya saat ditemui Jurnalislam.com di Rumah Jabatannya, Rabu (10/10/2018).

Pasha mengaku, menolak jika dikatakan pemerintahan kota Palu tidak bergerak cepat dalam penanganan bencana, terutama terkait masalah pendistribusian logistik. Ia menyebut pihaknya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengkoordinasikan kebutuhan para pengungsi.

“Kami sudah mengunakan struktur pemerintahan melalui kelurahan karena menjadi garda terdepan, itupun tidak maksimal, bukan lurahnya tidak mau bergerak, ada kami titipkan tapi kalau sedikit bagaimana?,” paparnya.

Menurut Pasha, permasalahan utama yang dialami pihaknya adalah keterbatasan logistik yang ada di posko darurat. Selama ini, katanya, bantuan yang datang hanya berkisar beberapa truk yang akan dibagikan untuk 400.000 orang pengungsi dari jumlah 46 kelurahan di kota Palu.

“Tapi 400.000 jiwa logis nggak, katakanlah 1000 truk, saya kira tidak cukup, apalagi kalau hanya hitungan 100 atau 200 truk. Bagaimana mungkin kita bisa adil dan dianggap mampu, pasti wajar bila masyarakat mengganggap kita tidak bergerak,” ujarnya.

“Saya kira wajar, bukan karena tidak mau tapi saya jawab logistik kita kurang, coba kalau ditaruh disini 500 truk kan gampang kita baginya, ada 8 kecamatan isinya 64 kelurahan, nah silahkan satu lurah bawa 1 truk, kan cuma 46 kenapa kita pusing gitu,” tandas Pasha.

Hari Terakhir Evakuasi, Tim SAR Masih Temukan Jenazah di Perumnas Balaroa

PALU (Jurnalislam.com) – Masa tanggap darurat bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah akan selesai pada hari ini, Kamis (11/10/2018). Sehingga proses evakuasi korban pada titik bencana di Kota Palu, Donggala dan Sigi selesai dilakukan.

Hingga saat ini, diduga masih banyak korban belum ditemukan seperti di Perumnas Balaroa, Petobo dan Jonooge. Wilayah tersebut dilanda likuifaksi atau pencarian tanah akibat gempa 7,4 SR.

Pantauan Jurnalislam.com, di hari terakhir ini Tim SAR masih menemukan jenazah. Seperti di Perumnas Balaroa Kota Palu, hingga pukul 10.00 WITA, 3 jenazah berhasil ditemukan.

“Sampai saat ini sudah tiga kantong,” kata Danru 2 Tim Rescue ACT, Tejo Kuntoro di lokasi, Kamis (11/10/2018).

Terkait penghentian evakuasi, Tejo mengatakan, ACT tetap satu komando dengan Basarnas. Namun, pihaknya tetap siaga jika masih diperlukan.

“Kalau hari ini dihentikan kita tetap siap untuk membantu,” ujar Tejo.

Oleh karena itu, pihaknya masih menerima informasi dari masyarakat jika menemukan jasad korban dari reruntuhan akibat gempa dan tsunami.

“ACT masih menerima informasi untuk melakukan evakuasi,” jelasnya.

Sementara itu, personel Basarnas yang datang dari berbagai daerah dikurangi jumlahnya.

“Evakuasi masa tanggap darurat berakhir hari ini, cuma kelanjutannya koordinasi dengan pemerintah daerah,” kata anggota Tim 5 Basarnas Dwi Adi saat ditemui Jurnalislam.com di lokasi, Kamis (11/10/2018).

Kendati demikian, Tim SAR dari Basarnas masih menerima informasi jika terdapat keluarga korban yang tahu informasi mengenai keberadaan jasad korban.

“Untuk Basarnas sendiri masih menerima informasi apabila menemukan jasad korban, maka akan diaktifkan kembali untuk tanggap darurat,” ujarnya.

Reporter: Ally Muhammad Abduh

MUI Apresiasi Pembatalan Kontes LGBT oleh Polda Bali

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kepolisian RI, khususnya kelada Kepala Bidang Hubungan Masarakat Kepolisian Daerah (Polda) Bali, Kombes Pol Hengky Widjaja yang telah membatalkan rencana penyelenggaraan kontes yang mengatasnamakan lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) yaitu Ajang Pemilihan Mister dan Miss Gaya Dewata 2018 di Bali.

“MUI apresiasi pembatalan yang dilakukan Polda Bali karena mendengarkan aspirasi ulama di Bali,” kata ketua Plt MUI, Zainut Tauhid saat dihubungi Jurnalislam.com, Kamis (11/10/2018).

Zainut Tauhid berharap pelarangan itu akan diberlakukan di semua daerah di wilayah NKRI.

Zainut menyatakan, MUI prihatin dengan semakin maraknya aktivitas kelompok LGBT yang sudah berani secara terbuka dan terang-terangan menunjukkan eksistensinya.

“Ini merupakan indikator bahwa jumlah dan aktivitas penganut homoseks di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan,” tegasnya.

Menurutnya, hal ini menunjukan bahwa masalah homoseksual tidak bisa lagi dianggap menjadi masalah sederhana, dan perlu mendapat perhatian yang sangat serius dari semua pihak. Khususnya dari pemerintah, tokoh agama dan masyarakat,

“Praktik lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) serta seks bebas harus dilarang, karena bertentangan dengan nilai-nilai agama dan Pancasila,” pungkasnya.

Dia pun menjelaskan MUI sudah mengeluarkan fatwa pada 2014, tentang LGBT hukumnya haram atau dilarang oleh agama.

“Semua agama juga melarang tindakan atau perilaku LGBT. Penolakan terhadap LGBT bahkan sudah menjadi kesepakatan bersama dalam hukum positif di Indonesia,” tuturnya.

Selain itu, lanjutnya. Norma hukum positif di Indonesia tidak melegalkan LGBT. Dalam Undang-undang Perkawinan menyatakan bahwa sahnya perkawinan jika dilakukan oleh mereka yang berbeda jenis kelamin menurut ajaran agama.