Jurnalislam.com – Pengamat politik yang juga tokoh Nahdlatul Ulama, Muhammad AS Hikam, menyikapi perdebatan soal upaya “menginteli” ceramah-caramah di masjid terkait kampanye capres/cawapres. Menurutnya, jika khutbah Jum’at berisi kampanye kepartaian, khutbah tidak sah secara ritual sekaligus menggagalkan fungsinya dalam memberikan pesan moral kepada umat.
“Khotbah Jumat jadinya, bukan saja menjadi tak sah secara ritual, tetapi gagal menjalankan fungsinya: sebagai wahana memberikan tausiah (pesan) moral kepada ummat. Ia lantas tidak ada tuh bedanya dengan kampanye politik biasa dan berpotensi memecah belah jama’ah !” tulis AS Hikam di situs The Hikam Forum.
Secara khusus, AS Hikam mengingatkan, bahwa pengawasan dan pemantauan khotbah Jumat di masjid tidak akan dianggap sebagai sebuah tindakan sensorship atau pengintelan. “Apakah inisiatif yang dilakukan oleh sebagian pendukung pasangan Jokowi-JK untuk memantau Khotbah Jum’at merupakan tindakan yang secara hukum bisa dipertanggung- jawabkan, dan secara politik tidak beresiko menjadi bomerang bagi diri sendiri?” tulis AS Hikam.
Sebelumnya, anggota Tim Sukses Jokowi-JK, Eva Kusuma Sundari tidak menampik adanya upaya untuk “mengawasi” ceramah-ceramah agama di masjid masjid. Eva menegaskan bahwa memang kader partai yang Muslim diminta untuk melakukan aksi intelijen terhadap masjid-masjid. (ded412/intelijen)