Merindukan Wajah Indonesia yang Menggembirakan

Merindukan Wajah Indonesia yang Menggembirakan

BANGSA ini baru saja merayakan pesta pora menyambut hari kemerdekaan, hingar bingar beragam selebrasi pun dilangsungkan. Namun peringatan hari kemerdekaan seolah hilang makna karena jauh dari refleksi perjuangan para pendirinya. Pasca perayaan kemerdekaan, negeri tercinta ini secara bertubi-tubi dirundung beragam permasalahan, mulai dari eskalasi konflik aparat dan sipil yang kian tinggi, permufakatan jahat dibalik Tax Amnesti, LGBT yang kembali menguat, postur APBN yang begitu rapuh sampai pada konstelasi politik yang gaduh. Dan implikasi dari serangkaian persoalan diatas mempengaruhi stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ini merupakan kado pahit bagi umat. Sehingga menumbuhkan memori kolektif dalam benak masyarakat bahwasanya pemerintah belum mampu menciptakan kondusifitas di tengah-tengah masyarakat. Kalaulah diibaratkan, Indonesia ini layaknya perahu besar yang membawa banyak penumpang, sang nahkoda harus memastikan bahteranya berlayar sampai dermaga tujuan. Tetapi sayang baru setengah perjalanan kapal ini berhasil dibajak oleh para penyusup dan perompak sampai akhirnya sang nahkoda dengan begitu mudah dikendalikan oleh para pembajak.

Begitupun kondisi negeri ini, sudah berhasil disusupi para pembajak dengan melakukan penetrasi ke berbagai sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, meraka dengan lantang berteriak atas dasar keterwakilan umat padahal sejatinya ia sedang membokongi umat. Para pembajak pun memainkan peran strategisnya, membuat dan mempengaruhi kebijakan agar produk-produk kebijakan bisa menguntungkan dia dan tuannya tanpa menghiraukan kepentingan masyarakat.

Demokrasi yang digaungkan oleh mereka hanya mengkapasitaskan umat sebagai pemain cadangan bukan sebagai pemain utama, jargon vox populi vox dei (suara rakyat suara tuhan) dan dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat pun hanya sekedar mitos belaka yang sengaja dikontruksi untuk mengelabui umat. Sehingga sangat wajar kondisi umat menjadi rusak karena dijadikan bancakan politik. Kebijakan tidak berpihak kepada umat. Dan yang begitu memilukan adalah ketika negara ini hanya dinikmati segelintir elit yang rasa nasionalismenya patut dipertanyakan.

Inilah potret buram yang melanda negeri. Mereka para pemangku kebijakan belum mampu mengeluarkan negeri ini dari segala problematika masalah yang melanda. Mantra-mantra kebijakan yang disusun tidak mampu menjadi solusi konkret, hanya sekedar pelipur lara sementara. Ini menjadi indikasi kuat bahwa sistem yang dianut sudah tidak mampu merawat keberlangsungan negeri ini.

Kegaduhan politik, miskinnya integritas, dekadensi moral generasi, terpuruknya ekonomi serta kejahatan yang kian tak terbendung seakan menegaskan wajah Indonesia menjadi begitu menakutkan, menyedihkan, bermuram durja. Padahal tercatat dalam sejarah bangsa ini bisa berdiri dengan tinta dan darah. Teganya mereka para pengurus negeri yang begitu mudah melacurkan idealismenya untuk menggadaikan negeri ini kepada para tuan majikannya. Tentu ini harus menjadi refleksi mendalam bagi umat. Nalar kritis umat harus dibangun agar mampu mengawal serta melawan dzalimnya para pemangku kebijakan.

Umat menginginkan serta merindukan wajah Indonesia yang menggembirakan, mencerahkan serta membahagiakan. Maka tentu untuk mewujudkannya umat mesti melakukan proses kaderisasi untuk melahirkan kader-kader bangsa atau kader umat yang mampu menjadi pelopor bukan pengekor, pembaharu bukan peniru. Sebab, pangkal dari segala persoalan bangsa ini adalah lemahnya kepemimpinan, lemahnya sistem serta miskinnya keteladanan. Tiga faktor ini merupakan bagian yang begitu fundamental yang harus segera direspon oleh umat.

Islam sebagai alternatif sistem!

Menarik pernyataan yang di lontarkan oleh pemimpin senior Singapura, Le Kwan Yew, “Jika pemimpin Indonesia membangun negara dengan SDA makan kami Singapurna akan membangun negara dengan SDM.” Dan terbukti hari ini Singapura menjadi mercusuar Asia Tenggara meninggalkan Indonesia yang membangun negara dengan menggadaikan SDM serta mengandalkan hutang terhadap asing dan aseng. Ini sudah dicontohkan dalam sejarah bahwasanya sang maestro politik Islam, Nabi Muhammad SAW membangun peradaban dengan kapasitas SDM-nya sehingga saat itu Islam tampil dengan wajah yang begitu menggembirakan dan mencerahkan.

Tentu bangsa ini pun harus segera dipulihkan dari sakitnya. Dibutuhkan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit bangsa. Tentu obat tersebut adalah alternatif sistem, karena sistem yang diterapkan hari ini tak mampu menyembuhkan penyakit bangsa bahkan cenderung menaikan level stadium penyakit.

Sistem yang dianut tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur masyarakat negeri ini, maka wajar para pendiri bangsa sangat kokoh pendiriannya agar dasar negara berlandaskan Islam karena Islam linear dengan kepribadian bangsa Indonesia. Kekuatan Islam yang dipegang oleh para pendiri bangsa ini berperan besar untuk memerdekakan serta membangun negeri ini. Maka lekat dalam ingatan ketika sejarah mencatat akan kokohnya tokoh-tokoh Islam untuk menjadikan Islam sebagai sistem berbangsa dan bernegara.

Kita mengenal sosok Ki Bagus Hadikusumo atau pernyataan Buya Hamka dalam sidang konstituante, “tidak menjadikan Islam sebagai dasar negara sama saja meniti jalan menuju neraka”. Dan hari ini benar adanya, negeri ini terus dirunduk duka tak berkesudahan, masyarakat menjerit-jerit serasa hidup di neraka. Ini karena pengkianatan para pemimpin bangsa saat ini terhadap pendiri bangsa yang menginginkan Indonesia dirawat dengan Islam.

Di belahan dunia lain, negara-negara barat sudah mulai melirik Islam sebagai sebuah solusi, sebuah alternatif untuk mengeluarkan mereka dari keterpurukan. Segala bentuk persoalan yang mendera bangsa ini Islam sudah punya jawabannya, Islam sudah punya solusi konkretnya. Islam akan membangun pilar-pilar kekuatan bangsa, menciptakan pemimpin yang kuat, membangun sistem yang kuat, serta keteladanan yang menggerakan. Dan yang lebih penting, Islam mampu merubah wajah Indonesia yang menakutkan menjadi membahagiakan. Lebih dari itu, Islam memberikan keberkahan terhadap penduduk suatu negeri seperti yang telah dijanjikan-Nya.

“Dan sekira nya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti kami akan melimpahkan mereka berkah dari langit dan bumi” QS Al Araaf : 96

***

Bagikan