FKUB Mojokerto Larang Warganya Bangun Mushola

MOJOKERTO (jurnalislam.com) – Pembangunan mushola di Desa Ngares Kidul Kecamatan Gedek Kabupaten Mojokerto ditolak oleh aparat pemerintah setempat. Berdasarkan laporan, aparat Desa, Polsek dan Koramil meminta panitia pembangunan mushola untuk menghentikan proses pembangunan, Kamis (18/04/2014).

Surat Peringatan atas nama FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Kabupaten Mojokerto tertanggal 8 Maret 2014 berisi alasan penolakan dibangunnya mushola tersebut pun dilayangkan kepada panitia. Dalam surat itu tertulis Peraturan Bersama Menteri (PBM) pasal 74 ayat 2 tentang sarat dibangunnya tempat ibadah yang harus mendapat persetujuan dari minimal 60 warga setempat disertai foto kopi KTP yang dilegalisir serta kuota pengguna tempat ibadah harus minimal 90 orang jamaah. Surat Peringatan itu juga tembusannya hingga pihak Polresta Mojokerto.

 

Saat di temui di lokasi pembangunan, Nif Edy, salah tokoh masyarakat desa Ngares sekaligus pemilik tanah tempat dibangunnya musholla tersebut mengatakan bahwa pembangunan  musholla ini adalah inisiatif beliau yang melihat banyak warga desanya yang berjalan jauh dan sebagian naik motor untuk menuju ke masjid terdekat.

“Kebetulan ada tanah kosong di sebelah rumah saya, lebih baik saya bangun musholla untuk warga di sini sekaligus sebagai amal ibadah saya kelak di akhirat nanti“, tutur Pak Nif di lokasi pembangunan, Jumat (18/04/2014).

Sejak awal pembangunannya, warga desa Ngares Kidul mendukung penuh dibangunnya Musholla di desa mereka. Tidak sedikit warga yang turut membantu proses pembangunan musholla tersebut.

“Alhamdulillah Kami senang atas dibangunnya Musholla di Desa ini. Kami sebelumnya untuk dapat melakukan sholat lima waktu berjama’ah dan tepat waktu harus berjalan jauh ataupun naik motor,  Insya Allah kami Warga Ngares siap untuk bantu memakmurkan Musholla di desa kami ”, dukung Nurdin, salah seorang warga Ngares Kidul. (Abu Azzanky).

“Insya Alloh semua warga disini mendukung kami, hanya pihak aparat desa saja yang tidak setuju lalu mencoba mengintimidasi kami dengan lapor sana-sini”, lanjut Pak Nif Edy, pemilik tanah sekaligus ketua panitia pembangunan saat dihubungi via sambungan telepon, Sabtu (19/04/2014)

Surat yang dikirim tertanggal 8 Maret 2014 itu tidak digubris oleh pihak panitia pembangunan. Karena mushola dibangun diatas tanah pribadi dan masyarakat menyambut baik, panitia akhirnya melanjutkan proses pembangunan. Surat Rekomendasi kedua dari FKUP Kabupaten Mojokerto pun turun, kali ini dengan tembusan hingga Polda Jawa Timur.

“Saya udah buat itu surat persetujuan dari 60 warga serta tandatangannya. Disini ada sekitar 20 lebih kepala keluarga yang ikut mendukung pembangunan mushola ini”, sanggah Pak Nif

Meski aparat desa didukung aparat keamanan setempat berupaya untuk menghentikan pembangunan mushola ini, Pak Nif tak gentar. Dengan tegas beliau menyatakan akan terus melanjutkan pembangunan sampai selesai.

“Karena ini dari dana pribadi, jadi memang agak lambat proses pengerjaannya. Tapi saya akan teruskan sampai selesai. Sekarang juga juga masih ada yang kerja,” tegasnya.

Menurut informasi yang kami himpun, pelapor kegiatan pembangunan mushola di tanah milik Pak Nif Edy itu adalah seorang warga mantan aparat yang dipecat karena indisipliner. Belum jelas motif pengaduannya tentang pembangunan mushola yang didukung penuh oleh warga setempat tersebut. (abu azzanky/amaif)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.