Silaturahmi Muslimah Solo Raya, DSKS Dorong Penguatan Ukhuwah dan Peran Muslimah

Silaturahmi Muslimah Solo Raya, DSKS Dorong Penguatan Ukhuwah dan Peran Muslimah

SOLO (jurnalislam.com)- Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) menggelar acara ‘Silaturahmi Muslimah Solo Raya’ yang dihadiri 2021 peserta dari 140 majelis taklim se Kota Solo dan sekitarnya. Acara yang diselenggarkan dalam rangka menyemarakan Kemerdekaan Indonesia tersebut diselenggarkan di Pendhapa Balai Kota Solo, Ahad (30/6/2026).

Acara diawali dengan jalan sehat berawal dari Benteng Vastenburg menyusuri jalan Jenderal Sudirman dan berkahir di halaman Balai Kota Solo. Peserta tampak antusias hal ini dibuktikan dengan beragam aksesoris kemerdekaan yang dipakai serta seragam warna warni yang berasal dari 5 zona (kecamatan).

Ketua DSKS, Ustadz Abdul Rochim Baasyir menyampaikan kegiatan ini merupakan acara perdana. Selain itu DSKS dalam hal ini ingin menjalankan sesuai dengan visi misi yaitu menyatukan Muslimah se Solo Raya.

“Semoga melalui kegiatan ini bisa menyambungkan ukhuwah dan kesatuan hati antar Muslimah dalam rangka menegakan nilai nilai syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala,”ujarnya, Ahad (30/8/2026).

Lanjut Ustadz Iim (panggilan akrabnya) pembinaan kaum Muslimah menjadi pekerjaan yang sangat penting dalam menyampaikan dakwah syariat Islam.

“Karena tidak ada peradaban yang baik kecuali dalam bingkai syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga melalui kegiatan ini ada dorongan semakin besar lagi untuk terus berperan dakwah Islam mulai dari adab, menjaga aurat, kehidupan, dan lain lain,” tambahya.

Selain jalan sehat acara silaturahmi tersebut juga diisi dengan penyampaikan materi. Narasumber yang hadir di acara tersebut adalah Ustadz Syihabuddin Abdul Muiz serta dr Marijati.

Ustadz Syhabuddin dalam materinya meyampaikan tentang, kemerdekaan hakiki, menguatkan ukhuwah dan menebar kebaikan. Pengasuh Ponpes Isyakarima Karangpandan tersebut membagi 3 hal dalam arti kemerdekaan.

“Pertama merdeka akal yang mempunyai makna merdeka dari penjajahan kebodohan dan rusaknya berpikir. Jika orang itu bebas menuntut ilmu mudah mendapatkan dan murah biayanya maka bisa dikatakan merdeka akal,”ujarnya.

Kedua, merdeka hati yaitu bertauhid dan terbebas dari hawa nafsu dan kesyirikan. Adanya larangan majelis taklim, pendirian masjid maka itu belum bisa dikatakan mrerdeka.

“Selanjutnya adalah merdeka jasad yaitu sehat. Orang mempunyai apa-apa dan bisa melakukan apa-apa. Itu namanya sehat jasadnya,” tambahnya.

Sementara itu, dr. Marijati selaku pemateri kedua lebih menitikberatkan tentang bagaiamana seorang Muslimah sehat, agar produktif dalam berdakwah dan berkontribusi.

“Makanan tolok ukurannya halalan toyiban. Makan jangan berlebihan yang toyib kadang-kadang tidak. Contoh gula halal tapi tidak toyib bagi penderita diabetes begitupula garam tidak toyib bagi penderita hipertensi,” katanya.

Selain pola makan, istirahat yang cukup juga sangat dibutuhkan agar tubuh fit. Berikutnya adalah rajin berlolahraga dan melakukan pemeriksaan kesehatan bila diperlukan.

“Kesehatan itu amanah yang harus dijaga ia seperti mahkota yang ada di atas kepala orang yang sehat yang hanya bisa dilihat oleh orang yang sakit,” pungkasnya.

Bagikan