Berdalih Perang Melawan Teroris, AS Membunuh 48.308 Warga Sipil

Berdalih Perang Melawan Teroris, AS Membunuh 48.308 Warga Sipil

JAKARTA(Jurnalislam.com)-Apa yang disebut Perang Melawan Teror telah menyebabkan 48.308 warga sipil tewas di Timur Tengah dan di tempat lain sebagai akibat dari pemboman AS sejak serangan 11 September 2001, sebagaimana dilaporkan oleh organisasi Airwars.

Dikutip dari The New Arab (8/9/2021), bahwa Airwars melacak tujuh tempat konflik termasuk Irak, Suriah, Yaman, Afghanistan, dan Libya untuk sebuah laporan yang diterbitkan beberapa hari sebelum peringatan 20 tahun serangan Al-Qaeda di AS, yang memicu operasi ‘Perang Melawan Teror’.

Airwars mengatakan bahwa minimal 22.679 warga sipil di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan tewas dalam serangan militer pimpinan AS sejak saat itu.

Secara mengejutkan, 97 persen korban sipil meninggal terjadi selama pendudukan AS di Afghanistan dan Irak, serta serangan militer yang dipimpin Washington melawan kelompok ISIS di Suriah dan Irak.

AS baru-baru ini mengakhiri perang 20 tahun di Afghanistan pada bulan Agustus dan Taliban merebut kembali kekuasaan, sementara Presiden Joe Biden telah bersumpah untuk mengakhiri era perang abadi.

Pendudukan pimpinan AS di Irak berlangsung dari 2003 hingga 2009, meskipun beberapa tentara masih berbasis di negara itu untuk membantu operasi melawan ISIS.

Washington mengakui pasukannya telah melakukan 91.340 serangan sejak kampanye anti-terornya di seluruh dunia yang dimulai pada 2001, kata Airwars.

Periode pemboman yang sangat intens terjadi saat invasi Irak tahun 2003, yang menyebabkan 18.695 serangan udara AS.

Itu juga merupakan tahun paling berdarah untuk kematian warga sipil dari 9/11 hingga sekarang, dengan 5.529 kehilangan nyawa mereka akibat serangan AS, sebagian besar terjadi selama invasi, kata Airwars, mengutip kelompok pelacak Irak Body Count.

Dalam operasi anti-ISIS antara 2015 dan 2017, sekitar 9.000 serangan udara terjadi setiap tahun.

Ini menjadikan 2017 sebagai tahun dengan jumlah kematian sipil tertinggi kedua, dengan 4.931 terbunuh, yang sebagian besar diduga akibat serangan koalisi pimpinan AS di Suriah dan Irak.

Angka-angka dari program Brown University Cost of War menunjukkan bahwa mencapai 370.072 warga sipil meninggal dalam perang pasca-9/11.

Margin yang lebar dalam statistik kematian yang dilaporkan Airwars akibat pemboman AS disebabkan oleh “banyak hal yang tidak diketahui mengenai kerugian sipil dalam perang”, kata organisasi itu.

Airwars mengatakan data mereka juga tidak dapat mengecualikan kematian yang disebabkan oleh serangan lain seperti “tembakan artileri dan amunisi berat lainnya” dalam kasus-kasus tertentu.

Juga tidak jelas apakah pasukan AS yang bertanggung jawab atas setiap serangan udara tertentu dalam angka-angka yang dilaporkan Airwars, seperti perang melawan ISIS ketika mitra koalisi lainnya termasuk Prancis dan Inggris juga ambil bagian.

Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) saat dihubungi untuk menanggapi atas laporan Airwars tentang kematian warga sipil, mengatakan: “Informasi yang Anda minta tidak langsung tersedia di kantor kami karena mencakup beberapa operasi/serangan militer dalam rentang waktu antara 18 dan 20 tahun.” pungkasnya. (Bahri)

Sumber: The New Arab

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X