Berita Terkini

Sukmawati Terus Dilaporkan Warga Terkait Pernyataanya Singgung Nabi Muhammad

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sukmawati Soekarnoputri kembali dilaporkan ke polisi terkait ucapannya yang membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan presiden pertama RI Sukarno.

Kali ini, seorang warga bernama Irvan Noviandana melaporkan putri sang proklamator itu ke polisi.

“Saya pribadi sebagai muslim, saya sangat tersinggung,” kata Irvan kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (18/11/2019).

Irvan mengatakan dirinya mengetahui ucapan Sukmawati pertama kali di media massa sebelum kasus itu viral. Dia sudah menyaksikan dengan saksama video Sukmawati yang berdurasi 30 menit tersebut

“Kita simak semuanya memang pernyataannya banyak sekali, bukan hanya tentang Nabi juga bandingkan Alquran dengan Pancasila dan sebagainya,” ungkap Irvan.

Irvan mengaku merasa dirugikan karena Nabi Muhammad disebutnya direndahkan dengan perkataan Sukmawati.

Menurutnya, Sukmawati tidak pantas membandingkan Nabi dengan orang lain meskipun itu dengan orang tua sendiri.

“Saya sebagai pribadi, seorang muslim merasa nabi saya, junjungan saya yang mengenalkan saya kepada Allah itu direndahkan,” kaya Irvan.

“Jadi gini, orang tua saya paling berjasa di hidup saya, ibu. Tapi pantes nggak, ‘siapa yang lebih berjasa antara ibu saya atau Nabi?’ Pernyataan itu saja sudah nggak pantes, apalagi Nabi coba dibandingkan jasanya dengan Sukarno. Sukarno manusia biasa, ya punya jasa dan kesalahannya,” sambungnya.

Dia menilai ucapan Sukmawati seolah-olah menggiring pemikiran masyarakat bahwa adanya radikalisme hingga kekerasan bersumber dari Islam. Dia juga enggan berdamai dengan Sukmawati meskipun Sukmawati meminta maaf terkait pernyataan itu.

sumber: detik.com

BMH Bagikan Paket Sekolah Dalam Peringatan HUT PGRI dan Hari Guru Nasional

SIDOARJO (Jurnalislam.com) – Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kembali membagikan bantuan paket sekolah berupa tas serta peralatan sekolah lainnya kepada anak-anak yatim.

Acar aini masih dalam rangkaian Jalan Sehat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia  (PGRI) ke-74 & Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2019, Pendopo Alun-alun Sidoarjo,  Kabupaten Sidoarjo, Ahad (17/11/2019).

Perlengkapan Sekolah dibagikan setelah kegiatan Jalan Sehat berlangsung yang diikuti para Guru dan ratusan warga Sidoarjo, saat penutupan Acara Peringatan HUT PGRI ke-74 dan HGN 2019.

Turut Serta dalam memeriahkan Acara Peringatan HUT PGRI ke-74 dan HGN 2019 yaitu Bupati Sidoarjo Bapak Saiful Ilah, Kepala dinas pendidikan  dan kebudayaan serta kepala PGRI Sidoarjo bapak Suprapto didampingi manager BMH  Ustadz M.Yasin.

“Alhamdulillah, acara pembagian peralatan sekolah untuk adik-adik yatim pada pagi hari ini berjalan lancar, terimakasih dukungan dari bapak Bupati Saiful Ilah serta jajaran Dinas Pendidikan &kebudayaan Sidoarjo,  dan yang pasti tidak lupa para donatur yang ikhlas menyisihkan sebagian hartanya untuk fasilitas perlengkapan Sekolah untuk adik-adik yatim yang membutuhkan” ungkap M. Yasin.

Tidak hanya bagi-bagi perlengkapan sekolah, tapi BMH juga menyediakan layanan Cek Kesehatan Gratis dari awal acara hingga selesai Acara HUT ke-74 PGRI dan HGN 2019.

“BMH tidak hanya bagikan Perlatan sekolah untuk adik-adik yang membutuhkan, melaikan BMH juga membuka posko cek kesahatan dari cek gula darah, asam urat, kolesterol, tekanan darah tinggi, Berat Badan secara Gratis untuk para guru pahlawan tanpa tanda jasa dan semua masyarkat yang mengikuti, ” tutupnya.

107 Tahun Muhammadiyah Membangun Negeri

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya melaksanakan upacara Milad Ke-107 Muhammadiyah di Lapangan Keputih, Sukolilo, Surabaya, Ahad (18/11/2019).

Hadir sebagai inspektur upacara adalah Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya Dr. H. Mahsun Djayadi M.Ag. Dalam pidato miladnya ia menepis isu yang menuduh Muhammadiyah kurang mencintai NKRI,

“Jangan mengajari Muhammadiyah tentang kecintaan terhadap NKRI dan Pancasila, Muhammadiyah sudah khatam mengenai hal tersebut,” terangnya.

“Karena Muhammadiyah juga membantu memajukan bangsa dari segi pendidikan, kesehatan, sosial, dan lain-lain mulai dari tahun 1912,” imbuhnya.

Ia juga menerangkan dakwah Muhammadiyah dalam pendidikan sudah menjangkau daerah pelosok,

“Sebelum pemerintah turun ke daerah pelosok di Jayapura, Muhammadiyah sudah turun membangun perkuliahan yang mana muridnya banyak dari non muslim.” katanya.

“Jadi milad Muhammadiyah yang ke 107 ini membuktikan Muhammadiyah masih eksis membangun negeri ini lebih maju lagi,” pungkasnya.

Selesai pidato milad, acara dilanjutkan dengan pemberian buku dengan judul “Memimpin Gaya Profetik” karya Dr. H. Mahsun Djayadi M.Ag. kepada para tamu VIP dan ketua majelis organisasi otonom muhammadiyah.

Kontributor: Ma’sum

Pesatnya Perkembangan Jenis Baru Narkoba Semakin Mengkhawatirkan Masyarakat

BANYUWANGI (Jurnalislam.com) – Kadiv Kesehatan BPAN LAI Banyuwangi, dr. Didik Sulasmono,  menyatakan bahwa keadaan pelajar yang menggunakan narkoba sangat memprihatinkan, dalam acara dalam acara Diklat Relawan Anti Narkoba bertempat di kantor LRPPN BI Banyuwangi, dan berlangsung selama tiga hari, terhitung mulai Senin (18/11/19) hingga Rabu.

Sebagai langkah awal pencegahan penyalahgunaan narkoba, pihaknya secara tripartit sudah melakukan screening dan tes urine ke beberapa jajaran. Baik itu kalangan pelajar maupun mahasiswa.

Dikatakan dr. Didik, sejauh ini mengenai  jenis narkoba terus bertambah.

“Dari sebelumnya 14 jenis, baru di tahun 2013 menjadi 76 narkoba di tahun 2018. Kondisi ini menuntut BNN untuk melakukan upaya strategis di mana salah satunya adalah keberadaan Relawan Anti Narkoba,” bebernya.

Sedangkan Hakim Said, selaku pembina BPAN LAI sekaligus LRPPN BI Banyuwangi menegaskan, Relawan Anti Narkoba adalah seseorang yang bersedia mengabdi secara ikhlas, tanpa pamrih, dan tanpa diberikan imbalan.

“Namun selain itu juga harus memiliki kemampuan dan kepedulian sebagai penggerak penyebarluasan informasi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba itu sendiri,” tandasnya.

Dalam acara Diklat Relawan Anti Narkoba di hari pertama ini, hadir sebanyak 30 peserta dari berbagai latar belakang yang berbeda.

Namun rata rata mereka adalah penggiat pecinta alam dan juga penggiat kesehatan serta aktivis plus relawan yang memang selama ini aktif dalam pendampingan maupun memberikan advokasi untuk mantan pemakai narkoba.

Kontributor: Hakim

Kecewa pada Netanyahu, Gedung Putih: Presiden Tidak Suka Pecundang

ALQUDS (Jurnalislam.com) – Pemerintahan Presiden AS Donald Trump merasa frustrasi dan kecewa dengan Israel, khususnya kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Pernyataan itu seorang pejabat senior Gedung Putih kepada rekan-rekan Israel-nya yang menolak identitasnya diungkap.

“Orang-orang Amerika berkecil hati dan frustrasi oleh politik Israel dan krisis politik saat ini, yang telah mencegah Gedung Putih dari mengungkap bagian politik dari kesepakatan abad ini,” katanya dilansir Ynet News, Senin (18/11/2019). Pernyataan orang Gedung Putih itu merujuk pada rencana perdamaian Timur Tengah yang lama ditunda oleh pemerintahan Trump

Sumber menambahkan bahwa Donald Trump merasa “sangat kecewa” dengan Netanyahu dan telah berbicara negatif tentang dia.

Menurut sumber itu, Trump telah memutuskan untuk menjauhkan diri dari Benjamin Netanyahu karena gagal memenangkan Pemilu 9 April dan membentuk pemerintahan, padahal Trump sudah banyak membantunya.

“Presiden tidak suka pecundang,” katanya.

Sumber tersebut mencatat bahwa Trump membantu Netanyahu dengan memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem, mengakui aneksasi Dataran Tinggi Golan yang diduduki dan menunjuk Pengawal Revolusi Iran sebagai organisasi teroris asing.

Mantan Sekretaris Negara AS Rex Tillerson sebelumnya mengatakan bahwa Netanyahu telah memberikan informasi yang salah kepada Trump tentang berbagai kesempatan.

Dia mencatat bahwa Netanyahu “melakukan itu dengan presiden pada beberapa kesempatan, untuk membujuknya bahwa ‘Kami adalah orang baik, mereka adalah orang jahat.”

“Kami kemudian mengungkapkannya kepada presiden sehingga dia mengerti, ‘Anda telah dipermainkan’. Itu menggangguku bahwa sekutu yang dekat dan penting bagi kita akan melakukan itu pada kita,” kata Tillerson.

Minimalisir Penyalahgunaan Narkoba, LRPPN BI Banyuwangi Bentuk Relawan Anti Narkoba

BANYUWANGI (Jurnalislam.com) – Pencegahan penyalahgunaan narkoba di wilayah Kabupaten Banyuwangi terus diupayakan.

Kali ini, LRPPN BI Banyuwangi, bersinergi dengan Klinik dr. Didik Sulasmono dan Badan Penelitian Aset Negara (BPAN) Lembaga Aliansi Indonesia (LAI) DPC Banyuwangi membentuk Relawan Anti Narkoba.

Pembentukan itu berlangsung dalam acara Diklat Relawan Anti Narkoba bertempat di kantor LRPPN BI Banyuwangi, dan berlangsung selama tiga hari, terhitung mulai Senin (18/11/19) hingga Rabu (20/11/19).

Menurut Ketua LRPPN BI DPD Banyuwangi, Muhammad Hiksan, keberadaan Relawan Anti Narkoba nantinya akan menjadi garda terdepan dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba.

“Acara ini sangat penting, karena baru pertama kali kita gelar. Relawan Anti Narkoba ini akan menjadi garda terdepan dalam rangka pencegahan, pemberantasan, dan penyebaran informasi terhadap bahaya narkoba,” ungkapnya kepada awak media.

Dikatakan Iksan, panggilan akrab ketua LRPPN BI ini, pihaknya merasa miris dengan dampak narkoba yang tidak hanya merusak raga tetapi juga bisa merusak tatanan negara Indonesia.

“Narkoba itu tidak mengenal usia dan profesi. Dampaknya sudah merambah ke segala lini tanpa mengenal batasan usia. Ngeri sekali,” lontarnya.

Kontributor: Hakim

 

Menakar Substansi Sertifikasi Nikah

Oleh : Djumriah Lina Johan*

(Jurnalislam.com)–Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mengatakan pasangan yang belum lulus mengikuti bimbingan pranikah atau sertifikasi siap kawin tak boleh menikah. Program bimbingan pranikah diharapkan mulai berlaku 2020.

“Ya sebelum lulus mengikuti pembekalan enggak boleh nikah,” kata Muhadjir di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (14/11).

Menurutnya, kementerian yang dilibatkan dalam menyiapkan program ini antara lain Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (CNNIndonesia.com, Kamis, 14/11/2019)

Adanya sertifikat siap kawin sebelum menikah pada hakikatnya tidak termasuk rukun nikah maupun syarat sah menikah di dalam Islam. Dengan demikian, menjadikan sertifikat nikah sebagai salah satu syarat pernikahan tentulah tidak sesuai dengan syariat Islam.

Sejatinya banyaknya kasus stunting, rendahnya tingkat ekonomi rumah tangga, hingga tingginya angka perceraian bukan hanya karena kurangnya ilmu sebelum menikah tetapi lebih disebabkan karena sistem kehidupan negeri ini yang berkiblat kepada Barat.

Sistem kapitalis sekuler yang menjadi akar permasalahan problematika kehidupan berumah tangga, masyarakat, maupun bernegara. Pertama, rendahnya ekonomi di tingkat rumah tangga disebabkan karena sulitnya mencari pekerjaan di negara ini. Ketika suami memiliki pekerjaan pun tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang, pangan, dan papan. Karena semakin hari harga kebutuhan pokok semakin tinggi apalagi ditambah naiknya iuran BPJS menambah beban bagi keluarga menengah ke bawah.

Kedua, tingginya kasus stunting karena absennya Pemerintah dalam menjamin pemenuhan kebutuhan pokok yang halal, sehat, bergizi, seimbang, serta thayyib (baik). Kalaupun ada kebutuhan pokok yang halal dan thayyib harganya jauh lebih mahal. Sesuai dengan sebuah slogan yang berbunyi, “Harga sesuai dengan kualitas.”

Sehingga jika rakyat menengah ke bawah hanya memiliki uang sedikit maka hanya bisa membeli beras yang harganya murah dengan kualitas murahan. Tak ayal beras tersebut sudah berbau dan sudah berubah warna. Walhasil, wajar jika masih banyak kasus stunting di negeri ini.

Ketiga, pergaulan yang serba bebas dan boleh mengakibatkan banyaknya generasi yang terjerumus kepada pergaulan bebas. Belum lagi masih ada konten-konten yang berbau pornografi dan pornoaksi hingga masih beredarnya narkoba dan minuman keras di kalangan generasi. Kehamilan tidak direncanakan pun terjadi. Inilah yang kebanyakan menjadi sebab mengapa banyak terjadi pernikahan dini. Dengan demikian, bukan solusi penyuluhan kesehatan reproduksi yang dibutuhkan.

Keempat, rusaknya tatanan kehidupan keluarga karena perselingkuhan melalui media sosial menjadi salah satu pemicu. Tak sedikit pula yang bercerai karena istri yang turut membantu keuangan keluarga akhirnya selingkuh dengan rekan sejawatnya. Hal ini pun berlaku sebaliknya.

Dengan demikian, sertifikat nikah yang dimaksudkan menjadi solusi pun terkesan jauh panggang dari api.

Islam sebagai agama yang komprehensif memiliki solusi tuntas untuk permasalahan negeri ini. Pertama, Islam mengatur sistem pergaulan pria dan wanita dengan sudut pandang yang khas. Pria dan wanita tidak boleh berdua-dua (khalwat) maupun bercampur baur (ikhtilat). Dengan pemahaman yang khas ini disertai penanaman keimanan kepada Allah, akan menjadi rem bagi kaum Muslimin agar tidak terjerumus pergaulan bebas maupun perselingkuhan.

Selain itu, anak-anak sedari kecil dididik dengan pendidikan sesuai fitrahnya sebagai laki-laki dan perempuan. Laki-laki dididik menjadi seorang pemimpin yang siap untuk memimpin keluarga dan siap untuk bertanggung jawab mencari nafkah sejak usia baligh. Perempuan dididik agar siap menjadi istri dan pengatur rumah tangga. Sehingga ketika mereka baligh, mereka telah paham dengan tupoksi masing-masing dan siap untuk menikah.

Negara tidak serta merta melepaskan tangan melainkan negara wajib memberikan pendidikan tersebut sebagai bagian dari kurikulum. Negara pun mempermudah perizinan menikah dini bagi laki-laki dan perempuan yang sudah siap untuk menikah. Serta negara memfasilitasi dengan memberikan lapangan pekerjaan, pendidikan gratis, kesehatan gratis, keamanan gratis, hingga menjamin akan terpenuhinya kebutuhan pokok berupa sandang, pangan, dan papan.

Adapun terkait sanksi perzinaan sebagai bentuk pencegahan dan penebus dosa pelaku kemaksiatan berupa hukum jilid bagi yang belum menikah dan rajam bagi yang telah menikah.

Ketika hal tersebut di atas diterapkan maka bisa dijamin tatanan kehidupan negeri ini akan aman, sentosa, dan bahagia. Karena Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam bish shawab.

*Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial Ekonomi Islam

Datang ke Indonesia, Ulama Gaza Kisahkan Kekejian Israel Bunuh Wanita dan Anak

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ulama Gaza, Dr. Ahed Abul Atha, mengatakan serangan Zionis Israel pekan lalu bukan hal baru yang terjadi di Gaza, Palestina. Namun, serangan serupa sudah terjadi sejak 1948.

Dia menyebutkan tiga serangan terakhir Zionis Israel ke Gaza. Di antaranya terjadi pada 2008, 2012, dan 2018. Ketiga serangan itu telah menimbulkan ribuan korban jiwa.

“Kejahatan yang terjadi kemarin bukan hal baru. Karena serangan Israel ke Gaza sudah menewaskan hampir ribuan orang syahid, ribuan rumah hancur, dan ratusan sekolah hancur,” kata Ahed Abul Atha di Rumah Spirit of Aqsa, Tebet, Jakarta Selatan, Senin (18/11).

Ketua Ulama Palestina Asia Tenggara itu lalu menjelaskan asal mula terjadinya serangan Zionis Israel pekan lalu. Israel menjatuhkan roket tepat di rumah salah seorang pejuang Palestina, yang ketuaan sepupu dari Ahed Abul Atha, yakni Baha Al Atha.

“Jadi Baha Al Atha adalah putra asli Gaza, lahir dan tumbuh di Gaza, dididik di Gaza untuk berjuang memerdekakan Palestina,” ujarnya.

Kala itu, Baha Al Atha sedang tidur bersama keluarganya saat Israel menjatuhkan roket. Akibatnya, Baha beserta anak istrinya tak bisa diselamatkan dan syahid di tempat.

Ahed Abul Atha mengatakan, Israel sama sekali tidak punya sisi kemanusiaan. Di rumah Baha, terdapat lima anak kecil. Padahal, sudah menjadi kesepakatan internasional bahwa anak-anak dan wanita tidak boleh dibunuh saat perang.

“Dari sejak saat itu. Mulai dari serangan ke Baha Al Atha, serangan Israel terus berlanjut sampai 35 syahid sampai hari ini,” ucap dia. Selain menyerang rumah para pejuang, Israel juga mentarget rumah-rumah warga sipil, kebun, hingga sekolah.

Minta Jaga Ucapan, PBNU: Pernyataan Sukmawati Timbulkan Ketersinggungan Umat

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini menilai pernyataan Sukmawati yang membandingkan antara Nabi Muhammad SAW dengan Soekarno sangat tidak tepat dan keliru besar.

Menurut dia, pernyataan itu tidak kontekstual, dan tidak ada manfaatnya sama sekali.

“Justru hal itu hanya akan menimbulkan kesalahpahaman dan ketersinggungan di kalangan umat,” kata Helmy melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com Senin (18/11).

Terlebih, lanjut dia, Bung Karno adalah sosok yang sangat mengagumi kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW justeru menjadi inspirasi besar lahirnya kemerdekaan Indonesia.

“Karena Nabi mengajarkan Islam sebagai agama pembebasan, dari belenggu kelaparan dan kemiskinan,” katanya.

Nabi Muhammad, lanjutnya adalah sosok sebaik-baiknya contoh, manusia pilihan, sehingga tidak tepat untuk disepadankan atau dibanding-bandingkan dengan manusia lainnya.

“Atas hal ini kita perlu tabayyun untuk mendapatkan secara utuh apa yang dimaksud Ibu Sukmawati,” katanya.

“Sebaiknya sebagai tokoh nasional, Sukmawati dapat berhati-hati untuk mengeluarkan pernyataan agar tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Di tengah perayaan maulid Nabi Muhammad SAW, muncul isu yang menyinggung umat Islam karena membandingkan antara Nabi dan Proklamator RI Soekarno. Isu ini seharusnya tidak terjadi, karena umat Islam tidak mungkin menafikan peran Soekarno sebagai pendiri bangsa.

Wamenag Persilakan Warga Laporkan Sukmawati

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Sa’adi, menilai adanya laporan ke polisi terhadap Sukmawati Soekarnoputri, adalah hal wajar terjadi karena Indonesia merupakan negara yang menjunjung proses hukum.

“Saya kira sah-sah saja kalau masyarakat mengadukan hal tersebut ke mekanisme hukum. Tetap kita harus menahan diri, silakan proses hukum dilaksanakan,” katanya saat dihubungi Jurnalislam.com, Senin (18/11/2019).

Sukmawati Soekarnoputri diduga melakukan tindak pidana penistaan agama karena membanding-bandingkan Nabi Muhammad SAW dengan ayahnya, Presiden Soekarno, dalam sebuah diskusi bertajuk “Bangkitkan Nasionalisme dan Berantas Terorisme”.

Ia juga mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak terpancing dengan pernyataan kontroversial dari Sukmawati Soekarnoputri yang diduga menistakan agama Islam karena membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Presiden Soekarno.

“Kami mengimbau bahwa yang penting tidak perlu terjadi kegaduhan, tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” kata Zainut.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu mengatakan persoalan agama masih menjadi isu sensitif untuk dibahas di sebagian besar kelompok masyarakat Indonesia. Sehingga, pendapat-pendapat yang disampaikan dalam menanggapi pernyataan Sukmawati tidak perlu disampaikan secara berlebihan.

“Masyarakat Indonesia harus menempatkan masalah ini secara hati-hati, karena ini menyangkut masalah yang sensitif,” katanya.

Oleh karena itu, Zainut meminta seluruh tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk berhati-hati dalam menyampaikan pendapat terkait kontroversi Sukmawati. Dia meminta pernyataan para tokoh bangsa harus menghindari muatan negatif.

“Kami juga mengimbau kepada tokoh masyarakat, tokoh bangsa agar dalam menyampaikan statement itu menghindari hal yang justru nanti kontraproduktif, misalnya yang berkaitan dengan isu agama,” jelasnya.

Laporan tersebut masuk ke Polda Metro Jaya atas sangkaan pasal 156a KUHP tentang Penistaan Agama pada 15 November 2019. Pelapor mengklaim sebagai pihak umat Islam yang dirugikan atas pernyataan putri Sang Proklamator itu.