Berita Terkini

PBNU: Pernyataan Sukmawati Keliru Besar

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini menyesalkan pernyataan Sukmawati Soekarno Putri yang membandingkan antara Nabi Muhammad SAW dengan Soekarno. Menurutnya, pernyataan adalah kekeliruan yang besar karena tidak kontekstual, dan tidak ada manfaatnya sama sekali.

“Justru hal itu hanya akan menimbulkan kesalahpahaman dan ketersinggungan di kalangan umat,” kata Helmy melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com Senin (18/11/2019).

Terlebih, lanjut dia, Bung Karno adalah sosok yang sangat mengagumi kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW justeru menjadi inspirasi besar lahirnya kemerdekaan Indonesia.

“Karena Nabi mengajarkan Islam sebagai agama pembebasan, dari belenggu kelaparan dan kemiskinan,” katanya.

Nabi Muhammad SAW, lanjutnya, adalah sosok sebaik-baiknya contoh, manusia pilihan, sehingga tidak tepat untuk disepadankan atau dibanding-bandingkan dengan manusia lainnya.

“Atas hal ini kita perlu tabayyun untuk mendapatkan secara utuh apa yang dimaksud Ibu Sukmawati,” katanya.

“Sebaiknya sebagai tokoh nasional, Sukmawati dapat berhati-hati untuk mengeluarkan pernyataan agar tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Sukmawati membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Proklamator RI Bung Karno. Pernyataan itu dia sampaikan ketika dirinya jadi pembicara diskusi bertajuk ‘Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme’, Senin (11/11/2019).

“Sekarang saya mau tanya semua, yang berjuang di abad 20 itu Yang Mulia Nabi Muhammad apa Ir Soekarno, untuk kemerdekaan? Saya minta jawaban, silakan siapa yang mau jawab berdiri, jawab pertanyaan Ibu ini,” tanya Sukmawati kepada peserta diskusi.

10 Dampak Buruk Layar Gawai Bagi Anak

JURNALISLAM.COM – Hidup tanpa gawai hari ini mungkin akan terasa aneh. Akan tetapi di beberapa negara, regulasi ini sudah masuk di meja pembahasan terutama bagi anak-anak khususnya di bawah umur 2 tahun.

American Academy of Pediatrics telah merekomendasikan para orang tua agar membatasi anak dalam mengkonsumsi media hiburan dan melarang anak di bawah umur 2 tahun untuk menggunakan dan menikmati layar gawai . Meskipun sebuah studi oleh Henry J. Kaiser Foundation memberikan rekomendasi bahwa anak-anak usia 8 – 18 tahun itu rata-rata hanya boleh menikmati media hiburan maksimal 7,5 jam sehari.

Lalu apa saja dampak buruk gawai bagi anak? Berikut diantaranya:

  1. Rentang perhatian yang dipersingkat

Layar pada gawai menyediakan gambar berkedip cepat atau flashing, yang berkorelasi dengan rentang perhatian yang lebih pendek. Paparan terus menerus terhadap gambar-gambar yang berkedip seperti itu akan mengikis rentang perhatian anak-anak, dan kemudian kita melihat meningkatnya tingkat diagnosis ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

ADHD adalah gangguan mental yang menyebabkan seorang anak sulit memusatkan perhatian, serta memiliki perilaku impulsive dan hiperaktif, sehingga dapat berdapak pada prestasi anak.

  1. Mengurangi minat baca

Gawai menjadi sumber utama hiburan, sehingga bentuk yang lebih tenang seperti membaca, menggambar, menulis, dll menjadi membosankan. TV menghadirkan pertunjukan cahaya dan suara yang luar biasa.

Buku mengharuskan anak untuk membayangkan dan mengumpulkan energi untuk menghadirkan gambar-gambar mental dari cerita yang sedang dibaca. Akan tetapi dengan layar, anak hanya bisa duduk dan menonton gambar yang dibuat untuknya. Membaca sekarang menjadi sulit, melelahkan. TV lebih mudah. Lebih mudah bersikap pasif daripada aktif.

  1. Terbuangnya waktu

Gawai menghabiskan banyak waktu. Ada begitu banyak cara yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi seorang anak untuk menghabiskan masa-masa emasnya daripada hanya duduk di depan layar, meskipun satu atau dua jam sehari. Waktu itu lebih baik dihabiskan untuk mengeksplorasi, mengumpulkan hal-hal bersama, berpetualang, berbicara dengan orang tua atau saudaranya, melihat gambar-gambar dalam buku, atau bermain di alam.

  1. Mengurangi waktu untuk bermain di luar

Gawai sebagian besar telah menggantikan waktu untuk bermain di luar. Pelan tapi pasti, selama beberapa dekade terakhir, kita telah menjadi negara yang lebih malas, orang yang lebih banyak duduk menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan daripada di luar ruangan.

Dulu, anak-anak biasa menghabiskan banyak waktu di luar ruangan dan di alam, dan itu terbukti meningkatkan mood dan kesehatan fisik serta mental secara keseluruhan (kadar vitamin D yang lebih tinggi, tingkat depresi yang lebih rendah, dll). Namun, sekarang, kita lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, duduk di sofa, memandangi layar gawai.

Pergeseran dari luar ke dalam ruangan ini berdampak pada kesehatan kita bersama; kita sekarang lebih sering sakit, karena sistem kekebalan yang lebih lemah dan tubuh yang lebih rentan, daripada orang-orang sebelum kita. Untuk anak-anak khususnya, berada di luar sangat penting untuk perkembangan yang sehat.

  1. Obesitas

Data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Bangkok menunjukkan bahwa tingkat obesitas anak Indonesia termasuk tertinggi di kawasan Asia Pasifik bersama dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Di kawasan Asia Pasifik, sepanjang kurun waktu tahun 2000 hingga 2016, jumlah anak-anak berumur kurang dari lima tahun dengan kelebihan berat naik setinggi 38%.

Tentu saja, jenis makanan yang kita makan banyak hubungannya dengan fenomena ini, tetapi begitu juga dengan jumlah waktu yang kita habiskan untuk duduk. Semakin aktif seseorang, semakin baik. Gawai memaksa kita untuk duduk dan tidak bergerak, yang kemudian secara perlahan membentuk kebiasaan, dan preferensi untuk, duduk untuk waktu yang lama alih-alih bergerak.

  1. Kecanduan

Anak-anak (dan orang dewasa) sebenarnya bisa kecanduan perangkat elektronik, seperti iPad, smartphone, TV, dll. Mereka menjadi ketergantungan pada perangkat dan menggunakannya sebagai bentuk hiburan eksklusif mereka. Tanpanya, beberapa anak mengalami kehancuran dan satu-satunya cara untuk menenangkan mereka adalah dengan memberikan iPhone itu kepada mereka. Ini terjadi pada anak-anak semuda 2 tahun, dan itu sangat tragis.

  1. Kegagalan komunikasi

Di era digital, banyak orang mengganti komunikasi tatap muka dengan pesan teks dan media sosial. Alih-alih memiliki hubungan nyata secara langsung, dengan kontak mata dan sentuhan fisik (yang dibutuhkan manusia untuk perkembangan), anak-anak terbiasa berkomunikasi pada tingkat yang lebih dangkal hanya melalui teks dan pesan tertulis. Ini menghambat pertumbuhan emosional dan keterampilan interpersonal.

  1. Konten yang Tidak Tepat

Yang ini no-brainer. Semakin banyak paparan seorang anak untuk disaring, semakin ia mengkonsumsi pemrograman budaya masyarakat barat modern, yang hypersexualized dan penuh dengan konten seksual, kekerasan, dan bahasa kotor. Sebagai Muslim, ini adalah kebalikan dari apa yang ingin kita yakini, baik orang dewasa maupun anak-anak.

  1. Kurang taat kepada orang tua

Ada dua alasan untuk kerusakan ini. Salah satunya adalah bahwa dalam hiburan untuk anak-anak, termasuk kartun. Orang tua dibuat mati kutu yang kikuk dan terus-menerus dikalahkan dan diperdaya oleh anak-anak mereka sendiri. Dalam banyak film kartun dan pertunjukan anak-anak, mereka bersikap acuh tak acuh dan tidak sopan terhadap orang tua mereka.

Kedua, ketika seorang anak sedang menonton TV dan Anda mencoba memanggilnya, misalnya hanya untuk makan malam, atau untuk membantu Anda dengan sesuatu, atau untuk mengerjakan pekerjaan rumah, anak itu lebih lambat untuk menanggapi panggilan Anda. Mereka terlalu asyik dengan apa yang ada di layar dan lebih mengacuhkan panggilan Anda. Anda, sebagai orang tua, dipaksa untuk bersaing dengan TV untuk perhatian anak Anda.

  1. Konsumerisme

TV, dan bahkan YouTube sekarang, sangat bergantung pada iklan. Setiap beberapa menit, pertunjukan dijeda untuk jeda iklan, dan anak-anak Anda akan menonton iklan seperti mereka menonton pertunjukan yang sebenarnya. Perusahaan mengandalkan audiensi yang tertahan ini untuk menciptakan keinginan buatan untuk produk mereka dan menciptakan pendapatan untuk bisnis mereka. Menghindari gawai memungkinkan Anda menjauhkan anak-anak dari parade produk iklan dan menyelamatkan mereka sebelum terlalu jauh ke dalam mentalitas konsumeris.

Sukmawati dalam Pusaran Deislamisasi Perjuangan Bangsa

Oleh: Ainul Mizan*

(Jurnalislam.com)Dalam sebuah pidato dalam diskusi yang bertajuk “Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Perangi Terorisme”, Sukmawati membandingkan antara Nabi Muhammad Saw dan Sukarno (www.suara.com, Sabtu 16/11/2019).

Menurutnya Sukarno itu lebih berjasa terhadap berjasa dalam kemerdekaan Indonesia dibandingkan Nabi Muhammad Saw. Diskusi ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, 10 Nopember 2019.

 

Menilik dari pernyataan Sukmawati tersebut, secara eksplisit merupakan bagian dari upaya deislamisasi perjuangan bangsa. Alasannya, yang disasar merupakan bagian hal – hal yang fundamental dalam Islam. Sosok Nabi Muhammad Saw adalah sosok sentral sebagai pembawa ajaran Islam.

 

Deislamisasi perjuangan bangsa bermakna meniadakan peran Islam dalam kontribusinya terhadap kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian terdapat legalitas baru untuk terus memasarkan gorengan radikalisme yang sudah basi di tengah masyarakat.

 

Menurut hemat penulis, pernyataan Sukmawati tersebut harus dikritisi dengan detail. Alasannya di dalamnya terdapat racun yang membahayakan bagi kebangkitan umat Islam, yang sejatinya menjadi kebangkitan bangsa Indonesia.

Pertama, pembandingan dari aspek waktu yang berbeda, tentunya adalah pembandingan yang tidak adil. Justru hanya menunjukkan kedangkalan berpikir.

Kemerdekaan Indonesia yang diraih di awal – awal abad ke-20 dijadikan sebagai tolak ukur. Tentu saja Sukarno yang hidup di awal abad 20 itu yang ikut merasakan langsung dalam usaha – usaha persiapan kemerdekaan Indonesia. Sedangkan Nabi Muhammad SAW itu masa hidup beliau adalah sekitar abad ke-7 masehi. Tentu saja kiprahnya secara langsung juga berada di rentangan abad ke -7 M di masyarakat Arab waktu itu.

 

Untuk lebih mempertegas absurdnya perbandingan ala Sukmawati ini, mari ditanyakan padanya, Sekarang di abad 21 ini, siapa yang berjasa terhadap kemajuan teknologi Indonesia, Habibie atau Sukarno?

 

Terakhir yang patut ditanyakan, apa jasa anda sendiri di abad 21 ini bagi Indonesia? apakah jasanya berupa penistaan terhadap Islam dan Nabi Muhammad Saw? Tidak perlu bersembunyi di balik nama besar sang bapak.

Kedua, perbandingan yang adil adalah dari segi pengaruh tokoh tersebut. Di sinilah Michael Hart di dalam bukunya, menempatkan Nabi Muhammad Saw di urutan pertama dari 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia.

Michael Hart mengumpulkan 100 tokoh dunia dari kurun waktu yang berbeda – beda, lantas ia mengkajinya dari aspek pengaruh ajaran dan jejak rekam kehidupannya.

Pengaruh Nabi Muhammad Saw yang membawa risalah Islam terhadap manusia di seluruh penjuru dunia pada setiap waktu dan generasi manusia hingga datangnya hari kiamat.Bahkan pengaruh Nabi Saw dari dunia hingga ke akherat.

Pengaruh beliau saw di semua aspek kehidupan manusia baik di bidang politik, pemerintahan, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, peradilan, dan pertahanan keamanan.

Tidak ada satu tokoh dunia pun yang pengaruhnya sedemikian besarnya bagi kehidupan manusia. Maka sudah seharusnya seorang muslim untuk menghormati, memuliakan dan meneladani Nabi Muhammad Saw.

 

Sekarang mari kita lihat jaminan Allah Swt akan diri Nabi Muhammad saw dan perjuangannya mengemban risalah Islam ini.

Allah swt berfirman:

 

وما ارسلناك الا رحمة للعالمين

Tidaklah Kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam (al anbiya ayat 107).

 

Jadi rahmat di sini dilihat dari 2 aspek, yakni diri Nabi Muhammad saw sendiri dan risalah yang dibawanya.

 

Dari aspek diri beliau sendiri adalah jaminan keselamatan bagi umatnya. Allah Swt menyatakan:

 

وما كان اللّه ليعذبهم وانت فيهم

Tidaklah Alloh sekali – kali menurunkan siksa sementara kau (Muhammad) berada di tengah – tengah mereka.

 

Adapun dari risalah Islam yang dibawanya. Allah swt menyatakan:

وما كان الله معذبهم وهم يستغفرون

Tidaklah sekali kali Alloh mengadzab mereka, sementara mereka beristighfar.

 

Istighfar itu bermakna meninggalkan maksiat dan melaksanakan ketaatan. Hal ini bisa kita pahami dari Ar Ruum 41.

 

Penjajahan jelas dilarang di dalam Islam. Maka umat Islam harus melawan guna terbebas dari penjajahan. Di sinilah jihad memegang peranan dalam perjuangan bangsa Indonesia. Sedangkan jihad sendiri notabenenya adalah ajaran Nabi Muhammad Saw.

Menolak Lupa

 

Kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran Islam dan umat Islam. Sejak awal penjajah portugis datang di Selat Malaka tahun 1511 M, yang melawan mereka adalah Kesultanan Demak melalui Dipati Unus dengan para mujahidnya. Begitulah silih berganti umat Islam di bawah komando Kesultanan Islam melawan penjajah dari manapun datangnya.

 

Peran Islam dan umatnya inipun diabadikan di dalam teks pembukaan UUD 1945 alinea kedua dengan menyatakan bahwa kemerdekaan bangsa bisa diraih atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

 

Bahkan peran Islam dan umatnya inipun diuji kembali pada perang 10 Nopember 1945. Dengan pekik takbir, Bung Tomo dan resolusi Jihad KH.Hasyim Asy’arie, para pemuda Surabaya dan sekitarnya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dan hari ini, umat Islam terus berjuang agar Indonesia ini bisa terbebas dari berbagai bentuk penjajahan gaya baru, demi mewujudkan negeri yang sejahtera dalam naungan ridho Allah Swt.

 

Demikianlah besar dan abadinya pengaruh perjuangan Nabi Muhammad Saw yang membawa risalah Islam ke seluruh manusia. Sukarno sendiri pun harus mengakui bahwa Nabi Muhammad Saw adalah pemimpin terbesar dunia.

 

Walhasil, tulisan ini merupakan bentuk kemarahan penulis atas penghinaan kepada Nabi Muhammad Saw dan pembelaan kepada beliau saw. Yang terakhir ada satu ungkapan Al Imam Asy – Syafi’iy rahimahullahu:

 

ومن استغضب ولم يغضب فهو حمار

Barangsiapa yang dibuat marah tapi ia tidak marah, maka ia adalah seekor keledai.

 

#Penulis tinggal di Malang

Elemen Umat Islam Didorong Susun Roadmap Dakwah dan Politik

YOGYAKARTA(Jurnalislam.com)–Pakar Ilmu Politik dari Universitas Indonesia, Sodik Mudjahid menilai umat Islam harus memiliki roadmap politik ke depan, karena kelompok yang sekuler pun memiliki roadmap tersendiri.

“Mereka lebih siap dengan sistem demokrasi langsung sementara umat Islam masih belum siap dan masih apriori dengan demokrasi,” kata Sodik dalam “Dialog Kebangsaan dan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI” pada Muktamar Ke-6 KB PII di Yogjakarta, Sabtu (16/11/2019).

Dia mencontohkan, di Jawa Barat, ketika dia datang ke dewan kemakmuran masjid (DKM dan tokoh Islam ketika ditanya siapa pemimpin mereka untuk calon gubernur dan walikota, mereka tidak memiliki jawaban yang sama.

“Sekali lagi, mereka lebih siap dengan sistem demokrasi. Akibatnya, bupati dan walikotanya bukan dari perwakilan umat Islam. Kalaupun masih Islam, mereka akan pilih yang masih sejalan dengan pemikiran mereka. Umat Islam tidak mempunyai roadmap di Jawa, Sumatera dan daerah lainnya. Jadi wajar, pengurus DKM masih bingung,” katanya.

“Sistem demokrasi padahal memberikan peluang produk-produk legislasi yang syar’i bisa dihasilkan asalkan tidak bertentangan dengan Pancasila dan prosesnya dihasilkan secara konstitusional,” imbuhnya.

Kepada para peserta Muktamar KB PII, Sodik menyarankan agar mulai saat ini perlu ada roadmap Dakwah untuk menyikapinya. Untuk mencapai ini, Sodik menganjurkan mengajarkan tiga hal.

Pertama, agar umat selalu meningkatkan iman dan takwa dimulai dari  keluarga. Kedua, ajarkan agar keluarga dan umat untuk memilih pemimpin yang muslim.

Ketiga, ajarkan bahwa  hukum terbaik itu bersumber dari Islam dan prosesnya harus dilakukan melalui sistem yang demokratis.

Kebijakan Pemerintah dan DPR Periode Pertama Jokowi Dinilai Kurang Untungkan Umat Islam

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com)- Sejak lima tahun berkuasa, pemerintahan Presiden Jokowi lebih banyak membuat kebijakan yang dinilai kurang  menguntungkan bagi umat Islam.

Rata-rata produk undang-undang yang disahkan pemerintah dan  DPR dinilai lebih banyak mewakili kepentingan golongan sekuler.

Padahal mayoritas yang akan terkena imbas dari kebijakan undang-undang nantinya adalah umat Islam sebagai warga mayoritas.

Begitulah yang disampaikan Pakar Ilmu Politik dari Universitas Indonesia, Sodik Mudjahid, dalam “Dialog Kebangsaan dan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI” pada Muktamar Ke-6 KB PII di Yogjakarta, Sabtu (16/11/2019).

Contohnya, katanya, seperti Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS).

Hingga kini, RUU PKS masih menuai kontroversi karena munculnya anggapan bahwa RUU ini mendukung praktik perzinaan, melanggengkan LGBT, dan bahkan mengamini praktik aborsi. Beruntung, RUU ini ditunda untuk dibahas oleh DPR.

“Sejak 5 tahun terakhir, representasi kalangan Islam di DPR kian menurun drastis jumlahnya. Tidak heran, jika di legislatif dan eksekutif  kepentingan Islam pada akhirnya kurang terwakili,” ujar Pakar Ilmu Politik dari Universitas Indonesia, Sodik Mudjahid ketika menjadi pembicara pada “Dialog Kebangsaan dan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI” pada Muktamar Ke-6 KB PII di Yogjakarta, Sabtu (16/11/2019).

Menurut Sodik, kelompok-kelompok yang kurang ramah yang saat ini menguasai DPR dan eksekutif diklaim sudah memiliki roadmap untuk menguasai Indonesia untuk 20 tahun ke depan.

Kekuatan kelompok ini didukung tim pakar untuk memproduksi UU yang sekuler, tim lobby dan tim pendana.

Sementara kelompok Islam, hanya datang pada saat rapat dengar pendapat (RDP) di menit-menit terakhir pengesahan UU.

Buka Muktamar ke-6 KBPII, Ini Pesan JK kepada Peserta

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com)- Mantan Wakil Presiden RI Muhammad Jusuf Kalla membuka Muktamar ke-6 Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII) di Grand Keisha Hotel, Yogyakarta, Sabtu (16/11/2019).

Dalam sambutannya, JK berpesan beberapa hal kepada peserta muktamar. Diantaranya soal penguatan lembaga PII, sebagai organisasi induk dari KBPII.
Dikatakan JK, keberadaan KBPII sangat ditentukan dengan berkembang atau tidaknya PII.

“Apabila PII tidak berkembang di bawah, saya kira 10 tahun tidak ada KBPII. Jangan keluarga besar ini lebih besar dari PII nya. PII nya harus lebih besar dari keluarga besarnya,” jelas JK kepada ratusan peserta muktamar.

Untuk itu, diperlukan formulasi penguatan lembaga PII menyesuaikan tuntutan zaman. Dikatakan JK, saat ia terlibat dengan PII ia melihat anggota PII rata-rata adalah berstatus pelajar.

Namun, kondisi sekarang berbeda. JK melihat saat ini anggota dan pengurus PII justru berstatus mahasiswa.

“Sekarang saya lihat yang aktif di PII mahasiswa. Padahal saya dulu ikut PII kelas 2-3 SMP itu pelajar anggotanya. Saya termasuk generasi awal ikut PII.,” ujar JK.
Kemudian, tambah JK, saat ini organisasi pelajar tak lagi hanya PII. Sehingga persaingan dalam merekrut anggota semakin kuat.
“Dulu itu, PII satu-satunya organisasi pelajar Islam pertama. Sekarang zamannya beda, ada OSIS, ada Pramuka,” jelas JK.

Diceritakan JK, saat aktif di PII dia mendapat pelatihan yang tidak diperolehnya di bangku sekolah.”Saya mendapat materi kebangsaan pertama dari PII, latihan materi pidato, bukan dari sekolah. Saya mengenal pelajar antar sekolah dari PII,” jelas dia.

Selanjutnya, agar PII dapat bertahan dengan tantangan zaman, JK berharap PII menguatkan materi kebangsaan. “Jangan di PII diberikan pemikiran-pemikiran yang radikal. Harus diisi dengan kebangsaan dan jalin silaturrahim antar sekolah,” lanjut JK.

Pesan Milad Muhammadiyah ke-107 : Jaga Spirit Memberi dan Menolong Sesama

GROBOGAN (jurnalislam.com)- Dalam rangka merefleksikan milad Muhammadiyah ke 107, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) kabupaten Grobogan mengadakan pengajian akbar bertajuk “Peneguhan Keislaman dan Keindonesiaan Untuk Kabupaten Grobogan” di alun-alun kota Purwodadi, sabtu, (16/11/2019).

Acara ini menghadirkan pembicara Sekjen PP Muhammadiyah Dr. H. Abdul Mu’ti.

Ia menyampaikan bahwa persatuan dan kesatuan bangsa adalah sesuatu hal yang tak terbeli.

“Sehingga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara haruslah dilandasi spirit pancasila sila ke-3 yaitu persatuan Indonesia. Dengan merawat persatuan dan kesatuan dan didukung dengan spirit memberi dan menolong sesama maka pasti akan terwujud negara yang adil dan makmur,” katanya.

“Bahwa dalam rangka membantu pemerintah dalam segala aspek tidak perlu dipertanyakan lagi karena Muhammadiyah memiliki semboyan sedikit bicara banyak bekerja,” imbuhnya.

Ia juga berharap Muhammadiyah Groboka akan terus mempunyai spirit memberi dan ilmu maliah amal ilmiah yang menjadi dasar setiap warga Muhammadiyah mengabdi untuk bangsa dan kemanusiaan universal.

“Semoga muhammadiyah kabupaten grobogan kedepannya semakin maju, semakin berkembang dan senantiasa memiliki spirit beramal dan memberi sehingga mampu memajukan Grobogan,” pungkasnya.

Ribuan Warga Grobogan Hadiri Refleksi Milad 107 Tahun Muhammadiyah

GROBOGAN (Jurnalislam.com)- Dalam rangka merefleksikan milad Muhammadiyah ke 107, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Grobogan mengadakan pengajian akbar bertajuk “Peneguhan Keislaman dan Keindonesiaan Untuk Kabupaten Grobogan” di alun-alun kota Purwodadi, sabtu, (16/11/2019).

Pengajian akbar tersebut dihadiri oleh kurang lebih 7000 anggota Muhammadiyah baik murid,guru, staff dan karyawan serta seluruh warga Muhammadiyah se-Grobokan.

Selain anggota Muhammadiyah, Bupati kabupaten Grobogan Sri Sumarni, ketua PDM Jawa Tengah Drs. H. Musman Tholib, pimpinan partai politik, Setda Grobogan dan juga pimpinan cabang Muhammadiyah se kabupaten Grobogan turut hadir untuk mengikuti pengajian akbar yang diisi oleh Sekretaris PP muhammadiyah Dr. H. Abdul Mu’ti tersebut.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Grobogan Ir. Jati Purnomo mengatakan dalam sambutannya, bahwa sebanyak kurang lebih 5000 siswa di Grobogan yang dididik di sekolah Muhammadiyah kabupaten Grobogan.

“Dengan tingkat pendidikan yang terjamin dan tertempuh sehingga kecerdasan tinggi maka diharapkan angka pengangguran dikabupaten grobogan bisa turun. sehinga secara tidak langsung dengan Muhammadiyah senantiasa memadukan antara iman dan amal dalam bentuk amal usaha Muhammadiyah,” katanya.

“Maka secara tidak langsung muhammadiyah ikut serta dalam mewujudkan cita-cita bangsa indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945,” imbuhnya.

LBH Muhammadiyah Jateng Gelar Madrasah Kader Advokat

TAWANGMANGU (Jurnalislam.com)–Lembaga Bantuan Hukum (LBH) pimpinan wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah menggelar madrasah kader advokat dan para legal LBH Muhammadiyah Angkatan 1/2019 di Hotel Grand Bintang, Tawangmangu, Jumat- Sabtu (15-16/11/2019).

 

Direktur LBH PWM Jateng Taufiq Nugroho menyebut kegiatan madrasah kader advokat tersebut dilatarbelangi kegelisahannya akan banyaknya persoalan hukum yang menimpa kader maupun amal usaha Muhammadiyah.

 

“Jadi kegiatan ini dilatar belakangi kegelisahan kami atas semakin banyaknya persoalan hukum yg di alami oleh Kader, Pimpinan maupun Amal Usaha Muhammadiyah,” katanya kepada jurnalislam.com sabtu, (16/11/2019).

 

Menurut Taufiq, saat ini semua lini kehidupan di Indonesia berdampak hukum. Dan mayoritas masyarakat saat ini sudah melek hukum.

 

“Dulu dokter seperti malaikat, sangat di hormati dan nyaris tidak punya salah. Tapi sekarang, tukang becak berobat ke dokter, pulang terasa gatal gatal saja, bisa lapor polisi dg ancaman dugaan mal praktek. Sehingga perlu sekali lembaga yg fokus memberikan bantuan dan perlindungan hukum bagi masyarakat,” ungkapnya.

 

Lebih lanjut, Taufik mengatakan bahwa saat ini menurut keadilan masih merupakan barang mahal bagi masyarakat. Hanya segelintir orang yang memiliki akses dan materi berlebih yang bisa mendapatkan keadilan.

 

“Banyak masyarakat kecil yg kemudian terpaksa ikhlas dan Narimo saja ketika di dzalimi orang, karena tak terbayang betapa mahalnya ketika harus membayar biaya pengacara,” paparnya.

 

Disisi lain rasio jumlah Lawyer atau advokat dengan jumlah penduduk di Indonesia masih sangat jauh dari ideal. Sehingga perlu diperbanyak advokat advokat publik yang mau memberikan advokasi tanpa mengharapkan pamrih atau motif ekonomi semata,” imbuhnya.

 

Kedepan, taufik berharap dengan adanya kegiatan tersebut “Dalam satu bulan kedepan semua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten atau Kota se-Jawa Tengah sudah terbentuk LBH Muhammadiyah di daerah masing masing,” pungkasnya.

 

Kegiatan yang dihadiri sekitar 100 peserta dari berbagai daerah di Indonesia tersebut, panitia menghadirkan sebagai pemateri Mantan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto dan ketua PP Muhammadiyah bidang hukum dan HAM Busyro Muqoddas.

 

Menutup Mata Kiri, Puluhan Jurnalis Palestina Menggelar Aksi Solidaritas untuk Moath Amarnah

GAZA (Jurnalislam.com) – Forum Media Palestina pada hari Ahad (17/11/2019) menggelar aksi solidaritas untuk jurnalis Moath Amarnah yang ditembak oleh tentara zionis beberapa hari lalu.

Fotografer harus kehilangan mata kirinya setelah ditembak saat sedang meliput unjuk rasa warga Palestina di Kota Surif, Hebron, Jumat (15/11/2019).

Aksi itu dihadiri oleh wartawan dari berbagi media. Mereka mengutuk kekerasan terhadap wartawan yang dilakukan oleh tentara Zionis Israel.

Mereka juga membawa poster-poster bertuliskan dukungan kepada Moath dan kecaman terhadap Israel sembari melakukan aksi menutup mata kiri sebagai simbol solidaritas untuk Moath Amarnah.

“Penjajah berusaha dengan menargetkan Moath Amarnah untuk menyampaikan pesan bahwa mereka akan menargetkan mata kami, kamera dan gambar anda agar kita tidak meliput kejahatan mereka,” kata Sekjen Forum Media Palestina, Mohammed Abu Qamar dalam orasinya.

Abu Omar juga mengungkapkan, sudah 55 wartawan gugur sejak tahun 2000 oleh tentara Zionis.

Oleh karenanya, dia menekan lembaga-lembaga HAM untuk bergerak cepat menghentikan kejahatan tentara Zionis Israel dan menuntutnya ke pengadilan HAM.

“Kita sebagai jurnalis akan tetap menjaga solidaritas, kita akan tetap pada perjanjian, dan kita akan mengangkat kepala kita tinggi-tinggi,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Komite untuk Mendukugn Jurnalis, Saleh Al-Mashri mengatakan bahwa intensitas serangan Israel terhadap jurnalis sejak awal tahun ini meningkat secara signifikan. Tentara penjajah, kata dia, ingin melenyapkan kebenaran untuk disampaikan kepada dunia.

“Penjajah percaya bahwa dengan menargetkan jurnalis, menembak, menangkap, menyita peralatan, dan menghalangi peliputan, itu semua akan merusak tekad para jurnalis untuk meliput secara profesional, tetapi mereka sama sekali salah,” tegas Masri.

Sejak awal tahun ini, Komite itu telah mendokumentasikan lebih dari 550 serangan terhadap jurnalis di Palestina, 144 jurnalis meninggal dunia ditembak dan ratusan lainnya terluka. Masri menunjukkan, ada 84 wartawan di Gaza terluka dan 60 di Tepi Barat.

Masri meminta lembaga internasional untuk bergerak menekan Israel agar menghentikan kejahatannya terhadap profesi pers.

Sumber: Safa