Berita Terkini

Belum Juga Diproses, Reuni Akbar 212 Akan Serukan Adili Sukmawati

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Panitia Reuni Akbar 212 akan menggelar Reuni Akbar 212 yang direncanakan hari Senin, 2 Desember 2019 bertempat di Monas, Jakarta.

Dalam acara tersebut, ada beberapa tema yang diangkat mulai dari momen peringatan maulid Nabi hingga menuntut Sukmawati agar diadili.

“Kami memberi perhatian khusus terhadap apa yang dilakukan oleh Sukmawati, puteri Presiden pertama Republik Indonesia, Soerkarno, yang sudah berkali-kali menghina,menista agama Islam,” kata Penanggung Jawab Reuni 212, KH Shabri Lubis, Kamis (21/11/2019) dalam keterangan yang diterima redaksi.

“Membanding-bandingkan peran Rasulllah SAW dengan Soekarno di saat jaman penjajahan. Adalah tidak tepat sikap tersebut, yang tergolong penistaan agama Islam tingkat tinggi,” katnaya.

Untuk itu, Panitia meminta kepada aparat kepolisian dengan adanya pimpinan Polri yang baru bersikap profesional dalam memproses secara hukum Sukmawati Soekarno Putri,

“Sebagaimana hukum yang berlaku di negeri ini. Jangan sampai Negara bertindak tidak adil dalam penegakan hukum,” pungkasnya.

Reuni 212, Mengukur Kekuatan Oposisi?

Tony Rosyid*

(Jurnalislam.com)–Pilpres sudah usai. Jokowi presidennya. Lepas kontroversi yang terus jadi memori, Jokowi sudah dilantik. Bahkan sudah juga melantik para pembantunya di kabinet.

Secara politik, Jokowi makin perkasa. Sementara oposisi wait and see. Silent. Beri kesempatan kabinet bekerja. Seperti apa kerja mereka? Baru berusia satu bulanan. Belum bisa diukur.

Prediksinya? Lihat pertama, SDM. Dan kedua, anggaran. Seberapa banyak menteri Jokowi punya kompetensi di posisi masing-masing. Dan seberapa besar anggaran untuk kementerian itu. Dari situ, hasil kinerja kabinet bisa diraba.

Dalam situasi silent, wait and see, tentu ini akan sangat mempengaruhi tensi dan spirit gerakan oposisi. Terutama bagi aktifis 212 yang selama ini dijadikan simbol oposisi terhadap Jokowi. Mampukah mereka menjaga soliditas massanya dalam situasi seperti sekarang. Sebuah situasi tanpa momentum yang bisa jadi trigger pergerakan.

Meski Prabowo dan Gerindra sudah gabung ke istana, 212 tetap konsiten mempertahankan posisinya sebagai oposisi. Ini disebabkan diantaranya karena gagalnya negosiasi tim istana dengan tokoh utama 212, yaitu Habib Rizieq Shihab (HRS). Dua jenderal berpengaruh yang diutus istana ke Saudi tak berhasil membuat kesepakatan dengan HRS.

Pasca pilpres? Jokowi tak butuh lagi HRS. Yang dibutuhkan Jokowi adalah Prabowo. Tapi, Prabowo minta ke Jokowi agar HRS dipulangkan. Permintaan ditolak. Setidaknya, hingga hari ini.

Akankah Reuni Akbar 212 awal desember nanti akan dihadiri HRS? Bergantung. Kepada siapa? Jokowi! Kalau Jokowi ijinkan, HRS pulang. Gak ada ijin, jangan berharap.

Berarti, yang mencekal HRS itu Jokowi? Tidak! Arab Saudi yang mencekal. Demi keamanan, itu bahasa halusnya. Bahasa halus, atau bahasa politik? Kepo ah! Emang apa kepentingannya pemerintah Saudi? Nah, anda sudah mulai kritis

Besar kemungkinan HRS gak bisa pulang sebelum reuni 212. Ini prediksi. Secara politis, kehadiran HRS akan jadi heroik. Reuni 212 akan kembali fenomenal dengan kepulangan HRS. Apalagi, isu Ahok sedang hangat-hangatnya muncul.

Kecuali HRS melunak, dan Reuni 212 dihadiri Jokowi. Duet HRS-Jokowi di panggung 212 ini yang diinginkan pihak istana. Panggung untuk mengakhiri perlawanan oposisi 212. Teletubbies… So sweet…

Jika jauh-jauh hari sebelum pilpres kabarnya istana pernah mengirim dua jenderal aktif sebagai negosiator, namun sayangnya gagal. Saat ini istana bisa utus Prabowo, menhan Jokowi. Jenderal yang jangan ragukan loyalitasnya. Prabowo sempat dekat dengan HRS selama berada di pengasingan.

Apakah Prabowo berhasil membujuk HRS? Apakah HRS akan melunak? Semua kemungkinan bisa terjadi. Yang pasti, HRS selama ini dikenal sebagai sosok yang kuat dalam pendirian. Tokoh yang sulit ditaklukkan. Penjara dan kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan baginya. Begitulah kira-kira kabar yang bisa kita potret tentang HRS.

Jika HRS melunak, peluang pulang terbuka. Otomatis, HRS bisa memimpin langsung reuni 212. Reuni akan ramai karena dibanjiri massa. Tapi setelah itu, oposisi rakyat dipatiskan akan melemah. Sebab, HRS tak lagi berurusan dengan dunia politik. Tak ikut campur apapun terkait dengan kekuasaan Jokowi. Inilah yang diharapkan istana selama ini. Namun gagal. Itu dulu. Bagaimana sekarang? Belum bocor apa hasil negonya. Itupun jika ada nego. Yang pasti, gak ada kepulangan gratis!

Dilematis! Pulang dan pimpin langsung Reuni 212 akan menghidupkan kembali semangat perlawanan. Tapi, jika pulang, tak mungkin tanpa kesepakatan. Kesepakatannya: HRS pensiun dari urusan politik. Ini akan jadi mahar kepulangan. Jika HRS terima itu, dia bisa pulang dan reuni 212 desember nanti akan membludak. Aparat beri ijin dan tak lagi halangi warga yang mau ikut reuni. Tanda sudah akur. Negonya gol.

Pasca reuni, HRS akan menjalankan aktifitasnya sebagai ustaz, da’i dan pemimpin FPI. Tak lagi singgung-singgung soal politik. Tak mau ikut campur dengan urusan Jokowi. Jika ini jadi pilihan, maka sejak itu, heroisme HRS sebagai icon oposisi luntur. GNPF Ulama hanya akan tinggal nama.

Selanjutnya, kekuatan oposisi tinggal PKS. Mungkin juga Rocky Gerung dan sejumlah aktifis. PAN? Tersandera. Kecuali Amien Rais yang akhir-akhir ini mulai melunak. Demokrat? Lebih nyaman dengan sikapnya yang abu-abu. Demokrat hanya jelas sikapnya jika terkait dengan Prabowo. Kritis, atraktif dan berani ambil sikap. Ini mungkin efek dari sejarah masa lalu.

Kira-kira, HRS akan pilih opsi yang mana? Pulang tapi terima syarat tidak berpolitik? Atau tolak syarat, tapi harus memperpanjang masa tinggalnya di Makkah? Kita tunggu saja. Siapa saja nanti yang duduk di panggung reuni 212. Dan berapa jumlah massa yang akan hadir. Dari situ, kekuatan oposisi bisa dipetakan.

Jakarta 21 Nopember 2019

Peduli Palestina, IKJ, JH dan Aman Palestine Galang Dana di Jalanan Yogyakarta

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Komunitas Info Kajian Jogjakarta (IKJ) dan Jogjakarta Hijrah (JH) turun ke jalan melakukan aksi solidaritas untuk Palestina di perempatan Terminal Giwangan, Jogjakarta, Rabu (21/11/2019). Dalam aksinya, mereka juga menggandeng Aman Palestin (AP), salah satu NGO yang peduli terhadap kondisi masyarakat Palestina.

Dalam aksinya, 40 anggota dari komunitas IKJ dan JH hadir bersama dengan beberapa relawan AP membawa kotak penggalangan dana untuk membantu rakyat Palestina korban agresi militer penjajah Israel beberapa waktu lalu.

Ketua JH, Yashier mengatakan, aksi tersebut tak lain untuk mengingatkan dan kembali menggugah masyarakat untuk peduli dengan umat muslim di Palestina.

“Apalagi sampai saat ini, Palestina masih dilanda semua krisis. Mulai dari soal ekonomi, pendidikan, pangan, air bersih dan sebagainya. Dalam aksi solidaritas kali ini, kami melakukan penggalangan dana kemanusiaan. Selain JH, aksi ini juga dibantu beberapa komonitas yaitu IKJ dan AP,” kata Yashier.

Senada dengan itu, salah satu anggota IKJ, Dedy menyampaikan bahwa salah satu yang bisa dilakukan adalah memunculkan rasa simpati dan empati di kalangan masyarakat Indonesia terhadap kondisi yang dialami masyarakat Palestina..

“Kita bersyukur hidup di negara damai. Semoga apa yang disumbangkan bisa meringankan warga Palestina,” katanya.

Elemen Umat Islam Soloraya Desak Aparat Berantas Pekat di Karanganyar

KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Sejumlah elemen umat Islam Soloraya menggelar audiensi dengan Polres Karanganyar guna menyikapi maraknya penyakit masyarakat (Pekat) di wilayah mereka. Audensi digelar Aula Wirapratama Mapolres Karanganyar, Jl Lawu No. 3, Padangan, Jungke, Karanganyar, Jawa Tengah.

Audensi dihadiri sejumlah elemen umat Islam diantaranya, Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Front Ummat Islam (FUI) Karanganyar, Majelis Mujahidin Karanganyar, Jamaah Ansharu Syariah, Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Aliansi Umat Islam (AUI) Karanganyar dan Laskar Bela Islam Karanganyar (Labbaik).

Dalam audensi yang dipimpin langsung oleh Kapolres Karanganyar, AKBP Catur Gatot Efendi itu Ketua AUI Karanganyar Ustaz Fadlun Ali menyampaikan keresahan masyarakat Karanganyar terkait semakin maraknya pekat.

“Di Karanganyar bahwasanya seharusnya Bapak Bupati bisa tahu dan hadir di sini, dan saya mau menagih janji ketika dia bilang lapor aja kalau ada, tapi kok tetap masih aja ada, sehingga kita koordinasi dengan teman teman elemen untuk melakukan audensi ini,” katanya.

Sementara ketua FUI Karanganyar Mulyono mempertanyakan keseriusan pihak aparat dalam mengatasi perjudian yang saat ini tengah marak di wilayah Karanganyar.

“Saya minta yang ditangkap itu bandarnya pak, jangan hanya pelakunya saja, ini saya juga bawa bukti video yang jelas di sana terlihat bukti transaksi, wajah pelaku dan bahkan judi itu dilakukan diatas gambar Garuda Pancasila, ini melecehkan lambang negara,” ungkapnya.

Menanggapi hal itu, Kapolres Karanganyar AKBP Catur menegaskan bahwa ia beserta jajarannya serius dalam menangani laporan tersebut. Dia juga berterimakasih atas masukan yang diberikan oleh elemen umat Islam Soloraya.

“Dan kita juga berupaya keras untuk melakukan penindakan terkait narkoba, dan dalam 20 harus sudah bisa terselesaikan, kemarin kita juga melakukan operasi terkait curanmor di Karanganyar,” ungkapnya.

“Kita terimakasih sudah dikoreksi dan saya serius dalam menangani terkait pekat di masyarakat ini,” pungkasnya.

Seorang Muslimah yang Sedang Hamil Tua Diserang Pria di Sydney

SYDNEY (Jurnalislam.com) – Seorang perempuan yang sedang hamil 38 minggu diserang secara brutal oleh seorang pria di sebuah Cafe di Sydney, Australia pada Rabu (20/11/2019). Sebelum menyerang, pria itu juga melemparkan perkataan rasis kepada wanita tersebut.

Dilansir dari media Australia, wanita 31 tahun itu sedang makan di sebuah restoran di Church St Paramatta sekitar pukul 22.30 waktu setempat.

Kemudian pria itu menghampiri dan menghina mereka.

Rekaman CCTV menunjukkan, pria itu tiba-tiba membungkuk dan meninju korban beberapa kali di kepala dan tubuhnya hingga terkapar dan menginjak-injaknya.

Kepolisian setempat mengatakan, pelaku memukul kepala wanita itu sebanyak 14 kali hingga terkapar kemudian menginjaknya dua kali sebelum akhirnya pria itu diamankan oleh penjunjung lainnya.

“Sebagai akibat dari serangan itu, dia tampak agak trauma secara emosional dan fisik,” kata Inspektur Sywenkyj kepada wartawan di Sydney, Rabu (20/11/2019).

Atas penyerangan itu, Polisi menangkap pelaku yang merupakan seorang pria berumur 43 tahun.

Dalam persidangan yang digelar hari ini, Kamis (21/11/2019), pelaku didakwa dengan tuduhan melakukan penyerangan yang menyebabkan korban terluka. Jaminannya ditolak, dan pelaku akan dipenjara selama satu bulan.

Wanita itu dilepaskan dari RS Sydney Westmead pada hari Kamis untuk pemulihan di rumah.

Ciri Radikal Versi Menag: Intoleran dan Memaksakan Kehendak

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Agama Jenderal (Purn) Fachrul Razi selain memaparkan penyebab orang menjadi radikal. Selain itu, dia juga mengurai ciri-ciri seseorang atau organisasi disebut sebagai kelompok radikal.

Pertama, mereka merasa paling benar dan intoleran, tidak bisa menerima orang lain yang berbeda identitas dan pendapat.

“Padahal Allah SWT menegaskan bahwa ciptaannya dibuat dalam kondisi beragam. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13 Allah berfirman, Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal,” katanya dalam Sarasehan Pembinaan Mental Angkatan Darat (Bintalad) TA 2019 di Matraman, Rabu (20/11/2019).

Fachrul menyatakan bahwa keberagaman atau kebhinnekaan adalah keniscayaan. Keberagaman pandangan juga keniscayaan dan tidak ada satu pun manusia yang berhak mengklaim bahwa dialah yang paling benar.

“Kebenaran hakiki hanya milik Allah,” ucapnya.

Kedua, ciri kelompok radikal, lanjut Menag, mereka memaksakan kehendak dengan berbagai cara. Mereka menghalalkan cara apa pun bahkan memanipulasi agama untuk mencapai keinginan duniawi.

Mereka yang radikal dianggap tak segan-segan menjustifikasi perilaku kriminalnya, melukai, atau membunuh orang misalnya dengan penafsiran ayat sekehendaknya.

“Padahal agama mana pun, ayat suci mana pun tak ada yang menyuruh kezaliman atas kemanusiaan apa lagi membunuh. Agama justeru menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan menjaga kehidupan yang aman dan damai,” katanya.

Ketiga, mereka yang radikal juga menggunakan cara-cara kekerasan, baik verbal maupun tindakan dalam mewujudkan apa yang diinginkannya.  Mereka tak segan melakukan ujaran kebencian atau menyampaikan berita bohong.
Sebagian dari mereka juga melakukan tindakan kekerasan fisik, mempersekusi kelompok lain, atau meledakkan diri di kerumunan orang banyak.

“Mereka menjadi radikal negatif yang harus kita tangani dengan tegas, tidak selalu berarti keras. Pertama-tama kita lakukan nasehat dengan baik,” katanya.

Jika tidak bisa, dialog atau diskusi dengan baik guna meluruskan kesalahpahaman konsepnya. Jika juga tidak mengena, ada kerangka hukum yang bisa menindak tegas sesuai kadar pelanggaran hukumnya.

“Misalnya dengan menerapkan Undang-undang Pidana dan atau Undang-undang Terorisme,” kata mantan Wakil Panglima TNI ini.

Menag Kembali Bicara Tentang Radikal, Kali Ini Sebut Penyebabnya

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Agama Jenderal (Purn) Fachrul Razi memaparkan ciri-ciri paham radikalisme dan penyebab seseorang menjadi radikal.

Secara umum, kata dia, ada dua hal yang mendorong seseorang menjadi radikal. Pertama, karena faktor ekonomi atau kemiskinan. Kedua, karena keterbatasan pendidikan atau minimnya ilmu agama dalam memaknai sebuah ajaran.

Menag menyebutkan, secara teoritik banyak unsur yang bisa membentuk seseorang menjadi radikal atau ekstrem. Ada perspektif ekonomi dimana kemiskinan mendorong seseorang nekat melakukan tindakan-tindakan di luar pakem.

“Bisa juga minimnya pendidikan, bacaan yang terbatas dan pemahaman yang salah, yang mendorong seseorang menjadi radikal,” katanya saat membuka acara Sarasehan Disbintalad di Matraman, Jakarta, Rabu (20/11/2019).

Adapun dari perspektif agama bisa karena salah paham atau paham yang salah. Salah paham bisa jadi karena saat belajar agama tanpa guru yang hanya menelusuri dunia maya.

“Menafsir ayat tanpa guru memadai dan guru yang otoritatif sehingga menafsirkan ayat-ayat tentang perang di masa damai atau di negara keberagaman seperti Indonesia misalnya dan sebagainya,” katanya.

Sementara itu, sebelumnya Ketua PP Muhammadiyah meminta pemerintah untuk menghentikan narasi radikalisme. Ia meminta definisi radikalisme itu sendiri harus diperjelas, khususnya hal ini kini menjadi narasi tunggal pemerintah.

“Apapun definisi radikal itu yang itu perlu dipertajam dan diperjelas, tapi problem bangsa ini bukanlah radikalisme sebagaimana yang menurut narasi tunggal dari pemerintah,” kata Busyro kepada Jurnalislam.com beberapa waktu lalu.

Buka MTQ DKI Jakarta, Anies Berharap Ada Calon Juara Baru

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membuka Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat provinsi DKI Jakarta ke-28 bertajuk “Membumikan Al Quran di Ibukota” yang dihelat di Kantor Walikota Jakarta Pusat, Rabu (20/11/2019).

Dalam sambutannya, Anies mengatakan, kegiatan tersebut adalah momentum yang tepat untuk melahirkan para pemenang yang nantinya dapat berkompetisi ke perlombaan yang lebih tinggi, yakni MTQ tingkat nasional maupun internasional.

“Bagi kita di Jakarta kegiatan MTQ ke 28 ini menjadi unik karena bukan sekedar kegiatan tahunan tapi ini bagian mempertahankan posisi DKI sebagai juara umum lomba MTQ Nasional, Insya Allah ke depan muncul calon pemenang-pemenang baru,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu Anies juga mengapresiasi para guru dan pembimbing yang telah melakukan pembinaan kepada para santri peserta MTQ.

“Tak terlihat, tapi Allah mencatat sebagai amal soleh Bapak/Ibu sekalian,” tuturnya.

Secara khusus,  Anies memberikan apresiasi kepada Muhammad Mifta Farid, santri Pesantren Al-Quran Al-Kautsar, Provinsi DKI Jakarta atas prestasinya mengharumkan nama Indonesia saat menjuarai lomba MTQ tingkat internasional di Maroko.

Sampaikan Ceramah di KPK, UAS Bahas Integritas

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dai kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) pada Selasa (19/11/2019) berkesempatan menyampaikan ceramah keagamaan di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan. UAS menyampaikan ceramah tentang bagaimana Islam membangun integritas.

“Temanya tentang integritas, bagaimana Islam mengajarkan sebesar biji sawi pun kecurangan akan dituntut di hadapan Allah SWT, untuk mendidik kita dalam menjaga kesucian, karena tidak ada gunanya banyak ibadah kalau kita aniaya pada orang, kalau kita makan barang haram doa tidak dikabulkan Allah,” kata UAS kepada wartawan.

UAS juga mendukung kebijakan apapun yang akan mendorong orang untuk berbuat baik dan mencegah yang munkar.

“Kamu akan tetap menjadi umat yang terbaik bukan karen tahajud malam sendirian berdoa kepada Allah. Umat terbaik adalah berbuat baik, support kebaikan, berikan dukungan terhadap kebijakan kebaikan, dan melarang perbuatan munkar, cegah orang dari perbuatan dosa, maka itu adalah inti ajaran Islam. Islam berani mengatakan tidak pada sogok, tidak pada rasuah, dan itu hanya dengan mendekatkan diri kita kepada Allah SWT,” paparnya.

Ditanya soal pengurus KPK yang baru, UAS mengatakan, dia mendukung siapapun yang mendapat amanah kepemimpinan di negeri ini selama mereka menjalankan amanah dengan baik dan takut kepada Allah.

“Amanah itu akan ditanya di hadapan Allah. mudah-mudahan siapapun, tetap yang takut kepada Allah SWT,” pungkasnya.

Global Wakaf Gelar Sekolah Pasar Modal Syariah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Global Wakaf- Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengadakan Sekolah Pasar Modal Syariah di Menara 165, Jakarta Selatan.

Presiden Direktur Global Wakaf Syahru Aryansyah mengatakan Sekolah Pasar Modal Syariah ini hadir untuk memberikan edukasi cara memulai berbisnis di pasar modal.

Selain  itu program ini ditujukan agar para peserta mengenal lebih dalam mengenai wakaf.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara  Global Wakaf bersama BNI Sekuritas dan Bursa Efek Indonesia (BEI) selaku mitra dari Global Wakaf.

Melalui Sekolah Pasar Modal Syariah juga, Global Wakaf mengenalkan kembali Galeri Wakaf Saham yang telah diluncurkan pada pertengahan Agustus lalu.

Menurut Syahru kehadiran Galeri Wakaf Saham tidak terlepas dari peranan pasar modal syariah dalam sistem ekonomi, baik dalam sistem ekonomi regional maupun global.

“Kalau kami lihat secara makro,  di Indonesia dan global, banyak hal yang dapat kita ambil secara positif dari ekosistem syariah, tidak hanya pasar modal saja. Mulai dari masukannya, prosesnya, keluarannya secara syariah sangat baik sekali,” ujar Syahru dalam siaran persnya.

Global Wakaf juga berharap dengan kontribusi mereka di pasar modal, para investor nantinya tidak hanya fokus dengan bisnis saja. Investor juga dapat memberikan nilai lebih dalam pengelolaan bisnis sehingga bisa memberikan manfaat bagi orang banyak.

“Kami sebagai salah satu nazir yang berfokus di ekonomi produktif, fokus ke portofolio ekonomi yang bersifat dasar seperti pangan, pendidikan, dan kesehatan. Dananya ada yang dari orang yang berwakaf langsung ke Global Wakaf, atau ada yang dari saham. Kemudian dari dividennya berupa wakaf tunai, akan kami gunakan untuk portofolio yang sudah ada,” kata Syahru.

Sumber: republika.co.id