Berita Terkini

Majelis Ulama Singapura: Umat Harus Hindari Kunjungan Hari Raya

SINGAPURA(Jurnalislam.com) – Dewan Agama Islam Singapura (MUIS) mengatakan, umat Islam harus menghindari kunjungan dan pertemuan tradisional Hari Raya Idul Fitri.

Hal tersebut guna mengikuti langkah pembatasan sosial pada pertemuan publik dan pribadi selama periode “pemutus sirkuit” yang bertujuan untuk menghentikan penyebaran virus korona tipe baru atau Covid-19.

MUIS mencatat Hari Raya Lebaran yang jatuh pada 24 Mei masih berada dalam periode pemutus sirkuit. “Kunjungan ke orang-orang yang dicintai di rumah tangga yang berbeda, terutama anggota keluarga lanjut usia, harus ditunda sampai pembatasan kunjungan dicabut, kecuali bila pemberian perawatan yang penting diperlukan,” kata MUIS seperti dikutip Channel News Asia, Jumat (15/5).

Dewan itu juga mengatakan bahwa mereka yang keluar untuk berbelanja harus melakukannya secara individual dan menjaga perjalanan sesingkat mungkin. MUIS mencatat bahwa lansia berada pada risiko terbesar penyakit parah, komplikasi, dan kematian akibat akibat Covid-19.

Menurut dewan, kunjungan panjang yang melibatkan interaksi fisik yang erat akan meningkatkan risiko ini. “Adalah lebih penting untuk mengambil tindakan pencegahan sekarang dan menyesuaikan dengan norma-norma baru, sehingga kita dapat mengunjungi orang yang kita cintai nanti ketika aman untuk melakukannya, di Hari Raya yang akan datang,” katanya.

Dewan menegaskan, pihaknya telah merencanakan beberapa inisiatif untuk membantu umat Islam memenuhi tugas keagamaan mereka selama periode Hari Raya Idul Fitri sambil mematuhi langkah-langkah menjaga jarak yang aman. Kegiatan takbir di masjid pada malam Hari Raya tidak akan mungkin terlaksana karena penutupan masjid di negara itu.

Sebaliknya ini akan dilakukan oleh umat Islam dengan anggota keluarga mereka di rumah mereka sendiri. Mufti Dr Nazirudin Mohd Nasir dan berbagai asatizah (guru agama) memimpin langsung melalui saluran online, seperti saluran Youtube TV SalamSG MUIS, serta di Facebook akun MUIS dan masjid individu. “Ini akan dilakukan untuk pertama kalinya di Singapura,” kata MUIS.

Shalat Idul Fitri juga tidak akan dilakukan di masjid. MUIS juga mencatat bahwa sholat takbir dan Aidilfitri pada pagi Hari Raya tidak dapat dilakukan di masjid, seperti yang biasanya terjadi.

“Tahun ini, karena masjid kami tetap ditutup, umat Islam akan merayakan shalat Hari Raya di rumah mereka dengan anggota keluarga mereka dari rumah tangga yang sama,” kata dewan.

Sumber: republika.co.id

Beberapa Daerah Minta Shalat Idul Fitri Digelar di Rumah

YOGYAKARTA(Jurnalislam.com) – Pelaksanaan Idul Fitri 1441 H di tengah pandemi Covid-19 saat ini diminta untuk tetap dilakukan di rumah. Hal ini guna menghindari potensi penyebaran Covid-19 yang dapat terjadi jika ada aktivitas kerumunan yang dilakukan saat merayakan Idul Fitri.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, selama Bulan Ramadhan sendiri masyarakat tetap diminta untuk melakukan ibadah di rumah. Kebijakan ini tetap akan diberlakukan hingga pelaksanaan shalat Idul Fitri nanti.

“Untuk pelaksanaan Idul Fitri tidak dilaksanakan seperti biasanya. Sehingga, kebijakan beribadah, belajar dan belanja dari rumah itu tetap dilaksanakan,” kata Aji di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Kamis (14/5).

Seiring dengan hal tersebut, pengetatan patroli terhadap aktivitas kerumunan juga terus dilakukan. Termasuk pengetatan penjagaan dan pengawasan terhadap pendatang atau pemudik yang masuk ke DIY baik di wilayah perbatasan maupun pintu masuk melalui bandara, terminal dan stasiun.

Pengetatan ini dilakukan mengingat penyebaran Covid-19 yang terus meluas di DIY. Bahkan, total kasus positif di DIY sudah mencapai 185 kasus pada 14 Maret.

Sumber: republika.co.id

Pemkot Batam Sepakat Tak Gelar Shalat Id di Lapangan dan Masjid

BATAM(Jurnalislam.com)— Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau, bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) sepakat meniadakan Shalat Idul Fitri di masjid, mushala, atau lapangan pada perayaan Lebaran tahun ini.

“Dari hasil rapat hari ini kami sepakat, tidak ada malam takbiran, tidak sholat Idul Fitri berjamaah di masjid dan mushala, berlaku di mainland dan hinterland,” kata Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, di Batam, Jumat (15/5).

Dia mengatakan, umat Muslim tetap bisa melakukan sholat Idul Fitri di rumah masing-masing, secara pribadi maupun berjamaah dengan anggota keluarga di kediaman.

Dia menyatakan keputusan itu dibuat karena Batam dikategorikan sebagai zona merah Covid-19 oleh pemerintah pusat, karena di kota kepulauan itu masih terdapat penambahan kasus Covid-19 hingga 14 Mei 2020.

Kepala Kantor Kemenag Kota Batam, Zulkarnain Umar, menyatakan keputusan warga Batam tetap harus ibadah di rumah merujuk pada Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Surat Edaran Menteri Agama, dan Surat Edaran Gubernur Kepri yang menyatakan Batam zona merah.

“Tentu kita kembali ke hukumnya, kembalikan ke Fatwa MUI, untuk yang zona merah beribadah di rumah. MUI bahkan sudah mengeluarkan panduan khusus bagaimana melaksanakan sholat Idul Fitri di rumah,” kata dia.

Dia meminta Muslim bersabar dan menahan diri, demi kebaikan bersama, seluruh masyarakat terhindar dari virus corona.

Kapolresta BarelangAKBP Purwadi, Wahyu Anggoro, berharap masyarakat dapat kompak mengikuti anjuran pemerintah terkait protokol pencegahan penularan Covid-19, seperti jaga jarak fisik dan sosial.

“Kami tidak larang ibadah. Kami melarang untuk berkumpul. Kepada para ulama, tolong sampaikan ke masyarakat, tahan dulu,” kata dia.

Sumber: republika.co.id

 

Haruskah Berdamai dengan Corona?

Oleh: Devita Deandra*

Beberapa hari yang lalu Presiden Jokowi mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan di tengah situasi  penyebaran virus corona yang kian massif. Melalui akun resmi media sosialnya pada Kamis (7/5/20), Jokowi meminta agar masyarakat untuk bisa berdamai dengan Covid-19 hingga vaksin virus tersebut ditemukan.

Meskipun akhirnya, pernyataan Jokowi itu diluruskan oleh Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin. Bey mengatakan, maksud berdamai dengan Corona sebagaimana dikatakan Jokowi itu adalah menyesuaikan dengan kehidupan, yang artinya masyarakat harus tetap bisa produktif di tengah pandemi COVID-19. (CNNIndonesia.com)

Namun dengan maksud dan tujuan apapun sebenarnya seruan seperti itu tidak tepat jika di serukan di tengah situasi saat ini, apalagi oleh seorang kepala negara. Melontarkan diksi yang tidak hanya membingungkan tapi juga menegaskan inkonsistensi kebijakannya.

Seolah rakyat di suruh pasrah saja dengan keadaan dan jalani hidup seperti biasanya walau berdampingan dengan makluk mungil yang mematikan.

Seruan agar ‘hidup damai’ dengan corona sebelum ditemukan vaksin menegaskan lepas tangan pemerintah dalam penanganan wabah. Tenaga medis dibiarkan maju ke medan perang dan rakyat dilepaskan ke rimba belantara tanpa perlindungan.

Tenaga medis berguguran, begitu pula dengan masyarakat di berbagai wilayah. Tentu Berawal dari lambannya penanganan di dukung dengan abainya pemerintah dalam menjamin keselamatan para pejuang garda terdepan.

Begitu pula dengan edukasi serta perlindungan negara kepada rakyatnya tak nampak pada pemerintahan demokrasi kapitalisme saat ini. Masih saja hitungan untung rugi yang selalu menjadi asas kebijakan pemerintah dalam penanganan wabah, padahal seharusnya seorang pemimpin harus mengupayakan segala cara agar tidak bertambah lagi korban jiwa.

Bukan membiarkan perjuangan tanpa bekal keselamatan, ibarat berperang namun dengan tangan kosong, apakah selama menunggu vaksin di temukan akan ada nyawa yang terus di korbankan? memang inilah watak asli kapitalisme sekular.

Berbeda penanganannya dalam Islam. Islam menjadikan rakyat adalah unsur utama yang harus diselamatkan. Rakyat ibarat gembalaan yang perlu dijaga dan dirawat. Sehingga saat terjadi wabah seperti ini, Islam pun menjadikan rakyat sebagai acuan utama.

Seorang pemimpin yang bervisi Islam akan menjadikan keimanannya sebagai landasan memutuskan kebijakan.

Menyadari bahwa tugas seorang pemimpin adalah mengurus urusan umat, memberikan pengamanan serta tidak plinplan dalam mengambil keputusan Keyakinan pada Allah SWT, membuatnya tawakal dan berserah diri pada Allah dalam menghadapi wabah dan menjadi garda terdepan dalam menjamin keselamatan rakyatnya.

Menjadi seorang pemimpin di tengah wabah harus berani mengambil risiko. Tanpa mempertimbangkan masalah materi, yang utama rakyat terselamatkan.

Sejatinya memang negara mesti memprioritaskan urusan pengayoman terhadap kehidupan rakyat, sebab itulah cerminan dari posisinya sebagai raa’in dan junnah. Tidak boleh seorang pemimpin mengambil kebijakan yang mengabaikan nasib terlebih nyawa rakyat di dalamnya.

Dalam keadaan apa pun keselamatan rakyat senantiasa akan menjadi pertimbangan utama negara. Sebagai mana dalam sebuah hadist di sebutkan bahwa “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan disahihkan al-Albani).

Begitulah Islam sangat menjaga nyawa manusia. Terjadinya wabah mematikan tentu tidak hanya mengancam nyawa 1 orang namun seluruh orang yang ada dalam tempat tersebut, sehingga berbagai tindakan dalam mengupayakan agar terhindar pun harus di lakukan.

Bahkan pada masa Khalifah Umar. Beliau rela membatalkan kunjungan resminya ke Syam dan memutuskan kembali ke Madinah guna menghindarkan paparan wabah yang sedang merajalela di negeri itu menyebar kepada penduduk di tempat lain. Pilihan ini tentu saja akan memilki risiko sehingga sebagian sahabat Muhajirin sempat mengingatkannya:

“Anda telah keluar untuk suatu urusan penting. Karena itu kami berpendapat, tidak selayaknya Anda akan pulang begitu saja.”

Namun beliau tetap yakin dengan langkah yang telah ditetapkannya. Nyawa dan keselamatan rakyat menjadi pertimbangan utama dibandingkan urusan lainnya. Di bawah ri’ayah pemerintahan seperti inilah kesejahteraan dan masa depan rakyat akan terselamatkan sekalipun didera berbagai musibah dan ujian. Mereka percaya bahwa pemimpinnya tidak akan berlepas tangan.

Pemerintahnya tidak mungkin mengorbankan nasib mereka atas dasar pertimbangan ekonomi, apalagi menukarnya demi kepentingan segelintir pengusaha, jelas ketegasan seorang pemimpin dalam mengambil kebijakan dan langkah-langkah dalam menghadapi wabah adalah hal yang harus di perhatikan oleh seorang pemimpin (kepala) negara, bukan pernyataan-pernyataan nyeleneh yang membingungkan. Wallahu A’lam.[]

*Ibu Rumah Tangga

 

 

 

 

MUI Minta Masyarakat Tidak Saling Kunjung dan Bersalaman Saat Idul Fitri

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr. Anwar Abbas mengingatkan kembali agar umat Islam tidak melakukan kunjungan dan bersalaman saat Idul Fitri.

Hal ini karena dapat membahayakan masyarakat dan menjadi sarana penularan virus corona.

“Kami juga meminta masyarakat untuk tidak  melakukan acara saling kunjung mengunjungi seusai shalat Idul Fitri seperti yang biasa kita lakukan karena melakukan hal itu dalam masa covid19  ini jelas sangat beresiko tinggi,” kata Anwar Abbas dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com, Jumat (15/5/2020).

Menurutnya juga, dalam masa covid-19 ini  tentu dianjurkan untuk tidak bersalaman.

“Apalagi dalam agama menjaga diri untuk tidak terjatuh ke dalam bencana dan malapetaka  itu  hukumnya adalah wajib sementara bersalam-salaman itu hukumnya hanya sunat,” tambahnya.

Untuk itu, katanya, sebagai alternatif menyambung tali silaturahim, tetap bisa saling melakukan melalui telepon, whatsapp, SMS, dll.

Sekjen MUI Ingatkan Umat Agar Tetap Tidak Bersalaman

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr. Anwar Abbas mengingatkan kembali agar umat Islam tidak membahayakan orang lain, salah satunya dengan sarana bersalaman.

“Dalam masa covid-19 ini  kita tentu dianjurkan untuk tidak melakukannya (bersalaman) supaya  tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan berupa penyebaran dan penularan dari virus corona tersebut karena salah satu cara penyebaran virus ini  yang paling efektif adalah melalui salaman,” kata Anwar Abbas dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com, Jumat (15/5/2020).

Untuk itu, MUI, kata Anwar, menghimbau umat dan masyarakat untuk lebih  mengedepankan  usaha menjaga dan melindungi diri kita masing-masing  supaya tidak jatuh ke dalam hal-hal yang akan membahayakan kesehatan dan jiwa.

“Apalagi dalam agama menjaga diri untuk tidak terjatuh ke dalam bencana dan malapetaka  itu  hukumnya adalah wajib sementara bersalam-salaman itu hukumnya hanya sunat,” tambahnya.

Untuk itu, katanya, sebagai alternatif menyambung tali shilaturrahim, tetap bisa saling melakukan melalui telepon, whatsapp, SMS, dll.

PPTQ Darul Fikri Sidoarjo Lahirkan 6 Santri Hafiz Selama Pandemi

SIDOARJO(Jurnalislam.com)–Merebaknya pandemi virus covid-19 yang menyebabkan proses belajar mengajar harus dilakukan dari rumah tidak menyurutkan mental juara para santri Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Darul Fikri (PPTQ Darul Fikri) Sidoarjo.

Para santri PPTQ Darul Fikri Sidoarjo tetap semangat untuk menjadi penghafal Al-Qur’an. Alhasil, dalam masa pandemi ini PPTQ Darul Fikri Sidoarjo berhasil melahirkan 6 santri baru penghafal Al-Qur’an.

Keenam santri tersebut adalah Hanifah Supandi binti Supandi, Zahra Auliya Diah Widuri binti Cristanto Tri Sakti Arie, Hawjan Ghassani Az Zahra binti Dani Chandra Yudho Pranoto, Aga Fahim Zaydan Taqi bin imaduddin Bahtiar Efendi, Khairina Nur Azmina binti Deni Susanto, dan M. Salman Taqiyuddin bin Kusnendar.

Menurut Muhammad Taufiq selaku Kepala Bidang Tahfizh PPTQ Darul Fikri Sidoarjo, keberhasilan ini tidak lepas dari sistem tahfizh online yang diberlakukan selama masa pandemi serta dukungan penuh dari para wali santri.

“Selama masa pandemi covid-19 ini kami mengadakan setoran hafalan online rutin setiap hari. Para santri tetap didorong untuk menghafal Al-Qur’an walaupun tidak tatap muka secara langsung. Alhamdulilah wali santri sangat mendukung sistem ini. Hasilnya 6 santri kami bisa jadi penghafal Al-Qur’an” ungkap Muhammad Taufiq, Jumat (15/5/2020).

Di sisi lain Aga Fahim Zaydan Taqi, salah satu santri yang sukses menghafal Al Qur’an selama masa pandemi mengaku bahagia dan bersyukur bisa tetap istiqomah dalam menghafal Al-Qur’an. “Alhamdulilah target saya untuk menjadi penghafal Al-Qur’an telah tercapai. Kini target terbaru saya adalah melancarkan dan mempertahankan semua hafalan Al-Qur’an yang sudah saya punyai,” pungkas Aga Fahim.

ACT Distribusi Paket Pangan Ramadan untuk Pengungsi Somalia

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Semenjak menyebarnya virus corona, kebutuhan pokok di Somalia semakin sulit untuk dipenuhi, terutama di pengungsian-pengungsian. Selain mendistribusikan bantuan di beberapa wilayah di Indonesia, Aksi Cepat Tanggap (ACT) juga membagikan ratusan paket pangan untuk keluarga di pengungsian di Kota Mogadishu pada Sabtu (9/5) lalu.

Semenjak adanya pandemi Covid-19, Ramadan di Somalia memang cukup sulit dibanding tahun sebelumnya. Pada Ramadan tahun ini, harga makanan naik. Ditambah serangan wabah corona yang menghambat perekonomian. Sebagai bentuk solidaritas, warga mengumpulkan apa yang mereka miliki bersama tetangga untuk dapat menikmati makan bersama.

“Saat wabah virus corona meluas di kota dan orang tidak pergi bekerja, kami mulai mengumpulkan setiap uang dari sejumlah keluarga untuk makanan,” papar warga di kamp pengungsi Mohamed Warsame Hirsi.

Selain kesulitan secara ekonomi, menjaga jarak sosial dan mencuci tangan sulit dilakukan bagi orang yang tinggal di kamp yang padat penduduk dan sanitasi yang buruk. “Kami tidak memiliki sabun untuk membersihkan tangan kami saat virus menyebar,” papar Khadija Diriye.

Hingga saat ini penyebaran virus corona di Somalia telah mencapai angka 1.089 orang dengan total kematian mencapai 52 orang. Warga pun berdoa agar dapat bertahan menghadapi wabah tersebut.

Saat ACT mendistribusikan bantuan pangan, ratusan orang menyambangi sebuah tanah lapang di Distrik Abdi Aziz, Mogadishu, Somalia. Di atas lapangan itu telah tersedia paket pangan untuk masing-masing dari mereka. Satu per satu dari mereka berbaris dan mengambil paket-paket pangan.

“Paket-paket pangan ini adalah hadiah dari masyarakat Indonesia kepada keluarga yatim dan pengungsi internal dari konflik di Somalia. Target kami ada 1.897 jiwa yang akan menerima bantuan paket pangan Ramadan ini,” ujar Andi Noor Faradiba dari Tim Global Humanity Response (GHR) – ACT.

Masing-masing dari pengsungsi mendapatkan paket berisi gula, tepung, beras, minyak goreng, kurma, susu dan deterjen. Faradiba mengatakan bahwa para pengsungsi membutuhkan bantuan karena selain hidup di pengungsian dan terancaman pandemi Covid-19.

“Sebagai pengungsi, tentu untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka sangat sulit. Tambah sulit lagi dengan adanya virus corona. Mudah-mudahan paket ini dapat membantu mereka dalam melewati Ramadan kali ini,” harap Faradiba.

Wisma Atlet Rawat 702 Pasien Positif Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat, hari ini merawat sebanyak 839 orang pasien secara keseluruhan.

Dari jumlah tersebut, 702 orang pasien di antaranya merupakan pasien berstatus positif Covid-19.

“Pasien rawat inap hari ini hingga pukul 08.00 WIB ada 839 orang yang terdiri atas 538 pria dan 301 wanita,” ujar Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I, Laksamana Madya Yudo Margono, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Kamis (14/5).

Ia menjelaskan, dari jumlah tersebut, 702 orang pasien di antaranya merupakan pasien dengan status positif Covid-19. Sisanya pasien dengan status pasien dalam pemantauan (PDP) sebanyak 73 orang dan orang dalan pemantauan (ODP) sebanyak 64 orang.

“Terhitung mulai 23 Maret, ada 2.945 orang yang terdaftar di RSD Wisma Atlet. Ada 1.193 orang pasien yang sembuh dan pulang, 98 pasien dirujuk ke rumah sakit lain, dan meninggal dunia tiga orang,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan, pelaksanaan uji coba penggunaan tanaman herbal berupa jamur cordyceps terhadap pasien Covid-19 di RSD Wisma Atlet  masih akan dikoordinasikan terlebih dahulu. Proses pengordinasian tersebut akan dilaksanakan awal pekan depan.

“Hari Senin tim dari LIPI dan Kementerian Kesehatan Komite Etik akan datang untuk koordinasi tentang jamur itu,” ungkap Yudo.

Karena proses pengkoordinasian masih akan dilakukan pada pekan depan, maka Yudo tidak dapat memastikan kapan proses uji coba tanaman herbal tersebut akan dilaksanakan. “Belum (ada kepastian tanggal). Akan dikoordinasikan dulu,” jelasnya.

Sumber: republika.co.id

 

Orang dari Luar Negeri Dinilai Berpotensi Bawa Covid Gelombang Kedua

BANDUNG(Jurnalislam.com) —Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) menguatkan koordinasi dengan semua pihak untuk mewaspadai gelombang kedua penyebaran Covid-19.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jabar Berli Hamdani, Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN) berpotensi membawa SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19.

“Kita akan menerapkan protokol kesehatan bagi PPLN, mulai dari bandara Soekarno-Hatta, isolasi di BPSDM (Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia) Jabar, rapid test, tes swab, dan berkoordinasi dengan Gugus Tugas Kabupaten/Kota,” ujar Berli di Gedung Sate, Rabu malam (13/5).

Berli mengatakan, Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jabar sendiri memfasilitasi kepulangan 86 warga Jabar dari sejumlah negara sejak mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Sabtu (2/5) dan kepulangan 38 warga asal Jabar dari Arab Saudi pada Selasa (5/5).

Menurutnya, setibanya di Bandara Soekarno-Hatta dan dilakukan pemeriksaan imigrasi, mereka melakuan rapid test. Berangkat menuju Gedung BPSDM Provinsi Jabar di Kota Cimahi untuk menjalani tes swab, pemeriksaan klinis dan karantina. Hal itu diterapkan untuk memastikan mereka dalam kondisi sehat.

“Kalau terjadi positif swab kita berikan tata laksana kasus Covid-19 sesuai prosedur. Kalau tidak ada gejala bisa menjalankan isolasi di BPSDM, atau isolasi di rumah sakit kalau ada gejala, di 105 RS rujukan yang sudah ditetapkan Gubernur Jawa Barat,” kata Berli.

Protokol kesehatan,  akan diterapkan kepada pekerja migran Indonesia asal Jabar yang mengalami repatriasi. sejak 1 Januari-11 Mei 2020, Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Dinakertrans) Jabar mencatat 5.320 pekerja migran asal Jabar menjalani pemulangan.

Sumber: republika.co.id