Berita Terkini

Menag dan BAZNAS Salurkan Bantuan untuk Dai Terdampak Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kementerian Agama didukung oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) membantu pegiat dakwah terdampak Covid-19.

Menteri Agama Fachrul Razi menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan berasal dari dana zakat penghasilan ASN Kemenag yang selama ini dikelola oleh BAZNAS.

“Dananya diperoleh dari pengumpulan zakat penghasilan ASN Kemenag yang selama ini disusutkan langsung dari gaji pegawai,” jelas Menag, Jumat (15/05).

Bantuan bagi penggiat dakwah ini akan disalurkan dalam bentuk dana non tunai. Untuk tahap pertama, bantuan akan disalurkan kepada 1.107 orang dari target 3.000 penerima. Masing-masing penerima akan mendapatkan bantuan sebesar Rp. 300 ribu.

Adapun para penerima bantuan dimaksud adalah para imam masjid, guru ngaji, penyuluh agama islam non-PNS, ustadz/ustadzah, muballigh/muballighah, qori/qoriah, dan mufassir/mufassirah terdampak Covid-19.

Penyerahan bantuan secara simbolik disampaikan Ketua BAZNAS Bambang Sudibyo kepada perwakilan penerima manfaat melalui sambungan videoconference yang disaksikan Menteri Agama Fachrul Razi dan Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi.

“Bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini Jumat 15 Mei 2020 yang bertepatan dengan 22 Ramadan 1441 H, Saya Ketua BAZNAS disaksikan oleh Menteri Agama dan Wakil Menteri Agama menyerahkan bantuan kepada penggiat dakwah yang terdampak Covid-19 secara simbolik di dalam forum ini,” tutur Ketua BAZNAS Bambang Sudibyo.

Penyerahan bantuan  tersebut menurut Bambang merupakan tindak lanjut dari perjanjian antara BAZNAS dengan Kementerian Agama yang telah disepakati sebelumnya. Bambang Sudibyo menyampaikan karena pandemi Covid-19,  jumlah fakir miskin telah meningkat secara mendadak. Oleh karena itu dalam masa pandemi ini, penyaluran ZIS dan Dana Sosial Keagaaman Lainnya (DSKL) di BAZNAS Pusat sengaja difokuskan untuk membantu mustahik yang terdampak Covid-19.
 

Erdogan Bahas Nasib NATO Pasca Covid-19

BRUSSEL(Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan pimpinan NATO berdiskusi via telepon pada Kamis.

Menurut Direktorat Komunikasi Kepresidenan Turki, keduanya membahas perkembangan pandemi Covid-19 sekaligus langkah-langkah yang harus diambil pascapandemi.

Recep Tayyip Erdogan dan Jens Stoltenberg juga membahas perkembangan terbaru di Suriah dan Libya.

Dalam siaran pers terpisah, Stoltenberg memuji Turki yang telah membantu sekutu dan mitra NATO-nya dengan mengirimkan peralatan medis untuk memerangi virus korona selama beberapa bulan terakhir.

“Di masa-masa sulit ini, Turki telah menunjukkan solidaritasnya sebagai sekutu,” ujar Stoltenberg kepada Erdogan.

Virus korona, yang secara resmi dikenal sebagai Covid-19, pertama kali diidentifikasi di China dan telah menyebar ke 188 negara dan wilayah.

Pandemi ini telah menewaskan lebih dari 301.000 orang di seluruh dunia dari 4,4 juta kasus yang dikonfirmasi.

Mengenai krisis Libya, Stoltenberg menegaskan kembali kesiapan NATO untuk membantu negara itu membangun kapasitas pertahanan dan keamanannya.

Pemerintah Libya telah diserang oleh milisi komandan perang Jenderal Khalifa Haftar sejak April 2019.

Milisi yang berbasis di Libya Timur itu telah meluncurkan sejumlah serangan untuk menguasai Tripoli, hingga menewaskan lebih dari 1.000 orang.

Militer Libya kemudian meluncurkan Operasi Badai Perdamaian pada 26 Maret untuk menghadapi setiap serangan di ibu kota.

Menyusul lengser dan wafatnya Muammar Khadafi pada 2011, pemerintah Libya dibentuk di bawah kesepakatan politik pimpinan PBB pada 2015.

Sumber: republika.co.id

 

 

Thailand Catat Nol Kasus Baru Corona

BANGKOK(Jurnalislam.com) — Thailand pada Sabtu (16/5) mencatat nol kasus maupun kematian baru akibat Covid-19. Thailand mulai membuka kembali usaha dan melonggarkan pembatasan.

“Hari ini dua-duanya nol … terima kasih untuk semua warga Thailand yang telah bekerja sama,” kata juru bicara Pusat Penanganan Situasi Covid-19, Taweesin Wisanuyothin.

Catatan nihil tersebut merupakan hari kedua, sejak 9 Maret, negara tersebut tanpa kasus baru harian. Thailand pada Ahad (17/5) akan mengizinkan mal dan toko serba ada beroperasi kembali. Pihak berwenang juga akan mengurangi satu jam pembatasan pada jam malam dari 22.00-04.00 menjadi 23.00-04.00.

Thailand mengonfirmasi total 3.025 kasus virus corona dengan 56 kematian, dilansir dari Reuters.

Sukses Lockdown, Warga Sejumlah Negara Sudah Mulai Beraktivitas

BERLIN(Jurnalislam.com) — Beberapa negara Eropa yang menghadapi infeksi virus corona mulai melambat pada Jumat (15/5). Sedangkan di wilayah Amerika dan Asia mulai melakukan pelonggaran wilayah meski penyebaran infeksi belum selesai.

Slovenia yang secara bertahap mengurangi langkah-langkah lockdown ketat. Negara ini menyatakan bahwa penyebaran virus sekarang telah terkendali dan penduduk Uni Eropa sekarang dapat masuk dari Austria, Italia dan Hongaria.

Jerman bersiap untuk membuka perbatasannya dengan Luksemburg dan meningkatkan jumlah penyeberangan dari Perancis, Swiss dan Austria. Pengunjung dari luar masih perlu menunjukkan alasan yang kuat untuk memasuki Jerman, dan akan ada pemeriksaan mendadak sebagai upaya mengembalikan perjalanan gratis sebelum 15 Juni.

Beberapa wilayah Jerman juga setuju untuk menghentikan karantina wajib selama 14 hari bagi para yang datang dari UE dan beberapa negara Eropa lainnya, termasuk Inggris. “Jerman hanya akan mengatasi krisis korona jika kebebasan bergerak orang Eropa, barang dan jasa sepenuhnya pulih,” kata Gubernur negara bagian barat Rhine-Westphalia Utara, Armin Laschet.

Jerman telah melaporkan lebih dari 170.000 infeksi Covid-19 dan hampir 8.000 orang meninggal dunia. Walau pun, lebih dari 150.000 orang telah pulih dan negara itu telah mengalami penurunan kasus dengan kurang dari 1.000 kasus baru per hari.

Sedangkan Eropa utara, Estonia, Latvia dan Lithuania menghapus pembatasan perjalanan antara negara-negara Baltik. Perdana Menteri Estonia, Juri Ratas mengatakan, langkah lain sedang diperispkan menuju kehidupan normal.

Austria dan Swiss juga bergerak maju dengan melonggarkan beberapa pembatasan perbatasan. Austria juga telah membuka kembali semua kafe dan restoran.  Restoran dibuka kembali di lebih banyak negara bagian Jerman  akan melanjutkan pertandingan sepak bola profesional pada akhir pekan setelah absen selama dua bulan.

Sedangkan di Amerika Serikat penjualan ritel anjlok dengan rekor 16,4 persen dari Maret hingga April karena penutupan bisnis. Laporan Departemen Perdagangan menyatakan, pembelian ritel menunjukkan sektor yang telah runtuh begitu cepat sehingga penjualan selama 12 bulan terakhir turun 21,6 persen.

Penurunan paling tajam pada Maret hingga April adalah di toko pakaian, toko elektronik, toko furnitur dan restoran. Perpindahan konsumen ke pembelian daring menjadi suatu kebutuhan yang berjalan.

Taman Nasional Grand Canyon dijadwalkan dibuka kembali pada Jumat. Keputusan ini memungkinkan pengunjung melakukan perjalanan tanpa dapat bermalam di tempat wisata itu. Beberapa wilayah di New York juga diperkirakan akan dibuka kembali setelah menjadi pusat kasus pandemi korona di AS.

Australia juga sudah memperbolehkan kafe dan restoran di Sydney dibuka kembali. Sedangkan di New South Wales memberikan izin bagi warga untuk keluar dan tempat-tempat ibadah dapat didatangi dengan membatasi hanya 10 orang di dalam untuk menerapkan batas sosial.

Jepang melakukan hal yang sama, beberapa sekolah, restoran, dan bisnis lain mulai dibuka kembali setelah negara mengangkat status darurat nasionalnya. Walau, pemerintah tetap memberlakukan pembatasan di daerah perkotaan, seperti Tokyo yang masih berrisiko.

Kepala kantor Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Eropa, Dr. Hans Kluge memperingatkan, panduan jarak sosial dan tindakan perlindungan lainnya lebih penting daripada sebelumnya. “Sangat penting untuk mengingatkan semua orang bahwa selama tidak ada vaksin dan perawatan yang efektif, tidak ada yang kembali normal,” katanya.

Kluge menyatakan, virus korona tidak akan hilang begitu saja, sehingga perilaku masing-masing warga akan menentukan perilaku virus. “Pemerintah telah melakukan banyak hal, dan sekarang tanggung jawab ada pada rakyat,” ujarnya.

Di seluruh dunia, ada lebih dari 4,4 juta infeksi virus korona dilaporkan dan 300.000 kematian. Sementara hampir 1,6 juta orang telah pulih sesuai dengan penghitungan yang disampaikan oleh Universitas Johns Hopkins.

sumber: republika.co.id

Pakar Sebut Perpres Kenaikan Iuran BPJS Berpotensi Digugat Kembali

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pakar hukum Tata Negara Fahri Bachmid mengatakan Perpres Nomor 64 Tahun 2020 Tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 Tentang Jaminan Kesehatan berpotensi digugat atau diuji materi kembali ke Mahkamah Agung (MA).

 

Perpres yang mengatur kenaikan iuran BPJS Kesehatan dengan nominal yang sedikit berbeda dari kenaikan iuran sebelumnya, berdasarkan ketentuan dalam Perpres Nomor 75 Tahun 2019 Tentang Perubahan atas Perpres Nomor 82 Tahun 2018 Tentang Jaminan Kesehatan.

“Secara yuridis, jika dilihat dari keberlakuan Perpres No. 64 Tahun 2020 ini sangat potensial untuk digugat kembali ke MA oleh pihak-pihak yang berkepentingan,” kata pakar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Fahri Bachmid, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (16/5).

Menurut Fahri Bachmid, MA sudah mengeluarkan putusan dalam merespons kebijakan Jokowi dalam menaikkan tarif iuran BPJS Kesehatan beberapa waktu yang lalu.

Dalam perkara Hak Uji Materil Nomor: 7P/HUM/2020 itu diputuskan oleh Majelis Hakim yang diketuai Hakim Agung Supandi dengan anggota Yosran dan Yodi Martono Wahyunadi.

Oleh Majelis Hakim MA, Perpres Nomor 75 Tahun 2019 itu pada prinsipnya dinilai bertentangan dengan ketentuan norma pasal 23A, pasal 28H dan pasal 34 UUD NRI Tahun 1945.

Selain norma konstitusional tersebut, Perpres tersebut juga dinilai bertentangan dengan ketentuan pasal 2, pasal 4, pasal 17 ayat (3) UU RI No. 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN), serta ketentuan pasal 2, pasal 3, pasal 4 UU RI No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (UU BPJS), dan ketentuan pasal 5 ayat (2) Jo. Pasal 171 UU RI No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.

“Dengan konsekuensi setelah dibatalkannya Perpres Nomor 75/2019 terkait aturan kenaikan iuran BPJS Kesehatan, maka kembali ke tarif iuran sebelumnya seperti diatur dalam ketentuan pasal 34 Perpres No. 82 Tahun 2018,” kata Fahri Bachmid.

Sumber: republika.co.id

MUI: Jadi Khatib Id di Rumah Kesempatan Baik untuk Latihan Dakwah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau agar masyarakat beribadah di rumah ketika selama peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berlaku di DKI Jakarta. Tentunya, hal ini juga berkaitan dengan Shalat Idul Fitri nantinya.

Terkait hal tersebut Ketua Bidang Komisi Dakwah MUI Cholil Nafis memberikan tata cara untuk Sholat Id di rumah. Menurutnya, Shalat Id yang dilakukan di rumah bisa berjamaah bisa juga dilakukan sendiri.

Dia menambahkan, jika mampu berdakwah sangat baik untuk dilakukan karena berdakwah menurutnya sangat mudah. Dan, beribadah di rumah menjadi kesempatan untuk kita belajar dakwah.

Jika belum mampu menjadi khotib maka dipersilakan untuk dilakukan sendiri karena yang dinilai adalah niat untuk beribadahnya.

sumber: republika.co.id

Filipina Sudah Longgarkan Lockdown, Warga Masih Enggan Keluar Rumah

FILIPINA(Jurnalislam.com)- Filipina telah mengambil kebijakan  lockdown atau penguncian wilayah selama 2 bulan ini akibat wabah virus corona.

Meski saat ini pemerintah telah melonggarkan kebijakan lockdown, namun banyak penduduk yang enggan keluar rumah dan memilih tidak mau mengambil risiko di dunia luar.

Dilansir SCMP, Jumat (15/5/2020), Presiden Filipina Rodrigo Duterte melarang warganya meninggalkan rumah kecuali untuk melakukan hal yang diperlukan, seperti berbelanja makanan sejak Maret silam.

Toko dan bisnis yang tidak penting ditutup. Penjualan minuman keras juga dilarang. Tapi mulai Sabtu (16/5/2020), langkah-langkah lockdown diubah menjadi Modified Enhanced Community Quarantine (MECQ).

Mal dan toko mulai dibuka kembali. Namun, transportasi umum masih tetap ditutup di kota metropolis.

Sumber: kompas.com

Pandemi Corona, IJC-JITU Gelar Madrasah Jurnalistik Ramadhan Daring

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Islamic Journalist Class (IJC) bersama Jurnalis Islam Bersatu (JITU) menggelar Madrasah Jurnalistik Ramadhan pada 12-15 Mei 2020.

Pizaro Gozali dari JITU mengatakan kebutuhan penguasaan jurnaslitik memegang peranan penting bagi masyarakat khususnya umat Islam di tengah ketidakpastian global.

Melihat situasi ini, lanjut dia, peningkatan kemampuan jurnalistik mutlak dilakukan untuk menguatkan standar literasi di tengah publik.

Menurut dia, saat ini umat Islam juga dituntut menyaring informasi dan mendapatkan sumber-sumber kredibel, apalagi di tengah wabah Covid-19 ini.

“Di mana masalah kita hari ini tidak hanya pandemik, tapi juga infodemik, akibatnya banyaknya mis informasi terjadi di tengah masyarakat,” terang jurnalis Anadolu Agency ini pada Sabtu.

Untuk menyiasati social distancing akibat pandemi Covid-19, kegiatan dilaksanakan secara daring via WhatsApp Grup dan Google Meet.

Madrasah yang diikuti kurang lebih 350 peserta ini membuat panitia perlu membuka grup Whatsapp cadangan sebagai mirroring, sehingga seluruh peserta tetap bisa menyimak.

Hari pertama, panitia menghadirkan dua orang pembicara, yaitu Mahladi Murni selaku Anggota Dewan Syuro JITU sekaligus wartawan Hidayatullah.com dan Pizaro Gozali.

Masing-masing membawakan topik Kode Etik Jurnalis Muslim dan materi Bahasa Jurnalistik.

Hardjito, wartawan Al Jazeera yang tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia membagikan pengalamannya selama peliputan Covid-19 di tengah masa Movement Control Order (MCO).

Sedangkan hari ketiga dan keempat, berturut-turut Muhammad Taher Saleh, editor CNBC Indonesia, menyampaikan materi tentang Jurnalisme Ekonomi, dan Rizki Lesus, penulis dan anggota JITU membeberkan kiat menulis feature Bencana Kemanusiaan.

Sebelumnya, IJC dan JITU juga telah menggelar pelatihan reportase mendalam dan sudut pandang peliputan dalam pemberitaan Covid-19.

Respons peserta

Peserta madrasah yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia sangat menikmati jalannya acara. Hal itu terlihat dari antusiasme peserta mengikuti rangkaian acara dari awal hingga selesai.

“Alhamdulillah, terima kasih kepada penyelenggara, sangat bersyukur saya berkesempatan mengikuti Madrasah Jurnalistik yang diadakan oleh jurnalis muslim handal dan kaya pengalaman,” ujar peserta Jafar LK dari ormas Islam Wahdah Islamiyah.

Menurut dia, yang paling berkesan adalah materi Kode Etik Jurnalis Muslim, tanggung jawab Jurnalis muslim bukan saja kepada pembaca tetapi kepada Allah SWT.

“Berharap kegiatan serupa kembali digelar untuk melahirkan jurnalis yang memiliki rasa takut kepada Allah,” lanjut pria yang tinggal di Gorontalo ini.

Senada dengan Jafar LK, Mukhtarom peserta dari Semarang menyambut baik kegiatan Madrasah Jurnalistik yang digelar JITU.

Menurut pria yang bekerja di TVRI Jawa Tengah ini, pekerja jurnalistik maupun aktifis sosial perlu meningkatkan kualitas tulisannya, tidak hanya sesuai dengan UU Pers dan Kode Etik jurnalistik namun juga sesuai norma agama Islam.

Lebih lanjut Mukhtarom menyampaikan jurnalistik yang baik adalah yang sesuai dengan UU Pers dan Kode Etik, tak sedikit tulisan yang mengatasnamakan produk jurnalistik namun abai pada dua hal tersebut.

“Terima kasih kepada JITU telah menghadirkan para narasumber yang berkompeten, semoga karya jurnalis Islam semakin banyak dan berkualitas,” tukas pria yang juga aktif di ormas Islam Muhammadiyah ini.

Sementara itu, peserta lainnya, Anwar memberi masukan, karena pelatihan ini memakai sistem online, maka pola penyajian materinya dapat dikombinasi antara tulisan, slide, dan voicenote, agar lebih mudah dipahami.

“Acaranya bermanfaat banget, menjawab persoalan-persoalan kejurnalistikan hingga hal teknis. Ini membantu saya sebagai humas lembaga riset kemanusiaan,” ujar peneliti di Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) ini.

Anwar juga memuji para pemateri pelatihan IJC-JITU yang sesuai kompetensi dalam bidangnya masing-masing.

“Respons panitianya rapi dan sigap, buat menyambungkan pertanyaan ke pembicara,” ujar dia. (Anis/Eka)

ACT Ajak Dermawan Terlibat Perkuat Ekonomi Masyarakat

JAKARTA (Jurnalislam.com)– Di balik dampak kesehatan yang mengintai, pandemi Covid-19 juga menjadi ancaman bagi ekonomi masyarakat.

Banyak masyarakat yang terhimpit akibat pembatasan ruang gerak. Global Zakat – ACT mengajak masyarakat untuk bahu-membahu dalam penyediaan  kebutuhan pangan melalui zakat.

Pemanfaatan dana zakat untuk membantu masyarakat terdampak Covid-19, baik secara fisik maupun ekonomi telah disetujui secara syariat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) lewat Fatwa Nomor 23 tahun 2020 tentang Pemanfaatan harta Zakat, Infak, dan Shadaqah untuk Penanggulangan Covid-19.

Fatwa ini dikeluarkan dalam rangka meneguhkan komitmen dan kontribusi keagamaan untuk penanganan dan penanggulangan wabah Covid-19.

Pengelolaan zakat secara optimal dapat diyakini sebagai salah satu instrumen dalam meningkatkan ekonomi umat. Berdasarkan hal tersebut, optimalisasi pengelolaan zakat dan pemanfaatannya merupakan potensi strategis untuk menunjang pembangunan perekonomian Indonesia dalam mengentaskan kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan di era modern ini.

Melihat kondisi masyarakat yang sedang tidak stabil, Ustadz Fadlan mengajak para dermawan sekalian untuk segera dalam menunaikan zakat fitrah. Begitu pula sesuai dengan anjuran Rasulullah untuk menunaikan ibadah zakat fitrah sesegera mungkin.

“Nabi bersabda, orang yang membayar zakat lebih awal waktu itu jauh lebih baik. Saya menyarakankan sebelum berakhir Ramadan mari berzakat,” ujar Ustadz Fadlan saat mengunjungi Humanity Care Line dari Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Melalui Global Zakat – ACT,  zakat fitrah ini akan disalurkan dalam bentuk beras bagi mereka yang membutuhkan di tengah pandemi ini.

Selaras dengan semangat yang digelontorkan oleh yaitu “Tunaikan Zakat, Selamatkan Umat”, Global Zakat – ACT berikhtiar untuk menyampaikan amanah para dermawan kepada para mustahik. Terutama di masa pandemi Covid-19 ini, di mana makin banyak masyarakat terdampak secara sosial ekonomi.

Nantinya, penyaluran zakat fitrah tidak hanya dibagikan ke sesama masyarakat Indonesia yang masuk ke dalam delapan golongan asnaf zakat, tetapi juga di negara-negara berpenduduk muslim yang sedang dirundung krisis kemanusiaan.

 

Melawan Musuh Diri di 10 Malam Terakhir Ramadhan

(Jurnalislam.com)–Syaithan salah satu makhluk Allah yang paling rajin, ia tidak pernah lelah menggoda manusia seperti yang telah diikrarkannya kepada Allah tuhannya. Ia sangat rajin dan tidak putus asa menggoda manusia. Saking rajinnya, bahkan saat ruh manusia sudah dikerongkongan syaithan terus gencar meluncurkan godaan dan tipuan.

Banyak cara, metode, siasat yang dipakai syaithan. Sungguh cerdas syaithan-syaithan ini. Jika ia tak mampu menggoda manusia untuk bermaksiat kepada Allah, maka ia menggoda niatnya, jika ia tak mampu menggoda niatnya, ia akan melemaskan badannya dan dijadikan nikmat kemalasan itu.

Siapa bilang kemalasan bukan musuh diri yang berbahaya, bukankah ada doa “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706).

Rasulullah mencontohkan agar umatnya memohon pertolongan Allah agar dilindungi dari rasa malas, itu sebuah signal bahwa senjata syaithan berupa kemalasan tidak bisa disepelekan.

Dampak dari kemalasan berikut ini mungkin bisa menjadi bahan renungan :

  1. Mudah Stres

Stres merupakan silent killer bagi kesehatan tubuh. Para ahli kesehatan menyatakan bahwa saat bermalas-malasan, maka produksi hormon endorfin akan berkurang. Padahal hormon ini dibutuhkan untuk membantu mengatur stres dan suasana hati.

  1. Kurang Tidur

Dengan selalu aktif, maka tubuh akan melepaskan hormon yang bisa membuat Anda selalu tidur nyenyak di malam hari. Namun saat Anda bermalas-malasan, maka energi saraf yang tidak dihabiskan bisa membuat Anda terjaga semalaman.

  1. Tubuh Jadi Lambat

Saat Anda bermalas-malasan, maka otomatis tubuh Anda jadi melambat. Metabolisme tubuh pun ikutan melambat yang pada akhirnya bisa merugikan kesehatan tubuh Anda.

  1. Tulang Menjadi Lemah

Saat Anda malas, maka otomatis Anda pun jadi malas berolahraga. Hasilnya, tak hanya kegemukan saja yang di dapat, otot dan tulang pun jadi lemah. Juga meningkatnya penuaan dini karena dengan bermalasan membuat racun dan senyawa kimia tidak keluar. Bukan hanya itu, penyakit berat pun seperti jantung dan kanker akan mudah menghampiri.

  1. Waktu Produktif Hilang Yang Berujung Pada Penyesalan

Bermalasan saat usia muda, akan menghilangkan waktu produktif yang tidak pernah bisa kembali. Menurut psikologi perkembangan, usia 20-an adalah waktu produktif yang memungkinkan seseorang memiliki performa tertinggi secara fisik, intelegensi, maupun sosio-emosi. Jadi sudah sepantasnya kamu yang berusia 20-an memanfaat momen yang kamu punya sekarang untuk berusaha tekun menjalankan apa yang kamu lakukan, karena penyesalan selalu datang belakangan.

  1. Kehilangan Rasa Percaya Diri

Malas membuat kita kurang berilmu, tidak mendapat pekerjaan dengan penghasilan yang baik, kurang bermanfaat untuk keluarga apalagi masyarakat karena hanya berfokus pada diri. Dengan kondisi seperti ini, pemalas akan mengalami masa dimana merasa tidak bisa melakukan apa-apa, tidak berguna, atau mengalami emosi negatif lain yang ditimbulkan karena kehilangan kepercayaan diri.

  1. Memicu Perbuatan Maksiat dan Kriminal

Jika sifat malas menyebabkan kebutuhan diri tidak terpenuhi dan jodoh pun menjauhi, bukankah ini bisa mengundang fikiran untuk mencari jalan pintas demi memenuhi kebutuhan diri.

Bukankah memang tujuan syaithan untuk menjadikan manusia itu lemah, merasa tidak berdaya apa-apa, terutama anak muda, sehingga jangankan untuk meninggikan harga diri agamanya, meninggikan harga diri nya dan keluarga saja tidak punya daya.

Sebaliknya, Rasulullah bangga dengan anak-anak muda yang produktif, selain terangkat harga diri dan keluarga, ia pun dapat membawa nama baik agama.

Well, saat ini moment yang sangat baik, 10 malam terakhir Ramadhan, mohon pertolongan Allah agar dapat melawan diri, dijauhi dari rasa malas. Paksa diri beribadah dimalam-malam terakhir, bukankah dalam surah an-Naas disampaikan, “Katakanlah, aku berlindung dengan Rabb manusia. Penguasa manusia. Sembahan manusia. Dari waswas (bisikan) setan yang bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. (Yang berasal) dari jin dan manusia.” (QS an-Naas [114]: 1-6). Serta ungkapan Syaikh Abu Madyan Al-Maghribi “Jika kamu tidak meminta bantuan Allah untuk mekawan dirimu, kamu pasti kalah”. Sermoga Allah memberikan pertolongan dan menjauhkan diri dari kemalasan yang membahayakan. (Jumi Yanti Sutisna/ dari berbagai sumber)