Berita Terkini

PDIP Sendirian Hadapi Demo Umat Islam

Oleh: Tony Rosyid*

Jaga Pancasila, bukan hanya tugas Umat Islam. Tapi tugas semua anak bangsa. Kalau di media terkesan hanya umat Islam yang protes terhadap RUU HIP, karena pertama, umat Islam mayoritas. Kedua, umat Islam paling banyak merasakan pedihnya pemberontakan PKI.

Pembantaian dan pembunuhan para ulama, Kiyai pesantren, guru ngaji, iman masjid dan tokoh agama oleh PKI telah mengisi sejarah kelam bangsa ini. Terutama kaum Nahdhiyin dan para aktivis Ansor, mereka paling merasakan kebiadaban saat itu. Juga kader-kader HMI dan PII.

Umat kaget ketika RUU HIP diusulkan ke prolegnas DPR, hampir semua fraksi setuju. Kok bisa? Kecuali Demokrat dan PKS. Tak mau tanda tangan.

Setelah MUI mengeluarkan delapan maklumat yang didukung hampir seluruh ormas Islam, sejumlah fraksi di DPR tarik diri. PAN, PPP, PKB, Gerindra dan Nasdem balik badan. Semula mendukung, tapi sekarang menolak. Golkar setuju dengan catatan. Tinggal PDIP yang masih bertahan. Sendirian!

Sebagaimana diprediksi oleh banyak pihak, PDIP tak mungkin balik badan. Posisinya sebagai pengusul utama. Umat tahu itu. Apalagi, sebagian isi dari RUU HIP itu merupakan bagian dari visi dan misi PDIP. Terutama Trisila dan Ekasila yang dikristalisasi dalam konsep gotong royong.

Memahami itu, hanya kepada PDIP semua narasi umat itu diarahkan. Hanya PDIP yang dibidik umat. Dianggap paling bertanggung jawab atas RUU HIP. Bukan partai atau fraksi lain.

Bergaungnya tuntutan umat untuk bubarkan PDIP di berbagai daerah bisa dibaca sebagai arah dan target bidikan kelompok yang melawan RUU HIP.

Tentu, tak semudah itu. Di Indonesia, belum ada partai yang bubar kecuali karena dua hal. Pertama, dibubarkan oleh penguasa. Kedua, gak punya pengikut.

Sebagai protes dan tuntutan, itu sah-sah saja. Dijamin oleh konstitusi. Dan semua akan dikembalikan ke aturan hukum yang berlaku. Masalahnya, proses hukum seringkali jinak terhadap kekuatan politik. Dari dulu, ini jadi masalah yang sangat serius dan belum ada tanda-tanda untuk bisa diatasi.

Dari sisi analisis dan kalkulasi politik, pada akhirnya akan ditentukan oleh kekuatan mana antara PDIP vs Umat yang lebih superior. PDIP punya akses kekuasaan dengan semua kelengkapan alatnya. Sementara Umat punya kekuatan massa.

Sebagai partai penguasa, PDIP menunjukkan sikap tegarnya. Tak bergeser, apalagi mundur. Sebaliknya, PDIP justru menyerang balik dengan mempolisikan sejumlah orang yang diduga membakar bendera. PDIP juga instruksikan kadernya untuk siaga dan pasang bendera di rumahnya. Apa maksudnya? Boleh jadi itu pesan bahwa PDIP tidak pernah merasa gentar. Buktinya, kader PDIP justru mengadakan konvoi di Jakarta Timur dan Jogja saat umat demo di DPR.

Meski umat Islam cukup matang dan berpengalaman saat demo, sebagaimana terbukti pada demo 212 dan beberapa kali reuni, tapi tak menjamin akan mampu terus menahan diri jika merasa diprovokasi. Sebab, isu komunisme jauh lebih sensitif dari apapun, termasuk penistaan agama.

Langkah PDIP mempolisikan pembakar bendera, entah siapa pembakar itu sesungguhnya, juga menyiagakan kader dan adakan konvoi, bisa disalahpahami sebagai langkah provokatif. Langkah ini justru bisa menyulut situasi yang semakin tidak kondusif.

Harus dimengerti, komunisme adalah isu yang paling sensitif bagi umat Islam. Sebab, isu ini telah mewariskan sejarah pilu, bahkan mengerikan bagi umat Islam. Jejak sejarah inilah yang mendorong umat Islam tampak kompak menghadapi isu komunisme ini. Terbukti, Maklumat MUI mendapat dukungan hampir seluruh ormas.

Melihat situasi yang semakin sensitif, akan jauh lebih bijak jika PDIP menahan diri dan tidak membuat langkah-langkah yang bisa dianggap oleh umat sebagai upaya provokatif. Meski menuntut pembakar bendera itu dibenarkan secara konstitusional, tapi ini bisa dianggap memancing reaksi perlawanan umat yang semakin masif. Apalagi instruksi siaga, pasang bendera dan konvoi, ini bukan langkah tepat dalam situasi seperti sekarang.

Bangsa ini dibesarkan dengan jiwa kepahlawanan. Hendaknya semua pihak menghindari cara-cara preman.

*Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Wartawan Senior: Media Harus Digunakan untuk Tekan Israel

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Wartawan senior Aat Surya Safaat menyatakan optimistis media massa dan media sosial (medsos) bisa menjadi kekuatan alternatif untuk menekan keangkuhan Israel, termasuk membatalkan rencana Pemerintah Zionis yang akan menganeksasi wilayah Tepi Barat Palestina.

“Wartawan dan pengguna medsos bisa mempengaruhi opini publik dunia bagi penghentian rencana aneksasi Israel atas wilayah Tepi Barat yang merupakan bagian dari rencana ‘Deal of Century’ yang diprakarsai Amerika,” kata Aat saat Konferensi Pers ‘Menolak Aneksasi Israel atas Tanah Palestina’ di Jakarta, Kamis (25/6).

Menurut mantan Kepala Biro Kantor Berita ANTARA di New York yang juga pernah menjadi Direktur Pemberitaan ANTARA itu, sejarah membuktikan bahwa pers berperanan besar dalam mengakhiri perang Vietnam dan menghentikan politik apartheid di Afrika Selatan, bahkan mendorong pengakuan Kemerdekaan RI oleh dunia internasional.

Di sisi lain, menurut dia, kehadiran medsos saat ini bisa bersinergi dengan pers untuk menjadi kekuatan alternatif, termasuk dalam menekan keangkuhan Pemerintah Zionis Israel atas Palestina.

Penasehat Forum Akademisi Indonesia (FAI) itu menyatakan, media massa dan pengguna medsos yang cinta kemanusiaan di Indonesia dan di dunia internasional tidak boleh diam melihat persoalan kemanusiaan yang terjadi atas bangsa Palestina.

“Khusus bagi Indonesia, jasa besar bangsa Palestina tidak akan terlupakan, di mana Mufti Besar Palestina Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini yang saat itu sedang bersembunyi di Jerman mengakui dan mendukung kemerdekaan Indonesia sebelum tokoh negara-negara Arab lainnya mengemukakan pernyataan yang sama,” ujarnya.

Penerima “Press Card Number One” dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada Hari Pers Nasional di Banjarmasin Kalimantan Selatan 9 Februari 2020 itu lebih lanjut menyatakan keyakinannya bahwa media massa di dunia internasional bisa menjadi kekuatan alternatif untuk menghentikan kekejaman Israel atas Palestina.
Ia menilai, media massa bisa berperan melakukan “second track diplomacy” dalam mendorong negara-negara besar dan berpengaruh seperti Russia dan China untuk menghentikan rencana aneksasi Israel atas Tepi Barat Palestina.

Dubes: Dukungan Indonesia Sangat Penting Bagi Palestina dan Dunia Islam

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al Shun mengapresiasi langkah pemerintah Indonesia dalam menengahi konflik yang terjadi di Palestina.

Menurut Al Shun, langkah yang diperlihatkan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno LP Marsudi dalam menyikapi rencana aneksasi Tepi Barat sebagai bentuk dorongan moril bagi bangsa Palestina.

“Kami mengapresiasi langkah Menteri Luar Negeri Indonesia yang secara cepat merespons rencana Israel menganeksasi Tepi Barat. Tentu dukungan ini sangat penting, bukan saja bagi bangsa Palestina, tetapi juga bagi dunia Islam,” katanya dalam konferensi pers bertema ‘Menolak Aneksasi Israel atas Tanah Palestina di Tepi Barat’ di Jakarta, Kamis (25/6).

Al Shun melanjutkan, rencana Israel terkait aneksasi atas Tepi Barat adalah puncak dari proposal “Kesepakatan Abad Ini” yang diusulkan Presiden Donald Trump. Padahal, kata dia, proposal tersebut sangat timpang dan cacat.

“Proposal yang diusulkan Trump sangat cacat, sangat merugikan pihak Palestina. Kami seluruh elemen di Palestina menolak proposal tersebut. Mereka menggunakan berbagai cara untuk mengambil setiap apa yang kami miliki,” katanya.

Meski demikian, Al Shun menegaskan, rakyat Palestina tidak pernah gentar dengan segala upaya yang dilakukan Trump maupun Netanyahu. Sebab, kata dia, rakyat Palestina percaya akan dukungan dari dunia internasional.

“Kami tak pernah gentar. Meski mereka mencoba mengambil semua yang kami miliki, usaha mereka akan sia-sia sebab banyak dukungan dari masyarakat dunia, termasuk dari masyarakat Indonesia,” katanya.

Kiai Athian Ali Heran, Pancasila Diam-diam Mau Diubah di Tengah Pandemi

BANDUNG (Jurnalislam.com)—Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) KH Athian Ali heran dengan penyusunan RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang akan mengubah kedudukan Pancasila diam-diam di tengah pandemic covid-19.

“Proses penyusunan RUU HIP sebagai inisiatif DPR RI ini terbilang sangat cepat, tidak transparan, tidak partisipatif, dan tidak aspiratif. Ketergesaan ini ditunjukkan oleh situasi dan kondisi di bulan Ramadhan dan ditengah pandemi Covid 19, rapat-rapat hanya dihadiri oleh jumlah anggota yang minim,” kata KH Athian Ali dalam keterangan yang diterima Jurnalislam, Rabu (24/6/2020).

 

Pancasila, kata KH Athian yang dalam pendekatan yuridis merupakan norma fundamental, malah ingin diubah ke dalam teknis operasional.

 

“Dari pendekatan yuridis, ternyata Pancasila yang merupakan Norma Fundamental Negara yang seharusnya menjadi landasan dan sumber hukum utama, telah berubah kedudukan dan fungsinya menjadi norma teknis operasional,” kata KH Athian.

Belum lagi katanya, dari aspek filosofis sangat jelas dan tegas telah mendegradasi Pancasila sebagai Falsafah Bangsa.

“Pancasila direduksi jadi Trisila dan Ekasila yang sesungguhnya telah menafikan dan merendahkan nilai keutuhan dari Pancasila itu sendiri,” katanya.

Karenanya, ANNAS, menurut KH Athian Ali dengan tegas menolak RUU HIP, meminta segera dicabut dan meminta Presiden Jokowi mengusut inisiator yang ingin mengubah kedudukan Pancasila ini.

Tak Ikut Aksi Tolak RUU HIP, Persis: Penularan Covid-19 Masih Rawan

BANDUNG(Jurnalislam.com)— PP Persatuan Islam (Persis) mengeluarkan pernyataan sikap tentang maraknya aksi massa menolak RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) di berbagai daerah.

Ketuam Umum PP Persis KH Aceng Zakaria mengatakan bahwa Persis secara resmi sudah mengirim surat kepada PimpinN MPR/ DPR dan Fraksi-fraksi dan berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia bahwa Persis meminta RUU HIP dibatalkan.

Namun, mengenai aksi massa yang melibatkan perkumpulan, PP Persis sudah melakukan rapat koordinasi dengan berbagai elemen internal Persis seperti , IPP/IPPI, Brigade Pusat, Zho Lanah Shurulkhan, dan Tim Satgas Penanggulangan Dampak Covid-19 PP, maka Persis tidak melakukan aksi massa gabungan.

 

“Pertemuan merekomendasikan untuk tidak melakukan aksi massa gabungan dengan lembaga atau ormas lain karena berbagai pertimbangan, terutama masih sangat rawannya penularan covid-19. 5,” kata KH Aceng dalam pernyataan yang diterima Jurnalsilam, Rabu (24/6/2020).

Namun, PP Persis memandang tetap perlu ada aksi kesiagaan internal untuk membangun kesadaran dan kewaspadaan warga Persis atas potensi dan indikasi munculnya komunisme gaya baru

Persis pun mempersilakan anggotanya untuk mengikuti aksi menolak RUU HIP  setelah dipastikan kejelasan panitia penyelenggaranya, perizinan dan kejelasan aksi.

“Serta kepastian keamanan dan kedamaian pelaksanaannya tanpa membawa atribut ataupun bendera Jamiyah,” pungkasnya.

MAPIM Minta Indonesia Selamatkan 94 Pengungsi Rohingya yang Terdampar

MALAYSIA(Jurnalislam.com)–Majlis Perundingan Pertubuhan Islam Malaysia meminta (MAPIM)  pemerintah Indonesia untuk menyelamatkan 94 pengungsi Rohingya dari Myanmar yang terdampar di pantai Seunuddon di Aceh, Indonesia.

 

Orang-orang Rohingya dilaporkan terlihat di sebuah perahu yang rusak, nyaris tidak bisa bertahan, dan menangis meminta pertolongan

 

“Kami senang mengetahui bahwa pasukan gabungan berkoordinasi dengan berbagai pihak dalam misi penyelamatan. Rencana untuk mengungsi dan membawa para pengungsi ke pusat imigrasi adalah tepat,” kata Mohd Azmi Abdul Hamid Presiden MAPIM dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com, Kamis (25/6/2020).

MAPIM, katanya, mendukung seruan menteri luar negeri Indonesia untuk negara-negara anggota ASEAN untuk membantu memastikan keselamatan bagi para pengungsi Rohingya.

“Kami mendesak setiap upaya untuk memulangkan mereka harus sukarela, aman dan bermartabat,” tambahnya.

 

Ia juga mendesak negara-negara ASEAN untuk memastikan penyediaan kebutuhan dasar dan layanan di Arakan.

“Kesejahteraan penduduk Rohingya dalam kehidupan sehari-hari mereka harus diprioritaskan jika pemulangan akan dilakukan di bawah pengawasan Asean,” pungkasnya.

 

Pameran Artefak Rasulullah SAW dan Sahabat akan Digelar di Kota Bogor

BOGOR(Jurnalislam.com) – Di tengah situasi Pandemi Covid-19 dan adaptasi kebiasaan baru, Kota Bogor akan menyelenggarakan pameran Artefak Rasulullah SAW dan Para Sahabat Nabi.

Pameran tersebut akan diselenggarakan selama kurang lebih 30 hari pada awal Agustus mendatang dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 ketat.

Rencana penyelenggaraan pameran Artefak Rasulullah SAW dan Para Sahabat Nabi ini disampaikan langsung Tim Panitia Penyelenggara kepada Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 di Sekretariat Gugus Tugas, Rabu (24/06/2020) sore.

Panitia Penyelenggara Pameran, M. Nur Asyik menyampaikan, tujuan kedatangannya ke Gugus Tugas bersama tim bermaksud ingin meminta arahan dan dukungannya kepada pemerintah terkait rencananya yang akan menyelenggarakan Pameran Artefak Rasulullah SAW dan Para Sahabat Nabi di Kota Bogor.

“Kunjungan kami bersama tim kesini ingin menyampaikan rencana terkait kegiatan pameran yang akan diselenggarakan di Kota Bogor. Pada situasi saat ini, kami merasa perlu sekali berkomunikasi dengan Gugus Tugas Covid-19 Kota Bogor agar bisa mendapat arahan petunjuk teknis kegiatan serta dukungannya dari pemerintah,” kata M. Nur Asyik.

Penyampaian panitia penyelenggara diterima langsung oleh Ketua GTPP Covid-19 Kota Bogor, Dedie A. Rachim yang didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor, Atep Budiman.

Sesuai Protokol

Dalam hal ini, Ketua GTPP Covid-19 Kota Bogor, Dedie A. Rachim mengatakan, pada prinsipnya pameran Artefak Rasulullah SAW dan Para Sahabat Nabi ini merupakan kegiatan yang perlu direspon positif.

Tentu ia mendukung adanya kegiatan tersebut, namun Dedie menegaskan kepada pihak penyelenggara kegiatan agar pada pelaksanaannya nanti tetap mematuhi dan menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

“Pada dasarnya kegiatan Pameran Artefak Rasulullah SAW ini merupakan sesuatu yang perlu kita respon dengan positif. Dengan tujuan kita bisa merefleksikan kembali kondisi sejarah islam yang sangat panjang dan dahsyat. Hanya, tinggal menyesuaikan saja dengan situasi Pandemi Covid-19 ini. Kemudian, kita juga harus coba mengemas apabila akan dipamerkan, namun tetap perlu menyesuaikan new normal,” ujar Dedie.

Dukungan dan respon positif juga disampaikan Kepala Disparbud Kota Bogor, Atep Budiman dalam rencana kegiatan pameran tersebut. Menurut Atep, pameran tersebut memiliki nilai-nilai sejarah yang sangat bernilai tinggi, khususnya bagi kaum muslimin dan muslimat.

Bahkan, Atep menilai, kegiatan pameran Artefak Rasulullah ini bisa menjadi trigger (pemicu) terhadap kegiatan pameran lainnya yang dapat memberikan kontribusi positif bagi pemulihan ekonomi di Kota Bogor akibat dampak Covid-19 yang terjadi tiga bulan belakangan ini.

“Mengingat di Kota Bogor statusnya masih berada di zona kuning (level 3) untuk kegiatan/event seperti pameran yang mengundang orang berkerumun, tentunya harus tetap mempertimbangkan resiko di aspek kesehatan. Sebagai dukungan, kami selaku pembina teknis pelaksanaan kegiatan/event meminta panitia menyampaikan kesiapan penerapan protokol kesehatan ketat sekaligus cek fisik lapangan terkait komitmen penerapan protokol kesehatannya seperti apa,” ujarnya.

Hasil verifikasi nantinya, sambung Atep, akan dilaporkan kepada pimpinan (Gugus Tugas) untuk bahan kajian dan pertimbangan dalam memberikan izin operasional penyelenggaraan kegiatan pameran tersebut. Mengenai teknis kegiatan, ia mengaku akan membahasnya lebih lanjut bersama para pihak dari unsur Forkopimda Kota Bogor.

Sekedar informasi, dalam Pameran Artefak Rasulullah SAW dan Para Sahabat Nabi tersebut akan ada 30-40 Artefak bersejarah yang dipamerkan nantinya.

Benda bersejarah yang turut dipamerkan antara lain, sorban, baju, janggut, darah bekam, baju perang, pedang, tongkat dan lain-lain. Untuk lokasi pameran tersebut, akan dibahas lebih lanjut oleh panitia penyelenggara.

Mendarat di Kendari, 156 TKA Cina Dikawal TNI-Polri

KENDARI (Jurnalislam.com) – Aparat TNI dan Polri kawal ketat kedatangan 156 tenaga kerja asing (TKA) asal China yang tiba di Bandar Udara Haluoleo Kendari, Selasa (23/6/2020).

Rombongan TKA ini tiba pukul 20.30 WITA dengan pesawat Lion Air. Pendemo dari kalangan warga menunggu di sekitar bandara, para TKA ini pun kemudian diarahkan melewati pintu keluar khusus.

Masih dengan pengawalan ketat, para TKA satu per satu masuk dalam mobil. Setiap mobil mengangkut enam orang TKA China

Rombongan mobil berbaris menunggu seluruh TKA masuk kedalam mobil baru kemudian mereka berangkat ke Morosi Kabupaten Konawe. Tidak ada pemeriksaan terhadap identitas para TKA ini.

Di simpang empat Desa Ambaipua Kecamatan Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan, mahasiswa menggelar bakar ban untuk mencegat jalan rombongan TKA. Mereka melakukan demo penolakan kedatangan 500 tenaga kerja asing (TKA) asal China.

TKA asal China ini rencananya akan didatangkan secara bergelombang. Gelombang pertama telah datang 152 TKA.

Pada saat aksi, massa sempat merazia salah satu kendaraan yang hendak masuk Bandara. Mobil jenis Hilux yang memuat satu TKA China yang didampingi oleh penerjemah. Seluruh penumpang mobil itu diturunkan paksa dan dicecar beberapa pertanyaan terkait kepentingannya masuk Bandara.

TKA China tersebut diketahui bernama Mr Wei. Ia sudah satu tahun di Sultra dan bekerja di PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) sebagai pengawas operator kendaraan. Mereka ke Bandara Halu Oleo Kendari untuk mengikuti rapid test dan selanjutnya balik ke China. TKA ini diketahui telah habis masa berlakunya untuk tinggal di Indonesia.

“Mau kembali ke China hari ini,” kata penerjemah TKA China Hendri.

Sementara itu, mempertanyakan kejujuran visa TKA, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sultra, Abdurrahman Shaleh meminta perusahaan maupun unsur pemerintah jujur soal visa yang digunakan para TKA tersebut.

“Kita perlu kejujuran dan transparansi,” kata Rahman di Bandara Haluoleo Kendari saat ikut dalam demo massa.

Ia menyebut penolakan TKA China selama ini bukan sebagai bentuk anti-investasi. Namun, kata dia, kedatangan TKA ini ada hubungannya dengan keterpenuhan aturan hingga implikasi pendapatan daerah.

Ia menyebut, berkaca pada kedatangan 49 TKA China beberapa waktu lalu, ditemukan fakta bahwa mereka menggunakan visa 211 atau visa kunjungan.

 

“Harusnya, TKA ini menggunakan visa 312 khusus tenaga ahli,” kata Rahman

Tidak hanya melakukan sidak visa terhadap TKA pada gelombang pertama dari total 500 TKA itu. Rahman juga menanyakan keahlian masing-masing TKA tersebut.

“Kami juga masih meminta terkait keahlian yang ada pada 15 kategori keahlian,” ujarnya.

Rahman mengatakan pihaknya akan mengumpulkan semua TKA tersebut. Kemudian, Rahman menyebut akan ada putusan selanjutnya.

“Kita kumpulkan dulu semua secara konkrit baru kita ambil langkah apa yang akan kita lakukan,” tutupnya.

sumber: detik.com, cnn

Minta RUU HIP Dicabut, Ribuan Massa Anti Komunis Geruduk Gedung DPR

JAKARTA(Jurnalislam.com)  – Ribuan massa aksi dari Aliansi Nasional Anti Komunis (ANAK) menggelar unjuk rasa di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu siang (24/6/2020).

Unjuk rasa dengan tema “Aksi Selamatkan NKRI dan Pancasila dari Komunisme menuntut agar Rancangan Undang – undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP) dapat ditarik dari prolegnas.

Massa dari berbagai organisasi Islam ini melakukan aksi dengan menggunakan masker. Hal tersebut selaras dengan aparat kepolisian yang berjaga menggunakan masker.

Orator Aksi sendiri mengingatkan agar massa aksi untuk tetap menggunakan masker dan menerapkan jaga jarak sesuai protokol kesehatan.

“Jangan lupa pakai masker,” ujar Orator kepada massa aksi.

Orator pun menekankan, jika memang ada pihak yang ingin mengganti Pancasila maka seharusnya dapat di lawan.

“Jadi kalau ada orang yang mengganti Pancasila kita diam atau lawan. Kalau ada yang mau ganti pancasila diam atau lawan,” tanya orator kepada massa aksi.

Massa aksi pun menjawab dengan lantang pertanyaan dari orator.

“Harus kita lawan,” tandas Massa aksi.

Hingga saat ini aksi masih terlalu berlangsung.

Pantauan Jurnalislam.com di lapangan, jalan Gatot Subroto sendiri sudah ditutup total.

Kendaraan menuju Slipi dialihkan menuju Gedung TVRI dan di bawah flyover dekat Gerbang Stadion Gelora Bung Karno

Anggaran Lomba Video New Normal Rp168 Miliar, Mendagri Tito Jadi Sorotan

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Wakil Ketua Komisi II DPR Fraksi NasDem Saan Mustopa mengkritik Mendagri Tito Karnavian yang menggagas lomba video new normal dengan total hadiah sebesar Rp168 miliar.

Alih-alih menganggarkan dana hingga ratusan miliar untuk lomba video, Saan menilai Tito lebih baik fokus dalam persiapan penyelenggaraan Pilkada Serentak 2020 di tengah pandemi virus corona.

“Lebih baik misalnya dana-dana seperti itu ya dialokasikan, apalagi Pak Mendagri sekarang kan lagi punya pekerjaan besar yaitu terkait dengan Pilkada di tengah pandemi,” kata Saan saat, Senin (22/6).

Saan menilai anggaran tersebut bisa dipakai untuk daerah-daerah yang masih bergelut dengan pandemi corona tetapi juga harus menyiapkan pelaksanaan Pilkada 2020. Menurutnya, pemerintah daerah yang bersangkutan membutuhkan banyak hal .

“Ini menurut saya bukan saatnya untuk membikin lomba seperti itu ya lebih baik dicek aja ke lapangan pak Mendagri bikin tim untuk cek ke lapangan daerah yang sudah new normal keadaan sesungguhnya gimana. Daripada lewat video saja,” kata dia.

Sebelumnya, Kemendagri menggelar lomba simulasi tatanan normal baru atau new normal pandemi virus corona. Anggaran Rp168 miliar digelontorkan sebagai hadiah bagi 84 pemda pemenang.

Dalam lomba itu, Kemendagri memberi Rp3 miliar untuk pemenang pertama, Rp2 miliar untuk pemenang kedua, dan Rp1 miliar untuk pemenang ketiga.

Dana yang dipakai Kemendagri berasal dari Dana Insentif Daerah (DID). DID bisa dipakai untuk memberikan penghargaan kepada pemerintah daerah berkinerja baik.

Di antaranya dalam hal mengelola keuangan dan kesehatan fiskal daerah, pelayanan dasar masyarakat, peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

sumber: cnnindonesia.com