Berita Terkini

Al Quran Dibakar, Swedia Ricuh

STOCKHOLM(Jurnalislam.com) — Tindakan aktivis-aktivis sayap kanan Swedia membakar alquran di Kota Malmo memicu kerusuhan.

Polisi mengatakan kerusuhan terjadi setelah sekitar 300 orang berkumpul untuk menggelar unjuk rasa. Pengunjuk rasa menyalakan api dan melempari polisi dan tim penyelamat dengan berbagai benda.

Dikabarkan, kerusuhan mereda saat polisi berhasil mengamankan tiga orang yang dicurigai sebagai penghasut kebencian terhadap kelompok etnik dengan membakar dan menendang kitab suci Alquran.

sumber: republika.co.id

Denda Pelanggar PSBB Jakbar Capai Rp. 430 Juta

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Satpol PP Jakarta Barat berhasil kumpulkan denda pelanggar pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada masa transisi sebesar Rp 430 juta dari perusahaan dan tempat usaha yang melanggar Pergub Provinsi DKI Jakarta Nomor 51 Tahun 2020. Denda ini dikumpulkan dalam waktu dua bulan.

Denda pelanggar PSBB itu didapat dari perusahaan ataupun tempat usaha yang melanggar protokol kesehatan. Seperti tidak menerapkan wajib masker, physical distancing, atau membatasi kapasitas jumlah pengunjung.

Kasatpol PP Jakarta Barat, Tamo Sijabat mengatakan, berdasarkan data yang didapatnya dari 22 Juli lalu sampai 26 Agustus lalu, pihaknya telah memberikan sanksi denda kepada 28 perusahaan dan tempat usaha. Dari 28 perusahaan itu, kata Tamo, mayoritas perusahaan dan tempat usaha melanggar Pasal 8, Pasal 15 dan Pasal 16 Pergub DKI Jakarta Nomor 51 Tahun 2020 tentang pelaksanaan PSBB menuju masyarakat sehat, aman dan produktif.

“Kalau di tempat usaha yang paling banyak physical distancing, tidak menggunakan rambu-rambu protokol kesehatan dan tidak pakai masker,” ujar Tamo saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin (31/8).

Dalam hal itu, kata Tamo, perusahaan dan tempat usaha tersebut sering abai dengan penerapan protokol kesehatan dan tidak membatasi jumlah pengunjung sesuai dengan jumlah fasilitas. “Itu kan meja harusnya selang-seling, kemudian ketika dia ramai dia enggak melarang,” kata Tamo.

Tamo menambahkan, tempat-tempat yang terkena denda pelanggar PSBB itu masih mencicil jumlah denda yang harus dibayar. Nominal denda yang sudah dibayar dari 28 perusahaan dan tempat usaha saat ini baru mencapai Rp 91 juta dari total Rp 430 juta yang harus dibayar.

Dari angka tersebut, lanjut Tamo, Jakarta Barat merupakan wilayah terbesar se-DKI Jakarta yang dikenakan denda pelanggar PSBB sesuai dengan Pergub DKI Jakarta Nomor 51 tahun 2020. Hal itu lantaran banyak perusahaan atau tempat usaha yang terdampak akibat Covid-19, dan ketika memasuki adaptasi kebiasaan baru atau new normal mereka memanfaatkan mobilitas masyarakat yang ramai kembali hingga mengabaikan protokol kesehatan.

“Memang dari lima wilayah, Jakarta Barat paling besar dari segi angka, boleh dicek di provinsi. Kenapa paling gede, pertama karena kita paling giat dalam penertiban, yang kedua memang dunia usaha itu mencoba survive dengan berbagai cara,” ujar dia.

Sumber: republika.co.id

Ekonom: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal 3 Masih Alami Perlambatan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ekonom senior Chatib Basri memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2020 masih mengalami perlambatan. Kondisi ini terjadi seiring dengan aktivitas masyarakat yang belum kembali normal.

“Untuk kuartal III tahun ini mungkin masih terjadi perlambatan,” katanya dalam akun twitter pribadinya @ChatibBasri di Jakarta, Senin (31/8).

Chatib menyatakan berdasarkan data google mobility menunjukkan bahwa mobilitas dan aktivitas masyarakat sempat naik tajam setelah pembukaan pembatasan sosial. Di sisi lain, ia menuturkan pemulihan aktivitas masyarakat setelah pelonggaran PSBB tidak berlangsung lama karena pada Juni hingga Agustus kembali flat dan melambat.

“Persepsi orang ekonomi kembali menurun,” ujarnya.

Mantan Menteri Keuangan itu menjelaskan terdapat beberapa faktor terjadinya penurunan kembali terhadap aktivitas perekonomian yakni daya beli melemah dan perilaku kelas menengah atas yang berhati-hati karena kesehatan.

Tak hanya itu, perubahan pola konsumsi masyarakat yang saat ini cenderung memilih untuk belanja melalui platform daring serta kewajiban menerapkan protokol kesehatan juga membuat ekonomi tidak bisa beroperasi sepenuhnya.

“Jika ekonomi hanya beroperasi 50 persen maka untuk banyak sektor break even point tak tercapai. Perusahaan bisa survive selama masih bisa bayar biaya variable seperti gaji tapi tak untung. Perusahaan bisa jadi zoombie companies,” tegasnya.

Sementara itu, ia mengatakan ketersediaan vaksin Covid-19 turut menjadi faktor pendukung pemulihan karena sebelum ditemukan maka protokol kesehatan harus diterapkan sehingga ekonomi harus beroperasi di bawah 100 persen.

“Dengan kondisi ini maka pemulihan akan berbentuk U bukan V. Karena itu jika tak ada insentif untuk ekspansi dan meningkatkan investasi ekonomi akan stuck atau pemulihan lambat,” katanya.

Pendidikan Islam dan Tren Digital

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pendidikan Islam pada era milenial masih mendapat tantangan dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman digital. Di era industri 4.0 lembaga-lembaga pendidikan Islam menghadapi tekanan globalisasi yang semakin kuat, di antaranya laju perkembangan teknologi dan perubahan sosial.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Muhammad Ali Ramdhani. “Para santri dan pelajar yang berbasis pesantren harus terus menjadi manusia pembelajar yang mampu merespon isu-isu dan kebutuhan kekinian,” tegasnya saat memberikan sambutan pada wisuda perdana Insititut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC), Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, Minggu (30/08).

Institusi pendidikan Islam itu luas, meliputi madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi. Ramdhani mengingatkan agar semua institusi itu adaptatif pada dinamika kekinian. Diingatkannya, pendidikan Islam jangan terlalu dalam mengenang zaman keemasan dan romantisme sejarah masa lalu. “Orang terpelajar adalah pemilik masa lalu, dan orang yang terus belajar akan menjadi pemilik masa depan,” tambahnya.

IKHAC adalah perguruan tinggi keislaman yang dinanungi oleh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, Jawa Timur. Dalam wisuda kali ini, IKHAC menyematkan gelar sarjana S1 bagi 460 wisudawan, termasuk sembilan mahasiswa asal luar negeri, seperti Afganistan, Thailand, Malaysia dan negara Asia lainnya.

Pengasuh dan pendiri Pesantren Amanatul Ummah, KH. Asep Abdul Chalim berpesan agar para wisudawan menjadi sosok yang mandiri dan siap menyongsong era digital. Para Alumni, selain dibekali penguatan mental spiritual, juga sudah dibekali ilmu-ilmu terapan yang siap dipakai untuk bekal hidup di era industri 4.0, seperti akutansi, teknologi informasi, bahasa Arab dan bahasa Inggris.

“Saya kira lulusan sini sudah membawa cukup bekal untuk berkiprah di tengah-tengah masyarakat dan juga siap menjadi enterpreneur,” katanya. Berbagai kompetensi itulah yang menurutnya menjadi aspek keunggulan IKHAC yang didisain menjadi World Class University. (ST)

Wapres: Pekerja Lulusan Perguruan Tinggi Masih Minim

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan, jumlah penduduk Indonesia yang melanjutkan ke pendidikan tinggi masih terbatas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dari 137,90 juta penduduk usia 15 tahun yang bekerja dan data angkatan kerja Februari 2020 hanya sekitar 14,22 juta orang atau hanya 10,3 persen yang merupakan lulusan perguruan tinggi.

Karena itu, ia berharap generasi muda yang berkesempatan melanjutkan pendidikan tinggi dapat menjadi agen perubahan di lingkungannya.

“Saya berharap Sahabat Atma dapat menjadi agen perubahan dan role model di lingkungan masyarakat melalui penerapan ilmu, pengetahuan, dan keteladanan,” ujar Ma’ruf dalam sambutan kegiatan pengenalan Kampus Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya bertema ‘Membangun Kepedulian, Merajut Kebhinekaan’, Senin (31/8).

Ma’ruf mengingatkan, variabel utama masa depan bangsa sangat dipengaruhi oleh disrupsi di semua sektor kehidupan. Apalagi dengan menguatnya pemanfaatan kecerdasan buatan, penggunaan big data, dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

Ini akan menyebabkan pembangunan tidak lagi linear, tapi bersifat eksponensial yang berkembang secara pesat. Karena itu, ilmu pengetahuan dan teknologi harus mampu memberikan nilai tambah sumber daya yang dikelola.

“Kecerdasan buatan menjadi jalan keluar agar negara tidak sekedar menjadi pasar melainkan juga sebagai pelaku dari Revolusi Industri 4.0, juga dapat dimanfaatkan untuk menemukan model pengembangan bisnis baru,” ungkapnya.

Karena itu, pendidikan dan pengetahuan menjadi modal dasar bagi suatu bangsa untuk memiliki daya saing, unggul secara kompetitif dan komparatif, mandiri, dan menjadi bangsa yang tidak tergantung kepada negara lain. Begitu juga, dunia kampus diharapkan peran strategisnya dalam pembangunan melalui berbagai pengembangan konsep, riset, dan inovasi.

Selain itu, kata Ma’ruf, kerja sama dengan berbagai pihak terkait harus terus dilakukan dalam berbagai bidang untuk menghasilkan karya-karya terbaik bangsa.

“Eksistensi kampus sebagai pusat keunggulan (center of excellence) diharapkan selalu memberikan kontribusi dan partisipasi nyata dalam proses pembangunan. Seluruh civitas akademika harus terlibat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya mencerdaskan bangsa,” ungkapnya.

Sumber: republika.co.id

48 Video Ikuti Lomba Jejak Wali di Nusantara

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Sebanyak 48 Video telah mengikuti Lomba Jejak Wali di Nusantara yang diadakan Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama. Seleksi lomba akan memasuki tahap penilaian di tingkat nasional. Demikian disampaikan Kasubdit Seni, Budaya, dan Siaran Keagamaan Islam, Sayid Alwi Fahmi dalam keterangannya di Jakarta, Ahad (30/8).

Dikatakan Fahmi, kontestan di tingkat nasional ini diikuti para peserta yang sebelumnya telah menjuarai lomba serupa di tingkat provinsi. “Sebelumnya lomba video Jejak Wali di Nusantara ini sudah dipertandingkan di tingkat provinsi sejak Juni hingga Agustus 2020,” ujarnya.

Tiga video terbaik di tingkat provinsi kemudian akan dipertandingkan kembali di tingkat nasional di hadapan dewan juri yang terdiri dari Komisi Penyiaran Indonesia, Lembaga Sensor Film, Seniman, Budayawan, dan unsur Kementerian Agama.

Misal dari provinsi Jawa Tengah mengirimkan video dengan judul Luru Kasejaten (Raden Munding Wangi Mencari Hakekat Hidup), Jejak Sunan Kalijogo di Bumi Sambhara Bhudara, dan Wali Sigedong. Sedangkan dari provinsi DI Yogyakarta mengirimkan video dengan judul Slametan, The Journey, dan Istana Kematian.

Hingga akhir Agustus ini, Fahmi mengatakan, panitia masih menerima laporan dari tiap provinsi. Sementara itu penilaian di tingkat nasional akan dilaksanakan pada pertengahan September mendatang untuk memperebutkan Piala Menteri Agama dan uang pembinaan dengan total Rp 70 juta bagi enam pemenang.

Fahmi menerangkan, tahun ini adalah kali ketiga Kementerian Agama menggelar lomba video yang mengangkat tema kebudayaan Islam di Nusantara. Sebelumnya, perhelatan yang ditujukan pada kelompok milenial itu digelar dengan tema “Situs Sejarah Islam di Nusantara” (2018), dan “Tradisi dan Budaya Islam Indonesia” (2019).

“Tahun ini kami mengangkat tema ‘Jejak Wali di Nusantara,’ untuk mengokohkan kesadaran generasi muda akan nilai-nilai budaya Islam yang dibawa para pendakwah di masa lalu, yang dalam terminologi masyarakat dipanggil dengan sebutan wali,” ungkapnya.

Jejak dakwah para wali itu, ditambahkan Fahmi, masih terlihat hingga saat ini. “Karena itu, lomba ini secara umum ditujukan untuk memberi perlindungan, pembinaan, pengembangan, dan pelestarian khazanah budaya Islam yang dibawa para ulama kita di masa lalu. Jangan sampai kesadaran kita akan sejarah dan kebudayaan Islam ini terkikis,” pungkasnya.

Benarkah Sains Barat Terinspirasi Peradaban Islam?

Di zaman modern ini, teknologi berkembang kian melesat. Banyak temuan-temuan baru yang dibuat untuk memudahkan urusan manusia.

Hegemoni ini seakan berlangsung dengan iring-iringan kuatnya teknologi Barat yang menguasai dunia.

Dan anehnya, orang-orang begitu asing dengan fakta bahwa Kaum Muslimin adalah pemberi sumbangsih pertama-tama sebelum teknologi-teknologi canggih itu muncul.

Sains yang kita tahu sekarang kebanyakan bersumber dari literatur-literatur Barat. Tokohnya pun tidak ada lagi selain dari Barat.

Padahal estetika ilmu itu berkiblat ketika kaum Muslimin menguasai peradaban pada 13 abad yang lalu. Yang disebut “The Golden Ages.”
.
Salah satunya dijelaskan oleh Sejarawan Amerika, David King, “Semua improvisasi teknologi dan alat-alat astronomi di Eropa hingga tahun 1550 Masehi berasal seluruhnya dari pabrik-pabrik Kaum Muslimin.

Kolerasi yang kuat antara sains dan agama ketika itu membuat para Ilmuwan Muslim disegani. Bahkan ketika itu, kota-kota Muslimin menjadi tujuan orang-orang Barat dalam menimba ilmu, yang pada saat orang barat sangat buta akan keilmuan bahkan membaca tulisan pun tidak bisa. Masa kegelapan bagi barat yaitu “The Dark Ages.”
.
Padahal jika kita sadar akan sejarah tentang Peradaban Islam dan ilmuwan-ilmuwan Muslim dulu, justru peradaban modern saat ini banyak yang terinspirasi dari temuan-temuan ilmuwan Muslim di masa lalu. Lebih parahnya, klaim bangsa Barat terhadap penemuan-penemuan yang diciptakan oleh ilmuwan Muslim mereka lakukan. Dengan sengaja.

Seperti penemuan teknologi pesawat terbang yang kini mayoritas kita lebih tahu kepada Wright bersaudara yang menciptakannya. Padahal, jauh sebelumnya ada ilmuwan Muslim Ibnu Firnas (810-887) yang sudah berhasil dengan alat buatannya yg bernama Ornitophter di tahun 875 M.

Dalam teknologi kamera, juga terdapat kerancuan sejarah di mana bangsa Barat menyebut bahwa teknologi kamera pertama kali dirintis oleh Kepler yang diklaim menemukan Kamera Obscura di tahun 1611 M.

Padahal akhir abad ke-10 M, Ibnu Al Haitham (965 – 1040) sudah menemukan Kamera Obscura tersebut untuk mempelajari fenomena gerhana matahari.

Masih banyak lagi klaim Barat terhadap penemuan Islam, yang sampai saat ini orang-orang buta akan itu, tak sadar akan sejarah, bersandar hanya melalui media mainstream saja tanpa ada keinginan menelisik lebih dalam.

Sadar akan sejarah itu sungguh menjadi kewajiban dengan diiringi nya ketakwaan, dan upaya dalam membangkitkan peradaban Islam.

 (Muhammad Dyan)

 

Antara Ilmu atau Harta, Mana yang Dipilih?

Oleh: Jumi Yanti Sutisna*

Pandemi belum berlalu, pemberlakuan new normal oleh pemerintah bukan berarti pandemi berakhir sudah. Bahkan tak terelakkan,  jumlah positif corona kian hari kian bertambah. Catatan dari BNPB pada 1 Agustus 2020 terkonfirmasi positif corona sebanyak 109.936 jiwa, kemudian pada 28 Agustus terkonfirmasi menjadi 165.887 jiwa. Bukan jumlah yang sedikit dalam kenaikan kasus positif.

Alasan ekonomilah yang sepertinya memaksa pemerintah untuk perlahan melonggarkan aktifitas agar kembali kesemula, terutama sektor ekonomi. Beberapa bulan masyarakat Indonesia mengikuti anjuran pemerintah untuk beraktifitas di rumah saja mengakibatkan ekonomi masyarakat pun terpuruk tajam, mengakibatkan kebangkrutan dibeberapa bidang usaha, pengangguran besar tak terelakkan juga, hingga kelaparan pun menjadi efeknya. Kemudian pemerintah pun memberlakukan new normal dengan harapan perekonomian pun kembali normal.

Pelonggaran aktifitas di era new normal rupanya lebih banyak kepada sektor ekonomi, bahkan belum lama ini Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama meresmikan bioskop dapat kembali dibuka sedangkan ada yang tidak kalah penting dari sektor ekonomi yaitu pendidikan masih tetap diberlakukan sama seperti sebelum era new normal.

Pembelajaran dan pendidikan masih diberlakukan secara daring, bahkan para mahasiswa yang mereka bertahun-tahun menuntut ilmu dengan susah payah, berharap ada momen indah sebagai wujud penghargaan terhadap jerih payah mereka yaitu wisuda, namun akhirnya mereka harus merayakannya di dalam kamar rumahnya, diatas tempat tidurnya, bahkan ada yang merayakan di bukit demi mendapatkan signal untuk wisuda online.

Seperti yang belakangan ini viral, video seorang mahasiswa dari Universitas Halu Oleo Kendari Sulawesi Tenggara tampak menangis meratapi dirinya yang berjuang selama 6 tahun menuntut ilmu diperkuliahan, namun akhirnya harus merayakan wisudanya dari atas kasur tempat tidurnya.

Kemudian seorang mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukitinggi Sumatra Barat harus mendaki bukit demi mendapatkan signal untuk mengikuti prosesi wisuda online.

Allah mencintai orang yang berilmu, meninggikan derajat orang berilmu beberapa derajat dibanding orang tak berilmu, seperti firmannya :

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah : 11)

Allah juga berfirman dalam surat Az-Zumar bahwa tidaklah sama antara orang berilmu dan tidak berilmu.

Rasulullah dalam hadist-hadistnya pun memberikan pujian bagi orang berilmu dan penuntut ilmu,

“Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

“Orang yang yang berilmu adalah orang yang diberi kebaikan oleh Allah” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Kemudian para malaikat disebutkan menaungi majelis-majelis ilmu (HR Abu Dawud) dan disebutkan pula seluruh penghuni langit dan bumi hingga ikan di dasar lautan memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang berilmu” (HR at- Tirmidzi).

Dengan demikian, orang berilmu dan penuntut ilmu begitu terhormat dan mulia di mata Allah dan Rasulullah serta memiliki kedudukan tinggi. Bukankah perintah pertama Allah kepada Rasulullah pun adalah ‘Iqro’ membaca, bukan mencari nafkah atau lainnya. Ini menandakan pentingnya menuntut ilmu. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya sebuah negeri jika penduduknya miskin ilmu dan diliputi kebodohan.

Saya jadi teringat perkataan Jack Ma salah satu orang terkaya di dunia “Jika pisang dan uang diletakkan di hadapan seekor monyet, maka monyet akan memilih pisang, karena monyet tidak mengerti bahwa uang bisa digunakan untuk membeli banyak pisang. Dalam kenyataan hidup pun, jika uang dan kesehatan diletakkan dihadapan orang, acap kali orang akan memilih uang, karena terlalu banyak orang yang tidak mengerti bahwa kesehatan dapat berguna mendapatkan lebih banyak uang dan kebahagiaan”

Kemudian uang dan ilmu, jika uang dan ilmu diletakkan dihadapan orang, manakah yang akan dipilih? Itulah saya rasa yang sedang terjadi saat ini di Indonesia.

*Jurnalis Jurnalislam.com

Bantuan Pesantren Cair, Menag Serahkan ke Pesantren NU di Jakarta

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Bantuan operasional pondok pesantren dan lembaga pendidikan kegamaan mulai cair.
Hal ini secara simbolis ditandai penyerahan bantuan oleh Menteri Agama Fachrul Razi ke sejumlah pesantren Nahdlatul Ulama (NU) yang diwakili oleh RMI PBNU dan Satgas Covid-19 PBNU.

Acara penyerahan bantuan berlangsung di Ponpes Ekonomi Darul Ukhuwah Kedoya. Pondok pesantren ini dipimpin oleh KH. Marsudi Suhud, yang juga Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Penyerahan bantuan bersamaan dengan Peringatan Tahun Baru Islam 1442H. “Semoga bantuan ini bisa dimanfaatkan dengan baik. Bantuan ini menjadi bagian perhatian Pemerintah terhadap pondok pesantren yang jumlahnya ribuan,” ujar Menag di Jakarta, Sabtu (29/08) malam.

“Saya memberikan apresiasi kepada pesantren yang telah banyak menyebarluaskan tentang protokol kesehatan. Misalnya jangan keluar dari tempat yang terkena wabah dan jangan masuk ke daerah yang terkena wabah,” sambung Menag.

Menag berharap, seluruh pondok pesantren di Indonesia, khususnya pesantren di bawah naungan NU tetap memperhatikan protokoler kesehatan dalam menjalani proses pembelajaran. Pesantren diharapkan tetap menjaga pola hidup sehat bagi para santri-santriwati.

“Mari saling berdoa, menjaga diri, dan menciptakan suasana optimisme di pesantren agar Indonesia segera terbebas dari covid 19,” pesan Menag.

Menag menyatakan bahwa dirinya sebelum Covid 19 melanda, sering berkunjung ke Pondok Pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Tidak hanya itu, saya juga berkunjung ke PWNU Jatim dan Jawa Tengah,” ujar Menag.

Hadir mendampingi Menag, Kevin Haikal selaku Staf Khusus Menteri Agama menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bentuk sinergitas antara pemerintah dengan ormas keagamaan.

“Kementerian Agama ingin terus melakukan sinergi dengan NU, sebagai organisasi terbesar di Indonesia dan dunia. Apalagi, pondok-pondok pesantren binaan PBNU yang tersebar bukan hanya di pulau jawa, sangat besar kontribusinya untuk negara kita, jauh sejak sebelum kemerdekaan Indonesia,” ujar Kevin.

Kementerian Agama menerima amanah berupa anggaran sebesar Rp2,599 triliun untuk membantu pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan Islam di masa pandemi Covid-19. Anggaran ini disalurkan dalam bentuk Bantuan Operasional (BOP) untuk 21.173 pesantren.

Jumlah ini terdiri dari 14.906 pesantren dengan kategori kecil (50-500 santri) yang mendapat bantuan sebesar Rp25juta. Lalu ada 4.032 pesantren kategori sedang (500-1.500 santri), yang akan mendapat bantuan Rp40juta.

Bantuan juga akan diberikan kepada 2.235 pesantren kategori besar dengan santri di atas 1.500 orang. Nilai bantuannya adalah Rp50juta. Karena jumlahnya banyak, bantuan operasional ini dicairkan secara bertahap. Untuk tahap pertama, bantuan operasional yang dicairkan sejumlah Rp.930.835.000.000,-.

Bantuan tersebut diperuntukkan bagi 9.511 pondok pesantren, 29.550 Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), 20.124 LPTQ/TPQ, dan bantuan pembelajaran daring bagi 12.508 lembaga.

Termasuk tahap ini adalah bantuan operasional yang diberikan oleh Menag Fachrul Razi kepada Pesantren Darul Ukhuwwah Kedoya. Selain bantuan operasional, Kemenag juga akan memberikan bantuan pembelajaran daring kepada 14.115 lembaga.

“Masing-masing lembaga akan mendapat Rp15juta, namun diberikan per bulan Rp5juta selama tiga bulan,” tandasnya.

Selain pesantren, bantuan juga akan disalurkan sebagai BOP untuk 62.153 Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT). Masing-masing MDT akan mendapat Rp10juta. Bantuan juga diberikan untuk 112.008 Lembaga Pendidikan Al Qur’an (LPQ). Masing-masing LPQ akan mendapat bantuan Rp10juta.

Ikut hadir dalam acara, Direktur Pondok Pesantren Kemenag RI – Waryono, Lembaga Asosiasi Pesantren NU, Ketua Satgas Covid19 NU, Ketua LazisNU, KH. Mujib Qulyubi dari Syuriyah PBNU, Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta serta para kyai, tokoh dan tamu undangan lainnya.

Kemenag: Kuatkan Ketahanan Keluarga di Tengah Pandemi

JAKARTA (jurnalislam.com)- Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Kementerian Agama, Muharam Marzuki, mengimbau masyarakat untuk menguatkan ketahanan keluarga di tengah pandemi Covid-19. Imbauan tersebut menyusul fenomena maraknya masyarakat yang mendaftarkan gugatan perceraian di sejumlah Pengadilan Agama akhir-akhir ini.

Muharam mengatakan, kasus perceraian dilatarbelakangi faktor yang kompleks, namun di masa pandemi ini, faktor utama gugatan cerai adalah faktor ekonomi.

“Pandemi membawa dampak pada merosotnya ekonomi keluarga, hal ini kemudian berakibat pada meningkatnya jumlah gugatan cerai di sejumlah Pengadilan Agama,” kata Muharam kepada pada Jumat (28/8/2020).

Untuk itu, Muharam berpesan kepada masyarakat untuk menguatkan ketahanan keluarga. “Keluarga adalah fondasi paling dasar dari sebuah negara, oleh karena itu penting bagi kita untuk menguatkan ketahanan keluarga di tengah masa pandemi ini,” ujarnya.

Salah satu cara untuk menguatkan ketahanan itu, imbuhnya, adalah memperkuat sisi agama dalam kehidupan berumah tangga. “Aspek spiritual dan religius merupakan faktor penting agar kita tetap bisa mengambil sisi positif di tengah kondisi yang penuh tantangan ini,” ungkapnya.

Dikatakannya, terbatasnya ruang gerak anggota keluarga di masa pandemi bisa jadi akan melahirkan kejenuhan yang berujung pada ketidakharmonisan rumah tangga. Dengan menguatkan aspek agama, sambungnya, kejenuhan itu bisa dihindari.

“Misalnya dengan lebih rutin beribadah berjamaah bersama keluarga di rumah, membaca Al-Qur’an bersama, mengkaji agama, dan sebagainya. Komunikasi yang baik dan penguatan faktor agama akan memperkuat ketahanan keluarga,” pesannya.

Kementerian Agama, ditambahkannya, juga mempunyai sejumlah program yang ditujukan bagi penguatan kehidupan keluarga. “Kemenag memiliki program Bimbingan Perkawinan, program ini ditujukan untuk melanggengkan tali perkawinan,” katanya.

Ia menerangkan, program Bimwin tidak hanya ditujukan bagi masyarakat yang akan mendaftarkan nikah di KUA, tetapi juga bagi remaja, bahkan bagi pasangan yang sudah menikah. “Tujuannya agar masyarakat memiliki kesiapan mental dalam menjalani kehidupan berumah tangga, sebab tantangan kehidupan berumah tangga memang tidak mudah,” jelasnya.

Keluarga yang kuat, Muharam menjelaskan, adalah keluarga yang mampu mewujudkan konsep keluarga ideal. “Dalam konsep Islam disebut dengan keluarga yang sakinah mawadah warahmah, yaitu kehidupan rumah tangga yang tenang, penuh cinta, dan kasih sayang. Di dalamnya ada istri, suami, dan anak yang merupakan satu kesatuan tak terpisahkan. Mereka mampu memperkuat dan melanggengkan jalinan keluarganya.” pungkasnya.