Benarkah Sains Barat Terinspirasi Peradaban Islam?

Benarkah Sains Barat Terinspirasi Peradaban Islam?

Di zaman modern ini, teknologi berkembang kian melesat. Banyak temuan-temuan baru yang dibuat untuk memudahkan urusan manusia.

Hegemoni ini seakan berlangsung dengan iring-iringan kuatnya teknologi Barat yang menguasai dunia.

Dan anehnya, orang-orang begitu asing dengan fakta bahwa Kaum Muslimin adalah pemberi sumbangsih pertama-tama sebelum teknologi-teknologi canggih itu muncul.

Sains yang kita tahu sekarang kebanyakan bersumber dari literatur-literatur Barat. Tokohnya pun tidak ada lagi selain dari Barat.

Padahal estetika ilmu itu berkiblat ketika kaum Muslimin menguasai peradaban pada 13 abad yang lalu. Yang disebut “The Golden Ages.”
.
Salah satunya dijelaskan oleh Sejarawan Amerika, David King, “Semua improvisasi teknologi dan alat-alat astronomi di Eropa hingga tahun 1550 Masehi berasal seluruhnya dari pabrik-pabrik Kaum Muslimin.

Kolerasi yang kuat antara sains dan agama ketika itu membuat para Ilmuwan Muslim disegani. Bahkan ketika itu, kota-kota Muslimin menjadi tujuan orang-orang Barat dalam menimba ilmu, yang pada saat orang barat sangat buta akan keilmuan bahkan membaca tulisan pun tidak bisa. Masa kegelapan bagi barat yaitu “The Dark Ages.”
.
Padahal jika kita sadar akan sejarah tentang Peradaban Islam dan ilmuwan-ilmuwan Muslim dulu, justru peradaban modern saat ini banyak yang terinspirasi dari temuan-temuan ilmuwan Muslim di masa lalu. Lebih parahnya, klaim bangsa Barat terhadap penemuan-penemuan yang diciptakan oleh ilmuwan Muslim mereka lakukan. Dengan sengaja.

Seperti penemuan teknologi pesawat terbang yang kini mayoritas kita lebih tahu kepada Wright bersaudara yang menciptakannya. Padahal, jauh sebelumnya ada ilmuwan Muslim Ibnu Firnas (810-887) yang sudah berhasil dengan alat buatannya yg bernama Ornitophter di tahun 875 M.

Dalam teknologi kamera, juga terdapat kerancuan sejarah di mana bangsa Barat menyebut bahwa teknologi kamera pertama kali dirintis oleh Kepler yang diklaim menemukan Kamera Obscura di tahun 1611 M.

Padahal akhir abad ke-10 M, Ibnu Al Haitham (965 – 1040) sudah menemukan Kamera Obscura tersebut untuk mempelajari fenomena gerhana matahari.

Masih banyak lagi klaim Barat terhadap penemuan Islam, yang sampai saat ini orang-orang buta akan itu, tak sadar akan sejarah, bersandar hanya melalui media mainstream saja tanpa ada keinginan menelisik lebih dalam.

Sadar akan sejarah itu sungguh menjadi kewajiban dengan diiringi nya ketakwaan, dan upaya dalam membangkitkan peradaban Islam.

 (Muhammad Dyan)

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X