Berita Terkini

Gubernur Sumatera Barat Buka Multaqo Ulama dan Da’i Se-Asia Tenggara, Eropa, Afrika

PADANG (Jurnalislam.com) – Gubernur Sumatera Barat Prof. Dr. Irwan Prayitno membuka perhelatan Multaqo Ulama dan Da’i se-Asia Tenggara, Eropa, serta Afrika bertempat di Masjid Raya Kota Padang, Sumatera Barat, Senin (17/07/2017).

Dalam sambutannya, Irwan menyampaikan bahwa pertemuan semacam ini merupakan agenda penting sebagai media silaturahim dan menguatkan persatuan umat.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengungkapkan, sangat senang dengan ditunjuknya Sumatera Barat, khususnya Kota Padang, sebagai tuan rumah pertemuan tahunan yang ketiga kalinya ini.

Mengingat, kata dia, masyarakat Sumatera Barat yang sebagian besar berasal dari etnis Minang adalah masyarakat yang religius dan juga kuat semangat keagamaannya.

Irwan berharap, berkumpulnya para ulama dan da’i dari berbagai negara ini akan menghasilkan rekomendasi yang bermanfaat bagi umat.

“Tentu kita mengharapkan keluarnya rekomendasi atau pedoman berkaitan dengan dakwah dari pertemuan ini,” ujarnya seperti dilansir Islamic News Agency (INA), Senin (17/7/2017).

Pertemuan yang mengangkat tema tentang persatuan umat ini diselenggarakan oleh Yayasan al-Manarah al-Islamiyah dan Pemerintah Kota Padang. Dan akan berlangsung hingga Kamis (20/07/2017) mendatang.

Turut hadir dalam acara pembukaan di antaranya, Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah, Dewan Penasehat Yayasan Al-Manarah Al-Islamiyah Syeikh Kholid Al-Hamudi, Duta besar Saudi Arabia untuk Indonesia Syeikh Usamah bin Muhammad Al -Syu’aiby.

Hadir pula Gubernur terpilih DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan, Ketua Ikatan Ulama dan Da’i se-Asia Tenggara, KH. Zaitun Rasmin, Presiden Sudan Umar Hasan Ahmad al-Basyir, Imam Masjidil Haram, Mufti Mauritania dan Menteri Srilanka.

Perhelatan tahunan ini diikuti oleh sekitar 400 dai/ulama dari dalam dan luar negeri.

Tak hanya Multaqo dai dan ulama, pertemuan empat hari ini juga menggelar Konferensi Nasional Jurnalis Muslim yang pesertanya berasal dari media-media Islam dan mainstream.

Reporter: Yahya G Nasrullah/INA

Rejection, Proof that the Regime is Getting More Repressive: APMS

SOLO (Jurnalislam.com) – Dozens of Students who are members of the Youth and Student Alliance of Soloraya (APMS) held a rally at Roundabout Gladak, Jalan Slamet Riyadi, Solo, Sunday (16/7/2107). They rejected the issue of Perppu No. 2 year 2017 on Community Organization (CBOs).

One orator, Yusuf Santoso from the University of Sebelas Maret (UNS) said that the Perppu can be used by the government to forcibly dissolve mass organizations that are not in line with the government.

“The Perppu is in addition has fundamental grounds for publication, it is also very subjective and can only be published if there is a compelling interest, and there will be a lot of mass organizations that will be dissolved and this eliminates the presumption of innocence,” Yusuf said in his oration.

Yusuf assesses that the government’s policy of issuing the legislation proves that the regime is getting more and more refractive towards Muslims and tends to dictatorship

“Then why is he saying this country is democratic. This leads most to the refractive and dictatorial regimes, which are wrapped with democratic faces. A democratic that claims democracy, but its behavior does not reflect the democratic definition of a leader’s ruler, “he said.

Through the Perppu, Yusuf continued, the mass organizations were only given one chance to make further efforts if the court’s decision to grant the prosecutor’s request to revoke the status of the legal body of the organization.

“After just one week can be disbanded immediately, this is very oppressive when once very refrensive,” he said.

Yusuf also denied allegations that Islamic mass organizations are anti-Pancasila mass organizations, anti-NKRI and anti-diversity.

“The pinned allegations are very subjective, and (Perppu-ed) that, can be interpreted by certain parties that later could be rubber articles depending on who has these interests,” he concluded.

Translator: Taznim

Setelah Mosul Target Pasukan Irak Berikutnya adalah Tal Afar

IRAK (Jurnalislam.com) – Diskusi merebak di pemerintahan mengenai masa depan Irak setelah mengumumkan kemenangan atas IS di Mosul, sementara sumber mengatakan bahwa pertempuran berikutnya akan terjadi di Tal Afar dan sekitarnya, lansir Al Arabiya, Ahad (16/7/2017).

Karena struktur penduduk kota yang kompleks, PM Irak Haider Abadi akan memerintahkan pasukan gabungan untuk masuk ke kota. Di tengah kebocoran adanya keterlibatan 5.000 milisi Brigade Abbas, akan memimpin pasukan gabungan.

Partisipasi milisi, menurut sumber parlemen, adalah sebagai tanggapan atas keinginan otoritas keagamaan untuk menerapkan kekuatan moderat dalam pertempuran serta menyelesaikan perselisihan antara milisi Syiah Mobilisasi Populer dan Abadi atas serbuan Tal Afar oleh pihak milisi lain yang telah lama menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan pelanggaran terhadap warga sipil.

Sumber keamanan dan militer mengatakan bahwa pertempuran berikutnya, yang akan dimulai dalam dua pekan, akan dilakukan untuk Tal Afar dan wilayah Al-Halabiya dan Ayadiyah.

Di daerah selatan Kirkuk, Mosul dan utara Salahuddin, Pasukan Khusus Irak akan menekan IS dan membatasi gerakannya pada awal pertempuran untuk merebut Tal Afar.

AQAP Serang Pos Militer Yaman, 5 Tentara Tewas

YAMAN (Jurnalislam.com) – Lima tentara Yaman tewas dan tiga lainnya cedera pada hari Ahad (16/7/2017) ketika milisi bersenjata yang diduga berhubungan dengan Al-Qaeda menyerang sebuah pos pemeriksaan militer, kata seorang sumber tentara, World Bulletin melaporkan.

Serangan hari Ahad adalah yang terbaru dalam serangkaian penembakan yang diduga dilakukan mujahidin AQAP yang menargetkan pos pemeriksaan militer dan pos terdepan di Yaman.

AQAP, yang dinilai oleh Amerika Serikat sebagai cabang jaringan jihadis dunia yang paling berbahaya.

Amerika Serikat telah mengintensifkan serangan udara terhadap situs yang dicurigai AQAP di Yaman sejak Presiden Donald Trump mulai menjabat pada bulan Januari.

Pemerintah Yaman, yang bersekutu dengan koalisi militer Arab pimpinan Saudi, telah bertahun-tahun memerangi pemberontak Syiah Houthi yang didukung Iran untuk menguasai negara terpuruk tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa lebih dari 8.000 orang terbunuh akibat konflik Yaman yang berkepanjangan, kebanyakan dari mereka warga sipil, sejak koalisi pimpinan Saudi ikut campur dalam konflik tahun 2015.

Negara ini juga terkena wabah kolera yang mematikan dan berada di jurang kelaparan.

Sebuah Bus Jatuh ke Jurang, 16 Peziarah Hindu Tewas dan 30 Terluka

SRINAGAR (Jurnalislam.com) – Enam belas peziarah Hindu tewas dan 30 lainnya cedera saat bus mereka jatuh ke jurang di Jammu dan Kashmir, menurut polisi, lansir Anadolu Agency, Ahad (16/7/2017).

Bus meluncur dari jalan raya di daerah Banihal saat sedang dalam perjalanan untuk ziarah Amarnath.

Superintendent Polisi Ramban Mohan Lal mengkonfirmasi korban tewas dan luka, menambahkan bahwa 19 peziarah yang terluka parah diterbangkan ke Jammu untuk perawatan.

Penyebab kecelakaan itu masih belum jelas.

Perdana Menteri India Narendra Modi men-tweet bahwa dia “sangat menderita karena hilangnya nyawa peziarah Amarnath Yatris karena kecelakaan bus di Jammu dan Kashmir”.

Kecelakaan itu terjadi beberapa hari setelah delapan jenazah Amarnath tewas dalam serangan militan yang diduga terjadi di distrik Anantnag yang disengketakan di wilayah tersebut.

Lebih dari 200.000 peziarah Hindu dari seluruh India mengunjungi gua Amarnath di pegunungan selatan selama ziarah tahunan selama 40 hari.

Kashmir, sebuah wilayah Himalaya yang berpenduduk mayoritas Muslim, dikuasai oleh India dan Pakistan di beberapa bagian dan diklaim oleh keduanya secara penuh. Sepotong kecil Kashmir juga dikuasai oleh China.

Kedua negara telah bertempur dalam tiga perang – pada tahun 1948, 1965 dan 1971 – sejak dipecah pada tahun 1947, dua di antaranya memperebutkan Kashmir. Kelompok pejuang muslim Kashmir di Jammu dan Kashmir telah berperang melawan pemerintah India untuk kemerdekaan, atau untuk penyatuan dengan negara tetangga Pakistan.

Lebih dari 70.000 orang dilaporkan terbunuh dalam konflik tersebut sejak 1989. India mempertahankan lebih dari setengah juta tentara di wilayah yang disengketakan tersebut.

 

Tolak Perppu Ormas, APMS: Bukti Rezim Semakin Represif

SOLO (Jurnalislam.com) – Puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Soloraya (APMS) menggelar aksi unjuk rasa di Bundaran Gladak, Jalan Slamet Riyadi, Solo, Ahad (16/7/2107). Mereka menolak diterbitkannya Perppu No. 2 tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat (Ormas).

Salah satu orator, Yusuf Santoso dari Unversitas Sebelas Maret (UNS) mengatakan, Perppu tersebut dapat digunakan pemerintah untuk membubarkan paksa ormas-ormas yang tak sejalan dengan pemerintahan.

“Perppu ini selain tidak ada alasan yang mendasar untuk diterbitkan, juga sangat subyektif dan hanya bisa diterbitkan kalau ada kepentingan yang memaksa, dan akan banyak sekali ormas yang akan dibubarkan dan ini menghilangkan asas praduga tak bersalah,” kata Yusuf dalam orasinya.

Yusuf menilai, kebijakan pemerintah menerbitkan perppu tersebut membuktikan bahwa rezim semakin refrensif terhadap umat Islam dan cenderung diktaktor.

“Lalu mana yang katanya negara ini demokratis. Ini sangat mengarah ke rezim refrensif dan diktator, yang dibalut dengan wajah demokrasi. Ngakunya demokratis, mengklaim demokratis, namun perilakunya tidak mencerminkan kalau penguasanya pengemban demokratis,” tandasnya.

Melalui Perppu tersebut, lanjut Yusuf, ormas hanya diberi satu kali kesempatan untuk melakukan upaya lanjutan sekiranya putusan pengadilan mengabulkan permohonan kejaksaan untuk mencabut status badan hukum ormas tersebut.

“Setelah satu minggu langsung bisa dibubarkan, ini sangat dzolim sekali, sangat refrensif sekali,” tegasnya.

Yusuf juga membantah tuduhan bahwa ormas-ormas Islam yang dianggap sebagai ormas anti-Pancasila, anti-NKRI dan anti-Kebhinekaan.

“Tuduhan yang disematkan itu sangat subyektif, dan (Perppu-red) itu, bisa ditafsirkan pihak-pihak tertentu yang nanti bisa jadi pasal karet tergantung siapa yang memiliki kepentingan tersebut,” pungkasnya.

Apakah Koalisi Telah Gagal? Begini Penjelasan Syeikh Muhaysini

Oleh Syeikh Abdullah Al-Muhaysini

JURNALISLAM. COM – “Alasan migrasi saya ke Sham pertama-tama adalah karena saya menginginkan persatuan antara mujahidin. Dalam perundingan koalisi pertama dua tahun yang lalu Ahrar Sham menetapkan prasyarat bagi Jabhat Fath Sham agar mereka memutuskan hubungan dengan Al Qaeda dan mengganti nama mereka. Dan mereka berjanji untuk bergabung. Ketika mereka akhirnya melakukannya, Ahrar Sham meminta agar pemimpin mereka seharusnya bukan berasal dari Fath Sham karena telah dianggap sebagai organisasi teroris. Jadi pemimpinnya tidak bisa Syaikh Abu Muhammad Al- Jaulani. Meskipun prasyarat ini tidak diatur sebelumnya, namun ini adalah kondisi yang realistis. Ahrar juga menginginkan agar semua faksi bisa larut dalam usaha penggabungan (koalisi). Dan inilah yang kita semua inginkan, tidak hanya penggabungan dua atau tiga faksi. Jadi saya mencoba meyakinkan al-Jaulani agar dia akan melepaskan kepemimpinan kepada orang lain dari faksi lain, dan pemimpin tersebut tidak harus dari Ahrar, tapi kami tidak dapat mendapatkannya.

Dalam usaha terakhir sekitar puluhan hari yang lalu, saat perang berkecamuk dan Aleppo jatuh, lalu wilayah-wilayah hilang dan terkepung. Situasinya menjadi sangat mengerikan sehingga paling tidak kita bisa menunjukkan kepada masyarakat bahwa para pemimpin tetap bersatu. Karena ini adalah tuntutan rakyat. Jika kita mengatakan bahwa kita berjuang untuk membela yang lemah maka mereka menuntut kita untuk bersatu. Maka berkumpullah para pemimpin, di antaranya pemimpin Ahrar dan Fath Sham. Saya tidak hadir saat itu. Jadi mereka membuat proposisi bahwa pemimpin Ahrar Abu Amar akan menjadi pemimpin umum dan Al-Joulani menjadi pemimpin militer. Tawfiq, pemimpin Zinki, akan menjadi pemimpin dewan penasihat Syura. Saat proposisi ini dibuat Al Joulani menerimanya. Semua orang sangat senang dan antusias dan saling berpelukan. Kami mencapai tahap yang semua orang rindukan, meski penggabungan usaha itu tidak boleh dibatasi hanya untuk Ahrar, Fath Sham, Zinki, Sunnah Jaysh, Liwa Al-Haqq, Hizb Al-Turkistani dan Ajnaad Sham. Kita harus membuka pintu untuk semua dan memanggil tujuh faksi FSA lainnya untuk bergabung juga.

Penggabungan itu adalah fakta dan semua pihak menandatangani. Koalisi tersebut resmi setelah Ahrar, Fath Sham, Zinki dan yang lainnya menandatangani. Setelah itu mereka pergi dan penggabungan akan diumumkan dalam satu atau dua hari. Berita menyebar di antara orang-orang dan semua orang merasa bahagia. Kami senang menyaksikan hari yang sangat kami rindukan ini; Kesatuan umat Islam. Tapi ketika Ahrar meminta faksi lain untuk bergabung dalam koalisi mereka mengatakan bahwa mereka ingin bergabung dengan Ahrar terlebih dahulu, jadi mereka ingin memulai perundingan dan kesepakatan baru mengenai hal itu. Ahrar mengatakan bahwa kita berada dalam posisi yang sangat sulit di Sham sekarang dan kita tidak bisa kembali ke masa lalu dan mulai dari awal lagi untuk membicarakan tentang nama apa yang harus kita berikan pada entitas baru dan bagaimana dewan penasihat Shura akan terlihat, dll, dll. Jadi untuk kembali memulai itu sulit. Akhirnya faksi-faksi yang tersisa menolak masuk dalam koalisi ini. Kami mengatakan agar para ikhwan menyetujui penggabungan tersebut untuk bersatu dan sisanya akan mengikuti, karena mereka sebagian besar berada di wilayah, yaitu lebih dari sepertiga; Semua kelompok dari Jaysh Al-Fath ditambah faksi tambahan.

Tapi sayangnya koalisi itu tertunda, dan setelah itu ikhwan di Ahrar menolak melanjutkan koalisi. Maka para ulama menerbitkan putusan bahwa faksi harus menyelesaikan koalisi. Tapi faksi tidak melakukannya, jadi kami mencapai situasi yang menyedihkan ini, karena koalisi tertunda. Kami mengatakan dengan dukacita, ya koalisinya gagal. Iya gagal. Tapi ada harapan karena para ikhwan mengatakan bahwa jika kita ingin memulai pembicaraan koalisi lagi, kita tidak akan kembali ke awal dan kita akan mulai dari saat kita bergabung dan menandatangani. Di sini saya ingin memanggil faksi-faksi Ahrar Sham yang diberkati yang telah mengorbankan ribuan martir, dan telah berkorban untuk melayani rakyat Sham. Rakyat Sham mencintai mereka. Saya meminta mereka untuk terus melakukan koalisi dan membuat rakyat Suriah yang terluka, yang telah merasakan segala macam penderitaan merasa bahagia. Dan seluruh wilayah secara otomatis akan mengikuti dengan seizin Allah Swt.

Jika Idlib diserang hari ini saat kita terpecah belah, dan saya katakan ini agar sejarah mencatat, kita akan menggigit jari karena kita tidak melanjutkan koalisi. Dan Anda akan ingat apa yang saya katakan kepada Anda!!! Jika Idlib atau wilayah lain diserang, semoga Allah mencegahnya, dan faksi kemudian akan mengatakan bahwa mari kita bergabung, maka penggabungan itu tidak akan menguntungkan mereka lagi pada saat itu. Siapa yang kemudian akan memikul tanggung jawab atas mayat dan darah yang tumpah? Siapa yang bertanggung jawab atas kehancuran wilayah? Di Aleppo mereka bergabung, tapi kapan ?! Saat sudah terlambat! Mereka menjadikan Abu Abd Ashidaa sebagai pemimpin umum, dan orang yang saleh ini menulis “Kepada orang-orang di luar kota Aleppo yang terkepung; bergabung sekarang sebelum Anda bergabung seperti kita saat tidak ada gunanya lagi (terlambat).” Dan saya ulangi ini sekarang, bergabunglah dan andalkan Allah Yang Maha Kuasa. Inilah permintaan rakyat sekarang. Tanyakan kepada orang-orang di jalan apa yang mereka minta. Tanyakan kepada orang-orang siapa yang mereka inginkan untuk Anda bela dan untuk Anda lawan. Rakyat bosan dengan banyak pos pemeriksaan dari semua faksi yang berbeda. Rakyat bosan dengan pengadilan yang berbeda dari faksi yang berbeda. Rakyat bosan dengan keamanan yang kurang. Rakyat bosan dengan perpecahan. Kami kehilangan dukungan yang populer.

Kami telah kehilangan banyak pemuda yang meninggalkan Jihad karena perpecahan ini. Ribuan pemuda hari ini di Turki mengatakan, bersatulah dan kita akan bergabung. Bukan ratusan tapi ribuan. Mereka bertanya siapa yang harus saya ikuti? Ini adalah tanggung jawab besar kita di depan Allah. Ini bahkan tidak butuh fatwa dari orang-orang yang berpengetahuan. Penggabungan itu tidak membutuhkan fatwa dari kita. Jadi kenapa kita mempublikasikan putusannya? Bukannya kami ingin mendukung sisi ini atau sisi itu, jadi jika koalisi gagal orang tidak dapat mengatakan “Di mana para ulama?” (Syaikh menangis saat dia mengatakannya) Oh rakyat Sham! Ya Allah, bukankah kami telah menyampaikan? Ya Allah, biarkan batu dan pohon Sham, langit, air, manusia, dan para martir menjadi saksi bahwa kita telah melaksanakan tanggung jawab kita dan menerbitkan fatwa yang menjadi kewajiban kita.

Ini adalah usaha kami, dan saya mengatakan bahwa wajib bagi Ahrar Sham untuk terus melanjutkan koalisi. Dan bukan hanya mereka tapi juga faksi yang tersisa seperti FSA, saudara kita dan kekasih kita. Kita harus terus melakukannya, karena proposisi (tawaran) yang ada di atas meja saat ini bagus dan sangat realistis. Ini bukan hal terbaik yang mungkin terjadi tapi mendekati yang terbaik dan yang paling realistis. Orang tidak bisa mengatakan di mana para ulama, kita telah menyatakan ketidakbersalahan kita di depan Allah. Jika orang bertanya di mana para ulama, kita akan mengatakan bahwa kita telah mengeluarkan putusan ini. Dan para ulama yang menerbitkannya bukan dari faksi ini atau itu, para ulama ini dikenal atas pengetahuan dan kemandirian mereka. Syaikh AbuRazzaaq Al-Mahdi, Syaikh Abu Haarith Al-Masri, Syaikh Ibrahim Shashu, Syaikh Annas Arout, Syaikh Abu Husain, Syaikh Abu Mariyah Al-Qahtani, Dr. Mudhar, Syaikh Muslih Al-Ulayani, Syaikh Abu Muhammad Saadiq, Syaikh Abu Fath Al-Farghali dan lainnya yang tidak saya sebutkan, tapi total empat belas ulama besar menandatangani putusan ini. Dan mengatakan bahwa penggabungan hari ini adalah wajib dan menahan diri dari penggabungan adalah dosa.

Semoga orang-orang yang ikhlas akan gembira yang penting adalah bahwa Allah Rabb semesta alam ridho. Sejarah dan generasi akan ingat bahwa keempat belas ulama ini mengatakan dan memberikan sebuah putusan atas apa yang Allah wajibkan kepada mereka. Dan ratusan mahasiswa juga telah menerbitkan putusan untuk terus melanjutkan penggabungan (koalisi). Allah mewajibkan kita untuk membuat kebenaran jelas, dan kita melakukannya. Ulama lain yang memiliki pendapat lain, kita menghormati mereka dan mereka adalah cendekiawan kita, mereka adalah kekasih kita, tapi ini yang telah kita hadirkan untuk menyatakan ketidakbersalahan kita di hadapan Allah nanti atas rakyat Sham. Kami berharap Ahrar akan mempertimbangkannya dan melanjutkan koalisi dengan faksi-faksi lainnya, dan semoga Allah mempersatukan kaum Muslim di Sham.”

Sumber: Summarized from the series: Shaam Weekly – Episode 60

Kemungkinan Inilah Sosok Calon Pengganti al Baghdadi

LIBYA (Jurnalislam.com) -Setelah berita tentang kematian pemimpin kelompok Islamic State (IS), Abu Bakr al-Baghdadi, dilaporkan, IS diperkirakan akan segera mengumumkan nama pemimpin barunya, yang akan menggantikan Baghdadi, untuk mempertahankan para anggotanya, mempertahankan kelangsungan hidupnya dan memastikan kontinuitasnya, lansir Al Arabiya, Sabtu (15/7/2017).

Dalam sebuah pernyataan singkat yang dikeluarkan oleh IS beberapa hari lalu, organisasi tersebut berduka pemimpinnya yang terbunuh, Abu Bakr al-Baghdadi dan meminta anggotanya untuk tetap bersatu, bertahan di benteng-benteng dan tidak terseret bubar di balik runtuhnya kelompok tersebut.

IS kini menyaksikan masa kritis, terutama setelah serangan baru-baru ini di Irak dan kekalahan beruntun selama beberapa bulan terakhir, di mana mereka kehilangan sebagian besar wilayah dan pemimpinnya.

Beberapa pemimpin masih tersisa, yang tertinggi adalah pemimpin organisasi di Libya Jalaluddin al-Tunisi, salah satu nama terpenting yang memenuhi syarat untuk menggantikan Baghdadi.

Nama asli Jalaluddin al-Tunisi yang berasal dari Tunisia adalah Mohamed Ben Salem al-Ayouni. Ia lahir pada tahun 1982 di daerah Masaken di provinsi pesisir Sousse.

Dia berimigrasi ke Prancis sejak tahun 90an dan berhasil mendapatkan kewarganegaraan Prancis sebelum kembali ke Tunisia pada saat revolusi.

Pada tahun 2011, ia pergi ke Tunisia dan kemudian pindah ke Suriah untuk ikut serta dalam perang. Dia mengumumkan bergabung dengan IS pada tahun 2014 setelah pembunuhan komandan “batalion Ghoraba.” Dia menjadi pemimpin batalyon dan menjadi salah satu pemimpin terpenting dalam organisasi tersebut dan sangat dekat dengan Abu Bakr al-Baghdadi. Dia membuat penampilan pertamanya di media dalam sebuah video di perbatasan antara Suriah dan Irak pada tahun 2014.

Setelah kekalahan IS di Libya, khususnya di kota Sirte tahun lalu, Baghdadi menunjuknya sebagai Amir IS di Libya karena dia yakin dapat memenangkan pertempuran dan mempertahankan kehadiran organisasi di sana.

Karena wilayah Afrika Utara berada di puncak wilayah di mana IS berusaha memperluas dan bertahan dan dengan keruntuhan baru-baru ini di Irak, IS mungkin berusaha meluas lagi di negara-negara Afrika mulai dari Libya, yang keamanannya masih dalam keadaan kacau.

Libya, terutama di selatan, menyediakan tempat yang cocok bagi mereka agar dapat beroperasi dengan bebas, mengatur ulang, merekrut dan melatih anggota. Libya juga membantu dalam pembiayaan melalui penyelundupan barang agar bisa menutup kerugian sesegera mungkin setelah runtuhnya IS baru-baru ini di Irak (Mosul) dan di Suriah (Raqqa) dalam ancaman besar.

Jaysh al Islam Resmi Bubarkan Diri dan Bergabung ke Koalisi Oposisi Nasional

SURIAH (Jurnalislam.com) – Atas prakarsa Dewan Militer Damaskus, kelompok pejuang Jaysh al Islam telah mengumumkan kesepakatan untuk membubarkan diri dan berintegrasi ke dalam tentara oposisi nasional Suriah, lansir Al Arabiya News Channel, Sabtu (15/7/2017).

Dengan menyetujui prakarsa tersebut, Jaysh al Islam telah membubarkan diri sebagai usulan pembubaran formasi militer di al-Ghouta, yang merupakan kubu kelompok oposisi koalisi unit Islam dan Salafi.

Tujuan dari inisiatif tersebut, menurut sumber yang dekat dengan Dewan Militer Damaskus, adalah membentuk sebuah inti bagi tentara oposisi nasional yang bersatu, di samping membubarkan semua institusi dan layanan sipil.

Keputusan oleh Hamza Birekdar tersebut, memastikan bahwa Jaysh al Islam siap untuk bekerja sama sepenuhnya dengan keberhasilan proposal tersebut, yang bertujuan untuk mengakhiri pertempuran antara kelompok tersebut dan faksi Failaq Rahman serta koalisi faksi jihad Hayat Tahrir al Sham.

Jaysh al Islam adalah salah satu faksi oposisi besar yang juga memerangi rezim Syiah Bashar al-Assad di Suriah barat.

 

Jutaan Rakyat Turki Peringati 1 Tahun Kegagalan Kudeta Militer

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Upacara peringatan untuk menandai ulang tahun pertama upaya kudeta dimulai Sabtu di Jembatan ikonik Martir 15 Juli yang dihadiri Presiden Recep Tayyip Erdogan di Istanbul, Anadolu Agency melaporkan, Sabtu (15/7/2017).

Erdogan bergabung dengan jutaan orang di jembatan Bosphorous, yang namanya untuk menghormati para martir setelah usaha kudeta.

Acara peringatan dimulai dengan lagu kebangsaan, dilanjutkan dengan pembacaan Alquran.
Sebelumnya, setelah berkumpul di distrik Beylerbeyi, Cengelkoy, Altunizade dan Kisikli di sisi Asia kota, orang-orang bergerak ke jembatan di tengah keamanan yang ketat.

Jembatan itu ditutup pada malam percobaan kudeta dan puluhan orang terbunuh di sana.

Aksi yang disebut “democracy watches” akan dimulai setelah tengah malam.
Kemudian, Erdogan dijadwalkan berangkat ke Ankara, di mana dia akan berbicara di parlemen pada pukul 02.32 waktu setempat (1132GMT), bersamaan dengan saat parlemen dibom pada malam usaha kudeta.

Acara hari ahad tersebut akan dimulai dengan doa pagi di Masjid Bestepe Millet Ankara, diikuti dengan pembukaan Monumen Martir 15 Juli di kompleks kepresidenan.
Organisasi Teroris Fetullah (FETO) dan pemimpinnya yang berbasis di AS, Fetullah Gulen, melakukan kudeta yang dikalahkan pada 15 Juli 2016, yang menyebabkan 250 orang menjadi martir dan hampir 2.200 orang lainnya terluka.

Ankara juga menuduh FETO berada di balik operasi jangka panjang untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi institusi Turki, terutama militer, polisi dan pengadilan.