Berita Terkini

Polisi Hadang Rombongan Peserta Aksi Peduli Rohingya Magelang

KLATEN (Jurnalislam.com) – Rombongan umat Islam Soloraya yang akan mengikuti aksi Solidaritas Rohingya di Masjid An-Nuur, Magelang dihadang aparat kepolisian di sejumlah tempat, Jum’at, (8/9/2017).

Salah satu rombongan Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) mendapat penghadangan di sekitar Candi Prambanan.

Salah satu peserta, Purwanto mengatakan, bahwa polisi meminta mereka untuk kembali ke daerah asal dan membatalkan rencananya untuk mengikuti aksi.

“Kami dicegat di Prambanan, seluruh rombongan di minta balik pulang,” katanya kepada Jurnalislam.com

Senada dengan itu, Ustaz Rahmat, salah satu korlap dari rombongan Solo mengungkapkan, kendaraan yang membawa sound system untuk juga aksi tidak bisa melanjutkan perjalanan karena dihentikan aparat.

“Mobil sound komando gak bisa lanjut, Spanduk dicopoti polisi,”ungkapnya.

Pantauan Jurnalislam di lapangan juga melihat adanya penjagaan aparat kepolisian di Jembatan Tempel, perbatasan Sleman-Muntilan.

Sejumlah aparat berjaga di Jembatan Tempel perbatasan Sleman-Muntilan

Saat ini akses jalan menuju masjid An-Nuur mendapat pengawalan ketat dari pihak aparat. Aparat juga memeriksa setiap peserta yang hendak memasuki kawasan Masjid An-Nuur dengan metal detector.

 

[PHOTO] Rumah-rumah Warga Muslim Rohingya di Desa Gawdu Zara Dibakar

Sebuah rumah terbakar di desa Gawdu Zara, negara bagian Rakhine utara, Myanmar, (7/9). Seorang wartawan melihat api membakar rumah di desa yang ditinggalkan oleh Muslim Rohingya. (AP Photo)
Sebuah rumah terbakar di desa Gawdu Zara, negara bagian Rakhine utara, Myanmar, (7/9/2017). Seorang wartawan melihat api membakar rumah di desa yang ditinggalkan oleh Muslim Rohingya. (AP Photo)
Barang-barang di salah satu rumah warga Rohingya yang hangus terbakar di Desa Shwe Zarr, Rakhine, Myanmar (6/9). Setidaknya ada 17 desa dan 2.600 rumah muslim Rohingya di Rakhine hangus terbakar. (AFP Photo/Str)
Suasana rumah yang terbakar di desa Gawdu Zara, negara bagian Rakhine utara, Myanmar, (7/9). Seorang wartawan melihat api membakar rumah di desa yang ditinggalkan oleh Muslim Rohingya. (AP Photo)
Suasana rumah yang terbakar di desa Gawdu Zara, negara bagian Rakhine utara, Myanmar, (7/9). Seorang wartawan melihat api membakar rumah di desa yang ditinggalkan oleh Muslim Rohingya. (AP Photo)
Suasana rumah yang terbakar di desa Gawdu Zara, negara bagian Rakhine utara, Myanmar, (7/9). Seorang wartawan melihat api membakar rumah di desa yang ditinggalkan oleh Muslim Rohingya. (AP Photo)
Sebuah rumah terbakar di desa Gawdu Zara, negara bagian Rakhine utara, Myanmar, (7/9). Seorang wartawan melihat api membakar rumah di desa yang ditinggalkan oleh Muslim Rohingya. (AP Photo)

Masjid Jogokaryan Persilahkan Jamaahnya Ikuti Aksi Peduli Rohingya di Magelang

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Jogokaryan Yogyakarta mempersilahkan jamaahnya untuk mengikuti aksi solidaritas pedulai Rohingya di Magelang.

“Tetapi masjid tidak mengkoordinir untuk mengikutinya jadi tergantung pribadi pribadinya, hal ini berbeda seperti ketika terjadi demo 212 di Jakarta dimana masjid mengkoordinir jamaah untuk mengikutinya,” kata salah satu pengurus DKM, Sudi Wahyono di Masjid Jogokaryan, Jumat (8/9/2017) pagi ini.

Masjid Jogokaryan sendiri, kata Wahyono, telah menunjukkan kepeduliannya atas penderitaan muslim Rohingya dengan melakukan menggalang dana dan bantuan.

Sebut Isu Rohingya ‘Digoreng’ Untuk Sudutkan Pemerintah, DSKS : Kapolri Paranoid

Aksi solidaritas peduli Rohingya di Magelang yang akan digelar hari ini sempat menarik perhatian banyak pihak. Sebab, awalnya aksi dikabarkan akan digelar di sekitar Candi Borobudur, situs sejarah peninggalan kerajaan Budha zaman dahulu.

Sebagaimana diketahui, pembantaian yang terjadi terhadap muslim Rohingya di Myanmar dilakukan oleh militer Myanmar yang didukung oleh Biksu Budha bernama Ashin Wirathu. Provokasi biksu itu membuat penduduk pribumi yang mayoritas beragama Budha semakin gencar menyerang muslim Rohignya.

Muslim Rohingya: Jika Kalian Diam, Kalian akan Saksikan Pembantaian Srebrenica di Myanmar

ROHINGYA (Jurnalislam.com) – Muslim Rohingya memperingatkan bahwa jika masyarakat internasional tidak mengambil sikap tegas melawan kekerasan di Myanmar, negara tersebut dapat menyaksikan “pembersihan etnis dalam skala pembantaian Srebrenica”.

Lebih dari 22 tahun setelah 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim dibantai oleh tentara Serbia Bosnia di “tempat berlindung” PBB di Srebrenica, sumber Rohingya yang terpisah mengatakan kepada Al Jazeera, Kamis (7/9/2017) bahwa sedikitnya 1.000 minoritas Muslim yang teraniaya, termasuk sejumlah perempuan dan anak-anak, telah terbunuh dalam dua pekan terakhir ini.

Pasukan Budha Myanmar mengklaim bahwa mereka telah membunuh sedikitnya 370 “pejuang” Muslim Rohingya sejak putaran terakhir kekerasan di negara bagian Rakhine dimulai pada 25 Agustus yang menurut saksi justru merupakan warga sipil yang mereka bunuhi secara brutal dengan mortir dan senapan mesin.

Kekerasan tersebut telah menyebabkan lebih dari 164.000 orang Rohingya melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh, menurut perkiraan PBB.

Inilah Laporan Para Pengungsi Rohingya yang Tiba di Bangladesh

Pada hari Selasa, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga memperingatkan kemungkinan risiko pembersihan etnis, dan meminta pemimpin sipil Myanmar Aung San Suu Kyi dan militer negara tersebut untuk mengakhiri pembantaian di sana.

Dua sumber mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Kamis bahwa sejumlah orang telah ditembak mati di dekat kota Maungdow di Rakhine. Asap tebal juga terlihat mengepul dari desa Godu Thara setelah pasukan Budha Myanmar membakar rumah-rumah penduduk Muslim Rohingya yang melarikan diri.

Sumber-sumber tersebut mengatakan bahwa para pemimpin masyarakat di desa-desa lain yang juga terkena dampak kekerasan tersebut tidak dapat menyelenggarakan pemakaman Islam setelah para imam melarikan diri ke hutan.

Akses bagi media asing ke area tersebut telah diblokir sehingga Al Jazeera tidak dapat secara independen memverifikasi keterangan sumbernya.

Berbicara kepada Al Jazeera dari kota Maungdow dengan nama samaran, Anwar, 25, mengatakan bahwa ada “operasi militer yang terus menerus dan menargetkan umat Islam”.

“Tentara Myanmar dan ekstremis Buddha secara khusus menargetkan populasi Muslim,” katanya.

“Wanita, anak-anak, orang tua – tidak ada yang terhindar situasi yang terus bertambah buruk dan pemerintahan Aung San Suu Kyi gagal menaikkan suaranya,” Anwar menambahkan.

Bawa Bantuan Kemanusian, Ibu Negara Turki Terjun Langsung ke Kamp Pengungsi Rohingya

Aung San Suu Kyi, mantan tahanan politik penguasa militer Myanmar, sejauh ini belum berbicara secara terbuka mengenai nasib orang Muslim Rohingya yang melarikan diri.

Berbicara untuk pertama kalinya mengenai masalah ini pada hari Rabu, dia mengatakan bahwa pemerintahannya melakukan yang terbaik untuk melindungi semua orang di Rakhine dan menyalahkan “teroris” karena “gunung es yang sangat buruk dari kesalahan informasi” atas perselisihan di negara bagian tersebut.

Tapi kesunyiannya telah menarik kritik tajam dari kelompok hak asasi manusia, aktivis dan beberapa politisi di dunia.

“Kecuali jika masyarakat internasional bertindak, dan berhenti memberikan jani-janji manis yang buruk, kita akan menyaksikan genosida lain – waktu kita hampir habis,” kata Anwar.

Pertarungan kekerasan terakhir dimulai saat pejuang Muslim Rohingya menyerang pos polisi dan pangkalan militer di Rakhine sebagai aksi balasan atas pemerkosaan massal, penyiksaan, pembakaran, pembunuhan dan penjarahan oleh tentara Budha Myanmar.

Pengungsi Rohingya yang melarikan diri menuduh pasukan keamanan negara itu menanggapi dengan melakukan pembakaran, penyiksaan dan pembunuhan untuk memaksa mereka keluar dari Myanmar.

Myint Lwin, penduduk kota Buthidaung, mengatakan bahwa foto-foto yang diedarkan secara luas di Twitter dan Facebook “menunjukkan sebuah operasi sistematis dalam membantai umat Islam”.

“Situasi ini tidak berbeda dengan pembantaian yang kita saksikan di Bosnia,” kata Lwin.

“Hanya umat Islam yang menjadi sasaran tentara Myanmar. Umat Buddha, Kristen dan kelompok etnis lain yang tinggal di Rakhine terhindar dari sebagian besar kekerasan. Ada rencana yang jelas untuk menghapus Muslim Rohingya.”

Rohingya, sebuah kelompok etnis Muslim yang telah tinggal di negara bagian Rakhine di Myanmar selama berabad-abad, telah puluhan tahun mengalami penindasan oleh mayoritas umat Buddha di negara itu.

Setelah kewarganegaraan mereka dilucuti oleh junta militer pada tahun 1980an, mereka mengalami pembunuhan, penyiksaan dan pemerkosaan massal, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa – antara tahun 1970an dan awal 1990an, sekitar satu juta orang terpaksa meninggalkan negara tersebut.

“Kami tidak bisa mengakses makanan, air, tempat tinggal, identitas dan sekarang keberadaan kami juga,” kata Ro Nay San Lwin, aktivis Rohingya berusia 39 tahun yang berbasis di Eropa.

“Minoritas lain juga dianiaya oleh tentara, tapi situasi kami jauh lebih buruk, kami tidak memiliki kebebasan, harga diri dan kewarganegaraan. Kita dikepung dan menderita di beberapa bidang.”

Banyak dari mereka dalam gelombang pengungsi terakhir yang sakit dan terluka. Mereka menyaring sumber dana dari lembaga bantuan dan masyarakat yang telah membantu ratusan ribu orang yang mengungsi akibat gelombang kekerasan sebelumnya.

Bawa Bantuan Kemanusian, Ibu Negara Turki Terjun Langsung ke Kamp Pengungsi Rohingya

Banyak muslim Rohingya terdampar di “tanah tak bertuan” – sebuah wilayah antara perbatasan Myanmar-Bangladesh – tanpa tempat berlindung, dimana kelompok-kelompok bantuan tidak dapat menyediakan air bersih, sanitasi dan makanan, menurut Joseph Tripura, seorang pejabat bantuan PBB di Cox’s Bazaar.

Jamila Hanan, seorang aktivis hak asasi manusia independen dan direktur kampanye online #WeAreAllRohingyaNow, mengatakan bahwa “operasi militer saat ini jauh lebih besar daripada serangan sebelumnya”.

“Proses dehumanisasi telah mencapai tingkat puncak dengan Rohingya tidak lagi dipandang sebagai manusia, lebih sebagai hama dan penyakit sehingga militer bisa membunuh mereka tanpa ragu,” katanya.

“Kantor komunikasi pemerintah secara efektif telah memberi lampu hijau kepada militer untuk melakukan kekejaman ini,” Hanan menambahkan.

“Dan dengan masyarakat internasional yang gagal mengutuk kekerasan serta kekuatan regional yang mengincar potensi ekonomi Myanmar, tidak mungkin kita akan melihat penghukuman dalam waktu dekat.”

Penyebaran Pengungsi Muslim Rohingya di Sejumlah Negara
Penyebaran Pengungsi Muslim Rohingya di Sejumlah Negara

MUI Surakarta Lepas Rombongan Peserta Aksi Solidaritas Rohingya

SOLO (Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta, melepas rombongan umat Islam untuk mengikuti aksi solidaritas Rohingnya di Masjid An-Nuur Kompleks Pemkab Magelang, Jum’at, (8/9/2017) pagi ini.

Rombongan yang terdiri dari 50 Omas Islam Soloraya ini berkumpul di Lapangan Makamhaji, Kartosuro dan akan berkonvoi menuju Magelang. Mayoritas peserta menggunakan sepeda motor.

1000 Warga Klaten Akan Ikuti Aksi Peduli Rohingya di Magelang

Perwakilan MUI Surakarta, Ustaz Nur Hadi Waseso dalam sambutannya berpesan, agar peserta senantiasa menjaga adab, akhlak dan sabar selama perjalanan.

“Kita harus sabar ketika ada rintangan di jalan, sabar, sabar, sabar, tunjukan kita seorang muslim yang baik,” katanya.

Sementara, Ketua ANNAS Surakarta Ustaz Tengku Adzar mengatakan, keberangkatan umat Islam Soloraya sebagai bentuk pembelaan terhadap saudara-saudara muslim Rohingya.

“Apa yang dirasakan saudara kita di Rakhine, Myanmar juga kita rasakan, sakitnya mereka, juga sakit kita, penderitaan mereka, juga kita rasakan,” ucapnya.

Sekitar 250 ormas Islam dari berbagai daerah akan mengikuti aksi Solidaritas Rohingya di Masjid An-Nuur Kompleks Pemkab Magelang dengan rangkaian acara shalat jum’at berjamaah, tausyiah-tausyiah dilanjut doa Istighosah dan penggalangan dana untuk muslim Rohingya.

Sebut Isu Rohingya ‘Digoreng’ Untuk Sudutkan Pemerintah, DSKS : Kapolri Paranoid

SOLO (Jurnalislam.com) – Pernyataan Kapolri Tito Karnavian tentang pemberitaan Rohingya menuai kritikan. Tito mengatakan isu Rohingya gencar diberitakan untuk menyudutkan pemerintah.

Menanggapi pernyataan tersebut, Sekjen Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Suwondo menilai, pernyataan Kapolri itu hanya ketakutan Polri yang kurang mengapresiasi aksi-aksi damai yang dilakukan umat Islam.

Kapolri Tuding Isu Rohingya Sudutkan Pemerintah, Ini Jawaban Masyarakat

“Pemerintah sedang mengalami paranoid, semua gerakan massa dianggap merongrong pemerintah. Kita bisa melihat, sejak gerakan 411, 212 dan seterusnya, sebuah gerakan yg menuntut ditegakkannya keadilan hukum, dianggap oleh pemerintah sebagai makar,” terang Suwondo kepada Jurnalislam.com, Kamis (7/9/2017).

“Jika pola ini terus dipelihara oleh pemerintah, bukan tidak mungkin kekecewaan demi kekecewaan rakyat justru berujung sebagaimana yang dituduhkan oleh pemerintah,” sambungya.

Lebih lanjut, Suwondo meminta Pemerintah untuk bertindak secara nyata dalam membantu mengatasi krisis kemanusiaan yang tertadi Rakhine State, Myanmar.

“Terkait kasus Myanmar, Dewan Syariah Kota Surakarta meminta pemerintah pro aktif dalam menghentikan tragedi Myanmar,” paparnya.

Mahasiswa Soloraya Desak Pemerintah Usir Dubes Myanmar dari Indonesia

Seperti diketahui, Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada Selasa (4/9/2017) mengatakan isu Rohingya diolah sedemikian rupa oleh kelompok tertentu untuk menyerang pemerintah.

“Dari hasil penelitian itu bahwa isu ini lebih banyak dikemas untuk digoreng untuk menyerang pemerintah. Dianggap lemah,” ujar Tito di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Selasa (5/9/2017).

Meningkatnya Islamophobia di Inggris Ancam Jutaan Tenaga Kerja Muslim

LONDON (Jurnalislam.com) – Pria dan wanita Muslim di Inggris cenderung tidak berhasil di pasar tenaga kerja daripada komunitas agama lainnya karena Islamophobia, diskriminasi dan rasisme yang merajalela, sebuah laporan komisi pemerintah memperingatkan.

Penelitian yang dirilis oleh Komisi Mobilitas Sosial pada hari Kamis (7/9/2017), mengatakan bahwa pemuda Muslim yang tinggal di Inggris “menghadapi tantangan mobilitas sosial yang sangat besar dan tidak dibebas mencapai potensi penuh di setiap tahap kehidupan mereka”, lansir Aljazeera.

Laporan tersebut menemukan beberapa “hambatan signifikan terhadap peningkatan mobilitas sosial dari sekolah melalui universitas dan ke tempat kerja” karena “Islamofobia, diskriminasi dan rasisme” yang dilaporkan oleh banyak pemuda Muslim.

Akibatnya, kaum muda Muslim lebih cenderung menganggur, setengah menganggur, dalam pekerjaan yang tidak aman dan / atau menerima gaji rendah, kata periset.

Temuan tersebut terungkap setelah sebuah tim akademisi di Sheffield Hallam University melakukan wawancara untuk memeriksa persepsi dan pengalaman Muslim usia sekolah bertumbuh dan mencari pekerjaan di Inggris.

Menurut data yang dikutip dalam dokumen tersebut, 20 persen Muslim di Inggris dan Wales bekerja dalam waktu penuh.

Jumlah ini sebanding dengan satu dari tiga dari keseluruhan populasi berusia antara 16 sampai 74 tahun.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa hanya enam persen Muslim yang berada dalam “pekerjaan manajerial, administratif dan profesional yang lebih tinggi” dibandingkan dengan 10 persen dari keseluruhan populasi.

Wanita Muslim di Inggris tiga kali lebih mungkin tidak aktif secara ekonomi, kata laporan tersebut.

Wanita Muslim juga merasa bahwa mengenakan jilbab di tempat kerja merupakan penanda visual tambahan yang mereka rasakan dan alami menjadi penyebab bertambahnya diskriminasi.

Ada sekitar tiga juta Muslim yang tinggal di Inggris.

Islamophobia dan diskriminasi telah mengalami lonjakan dramatis di negara tersebut setelah serangan di London dan Manchester awal tahun ini.

Kejahatan kebencian Anti-Muslim di London meningkat lima kali lipat pada bulan Juni sejak insiden mobil London Bridge bulan Juni dan serangan penusukan, yang menewaskan sedikitnya tujuh orang, menurut laporan yang dikeluarkan oleh Sadiq Khan, walikota Inggris.

Sementara itu, polisi setempat melaporkan lebih dari 500 persen peningkatan kejahatan rawan anti-Muslim di kota utara Manchester menyusul pemboman martir yang mematikan di sebuah konser pop di bulan Mei.

“Muslim dikucilkan, didiskriminasi, atau gagal, pada semua tahap transisi mereka dari pendidikan ke pekerjaan,” Profesor Jacqueline Stevenson, yang memimpin penelitian tersebut, mengatakan.

Alan Milburn, ketua komisi, menambahkan: “Laporan ini melukiskan gambaran yang mengganggu mengenai tantangan yang dihadapi [kaum muda Muslim] untuk membuat kemajuan sosial yang lebih besar.”

Para periset merekomendasikan mentoring dan program dukungan lainnya untuk anak-anak usia sekolah demi mendapatkan inklusivitas yang lebih baik.

Pasukan Syiah Hizbullah Rayakan Parade Kemenangan di Gerbang Deir Al Zour

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pasukan Syiah Hizbullah dan kelompok Syiah Liwa al Quds Palestina terlihat berparade dan merayakan kemenangan di dekat pintu masuk kota Deir Ezzor dalam sebuah video yang diunggah kemarin (Kamis, 7/9/2017), Long War Journal melaporkan.

Dalam video lain yang diproduksi oleh Al Manar Hizbullah, komandan pasukan rezim Syiah Assad di kota tersebut, Issam Zahreddine, sebelumnya merupakan pasukan Liwa al Quds walaupun mengenakan bendera Hizbullah. Komandan itu juga mengucapkan terima kasih kepada pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah atas usahanya. Anggota lainnya juga terlihat mengungkapkan terima kasih kepada Nasrallah.

Pasukan Rezim Syiah Assad Tembus Pertahanan IS di Deir Al Zour

Liwa al Quds adalah milisi Syiah pro-rezim yang terdiri dari diaspora Palestina dari provinsi Aleppo. Milisi tersebut telah bertempur bersama pasukan rezim Nushairiyah Suriah, Syiah Hizbullah, dan Rusia sejak didirikan pada tahun 2013. Sejak intervensi Rusia di Suriah dimulai pada tahun 2015, milisi tersebut juga telah mendapatkan banyak medali militer dari Rusia.

Awal pekan ini, rezim Syiah Assad mengklaim bahwa pasukannya telah menghentikan pengepungan kelompok Islamic State (IS) yang telah berlangsung sejak 2014. Namun, rezim tersebut didukung oleh pasukan Hizbullah, Iran dan Rusia, dan banyak milisi dukungan Iran dalam beberapa pekan terakhir.

Video yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertahanan Rusia juga menunjukkan kapal-kapal Rusia yang menargetkan pasukan Islamic State di Deir Ezzor dengan rudal Kalibr, sehingga memungkinkan rezim membuat kemajuan baru di daerah tersebut.

1000 Warga Klaten Akan Ikuti Aksi Peduli Rohingya di Magelang

KLATEN (Jurnalislam.com) – Aksi Solidaritas Peduli Rohingya di Masjid An-Nuur Magelang yang akan digelar hari ini, Jumat (8/9/2017) diperkirakan akan diikuti oleh ribuan massa dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Massa Umat Islam dari Klaten pun dipastikan akan mengikuti aksi tersebut.

“Dari berbagai elemen, seperti FPI, JAS, Kokam, FJI, MMI dan lain-lain. Berangkat jam 08.00 wib, insyaaAllah yang berangkat sekitar 500-1000 peserta,” terang Abu Fatih Ketua Tanfidzi FPI Klaten pada Jurnalislam.com di PN Klaten, Jumat (8/9/2017).

Muslimah Peduli Rohingya Berunjuk Rasa di Depan DPRD Kota Bima

Abu Fatih mengatakan, umat Islam Klaten akan mengikuti aksi tersebut atas dasar keimanan dan kepedulian mereka terhadap muslim Rohingya.

“Jadi ini nggak ada instruksi, yang menggerakan adalah hati, dan ini ranahnya Allah Subhanahu Wata’ala, Ini adalah panggilan jiwa,” tuturnya.

“Kalau dikomando mungkin hanya ketua ormas ke anggotanya, tapi ini berbagai elemen jadi satu tergabung dalam Laskar Umat Islam Klaten,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, sekitar 250 ormas Islam dari berbagai daerah akan mengikuti aksi Solidaritas Rohingya di Masjid An-Nuur, Kompleks Pemkab Magelang hari ini. Aksi akan dimulai dengan Shalat Jum’at berjamaah, tausyiah dan doa untuk Rohingya serta melakukan penggalangan dana.

Bawa Bantuan Kemanusian, Ibu Negara Turki Terjun Langsung ke Kamp Pengungsi Rohingya

UKHIA (Jurnalislam.com) – Ibu Negara Turki Emine Erdogan menyerahkan bantuan kepada pengungsi Muslim Rohingya saat berkunjung ke sebuah kamp di dekat perbatasan Myanmar pada hari Kamis (7/9/2017).

“Tidak mungkin tidak tersentuh oleh peristiwa ini sebagai manusia,” katanya setelah menyalurkan kotak-kotak berisi bantuan bagi para pengungsi yang sangat putus asa di kamp di Kutupalong, yang terletak di depan perbatasan, lansir Anadolu Agency.

“Saya berharap dunia memikirkan hal ini dan membantu mereka dengan bantuan kemanusiaan dan secara politis.”

Inilah Laporan Para Pengungsi Rohingya yang Tiba di Bangladesh

Menurut badan pengungsi PBB, 164.000 orang Rohingya telah melewati perbatasan sejak 25 Agustus, ketika pasukan Buddha Myanmar melancarkan operasi militer di Rohingya.

Namun, para pengungsi mengatakan bahwa tindakan keras tersebut dijadikan alasan untuk menutupi pembunuhan, penjarahan dan pembakaran desa Rohingya yang meluas oleh gerombolan militer dan Budhis.

Erdogan, yang didampingi oleh anaknya Bilal dan Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu, meminta masyarakat internasional untuk menghentikan kekerasan tersebut, yang dia gambarkan sebagai “tragedi yang luar biasa di zaman ini”.

Pada hari Selasa, Myanmar setuju untuk mengizinkan Badan Koordinasi dan Bantuan Turki memasuki negara bagian Rakhine untuk memberikan 1.000 ton bantuan.

“Kami ingin menunjukkan kepada dunia situasi ini di sini,” kata Cavusoglu. “Kami berusaha menghentikan ini. Kami akan mengadakan pertemuan di Astana dengan dunia Islam dan akan mengadakan pertemuan lagi di New York, mudah-mudahan menemukan solusi permanen untuk masalah di Arakan [Rakhine] ini.”

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berjanji untuk mengangkat penderitaan Rohingya di Majelis Umum PBB pada 19 September.

Desak Para Pemimpin Muslim, Erdogan Hubungi 30 Negara Untuk Bahas Rohingya

Bangladesh, yang telah menjadi tuan rumah bagi sekitar 400.000 pengungsi Rohingya, telah menghadapi masuknya pengungsi baru sejak operasi keamanan diluncurkan.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat atas serangan tersebut sejak ratusan orang terbunuh dalam kekerasan komunal di tahun 2012.

Oktober lalu, setelah serangan balasan terhadap pos-pos perbatasan di distrik Maungdaw Rakhine, pasukan Myanmar melancarkan tindakan brutal selama lima bulan di mana, menurut kelompok Rohingya, sekitar ribuan orang telah terbunuh.

PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan, penyiksaan – termasuk bayi dan anak kecil – serta penyembelihan pemukulan brutal dan penghilangan yang dilakukan oleh petugas keamanan.

Dalam sebuah laporan, penyidik ​​PBB mengatakan bahwa pelanggaran hak asasi manusia mengindikasikan kejahatan terhadap kemanusiaan berat.

Sebelum operasi baru tersebut, militer telah meningkatkan kehadirannya di Maungdaw setelah gelombang serangan mematikan yang diklaim oleh Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA).

ARSA mengatakan bahwa tindakan tersebut adalah tanggapan mereka atas pemerkosaan massal, penyiksaan, pembakaran, pembunuhan dan penjarahan oleh tentara Budha Myanmar.