Berita Terkini

Menembus Batas Arogansi Donald Trump

“Pernyataan Trump itu merupakan bentuk kesombongan dan arogansi yang harus ditentang”

Oleh: Muhammad Fajar, Jurnalis Media Islam

 

JURNALISLAM.COM – BOOM. Sebuah ledakan yang mengguncang peradaban seketika terjadi. Bak gempa berskala 7 richter lebih menerpa jutaan manusia. Sebuah pernyataan yang telah berhasil membuat dunia ini gaduh, perdamaian terusik, dan religiusitas memerah.

Celoteh salah satu pimpinan negara super power menabrak sendi hukum internasional. Melanggar pelbagai resolusi perdamaian yang digaungkan oleh Perserikatan bangsa-bangsa alias PBB. Bagaimana tidak? PBB telah menyusun secara rapih ketentuan tersebut. Ketentuan kemerdekaan dan batas wilayah negara yang pertama kali mengakui kedaulatan merah putih.

Ialah Donald Trump, Presiden Amerika Serikat (AS) pengganti Barack Obama, presiden yang telah habis menjalani 2 periode kepemimpinan. Tepatnya pada Rabu, 6 Desember 2017. Dengan arogansinya ia berucap tentang negara Yahudi, Israel. Lantang dan tegas ia katakan Ibukota negara Israel sudah saatnya berpindah ke Yerusalem, jantung wilayah negara Palestina.

Gayung pun bersambut. Penentangan akan kearogansian Trump bermunculan seperti bunga mawar yang akan mekar, kecambah yang akan memiliki batang, juga telur ikan yang mulai menetas.

 

Penentangan Dunia

Dimulai dari tuan rumah penyelenggara Organisasi Kerjasama Islam (OKI), Turki. Erdogan, sang pemimpin negara tersebut dengan lantang menentang kebijakan sepihak Trump.

“Trump, Yerusalem adalah garis merah bagi umat Islam. Kami minta kepada AS sekali lagi. Anda tidak dapat mengambil langkah seperti ini,” Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada sebuah pertemuan kelompok parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) yang berkuasa.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan

Erdogan juga mengancam akan menggelar pertemuan besar, pertemuan The Organization of Islamic Cooperation (OIC) atau dalam bahasa yang dikenal organisasi kerjasama Islam yang akan digelar di Istanbul pada 13 Desember nanti.

“Jika Anda mengambil langkah seperti ini, kami akan mengadakan pertemuan puncak kerjasama Islam di Istanbul,” lugas Erdogan.

Dari titik ini muncul pernyataan penolakan dari pelbagai negara yang diawali negara-negara timur tengah yang notabene dekat dengan Palestina.

Raja Yordania Abdullah II mengatakan kepada Trump bahwa keputusan semacam itu akan memiliki “dampak berbahaya pada stabilitas dan keamanan kawasan ini”.

Raja juga memperingatkan presiden AS tentang risiko dari setiap keputusan yang bertentangan dengan penyelesaian akhir konflik Arab-Israel yang didasarkan pada pembentukan sebuah negara Palestina merdeka dengan ibukotanya di Yerusalem Timur.

“Yerusalem adalah kunci untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di kawasan dan dunia,” kata pernyataan yang bersumber dari kerajaan, menambahkan bahwa memindahkan kedutaan akan mengobarkan perasaan kaum Muslim.

Dalam sebuah pernyataan, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi juga memperingatkan Trump untuk tidak “mengambil tindakan yang akan merusak peluang perdamaian di Timur Tengah”.

“Presiden Mesir menegaskan posisi Mesir untuk menjaga status hukum Yerusalem dalam kerangka referensi internasional dan resolusi PBB yang relevan,” kata pernyataan tersebut.

Selain negara-negara Timur Tengah Eropa juga ikut mengecam pendudukan atau okupasi yang dibuat Trump ini. Sigmar Gabriel, menteri luar negeri Jerman, juga memperingatkan bahwa setiap gerakan AS untuk mengakui Yerusalem “sebagai ibu kota Israel tidak meredakan konflik, namun justru akan menyulut lebih banyak konflik,” dan bahwa tindakan semacam itu “akan menjadi perkembangan yang sangat berbahaya. ”

Uni Eropa

Federica Mogherini, diplomat tertinggi Uni Eropa, mengatakan “setiap tindakan yang akan merusak” upaya perdamaian untuk menciptakan dua negara yang terpisah bagi Israel dan Palestina “harus benar-benar dihindari.”

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres “secara konsisten telah memperingatkan tindakan sepihak yang berpotensi merusak solusi dua negara,” juru bicaranya, Stephane Dujarric, mengatakan kepada wartawan di New York.

Bahkan, didalam negerinya sendiri, Amerika Serikat. Ribuan warga pada hari Jumat, 8 Desember turun kejalan, mengepung gedung putih untuk menolak keras pernyataan Trump.

Ribuan warga AS berunjuk rasa, mengecam keputusan Trump

“Keputusan ini menunjukkan apa yang telah kami katakan sejak lama bahwa tidak ada yang namanya proses perdamaian,” cendekiawan Muslim yang berbasis di AS, Omer Suleiman kepada Anadolu Agency. “Jika kita ingin memulai proses perdamaian yang jujur, maka pemerintah Amerika hanyalah berperan sebagai broker yang jujur.”

 

Lalu bagaimana Indonesia?

Jangankan saat genting seperti kejadian pencaplokan Yerusalem oleh Israel, sudah sejak dulu Indonesia pro-aktif mendukung negara tempat Kiblat pertama umat Islam.

Sudah jelas negara dengan agama Islam sebagai mayoritas sangat reaktif tentang peristiwa ini. Mulai dari Presiden hingga rakyat mengecam pengakuan Trump tersebut.

“Saya sampaikan kepada Presiden Palestina Mahmoud Abas, pertama Indonesia mengecam keras keputusan Amerika tersebut. Dan saya sampaikan keputusan tersebut bertentangan dengan semua resolusi Dewan keamanan PBB terkait Palestina,” jelas Presiden Indonesia, Jokowi dilansir Kompas.

 

Presiden Indonesia, Joko Widodo

Pihaknya juga akan berjanji akan datang ke Istanbul, Turki untuk menghadiri OKI untuk membahas hal yang membuat kekacauan internasional tersebut.

Beralih kepada rakyat, sang pemegang kedaulatan tertinggi di Indonesia. Ribuan warga yang didominasi oleh ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) mengepung Kedubes AS di Jakarta untuk mengecam tindakan sepihak Trump.

“Allohuma khoirumin rakyat Palestina, Ya Alloh bebaskan Yerussalem dari tangan Zionis Israel, semoga Allah bikin gempa untuk negara itu, Al Fatihah,” ujar salah seorang orator.

Di Solo, tempat presiden Jokowi menjabat sebagai walikota juga melakukan aksi serupa. Jumat perlawanan menjadi tema yang diusung. Guyuran hujan tipis tidak menghalangi semangat ratusan warga Solo untuk mendobrak arogansi Trump.

Aksi bela Palestina di sejumlah tempat di Indonesia

“Mudah-mudahan deklarasi dari Donald Trump kemarin atas dijadikannya Al Quds sebagai ibukota Israel, akan menjadikan kesatuan bagi kaum muslimin,” ujar Sekjend Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Ustaz Shabbarin Syakur dalam orasinya di Bundaran Gladak, Solo.

Aksi Bela Palestina atau yang bisa disebut Save Al Quds juga digelar di Ibukota Provinsi Jawa tengah, Semarang. Ribuan warga memadati Bundaran Air mancur di Jalan Pahlawan, Kota Semarang pada hari yang sama, Jumat.

Anggota DPR Fraksi PKS, Abdul Fikri Fakih yang hadir dalam aksi tersebut mengatakan pemerintah harus proaktif dalam membela umat Islam. Menurutnya, Yerussalem adalah tanah wakaf umat Islam yang harus dipertahankan dengan segenap kemampuan.

“Sungguh dosa besar anggota DPR dan Polisi tidak peduli dengan wakaf umat Islam,” ujar anggota dewan ini.

Selang dua hari, Banten, provinsi yang dikenal religius pun turut mengutarakan aspirasinya. Di depan kantor pemerintahan gubernur, ribuan warga mengecam tegas kebijakan Trump ini.

Bahkan, dalam salah satu agenda orasi, ada sesi penginjakan dan pembakaran foto Donald Trump, Bendera Israel dan Amerika sebagai bentuk amarah. Amarah karena pelanggaran Trump yang telah disepakati kesalahannya oleh dunia.

pembakaran bendera Israil dan Amerika, juga foto Trump

“Tujuannya sudah jelas dan lugas untuk membela saudara kami di Palestina, dari cengkeraman Yahudi Israel dan Amerika,” kata Korlap Aksi, Zainal.

Sikap arogan, sombong, congkak, angkuh, atau berarti mempunyai perasaan superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa atau pongah Donald Trump menjadikan Yerusalem sebagai ibukota Israil memang harus ditembus serta dilawan dengan porsi yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Jika tidak, bagaimana nasib tempat suci ini? Mau dibiarkan saja rusak ditelan kaum Yahudi dan Amerika? Atau mengambil pilihan lain untuk melawan? Jawab saja dengan hati nurani: Al Quds Belongs To Muslim.

Ulama dan Ormas Soloraya Tegaskan Siap Berjihad ke Palestina

SOLO (Jurnalislam.com) – Demi menjaga ukhuwah Islamiyah, seluruh elemen umat Islam Soloraya menggelar Mudzakaroh Ilmiyah Diniyah di Hotel Aziza, Pasar Kliwon, Surakarta, pada Ahad, (10/12/2017). Pertemuan yang diinisiasi oleh Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) itu dihadiri puluhan ulama dan perwakilan ormas-ormas Islam.

Pertemuan tersebut melahirkan lima poin kesepakatan yang dibacakan langsung oleh Ketua DSKS, Ustadz Muinudinillah Basri, diantaranya:

1. Tokoh dan ulama Surakarta bertekad untuk bersatu, bersaudara, bersama-sama berjuang mewujudkan umatan wahidah dibawah kalimat tauhid dan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam segala perbedaan tidak akan memecah belah hati kaum muslimin, serta kita bingkai dengan toleransi dan kasih sayang.

2. Menolak dan melawan segala usaha memecah belah persatuan dan persaudaraan kaum muslimin,

3. Bertekad berjuang bersama-sama untuk menegakkan ajaran Islam dengan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan teladan para sahabat salafuh sholeh.

4. Bertekad untuk bersatu mempertahankan NKRI, Pancasila, undang-undang Dasar 1945 dalam kebhinekaan Indonesia dan mengantarkan indonesia sebagai negara dan bangsa yang memberikan keteladanan dalam peradaban Islam.

5. Bertekad untuk menyambut panggilan jihad dalam membebaskan Palestina dan masjidil Aqsho sebagai kiblat kaum muslimin dan hijrahnya para nabi dan Rosul.

Mudzakarah tersebut diikuti oleh hampir seluruh ormas Islam baik lokal maupun nasional seperti GP Anshor, Nahdlatul Ulama (NU), Pagar Nusa, Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Front Pembela Islam (FPI), dll.

“Persiapan Kami Cuma Sehari, Tapi Demi Palestina Massa Membludak”

SERANG (Jurnalislam.com) – Ribuan warga Banten turun ke jalan untuk melakukan aksi unjuk rasa, membela Palestina dari arogansi Donald Trump, Ahad (10/12/2017).

“Tujuannya sudah jelas dan lugas untuk membela saudara kami di Palestina, dari cengkeraman Yahudi Israel dan Amerika,” kata Humas aksi, Zainal kepada jurniscom di Masjid Agung At-Tsauroh Serang.

Aksi berupa longmarch dari Masjid Agung At-Tsauroh sampai Alun-alun kota Serang itu, menjadi magnet umat Islam yang tidak rela Yerusalem (Al-Quds) diduduki sepihak oleh Amerika dengan pernyataan Donald Trumpnya.

“Alhamdulillah, kami dari panitia hanya melakukan satu hari saja persiapan, namun animo masyarakat begitu dashyat,” ungkapnya.

“Padahal kami hanya mengundang lewat aplikasi WhatsApp saja, inilah bukti masyarakat khususnya warga Banten sangat peduli dengan Palestina,” tambahnya.

Hingga berita ini diturunkan, massa masih melakukan unjuk rasa hingga sore-maghrib nanti.

Reporter: Jajat

Bergabung dengan Muslim AS, Pendeta Yahudi dan Pengikut Anti Zionis ikut Kecam Keputusan Trump

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Rabbi Yisroel Dovid Weiss dan pengikutnya dari Yahudi Amerika Anti-Zionisme termasuk di antara mereka yang berpartisipasi dalam aksi protes keputusan Donald Trump pada hari Jumat (9/12/2017) di Washington.

Saat umat Islam shalat di depan Gedung Putih, Rabbi Weiss dan rekan-rekannya memegang spanduk bertuliskan: “Orang-orang Yahudi Torah yang sejati di Yerusalem dan di seluruh dunia mengutuk agresi di Al-Aqsha dan pendudukan Palestina” dan “Yudaisme menolak Zionisme dan negara Israel.”

“Keputusan tentang Yerusalem ini akan membuat segalanya menjadi lebih buruk,” Rabbi Weiss mengatakan kepada Anadolu Agency.

Trump dalam pidatonya mengatakan bahwa, dia ingin membawa perdamaian. “Damai bukan dengan menuangkan garam untuk menambah luka dengan mengambil kota suci Yerusalem dan menyatakannya sebagai ibukota negara Israel yang tidak dapat diterima dan tidak sah menurut agama Yahudi,” tambahnya.

Weiss menggambarkan keputusan tersebut sebagai memberikan lebih banyak amunisi kepada Israel, yang menjadi bos atas pihak lain di wilayah tersebut, dan mencatat bahwa mengumumkan Yerusalem sebagai ibukota Israel akan menyebabkan pertengkaran lebih lanjut antara Yahudi dan Muslim.

Ribuan Warga AS Turun ke Jalan Gelar Aksi Protes Keras Keputusan Trump

Para pemrotes meneriakkan keputusan Israel dan Trump di Yerusalem, membawa spanduk bertuliskan “Hentikan pendudukan di Palestina sekarang”, “Yerusalem adalah milik orang-orang Palestina” dan “Kami menolak keputusan Trump.” Acara berakhir tanpa konflik.

“Hari ini kami berkumpul di sini untuk memprotes keputusan Trump, yang menyatakan bahwa Yerusalem akan menjadi ibu kota Israel,” kata Naem Baeg, direktur program antaragama Islam Circle of North America (ICNA).

“Sekarang terserah kepada masyarakat internasional dan Dunia Muslim. Negara-negara seperti Turki dan Prancis telah memimpin yang lain dan bekerja untuk perdamaian,” Baeg menambahkan, seraya mengatakan bahwa dengan keputusan ini, AS praktis berada di luar proses perdamaian.

“Kami percaya bahwa ini adalah keputusan yang sangat buruk, rakyat Palestina di sana sudah hidup dalam kondisi yang mengerikan, saya tahu karena separuh keluarga saya tinggal di sana,” Mohammad Shami, seorang demonstran Palestina muda mengatakan. “Ini akan semakin meningkatkan masalah yang dihadapi Palestina.”

Sementara itu, ribuan demonstran juga berbaris di Times Square, New York.

Para demonstran mengecam keputusan Israel dan Trump di Yerusalem, dengan meneriakkan “Bebaskan, Bebaskan Palestina, Hidup Palestina,” sambil membawa spanduk bertuliskan “Ini tidak dapat diterima, Palestina akan bebas,” “Israel adalah teroris, Palestina bebas” dan “Kami menolak keputusan Trump.” Acara diakhiri tanpa konflik.

“Pemerintah Trump harus mengevaluasi kembali keputusannya,” kata seorang mahasiswa Universitas New York, Ahmad M. (22), kepada Anadolu Agency. “Negara Israel telah menumpahkan darah di tanah suci selama beberapa dekade, mengatakan bahwa penyebabnya suci. Agama apa yang memungkinkan hal ini?”

Gelandang Tengah Klub Barcelona Turut Kecam Keputusan Donald Trump

Demonstran lain, Mohammad Nazeef, yang telah berada di AS selama 10 tahun mengatakan bahwa dia datang ke negara tersebut karena dia pikir AS menghormati semua orang. Namun, rasisme semakin meningkat sejak Trump terpilih sebagai Presiden.

“Saya tidak yakin apakah Trump ingin mengatur sebuah Perang Salib baru tapi di lingkaran sosial, perilaku orang terhadap saya telah berubah banyak,” kata Nazeed. “Saya benar-benar mempertimbangkan untuk meninggalkan Amerika Serikat.”

Selama demonstrasi besar-besaran di bawah tindakan keamanan yang ketat, polisi New York harus memperingatkan beberapa demonstran untuk tinggal di daerah yang ditentukan.

Di sisi lain, sekelompok kecil pro-AS dan Israel membentangkan bendera Amerika dan Israel dan mengejek para pemrotes dari seberang jalan.

Jerusalem tetap menjadi jantung konflik Israel-Palestina, dengan orang-orang Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang sekarang diduduki oleh Israel – pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibukota negara Palestina.

Erdogan Ajak Indonesia dan Nigeria Bahas Yerusalem

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Sabtu (9/12/2017) mengadakan percakapan telepon ajak rekan-rekannya dari Nigeria dan Indonesia membahas keputusan AS yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Menurut sumber-sumber kepresidenan Turki, diskusi Erdogan dengan Presiden Indonesia Joko Widodo dan Nigeria, Muhammadu Buhari, berfokus pada pentingnya menunjukkan sikap yang sama untuk meyakinkan AS agar mempertimbangkan kembali keputusannya, lansir Anadolu Agency.

Para pemimpin mengatakan bahwa tindakan oleh AS akan berpengaruh “buruk” terhadap perdamaian dan stabilitas di wilayah Timur Tengah.

Turki Kutuk Keputusan AS Jadikan Yerusalem sebagai Ibukota Israel

Mereka juga menyatakan harapan agar pertemuan puncak Organisasi Kerjasama Islam-OKI (Organization of Islamic Cooperation-OIC) yang luar biasa, yang akan digelar di Istanbul pada 13 Desember, akan menunjukkan sikap yang sama terhadap keputusan tersebut.

Pada siang hari, Erdogan juga berbicara dengan presiden Perancis, Kazakhstan, Azerbaijan dan Lebanon.

Sebelumnya di hari Rabu, Presiden Donald Trump – membalikkan kebijakan AS selama puluhan tahun – mengumumkan keputusannya untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan memindahkan kedutaan AS ke Israel.

Pergeseran dramatis dalam kebijakan Washington mengenai Yerusalem memicu demonstrasi di wilayah Palestina yang diduduki, Turki, Mesir, Yordania, Tunisia, Aljazair, Irak dan negara-negara Muslim lainnya.

Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Israel-Palestina, dengan rakyat Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang sekarang diduduki oleh Israel – pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibukota negara Palestina.

Arab Saudi Ajak Masyarakat Internasional Untuk Tidak Tanggapi Keputusan AS

KAIRO (Jurnalislam.com) – Liga Arab sedang mempersiapkan sebuah peta jalan untuk menanggapi keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, menurut juru bicara liga, lansir Anadolu Agency, Sabtu (9/12/2017).

Menteri luar negeri Arab akan mengadakan pertemuan darurat di Kairo pada hari Sabtu untuk membahas dampak keputusan AS yang secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

“Akan ada penegasan hak Palestina untuk mendirikan sebuah negara merdeka dan pentingnya Yerusalem,” kata Mahmud Afifi dalam pernyataan di televisi.

“Peta jalan juga akan dipaparkan, yang akan diadopsi dari pihak Arab Saudi untuk mengajak masyarakat internasional agar tidak menanggapi keputusan AS” tambahnya.

Pindahnya Ibukota Israel ke Yerusalem, Arab Saudi Tidak akan Bantah Keputusan Trump

Pada hari Rabu, Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, dalam sebuah langkah yang membalikkan dekade kebijakan AS untuk tetap netral di kota suci tersebut.

Keputusan tersebut memicu demonstrasi massal di wilayah Palestina dan di seluruh dunia Muslim.

Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Israel-Palestina, dengan orang-orang Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang sekarang dijajah oleh Israel – pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibukota negara Palestina.

Ribuan Warga AS Turun ke Jalan Gelar Aksi Protes Keras Keputusan Trump

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Ribuan orang berkumpul di depan Gedung Putih pada hari Jumat untuk memprotes keras keputusan Presiden Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan untuk melakukan shalat Jum’at, Anadolu Agency melaporkan Sabtu (9/12/2017).

Organisasi hak-hak sipil dan advokasi Muslim terbesar di negara tersebut, Council on American-Islamic Relations (CAIR), Islamic Circle of North America (ICNA), Muslim Amerika untuk Palestina (AMP) dan Yahudi Amerika Melawan Zionisme membawa keluhan mereka ke Capitol AS.

Ini Tanggapan Penjaga Kota Suci Yerusalem atas Peresmian Ibukota Israel di Palestina

“Keputusan ini menunjukkan apa yang telah kami katakan sejak lama bahwa tidak ada yang namanya proses perdamaian,” cendekiawan Muslim yang berbasis di AS, Omer Suleiman kepada Anadolu Agency. “Jika kita ingin memulai proses perdamaian yang jujur, maka pemerintah Amerika hanyalah berperan sebagai broker yang jujur.”

Namun, kesalahan sebagian besar terletak pada pemimpin Muslim dan pemimpin Arab, Suleiman mengatakan, menambahkan bahwa beberapa pemimpin Arab secara diam-diam telah membantu pendudukan Israel sementara beberapa lainnya memberi izin “di balik pintu-pintu tertutup.”

Pindahnya Ibukota Israel ke Yerusalem, Arab Saudi Tidak akan Bantah Keputusan Trump

“Ini lebih merupakan kesalahan pemimpin Muslim dan pemimpin Arab daripada kesalahan orang lain,” lanjut Suleiman. “Jika mereka benar-benar menerapkan tekanan, jika mereka memasang garis merah sejati di Yerusalem, sebagai orang yang hanya memikirkan kepentingan bisnisnya, Trump tidak akan memiliki kesombongan untuk membuat pengumuman tersebut.”

Suleiman juga mengklaim bahwa Trump telah mengambil keputusan Yerusalem dengan sengaja untuk mengalihkan perhatian orang-orang dari penyelidikan Rusia yang dituduhkan atas dirinya.

Pasukan Israel Mulai Serang Gaza dengan Pesawat Tempur dan Tank

Pada hari Rabu, Trump mengumumkan pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibukota Israel dan juga berencana untuk memindahkan kedutaan AS di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Keputusan kontroversial tersebut membuat marah umat Islam di seluruh dunia.

Terkait Isu Yerusalem Dewan Perempuan OKI juga Angkat Bicara

ANKARA (Jurnalislam.com) – Dewan Perempuan Organisasi Kerjasama Islam-OKI (The Organization of Islamic Cooperation-OIC) telah bergabung dalam barisan pengecam keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Ketua Esra Albayrak memperingatkan bahwa wanita dan anak-anak akan “membayar harga” atas keputusan yang akan melihat Kedutaan Besar AS pindah dari Tel Aviv ke kota yang terbagi tersebut.

“Menghentikan proses ini, yang telah merampas hak-hak dasar rakyat Palestina dan menyulitkan ribuan pengungsi Palestina untuk kembali ke kampung halaman mereka, adalah tanggung jawab masyarakat internasional bagi rakyat Palestina dan terutama perempuan dan anak-anak Palestina,” dia mengatakan kepada Anadolu Agency, Sabtu (9/12/2017).

Trump Akan Akui Yerusalem sebagai Ibukota Israel, OKI Gelar Rapat Darurat

Keputusan untuk mengakui Yerusalem telah menimbulkan ketegangan antara Israel dan Palestina dan menyebabkan kerusuhan juga serangan udara Israel di Jalur Gaza.

Yerusalem terletak di jantung konflik Israel-Palestina, dengan orang-orang Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang sekarang diduduki oleh Israel – dapat menjadi ibu kota negara Palestina masa depan.

Albayrak mengatakan bahwa implikasi keputusan Trump akan “membuat sedih” siapapun yang memiliki hati nurani.

“Masalah ini bukan masalah yang bisa digunakan secara tidak bertanggung jawab sebagai bahan kebijakan dalam negeri,” tambahnya.

Begini Pembicaraan Erdogan dan Putin Tentang Isu Yerusalem dalam Sambungan Telepon

Keputusan tersebut, yang banyak ditentang oleh para pemimpin dunia dan bertentangan dengan resolusi PBB, telah dibebankan pada orang-orang Palestina sebagai sebuah keadaan yang harus dihadapi, kata Albayrak.

“Meskipun ada resolusi PBB, dunia telah menyaksikan invasi yang saksama dan sistematis di tanah Palestina selama beberapa dekade,” katanya.

Albayrak mengatakan bahwa ucapan “tidak bertanggung jawab Presiden AS” itu tampaknya merupakan upaya untuk melegitimasi pendudukan Israel.

Gelandang Tengah Klub Barcelona Turut Kecam Keputusan Donald Trump

ANKARA (Jurnalislam.com) – Pemain tengah Barcelona asal Turki Arda Turan pada hari Jumat (8/12/2017) mengecam keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Bintang sepak bola Turki berusia 30 tahun itu membukukan ucapan di akun Instagram-nya.

“Yerusalem akan selalu menjadi ibu kota perdamaian dan kemanusiaan! Jauhkan pistolmu! “Kata Turan dalam pesannya, lansir Anadolu Agency.

Abaikan Kecaman Dunia, Trump Resmikan Yerusalem sebagai Ibukota Israel

Pada hari Rabu, Trump mengumumkan keputusannya untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel serta berencana memindahkan kedutaan AS di Israel dari Tel Aviv ke kota yang diperebutkan tersebut.

Trump Deklarasikan Bencana Kebakaran Besar Selang Beberapa Hari Resmikan Ibukota Israel

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Presiden AS, Donald Trump, deklarasikan bencana nasional untuk membebaskan sumber-sumber federal pada hari Jumat (8/12/2017) dalam upaya memerangi kebakaran besar di luar Los Angeles dan kobaran api raksasa terus menuju ke selatan yang didorong oleh angin musiman yang kuat untuk hari kelima.

Deklarasi bencana memungkinkan agen federal seperti FEMA dan Departemen Keamanan Dalam Negeri untuk membantu usaha bantuan. Gubernur California Jerry Brown sebelumnya telah mengumumkan keadaan darurat di empat negara bagian, lansir Anadolu Agency Sabtu (9/12/2017).

Ribuan petugas pemadam kebakaran di California selatan memadamkan setengah lusin bekas kebakaran dari utara Santa Barbara ke San Diego yang memaksa ribuan penduduk untuk mengevakuasi dan pergerakan api menghancurkan ratusan bangunan.

Abaikan Kecaman Dunia, Trump Resmikan Yerusalem sebagai Ibukota Israel

Kebakaran terbesar, Thomas Fire, telah membakar lebih dari 130.000 hektar dan hanya 10 persen yang tersisa pada hari Jumat pagi, menurut para pejabat. Kebakaran ini telah menghancurkan lebih dari 400 struktur dan telah merusak 80 lebih saat membuka jalan menuju Santa Barbra.

Lebih dekat ke Los Angeles, Skirball Fire telah membakar 475 hektar, menurut Cal Fire. Kebakaran ini telah menghancurkan enam struktur dan merusak 12 lainnya.

Salah satu kebakaran terbaru, Lilac Fire, telah berkembang pesat, menghanguskan 4.100 hektar di utara

San Diego, dan menghancurkan 65 bangunan setelah mulai Kamis pagi. Lebih dari 1.000 petugas pemadam kebakaran sedang memerangi kobaran api raksasa.

Kobaran api dipercepat oleh angin tahunan yang kuat yang dikenal sebagai Santa Anas dan kelembaban rendah. Angin kencang diperkirakan akan terus berlanjut di beberapa wilayah bagian selatan California sampai Sabtu, menurut National Weather Service.