Berita Terkini

Rencana Ikuti Jejak AS ke Yerusalem, Guatemala Dikecam Keras Yordania dan Qatar

DOHA (Jurnalislam.com) – Qatar dan Yordania pada hari Selasa (26/12/2017) mengecam keras keputusan Guatemala baru-baru ini yang ingin memindahkan kedutaannya di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

“Keputusan Guatemala bertentangan dengan konsensus internasional yang diwujudkan oleh penolakan Majelis Tinggi PBB baru-baru ini untuk menolak pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel [oleh AS] dan seruan majelis tersebut untuk menahan diri tidak mendirikan misi diplomatik di sana,” demikian bunyi sebuah pernyataan pada hari Selasa oleh Kementerian Luar Negeri Qatar, lansir Anadolu Agency.

“Kami menganggap keputusan ini [oleh Guatemala] batal demi hukum dan tidak memiliki makna hukum,” tambahnya, melanjutkan dengan berharap bahwa Guatemala akan mempertimbangkan kembali langkah tersebut.

Turki akan Terus Perjuangkan Palestina di Forum Internasional

Jordan, sementara itu, menggambarkan keputusan Guatemala sebagai “tindakan provokatif” dan “pelanggaran resolusi internasional.”

“Kami menolak keputusan Guatemala untuk memindahkan kedutaannya ke Yerusalem,” tweeted Menteri Luar Negeri Yordania Ayman al-Safadi Senin malam.

“Yerusalem yang diduduki Israel adalah ibu kota negara Palestina, yang pendiriannya – berdasar perbatasan pra-1967 – tetap merupakan prasyarat untuk mencapai perdamaian di wilayah ini,” tambahnya.

Pada hari Ahad, setelah melakukan pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu, Presiden Guatemala Jimmy Morales mengumumkan bahwa negaranya – yang mengikuti jejak Washington – akan memindahkan kedutaan Israelnya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Keesokan harinya, Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam keras tindakan tersebut sebagai “tindakan kurang ajar yang tidak terhormat … kepada aliansi dan kelompok internasional dimana Guatemala merupakan anggotanya.”

Pernyataan Morales muncul sekitar tiga pekan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan keputusan nyelenehnya untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel – sebuah langkah yang telah menarik kutukan dan protes dari seluruh dunia Arab dan Muslim.

Adakah Pengaruhnya 128 Negara Tolak Veto AS? Ini Kata Para Aktivis Palestina

Pekan lalu, 193 anggota Majelis Umum PBB mengadopsi sebuah resolusi yang meminta AS untuk menarik pengakuannya atas kota tersebut sebagai ibu kota Israel.

Sebanyak 128 negara anggota memilih untuk mendukung mosi tersebut, sembilan Negara menentangnya – Guatemala di antara mereka – dan 35 abstain. Dua puluh satu anggota negara tidak memberikan suara.

Tidak seperti resolusi yang diadopsi oleh 15 anggota Dewan Keamanan PBB, resolusi Majelis Umum PBB dianggap tidak mengikat.

Pasar Pemberontak Syiah Houthi Dibom Koalisi Arab, 20 Tewas

YAMAN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 20 orang dilaporkan terbunuh dan puluhan lainnya terluka dalam serangkaian serangan udara pimpinan Saudi di sebuah pasar di barat daya Yaman.

Sumber mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pada hari Selasa (26/12/2017) koalisi Arab menyerang Souk al-Shahra, sebuah pasar yang populer di daerah pemberontak Syiah Houthi di provinsi Taiz, sekitar 200km barat daya ibukota, Sanaa.

Sedikitnya 13 warga sipil tewas dan 17 lainnya cedera, satu sumber mengatakan, menambahkan bahwa sedikitnya 10 pasukan pemberontak Houthi juga termasuk di antara korban tewas.

83 Rudal Balistik Syiah Houthi Yaman Targetkan Arab Saudi

Sumber lain mengatakan bahwa beberapa potongan tubuh terlempar ratusan meter dari lokasi ledakan.

Kerabat beberapa korban tidak dapat mengidentifikasi sisa-sisa tubuh hangus mereka.

Al Masirah, sebuah jaringan TV yang dijalankan oleh pimpinan pemberontak Houthi, menempatkan jumlah korban lebih dari 50 orang, dan menambahkan bahwa jumlah tersebut masih bisa bertambah.

Al Masirah menerbitkan foto di situsnya yang menunjukkan sepeda motor dan toko yang dibom, dan gambar yang mereka klaim sebagai sisa-sisa tubuh penduduk sipil yang terpotong-potong.

Al Jazeera tidak dapat secara independen memverifikasi klaim tersebut.

Koalisi pimpinan Saudi telah melakukan serangan udara reguler di daerah yang dikuasai Houthi sebagai bagian dari operasi untuk memulihkan pemerintah Yaman yang diakui PBB.

Anak Mantan Presiden Yaman yang Dibunuh Houthi Serukan Balas Dendam

Serangan hari Selasa terjadi saat pasukan Yaman yang didukung oleh koalisi berusaha untuk menguasai desa terdekat al-Haima.

Seorang penduduk mengatakan kepada Al Jazeera bahwa puluhan orang telah mengungsi akibat pertempuran tersebut, dengan sejumlah penduduk yang terjebak dalam kondisi mengerikan.

AS Tawarkan Daerah Ini sebagai Pengganti Ibukota Palestina, Ini Kata Hamas

AL QUDS (Jurnalislam.com) – Pemimpin Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) Ismail Haniya mengatakan bahwa AS menawarkan Abu Dis, sebuah daerah pinggiran Yerusalem, kepada pemerintah Otoritas Palestina sebagai alternatif menggantikan Yerusalem Timur sebagai ibukota negara Palestina.

Berbicara dalam sebuah pertemuan dengan para pemimpin klan Palestina di Jalur Gaza pada hari Selasa (26/12/2017), Haniya memberi label keputusan Presiden Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel sebagai sebuah tipuan untuk menghapus Palestina sesuai dengan kesepakatan fenomenal abad ini.

Hamas: Deklarasi Balfour Jembatan Kolonial Isreal ke Palestina

“AS masih menawarkan kesepakatan dan terus membujuk pihak Otoritas Palestina (PA) dengan cara apa pun, untuk memberi mereka ibukota atau entitas di daerah Abu Dis, jauh dari Yerusalem, dengan jembatan penghubung ke Masjid al-Aqsha untuk kebebasan melakukan sholat,” katanya.

 Ismail Haniya
Ismail Haniya

Haniya mengatakan beberapa pasukan regional berusaha untuk membagi Tepi Barat menjadi tiga bagian, selain menciptakan entitas politik di Jalur Gaza dengan kekuatan pengendaliannya sendiri.

Reporter Al Jazeera Wael al-Dahdouh, melaporkan dari Kota Gaza, mengatakan bahwa Haniya telah memperingatkan pemain lokal, regional dan internasional untuk tidak melaksanakan rencana perdamaian AS untuk Timur Tengah, yang belum dipublikasikan.

Jared Kushner, menantu Trump dan penasihat White Houser, telah mempelopori upaya untuk mengukur kemungkinan melanjutkan proses perdamaian Israel-Palestina.

“Haniya mengirim peringatan keras kepada semua pihak yang terlibat dalam ‘kesepakatan abad ini dengan AS’, apakah mereka orang Palestina, Arab atau kaum Muslim, atau masyarakat internasional,” kata Dahdouh.

“Ada juga tanda-tanda bahwa Israel akan mengambil keuntungan dari kesepakatan ini untuk menerapkan fakta versi mereka di lapangan, seperti RUU Judaisasi Yerusalem yang akan dipilih pada hari esok.”

Haniya mengatakan keputusan AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel menciptakan konflik baru yang dapat mempengaruhi sifat hubungan antara Palestina dan Yordania.

Pemimpin Hamas: Keputusan AS adalah Deklarasi Perang

Dia mengutip laporan diskusi mengenai sebuah alternatif tanah air untuk warga Palestina dan sebuah konfederasi antara Yordania dan Palestina.

Haniya mengatakan bahwa dia telah berbicara dengan Raja Abdullah dari Yordania tentang apa yang dia lihat sebagai bahaya yang timbul dari keputusan atas Yerusalem, proyek pemukiman illegal yahudi dan alternatif tanah air.

Dia juga meminta warga Palestina untuk melanjutkan “perjuangan” mereka menentang semua keputusan Trump, dan menyerukan kepada gerakan populer di Negara-negara Arab dan Muslim untuk melakukan perlawanan mereka.

Menghadapi proses rekonsiliasi yang sedang berlangsung antara dua kelompok utama Palestina, Fatah dan Hamas, Haniya mengatakan bahwa masalah politik internal perlu ditangani dengan cepat agar pemerintah yang bersatu dapat mencurahkan perhatiannya pada isu-isu utama Palestina.

Dia juga mengeluarkan sebuah peringatan mengenai konsekuensi “munculnya kuburan” yang potensial akibat lambannya pelaksanaan perjanjian rekonsiliasi yang ditengahi Mesir, yang ditandatangani pada bulan Oktober di Kairo oleh perwakilan Fatah dan Hamas.

Sementara itu, Yahya Sinwar, perdana menteri pemerintah Hamas, yang berbicara pada pertemuan hari Selasa di Gaza, menyerukan upaya untuk mendukung upaya rekonsiliasi untuk “mempersatukan dalam pertempuran dalam upaya merebut Yerusalem.”

Dia juga menuntut agar pimpinan Palestina “membentuk kerangka kepemimpinan terpadu Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di hadapan seluruh warga Palestina.”

Rezim Syiah Assad: Hayat Tahrir al Sham Tembak Jatuh Jet Tempur Suriah di Hama

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pasukan bersenjata rezim Syiah Suriah mengatakan pejuang oposisi menjatuhkan sebuah jet militer miliknya di provinsi Hama utara pada hari Selasa (26/12/2017), dan membunuh pilot.

Faksi jihad Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang dipimpin Jabhat Fath al Sham sebuah kekuatan tempur yang didominasi oleh bekas afiliasi al-Qaeda di Suriah – mengatakan bahwa HTS berhasil menembak jatuh sebuah pesawat tempur kami.

Kantor berita resmi rezim Suriah SANA melaporkan bahwa pilot pesawat itu ditembak oleh pejuang Hayat Tahrir al-Sham yang berada di pedesaan Hama, lansir Middle East eye.

Analisis: Turki Perhitungkan Kekuatan Hayat Tahrir al Sham di Idlib

Ia menambahkan bahwa militer Rusia melakukan “operasi terkonsentrasi” terhadap para pejuang di provinsi Hama, setelah jatuhnya pesawat tersebut.

Seorang sumber mengatakan bahwa para pejuang sedang mencari pilot lain yang mereka percaya selamat dari kecelakaan itu.

Angkatan udara dan tentara rezim Syiah Nushairiyah Assad, yang didukung oleh agresor Rusia dan milisi Syiah Internasional yang didukung Iran, telah meningkatkan serangan di Hama dalam beberapa pekan terakhir, mendorong ke utara menuju benteng pertahanan mujahidin Suriah di Idlib.

Hayat Tahrir al Sham Tembak Jatuh Drone Syiah Hizbullah di Qalamoun

Tentara rezim Suriah mengklaim bahwa mereka merebut kota Tal al-Aswad, sebelah selatan provinsi Idlib, pada hari Selasa.

Anggota bantuan medis dan saksi mata mengatakan puluhan warga sipil juga terbunuh di kota-kota dan desa-desa yang jauh dari garis depan pertempuran akibat pemboman udara rezim Assad dan militer Rusia.

Hayat Tahrir al Sham dan Oposisi Lancarkan Serangan Besar pada Posisi Rezim Assad di Hama

Kini Erdogan Bahas Palestina Bersama Pemegang Kunci Kota Suci Yerusalem

KHARTOUM (Jurnalislam.com) – Presiden Recep Tayyip Erdogan dan penjaga tempat suci umat Islam, Raja Yordania Abdullah II, berbicara melalui telepon pada hari Senin (25/12/2017) untuk membahas masalah Yerusalem, menurut seorang pejabat presiden Turki.

Keduanya menegosiasikan pentingnya upaya bersama untuk melindungi status Yerusalem, kata pejabat tersebut, yang meminta tidak disebutkan namanya karena pembatasan untuk berbicara dengan media, lansir Anadolu Agency.

Mereka menekankan untuk membuat beberapa “peringatan konstruktif” kepada pemerintah AS demi memperbaiki kesalahannya.

Kedua pemimpin tersebut juga menyatakan kepuasannya atas pemungutan suara Majelis Umum PBB pekan lalu.

Ini Tanggapan Penjaga Kota Suci Yerusalem atas Peresmian Ibukota Israel di Palestina

Yordania dimana negaranya adalah penjaga tempat suci umat Islam di Yerusalem berpihak pada Palestina dan menolak keputusan Presiden AS Donald Trump beberapa pekan lalu untuk memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem dan mengakui Kota Suci sebagai ibu kota Israel.

Pada 6 Desember, Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel meski mendapat tentangan di seluruh dunia, dan memicu aksi bela Palestina di seluruh dunia Muslim.

Mayoritas dari 193 anggota Majelis Umum PBB pekan lalu mengadopsi sebuah resolusi mengenai Yerusalem, meminta AS untuk menarik pengakuannya atas kota tersebut sebagai ibukota Israel.

Sebanyak 128 anggota memilih resolusi Yerusalem, sembilan negara – Guatemala salah satunya – memilih menentang resolusi dan 35 lainnya abstain. Dua puluh satu negara tidak memberikan suara.

Pasukan Penjajah Israel Tangkap 30 Warga Palestina dalam 1 Malam

RAMALLAH (Jurnalislam.com) – Pasukan penjajah Israel menahan 30 warga Palestina dalam serangan semalam yang dilakukan di Tepi Barat hari Ahad, Anadolu Agency melaporkan Senin (25/12/2017).

Dalam sebuah pernyataan hari Senin, tentara zionis yahudi mengatakan bahwa anak-anak tersebut ditahan untuk diinterogasi atas dugaan keterlibatan dalam aksi yang digambarkan oleh pasukan penjajag Israel sebagai “gerakan teroris populer.”

Menurut tentara zionis, delapan dari mereka yang ditahan berasal dari desa Qasra di Tepi Barat bagian utara.

Para Syuhada Terus Bertambah dalam Aksi Perlawanan di Gaza dan Tepi Barat

Tentara Israel sering melakukan operasi penangkapan besar-besaran di wilayah pendudukan Tepi Barat dengan dalih terorisme, mencari warga Palestina yang “dicari (wanted).”

Tokoh Palestina mengatakan, lebih dari 6.400 warga Palestina saat ini ditahan di fasilitas penahanan di seluruh Israel.

Penangkapan terakhir terjadi di tengah ketegangan yang sedang berlangsung di wilayah Palestina menyusul keputusan nyeleneh Presiden AS Donald Trump pada 6 Desember untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Targetkan Pemberontak Syiah Houthi, 71 Warga Tewas dalam Serangan Udara di Yaman

YAMAN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 71 warga sipil tewas selama 48 jam terakhir dalam serangan udara koalisi militer pimpinan Saudi yang menargetkan pemberontak Syiah Houthi di Yaman, kata penduduk dan media setempat.

Warga mengatakan kepada Al Jazeera, bahwa beberapa serangan udara menghujani ibu kota Sanaa pada Senin pagi (25/12/2017), menewaskan sedikitnya 11 orang, termasuk tiga anak dan dua wanita.

Delapan warga sipil, termasuk dua wanita, juga tewas dalam serangan di provinsi Hodeidah, 226km barat Sanaa, sementara empat warga sipil tewas dalam serangan di sebuah gedung pemerintah di provinsi pusat Dhamar

Sedangkan pada hari Ahadnya 48 warga sipil, termasuk 11 anak-anak, tewas dalam 51 serangan udara di Yaman.

83 Rudal Balistik Syiah Houthi Yaman Targetkan Arab Saudi

Tidak ada komentar langsung dari koalisi pimpinan-Saudi.

Menurut jurnal medis The Lancet, dampak perang terhadap lingkungan sipil padat di Yaman sangat menghancurkan.

Lebih dari 18 juta warga sipil tinggal di daerah yang dikuasai pemberontak, dengan persediaan makanan berkurang dan perawatan medis terbatas.

Yaman terkoyak oleh konflik sejak tahun 2014, ketika pemberontak Houthi, yang bersekutu dengan tentara yang setia kepada mantan presiden Ali Abdullah Saleh, berhasil menguasai daerah-daerah terpencil di negara tersebut, termasuk Sanaa.

Arab Saudi meluncurkan serangan udara besar-besaran melawan pemberontak sejak Maret 2015 untuk memulihkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.

Sejak saat itu, pemberontak Syiah Houthi berhasil disingkirkan dari sebagian besar wilayah selatan, namun tetap memegang kendali atas ibu kota dan sebagian besar wilayah utara.

Kerajaan Saudi mengintensifkan embargonya di Yaman bulan lalu, setelah pemberontak Houthi melepaskan sebuah rudal balistik ke Riyadh.

Blokade tersebut dimaksudkan untuk memotong pasokan senjata kepada pemberontak Houthi yang diduga berasal dari Iran, namun memiliki dampak buruk bagi jutaan warga, dan mendorong lebih dari delapan juta penduduknya menuju “sebuah kondisi kelaparan.”

Menurut PBB, perang telah menewaskan lebih dari 10.000 orang dan melukai lebih dari 40.000 orang sampai saat ini.

Negara ini juga menghadapi wabah kolera yang mematikan, konsekuensi langsung dari perang tersebut, yang telah menewaskan sekitar 2.000 orang dan mempengaruhi lebih dari satu juta orang lainnya sejak April.

Manajemen Ratu Paksi Meminta Maaf Kepada Keluarga Korban dan Warga Tasikmalaya

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Manager Toko Ratu Paksi Tasikmalaya, Fitri Nursolihah menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban pelecehan yang dilakukan oleh oknum satpam perusahaannya. Fitri juga meminta maaf kepada warga Tasikmalaya.

“Pastinya ini jadi pembelajaran bagi kami, dan kami dari manajemen meminta maaf yang sebesar-besarnya terhadap keluarga korban dan kita juga tidak mau seperti ini menimbulkan keresahan masyarakat Tasikmalaya dan kita berharap yang terbaik untuk semuanya,” kata Fitri kepada wartawan, Senin (25/12/2017).

Ia menyesalkan peristiwa tersebut dan berjanji akan mengikuti sanksi hukum yang diberikan. “Kita terima penyegelan ini, karena kita ingin semuanya damai dan baik-baik saja,” katanya.

Terkait pelecehan yang dilakukan oleh oknum satpam itu, Fitri menegaskan pihaknya tidak mengetahui kejadian tersebut karena supervisor tidak memberitahukan kepada manajemen.

“Jadi kita tahu setelah ibu korban malam-malam (Kamis, 21/12/2017) datang kesini. Dan kita sudah meminta maaf,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan, Toko Ratu Paksi Tasikmalaya memiliki 40 karyawan muslim yang merupakan warga asli Tasikmalaya. Ratu Paksi sendiri berpusat di Semarang Jawa Tengah.

“Dan perlu kita jelaskan, pemiliknya Alhamdulillah muslim, jawa etnisnya. Ini untuk meluruskan hal-hal di luar sana. Saya tidak melebih-lebihkan dan saya tidak mengurangi,” pungkas Fitri.

Manager: Perlakuan Oknum Satpam Ratu Paksi Diluar SOP

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Manager Toko Ratu Paksi Tasikmalaya, Fitri Nursolihah, perlakuan oknum satpam kepada seorang pengunjung bernama Aq (16) tidak ada dalam Standar Operational Procedur (SOP) Toko Ratu Paksi. Ia juga menegaskan, perlakuan tersebut dilakukan tanpa berkoordinasi dengan manajemen.

“Jadi sebenarnya yang melakukan itu adalah satpam outsourching yang kita gunakan jasanya disini. Dan itu tidak ada di SOP kami disini. Kita tidak pernah mengarahkan untuk hal seperti itu, itu murni inisiatif security dan itu tanpa melalui koordinasi dengan manajemen,” paparnya kepada wartawan, Senin (25/12/2017).

Fitri, yang mengaku telah meminta maaf kepada keluarga korban, menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada penelanjangan akan tetapi ia mengakui perlakuan satpam tersebut berlebihan dan melanggar SOP perusahaan.

“Jadi itu tidak ditelanjangi tapi memang pemeriksaannya terlalu berlebihan. Padahal kita tidak pernah menginstruksikan seperti itu dan pihak manajemen tidak tahu sama sekali kejadian itu,” katanya.

Siang tadi, Senin (25/12/2017), warga Tasikmalaya yang mengatasnamakan diri Mujahid Tasikmalaya Menggugat (MTM) bersama pemerintah Kota Tasikmalaya telah menyegel sementara Toko Ratu Paksi yang terletak di Jalan Sukalaya, Kelurahan Yudanegara, Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya itu. Selain terkait kasus pelecehan terhadap pengunjung, penyegelan yang disaksikan langsung oleh Kapolres Tasikmalaya Kota itu dilakukan juga karena izin usaha toko tersebut bermasalah.

Toko Ratu Paksi Akhirnya Disegel Sementara

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Mujahid Tasikmalaya Menggugat (MTM) bersama Satpol PP dan aparat Polresta Tasikmalaya menyegel toko alat jahit dan asesoris Ratu Paksi, Senin (25/12/2017). Penyegelan tersebut dilakukan pasca peristiwa pelecehan oleh oknum satpam wanita yang menelanjangi seorang pengunjung bernama Aq (16) yang dituduh mencuri di toko tersebut. Aq adalah santriwati sekaligus guru mengaji di salah satu Sekolah Diniyah di Tasikmalaya.

Kronologis Pelecehan Santriwati oleh Oknum Satpam Toko Asesoris di Tasikmalaya

“Sesuai dengan tuntutan masyarakat sudah resmi disegel,” kata Ketua MTM Nanang Nurjamil kepada wartawan, Senin (25/12/2017).

Nanang juga menyampaikan, penutupan toko tersebut yang terletak di Jalan Sukalaya Kelurahan Yudanegara Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya itu juga karena toko tidak memilik izin pengembangan usaha.

“Dari hasil audit dan investigasi dari BMPPT yang mengeluarkan ijin, dan memang Toko Ratu Paksi ini dari 2013 sampai 2017 tidak memiliki ijin pengembangan, berdasarkan ketentuan perundang-undangan maka toko atau perusahaan yang tidak mempunyai ijin harus dilakukan penyegelan,” paparnya.

Akan tetapi Nanang menutut pemerintah untuk tidak memberikan ijin pengembangan toko tersebut hingga kasus pelecehan Aq dituntaskan.

“Sampai kapan penyegelan ini dilakukan, sampai ketentuan perundang-undangannya dipenuhi, tetapi dari kami mewakili masyarakat muslim Tasikmalaya, karena ditoko ini telah terjadi tindak pidana maka kami menutut (toko Ratu Paksi ditutup) sampai tindak pidananya selesai dan tersangkanya ada, maka silahkan,” tegasnya.

“Mudah-mudahan ini menjadi pembelajaran bagi semua toko yang ada di Tasikmalaya, warga Tasikmalaya tidak akan pernah mengganggu selama kalian tidak berlaku semena-mena,” katanya.

Senada dengan itu, Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Adi Nugraha mengatakan penyegelan tersebut dilakukan hingga pihak Ratu Paksi menyelesaikan izin usahanya. Akan tetapi, lanjutnya, proses hukum kasus pelcehan kepada Aq akan terus berlanjut.

“Proses hukum tetap dilanjutkan, kita sudah membuat laporan di rumah korban, kita buat berita acara interogasi untuk penyelidikan, si pelaku juga sudah kita ambil keterangan tinggal nanti saksi-saksi,” katanya.