Ahad, 3 Dhul Qa'ada 1447 / 19 April 2026
Search for:
  • Beranda
  • Berita
    NasionalInternasionalFeature
  • Artikel
    AnalisaKolomOpini
  • Khazanah
    IslamasterIslamophobiaKomunitasMuallafPesantrenHikmah
  • Syariah
    AqidahEkonomiFiqhAkhlaqSiyasah
  • Jejak Islam
    Jejak Islam BangsaJejak Islam Dunia
  • Muslimah
  • Keluarga
  • Jurnalislam TV
  • InfoGrafik

Berita Terkini

Rezim Syiah Assad Bunuh 75 Warga Sipil di Ghouta Timur dalam Sehari

09 Feb 2018 08:44:49
Rezim Syiah Assad Bunuh 75 Warga Sipil di Ghouta Timur dalam Sehari

GHOUTA TIMUR (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 75 warga sipil terbunuh dalam serangan udara rezim Syiah Bashar al-Assad di Ghouta Timur Suriah pada hari Kamis (8/2/2018), menurut sumber dari Pertahanan Sipil Suriah.

Serangan udara di daerah pemukiman sipil tersebut menewaskan 27 orang di Arbin, 17 di Jisrin, 2 di Zamalka, 3 di Sabka, 3 di Misraba, 7 di Hamuriya, 1 di Bayt Sava dan satu lagi di lingkungan Madyara, kata sumber tersebut kepada Anadolu Agency.

Delapan warga sipil juga terbunuh di Duma, empat di Hazzah dan dua warga sipil lainnya tewas di Harasta, kata unit pertahanan sipil, yang juga dikenal sebagai The White Helmets (Helm Putih).

The White Helmets dikirim ke tempat kejadian untuk pencarian dan penyelamatan karena korban tewas dikhawatirkan meningkat.

Pasukan rezim Syiah Nushairiyah Assad telah melakukan serangan udara intensif di wilayah tersebut sejak Kamis pagi.

Biadab, Serangan Rezim Syiah Assad Kembali Bunuh Warga Ghouta Timur, 33 Tewas

Terletak di pinggiran ibukota Damaskus, padahal Ghouta Timur dinyatakan sebagai zona de-eskalasi di mana tindakan agresi dilarang.

Namun Rezim Suriah berulang kali melanggar kesepakatan tersebut dan menargetkan wilayah pemukiman hingga menewaskan total 524 orang dan menyebabkan sekitar 2.000 lainnya cedera sejak 29 Desember 2017.

Sebagai rumah bagi sekitar 400.000 penduduk, Ghouta Timur tetap berada di bawah pengepungan rezim yang melumpuhkan selama lima tahun terakhir.

Suriah telah dikepung dalam perang global yang menghancurkan sejak Maret 2011, ketika rezim Assad membantai aksi unjuk rasa dengan keganasan militer tak terduga, lalu dilanjut dengan intervensi Rusia untuk mendukung militer rezim.

Pejabat PBB mengatakan ratusan ribu orang terbunuh dalam konflik tersebut.

Kategori : Internasional

Tags : Ghouta Timur Konflik Suriah

AS Gempur Pasukan Pro Rezim Assad di Deir Az Zor, 100 Milisi Tewas

09 Feb 2018 07:14:41
AS Gempur Pasukan Pro Rezim Assad di Deir Az Zor, 100 Milisi Tewas

SURIAH (Jurnalislam.com) – Rezim Syiah Assad melaporkan koalisi pimpinan AS “melakukan kejahatan perang” setelah pasukannya ditargetkan dalam serangan udara di provinsi Deir Az Zor yang kaya minyak.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada kantor berita Reuters pada hari Kamis (8/2/2018) bahwa lebih dari 100 pasukan pro-pemerintah Assad terbunuh dalam serangan semalam.

AS mengatakan bahwa mereka hanya membalas sebuah “serangan yang tidak beralasan” terhadap Pasukan Demokratik Suriah (Syrian Democratic Forces-SDF) yang didukung Washington, namun tidak memberikan rincian mengenai korban jiwa.

Rusia: Amerika Lindungi Kelompok Islamic State di Deir ez-Zor

Seorang juru bicara Pentagon mengatakan kepada wartawan bahwa SDF “membela diri dengan dukungan” dari koalisi pimpinan AS.

“Pasukan pro-rezim memprakarsai serangan terkoordinasi terhadap Pasukan Demokratik Suriah di sebelah timur jalur dekonstruksi sungai Efrat,” kata Dana White.

“Pasukan Demokrat Suriah yang didukung oleh koalisi balas menargetkan penyerang dengan kombinasi serangan udara dan artileri,” tambahnya.

Bunuh 58 Anggota Jamaah Tabligh Sedang Shalat, Rusia: Serangan Udara di Masjid Aleppo oleh AS

Kantor berita Suriah SANA memperdebatkan akun AS tersebut dan mengatakan bahwa koalisi pimpinan AS “menyerang pasukan populer yang memerangi” kelompok bersenjata seperti Islamic State (IS)

Rezim Syiah Suriah menggambarkan serangan udara itu sebagai “agresi baru yang menimbulkan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan”.

Pemerintah Suriah juga meminta Dewan Keamanan PBB untuk mengutuk “pembantaian” tersebut, menurut kantor berita negara SANA.

Rusia, sekutu Assad, mengatakan bahwa kehadiran militer AS di Suriah “bertujuan untuk mengendalikan aset ekonomi negara tersebut dan bukan berperang faksi jihad,” kantor berita Rusia TASS melaporkan.

Dalam 11 Hari Rezim Assad dan Rusia Bantai 126 Warga Sipil Ghouta Timur

SDF adalah aliansi pasukan Kurdi dan Arab dukungan AS yang dipimpin oleh Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG).

“Lokasi serangan signifikan tidak hanya karena itu adalah salah satu tempat yang diketahui memiliki minyak di Suriah, namun yang lebih penting karena yang mengendalikannya di lapangan adalah Pasukan Demokrat Suriah,” reporter Al Jazeera Jamal Elshayyal, melaporkan dari Gaziantep, di sisi Turki dari perbatasan Suriah-Turki.

“Washington sangat bergantung pada mereka saat perang melawan IS selama bertahun-tahun dan sekarang menemukan diri mereka dalam situasi melawan armada perang Turki dan pihak lain yang mengatakan milisi dukungan AS ini pada dasarnya sama buruknya dengan IS itu sendiri.

Serangan udara bertepatan dengan meningkatnya kekerasan di tempat lain di Suriah.

Lebih dari 200 orang tewas di pinggiran Damaskus di Ghouta Timur dan di Idlib, sementara Turki terus melakukan serangan militer untuk menghapus YPG dari kota perbatasan Afrika barat laut Afrin.

Kategori : Internasional

Tags : AS Konflik Suriah serangan udara

Jubir Ansharusyariah: Umat Harus Memahami Konsep Kepemimpinan Islam

09 Feb 2018 01:49:26
Jubir Ansharusyariah: Umat Harus Memahami Konsep Kepemimpinan Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Jamaah Ansharusy Syariah sukses menggelar Seminar Kepemimpinan Islam di Jakarta, Selasa (6/2/2018) lalu. Juru bicara Jamaah Ansharusy Syariah Ustadz Abdul Rochim Ba’asyir mengucapkan terimakasih kepada para tokoh yang hadir dan telah memberikan gagasannya dalam acara tersebut.

Ustadz Iim berharap seminar tersebut dapat menyatukan pandangan para ulama dan tokoh Islam terkait konsep kepemimpinan Islam di Indonesia sebagai pencerahan untuk umat.

“Agar umat tidak buta dengan persoalan ini dan para tokoh tidak lagi berbeda-beda pendapat,” kata Ustadz Iim kepada Jurnalislam.com melalui sambungan telepon, Jumat (9/2/2018).

Ia memandang, kepemimpinan Islam nyaris hilang dari benak umat Islam pada umumnya. Bahkan, kata dia, para tokoh Islam justru malah terpengaruhi oleh konsep kepemimpinan yang datang dari luar Islam.

“Karena kepemimpinan itu tidak muncul begitu saja, umat Islam harus berusaha untuk memunculkan pemimpinnya sendiri,” paparnya.

Ustadz Iim menjelaskan, saat ini Islam dan umat Islam terus ditimpa musibah karena tidak adanya seorang pemimpin Islam yang benar-benar menyayangi umatnya.

“Pemimpin-pemimpin yang ada saat ini tidak menyayangi mereka (umat Islam) bahkan cenderung semakin memojokkan mereka, dan tidak sedikit para pemimpin yang justru memusuhi mereka orang-orang yang cinta dengan Islam,” ujarnya.

Oleh sebab itu, lanjutnya, umat Islam harus berjuang mengembalikan kedaulatannya di negeri ini.

Ustadz Iim menuturkan, seminar tersebut merupakan ikhtiar Jamaah Ansharusy Syariah untuk menyatukan persepsi umat akan pentingnya kepemimpinan di dalam Islam.

“Seminar ini hanya salah satu upaya yang bisa kita lakukan, kita berharap dengan upaya kecil ini Allah subhanahu wataala memberikan keberkahannya dalam langkah-langkah umat Islam selanjutnya,” tuturnya.

“Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa’tala segera mewujudkan kepemimpinan Islam di negeri ini sehingga negeri ini menjadi negeri yang baldah toyyibah waraabun ghafur,” tutupnya.

Seminar Kepemimpinan Islam dengan tema ‘Kepemimpinan Islam dalam Dinamika Politik Indonesia” itu dihadiri oleh sejumlah ulama, perwakilan ormas Islam, dan para akademisi. Ustadz Iim sendiri berhalangan hadir karena sedang beribadah umroh.

Kategori : Nasional

Tags : Jamaah Ansharusy Syariah konsep kepemimpinan islam Seminar Kepemimpinan Islam

Kronologi Tanda X dan Tamu Misterius di Ponpes Sulalatul Huda Tasikmalaya

09 Feb 2018 00:26:07
Kronologi Tanda X dan Tamu Misterius di Ponpes Sulalatul Huda Tasikmalaya

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Setelah didatangi tiga tamu aneh dan ditemukannya tanda X warna merah di lingkungan Pondok Pesantren Sulalatul Huda Paseh, Kota Tasikmalaya, warga dan santri kian waspada.

Pasca kejadian itu, kini santri bersama warga bergantian berjaga-jaga di lingkungan pesantren untuk mencegah hal yang tak diinginkan.

Selama tiga hari berturut-turut, ponpes Sulalatul Huda kedatangan tiga orang asing dengan gelagat mencurigakan. Ketika ditanya beberapa pengurus pesantren, tamu tersebut menjawab dengan jawaban melantur.

Jurnalislam.com mencoba menggali lebih dalam kronologis kejadian tersebut dari salah seorang pengurus pondok Sulalatul Huda, Khoirul Azmi (25).

Baca juga: Masih di Bandung, Remaja Masjid Persis Ditodong Pisau

Azmi menuturkan, pada hari Sabtu (3/2/2018) malam pesantren kedatangan orang asing yang mengaku dari Cilacap dan bertanya-tanya seputar Pesantren Sulalatul Huda.

“Yang pertama itu pada hari Sabtu (3/2/2018) malam ada orang asing datang ke pondok nanya-nanya seputar pesantren, ngakunya dari Cilacap mau ke pesantren Suryalaya, tapi kok malah kesini,” kata Azmi kepada Jurnalislam.com, Kamis (8/2/2018).

Pada hari Selasa (6/2/2018) dini hari, tamu lain dengan perilaku aneh kembali mendatangi pesantren Sulalatul Huda. Tamu tersebut mendatangi rumah H. Lutfi yang merupakan salah satu putra almarhum pendiri ponpes Sulalatul Huda KH Didi Abdul Majid. Namun orang ini tidak mau menjawab ketika ditanya nama dan asalnya.

“Seperti orang stress tapi kalau ngobrol mah nyambung, tapi ketika ditanya nama dan asal dari mana dia gak mau jawab,” terang Azmi.

Orang tersebut diantar oleh salah seorang jamaah pengajian H Lutfi, sehingga pihak pesantren pada awalnya tidak menaruh curiga. Akan tetapi saat diajak ngobrol, orang ini menjawab dengan nada ancaman dan disampaikan dengan bahas-bahas istilah.

“Dan dia kalau ngomong itu seperti pake istilah-istilah intel seperti ‘hayam jago’, ‘hayam kampung’, untungnya A Haji Lutfi paham dengan istilah-istilah itu, hayam kampung itu berarti massa. Dia bilang takutnya cuma sama hayam kampung,” papar Azmi.

Keesokan harinya, Rabu (8/2/2018) ponpes Sulalatul Huda kembali didatangi orang asing yang lebih mencurigakan. Azmi mengatakan, orang tersebut tiba-tiba masuk ke halaman rumah pimpinan pesantren Sulalatul Huda KH Aminudin Bustomi sambil berteriak-teriak memanggil nama Kyai Amin.

Baca juga: Al Mumtaz Kutuk Aksi Teror dan Penganiayaan Terhadap Ulama

Namun aksinya dilihat oleh salah seorang santri kemudian dilaporkan kepada pengurus pondok. Orang tersebut akhirnya diamankan di kantor pesantren. Setelah ditelusuri, akhirnya diketahui bahwa orang tersebut mengalami gangguan jiwa.

“Beberapa santri kemudian mencari informasi terkait orang itu lalu diketahui bahwa ini masih orang tasik juga gak jauh dari Paseh. Setelah itu anak dari orang ini datang dan mengaku bahwa memang ayahnya mengalami gangguan jiwa,” ungkap Azmi.

Ditemukan tanda X warna merah di lingkungan pesantren

Tanda X warna merah ini pertama kali ditemukan santri pada Rabu (7/2/2018) malam. Tanda ini ditemukan di empat titik berbeda diantaranya di tembok dekat gerbang masuk pesantren, dua tanda di bangunan pesantren, dan di tembok bawah jendela rumah salah satu pengasuh pondok.

Sayangnya, tidak ada satu pun santri maupun warga yang melihat pelaku pencoretan tanda X merah ini.

“Sekarang sudah dihapus semua, ditimpa dengan cat lagi,” kata Azmi.

Fenomena orang dengan gangguan jiwa yang menyerang para ulama di beberapa daerah di Jawa Barat telah menjadi buah bibir masyarakat. Seperti diketahui, beberapa ulama dan tokoh aktivis Islam telah menjadi korban penyerangan oleh orang yang disebut mengalami gangguan jiwa ini.

Kategori : Nasional

Tags : pesantren sulalatul huda tasikmalaya ulama diserang

Ponpes Sulalatul Huda Tasikmalaya Ditandai X dan Didatangi Tamu Misterius

08 Feb 2018 23:50:25
Ponpes Sulalatul Huda Tasikmalaya Ditandai X dan Didatangi Tamu Misterius

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Pondok Pesantren Sulalatul Huda Paseh, Kota Tasikmalaya dalam sepekan ini kedatangan tiga orang asing dengan gelagat mencurigakan dan diduga orang gila. Ketika ditanya beberapa pengurus pesantren, tamu tersebut menjawab dengan jawaban melantur.

Pimpinan Ponpes Sulalatul Huda KH Aminudin Bustomi membenarkan kejadian tersebut dan pihaknya telah melaporkan ke pihak kepolisian.

“Semenjak malam ahad, kemudian Senin malam ada yang datang juga, mereka datang diluar jam tamu. Tapi dari beberapa narasi dan pembicaraan memang banyak kejanggalan. Ketika ditanya darimana jawabannya tidak karuan dan tidak jelas,” kata KH Aminudin Bustomi yang ditemui wartawan pada Rabu (8/2/2018) malam ketika sedang berpatroli bersama para santri.

Bahkan, kata pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris MUI Kota Tasikmalaya ini mengatakan, pihaknya menemukan tanda X berwarna merah di empat titik berbeda di sekitar pesantren termasuk di jendela rumah salah satu pengasuh pondok.

“Entah apa maksudnya, tapi masyaratkat saat itu juga langsung menghapusnya,” tuturnya.

Kapolsek Cihideung Kompol Setiyana membenarkan adanya laporan dari masyarkat terkait adanya orang yang mencurigkan di areal Ponpes Sulalatul Huda.

“Dan sampai saat ini hasil pengumpulan bahan keterangan memang belum mengarah kepada pelaku karena memang saksi yang minim pada saat pelaporan,” kata Kompol Setiyana sebagaimana dilansir radartasikmalaya.com

Hingga saat ini kondisi areal pesantren masih kondusif. Puluhan santri pun berjaga-jaga secara bergantian hingga subuh.

Kategori : Nasional

Tags : orang gila serang ulama ponpes sulalatul huda ulama diserang

Jika Ingat Tragedi Subuh Itu, KH Umar Basri Tiba-tiba Menangis

08 Feb 2018 11:14:29
Jika Ingat Tragedi Subuh Itu, KH Umar Basri Tiba-tiba Menangis

CICALENGKA (Jurnalislam.com) – Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH. Umar Basri (Mama Santiong) saat ini sudah berada di rumahnya. Kiai Umar pulang pada Sabtu (3/2/2018) setelah dirawat di Rumah Sakit Al Islam Bandung selama 8 hari.

Kondisi fisiknya membaik. Memar di beberapa bagian wajahnya mulai menipis, tapi warna ungu bekas pukulan benda tumpul masih terlihat. Mata kirinya masih tertutup sedikit bengkak, enam giginya pun rontok. Namun secara psikis, Kyai Umar masih trauma berat.

Ditemui Jurnalislam.com di kediamannya pada Rabu (7/2/2018) malam, Kiai sepuh 74 tahun ini sesekali menangis ketika mengingat peristiwa memilukan subuh 27 Januari itu. “Bapa suka nangis kalau ingat, tapi kalau ngobrol yang lain mah enggak” kata Aceng Deding Junaedi, putra kedua Kiai Umar.

Tak hanya itu, Kyai Umar juga kerap terbangun tiba-tiba ketika tidur kemudian menangis. “Kalau ngigau mah enggak, tapi inimah tiba-tiba bangun aja terus nangis gitu,” tambah Dadang Iskandar kerabat Kiai Umar sembari memijit kaki Kiai.

Tangisan Kiai Umar ternyata bukan hanya karena peristiwa itu, yang lebih menyakitkan lagi bagi Kiai Umar adalah ia ingin segera shalat di masjid seperti sebelumnya. Tapi apa daya, kondisinya yang masih lemah mengharuskannya shalat di rumah dengan terlentang.

“Bapak sering nanyain, ‘jam berapa sekarang? Udah subuh belum? Bapa mau ke masjid,'” ungkap Aceng Deding menirukan perkataan ayahnya.

KH Umar Basri adalah ulama karismatik yang sangat dihormati di Kabupaten Bandung. Keikhlasannya dalam beramal sudah tak perlu diragukan lagi. Pondok pesantren Al Hidayah didirikan tahun 1936 oleh sang kakek itu tak pernah membebankan biaya kepada santrinya kecuali uang listrik Rp.15.000 per bulan.

Atas dasar itulah keluarga sangat yakin bahwa Kyai Umar tidak punya musuh. Keluarga telah ikhlas menerima peristiwa itu sebagai musibah yang harus diambil hikmahnya.

“Untuk masalah hukum dan sebagainya kami serahkan sepenuhnya kepada polisi. Nggak perlu ada tim pencari fakta atau apalah, ini semuanya murni musibah untuk keluarga kami,” tutup Aceng Deding.

KH Umar Basri menangis

 

KH Umar Basri dipapah ke kamar kecil
Kategori : Nasional

Tags : kh umar kiai umar basri penganiayaan ulama dianiaya

Catatan dari Asmat (3) : Suasana Malam hingga Jalanan dari Kayu

08 Feb 2018 07:50:52
Catatan dari Asmat (3) : Suasana Malam hingga Jalanan dari Kayu

PAPUA (Jurnalislam.com)–Jika malam tiba, ibu kota berangsur angsur sepi. Kecuali di Jalan Yos Sudarso. Jalan itu layaknya Kemang di Jakarta atau Malioboro di Yogyakarta. Warga lalu lalang untuk sekadar “cari angin”, “cuci mata” mencari makan malam atau sekadar jajan. Keramaian mulai reda dari jam sembilan ke atas.

Patut diperhatikan, hati-hati bila keluar malam di atas jam 21.00 WIT. Menurut penuturan warga setempat, di atas jam tersebut adalah jam rawan kejahatan. Apalagi untuk turis atau pendatang.

Damai, itulah gambaran suasana Agats malam hari. Biasanya, warga suka keluar ke jalanan di depan rumah untuk sekadar bercengkrama maupun tidur-tiduran menikmati malam. Bintang-bintang terlihat jelas, kebetulan malam ini langit sedang cerah.

Ada “Jalan Tol” di Agats

Aktifitas warga Agats, Kabupaten Asmat dihubungkan dengan jalan kayu selebar satu meter. Kita tidak akan menemui jalan beraspal di sini, kecuali jalan beton.

Catatan dari Asmat (1): Sulitnya Menembus Agats

Saat memasuki kota dari dermaga, akan terlihat jalan beton selebar empat meter. Bisa dibilang jalan ini adalah jalan protokolnya atau “Jalan Tol” kota Agats. Kendaraan roda dua biasa berlalu-lalang di sini.

Jalan beton dibangun di sepanjang Jalan Yos Sudarso. Jalan serupa juga mulai dibangun di distrik-distrik luar ibu kota dengan konstruksi beton dan komposit.

Pada 2017 lalu Pemkab Asmat mencanangkan jalan beton pada 11 titik dan dua titik jalan komposit di tiga distrik, yaitu Distrik Atsj, Fayit, dan Suator.

Catatan dari Asmat (2) : Agats, Kota di Atas Rawa

Jalan Yos Sudarso adalah pusat aktifitas warga ibu kota Agats. Sebagian gedung pemerintahan berdiri di sana, di antaranya Kantor Pelabuhan, Kantor Polsek, Bank, Rumah Sakit Daerah, Taman Baca. Pertokoan juga berdiri di sepanjang jalan itu.

Mereka menjual beragam barang, mulai dari pernak-pernik, pakaian, rumah makan, sayur-sayuran dan kebutuhan pangan lainnya. Warga juga banyak yang berdagang di pinggir jalan. Kebutuhan warga mayoritas disuplai dari Timika dan Merauke. Bersambung….

* Laporan Suandri Ansyah, anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) dari Asmat, Papua.

Kategori : Nasional

Tags : asmat jitu Kelaparan laporan Papua

Catatan dari Asmat (2) : Agats, Kota di Atas Rawa

08 Feb 2018 07:43:50
Catatan dari Asmat (2) : Agats, Kota di Atas Rawa

Oleh : Suandri Ansyah, Anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

PAPUA (Jurnalislam.com)— Pukul 14.40 WIT, Selasa (6/2/2018) speed boat yang mengantar relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan tim jurnalis tiba di Bandara Ewer. Kami pun segera berangkat ke Agats lewat Sungai Asewet. Perahu adalah sarana transportasi utama untuk mencapai kota. Perjalanan ke Dermaga Agats memakan waktu sekitar 20 menit. Sungai Asewet bermuara ke laut Arafura.

Aktifitas Dermaga Agats cukup ramai. Lalu lintas kapal kecil mondar-mandir di sekitar dermaga, mengangkut barang bawaan atau penumpang yang akan pergi dan datang dari Agats.

Anak-anak tengah asyik berenang saat kami tiba. Mereka tertawa dan berteriak-teriak. Terlebih saat saya mengarahkan kamera. Mereka berloncatan ke sana kemari, seakan ingin aksi “lompat indah” terbaiknya terabadikan di kamera saya.

Catatan dari Asmat (1): Sulitnya Menembus Agats

Di dalam kota, seluruh bangunan dibuat dengan desain panggung. Mulai dari rumah, pasar, pertokoan, kantor pemerintahan, hingga lapangan sepak bola. Bahan bangunan terbuat dari kayu. Di bawahnya air menggenang dan berlumpur.

Tanah yang kosong ditumbuhi rumput-rumput liar dan pohon mangrove. Sampah dan botol-botol bekas tak jarang menumpuk. Desain panggung dipilih untuk menghindari rendaman air jika laut pasang.

Air bersih sangat sulit di dapat di sini. Untuk kebutuhan sehari-hari warga memanfaatkan air hujan. Banyak warga memiliki tandon air berukuran besar yang dipasang di tempat-tempat strategis, ada yang di halaman, belakang rumah atau membuat tower. Hujan benar-benar sebuah berkah bagi kota ini.

Memasang selang di atap rumah dan mengalirkannya ke toren adalah salah satu cara memaksimalkan tampungan. Banyak warga memiliki lebih dari satu tandon, terutama penginapan dan fasilitas publik seperti masjid. Untuk kebutuhan minum dan masak, warga lebih memilih air mineral kemasan.

Catatan dari Asmat (3) : Suasana Malam hingga Jalanan dari Kayu

Di ibu kota, harga relatif bersaing dengan di luar Agats. Air kemasan 1,5 liter yang saya beli dihargai Rp 10.000. Sementara kebutuhan listrik sudah mengalir di sini, PLN punya kerja.

Profesi warga Agats terbilang beragam, kebanyakan nelayan. Ada juga tukang ojek, kuli panggul, tukang angkut, supir kapal, dan pedagang. Jasa penginapan juga tersedia di sini, termasuk calo-nya. (suandri/jurnalislam)

Kategori : Nasional

Tags : asmat catatan jitu jitu Kelaparan liputan asmat Papua

Catatan dari Asmat (1): Sulitnya Menembus Agats

08 Feb 2018 07:39:20
Catatan dari Asmat (1): Sulitnya Menembus Agats

Oleh: Suandri Ansyah, anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

PAPUA (Jurnalislam.com) – Selasa (6/2/2018) siang rombongan relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan jurnalis tiba di Bandara Ewer, Kabupaten Asmat, Papua. Rombongan berangkat dari bandara lama Mozes Kilangin, Timika.

Mozes Kilangin adalah bandara internasional milik PT Freeport Indonesia. Awalnya, bandara ini khusus perusahaan. Namun, pada 2013 peruntukannya diubah menjadi umum.

Salah seorang pekerja bandara bernama Atyh Wakum mengatakan, aktifitas bandara belakangan ini menjadi ramai semenjak kasus gizi buruk dan campak menguak ke media.

Rombongan terbang menggunakan pesawat Charter Twin Otter milik jasa penerbangan Airfast. Maksimal penumpang yang bisa diangkut 19 orang termasuk awak kokpit.

Pesawat take off pukul 12.00 WIT, kami dibawa terbang ke ketinggian 7500 kaki. Dari atas sana, landscape geografis Timika terlihat jelas. Kelok-kelok sungai berwarna kecoklatan membelah hijaunya hamparan kota Timika dan sekitarnya.

Untungnya, cuaca saat itu cerah berawan. Perjalanan kami lalui tanpa kendala berarti. Kecepatan pesawat 105 Knot. Di angkasa, sebagian jurnalis asyik mengambil pemandangan, sebagian berbincang-bincang.

Pukul 12.45 WIT kami mendarat di Bandara Ewer, Asmat. Bandaranya kecil, hanya ada satu landasan. Bandara ini dibangun di atas rawa, kontur tanahnya yang empuk membuat pesawat besar tak bisa mendarat di sini.

Rijal Juliawan, pilot yang membawa kami menuturkan, panjang landasan 600 meter dan saat ini sedang diperpanjang lagi menjadi 1.100 meter.

Dari kejauhan, bandara itu lebih mirip lapangan kosong dengan aspal melintang di tengahnya. Di sekelilingnya rumah-rumah panggung terbuat dari kayu, tepat di bawah rumah itu air menggenang.

Tak ada tower komunikasi laiknya bandara lainnya. Rijal menuturkan, pendaratan dilakukan dengan teknik pendaratan visual (pandangan mata).

Semenjak kasus gizi buruk dan campak mencuat, frekuensi penerbangannya ke Asmat bertambah. “Tadi pagi ada. Besok kita juga kesini lagi,” tuturnya. Hari ini, dirinya sudah dua kali ke Asmat. Ia paling sering terbang ke Ilaga.

Di bandara, kami melipir sejenak di sebuah warung makan dan satu-satunya warung. Mengisi tenaga untuk melanjutkan perjalanan ke Agats lewat jalur sungai.

Catatan dari Asmat (2) : Agats, Kota di Atas Rawa

Makanan yang disediakan hanya mi instan rebus maupun goreng. Sepesialnya, warung itu tersedia Wi-Fi. Jaringan komunikasi apalagi internet adalah sesuatu yang berharga di Asmat, selain air bersih.

Sebelumnya, kondisi cuaca yang tak menentu sempat membuat relawan dan tim jurnalis tertahan di Timika. Berdasar jadwal perjalanan, sedianya Senin (5/2/2018) pagi tim akan berlayar ke Asmat lewat pelabuhan Pomako.

Gelombang laut dan ombak tinggi menjadi kekhawatiran terbesar. Beberapa penyedia jasa transportasi baik laut atau udara yang dihubungi tim relawan belum ada yang diperbolehkan berangkat ke Asmat.

Ada dua skema perjalanan untuk sampai ke Agats. Pertama lewat Pelabuhan Pomako di Timika. Kedua lewat Bandara Ewer di Kabupaten Asmat. Skema pertama bisa menyewa perahu long boat dengan waktu tempuh 10 jam. Jika gelombang laut tinggi, urungkan perjalanan. Karena tidak ada kapal yang diperbolehkan berlayar.

Catatan dari Asmat (3) : Suasana Malam hingga Jalanan dari Kayu

Skema kedua, menyewa pesawat Charter dari Bandara Mozes Kilangin menuju Bandara Ewer. Waktu tempuhnya sekitar 45 menit. Konsekuensinya, daya angkut penumpang lebih sedikit. Tentu menyulitkan jika membawa banyak orang dan barang.

Dari Bandara Ewer dilanjutkan dengan speed boat menuju Darmaga Agats dengan waktu tempuh sekitar 20 menit melewati sungai Asewet. Jika membawa banyak orang, sewalah banyak perahu. [] /Suandri Ansah/ JITU

Kategori : Nasional

Tags : asmat jitu jurnalis muslim liputan asmat Papua

Sinergi Program Pembinaan, Korpus PII Wati Gelar Pertemuan dengan Kementerian PPPA

08 Feb 2018 07:26:14
Sinergi Program Pembinaan, Korpus PII Wati Gelar Pertemuan dengan Kementerian PPPA

JAKARTA (Jurnalislam.com)—Koordinator Pusat Badan Otonom (BO) PII Wati menggelar audiensi dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) di Jakarta, Rabu (7/2/2018).

Ketua Bidang Komunikasi Eksternal PII Wati, Roro Syariati Sani mengatakan bahwa selain mempererat kembali hubungan Korpus PII Wati dengan KPPPA, audiensi sekaligus mensinergiskan gerakan bersama dalam pembinaan pelajar putri dan anak.

Rombongan pengurus PII Wati ditemui Dra. Maydian Werdiastuti, M.Si selaku deputi Bidang Partisipasi Masyarakat. Dalam pertemuan itu, Pengurus PII Wati menyampaikan fokus organisasi terhadap pembinaan berbasis fitrah melalui gerakan sekolah perempuan. Pada ranah anak, Hilmia Syarif selaku bidang Pembinaan Anak menggulirkan gerakan lingkungan ranah anak (Gelira) yang sejalan dengan program Kota Layak Anak KPPPA.

Dra. Maydian menyambut baik pertemuan ini dan berharap program program kementerian terutama terkait isu-isu terkini tentang anak dapat disinergiskan dengan elemen masyarakat.

“Dimana anak saat ini dihadapkan pada kondisi lingkungan yang kurang kondusif bagi tumbuh kembangnya. Mulai dari pornografi, penggunaan internet yang berlebihan sampai ke kejahatan yang melibatkan anak sebagai pelaku maupun korban,” katanya.

“Tugas dan PR pembinaan perempuan dan anak sangat banya, perlu sinergi yang kuat antar lembaga dan kelompok masyarakat untuk sama-sama berperan dan saling memberi masukan”,tambahnya melalui sambungan via telepon kepada JurnalIslam.com.

Sementara itu, Ketua PII Wati, Haslinda Satar menyatakan komitmen lembaga untuk untuk menjadi mitra KPPPA dalam upaya-upaya yang sejalan dengan visi PII Wati yaitu Kesempurnaan Pendidikan dan Kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi perempuan dan anak.

Kategori : Muslimah Nasional

Tags : anak kementerian pppa pembinaan perempuan pii wati silaturahim sinergi

Navigasi pos

Pos-pos lama
Pos-pos baru
Dukung Kami

Opini

Demiliterisasi Gaza Atas Nama Investasi

Demiliterisasi Gaza Atas Nama Investasi

19 Apr 2026 22:06:24
FH UI dan Hilangnya Mahkota Laki-laki: Self Control yang Tumbang

FH UI dan Hilangnya Mahkota Laki-laki: Self Control yang Tumbang

18 Apr 2026 06:08:07
Pelecehan di FH UI: Saat Perintah Menundukkan Pandangan Diabaikan

Pelecehan di FH UI: Saat Perintah Menundukkan Pandangan Diabaikan

18 Apr 2026 06:06:05
Pelajar Kok Jadi Pengedar?

Pelajar Kok Jadi Pengedar?

18 Apr 2026 06:01:56

Internasional

Netanyahu Tegas Tolak Palestina Urus Gaza, Israel Ingin Kuasai Pascaperang

Netanyahu Tegas Tolak Palestina Urus Gaza, Israel Ingin Kuasai Pascaperang

5 Feb 2026 12:38:35
Israel Ungkap AS Berpotensi Serang Iran dalam 2 Bulan Mendatang

Israel Ungkap AS Berpotensi Serang Iran dalam 2 Bulan Mendatang

5 Feb 2026 12:37:07
Israel Terus Bujuk AS agar Serang Iran, Turki Peringatkan Bahaya Perang Regional

Israel Terus Bujuk AS agar Serang Iran, Turki Peringatkan Bahaya Perang Regional

5 Feb 2026 12:35:37
Tekanan AS Meningkat, Iran Melunak soal Nuklir dan Buka Negosiasi

Tekanan AS Meningkat, Iran Melunak soal Nuklir dan Buka Negosiasi

5 Feb 2026 12:33:24

jurnalislam.com

  • Iklan
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Dukung Kami

INFOGRAFIK

 
 
 
 

Alamat Redaksi

Boulevard Raya No 16 Blok A 1 No 16 Taman Cilegon Indah (TCI), Cilegon, Banten
+62 813-1029-0583

Info Iklan :
+62 821-2000-0527
marketing@jurnalislam.com

Kirim tulisan :
redaksi.jurnalislam@gmail.com
newsroom@jurnalislam.com

COPYRIGHT © 2026 JURNALISLAM.COM, ALL RIGHT RESERVED