Berita Terkini

GNPF Ulama Desak Aparat Lindungi Ulama

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama mendesak kepada penegak hukum untuk segera bertindak melindungi ulama dan membongkar jaringan penyerangan ulama.

“Penegak hukum harus memberikan penjagaan kepada ulama untuk menghindari serangan berikutnya,” kata Ketua GNPF Ulama, Yusuf Muhammad Martak saat konferensi pers di Tebet, Jaksel, Senin (12/3/2018).

Yusuf pun meminta seluruh laskar Islam bersiaga dan meningkatkan kewaspadaan mendampingi para ulama agar terhindar dari serangan orang gila yang menargetkan ulama.

“Laskar Islam harus membantu penegak hukum membongkar jaringan sindikat penyerangan terhadap ulama,” pungkasnya.

Pada kesempatan sama, organisasi yang sebelumnya bernama GNPF MUI diubah menjadi GNPF Ulama sekalian memperkenalkan kepengurusan baru. Dengan Ketua GNPF Yusuf Muhammad Martak menggantikan Ustaz Bachtiar Nasir.

Kontributor: Salman

Munarman Desak Presiden Segera Bebaskan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Direktur An-Nashr Institute Munarman mengatakan, satu-satunya cara untuk membebaskan Ustadz Abu adalah dengan amnesti atau abolisi.

“Harusnya Ustadz Abu itu langsung saja dibebaskan tanpa syarat. Bagi yang memiliki kewenangan memberi amnesti dan abolisi langsung saja diberikan,” katanya kepada Jurnalislam.com di Jakarta, Senin (12/3/2018)

Menurutnya, proses pembebasan Ustadz Abu tidak bisa dilakukan dengan grasi. Sebab, kata dia, proses pengajuannya harus melalui permohonan.

Munarman mengaku pihaknya dari dulu telah mendorong presiden untuk menggunakan kewenangannya mengeluarkan keputusan tentang amnesti dan abolisi kepada Ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

“Jalan keluar hukumnya begitu, kan katanya harus konstitusional. Jadi amnesti dan abolisi itu cara yang paling tepat,” pungkasnya.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir harus divonis 15 tahun penjara setelah dinyatakan bersalah atas kasus pelatihan militer di Jalin Janto Aceh. Namun kondisi kesehatan yang terus menurun membuat Ustadz sepuh yang kini berusia 79 tahun itu harus mendapat perawatan intensif.

Sebelumnya, sesepuh Ponpes Al Mukmin Ngruki itu ditahan di Lapas Pasir Putih Nusakambangan, Cilacap.

Kontributor: Salman

Partai Aceh Tolak Pemerintah Pusat Kelola Wakaf Aceh di Arab Saudi

ACEH (Jurnalislam.com)–Pemerintah pusat melalui rencana Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) RI disebut berencana terlibat dalam pengelolaan Tanah Waqaf Aceh (Baitul Asyi) di Arab Saudi.

Menyikapi hal tersebut, Partai Aceh dengan tegas menolak rencana pemerintah pusat terlibat karena sampai saat ini, pengelolaan wakaf Aceh yang dikelola nazhir tidak ada masalah.

“Partai Aceh (PA) menolak tegas rencana BPKH RI untuk mengambil alih pengelolaan Tanah Waqaf Aceh di Arab Saudi,” kata Juru Bicara Partai Aceh Syardani M. Syarif dalam keterangan tertulis yang diterima Jurnalislam.com.

Karenanya, Partai Aceh menegaskan akan terus berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan hak Rakyat Aceh tersebut.

“Meminta kepada Pemerintah RI agar tidak mengganggu aset milik Rakyat Aceh dimanapun berada,” pungkasnya.

 

Bulan Depan, GNPF Ulama Akan Gelar Kongres Umat Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama pada bulan April 2018 berencana menggelar Kongres Umat Islam. Banyak isu penting yang dibahas dalam kongres tersebut. Diantaranya isu-isu utama yang berkembang dalam tahun politik terkait dengan kepentingan umat Islam.

“Kongres digelar membahas isu penting dalam menyambut tahun politik. Termasuk soal pilkada dan pilpres 2019,” kata Ketua GNPF Ulama, Yusuf Muhammad Martak dalam konferensi pers yang digelar di Tebet, Jaksel, Senin (12/3/2018).

Selain isu tahun politik, GNPF Ulama juga akan membahas soal persatuan umat, hoaks yang menyerang umat Islam serta kasus kriminalisasi, dan anarkisme terhadap ulama.

“Soal kasus anarkisme cenderung terorganisasi dan sistematis seperti yang dikatakan pak Din Syamsudin,” ujarnya.

Yusuf menegaskan, GNPF Ulama di bawah kepemimpinannya akan terus menyuarakan aspirasi untuk membantu pemerintah menegakkan keadilan dan menjunjung tinggi hukum.

“Ini agar pemerintah dapat berjalan efektif sehingga tidak terpecah konsentrasinya dalam pembenahan bidang ekonomi,” pungkasnya.

Kontributor: Salman

Soal BPKH, Yusril : Kemanfaatkan Wakaf Tetaplah untuk Masyarakat Aceh

PAPUA (Jurnalislam.com)–Pemerintah Pusat melalui Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) disebut ingin teribat investasi dalam pengelolaan tanah wakah Aceh di Mekah.

Menanggapi hal tersebut, Pakah Hukum Tata Negara Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra mengatakan bahwa jika ikrar wakaf sedari awal hanya diperuntukkan untuk orang Aceh, maka niat muwakif (pewakaf) haruslah tetap berlaku sampai kapanpun.

“Artinya kemanfaatan tanah tsb tetaplah untuk kepentingan orang Aceh yang menunaikan ibadah haji dan ibadah – ibadah lainnya,” kata Yusril dalam keterangan tertulis kepada Jurnalislam.com, Senin (12/3/2018).

Ia mengatakan bahwa yang disebut masyarakat Aceh dapat digolongkan sebagai kesatuan masyarakat adat yang hingga kini keberadaannya masih ada sebagaimana dimaksud oleh UUD 1945

Menurut Yusril, pada waktu wakaf diikrarkan, kesultanan Aceh masih eksis, kemudian runtuh akibat perang dengan Belanda. RI kemudian berdiri dan wilayah Aceh menjadi bagian dari wilayah RI.

“ergantian kekuasaan politik di Aceh, dalam pandangan saya, tidaklah menggugurkan niat dan ikrar muwakif semenjak awal bahwa tanah yang diwakafkan adalah untuk kepentingan orang Aceh, terlepas dari kekuatan politik mana yang berkuasa di Aceh,” pungkasnya.

Keberadaan masyarakat Aceh sendiri, menurutnya sebagai kesatuan masyarakat hukum adat yang masih eksis, dituangkan dengan jelas baik dalam UU Tentang Nanggroe Aceh Darussalam maupun dalam UU Pemerintahan Aceh yang berlaku sekarang.

PBB Kecam Pembakaran Masjid, Rumah dan Toko Muslim di Sri Langka

SRI LANGKA (Jurnalislam.com) – PBB pada hari Ahad (11/3/2018) mengutuk serangkaian serangan anti-Muslim di Sri Lanka termasuk pembakaran masjid dan tempat usaha kaum Muslim.

Wakil Sekretaris Jenderal Urusan Politik Jeffrey Feltman mengatakan kepada pemerintah Sri Lanka bahwa orang-orang di balik kekerasan harus dibawa ke pengadilan.

Selama kunjungannya Feltman “mengutuk kerusakan hukum dan ketertiban dan serangan terhadap umat Islam dan harta benda mereka,” sebuah pernyataan PBB mengatakan.

Feltman, yang bertemu dengan para pemimpin Muslim setempat untuk menunjukkan solidaritas, “mendesak pelaksanaan komitmen pemerintah yang cepat dan penuh untuk membawa pelaku kekerasan dan perkataan kebencian ke pengadilan, untuk mengambil tindakan demi mencegahnya terjadi lagi, dan untuk menerapkan peraturan yang tidak diskriminatif terhadap hukum”.

Serangan kekerasan terhadap umat Islam menyapu distrik pusat Kandy selama sepekan terakhir.

Redam Kerusuhan di Negara Mayoritas Buddha, Ratusan Biksu Lawan Gerakan Anti Muslim

Kekerasan tersebut, yang dipicu oleh kematian seorang anggota Buddha Sinhala setelah perkelahian oleh sekelompok pria Muslim karena perselisihan lalu lintas, menyebabkan sedikitnya dua orang tewas dan masjid, puluhan rumah, dan took-toko dibakar atau dimusnahkan.

Puluhan orang terluka dalam kerusuhan tersebut.

Pihak berwenang menyatakan keadaan darurat dan memberlakukan jam malam untuk mengurangi kekerasan tersebut, namun Muslim Sri Lanka mengatakan kepada Al Jazeera bahwa mereka khawatir serangan tersebut akan berlanjut.

Polisi telah menangkap tersangka penghasut kerusuhan tersebut.

Kerusuhan Sri Langka: Kaum Muslim di Kandy Takut Warga Buddha Serang saat Shalat Jumat

Pada hari Sabtu, Presiden Maithripala Sirisena mengumumkan panel tiga anggota akan ditunjuk untuk menyelidiki dan mencabut jam malam. Namun, tentara tetap di jalanan.

Kekerasan tersebut telah menimbulkan kekhawatiran timbulnya ketidakstabilan di Sri Lanka, sebuah negara kepulauan Asia Selatan yang masih berjuang untuk pulih dari perang saudara etnis hampir tiga dekade.

Erdogan: Hai NATO, Kapan Anda Datang ke Suriah dan Berada di Pihak Kita?

ANKARA (Jurnalislam.com) – Erdogan pada hari Ahad (11/3/2018) mengatakan bahwa tentara Turki dan sekutu oposisi Suriah sekarang hanya barada empat sampai lima kilometer dari Afrin.

Presiden Turki mengatakan sejauh ini 950 kilometer persegi distrik tersebut telah dikuasai saat serangan militer. Operasi itu bukan untuk “menduduki” tapi “membebaskan”, katanya, lalu menyerahkannya kepada warga.

“Di wilayah Afrin, pemilik tanah sudah mulai kembali,” kata Erdogan, lansir Aljazeera.

Dalam sebuah pernyataan di hadapan Dewan Keamanan PBB pada hari Ahad dewan Kurdi yang memerintah Afrin menuntut tanggapan terhadap serangan Turki.

Kini Armada Perang Turki Berjarak 6 Km dari Kota Afrin

“Masyarakat internasional harus mendukung perlawanan warga Afrin dan menghentikan kebekuan terhadap serangan invasif,” katanya, meminta DK PBB untuk membangun zona larangan terbang di atas Afrin.

Erdogan juga mengecam NATO pada hari Ahad, menuduh aliansi militer Barat tersebut gagal mendukung operasi Turki.

“Hei NATO, mengingat apa yang telah terjadi di Suriah, kapan Anda akan datang dan berada di sisi kita?” Erdogan mengatakan dalam sambutannya kepada pendukung di Bolu, sebuah kota di sebelah timur Istanbul.

Warga Kurdi Siap jadi Tameng Hidup saat Turki Memasuki Kota Afrin

“Kami terus-menerus dilecehkan oleh kelompok-kelompok teror di perbatasan kami. Sayangnya, sampai saat ini, belum ada kata atau suara yang positif, apakah persahabatan ini adalah kesatuan NATO? Bukankah kami anggota NATO?”

YPG adalah sekutu penting Amerika dalam perang di Suriah dan operasi Turki tersebut meningkatkan ketegangan dengan kekuatan Amerika dan NATO di Eropa.

Ankara memandang YPG sebagai perpanjangan Partai Pekerja Kurdistan yang berbasis di Turki (PKK), dianggap sebagai organisasi “teroris” oleh Turki dan negara-negara lain.

Warga Kurdi Siap jadi Tameng Hidup saat Turki Memasuki Kota Afrin

SURIAH (Jurnalislam.com) – Warga Kurdi berencana untuk bertindak sebagai perisai manusia untuk melindungi kota Afrin di Suriah saat militer Turki dan pasukan sekutunya bersiap untuk merebut pusat kota yang dikuasai Kurdi.

Turki meluncurkan operasi lintas perbatasan pada 20 Januari dengan mengatakan bahwa hal itu diperlukan untuk melenyapkan milisi Kurdi yang dikenal sebagai Unit Perlindungan Rakyat (YPG), yang didukung oleh Amerika Serikat, yang dijadikan Turki sebagai ancaman.

Setelah beberapa pekan pertempuran, tentara Turki dan sekutu Free Syrian Army (FSA) sekarang berada di pinggiran kota Afrin dan siap untuk masuk. Sejumlah kota dan desa direbut dari YPG pada hari Ahad oleh militer Turki dan sekutunya di utara dan selatan distrik Kurdi.

Terdesak Armada Perang Turki, Pemimpin Teror Dukungan AS Kabur dari Afrin

“Kecepatan penyerangan mengejutkan semua orang,” kata Alan Fisher, Al Jazeera, melaporkan dari kota perbatasan Gaziantep, Ahad (11/3/2018). Dia menambahkan bahwa pendukung di Turki juga berencana untuk datang dan bertindak sebagai tameng manusia dalam upaya untuk mencegah serangan habis-habisan terhadap Afrin.

“Ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa mereka ingin membantu YPG melawan FSA dan Turki, dan karena itu mereka menawarkan diri sebagai perisai manusia – sebuah tawaran yang diterima oleh YPG. Dan bukan hanya orang-orang dari daerah Kurdi yang pergi ke sana. Kami juga mendengar laporan kelompok perempuan, kelompok sosialis yang juga menawarkan untuk menempatkan diri di antara FSA dan Turki dan YPG.

Selama 48 jam terakhir, kota Afrin dilaporkan telah ditargetkan oleh serangan udara Turki, pasokan air dan internet telah terputus.

Erdogan: Kami Berada di Afrin pada Hari Ini, Besok Kami Berada di Manbij

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Sabtu mengatakan pasukannya akan berada di dalam Afrin dalam hitungan hari, namun karena alasan kemanusiaan, mereka meluangkan waktu untuk merancang dan mencegah jatuhnya korban warga sipil.

Lebih dari satu juta orang sekarang berada di kota Afrin dan desa di sekitarnya setelah melarikan diri dari pertempuran tersebut, menurut kelompok pemantau the Syrian Observatory for Human Rights.

“Kami mendengar dari penduduk di dalam kota itu sendiri bahwa kebanyakan rumah menampung empat sampai lima keluarga karena banyak orang yang pindah ke kota karena serangan ini,” Fisher melaporkan.

Masjid di Berlin Dibakar Penyerang Bertopeng

JERMAN (Jurnalislam.com) – Sebuah Masjid di Berlin telah dibakar oleh penyerang bertopeng pada Ahad (11/3/2018) dini hari, lansir Aljazeera.

“Saksi mata mengatakan kepada kami bahwa tiga penyerang dengan wajah tertutup melemparkan bom molotov dan segera melarikan diri,” kata Bayram Turk, kepala asosiasi Masjid.

Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah masjid lain yang dikunjungi oleh masyarakat Turki di Jerman diserang pada hari Jumat.

Lagi, Sebuah Masjid di Florida Dibakar Akibat Kebencian Rasial

Pada hari Jumat, Masjid Aksemsettin – milik the Muslim-Turkish association Islamic Community National View (IGMG) – di kota Lauffen am Neckar juga diserang.

Jerman memiliki komunitas Turki berjumlah tiga juta. Banyak di antaranya adalah generasi kedua keturunan Turki yang lahir di Jerman yang kakek-neneknya pindah ke negara itu selama tahun 1960an.

Yerusalem: Masjid Al Aqsho Pernah Dibakar oleh Sekte Berbasis di AS

Dibantu Serangan Udara Brutal, Pasukan Rezim Assad Kepung Douma, 42 Tewas

GHOUTA TIMUR (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 42 orang telah terbunuh di Ghouta Timur Suriah saat pasukan pemerintah terus melakukan serangan udara brutal ke daerah kendali pejuang Suriah sambil terus bergerak mendekat ke pusat kota-kota.

Aktivis di Douma, salah satu pusat kota utama, mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Ahad (11/3/2018) bahwa jet-jet Suriah “tidak berhenti membom kota-kota di seluruh Ghouta.”

Televisi rezim Suriah mengklaim bahwa kota Mudeira telah dikuasai pada hari Ahad oleh tentara, yang sekarang dapat terhubung dengan unit-unit di sisi lain Ghouta Timur.

Pasukan rezim pemerintah sekarang mengepung Douma setelah merebut kota tetangga Mesraba, 10km di timur Damaskus, pada hari Sabtu, katanya.

Pasukan Rezim Assad Rebut Kota Terbesar di Ghouta Timur

Kemajuan pasukan rezim di Mudeira mendorong mereka masuk jauh ke dalam wilayah yang dikuasai oposisi, menyebabkan Douma dan Harasta terputus.

PBB memperkirakan ada 400.000 warga sipil yang terjebak di Ghouta Timur.

Aktivis Nour Adam mengatakan delapan orang warga tewas di Jobar, sebuah kota di sebelah timur ibukota Damaskus, dan 16 orang dari keluarga yang sama terbunuh dalam serangan terhadap Douma.

Beberapa oarng lainnya meninggal dalam serangan yang melanda kota-kota Harasta, Zamalka, dan Arbin, kata Adam.

Pada hari Sabtu, the Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), sebuah lembaga monitor perang yang berbasis di Inggris, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Ghouta Timur telah dibagi menjadi tiga bagian – Douma dan sekitarnya; Harasta di barat; dan sisa kota lainnya di selatan.

Serangan terbaru rezim Syiah Nushairiyah terhadap Ghouta Timur, yang dimulai pada 18 Februari, telah membunuh 1.099 warga sipil dalam 21 hari terakhir, SOHR melaporkan.

Angka tersebut mencakup 227 anak dan 145 wanita, sementara sedikitnya 4.378 lainnya luka-luka.

The Syrian Civil Defence, sebuah kelompok penyelamatan relawan yang juga dikenal sebagai the White Helmets, mengatakan pada hari Ahad bahwa sebuah serangan rezim Assad terhadap Arbin sehari sebelumnya menggunakan “klorin … fosfor.” Itu adalah serangan senjata kimia kedua yang diduga menyerang daerah pinggiran dalam hitungan hari.

Serangan pemerintah Suriah mengikuti pola serangan sebelumnya pada kubu oposisi, mengerahkan kekuatan udara besar dan pengepungan yang ketat untuk memaksa pejuang oposisi menerima kesepakatan “evakuasi.”

Terdesak Armada Perang Turki, Pemimpin Teror Dukungan AS Kabur dari Afrin

Kesepakatan ini meminta oposisi menyerahkan wilayah mereka dengan imbalan jalan yang aman ke daerah-daerah oposisi di barat laut Suriah, Idlib, bersama dengan keluarga mereka dan warga sipil lainnya yang tidak ingin kembali ke dalam pemerintahan Assad.

Alan Fisher dari Al Jazeera, melaporkan dari Gaziantep di sepanjang perbatasan di negara tetangga Turki, mengatakan pasukan Suriah yang didukung Rusia cenderung menggunakan kekuatan militer untuk mencoba dan mengamankan “keuntungan politik.”

“[Mereka melakukannya] dengan mengatakan kepada pejuang bahwa mungkin Anda harus pindah ke bagian lain Suriah,” kata Fisher.

Pada hari Jumat, sejumlah pejuang oposisi dan keluarga mereka dievakuasi dari Ghouta Timur, media rezim melaporkan.

Mereka yang dievakuasi ini termasuk oposisi dari Jaish al-Islam, salah satu kelompok oposisi utama di daerah tersebut, yang mengumumkan telah menyetujui pengungsian beberapa pejuang Hayet Tahrir al Sham.

Aktivis Ghouta: Rezim Syiah Assad Lakukan Semua Jenis Kejahatan yang Ada di Dunia

Wael Olwan, juru bicara kelompok oposisi Failaq al-Rahman, yang memiliki hubungan dengan the Free Syrian Army, pada hari Ahad membantah bahwa perundingan tersebut sedang berlangsung – meskipun pemerintah mengklaim bahwa pembicaraan dengan kelompok oposisi sedang berlangsung.

Daerah Ghouta Timur di pinggiran Damaskus telah berada di bawah kendali kelompok oposisi bersenjata sejak 2013 – dua tahun setelah sebuah gerakan rakyat Suriah menyerukan mundurnya Presiden Bashar al-Assad.

Sejak saat itu daerah tersebut berada di bawah pengepungan yang mencekik oleh pasukan rezim Assad dalam upaya mengusir oposisi.

Pertempuran terus-menerus di berbagai tempat, ditambah dengan serangan darat yang sengit dan serangan udara yang membabibuta, telah mencegah makanan dan persediaan medis yang sangat dibutuhkan sampai ke penduduk yang terjebak di dalamnya.