Berita Terkini

Militer Yahudi Persulit Perayaan Paskah di Yerusalem Bagi Kristen Gaza

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Tiga hari sebelum hari Jumat Agung bagi penganut Nasrani, Israel belum mengeluarkan izin bagi umat Kristen Gaza untuk melakukan perjalanan ke Yerusalem demi merayakan Paskah, kata pihak berwenang Gereja, lansir Aljazeera Selasa (27/3/2018).

Patriarkat Latin dari Yerusalem mengatakan, otoritas gereja telah mengajukan sekitar 600 izin bagi umat Kristen Palestina untuk melakukan perjalanan, tetapi belum menerima apapun.

Gaza berada di bawah blokade Israel dan akses keluar-masuk dibatasi ketat oleh militer Israel.

Otoritas militer yang dijalankan Israel yang beroperasi di Tepi Barat membela kebijakannya menolak para pemohon akses ke kota Yerusalem di Tepi Barat, dengan mengatakan bahwa mereka hanya akan mengeluarkan izin bagi orang yang berusia sedikitnya 55 tahun.

Rayakan Hari Raya Zionis, Ratusan Pemukim Yahudi Serbu Masjid al Aqsha

Pastor Ibrahim Shomali, kanselir dari Patriarkat Latin di Yerusalem, mengatakan bahwa umat Kristen seharusnya tidak perlu meminta izin.

“Kita harus memiliki akses gratis ke Tanah Suci, akses bebas ke tempat-tempat suci kita,” katanya di Gereja Makam Suci, yang dihormati sebagai tempat penyaliban dan kebangkitan kristus.

Tentu saja, kami mengajukan izin, tetapi seharusnya tidak perlu izin untuk datang mengunjungi tempat Anda sendiri.”

Para pemimpin gereja khawatir akan lebih banyak pembatasan dari biasanya tahun ini karena Paskah jatuh pada akhir pekan yang sama dengan dimulainya Passover, hari besar Yahudi dimana militer zionis meningkatkan keamanan.

Para pemimpin Kristen mengatakan keputusan Presiden AS Donald Trump pada bulan Desember untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel bisa memberatkan pembatasan otoritas Israel ke situs suci mereka.

“[Israel] akan menutup setiap pos pemeriksaan, dan akan lebih ketat daripada tahun lainnya karena proklamasi Trump dan efek yang kami dapatkan darinya, dan yang akan kami dapatkan,” kata Shomali.

Youssef Daher, dari Pusat Inter-Gereja Yerusalem, mengatakan keputusan Trump dapat menyebabkan tekanan Israel lebih lanjut pada otoritas Kristen, karena “mereka berpikir bahwa mereka memiliki kebebasan.”

Pada bulan Februari, para pemimpin Kristen mengambil keputusan langka untuk menutup Gereja Makam Suci selama tiga hari, sebagai protes terhadap kebijakan pajak baru Israel dan undang-undang pengambilalihan lahan yang diusulkan.

Gara-gara Pajak Israel, Para Pemimpin Gereja Tutup Gereja Paling Bersejarah di Dunia

Gaza memiliki 1.000 orang Kristen – sebagian besar dari mereka adalah Ortodoks Yunani – di antara populasi 2 juta orang di garis pantai yang sempit. Otoritas Ortodoks Yunani tidak tersedia untuk berkomentar pada hari Selasa.

Di Gaza, George Antone dari Patriarkat Latin mengatakan Israel mengizinkan hampir 570 orang Kristen keluar dari Gaza tahun lalu, dan berharap mereka akan berhasil lagi kali ini.

“Sejauh ini, belum ada tanggapan. Saya tidak akan kehilangan harapan tetapi saya akan sedih jika izin tidak didapat,” katanya.

Umat ​​Kristen Ortodoks merayakan Paskah sepekan kemudian, ketika orang Palestina dan peziarah dari seluruh dunia menghadiri upacara Api Kudus.

Mendekati Manbij, Operasi Militer Turki Kini Berlanjut ke Tal Rifaat

AZAZ (Jurnalislam.com) – Sejak milisi YPG di Suriah melarikan diri dari Afrin ke kota Tal Rifaat saat pasukan Turki dan Free Syrian Army membebaskan pusat kota Afrin pada 18 Maret, sebagai bagian dari Operation Olive Branch, Tal Rifaat menjadi perpanjangan alami dari operasi tersebut, Anadolu Agency melaporkan Senin (26/3/2018).

Setelah tanah mereka dibebaskan dari teroris, ratusan ribu warga Tal Rifaat akan memiliki kesempatan untuk kembali ke rumah mereka.

Turki meluncurkan Operation Olive Branch pada 20 Januari untuk membersihkan kelompok-kelompok teroris dari Afrin, Suriah barat laut, di saat ancaman dari kawasan itu meningkat.

Pada awal 2016, pasukan YPG bertujuan untuk menguasai daerah antara tepi timur Sungai Eufrat dan Afrin barat, untuk menghubungkan tanah yang sudah diambilnya.

YPG bergerak dari Afrin ke tenggara dan dari Manbij ke barat, mencoba menguasai Tal Rifaat dan Al-Bab dan menghubungkan wilayah-wilayah itu. Dengan demikian, YPG berusaha untuk mendapatkan dominasi di sepanjang perbatasan Suriah-Turki.

Milisi Dukungan AS akan Keluar dari Manbij, Menlu Turki: Tidak Cukup Hanya Itu

Menggunakan dukungan serangan udara intens Rusia pada saat hubungannya dengan Turki menegang, para milisi memiliki kesempatan untuk menyebar ke tenggara dari Afrin.

Kelompok teroris YPG meninggalkan Afrin dan dengan cepat menyerang Tal Rifaat dan desa-desa terdekat yang berada di bawah kendali oposisi.

Tal Rifaat memainkan peran sebagai jembatan untuk garis invasi yang dibentuk para teroris di utara.

Struktur administrasi teroris YPG di Suriah terdiri dari tiga “wilayah” dan enam “suku (canton).”

Kelompok teror menggambarkan struktur wilayah tersebut sebagai “Jazira (Hasakah dan Qamisli), Eufrat (Kobane dan Tal Abyad), dan Afrin (Afrin dan Shahba)”.

Mereka juga memberikan status khusus bagi Raqqah, yang masih terus mereka kendalikan.

Mereka menyebut garis yang membentang dari Tal Rifaat ke Manbij “Shahba Canton.”

Tetapi distrik Al-Bab antara Tal Rifaat dan Manbij terletak di dalam area yang dibebaskan oleh Operation Euphrates Shield Turki, sehingga mustahil bagi para teroris untuk menghubungkan Tal Rifaat dengan Manbij.

Operation Euphrates Shield dimulai pada Agustus 2016 dan berakhir pada akhir Maret 2017 untuk meningkatkan keamanan, mendukung pasukan koalisi, dan menghilangkan ancaman teror di sepanjang perbatasan Turki.

Merasa Kena Tipu di Suriah, Erdogan Kecam Amerika

Selama invasi Tal Rifaat, YPG memaksa sekitar 250.000 penduduk Arab keluar.

Penduduk lalu mencari perlindungan di Azaz, yang bersebelahan dengan daerah Euphrates Shield dan berada di bawah kendali oposisi.

Para teroris mulai mengakomodasi keluarga Kurdi di Tal Rifaat yang mereka bawa dari Afrin.

Saat ini, sekitar 15.000-20.000 suku Kurdi dan Arab tinggal di distrik tersebut, hanya 700-800 di antaranya adalah penduduk Arab Tal Rifaat.

Berbicara di Kongres Provinsi Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) pada hari Ahad, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan: “Insya Allah, kami akan mencapai tujuan operasi ini dengan mengambil alih Tal Rifaat dalam waktu singkat.”

Pada Sabtu, warga Suriah Tal Rifaat menggelar unjuk rasa untuk menuntut operasi militer Turki terhadap kelompok teroris YPG di kota itu.

Info grafik

14 Anggota Uni Eropa Serentak Usir Diplomat Rusia di Negaranya Masing-masing

LONDON (Jurnalislam.com) – Empat belas negara anggota UE telah mengusir puluhan diplomat Rusia dalam reaksi serempak pada hari Senin (26/3/2018), atas keracunan bekas mata-mata Rusia, Sergei Skripal dan putrinya, Yulia, di Inggris, lansir Anadolu Agency.

Sedikitnya 45 diplomat Rusia telah diusir di seluruh Eropa sejauh ini.

“Sebagai tindak lanjut langsung atas keputusan Dewan Eropa pekan lalu untuk bereaksi terhadap Rusia dalam kerangka umum, hingga hari ini sudah 14 negara anggota yang memutuskan untuk mengusir diplomat Rusia,” kata Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk, yang berada di Varna Bulgaria untuk KTT Uni Eropa-Turki (EU-Turkey Summit).

“Dewan Eropa setuju dengan penilaian pemerintah Inggris bahwa Federasi Rusia sangat mungkin bertanggung jawab dan tidak ada penjelasan alternatif lainnya yang masuk akal. Kami memutuskan untuk memanggil Duta Besar UE untuk Rusia untuk konsultasi,” tambahnya.

Jerman adalah salah satu negara pertama yang membuat pengumuman itu saat Menteri Luar Negeri, Heiko Maas, mengatakan Berlin telah “mengusir empat diplomat Rusia.”

Tanggapi Serangan Zat Beracun di Inggris, AS Usir 60 Diplomat Rusia dari Negaranya

Sebuah pernyataan Kementerian Luar Negeri Perancis juga mengatakan mereka telah “memberitahu pihak berwenang Rusia tentang keputusan kami untuk mengusir empat personel Rusia dengan status diplomatik dari wilayah Perancis, dalam waktu satu pekan.”

Polandia mengatakan mereka juga mengusir empat warga Rusia setelah deretan keracunan mantan mata-mata.

Denmark, Belanda, Latvia, Spanyol dan Italia mengatakan mereka masing-masing telah mengusir dua diplomat.

Lithuania dan Republik Ceko membuat pengumuman serupa setelah mengusir tiga diplomat. Sementara itu, Estonia, Kroasia, Finlandia dan Rumania mengatakan mereka telah meminta satu diplomat untuk pergi. Perdana Menteri Swedia Stefan Lofven kemudian mengatakan mereka juga akan mengusir seorang diplomat Rusia.

Ukraina, negara non-UE, bergabung dengan 14 negara lainnya dan mengusir 13 diplomat Rusia. Albania mengikuti dengan mengusir dua diplomat Rusia.

Tusk mengatakan bahwa “langkah-langkah tambahan, termasuk pengusiran lanjutan dalam kerangka kerja sama Uni Eropa ini akan dilanjutkan dalam beberapa hari dan pekan mendatang”.

Dukungan kuat dari negara-negara Uni Eropa, serta Ukraina, AS dan Kanada berdampak pada pertemuan Dewan Eropa yang diadakan di Brussels pekan ini.

Inggris Desak DK PBB Selidiki Serangan Zat Beracun pada Mantan Mata-mata Rusia

AS mengusir 60 diplomat yang menurut Washington bekerja sebagai perwira intelijen, dan memerintahkan penutupan konsulat Moskow di Seattle.

Selain itu, Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland mengatakan empat staf diplomatik kedutaan Rusia di ibukota Kanada, Ottawa, atau konsulat jenderal di Montreal akan diperintahkan keluar dari negara itu.

“Kami sepakat tentang pentingnya mengirim pesan kuat Eropa sebagai tanggapan atas tindakan Rusia,” Perdana Menteri Inggris, Theresa May, mengatakan kepada anggota parlemen di House of Commons pada hari Senin.

“Tanggapan internasional yang luar biasa saat ini oleh sekutu kami dicatat dalam sejarah sebagai pengusiran kolektif terbesar terhadap perwira intelijen Rusia yang pernah ada dan akan membantu membela keamanan bersama kami,” kata Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson, di Twitter.

“Rusia tidak dapat melanggar aturan internasional dengan impunitas,” tambahnya.

Tanggapi Serangan Zat Beracun di Inggris, AS Usir 60 Diplomat Rusia dari Negaranya

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Hari Senin (26/3/2018) AS membalas serangan kimia di Inggris yang dituduh dilakukan oleh Rusia dengan mengusir 60 diplomat yang menurut Washington bekerja sebagai perwira intelijen, dan memerintahkan penutupan konsulat Moskow di Seattle, Anadolu Agency melaporkan.

Mereka yang diusir termasuk 48 karyawan kedutaan dan 12 orang yang bekerja dalam misi Rusia untuk PBB, seorang pejabat administrasi senior menegaskan kepada wartawan dengan syarat anonimitas.

Mereka semua dituduh oleh pejabat bekerja sebagai perwira intelijen Rusia rahasia di bawah perlindungan diplomatik yang mereka terima karena jabatan mereka, dan seorang pejabat lain juga menyebut bahwa jumlah perwira intelijen Rusia di AS “jumlahnya sangat banyak.”

60 orang tersebut memiliki waktu tujuh hari untuk meninggalkan AS.

Konsulat Seattle ditutup karena letaknya yang berdekatan dengan pangkalan kapal selam AS, pejabat lain juga berbicara kepada wartawan dengan syarat tidak disebutkan namanya.

“Tindakan hari ini membuat Amerika Serikat lebih aman dengan mengurangi kemampuan Rusia untuk memata-matai Amerika dan melakukan operasi rahasia yang mengancam keamanan nasional Amerika,” kata juru bicara Gedung Putih, Sarah Huckabee Sanders, dalam sebuah pernyataan.

Inggris Desak DK PBB Selidiki Serangan Zat Beracun pada Mantan Mata-mata Rusia

Aksi-aksi tersebut adalah sebagian dari serangan terkuat dari pemerintahan Donald Trump hingga saat ini terhadap Rusia setelah Moskow dituduh melakukan serangkaian kegiatan untuk melemahkan Barat, termasuk dugaan campur tangan dalam pemilihan presiden AS 2016.

Baru-baru ini, mantan mata-mata Rusia, Sergei Skripal, 66 tahun, dan putrinya Yulia, 33 tahun, dirawat di rumah sakit pada 4 Maret setelah ditemukan tidak sadarkan diri di kota Salisbury, Inggris Selatan. Para pejabat Inggris telah menempatkan kesalahan kepada Rusia, tuduhan yang dengan tegas disangkal oleh Vladimir Putin.

London mengatakan serangan itu dilakukan menggunakan gas saraf Perang Dingin era Soviet yang disebut Novichok yang merupakan gas saraf terhebat ciptaan Soviet yang sangat mematikan.

Skripal diberikan perlindungan di Inggris setelah pertukaran mata-mata 2010 antara AS dan Rusia. Sebelum pertukaran, dia menjalani hukuman 13 tahun penjara karena membocorkan informasi kepada intelijen Inggris.

14 Anggota Uni Eropa Serentak Usir Diplomat Rusia di Negaranya Masing-masing

Pekan lalu, setelah KTT Uni Eropa di Brussels, Inggris, Jerman, dan Perancis menegaskan kembali bahwa Rusia bertanggung jawab atas gas saraf yang meracuni Skripal dan putrinya.

“Di luar perilaku destabilisasi Rusia di seluruh dunia, seperti partisipasi mereka dalam kekejaman di Suriah dan tindakan ilegal di Ukraina, mereka sekarang juga menggunakan senjata kimia terhadap salah satu sekutu terdekat kami,” duta besar AS untuk PBB, Nikki Haley, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Di sini, di New York, Rusia menggunakan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai tempat berlindung yang aman untuk kegiatan berbahaya mereka di dalam perbatasan kita sendiri. Saat ini, Amerika Serikat dan banyak teman-teman kami mengirimkan pesan yang jelas bahwa kita tidak akan diam saja menghadapi kesalahan Rusia,” tambahnya.

Pemerintah Kanada mengusir diplomat Rusia pada hari Senin demi melindungi “keamanan Kanada.”

Menteri Luar Negeri Kanada, Chrystia Freeland, mengatakan bahwa empat staf diplomatik di kedutaan Rusia di ibukota Kanada, Ottawa, atau di konsulat jenderal di Montreal akan diperintahkan keluar dari negara itu.

“Keempatnya telah diidentifikasi sebagai perwira intelijen atau individu yang telah menggunakan status diplomatik mereka untuk merusak keamanan Kanada atau ikut campur dalam demokrasi kami,” kata Freeland. “Langkah-langkah ini tidak ditujukan bagi seluruh warga Rusia, dimana Kanada memiliki hubungan yang panjang dan bermanfaat. Kanada tetap berkomitmen untuk berdialog dan bekerja sama dengan Rusia mengenai masalah-masalah yang kami hadapi bersama.”

Dia menambahkan bahwa pengusiran itu juga dilakukan untuk menunjukkan “solidaritas” dengan Inggris atas serangan gas saraf di Salisbury.

“Serangan gas saraf di Salisbury, di wilayah mitra dan sekutu Kanada, adalah tindakan keji, keji dan sembrono, dan berpotensi membahayakan kehidupan ratusan orang lainnya,” kata Freeland dalam sebuah pernyataan.

Permintaan Rusia untuk menambah tiga staf tambahan di Kanada ditolak, kata Freeland.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh AS dan Kanada adalah bagian dari upaya lebih luas dengan sekutu Eropa mereka yang mengusir puluhan diplomat Rusia sebagai reaksi serempak atas upaya meracuni Skripals.

Sedikitnya 43 diplomat Rusia telah diusir dari negara-negara anggota Uni Eropa.

“Sebagai tindak lanjut langsung atas keputusan Dewan Eropa pekan lalu untuk bereaksi terhadap Rusia dalam kerangka umum, hari ini 14 negara anggota telah memutuskan untuk mengusir diplomat Rusia,” kata Presiden Dewan Eropa Donald Tusk, yang berada di Varna, Bulgaria untuk KTT Uni Eropa -Turki (EU-Turkey Summit).

Dan 13 diplomat Rusia diusir Di Ukraina, sebuah negara yang bukan bagian dari Uni Eropa, tetapi telah menjadi titik pertikaian antara Rusia dan Barat sejak Rusia menganeksasi Semenanjung Krimea dan menopang pemberontak separatis di timur negara itu.

Soal Indonesia Bisa Bubar 2030, Ini Kata Sukmawati Sukarnoputri

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Anak Proklamator Republik Indonesia, Sukmawati Sukarnoputri angkat bicara soal pidato Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang mengatakan Indonesia akan bubar tahun 2030. Dirinya menyayangkan topik seperti itu dijadikan bahan orasi.

“Jangan mendoakan masa depan Bangsa Indonesia yang tidak baik,” katanya kepada Jurnalislam.com belum lama ini di Kantor PBNU Jalan Kramat Raya No. 164, Jakpus.

Menurutnya, orasinya seperti menyiapkan masa depan yang sangat tidak diharapkan untuk Indonesia.

“Harus lebih dipertimbangkan dan bijak untuk memilih topik orasi,” pungkasnya.

Sukma melanjutkan, semua warga negara pasti mempunyai visi dan misi yg dicita-citakan oleh para perintis kemerdekaan suatu Indonesia yang semakin kokoh dan maju.

Sebelumnya, dalam sebuah potongan video yang diunggah oleh akun Facebook resmi Partai Gerindra, Prabowo tampak berapi-api saat berpidato. Ia mengatakan sudah ada kajian di negara-negara lain yang menyatakan Indonesia akan bubar pada 2030.

Prabowo menilai hal itu bisa terjadi lantaran elite Indonesia saat ini tidak peduli meskipun 80 persen tanah di Indonesia dikuasai oleh 1 persen rakyat. Begitupun saat sebagian besar kekayaan Indonesia diambil di luar negeri.

Reporter : Gio

H Sudarno Hadi Terpilih Sebagai Ketua Dewan Dakwah Jatim Periode 2018 – 2023

MOJOKERTO (Jurnalislam.com) – Ustaz H. Sudarno Hadi terpilih sebagai ketua baru Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) Jawa Timur periode 2018-2023 menggantikan H. Tamat Anshory Ismail yang sudah berakhir masa baktinya.

Penyerahan tongkat estafet itu dilakukan pada forum Silaturahim Daerah (Silatda) DDII Jatim di Ponpes Islamic Centre ElKisi dusun Kemuning, desa Mojorejo, kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto (24 – 25/3/2018) bertepatan dengan tanggal 6 – 7 Rajab 1439 H.

Forum Silatda yg terdiri atas utusan DDII kabupaten/kota se-jatim, utusan DPP DDII, dan Muslimat DDII Jatim menunjuk 5 orang formateur yang bertugas menyusun kepengurusan. Setelah bermusyawarah, ke 5 orang formatur : Drs. Avit Sholihin MM (DPP), H Tamat Anhory Ismail (Ketua demisioner), KH Fathurrahman Fadhil (Ponpes ElKisi), H. Agus Iskandar (utusan Banyuwangi), dan H. Muhamnad ‘Alim ( utusan Magetan), secara aklamasi menetapkan H Sudarno Hadi sebagai Ketua, didampingi KH Fathurrahman Fadhil (Sekretaris) dan H Subagio Budiyanto (Bendahara). Selanjutnya dalam tempo maksimal 1 bulan formateur akan melengkapi susunan kepengurusan.

Sebagai nakhoda baru, Sudarno Hadi mengajak segenap eksponen DDII Jatim untuk bersinergi menjaga umat dan NKRI ” DDII akan senantiasa berkhidmat untuk Umat, menjaga aqidah dan beramal sosial dalam binkai Negara Kesatuan Republik Indonesia”, kata Sudarno dalam pidato iftitah Ketua Baru.

Semangat Sudarno, didukung pula oleh Sekjen DPP DDII, Drs H Avit Sholihin MM yang meminta DDII Jatim bisa menjadi perekat umat.

“Perbedaan, apalagi dalam hal furu’iyah tidak perlu dibesar-besarkan. Tapi kalau itu penyimpangan, maka DDII harus ikut meluruskan”, imbuh Sholihin yang mencontohkan organisasi Ahmadiyah sebagai penyimpangan karena berkeyakinan adanya Nabi baru setelah Nabi Muhammad SAW.

Menarik dalam forum Silatda kali ini adalah orasi Kebangsaan yang disampaikan oleh Prof. Yusril Ihza Mahendra (Ketua Umum Partai Bulan Bintang), partai yg salah satu deklaratornya adalah DDII.

Tepat dihadapan ribuan orang yang memadati gedung ElKisi, Yusril ‘mewanti- wanti’ agar kita hati-hati terhadap tenaga kerja asal Tiongkok yang masuk Indonesia adalah tentara.

“Tiongkok adalah negara yang menerapkan Wajib Militer bagi warganya. Jadi setiap warganya negaranya adalah orang-orang yang terlatih secara militer. Tinggal senjatanya saja masuk, maka bisa merepotkan kita semua”, tandas Yusril yang berperan sebagai Laksamana Cheng Ho di film serial yang pernah diputar di salah satu stasiun TV.

Hakim di Inggris Kutip Ayat al Quran untuk Nasehati Pengikut ISIS di Pengadilan

LONDON (Jurnalislam.com) – Seorang hakim Inggris menggunakan Ulama Islam dalam menghukum seorang remaja yang dihukum karena melakukan serangan bom terhadap kereta api di pusat kota London, lansir Aljazeera, Senin (26/3/2018).

Ahmed Hassan dijatuhi hukuman minimal 34 tahun penjara pada hari Jumat lalu atas serangan yang dilakukannya di stasiun Parsons Green pada September tahun lalu.

Alat peledak yang dia buat gagal meledak sepenuhnya dan tidak membunuh siapa pun kecuali menyebabkan sedikitnya 30 orang terluka.

Hargai Membom Mekkah 2.500 Point, Polisi Inggris Kejar Penyebar Selebaran Kebencian

Pada persidangan, Hakim Charles Haddon-Cave mengatakan simpatisan kelompok Islamic State (IS) berusia 18 tahun tersebut telah melakukan ‘hiraba’ (terorisme) dan menyebabkan ‘kerusakan’.

Ahmed Hassan

Kedua istilah ini digunakan dalam hukum Islam untuk menggambarkan tindakan pemberontakan dan sering digunakan oleh para da’i dalam konteks modern demi merujuk pada “ekstrimisme”.

“Anda akan memiliki banyak waktu untuk mempelajari Al-Quran di penjara di tahun-tahun mendatang,” kata Hakim Haddon-Cave dalam pidato penutupnya di persidangan Hassan.

Dia menambahkan: “Al-Qur’an dan Islam melarang sesuatu yang ekstrim, termasuk ekstremisme dalam agama. Islam melarang melanggar hukum wilayah di mana seseorang yang tinggal (mukim) atau sebagai tamu. Islam melarang terorisme.

Peduli Ghouta Timur, Warga London Gelar Aksi Unjuk Rasa Desak Inggris Lawan Rezim Assad

“Al-Qur’an dan Sunnah menyatakan bahwa kejahatan melakukan teror untuk ‘menyebabkan kerusakan di muka bumi adalah salah satu kejahatan paling berat dalam Islam “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi (Qs 2:11)”… begitu juga dalam hukum Kerajaan Inggris.”

Hassan tiba di Inggris sebagai pengungsi dari Irak berusia 16 tahun tiga tahun lalu.

Pada saat itu, ia mengaku sebagai yatim piatu yang diculik oleh kelompok IS.

 

7 Rudal Balistik Syiah Yaman Targetkan Ibukota Arab Saudi

RIYADH (Jurnalislam.com) – Pasukan Saudi mencegat tujuh rudal pemberontak Syiah Yaman pada hari Ahad, termasuk yang jatuh di ibukota Riyadh, lansir Al Arabiya News Channel, Senin (26/3/2018).

“Tindakan agresif dan penyerangan oleh kelompok pemberontak Syiah Houthi yang didukung Iran ini membuktikan bahwa rezim Iran terus mendukung kelompok bersenjata dengan kemampuan militer,” kata juru bicara Koalisi Arab, Turki al-Malki.

Koalisi Arab: Syiah Houthi Targetkan Arab Saudi dengan 95 Rudal Balistik

“Penembakan beberapa rudal balistik ke arah kota adalah perkembangan yang serius.”

Para saksi menegaskan ledakan keras dan kilatan terang di langit kepada Al Arabiya.

Diam-diam Arab Saudi Lakukan Ini dengan Pemberontak Syiah Houthi

Sebuah video yang dikirim ke Al Arabiya menunjukkan momen ketika rudal anti-pertahanan ditembakkan dari Saudi Patriot untuk mencegat rudal Houthi di atas ibu kota.

Sejak November, milisi Houthi yang diarahkan Iran telah menembakkan beberapa rudal ke Arab Saudi, yang semuanya dicegat oleh pasukan Saudi.

Lihat video disini: ara.tv/6yk6n

Ancam Zionis, Jubir al Qassam: Kami Siap Lawan Serangan Laut, Darat dan Udara Israel

PALESTINA (Jurnalislam.com)Brigade Izzudin al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, telah memperingatkan Israel agar tidak melakukan tindakan agresi terhadap rakyat Palestina, mengatakan akan “segera” membalas setiap tindakan agresi tersebut.

“Perlawanan Palestina siap untuk menghadapi setiap agresi Zionis terhadap rakyat atau tanah kami,” kata juru bicara Qassam Abu Ubaida dalam pidato yang disampaikan setelah latihan militer dua hari yang dilakukan di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas, lansir World Bulletin Senin (26/3/2018).

“Kami juga tidak akan ragu untuk membela orang-orang kami dan hak-hak mereka,” katanya.

Dia menambahkan: “Kami memperingatkan musuh [yaitu, zionis Yahudi] untuk tidak melakukan tindakan gegabah terhadap rakyat Palestina, yang akan membayar mahal.”

Brigade Izzuddin al Qassam Gelar Latihan Militer di Gaza

Abu Ubaida juga mengumumkan kesimpulan dari latihan militer ekstensif yang dimulai Ahad pagi (25/3/2018).

Dilakukan oleh Brigade Qassam, latihan dua hari itu dimaksudkan untuk menguji kesiapan tempur Brigade dan mempersiapkan serangan Israel secara serentak di Jalur Gaza, menurut Abu Ubaida.

“Latihan termasuk manuver yang ditujukan untuk melawan operasi pendaratan [Israel] dari udara, darat, dan laut,” katanya.

Ratusan mujahdin al Qassam telah dikerahkan di daerah kantong pantai yang terblokade.

Latihan militer tersebut terjadi hanya beberapa hari sebelum rencana aksi hari Jumat di mana para demonstran Gaza berencana untuk berkumpul secara massal di perbatasan timur sekitar 45 kilometer dengan Israel.

Senapan Sniper “Ghoul”, Senjata Produk Al Qassam yang Ditakuti Militer Israel

Acara “Great Return March” ini dimaksudkan untuk meningkatkan tekanan pada Israel untuk mencabut blokade satu dasawarsa atas Gaza dan menegaskan kembali hak Palestina untuk kembali ke rumah mereka di Palestina yang bersejarah.

Sejak 2007, Jalur Gaza telah menderita di bawah blokade Israel dan Mesir yang melumpuhkan yang telah menghancurkan perekonomian dan merampas komoditas pokok bagi sekitar 2 juta penduduknya.

Sudah 3 Tahun Konflik, Berikut Sejumlah Fakta Kunci Perang di Yaman

YAMAN (Jurnalislam.com) – Selama tiga tahun, Yaman, negara terpuruk di dunia Arab, karena dilanda perang antara pemberontak Syiah Houthi dan pendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Sekte Syiah Houthi dan pemerintah Yaman telah berjuang mati-matian sejak 2004, tetapi sebagian besar pertempuran terbatas hanya di kubu Houthi, provinsi Saada di Yaman utara yang miskin.

Pada September 2014, Houthi menguasai ibukota Yaman, Sanaa, dan melanjutkan maju ke arah selatan menuju kota terbesar kedua negara itu, Aden. Menanggapi kemajuan Houthi, sebuah koalisi negara-negara Arab meluncurkan operasi militer pada tahun 2015 untuk mengalahkan Houthi dan memulihkan pemerintahan Yaman.

Berikut adalah beberapa fakta kunci tentang perang kompleks Yama, lansir Aljazeera, Ahad (25/3/2018):

Banyaknya korban jiwa.

  • Pada 26 Maret 2018, sedikitnya 10.000 warga Yaman tewas akibat pertempuran itu, dengan lebih dari 40.000 korban jiwa secara keseluruhan.
  • Sulit untuk mendapatkan informasi akurat tentang jumlah korban tewas, tetapi Save The Children memperkirakan sedikitnya 50.000 anak meninggal pada tahun 2017, rata-rata 130 anak setiap hari.
  • Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia memperkirakan bahwa serangan udara koalisi pimpinan Saudi menyebabkan hampir dua pertiga dari kematian warga sipil yang dilaporkan, sementara Houthis dituduh menyebabkan korban sipil massal karena pengepungan mereka terhadap Taiz, kota terbesar ketiga Yaman.

Jutaan penduduk Yaman telah mengungsi.

  • Kantor PBB untuk koordinasi urusan kemanusiaan (office for the coordination of humanitarian affairs-OCHA) memperkirakan bahwa lebih dari 3 juta warga Yaman telah meninggalkan rumah mereka ke tempat lain di negara itu, dan 280.000 telah mencari suaka di negara lain, termasuk Djibouti dan Somalia. Seperti dilaporkan oleh Al Jazeera, warga Yaman yang mengungsi secara internal (masih di Yaman) sering harus menghadapi kekurangan makanan dan tempat berlindung yang tidak memadai. Warga Yaman yang belum melarikan diri juga banyak yang menderita, terutama mereka yang membutuhkan perawatan kesehatan.

Banyak negara asing terlibat dalam perang Yaman.

  • Pada 2015, Arab Saudi membentuk koalisi negara-negara Arab untuk mengalahkan pemeberontak Syiah Houthi di Yaman. Koalisi tersebut termasuk Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, Maroko, Yordania, Sudan dan Senegal. Beberapa dari negara-negara ini telah mengirim pasukan darat untuk bertempur di daratan Yaman, sementara yang lain hanya melakukan serangan udara.
  • Pemerintah Amerika Serikat secara teratur meluncurkan serangan udara menargetkan Al-Qaeda dan kelompok Islamic State (IS) di Yaman, dan baru-baru ini mengakui telah mengerahkan sejumlah kecil pasukan di lapangan. AS, bersama dengan kekuatan Barat lainnya seperti Inggris dan Perancis, juga memasok senjata dan intelijen bagi koalisi pimpinan Saudi.
  • Iran membantah telah mempersenjatai pemberontak Houthi, tetapi militer AS mengatakan telah menahan pengiriman senjata dari Iran ke Yaman Maret ini, menlaporkan itu adalah yang ketiga kalinya dalam dua bulan ini. Para pejabat Iran juga menyarankan agar mereka mengirim penasihat militer untuk mendukung Houthi.

Bentrokan di Yaman dipandang sebagai bagian dari “perang dingin” Arab Saudi dengan Iran.

  • Arab Saudi berbagi perbatasan yang panjang dan keropos dengan Yaman, dan Saudi takut melihat ekspansionisme Iran melalui dukungannya untuk kelompok bersenjata Syiah. Komentator di negara-negara Teluk Arab sering mengklaim bahwa Iran sekarang mengontrol empat ibukota Arab: Baghdad, Damaskus, Beirut dan Sanaa.
  • Di Suriah, oposisi yang didukung Saudi memerangi rezim Bashar al-Assad, yang didukung oleh Iran. Lebanon adalah arena konflik lain: Iran mensponsori Hizbullah, milisi Syiah dan gerakan politik, sementara Arab Saudi mendukung Sunni Future Movement.
  • Ketegangan antara Arab Saudi dan Iran meningkat lebih jauh awal tahun ini, ketika Arab Saudi mengeksekusi pemimpin Syiah Nimr al-Nimr dan demonstran Iran menyerang kedutaan Saudi di Teheran.

Perang Yaman jauh lebih kompleks daripada konflik Arab-Iran, Sunni-Syiah.

  • Yaman diperintah selama satu milenium oleh imam-imam Zaydi Syiah sampai tahun 1962, dan kaum Houthis didirikan sebagai gerakan revivalis Zaydi Syiah. Namun, Houthi tidak menyerukan pemulihan imam di Yaman, dan keluhan agama belum menjadi faktor utama dalam perang. Sebaliknya, tuntutan Houthi terutama bersifat ekonomi dan politik.
  • Pada 2013, Konferensi Dialog Nasional Yaman diluncurkan yang ditugaskan untuk menulis konstitusi baru dan menciptakan sistem politik federal. Tapi Houthi menarik diri dari proses dengan meninggalkan pemerintahan transisi Yaman di tempat. Hal-hal yang lebih meradang adalah kenyataan bahwa dua perwakilan Houthi dibunuh selama proses konferensi.
  • Keputusan pemerintah untuk mencabut subsidi bahan bakar pada Juli 2014 membuat marah masyarakat Yaman dan memicu protes jalanan besar-besaran oleh pendukung Houthi dan lainnya, yang menuntut pemerintah untuk mundur. Kaum Houthi mulai mengambil alih Sanaa pada bulan September, memaksa pemerintah untuk melarikan diri.
  • Kaum Houthi dibantu oleh mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, yang digulingkan oleh unjuk rasa pada tahun 2011, dan para pendukungnya.

Al-Qaeda dan IS.

  • Yaman telah lama menjadi rumah bagi al-Qaeda, dianggap sebagai salah satu cabang paling berbahaya dari organisasi itu. Namun kelompok bersenjata itu mampu memperluas jejaknya di Yaman di tengah kekacauan menyusul tersingkirnya Saleh pada tahun 2011, mengambil alih wilayah di Yaman selatan.
  • Sejak awal perang tahun lalu, al-Qaeda telah meluncurkan beberapa serangan terhadap pemberontak Houthi, yang dianggapnya sebagai musuh kaum muslim. Pada 2015, al-Qaeda mengambil alih Mukalla, ibukota provinsi dan kota terbesar kelima di Yaman. Namun, pada bulan April 2016, 2.000 tentara Yaman dan Uni Emirat didukung AS melancarkan serangan darat terhadap Mukalla dan mengusir Al-Qaeda dari kota.
  • IS mengumumkan pembentukan wilayah, atau negara, di Yaman pada bulan Desember 2014. Pada bulan Maret 2015, mereka mengklaim serangan pertamanya di Yaman: pemboman bunuh diri di dua masjid Sanaa yang digunakan oleh Muslim Zaydi Syiah, yang menewaskan lebih dari 140 orang.

Memberikan bantuan kepada warga sipil di Yaman sangat sulit.

  • Di Yaman, organisasi bantuan menghadapi kendala utama untuk membantu orang Yaman yang membutuhkan makanan, obat-obatan, dan hal-hal penting lainnya. Pengepungan Houthi terhadap beberapa wilayah kota Taiz telah mencegah masuknya pasokan medis yang sangat dibutuhkan.
  • Arab Saudi menekan kelompok-kelompok bantuan untuk meninggalkan daerah-daerah yang dikuasai pemberontak di Yaman, mengatakan bahwa pekerja bantuan menderita resiko tinggi. Pada Januari 2016, sebuah rumah sakit yang dioperasikan oleh Doctors Without Borders terkena roket, menewaskan empat orang. Sebuah pemboman yang dilakukan oleh koalisi pimpinan Saudi melukai sedikitnya enam orang di sebuah rumah sakit yang dikelola oleh Doctors Without Borders pada Oktober 2015.

    Ribuan Pasukan Yaman, UEA dan Amerika Serikat Bergabung Gempur Al Qaeda di Yaman