Berita Terkini

RPP Jaminan Produk Halal Diharap Bisa Segera Diteken Presiden

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Rancangan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Jaminan Produk Halal (JPH) yang belum juga ditandatangani berisi beberapa regulasi inti yang mendesak implementasi.

Kepala Pusat Registrasi dan Sertifikasi Halal Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Siti Aminah menyampaikan RPP diharapkan sah sebelum Oktober.

“Isinya antara lain tentang Kerja Sama dengan Kementerian dan Lembaga, Kerja Sama Internasional, Kerja Sama MUI, Tata Cara Registrasi dan Sertifikasi Halal, serta Lembaga Pemeriksa Halal dan Auditor Halal,” kata dia, Ahad (14/4).

Ia berharap RPP bisa diteken oleh Presiden sebelum Oktober karena 17 Oktober 2019 adalah Mandatory Halal untuk semua produk.

Bila semua elemen, termasuk regulasi sudah selesai, BPJPH akan mulai melakukan Layanan Sertifikasi Halal. Namun ia menolak menjelaskan lebih lanjut.

“Ditunggu saja ya, karena nanti kami ada launching,” kata Siti.

Selagi menunggu, BPJPH melakukan pertemuan dengan sejumlah pihak untuk mendorong pengesahan.

Sejumlah menteri telah ditemui termasuk Menteri Kesehatan, Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, Menteri Pertanian, Menteri PMK, dan Menteri Perekonomian. BPJPH juga telah bertemu dengan Wakil Presiden dibantu Staf khusus Wakil Presiden.

 

Solusi Syar’I Pemilu Demokrasi

Oleh : Irfan S Awwas*

(Jurnalislam.com)–Sistem demokrasi bukanlah berasal dari Islam, bahkan di dalamnya banyak yang menyelisihi syariat Islam, baik secara ideologi, dasar pemikiran maupun implementasinya.

Namun terkait dengan pemilu demokrasi di negeri-negeri muslim. Menurut Sheikh Yusuf Al Qardhawi, sistem demokrasi tidak semuanya jelek, ada juga yang baik.

“Substansi demokrasi tidak bertentangan dengan Islam,” kata beliau. Ia mencontohkan beberapa hal, sebagai pertimbangan untuk meyakinkan pemilih muslim.

Dalam demokrasi, kata beliau, proses pemilihan yang melibatkan banyak orang untuk mengangkat seorang kandidat yang berhak memimpin.

Tentu saja, masyarakat berhak memilih calon yang mereka sukai.

Begitupun Islam, menolak seseorang, bahkan menjadi imam shalat – apalagi jadi pemimpin negara, yang tidak disukai makmum di belakangnya.

Upaya setiap rakyat untuk meluruskan penguasa yang zalim, juga sejalan dengan Islam. Bahkan amar ma’ruf dan nahi munkar serta menyampaikan nasehat pada penguasa, adalah bagian dari ajaran Islam.

Pemilihan umum, termasuk adanya saksi, juga sejalan dengan Islam.

Karena itu, siapa saja yang tidak menggunakan hak pilihnya.

Sehingga kandidat pres/wapres yang mestinya layak dipilih menjadi kalah dan suara mayoritas jatuh kepada kandidat yang sebenar tidak layak.

Dan juga tidak disukai rakyat, berarti ia telah menyalahi perintah Allah untuk memberikan kesaksian pada saat dibutuhkan.

Sistem Pemilihan Pemimpin

Penetapan hukum serta pemilihan pemimpin berdasarkan suara mayoritas, juga tidak bertentangan dengan prinsip Islam.

Misalnya, sikap Umar bin Khathab terhadap para anggota musyawarah/ Syura.

Enam orang dari mereka ditunjuk Umar sebagai kandidat Khalifah, dan sekaligus memilih salah seorang diantara mereka ditunjuk menjadi Khalifah berdasarkan suara mayoritas.

Sementara mereka yang tidak terpilih harus tunduk dan patuh. Maka terpilihlah Utsman bin Affan sebagai Khalifah menggantikan Umar bin Khathab.

Contoh lain, adalah penggunaan pendapat jumhur ulama dalam masalah khilafiyah.

Tentu saja, suara mayoritas yang diambil, selama tidak bertentangan dengan syariat Islam secara tegas.

Juga kebebasan pers, kebebasan mengeluarkan pendapat, serta otoritas pengadilan merupakan sejumlah hal dalam sistem demokrasi yang sejalan dengan Islam.

Ada baiknya, kita memahami wejangan Syeikh Qardhawi ini dengan hati jernih, fikiran bersih, agar kita tidak mudah menyalahkan yang benar.

Atau sebaliknya, membenarkan yang salah, tanpa ilmu dan tanpa argumentasi akal sehat.  Wallahu a’lam bis shawab.

Jangan golput, pilih kandidat presiden dan wapres yang direkomendasikan ijtima’ ulama.

*Penulis adalah penulis buku, Ketua Lajnah Tanfiziah Majelis Mujahidin

Mucul Kasus Kecurangan Pemilu, KPU dan Aparat Diminta Profesional

SOLO (Jurnalislam.com)- Terkait fenomena kecurangan penyelenggaraan pemilu, baik ditingkat desa, kecamatan, provinsi, hingga diluar negeri,

Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) meminta kepada Panwaslu dan Polri untuk melakukan fungsinya secara profesional.

Sebelumnya, beredar viral penggrebekan sebuah lokasi di Selangor, Malaysia,

yang menemukan ribuan surat suara tercoblos pasangan capres Jokowi – Ma’ruf Amin dan salah satu caleg dari partai Nasdem.

“Kepada KPU, Panwaslu, Pemerintah, Aparat Keamanan tetap profesional dan menjaga netralitas,” katanya saat jumpa pers di Masjid Baitussalam Tipes, Solo, Ahad, (14/4/2019).

Endro juga meminta kepada pimpinan parpol bisa menjaga kondusifitas di tengah masyarakat.

“Kepada Pimpinan parpol agar tetap menciptakan iklim sejuk, kondusif dan aman disaat hari tenang, masa coblosan.

Bahkan hingga pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Endro menghimbau kepada seluruh elemen masyarakat agar ikut mensukseskan jalannya pemilu 17 april nanti secara adil dan aman.

“LUIS dan Elemen Muslim Solo Raya siap bekerjasama dengan pihak manapun untuk menjaga pemilu jurdil, aman dan nyaman,” tandasnya.

Suasana Pencoblosan di Pakistan Tampil Beda dengan Bazar bertema Nusantara

ISLAMAD (Jurnalislam.com) – Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Islamabad menggelar Pemungutan Surat Suara Pemilu 2019 di Tempat Pemungutan Suara Luar Negeri (TPSLN) 01 yang berada di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Islamabad pada Sabtu (13/04/2019).

Ketua PPLN Islamabad, Muladi Mughni menyatakan bahwa Pemilu 2019 tampil beda dengan adanya Pesta Demokrasi.

“Selain pemungutan suara, kami juga mengadakan Pesta Demokrasi, di sana ada Bazar Nusantara juga Panggung Gembira dengan penampilan-penampilan yang menarik dan pastinya tetap dengan budaya Indonesia,” katanya melalui pesan tertulis yang diterima Jurnalislam.com, Minggu (14/04/2019).

Sementara itu, Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPSLN) Islamabad, Amirah Dzatul Himmah, menyatakan bahwa acara pemungutan suara berjalan dengan lancar.

“Alhamdulillah lancar, total pemilih yang menggunakan hak suaranya sebanyak 212 Daftar Pemilih Tetap (DPT), 33 Daftar Pemilih Tambahan (DPTB), dan 1 Daftar Pemilih Khusus (DPK). Jadi, total surat suara yang tercoblos sebanyak 246 surat suara,” katanya usai pencoblosan.

Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk Pakistan, Iwan Suyudhie Amri menyampaikan bahwa adanya Pesta Demokrasi tersebut bisa mengobati rasa rindu terhadap Indonesia.

“Masyarakat Indonesia yang hadir dalam Pemilu kali ini bisa merasakan suasana Keindonesiaaan, di Bazar ada banyak makanan khas Indonesia dan di Panggung Gembira ini akan disuguhkan dengan penampilan-penampilan dari adik-adik mahasiswa di International Islamic Univeristy of Islamabad,” katanya saat sambutan.

Untuk diketahui, bahwa Pesta Demokrasi tersebut mengambil tema dengan nuansa Vintage.

“Sebenernya kami ada 2 pilihan tema, Nusantara dan Vintage. Tapi karena tema Nusantara sudah banyak dipakai kami ingin ada sesuatu yang berbeda namun substansi Nusantara masih ada,” tutur Amirah.

Sebanyak ratusan Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Pakistan hadir dan menikmati Pesa Demokrasi tersebut, baik yang berada di Islamabad, Rawalpindhi, Lahore dan berbagai daerah lainnya. (*adin)

Prabowo akan Kunjungi Para Tokoh Agama di Masa Tenang

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi menjelaskan agenda yang dilakukan oleh capres nomer urut 02 pada masa tenang Pemilu 2019. Keduanya memiliki agenda yang berbeda.

Koordinator Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi, Dahnil A Simanjuntak menjelaskan Prabowo akan menerima tamu di kediamannya di Hambalang. Kemudian, kata Dahnil, Prabowo juga akan sowan ke tokoh agama.

“Prabowo berkegiatan menerima beberapa tamu di Hambalang, dan Insya Allah berkunjung ke beberapa alim ulama,” kata Dahnil saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (14/4).

Sandiaga, kata Dahnil, bersama Nur Asia Uno akan bertolak ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umrah. “Insya Allah  Bang Sandi akan melaksanakan ibadah umrah bersama Istri.”

Masa tenang Pemilu 2019 dimulai sejak Ahad (14/4). Masa tenang berlangsung tiga hari, yakni Ahad, Senin (15/4) dan Selasa (16/4). Selama masa tenang, semua peserta pemilu tidak boleh lagi melakukan kegiatan kampanye apapun.

sumber: republika.co.id

 

Isi Masa Tenang, Jokowi dan Sandiaga Uno Sama-sama Umrah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Usai debat terakhir Pilpres 2019, Capres nomor urut 01  Joko Widodo (Jokowi) mengaku tak akan banyak berkegiatan saat masa tenang kampanye yang dimulai sejak tanggal 14 April hingga hari pemungutan suara Pemilu 2019, 17 April mendatang.

“(Masa) tenang ya tenang,” kata Jokowi usai debat Pilpres pamungkas yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Sabtu (13/4).

Saat ditanya apakah Jokowi akan melaksanakan ibadah umrah, mantan Gubernur DKI Jakarta itu tak mau berbicara gamblang.
Jokowi hanya tertawa ke arah awak media.

Sebelumnya, tersiar kabar capres petahana itu akan terbang ke Makkah, Arab Saudi, untuk menjalani umrah selama masa tenang.

Namun, saat ditanya Jokowi tak membantah atau membenarkan informasi tersebut.

Kabar Jokowi akan umrah itu justru dibenarkan Cawapres nomor urut 01 Ma’ruf Amin. Ma’ruf menyebut Jokowi akan kembali ke Indonesia dari umrah sebelum hari pemungutan suara Pemilu 2019 pada 17 April mendatang.

“Iya mau umrah, [kembali lagi] kalau enggak Senin (15/4), ya Selasa (16/4),” kata Ma’ruf.

Bukan hanya Jokowi, rival politiknya yakni Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno pun disebutkan melakukan ibadah umrah.

Saat diadang media setelah debat pamungkas yang berlangsung di Hotel Sultan, Jakarta, Sandiaga mengatakan dirinya sedang mengejar waktu ke Bandara.

“Aduh buru-buru, mau ke airport,” kata Sandiaga.

Debat terakhir Pilpres 2019 telah selesai digelar di Hotel Sultan yang mempertemukan dua paslon yakni Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Sabtu (13/4) malam.

sumber: cnnindonesia.com

Kutip Fatwa MUI, Ikadi: Jangan Pilih Pemimpin Inkar Janji Kampanye

JAKARTA (Jurnalislam.com)– Pengurus Pusat Ikatan Dai Indonesia (PP IKADI) menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk mengikuti pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) pada 17 April 2019.

Ikut memberikan suara di Pemilu 2019 artinya bakal mewujudkan Indonesia adil, makmur, dan bermartabat.

IKADI menekankan kepada masyarakat untuk tidak memilih pemimpin yang tidak melaksanakan janji kampanyenya.

IKADI mengeluarkan delapan poin sebagai rambu-rambu mengikuti Pemilu 2019.

Dilansir Republika, Ketua Umum PP IKADI, Prof KH Achmad Satori Ismail menuturkan, memilih pemimpin dalam Islam adalah kewajiban.

Di antara dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; Jika ada tiga orang bepergian, maka mereka wajib mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya (H.R Abu Dawud no. 2609, dan dishahihkan Syekh Albani dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir, no. 763),” kata dia.

Pemilu dalam perspektif Islam merupakan upaya memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi kriteria dan syarat ideal, bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan apirasi umat dan kepentingan bangsa.

“Ikut berperan aktif dalam menyukseskan pileg dan pilpres dan tidak golput, dengan menggunakan hak pilihnya secara bertanggung jawab demi terwujudnya negara Indonesia yang adil, makmur dan bermartabat, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” ucap dia.

Setidaknya, kata dia, ada sejumlah kriteria pemimpin yang wajib dipilih rakyatnya.

“Memperhatikan dan mengikuti keputusan: Ijtima’ Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Padang Panjang Sumatra Barat tahun 2009, di antaranya adalah wajib memilih pemimpin, dan di antara kriteria pemimpin yang wajib dipilih adalah memiliki sifat shiddiq (jujur dan benar).

Ijtima’ Komisi Fatwa MUI di Tegal Jawa Tengah tahun 2015, no. 9; Pemimpin publik yang tidak melaksanakan janji kampanyenya adalah berdosa, dan tidak boleh dipilih kembali,” kata dia.

Sumber : republika.co.id

Habib Rizieq Serukan Masyarakat Bermunajat di Masa Tenang

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Ketua Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif menuturkan bahwa Habib Rizieq Syihab mengajak masyarakat untuk bermunajat di masa tenang yang berlangsung sejak hari ini 14 April hingga 16 April 2019.

Habib Rizieq mengajak masyarakat untuk mendekatkan diri pada Allah.

“(HRS) Mengajak kita semua munajat, mendekatkan diri kepada Allah agar Allah menunjukkan kemenangan pada kita,” kata Slamet Maarif saat dikonfirmasi Ahad (14/4).

Menurut Slamet, Rizieq Syihab yang berada di Arab Saudi sudah menggunakan hak pilihnya. Slamet menambahkan, Rizieq juga memberikan sejumlah imbauan lain.

“Paling seruan untuk tidak golput, untuk penuhi TPS, seruan yang wajar lah,” kata Slamet.

Slamet menuturkan, selama pencoblosan di Arab Saudi, para relawan telah bekerja keras dalam melakukan pemantauan.

Selain itu, kata dia, antusiasme masyarakat di Arab Saudi juga sangat tinggi.

“Antusiasnya tinggi sampai kehabisan kertas suara. Sampai saat ini alhamdulillah berjalan dengan baik dan Insya Allah mudah-mudahan tetap terjaga. Tinggal kita tunggu penghitungan tanggal 17 April nanti,” ujar Slamet Maarif.

Pemilu RI sudah berlangsung di Arab Saudi. Warga Indonesia antusias mengikuti pemilihan umum 2019 dengan berbondong-bondong mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh, dan TPS di Arab Saudi, Jumat (12/4), waktu setempat.

sumber : republika.co.id

 

Tutup Debat Terakhir, Prabowo: Kami akan Jalankan Pakta Integritas Ijtima Ulama

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Debat pilpres ke-5 yang digelar Sabtu 13 April 2019, menandakan pula berakhirnya masa kampanye terbuka Pemilu 2019.

Untuk selanjutnya masuk masa tenang hingga 17 April mendatang.

Dalam pidato penutupan di debat tersebut, calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto pun menyampaikan terima kasih kepada seluruh pendukungnya selama masa kampanye. Antara lain para relawan dan partai pendukungnya.

“Kita mau selesai kampanye ini saya ingin ucapkan terima kasih kepada semua kelompok yang mendorong gerakan kami gerakan kebangkitan kebangkitan rakyat,” ujar Prabowo.

Dalam kesempatan itu, dia pun menegaskan jika terpilih menjadi presiden, akan menjalankan komitmen yang tertuang dalam ijtima ulama.

“Para ulama, kami akan hormati dan laksanakan pakta integritas yang kami tanda tangani bersama ijtima ulama,” tegasnya.

Dia pun berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukungnya dalam masa kampanye. Termasuk para ibu-ibu, buruh, guru honorer, tenaga medis, hingga guru honorer.

“Prabowo Sandi akan membela kalian,” ungkapnya.

sumber : viva.co.id

 

Amalan-amalan Sunnah di Bulan Sya’ban

(Jurnalislam.com)—Ada beberapa amalan yang dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah di bulan Sya’ban. Amalan tersebut adalah:

  1. Shaum di Bulan Sya’ban

Aisyah mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban ebulan penuh.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Aisyah mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ هِلَالِ شَعْبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ، ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ، عَدَّ ثَلَاثِينَ يَوْمًا، ثُمَّ صَامَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perhatian terhadap hilal bulan Sya’ban, tidak sebagaimana perhatian beliau terhadap bulan-bulan yang lain. Kemudian beliau berpuasa ketika melihat hilal Ramadhan. Jika hilal tidak kelihatan, beliau genapkan Sya’ban sampai 30 hari.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan sanad-nya disahihkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengatakan,

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلَّا شَعْبَانَ، وَيَصِلُ بِهِ رَمَضَانَ

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum pernah puasa satu bulan penuh selain Sya’ban, kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” (HR. An Nasa’i dan disahihkan Al Albani)

Hadis-hadis di atas merupakan dalil keutamaan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, melebihi puasa di bulan lainnya.

  

  1. Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban

Terdapat keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Pendapat ini berdasarkan hadis shahih dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibn Majah, At Thabrani, dan dishahihkan Al Albani).

Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

“…pendapat yang dipegangi mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Madzhab Hambali adalah meyakini adanya keutamaan malam nishfu Sya’ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para sahabat dan tabi’in…” (Majmu’ Fatawa, 23:123)

Ibn Rajab mengatakan, “Terkait malam nishfu Sya’ban, dulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya, mereka memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu…” (Lathaiful Ma’arif, Hal. 247).

 *Dadang/ dbs