Berita Terkini

Din Syamsuddin Heran Ada Kasus yang Begitu Cepat Diproses, Ada yang Dibiarkan

SOLO (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Pertimbangan MUI Prof. Din Syamsuddin meminta aparat kepolisian profesional dalam kasus, apalagi kasus yang melibatkan sekelompok orang.

Ia memebri contoh misalnya munculnya kasus Ustaz Bachtiar Nasir yang diduga ada kaitannya dengan hasil ijtima ulama 3 beberapa waktu yang lalu.

“Saya tidak membela bela orang bersalah, cuma prosesnya pun harus berkeadilan, saya mengetahui kasus yang dikenakan kepada UBN itu 2 tahun lalu, dan pengetahuan saya itu sudah clear dan buktinya nggak diungkit ungkit selama dua tahun,” katanya kepada Jurniscom di Masjid Sudalmiyah Rais UMS, Senin (13/5/2019).

“Kalau ada novum, bukti bukti baru ya boleh aja, cuma diungkitnya mungkin karena UBN mau mimpin perlawanan hasil Ijtima ulama,”

Mantan ketua PP Muhammadiyah tahun 2010-2015 ini membandingkan penanganan kasus UBN dengan kasus penghinaan terhadap Presiden Jokowi yang dilakukan remaja keturunan cina beberapa waktu yang lalu.

Ia mengaku heran mengapa ada kasus yang begitu cepat diproses, di sisi lain ada kasus yang tidak pernah diproses.

“Kita dukung penegakan hukum, nggak ada kita bela bela, saya juga tidak mengatakan saya pasang badan gitu, badan saya sudah kecil gini kok. Cuma jangan sampai penegak hukum itu tidak berkeadilan, maka hukum itu untuk keadilan, dan harus secara berkeadilan,” paparnya.

“Umpamanya ya banyak kasus kasus seperti penghinaan terhadap presiden kan ada, di youtube ada apa, itu ada yang tanya kepada saya kok tidak di proses ya, sudah dimaafkan katanya, seperti itu atau kasus kasus lain,” tandasnya.

BAZNAS Gelar Jambore Peternak Nusantara 2019 di Tawangmangu

TAWANGMANGU (Jurnalislam.com)– Lembaga Pemberdayaan Peternak Mustahik (LPPM) Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) mengadakan kegiataan Jambore Peternak Nusantara 2019. Kegiatan tersebut berlangsung selama 3 hari, Senin-Rabu,(13-15/5/2019) di The Lawu Park Tawangmangu, Karanganyar.

“Tujuannya adalah dua hal, pertama untuk sarana konsolidasi balai balai ternak yang ada di kita, kemudian juga dengan teman-teman HPDKI dan yang kedua adalah dalam rangka capacity building,” kata Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS Irfan Syauqi Beik kepada wartawan, Senin (13/5/2019).

“Salah satu kewajiban kita di BAZNAS ini adalah melakukan pendampingan dan penguatan terhadap mustahik (penerima manfaat zakat-red) yang kita bina supaya mereka juga selalu meningkat kemampuannya,” imbuhnya.

Dalam kegiatan Jambore Peternak Nusantara tersebut, para peternak mustahik diajarkan tentang produksi, manajemen budidaya perbibitan, pembiakan ternak, manajemen penggemukan ternak domba, manajemen pakan, dan manajemen kesehatan ternak.

“Karena salah satu hal penting ketika kita bicara pemberdayaan ekonomi didalamnya adalah peternak mustahik, yaitu bagaimana mereka bisa meningkat terus skil dan kapasitas produksi, sehingga mereka bisa dibekali dengan tren tren terbaru,” ungkapnya.

“Ilmu ilmu perkembangan terbaru yang diharapkan ini bisa memperkuat aspek produksi sehingga produksi yang kita harapkan bisa terus meningkat karena salah satu challenge kita adalah masih terletak pada kemampuan kita,” sambungnya.

Irfan berharap, dengan adanya pelatihan dan pendampingan terhadap para peternak mustahik tersebut, dalam satu tahun sudah bisa meningkatkan kesejahteraan dan menjadi peternak yang mandiri.

“Ini kita lakukan secara berkala kapasitasnya terus meningkat, maka kita harapkan nanti mereka bisa bertransformasi hari ini jadi perternak mustahik mungkin tahun depan bisa menjadi peternak muzzaki, jadi itu yang kita harapkan,” ujarnya.

Lebih lanjut Irfan mengatakan BAZNAS sudah memiliki 21 balai ternak binaan di seluruh Indonesia, dengan jumlah peternak sekitar 500 dan bantuan hewan ternak lebih dari 4000 ekor.

“Yang kita bantu hampir 500 peternak dengan jumlah hewan ternak kambing itu 3900 an ekor dan sapinya sekitar 110, jadi sudah cukup efisien yang kita bantu,” ucapnya.

“Satu peternak punya sekitar 9 kambing, per peternak sekitar 21 juta kali 500, itu bentuk intervensi dana yang sudah kita keluarkan dan itu kemudian konsolidasikan di 21 balai ternak yang kita miliki,” tandasnya.

Dalam Jambore Peternak Nusantara 2019 tersebut LPPM BAZNAS fokus mengundang para peternak kambing dan domba, peserta yang berjumlah 77 diantarnya dari Jateng, Jabar, Banten, Yogyakarta, Kalimantan Timur, Lampung, dan Nusa Tenggara Barat.

Desak Jokowi Bicara Soal Kematian Petugas Pemilu, Din Syamsuddin: Mulailah Dari Keprihatinan

SOLO (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof. Din Syamsuddin mendesak pemerintah untuk bersikap atas kematian ratusan petugas pemilu 2019. Ia menyayangkan sikap presiden Jokowi yang masih diam dalam kasus ini.

Ia menyebut, kematian lebih dari 500 orang tersebut sebagai tragedi kemanusiaan pemilu Indonesia.

“Saya belum membaca belum mendengar ada secuil ungkapan keprihatinan, presiden Jokowi dan jajarannya harus buka suara, kalau sampai diam itu membuka peluang bagi kecurigaan, beliau harus berbicara, mulailah dari keprihatinan, mulailah dari penyatunan,” katanya kepada Jurnalislam.com di Masjid Sudalmiyah Rais, senin, (13/5/2019).

“Dan ini jadi isu nasional, ya bentuklah TGPF apa alasan tidak mau, kecuali untuk menutup-nutupi kesalahan. Kenapa tidak mau diautopsi, apalagi kalau keluarganya menyetujui, ini tabayun, verifikasi, klarifikasi,” imbuhnya.

Lebih lanjut, kata Din, apabila KPU tidak memperbolehkan diusutnya kasus kematian petugas pemilu tersebut, maka akan membuat masyarakat curiga terhadap KPU.

“Tidak mungkin ya kok seorang komisioner mengatakan mengapa ya kasus kematian ini dipersoalkan, ini membuka peluang dan kecurigaan orang berkata demikian itu,” katanya.

“Biasanya secara psikologis orang yang bersalah, jadi banyak ungkapan ungkapan yang justru membuka kecurigaan yang sebenarnya ada yang menduga seperti itu, bukan tidak mungkin kejadian yang biasa,” imbuh Din.

Investigasi Kematian Petugas Pemilu, Din Syamsuddin Bentuk AMPTKP

SOLO (Jurnalislam.com) – Menanggapi banyaknya petugas pemilu yang meninggal saat bertugas, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Din Syamsuddin mengaku telah membentuk tim yang akan membantu menginvestigasi kasus tersebut. Tim tersebut dinamakan Aliansi Masyarakat Peduli Tragedi Kemanusiaan Pemilu 2019 (AMPTKP).

“Masalah takdir kematian iya, tapi mengapa takdir itu datang menjemput, ada bagian dari ulah manusia, oleh karena itu gerakan yang saya bentuk dan saya ketua pengarahnya yaitu Aliansi Masyarakat Peduli Tragedi Kemanusiaan Pemilu 2019, (AMPTKP) ini didukung oleh banyak pihak, pers juga banyak, dokter, pengacara dan profesi profesi lain,” katanya kepada jurniscom di Masjid Sudalmiyah Rais UMS senin, (13/5/2019).

“Yang merupakan juga tragedi kemanusiaan yang terjadi secara beruntun dalam jumlah banyak, maka masif dan tragis, beruntun masif dan tragis, tragisnya adalah, seolah olah kita menganggap biasa,” imbuhnya.

Din juga mendesak pihak pemerintahan serius dalam menangani kasus kematian tersebut, rencananya, katanya, pihaknya akan mendatangi DPR untuk memberi masukan dalam kasus ini.

“Kalau besok jam 1 kita diterima oleh pihak DPR RI, kami mendesakkan segera investigasi secara tuntas untuk mengungkap apa penyebabnya dan untuk itu perlu dibentuk gabungan tim pencari fakta (TGPF),” katanya.

“Dengan melibatkan warga masyarakat, alhamdulillah kami sekarang mendapatkan mandat dari keluarga korban,” tandasnya.

Watim MUI Desak Pemerintah Bersikap Tegas Terkait Kematian Ratusan Petugas Pemilu 2019

Akibat Percikan Petasan, Pabrik Karpet di Tasikmalaya Terbakar

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Sebuah bangunan pabrik karpet terbakar akibat percikan api petasan yang dimainkan anak kecil di Kampung Cibodas, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, Senin (13/5/2019).

Dilansir Kompas.com Seluruh isi pabrik hangus terbakar karena saat kejadian sedang tidak ada pegawai dan api mudah menjalar ke seluruh bangunan tersebut.

“Saya sedang ke rumah sakit dan pabrik ditinggalkan saat kejadian. Kata tetangga tadi kebakaran terjadi sesudah ada anak kecil yang menyalakan petasan, dan apinya terpercik ke pabrik,” jelas Harun (50), pemilik pabrik saat dimintai keterangan di lokasi kejadian, Senin petang.

Ditambahkan Harun, dirinya diberitahu oleh tetangga bahwa pabrik terbakar sekitar pukul 11.30 WIB siang tadi. Saat tiba di lokasi, dirinya melihat api sudah menjalar hebat di bagian dalam dan atap bangunan.

Harun pun langsung menghubungi petugas pemadam kebakaran, sembari berupaya memadamkan api bersama warga setempat.

“Rumah itu dipakai untuk pabrik dan gudang karpet, sekarang ya habis semua,” tambah Harun.

Akibat kebakaran tersebut, kata Harun, dirinya mengalami kerugian sebesar Rp 70 juta. Soalnya, stok karpet buat musim Lebaran tersebut baru selesai dikerjakan dan rencananya akan dipasarkan. Beruntung saat kejadian tak ada pegawai dan tak menyebabkan korban jiwa.

Sementara itu, Manajer Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) Badan Pengendalian Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya, Harisman menyatakan, api baru bisa dipadamkan di pabrik karpet itu sekitar pukul 14.00 WIB.

Pihaknya mengerahkan sebanyak tiga unit mobil pemadam kebakaran ke lokasi kejadian. Api sempat membesar karena material di pabrik mudah terbakar dan kondisi angin yang tak menentu.

“Setelah tiba di lokasi, petugas melakukan pemadaman secara menyeluruh dilanjutkan dengan pendinginan,” ungkap Harisman.

Sesuai informasi di lokasi kejadian, kebakaran diduga akibat percikan petasan yang dimainkan anak-anak sebelumnya di sekitar lokasi kejadian. Percikan api petasan diduga menyulut karpet di gudang tersebut yang mudah terbakar.

“Diduga kebakaran terjadi akibat sambaran petasan,” pungkasnya.

Sumber: Kompas.com

Jaga Kekhusyuan Ramadhan, MUI Pantau Program Televisi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komisi Informasi dan Komunikasi (Infokom) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar pantauan program tayangan lembaga penyiaran (LP) televisi selama Ramadan 1440 H/ 2019.

Ketua Komisi Infokom MUI Asrori S Karni mengatakan, pemantauan ini merupakan agenda kerja rutin tahunan. Pemantauan Media sebagai salah satu upaya mendukung lembaga penyiaran dalam mewujudkan siaran yang mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara.

“Program ini upaya MUI mengawasi penyelenggaraan penyiaran selama Ramadan apakah konten bertentangan dengan regulasi, norma agama dan sosial masyarakat,” kata Asrori dalam keterangan tertulis yang diterima Jurnalislam.com, Senin (13/5/2019).

Asrori menjelaskan, pemantauan ini bertujuan mencegah program televisi yang bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan dan  bohong, menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang, mempertentangkan suku, agama, ras, dan antargolongan, memperolokkan, merendahkan, melecehkan dan/atau mengabaikan nilai-nilai agama, martabat manusia Indonesia, atau merusak hubungan internasional.

Dia menjelaskan, di antara panduan normatif pemantauan adalah Undang-Undang No 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, dan Pedoman Perilaku Penyiaran, dan Standar Program Siaran (P3SPS), serta Fatwa MUI No 287 Tahun 2001 Tentang Pornografi dan Porno Aksi.

Asrori mengatakan, dengan adanya pemantauan ini, maka diharapkan televisi nasional mendukung terciptanya suasana khusyuk bagi umat Islam menjalankan ibadah selama Ramadan.

“Tentu kita ingin bersama-sama menghadirkan tayangan mendidik, yang tidak sekadar tontonan tetapi sekaligus menjadi tuntunan, dan mendukung kualitas beribadah kita lebih baik,” tambahnya.

Sekretaris Komisi Infokom MUI Edy Kuscahyanto mengatakan, pemantauan melibatkan perwakilan sejumlah komisi MUI yaitu Komisi Infokom, Komisi Fatwa, Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat, dan Komisi Pendidikan dan Kaderisasi, serta Komisi Pengkajian dan Penelitian. Pantauan dilakukan terhadap 16 stasiun televisi nasional dan lima stasiun televisi daerah.

Edy menjelaskan, batas waktu pemantauan dibagi menjadi dua tahap yaitu pekan pertama Ramadhan dan tahap kedua bulan puasa. “Tahap pertama sudah kita mulai sejak Ahad pada program tayangan sahur masing-masing televisi,” kata dia.

Dia juga mengatakan, pantauan fokus pada prime time, sebelum dan sesudah berbuka (17.00-20.00) dan sebelum dan sesudah sahur (03.00-05.00). Pihaknya juga membuka kesempatan masyarakat berpartisipasi dalam melakukan pemantauan dan mengirimkan hasil  melalui aduantv@mui.or.id.

“Hasil pantauan akan kita publikasikan melalui media,” kata dia.

Peringati 70 tahun Kerja Sama, Anies dan Dubes Inggris Tanam Pohon

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan bersama Duta Besar Inggris Raya untuk Indonesia Moazzam Malik menanam pohon Kembang Sepatu Desa di halaman Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (13/5/2019).

Kegiatan yang dilakukan dalam rangka memperingati 70 tahun kerja sama bilateral Indonesia-Inggris ini, dihadiri juga oleh perwakilan dari keluarga Proklamator RI yaitu Meutia Farida Hatta Swasono, Duta Besar Jepang untuk Republik Indonesia Masafumi Ishii, dan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph R. Donovan Jr.

“Ini merupakan salah satu kehormatan bagi kami di Jakarta, sebuah peringatan hubungan bilateral antara UK dan Indonesia. Yang terpenting bagi kita adalah 70 tahun perjalanan adalah perjalanan penuh kenangan dan pencapaian,” katanya melalui akun instagram pribadinya @aniesbaswedan, Senin (13/5/2019).

Anies menuturkan pemilihan tempat peringatan hubungan bilateral kedua negara sangat relevan karena kawasan Menteng merupakan salah satu daerah yang paling banyak dengan peristiwa bersejarah bagi Indonesia modern.

“Salah satunya adalah pohon yang kita tanam bersama-sama. Kita itu menanam kembali pohon itu karena sebelumnya telah ditanam pada 1937. Kami insya Allah akan memperhatikan tanaman ini, sehingga akan bertahan bukan hanya 70 tahun tapi juga beratus tahun yang akan datang,” ujar Anies lebih lanjut.

Anies memaknai penanaman pohon lebih dari sekadar tanda hubungan kuat Indonesia dengan Kerajaan Inggris, tetapi yang tidak kalah penting adalah bagian dari kampanye untuk mengembalikan wajah Jakarta lebih hijau.

Pohon Kembang Sepatu Dea diharapkan mampu memperlihatkan hubungan baik Inggris – Indonesia karena bunga yang tumbuh akan berwarna merah sesuai dengan salah satu unsur warna dari bendera kedua negara.

Selain kegiatan menanam pohon, peringatan 70 Tahun Kerjasama Bilateral Inggris – Indonesia ditandai pula dengan pembukaan pameran sejarah hubungan kedua negara di Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Perlu diketahui, pada tanggal yang sama 82 tahun yang lalu (12 Mei 1937), sebuah pohon telah ditanam oleh Inggris Raya di gedung Museum Perumusan Naskah Proklamasi dalam rangka pengangkatan Raja George VI.

Pohon tersebut kemudian menjadi salah satu simbol untuk persahabatan antara Indonesia dan Inggris di depan bangunan yang digunakan sebagai kediaman untuk perwakilan dari Inggris.

“Kami berharap ke depan, akan banyak kesempatan untuk bekerja sama dan akan memperkuat tidak hanya antar pemerintahnya, tapi juga hubungan antar warga kedua negara,” kata Anies.

Bersama 500 Penghafal Al-Qur’an, Indonesia Murojaah Tarawih 5 Juz

TANGERANG (Jurnalislam.com) – Memasuki hari ke-8 Ramadhan, saatnya semakin memaksimalkan hati dan jiwa dalam beribadah di bulan yang penuh kemuliaan ini.

Termasuk para penghafal Al-Quran, semangat mereka untuk menghafal ataupun memurojaah hafalannya sangat tinggi.

Indonesia Murojaah telah menghadirkan program Tarawih Murojaah pada Ramadhan 1440 H kali ini. Tarawih Murojaah adalah program tarawih bagi penghafal Al-Quran 30 juz.

Tarawih Murojaah ini dipusatkan di Masjid An-Nahl, yang beralamatkan di Ruko Horizon Broadway Blom M5 No. 3, The Icon BSD City, Kelurahan Sampora, Kecamatan Cisauk, Tangerang.

Seluruh peserta di setiap malamnya melaksanakan sholat tarawih lima juz dipimpin oleh Hafizh juara dunia yang memiliki hafalan mutqin dan suara yang merdu.

KH. Deden Muhammad Makhyaruddin, selaku founder Indonesia Murojaah berkata, “program ini bertujuan untuk memutqinkan hafalan para penghafal Quran secara bacaan, pemahaman dan pengamalan, seluruh peserta tarawih murojaah menyetorkan hafalannya langsung kepada huffazh juara dunia dan akan kembali disetorkan langsung dihadapan Allah SWT dalam sholat tarawih lima juz dalam setiap malamnya”.

Antusias para penghafal Al Quran begitu luar biasa, tercatat 1000 penghafal Al-Quran yang terdaftar untuk mengikuti program Tarawih Murojaah. Akan tetapi hanya terpilih 500 penghafal Quran yang datang dari berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke.

Ahmad Deni Daruri, selaku pembina Indonesia Murojaah berkata, “seluruh peserta akan mendapatkan sertifikat dan diwisuda oleh Indonesia Murojaah, dan akan ada pemberian hadiah istimewa kepada peserta terbaik berupa umroh”.

Tak hanya tarawih murojaah, mereka juga beri’tikaf selama program ini. Salah satu kegiatan rutinnya yaitu setoran murojaah kepada para muhafizh dan muhafizah juara dunia serta teman murojaah.

Diisukan Melarikan Diri, Kivlan Zen: “Beli Tiket Pesawat Saja Gak Bisa”

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Mayor Jenderal TNI (Purn) Kivlan Zen membantah informasi yang menyebut dirinya akan melarikan diri ke Jerman.

Kivlan mengatakan, bagaimana mau kabur ke luar negeri, dirinya saja tidak membeli tiket pesawat.

“Ada tuduhan saya melarikan diri ke Brunei, dari Batam ke Brunei ke Jerman, mana? Saya enggak beli tiketnya?” ujar Kivlan di Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (13/5/2019).

Menurut Kivlan, saat ditemui aparat berwajib di Bandara Soekarno-Hatta, ia hendak berangkat ke Batam, Kepulauan Riau, dalam rangka menemui keluarga.

“Malah saya dikawal sama polisi dalam pesawat sampai di bandara di Batam, sampai di situ ada anak, istri, cucu saya, saya datang untuk ke sana bukan untuk melarikan diri,” tegas mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (AD) ini.

Seperti diketahui, Kivlan hadir di Bareskrim Polri dalam rangka akan diperiksa penyidik terkait kasus dugaan makar yang akan dilakukannya.

Kivlan dilaporkan oleh warga bernama Jalaludin dan Eman Soleman pada 7 Mei 2019. Laporan itu telah diterima oleh Polisi dengan nomor LP/B/0442/V/2019/BARESKRIM tertanggal 7 Mei 2019 dengan terlapor Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zein.

Kemenkes Akan Investigasi Kematian Petugas KPPS di 15 Provinsi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berkoordinasi dengan dinas dan tenaga kesehatan di daerah melakukan investigasi penyebab meninggalnya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di 15 provinsi.

Sekjen Kemenkes Oscar Primadi mengatakan, berdasarkan laporan dinas kesehatan dari 15 provinsi tersebut, jika diakumulasikan, ditemukan kematian disebabkan oleh 13 jenis penyakit dan 1 kecelakaan.

“13 penyakit tersebut adalah infarct myocard, gagal jantung, koma hepatikum, stroke, respiratory failure, hipertensi emergency, meningitis, sepsis, asma, diabetes melitus, gagal ginjal, TBC, dan kegagalan multi organ. Kebanyakan usia korban meninggal di kisaran 50-59 tahun,” katanya melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, Senin (13/05/2019).

Menurut Oscar, terkait jadwal petugas KPPS tersebut, perlu dilihat terlebih dahulu jadwal padatnya seperti apa. Karena, penjadwalan ini perlu pendalaman lebih lanjut dengan KPU.

“Nantinya kita akan bahas bersama KPU untuk perencanaan pemilu mendatang,” ujarnya.

Ke depan, lanjutnya, petugas pemilu yang dipekerjakan, diupayakan mempunyai kondisi kesehatan yang baik, lingkungan pekerjaan yang sehat, tidak merokok dan tidak terpapar asap rokok, ruangan yang cukup luas, dan ritme kerja dan jam kerja di atur dengan baik, serta memberikan porsi istirahat yang cukup.

Untuk diketahui, hasil investigasi di 15 provinsi tersebut yakni jumlah korban meninggal di DKI Jakarta sebanyak 22 jiwa, Jawa Barat 131 jiwa, Jawa Tengah 44 jiwa, Jawa Timur 60 jiwa, Banten 16 jiwa.

Kemudian, Bengkulu 7 jiwa, Kepulauan Riau 3 jiwa, Bali 2 jiwa, Kalimantan Selatan 8 jiwa, Kalimantan Tengah 3 jiwa, Kalimantan Timur 7 jiwa, Sulawesi Tenggara 6 jiwa, Gorontalo tidak ada, Kalimantan Selatan 66 jiwa dan Sulawesi Utara 2 jiwa.