Berita Terkini

Forum Advokat Muda Solo Desak Komnas HAM Serius Ungkap Tragedi Kemanusiaan 22 Mei

SOLO (Jurnalislam.com)- Ketua Forum Advokat Muda Solo (FAMS) Ibnu Sahidin mengutuk keras tindakan refresif aparat kepolisian dalam melakukan pembubaran massa aksi tolak kecurangan pemilu 2019 depan Bawaslu RI Jakarta, 21-22 Mei 2019.

“Mengutuk keras tindakan kekerasan yang dilakukan secara brutal dan tak bermoral terhadap demonstran yang menimbulkan korban jiwa dan Iuka-Iuka,” katanya kepada jurniscom di Grand H.A.P Hotel Solo, kamis, (30/5/2019).

“Tindakan ini merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan bukti nyata adanya upaya untuk mengekang kebebasan berpendapat masyarakat sipil,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Ibnu mendesak Komnas HAM untuk membentuk Tim Pencari Fakta dan mengusut tuntas atas tragedi kemanusiaan yang menyebabkan 8 orang korban meninggal dan 737 mengalami luka luka.

“Mendorong Komnas HAM RI untuk secara aktif melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat atau penyelenggara,” ungkapnya.

“Negara agar perkara dapat ditindak dan diusut secara tuntas dengan asas transparansi, imparsial dan akuntable,” tandasnya.

Rusuh 22 Mei, Forum Advokat Muda Sebut Wiranto Paling Bertanggung Jawab

SOLO (Jurnalislam.com)- Forum Advokat Muda Solo (FAMS) meminta pemerintah untuk bertanggung jawab atas meninggalnya 8 orang dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.

Mereka diminta bertanggungjawab atas tragedi kemanusiaan pembubaran massa aksi tolak kecurangan pemilu 2019 oleh aparat kepolisian di depan Bawaslu RI 21-22 Mei.

 

“Menuntut negara untuk bertanggung jawab penuh atas tragedi kemanusiaan ini dan meminta segera dilakukan penyelidikan,” kata ketua FAMS Ibnu Sahidin dalam konferensi pers di Grand H.A.P Hotel, Solo, Kamis, (30 mei 2019)

 

“Terutama kepada Kapolri dan Menkopolhukam Wiranto sebagai pihak yang paling bertanggungjawab terhadap penanganan para demonstran,” sambungnya.

 

Ibnu juga meminta aparat kepolisian untuk menangkap pelaku yang menyebabkan terjadinya insiden kerusuhan tersebut.

 

Dan jika pelakunya dari oknum aparat, katanya, pemerintah tetap harus menerapkan dengan seadil-adilnya.

 

“Menuntut kepada aparat penegak hukum agar memproses hukum dan menghukum seberat-beratnya pelaku kejahatan kemanusiaan yang terlibat dalam insiden ini,” katanya.

 

“Bahkan jika pelakunya adalah oknum aparat penegak hukum dan atau penyelenggara negara,” tandas Ibnu.

.

Komunitas Punk Bogor Bagikan Ratusan Porsi Iftar Gratis

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Komunitas Punk Bogor memanfaatkan momen bulan suci Ramadan tahun ini dengan pelbagai kegiatan kebaikan.

Salah satunya, menjelang azan magrib membagi-bagikan sajian berbuka puasa (iftar) di Jalan Ir H Juanda, Kota Bogor, Jawa Barat. Tepatnya dekat Mall Bogor Trade Mall (BTM).

Korlap pembagian takjil gratis, Gugun Noise mengatakan dirinya ga menyangka yang tadinya cuma bisa menyiapkan 100 kotak berisi lontong, risol, kurma, kue kamir dan air mineral. Dapat tambahan menjadi 300 kotak paket takjil.

“Saya sangat bersyukur yang awalnya cuma bisa nyiapin 100 kotak dari dana patungan teman-teman punk di Bogor, kemudian dapat tambahan dari donatur sehingga mampu sampai 300 kotak,” katanya kepada Jurnalislam.com, Kamis (30/05/2019).

Gugun mengungkapkan, kegiatan ini menjadi kebahagiaan tersendiri tak hanya untuk Komunitas Punk. Banyak pengemudi ojek yang merasa senang dengan adanya bagi-bagi iftar di jalanan.

Meski makanan yang disampaikan sekedar membatalkan puasa, senyum tulus dari pihak yang memberi dan menerima menjadi penenteram hati.

Punk Bogor tidak bekerja sendirian. Pihaknya berkolaborasi dengan komunitas lain yang anggotanya terbilang berkecukupan. Ada Madina, Yarsi, Punkajian Bekasi dan para donatur lainnya.

“Tiap anggota dari masing-masing komunitas ingin berbagi sama-sama. Mereka menyisihkan harta, tenaga, waktu, dan gagasan untuk menggiatkan sedekah di kala bulan suci Ramadan,” ujarnya.

Melalui kegiatan tersebut, komunitas Punk Bogor ingin menunjukkan kepada publik, anak-anak punk yang telah hijrah bisa menjadi baik.

Selama ini, kalangan punk kerap mendapatkan stigma negatif dari masyarakat. Dengan adanya aksi solidaritas semacam ini, lanjut Gugun, mereka ingin menghilangkan citra negatif.

Masyarakat pun, menurut dia, disarankan untuk tak cepat menghakimi anak-anak punk. Mereka sesungguhnya mesti dirangkul agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Untuk menularkan kebaikan atau mengajak berbuat baik, harus dengan cara merangkul dan mengajari, bukan menghakimi.

Catat! Ahli Gizi Ini Sebut 3 Kue Nastar sama dengan Sepiring Nasi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ahli gizi dr Tirta Prawita Sari menyebut mengkonsumsi tiga nastar sama dengan sepiring nasi. Sebab, kudapan khas hari raya ini mempunyai kalori yang cukup tinggi.

“Nastar ada bermacam-macam tergantung bahan yang dipakai, tapi tiga nastar itu kurang lebih 120 sampai 140 kalori. Punya kalori yang sama dengan sepiring nasi,” ujar Tirta saat dihubungi di Jakarta, Selasa (28/5/2019), dilansir Republika.co.id.

Tirta menjelaskan kandungan gizi kue kering yang dibuat dari tepung, gula, telur, dan mentega berupa karbohidrat dengan sedikit protein dan lemak. Zat gizi lainnya seperti vitamin dan mineral, menurut dia, tidak terlalu banyak ditemukan pada kue kering.

“Problem kue kering terbuat dari gula dan tepung, kebanyakan tepung putih yang sudah tidak ada serat. Jadi, kue kering itu makanan kecil, tapi bicara zat gizi banyak kalori,” kata Tirta.

Tirta juga mengatakan terlalu banyak makan nastar juga dapat memicu naikknya kolesterol. “Bisa kolesterol karena menggunakan banyak mentega, banyak butter, yang mengandung lemak. Pemanasan transfat dapat memengaruhi kadar kolesterol,” ujar Tirta.

Oleh sebab itu, Tirta menyarankan untuk memperlakukan kue kering sebagai makanan pendamping, layaknya permen. “Kalau bisa dihindari lebih baik dihindari. Kalau memang mau makan disesuaikan dengan kalori lainnya yang telah dikonsumsi,” kata Tirta.

Sebagai perbandingan, sebutir kue putri salju dengan berat sekitar enam gram mengandung kalori sekitar 22,5 kalori, sementara kue lidah kucing dengan berat 4 gram memiliki kandungan sekitar 18 kalori.

Kue kering lain yang menjadi favorit saat Lebaran adalah kaastengels atau kue keju. Dalam satu kaastengels dengan berat 5 gram memiliki kandungan 20,3 kalori.

Penganan khas Lebaran yang renyah lainnya seperti rengginang memiliki kandungan kalori lebih sedikit yaitu 12 kalori.

Untuk menghindari kenaikan berat badan, ia mengatakan menyeimbangkan kalori yang dikonsumsi dengan kegiatan yang dilakukan sangat disarankan.

Olahraga lompat tali selama satu jam dapat membakar energi sebanyak 735 kalori, sedangkan untuk olahraga berjalan cepat selama satu jam membakar energi sebanyak 368 kalori.

Sumber: Republika.co.id

Laporan Terbaru Kejahatan Militer Myanmar Kepada Muslim Rohingya

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Investigasi terbaru Amnesty International berhasil mengumpulkan dan mengkonfirmasi bukti baru bahwa militer Myanmar telah melakukan kejahatan perang dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di negara bagian Rakhine, Myanmar.  Operasi militer ini masih berlangsung, sehingga meningkatkan kemungkinan kejahatan tambahan terjadi.

Laporan berjudul “No one can protect us”: War crimes and abuses in Myanmar’s Rakhine State, merinci bagaimana militer Myanmar, yang dikenal dengan nama Tatmadaw, telah membunuh dan melukai warga sipil dalam serangan-serangan membabi buta sejak Januari 2019. Pasukan Tatmadaw juga telah melakukan pembunuhan di luar hukum, penangkapan sewenang-wenang, penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi lainnya, serta penghilangan paksa.

Temuan tersebut meneliti periode operasi militer intensif yang terjadi setelah serangan terkoordinasi terhadap pos-pos polisi oleh Tentara Arakan atau Arakan Army (AA), kelompok bersenjata etnis Rakhine, pada tanggal 4 Januari 2019. Operasi militer terbaru ini dilaksanakan setelah adanya instruksi pemerintah untuk “menghancurkan” AA.

“Kurang dari dua tahun sejak masyarakat internasional mengecam kejahatan massal terhadap Rohingya, militer Myanmar kembali melakukan pelanggaran mengerikan terhadap kelompok etnis di Rakhine,” ujar Nicholas Bequelin, Direktur Regional Amnesty International untuk wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara.

“Operasi terbaru di Negara Bagian Rakhine ini menunjukkan sikap militer yang tidak berubah, tidak tereformasi, dan tidak bertanggung jawab, yang meneror warga sipil dan melakukan pelanggaran luas sebagai taktik yang disengaja.”

Amnesty International melakukan 81 wawancara, termasuk didalamnya 54 wawancara lapangan di Rakhine pada akhir Maret 2019, dan 27 wawancara jarak jauh dengan orang-orang yang tinggal di daerah yang terkena dampak konflik. Mereka berasal dari kelompok etnis Rakhine, Mro, Rohingya, dan Khami, yang beragama Budha, Kristen, dan Islam. Amnesty International juga menganalisis foto, video, dan citra satelit, serta mewawancarai pekerja kemanusiaan, aktivis hak asasi manusia, dan pakar lainnya.

Komunitas-komunitas etnis Rakhine telah lama memendam berbagai keluhan politik terhadap pemerintah pusat Myanmar. AA dipimpin oleh generasi muda nasionalis etnis Rakhine. Per hari ini, AA diperkirakan memiliki kekuatan hingga 7.000 pasukan. Didirikan pada tahun 2009, mereka telah berjuang bersama organisasi etnis bersenjata lainnya di Myanmar Utara dan dalam beberapa tahun terakhir bentrok secara sporadis dengan militer di Rakhine dan negara bagian yang berbatasan dengannya yaitu Chin. Pertempuran semakin intensif pada akhir tahun 2018.

Amplop Milik Ustaz Umar Untuk Insentif Imam Tarawih di Ponpes Attaqwa

CIANJUR (Jurnalislam.com) – Staff Pondok Pesantren Attaqwa Cikidang, Cianjur, Sobihin membantah bahwa Ustaz Umar terlibat dalam kerusuhan di Jakarta 21-22 Mei lalu. Sobihin mengatakan, Ustaz Umar yang merupakan pimpinan Ponpes tersebut hanya akan mengikuti aksi damai 22 Mei di Bawaslu.

Ia pun menceritakan, Ustaz Umar berangkat dari pondok pada hari Senin tanggal 21 Mei sekitar jam 10 malam. Ustaz Umar bersama dua orang santrinya Jamaludin dan Wahyudin dan Ustaz Muhammad Karim (supir) berangkat menggunakan mobil ambulan milik Gerakan Islam Reformis (Garis).

“Sampai Jakarta jam 1 ke Masjid Sunda Kelapa untuk istirahat. Kemudian menjelang waktu sahur Ustaz didatangi oleh salah satu tim medis di Jakarta, karena tim medis itu melihat ada ambulan kosong maka mau pinjam. Awalnya dia bilang ke supirnya, tapi supirnya gak berani kalau gak sama Ustaz Umar, maunya dengan ustaz Umar,” kata Sobihin kepada Jurnalislam saat ditemui di komplek Ponpes Attaqwa Cikidang, Cianjur, Jawa Barat, Senin (27/5/2019).

Akhirnya, Ustaz Umar pun mengizinkan ambulannya dipinjam dengan syarat ia ikut dalam ambulan tersebut.

“Karena diminta untuk kemanusiaan, karena banyak korban di Petamburan akibat gas air mata akhirnya Ustaz mau,” tutur Sobihin.

Sobihin melanjutkan, Ustaz Umar sempat membawa tiga korban dari Petamburan ke klink terdekat. Namun dalam perjalanan kembali ke Petamburan ambulan dicegat oleh aparat.

“Setelah pulang dari situ mau balik ambil lagi pasien, Ustaz Umar dicegat Brimob, akhirnya mobil disuruh dibuka, diperiksa, tapi yang ditarik hanya dua santri itu. Jadi Ustaz Umar gak ikut demo dan santri juga belum turun dari ambulan,” paparnya.

Terkait amplop berisi uang yang terdapat nama Ustaz Umar yang diklaim polisi disita dari dua santri yang ditangkap itu, Sobihin menjelaskan uang itu untuk para imam tarawih di Ponpes Attaqwa.

“Ustaz Umar memang suka ngasih insentif untuk imam-imam tarawih, jumlahnya beda-beda, ada yang Rp200.000, Rp300.000, Rp500.000, tergantung jumlah harinya. Kalau dibuka amplopnya itu ada rinciannya,” ungkapnya.

Sobihin mengatakan, dua santri itu memang membersamai Ustaz Umar sepanjang hari itu. Ustaz Umar menitipkan amplop-amplop itu ke salah satu santri bernama Jamaludin.

“Kalau keluar Ustaz Umar suka ngajak santri dua atau tiga orang. Nah amplop itu dititipkan ke Jamal untuk nanti dibagikan tanggal 25. Jamal memang seperti udah jadi asistennya Ustaz,” ujar Sobihin.

“Jadi masalah apa yang terjadi di lapangan seperti penemuan senjata dan lain-lain itu Ustaz Umar gak tahu itu. Jadi gak pernah ikut kerusuhan, Ustaz Umar hanya mau ikut Aksi Damai 22 Mei di Bawaslu,” lanjut Sobihin.

Reporter: Taufik Hady

Hasil Autopsi RS Polri Temukan Luka Tembak di Tubuh Harun Al Rasyid

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Hasil autopsi terhadap Harun Al Rasyid, remaja 15 tahun yang menjadi korban tewas kerusuhan 22 Mei 2019, telah rampung. Hasilnya, di tubuh yang bersangkutan ditemukan luka tembak

Kepala Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Brigadir Jenderal Polisi Musyafak mengatakan, Harun mengalami luka tembak pada bagian lengan kiri atas hingga menembus dada.

“Sudah, hasil autopsinya luka tembak. Itu kita terima dari RS Dharmais dan ada juga yang belum tahu identitasnya alias Mr X, kalau tidak salah tanggal 23 Mei dini hari jam 01:00 WIB kita terima rujukan korban dari RS Dharmais. Sudah dalam kondisi meninggal dunia,” ujar Musyafak saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (30/5/2019).

Meski demikian, Musyafak belum dapat memastikan apakah Harun tewas terkena peluru tajam atau karet. Pasalnya, hal tersebut menjadi wewenang pihak Puslabfor Mabes Polri.

Wah itu yang menentukan bukan kami, tapi Puslabfor,” tuturnya.

Untuk diketahui, Harun (15) warga RT 09 RW 10, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat meninggal dunia setelah terlibat kerusuhan 22 Mei di Jembatan Slipi Jaya, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (22/5) malam.

Harun, meninggal setelah nyawanya tak tertolong ketika dibawa ke RS Dharmais, Jakarta Barat.

Sumber: Republika

Mahasiswa Jember Kecam Tindakan Represif Aparat saat 22 Mei

JEMBER (Jurnalislam.com)–Ratusan mahasiswa Jember yang berasal dari organisasi mahasiswa Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Pelajar Islam Indonesia (PII), menggelar aksi demonstrasi di bundaran gedung DPRD Jember, (28/05/2019).

Aksi organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Aktifis Jember (PAJ) dilakukan sebagai bentuk protes dan mendesak pemerintah usut tuntas kasus represif aparat 22 Mei di Jakarta.

Dalam aksinya, massa membawa sejumlah poster yang bertuliskan ‘Usut Tuntas Korban 22 Mei’, “Tolak represif aparat”, “Pemilu 2019 berdarah-darah” juga “Indonesia darurat demokrasi”.

Korlap aksi, Abdul Rohhim mengatakan, aksi damai ini sebagai respon terhadap kondisi bangsa pasca pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) pada 17 April 2019 kemarin, yang mengabaikan nilai hukum dan kemanusian.

“Demo ini menyoroti kondisi bangsa pasca Pemilu serentak 2019. Iklim kehidupan berbangsa dan bernegara kita sedang tidak sehat. Maka, mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Aktifis Jember (PAJ) sepakat untuk turun kejalan guna mendesak pemerintah agar bertindak sesuai amanat hukum,” katanya.

Dalam aksi tersebut, elemen mahasiswa menyayangkan tindakan represif aparat yang berakibat jatuhnya korban jiwa saat aksi 21-22 Mei lalu.

“kami mendesak Kapolri untuk mengusut tuntas kerusuhan tersebut. Kami juga mendesak kepada pemerintah untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) atas kematian petugas KPPS, serta memberi jaminan pendidikan kepada anak-anak korban,” lanjutnya.

Bahkan, elemen mahasiswa tersebut juga mengecam kebijakan Menkopolhukam dan Menkominfo yang menutup akses media sosial. Hal ini jelas mencederai azas demokrasi, serta bentuk pembungkaman terhadap kebebasan dan hak atas kebenaran informasi.

“Meskipun pemerintah berdalih untuk mengantisipasi penyebaran konten hoaks. Namun, pembatasan yang ada bertentangan dengan konstitusi dan mematikan mata pencaharian online shop yang memanfaatkan media sosial,” kata Ketua IMM Jember Andi Saputra di sela aksinya.

Di ujung orasinya, massa aksi menegaskan bahwa aksi yang dilakukan pihaknya tanpa ada afiliasi politik ke paslon presiden 01 ataupun 02.

“ini adalah Aksi murni untuk keprihatian atas tercederainya hukum Indonesia,” pungkasnya
(kontributor : pras)

Ormas Islam Bima Desak Polisi Hentikan TIndakan Represif terhadap Rakyat

BIMA (Jurnalislam.com)—Elemen ormas Islam Bima mendatangi kediaman dinas Kapolres Bima Kota AKBP Erwin Ardiansya untuk mengutuk keras tindakan represif aparat pada aksi 22 Mei 2019 di Jakarta.

Tampak hadir perwakilan ormas seperti Forum Ummat Islam Bima (FUI), Jama’ah Ansharu Syari’ah (JAS), Yayasan An-Naba, Yayasan Ta’awun, Wahda Islamiyah, Pemuda Pencinta Islam dan BEM Mahasiswa STIH Muhammadiyah,

Ketua Forum Umat Islam (FUI) Bima ustaz Asikin meminta Kapolres untuk menyampaikan aspirasi mereka hingga ke Kapolri.

“Kami mengutuk keras tindakan biadab penembakan yang menyebabkan 8 orang meninggal dunia dan ratusan orang terluka,” kata ustaz Asikin, Rabu (29/5/2019).

Ia juga mengutuk keras terhadap dugaan penyerangan terhadap masjid al akbar.

“Kepada Bapak Kapolri untuk hentikan tindakan represif terhadap rakyat,” pungkasnya.

reporter: abu salman

 

Innalillahi, Tokoh NU KH Tholchah Hasan Meninggal Dunia

Innalillahi wainna ilaihi rajiun…

MALANG (Jurnalislam.com)—Innalillahi  wainna ilaiihi rajiun. Berita duka datang dari Malang. Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) pertama, Tokoh NU Jawa Timur, KH Tolchah Hasan dikabarkan meningga dunia.

Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuqi Mustamar, Rabu (29/5) siang ini lansir NUonline mengabarkan

“Kira-kira setengah jam yang lalu. Kiai Tolchah meninggal di Rumah Sakit di Malang,” kata Kiai Marzuqi Mustamar melalui sambungan telepon, siang ini pukul 14.35 WIB.

Kiai Marzuqi Mustamar juga mengimbau warga NU untuk menjalankan shalat gaib bagi Kiai Tolchah dan agar bisa mendoakan almarhum Kiai Tolchah Hasan agar khusnul khatimah.

“Mugi-mugi khusnul khotimah. Nyuwun kanti sanget, pengurus NU lan warga NU kirim doa lan shalat ghoib kagem KH Tolhah Hasan, (Semoga khusnul khatimah. Mohon dengan sangat, penguru NU dan warga NU agar mengirim doa dan menjalankan shalat gaib untuk KH Tolchah Hasan,” kata Kiai Marzuqi.

Kabar tersebut dibenarkan oleh Hardadi Arilangga, menantu Kiai Tolchah Hasan.

“Wafat tadi jam 14.10 WIB di Paviliun VIP A Wijaya Kusuma RS Saiful Anwar, Kota Malang,” kata Hardadi yang seorang dokter.

Almarhum rencananya akan dimakamkan di kompleks Pesantren Bungkuk Singosari, bakda shalat Tarawih malam ini.

Kiai Tolchah merupakan Menteri Agama (Menag) pada era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan aktif sejak muda di NU. Pada Muktamar NU ke-33 tahun 2015, Kiai Tolchah juga salah satu kiai yang masuk dalam Ahlul Hali wal Aqdi.

Sumber: nu.or.id