Berita Terkini

Jaga Ukhuwah dan Spirit Ramadhan, Umat Islam Soloraya Hadiri Aksi Jalan Sehat

SOLO (jurnalislam.com)- Ratusan umat Islam Soloraya menggelar aksi jalan sehat bertajuk ‘Jaga Spirit Ramadhan Silaturahmi dan Ukhuwah Islamiyah’ dengan rute start depan Masjid Kota Barat da finish di Bundaran Gladak, Ahad, (23/6/2019).

Humas Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Endro Sudarsono mengatakan kegiatan tersebut menjadi momen persatuan umat Islam Soloraya.

“Moment bulan Syawal ini tentu menjadi waktu yang tepat untuk bersilaturahmi umat Islam dalam silaturahmi dan menjaga spirit bulan Ramadhan,” katanya.

“Kita berharap, acara ini bisa juga sebagai moment untuk mendinginkan suasana setidaknya pasca sidang MK. Dan tentu ini juga tidak ada kaitannya dengan isu politik terlebih kampanye dalam acara ini,” imbuhnya.

Sementara itu, ketua DSKS ustaz Muinudinillah Basri berpesan kepada umat Islam agar terus menjaga ukhuwah dan persatuan serta menghindari perpecahan diantara kaum muslimin.

“Mempersiapkan kesiagaan untuk bergerak bersama-sama membiasakan mempersatukan ukhuwah islamiyah, karena itu yang paling penting dan tetap harus tetap semangat dalam memperjuangkan agama ini,” ujarnya.

Dalam acara jalan sehat tersebut, peserta berjalan dengan membentangkan spanduk menuju Bundaran Gladak dan diakhiri dengan sarapan bersama.

Diluncurkan di Makassar, Madani Institute Siap Menjadi Pusat Studi Islam dan Peradaban

MAKASSAR (Jurnalislam.com) – Madani Institute (Center For Islamic Studies) sebagai lembaga independen yang fokus pada Kajian Intelektual Islam, Pemikiran dan Peradaban resmi dilaunching, bertempat di Aula lantai 3 Warung Bakso Mas Cingkrang Pettarani Makassar, Sabtu (22/06/19).

 

Direktur Eksekutif Madani Institute, Syamsuar Hamka, M.Pd.I mengatakan lahirnya Madani Institute sebagai respon terhadap problem ummat yang masih jauh dari nilai-nilai peradaban.

 

“Lembaga ini lahir sebagai respon terhadap berbagai permasalahan ummat yang dipandang masih jauh dari cita-cita peradaban masyarakat madani. Madani Institute awalanya adalah komunitas diskusi kuliah pemikiran Islam yang akhirnya memutuskan untuk membentuk lembaga formal independen,” ujarnya

 

Alumni Pascasarjana UIKA Bogor ini melanjutkan, bahwa Madani Institute ingin mengambil dalam menciptakan kota yang berperadaban.

 

“Madani Institute juga lahir sebagai bagaian kecil dari usaha untuk menumbuhkembangkan corak berpikir Islamic worldview sehingga diharapakan akan menjadi bagian tegaknya masyarakat Madani (kota yang berperadaban),” imbuhnya

 

Kondisi di era modern, tantangan umat semakin nyata, dengan berbagai problem serta peradaban barat yang ingin memaksakan nilai-nilai luhurnya untuk diterapkan dalam kehidupan umat Islam.

 

Olehnya itu, Syamsuar Hamka, M.Pd.I berharap Madani Institute kedepan menjadi pusat kajian intelektual dan tempat menimba ilmu.

 

“Harapan ke depan “Madani Institute bisa menjadi tempat kajian dan menimba ilmu. Dan berkembang mapan dengan program-program intelektual, sosial dan finansial secara mandiri,” tutupnya. (muhammad akbar)

 

Sohibul Iman: Aleg PKS Harus Tunjukkan Parpol Islam Lebih Baik

JAKARTA (Jurnalislam.com)– Presiden PKS, Mohamad Sohibul Iman (MSI) mengingatkan kembali kepada para kader terpilih, untuk membawa jati diri PKS saat mengabdi di Parlemen dan siap untuk menunjukkan bahwa partai Islam memiliki kemampuan yang lebih baik.

Hal tersebut disampaikannya pada sambutan acara Tasyakuran Milad ke-21 PKS dan Halal Bi Halal  PKS, Ahad ini (23/6/2019) di MD Building DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

“Saya berharap kader terpilih semuanya tidak lupa dengan jati diri partai ini. Bawalah nilai-nilai dakwah, nilai-nilai Islam di parlemen. Tunjukkan bahwa partai Islam itu jauh lebih supreme, lebih baik dibandingkan partai-partai lain,” paparnya.

Selanjutnya, MSI juga menyampaikan tentang tiga jati diri PKS, yakni religious movement, social movement dan political movement yang harus senantiasa melekat dalam diri semua kader.

“Tiga hal ini merupakan jati diri PKS, PKS adalah gerakan keagamaan, gerakan dakwah. PKS adalah gerakan sosial yang senantiasa peduli terhadap problematika sosial yang dihadapi oleh masyarkat kita. Kita adalah gerakan politik, yang insyaAllah kita trus berjuang di ranah ini untuk mengelola negara lebih baik lagi. Gerakan politik ini lebih luas dari gerakan sosial,” tutur pria kelahiran Tasikmalaya ini.

Mengkritisi Sistem Zonasi

Oleh: M Rizal Fadillah
Ketua Maung Institute

Sistem Zonasi PPDB 2019 yang diberlakukan nasional semangatnya bagus ingin menghilangkan kualifikasi sekolah favorit. Pemerataan berdasarkan tempat tinggal siswa. Hanya penerapan tanpa penyiapan dan kematangan bisa menimbulkan masalah. Semestinya percobaan dulu beberapa zona tingkat efektivitasnya. Sikap mental yang tak terbina justru menimbulkan budaya akal-akalan, budaya curang. Pemalsuan alamat dengan menumpang sana sini bisa dilakukan. Seorang pejabat penganjur sistem zonasi berupaya agar anaknya tetap berada di area zona sekolah favorit dengan memindahkan alamat ke rumah dinasnya.

Di bidang perhajian juga sama sedang mengalami masalah di bidang zonasi. Hal ini meresahkan banyak KBIH sehingga pemberangkatan jamaah haji pada tahun ini tidak bisa memilih KBIH sesuai dengan keinginan berdasarkan keyakinannya. Zonasi membelenggu pilihan. Jama’ah yang biasa berangkat bersama kini terpencar sesuai zonasi tempat tinggal jamaah. SK Dirjen PHU No 131 tahun 2019 dinilai tidak adil dan menghambat perkembangan KBIH. Padahal keberadaan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) dilindungi dan dijamin oleh Undang-Undang. Dibutuhkan pula oleh jama’ah haji.

Masalah zonasi yang mendasarkan pada kewilayahan sebagai kebijakan di bidang pendidikan dan keagamaan ini dinilai grasa-grusu dan tidak matang dan “kurang mendidik”. Asas keadilan dipertanyakan. Keadilan yang mendasarkan pada “zona” semata adalah keadilan komutatif. Pukul rata. Bukan keadilan kualitatif yang mendasarkan pilihan kualitas dan keyakinan. Kompetisi bisa menjadi tidak sehat. Belum lagi dampak dalam membangun budaya akal akalan di atas termasuk pemalsuan Kartu Keluarga atau KTP.

Ada seloroh di antara kawan, bagaimana jika zonasi juga berlaku bagi pilihan politik. Warga atau penduduk di Provinsi tertentu yang dominan memilih Jokowi sebagai Presiden, maka Provinsi tersebut Presidennya adalah Jokowi. Begitu juga wilayah atau Provinsi dominan pilihan pada Prabowo, maka Prabowo lah Presiden. Mereka yang punya pilihan berbeda bisa pindah alamat berdasarkan zonasi yang diinginkan. Polarisasi yang tajam yang tidak diselesaikan dengan bijak dapat memunculkan opsi opsi.

MK kini sedang mengolah “bola panas” politik yang semua berharap ada putusan yang berkeadilan dan berkeadaban. Bukan putusan “sang dewi” yang mata dan hatinya tertutup lalu nabrak sana nabrak sini.

Jika MK memutus dengan asal asalan, apalagi berdasar tekanan atau pesanan, maka zonasi bisa menjadi opsi. Negara Kesatuan bisa bergeser menjadi negara Federasi. Tentu dengan usulan untuk mengubah dahulu Konstitusi. Masalah yang semestinya tak perlu dan harus diantisipasi. Memang MK dituntut ekstra hati-hati. Bahaya di depan sedang menanti. Desintegrasi zonasi.

Sosok Ahmad Surkati di Mata Ridwan Saidi

JAKARTA (Jurnalislam.com) –  Sosok pendiri Al Irsyad Al Islamiyyah, Ahmad Surkati memiliki banyak kenangan di semua orang. Termasuk Sejarawan Betawi, Ridwan Saidi.

Babe, sapaan akrabnya menjelaskan, semasa hidupnya Ahmad Surkati adalah orang yang tidak mudah dibeli oleh penjajah Belanda ataupun Jepang.

“Saat matanya sakit sampai diminta ke Belanda untuk berobat gratis, dia tolak. Sampai wafat dalam keadaan matanya tidak melihat,” katanya kepada Jurnalislam di sela-sela acara napaktilas ‘Melacak Jejak Surkati di Betawi’, Sabtu (22/6/2019).

Selain itu, Ahmad Surkati juga mengajarkan pembaharuan dalam berpikir. Memberantas mental budak.

“Masyarakat diajarkan berpikir kritis untuk membasmi mental budak Belanda dan Jepang,” ujarnya.

Ahmad Surkati banyak membina generasi muda yang tergabung dalam Jong Islamic Bond (JIB) yang melahirkan tokoh Masyumi era kemerdekaan.

Ridwan Saidi menceritakan, kehidupan AhmadSurkati sangat mandiri. “Saat tinggal di Pekojan, dia selalu ngontrak, pindah-pindah rumah dari gang kecil ke gang kecil lainnya.”

Tour de Batavia Kembali Digelar, ‘Melacak Jejak Surkati di Betawi’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komunitas Tour de Batavia kembali menggelar perjalanan sejarah bertema ‘Melacak Jejak Surkati di Betawi’, Sabtu (22/6/2019).

Ketua Panitia, Abdullah Ellie mengatakan tujuan dilaksanakan acara ini agar masyarakat dan generasi muda mengenal sosok Ahmad Surkati dan sejarah pergerakannya.

“Generasi muda harus mengenal sosok Ahmad Surkati dan perjuangannya memberikan pembaharuan terhadap pendidikan di Indonesia,” katanya kepada Jurnalislam.com, Sabtu (22/06/2019).

Dia menjelaskan, dengan mendirikan Pendidikan Al-Irsyad, Ahmad Surkati menjawab permasalahan kejumudan Islam pada saat itu, dan kemunduran peradaban Islam.

“Saat itu pandangan masyarakat, secara implisit harus diubah, tidak cuma pemikirannya, tetapi yang lebih penting adalah mengubah wawasan berpikirnya ke arah pemurnian agama (tajdid). Dengan demikian pendidikan Al-Irsyad ditujukan menciptakan perubahan pemikiran,” pungkasnya.

Dalam perjalanan sejarah ini, peserta akan diajak ke Kampung Pekojan; tempat awal beliau tiba di batavia, lalu ke Petojo yang merupakan satu-satunya gedung sekolah milik Al-Irsyad di tanah Betawi.

KPR Syariah Kian Diminati

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Di tengah tingginya kebutuhan hunian masyarakat dengan bertambahnya jumlah populasi penduduk, PT Bank Tabungan Negara (BTN) memastikan terdapat porsi bagi Kredit Perumahan Rakyat (KPR) dengan skema syariah yang cukup diminati.

Direktur Utama PT BTN Maryono mengatakan, skema syariah yang dimiliki BTN sudah berlangsung eksis.

Dari total aset perumahan yang dimiliki BTN sebesar Rp 30 triliun, kata dia, terdapat seperempat aset tersebut dialokasikan untuk keperluan skema KPR syariah.

“Kita sudah ada KPR syariah, itu cukup diminati,” kata Maryono, Rabu (19/6).

Lebih lanjut dia menjabarkan, kebutuhan perumahan bagi masyarakat ke depannya masih menjadi agenda yang krusial.

Terkait dengan suku bunga nanti yang akan melonggar, dia menyebut suku bunga kredit bakal mengacu pada suku bunga dana.

Sehingga jika terdapat kelonggaran likuiditas suku bunga dana, secara otomatis hal itu dinilai akan menurunkan suku bunga kredit.

Terkait dengan bunga KPR yang dimiliki BTN, pihaknya menyebut hal itu berada di posisi 9-11 persen. Kendati demikian dia mengatakan, posisi tersebut tergantung dari capaian suku bunga dana yang ada.

Saat ini, kata Maryono, suku bunga dana tidak mengalami penurunan sehingga posisinya masih relatif tetap di angka 02,51 persen.

sumber: republika.co.id

 

Bambang Widjodjanto: Kami Siap Menerima Apapun Keputusan MK

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Ketua tim kuasa hukum Prabowo-Sandiaga Uno dalam sengketa hasil pilpres, Bambang Widjodjanto (BW), mengatakan pihaknya siap menerima putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

Dia berharap putusan MK sudah merupakan pertimbangan terbaik yang bermanfaat bagi semua pihak.

Emang muka guwe tidak menunjukkan siap menerima keputusan? Siaplah. Masak sih enggak siap,” ujar BW kepada wartawan usai sidang di Gedung MK, Jakarta Pusat, Jumat (21/6) malam.

Dia melanjutkan, saat ini ada tiga hal yang ingin disampaikan pihaknya. Pertama, mengucapkan terimakasih kepada semua masyarakat, terutama yang mendoakan timnya.

Kan mendoakan pasti bukan hanya mendoakan kami, tetapi mendoakan agar seluruh proses ini berjalan baik. Kedua, tugas belum selesai, artinya apapun hasilnya kita terus berupaya agar Indonesia jauh lebih dahsyat, ” lanjutnya.

Ketiga, saat ini masih ada friksi (pertetangan) dan faksi (perpecahan) di masyarakat. Tugas semua pihak saat ini adalah meminimalisasi potensi risiko hal itu.

“Ini harus mulai dilakukan misalnya yang menang jangan sombong, yang kalah jangan ngototan. Mari kita perjuangkan semua untuk bangsa yang lebih baik,” tegasnya.

Proses persidangan sengketa hasil pilpres di MK berakhir pada Jumat malam. Sidang terkahir pada Jumat berlangsung selama 13 jam dengan agenda mendengarkan keterangan dua saksi dan dua ahli dari pihak Jokowi-Ma’ruf Amin sebagai pihak terkait.

Selanjutnya, majelis hakim MK akan menggelar rapat permusyawaratan hakim (RPH) untuk mengkaji hasil sidang dan alat bukti.

Putusan perkara perselisihan hasil pilpres 2019 paling lambat akan dibacakan pada 28 Juni 2019.

sumber: republika.co.id

Setelah Diperiksa, Ustaz Rahmat Baequni Diizinkan Kembali Beraktivitas

BANDUNG (Jurnalislm.com)–Ustaz Rahmat Baequni tidak ditahan setelah polisi menetapkan status tersangka UU ITE. Ustaz Rahmat sudah meninggalkan Mapolda Jabar.

“Nggak, nggak ditahan. Jadi ini bukan penangguhan. Barusan saya bersurat ke Polda, rujukannya ke Krimsus untuk meminta tidak ditahan. Statusnya kan sudah tersangka, tapi kita minta tidak ditahan,” ucap Hamynudin Fariza, pengacara Rahmat, saat dimintai konfirmasi via telepon, Jumat (21/6/2019) malam.

Dalam surat permohonan itu, ia menjelaskan soal pertimbangan agar kliennya tak ditahan. Menurut Hamynudin, Rahmat merupakan ulama yang ditunggu kedatangannya oleh masyarakat, terutama oleh jemaahnya.

“Pertimbangan saya ya karena beliau ini ustaz, kajiannya selalu ditunggu oleh jemaahnya. Lalu dia tulang punggung keluarga, terus istrinya baru melahirkan, punya baby,” tutur Hamynudin.

Selain itu, pertimbangan lainnya, ia meyakinkan kepada penyidik bahwa ustaz Rahmat  tidak akan melarikan diri hingga kasus yang ditangani Polda Jabar ini selesai.

“Jadi alasan-alasan itu dan ditambah tidak akan melarikan diri, tidak akan menghilangkan barang bukti, dan tidak akan mengulangi tindak pidana lain,” ujar Hamynudin.

sumber: detik.com

Wafatnya Mursi dan Pelajaran Bagi Kaum Muslimin

SOLO (Jurnalislam.com)-Juru Bicara Jamaah Ansharu Syariah ustaz Abdul Rahim Ba’asyir menilai ada sebuah pelajaran besar yang harus diambil oleh umat Islam dari peristiwa meninggalnya presiden Mesir yang terkudeta Muhammad Mursi pada Senin, (17/6/2019).

 

Sebelumnya Mursi pingsan sesaat setelah berpidato di pengadilan dan kemudian dilarikan ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal di rumah sakit pada pukul 4:50 malam. (1450 GMT).

 

Pertama, kata ustaz iim, hendaknya umat Islam mengambil pelajaran bahwa perjuangan menegakkan syariat Islam itu memang perjuangan yang tidak mudah sehingga banyak tantangan dan juga ujiannya.

 

“Walaupun jalan yang ditempuh adalah jalan yang sudah damai, jalan yang betul betul konstitusi, dan diakui oleh negara. tapi ternyata pengkhianatan masih saja terjadi di mana-mana sehingga umat Islam harus waspada dalam berjuang menegakkan upaya menegakkan syariat Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” katanya kepada Jurniscom kamis, (20/6/2019).

Ia meminta umat Islam waspada terhadap gerakan makar khususnya apa yang dilakukan peradaban lain terhadap Islam.

“Di mana demokrasi, di mana-mana di negara umat Islam ini dipaksakan oleh barat untuk taat pada demokrasi. Tapi saat umat Islam menang melalui jalur demokrasi biasanya barat akan menghianati kemenangan tersebut,” imbuhnya.

Tak Hanya Beretorika

Pelajaran kedua yang adalah bahwasanya umat Islam harusnya tidak menyerah dalam memperjuangkan dienul Islam, dan memperjuangkan tegaknya syariat Allah Subhanahu Wata’ala Islam tidak akan tegak hanya dengan beretrorika, berdebat dan berdalil.

 

“Tapi dia membutuhkan tenaga keringat bahkan darah harta semuanya, begitu langsung akan bergerak, begitulah sudah sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang diajarkan sebagaimana kita baca di dalam sejarah sejarah atau sirah yang kita baca dalam perjuangan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,” ungkapnya.

 

Artinya, kata ustaz iim, umat ini harus siap, kalau umat ini tidak mau lagi berjuang dan meninggalkan semangat perjuangannya maka yang terjadi orang-orang kafir akan semakin kuat untuk menginjak-injak harga diri umat Islam sampai mereka memaksa umat Islam keluar daripada Islam.

 

“Sebagaimana yang Allah Subhanahu ta’ala sudah sampaikan pada kita bahwa orang-orang kafir itu tidak akan ridho dengan dengan kaum muslimin dan dan Islamnya, Wa lan tardla ‘anka al-yahudu wa la al-nashara hatta tattabi’a millatahum,” ujarnya.

Terus Berjuang

Pelajaran yang ketiga, menurut putra bungsu ulama kharismatik ustaz Abu Bakar Ba’asyir ini,  Izzahnya kaum muslimin itu ada pada Jihad, yakni pada semangat perjuangan mereka untuk berkorban harta dan nyawa.

 

“Ketika kaum muslimin sudah disibukkan oleh urusan dunia dan meninggalkan jihad, maka apa yang dikatakan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam

 

سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

 

Maka Allah itu akan menguasakan kepada kalian itu orang-orang kehinaan dan keterpurukan sampai kalian kembali kepada Dien kalian begitu kata Rasulullah,” paparnya.

 

“Dan ulama menerangkan makna dari pada kembali kepada dien kalian artinya kembali kepada jihad, artinya kalau kamu nggak mau jihad, kaum muslimin akan terus diinjak-injak dan kaum muslimin akan terus dihinakan dan dikhianati oleh orang-orang kafir,” imbuhnya.

 

Sebagaimana, lanjutnya, yang Rasulullah sampaikan tentang bahaya penyakit wahn, yaitu saat umat Islam tidak lagi memiliki keberanian untuk berkorban membela Dienul Islam dengan harta dan nyawa mereka.

 

“Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bahwasanya dicabut dari hati orang kafir itu rasa takut dan dilemparkan ke atas hati kalian itu Al wahn, apa itu al wahn Rasulullah adalah hubbud Dunya wa karahiyatul maut fisabilillah,” katanya.

 

Lebih lanjut, ustaz iim meminta umat Islam bermuhasabah atas meninggalnya salah satu tokoh organisasi Ikhwanul Muslimin tersebut

 

“Para ulama mengatakan bahwasanya darah para syuhada itu adalah cahaya dan api, memberikan cahaya

pengalaman bagi kaum muslimin yang masih hidup sehingga kita ambil pengajaran dari perjalanan para syuhada itu perjuangan mereka perjalanan perjuangan mereka kita ambil pelajaran dari mereka lalu kita ambil pengajarannya,” paparnya.

 

“Dan juga Naar, Api maksudnya itu api yang membakar semangat perjuangan kaum muslimin,” pungkasnya.