Responsive image

Wafatnya Mursi dan Pelajaran Bagi Kaum Muslimin

Wafatnya Mursi dan Pelajaran Bagi Kaum Muslimin

SOLO (Jurnalislam.com)-Juru Bicara Jamaah Ansharu Syariah ustaz Abdul Rahim Ba’asyir menilai ada sebuah pelajaran besar yang harus diambil oleh umat Islam dari peristiwa meninggalnya presiden Mesir yang terkudeta Muhammad Mursi pada Senin, (17/6/2019).

 

Sebelumnya Mursi pingsan sesaat setelah berpidato di pengadilan dan kemudian dilarikan ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal di rumah sakit pada pukul 4:50 malam. (1450 GMT).

 

Pertama, kata ustaz iim, hendaknya umat Islam mengambil pelajaran bahwa perjuangan menegakkan syariat Islam itu memang perjuangan yang tidak mudah sehingga banyak tantangan dan juga ujiannya.

 

“Walaupun jalan yang ditempuh adalah jalan yang sudah damai, jalan yang betul betul konstitusi, dan diakui oleh negara. tapi ternyata pengkhianatan masih saja terjadi di mana-mana sehingga umat Islam harus waspada dalam berjuang menegakkan upaya menegakkan syariat Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” katanya kepada Jurniscom kamis, (20/6/2019).

Ia meminta umat Islam waspada terhadap gerakan makar khususnya apa yang dilakukan peradaban lain terhadap Islam.

“Di mana demokrasi, di mana-mana di negara umat Islam ini dipaksakan oleh barat untuk taat pada demokrasi. Tapi saat umat Islam menang melalui jalur demokrasi biasanya barat akan menghianati kemenangan tersebut,” imbuhnya.

Tak Hanya Beretorika

Pelajaran kedua yang adalah bahwasanya umat Islam harusnya tidak menyerah dalam memperjuangkan dienul Islam, dan memperjuangkan tegaknya syariat Allah Subhanahu Wata’ala Islam tidak akan tegak hanya dengan beretrorika, berdebat dan berdalil.

 

“Tapi dia membutuhkan tenaga keringat bahkan darah harta semuanya, begitu langsung akan bergerak, begitulah sudah sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang diajarkan sebagaimana kita baca di dalam sejarah sejarah atau sirah yang kita baca dalam perjuangan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,” ungkapnya.

 

Artinya, kata ustaz iim, umat ini harus siap, kalau umat ini tidak mau lagi berjuang dan meninggalkan semangat perjuangannya maka yang terjadi orang-orang kafir akan semakin kuat untuk menginjak-injak harga diri umat Islam sampai mereka memaksa umat Islam keluar daripada Islam.

 

“Sebagaimana yang Allah Subhanahu ta’ala sudah sampaikan pada kita bahwa orang-orang kafir itu tidak akan ridho dengan dengan kaum muslimin dan dan Islamnya, Wa lan tardla ‘anka al-yahudu wa la al-nashara hatta tattabi’a millatahum,” ujarnya.

Terus Berjuang

Pelajaran yang ketiga, menurut putra bungsu ulama kharismatik ustaz Abu Bakar Ba’asyir ini,  Izzahnya kaum muslimin itu ada pada Jihad, yakni pada semangat perjuangan mereka untuk berkorban harta dan nyawa.

 

“Ketika kaum muslimin sudah disibukkan oleh urusan dunia dan meninggalkan jihad, maka apa yang dikatakan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam

 

سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

 

Maka Allah itu akan menguasakan kepada kalian itu orang-orang kehinaan dan keterpurukan sampai kalian kembali kepada Dien kalian begitu kata Rasulullah,” paparnya.

 

“Dan ulama menerangkan makna dari pada kembali kepada dien kalian artinya kembali kepada jihad, artinya kalau kamu nggak mau jihad, kaum muslimin akan terus diinjak-injak dan kaum muslimin akan terus dihinakan dan dikhianati oleh orang-orang kafir,” imbuhnya.

 

Sebagaimana, lanjutnya, yang Rasulullah sampaikan tentang bahaya penyakit wahn, yaitu saat umat Islam tidak lagi memiliki keberanian untuk berkorban membela Dienul Islam dengan harta dan nyawa mereka.

 

“Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bahwasanya dicabut dari hati orang kafir itu rasa takut dan dilemparkan ke atas hati kalian itu Al wahn, apa itu al wahn Rasulullah adalah hubbud Dunya wa karahiyatul maut fisabilillah,” katanya.

 

Lebih lanjut, ustaz iim meminta umat Islam bermuhasabah atas meninggalnya salah satu tokoh organisasi Ikhwanul Muslimin tersebut

 

“Para ulama mengatakan bahwasanya darah para syuhada itu adalah cahaya dan api, memberikan cahaya

pengalaman bagi kaum muslimin yang masih hidup sehingga kita ambil pengajaran dari perjalanan para syuhada itu perjuangan mereka perjalanan perjuangan mereka kita ambil pelajaran dari mereka lalu kita ambil pengajarannya,” paparnya.

 

“Dan juga Naar, Api maksudnya itu api yang membakar semangat perjuangan kaum muslimin,” pungkasnya.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X