Berita Terkini

Ini Jawaban Yusril Soal Peluang Ditawari Jadi Menteri

BOGOR (Jurnalislam.com) — Kuasa Hukum Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Yusril Ihza Mahendra, kembali menjawab pertanyaan wartawan soal peluangnya masuk dalam kabinet pemerintah selanjutnya.

Usai menghadiri pertemuan tertutup antara tim kuasa hukum TKN dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Senin (1/7) malam, Yusril mengaku belum ada pembicaraan ke arah sana.

Padahal, Yusril sempat melakukan pertemuan lebih dulu bersama Jokowi sebelum acara inti bersama tim hukum TKN lainnya.

Yusril mengungkapkan, pembicaraan empat mata dengan Jokowi lebih banyak dihabiskan untuk membahas sistem konstitusi dan UUD 1945.

Presiden, ujar Yusril, banyak mengajak diskusi menanggapi pendapat yang berkembang di masyarakat tentang peluang amandemen UUD 1945 atau kembali kepada UUD 1945 murni.

“Saya jawab sebisanya tapi juga menjelaskan beberapa persoalan terkait dengan pembangunan hukum di negara kita. Antara lain masalah kepastian hukum, harmonisasi hukum yang sering kali menjadi hambatan di bidang investasi, hambatan upaya menegakkan hukum,” kata Yusril.

Soal tawaran jabatan menteri atau ajakan untuk kembali terlibat dalam Kabinet Indonesia Kerja, Yusril menegaskan bahwa Jokowi belum berbicara ke arah sana.

Soal kesiapannya bila diminta bergabung dalam kabinet selanjutnya, Yusril menekankan bahwa ia telah memiliki pengalaman dua kali menjabat sebagai menteri.

Yusril memang pernah menjabat Menteri Hukum dan Perundang-Undangan di era Presiden Abdurrahman Wahid dan Menteri Kehakiman dan HAM di era Presiden Megawati Soekarnoputri.

“Saya sudah dua kali pernah jadi (menteri). Apa iya saya masih disuruh jadi Menteri Hukum HAM lagi, jadi nanti tiga kali itu,” katanya.

 

BMH dan Tabassum Emde Salurkan Bantuan Santunan Akbar

SURABAYA (Jurnalislm.com)–Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bekerja sama dengan Tabassum Emde kembali menggelar aksi sosial  terhadap sesama dengan membagikan bingkisan kepada 600 anak yatim serta janda dhuafa.

Ahad, (30/6). Bertempat di Masjid As Salam, Perum Puri Mas, Rungkut, Surabaya, ratusan anak-anak yatim beserta dengan ibundanya mulai memadati masjid As Salam sejak pukul 08.00 pagi.

Penyaluran berupa paket pendidikan yakni tas sekolah, uang saku 50 ribu peranak dan paket sembako serta uang belanja 600 ribu perorang.

Imam Muslim, selaku Manager Program & Pendayagunaan BMH Jawa Timur mengungkapkan bahwa kegiatan sosial ini dalam rangka kerja sama BMH dengan Tabassum Emde serta Fatimatuzahro Travel dari Semarang sebagai wujud peduli terhadap pendidikan anak-anak yatim dan dhuafa serta memberikan kontribusi yang optimal kepada masyarakat dan lingkungan yang membutuhkan.

“Semoga dengan adanya Santunan tersebut, anak-anak semakin termotivasi untuk meraih prestasi dalam belajarnya,”ungkap Muslim.

Mayoritas anak yatim yang menerima manfaat bantuan adalah anak-anak jenjang Sekolah Dasar (SD), dan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Mereka berasal dari beberapa daerah, ada yang tinggal di kawasan pemulung Makam Rangkah, Keputran Panjunan, Kampung Nelayan Kenjeran, Kampung Karangrejo dan lain sebagainya.

Pratama (9 tahun), salah satu penerima manfaat bantuan dalam Santunan Akbar tersebut mengungkapkan bahwa,

“Saya senang bisa punya tas sekolah baru dan uang saku dari kakak-kakak, Semoga besok ada lagi, terima kasih Kak,”ucap Pratama, seorang anak yatim sejak usia 1 tahun tersebut. (Mustofa/Humas BMH Jatim).

 

Sayangkan Wanita Bawa Anjing ke Masjid, PBNU: Masjid Harus Dihormati!

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) KH Helmy Faishal Zaini menyayangkan insiden seorang wanita yang membawa anjingnya ke dalam Masjid al-Munawaroh Sentul, Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat. 

Dia menegaskan, tempat peribadatan sepatutnya harus dihormati dan dijaga.

“Bagaimanapun masjid itu harus tetap dihormati. Termasuk tempat peribadatan agama lain seperti gereja juga harus dihormati. Sebagaiana Muslim juga harus menghormati umat agama lain,” kata Helmy Faishal Zaini Senin (1/7).

Helmy mengatakan, pihaknya belum mengetahui peristiwa tersebut secara perinci. Namun, jika terdapat unsur kesengajaan. Sudah selayaknya wanita yang bersangkutan diingatkan.

“Kita tidak tahu sebabnya. Kalau ada unsur kesengajaan, ya saya kira harus diingatkan,” tuturnya.  

Kemudian, dia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan jangan melakukan tindakan ‘main hakim sendiri’.

Dia meminta masyarakat untuk menyerahkan semuanya kepada pihak yang berwenang, baik kepolisian maupun MUI.  

“Kita sudah menyepakati bersama bahwa negara kita ini berdasarkan pada undang-undang. Sebagai negara yang memiliki perangkat hukum ya diselesaikan secara hukum saja,” kata Helmy.

Selebihnya, dia berpandangan, jika terdapat unsur kesengajaan dalam kejadian tersebut, bisa saja masuk ke dalam penistaan agama.

Pasalnya, peristiwa itu berkaitan dengan merusak peribadatan orang lain.  

“Kalau harus dihukum ya silakan. Tapi, kalau tidak ada unsur kesengajaan ya tidak masuk ke delik penistaan agama. Saya kira nggak ya, tidak ada unsur kesengajaan, lebih karena stres,” ujar Helmy.

Sumber: republika.co.id

Pelaku Hotel di Bali Mengaku Untung Karena Jalankan Wisata Halal

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Meski Kementerian Pariwisata (Kemenpar) masih menyusun panduan penyelenggaraan pariwisata halal, sejumlah sektor bisnis pariwisata sudah mengambil langkah inisiatif menjemput rezeki dari aspek wisata halal.

Dari sejumlah sektor bisnis wisata, pelaku bisnis yang menerapkan aspek halal mengaku merasakan dampak positif dari penerapan halal tersebut.

Di sektor perhotelan, misalnya, General Manager Hotel Rhadana Bali Budiman mengaku melihat dampak yang sangat positif dari penerapan halal pada pelayanan hotelnya.

Terhitung sejak 2012 berdiri, Hotel Rhadana terus mendapatkan respons positif dari penerapan aspek halal meski lokasi berdirinya hotel dikelilingi oleh hotel-hotel nonhalal.

“Justru karena kami sudah lakukan sertifikasi halal, wisatawan banyak yang berkunjung ke sini. Prospeknya bagus sekali (wisata halal),” kata Budiman, Ahad (30/6).

Berbeda dari destinasi wisata di Mandalika maupun Aceh, destinasi wisata Bali memang identik dengan wisata modern non-halal.

Sehingga hal tersebut dinilai justru menjadi peluang bisnis yang menjanjikan, sebab daya tarik Bali sebagai destinasi global yang mendunia juga diminati tak hanya oleh para wisatawan non-Muslim.

Apalagi, kata dia, wisatawan Muslim global berjumlah cukup besar. Sehingga dia menyebut, penerapan aspek halal akan terus dikembangkan mulai dari fasilitas tempat ibadah, jaminan makanan dan minuman halal, serta peniadaan hal-hal yang berbau haram dan dilarang dalam syariat Islam.

Berbeda dengan konsep wisata syariah, Budiman mengaku pihaknya lebih memfokuskan pemasaran melalui konsep halal modern hotel. Dia menilai, aspek syariah cenderung konvensional dan lebih eksklusif sehingga cenderung berbelit dalam pengaplikasian terhadap para calon wisatawan yang berkunjung.

“Kalau hotel syariah itu kan mereka agak ribet. Misalnya saja dokumen-dokumen pengunjung benar-benar harus dipastikan dia Muslim atau tidak, dan lain sebagainya. Sedangkan kalau konsep halal tidak serumit itu,” kata dia.

Kendati demikian, pihaknya tidak mengesampingkan aspek halal yang diterapkan mulai dari hulu ke hilir.

Misalnya saja, sejak dari proses sertifikasi dan dilakukan pemantauan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), konsistensi kehalalan hotelnya dapat dipastikan akan terus berkelanjutan.

Bukti dari keseriusannya dalam menggarap potensi wisata halal tersebut terlihat dengan adanya jumlah peningkatan pengunjung ke hotelnya dari tahun ke tahun.

Sumber: republika.co.id

Wanita Bawa Anjing ke Dalam Masjid, Ini Kata MUI

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Seorang wanita berinisial SM (52 tahun) membawa seekor anjing ke dalam Masjid Al Munawaroh di kawasan Sentul City, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

Kejadian tersebut kemudian viral di media sosial, dan kini SM sedang ditangani pihak aparat keamanan.

Menanggapi kejadian tersebut, Ketua Bidang Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Yusnar Yusuf mengingatkan umat Islam agar tidak emosional menanggapinya. Umat Islam diimbau tetap tenang dan menyerahkan kasusnya kepada polisi.

“Sebagai Ketua Bidang Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia, saya mengimbau semua umat Islam jangan emosional,” kata KH Yusnar, Senin (1/7).

Menurutnya ada dua kemungkinan dari kejadian SM yang membawa anjing ke dalam masjid. Pertama, SM tidak paham aturan masuk masjid. Kedua, SM paham aturan masuk masjid tapi ingin menghina. Tapi sebaiknya umat Islam berbaik sangka atau husnudzan, anggap saja SM yang membawa anjing ke dalam masjid tidak paham aturan.

KH Yusnar menceritakan, pada zaman Rasulullah ada orang yang kencing di dalam masjid. Saat orang tersebut akan dihukum oleh para sahabat yang ada di masjid, Rasulullah dengan tenang tanpa emosi melarangnya.

“Kenapa dilarang, karena kalau dihukum pada saat dia sedang kencing, maka kencing itu berserakan ke mana-mana, setelah dia kencing baru itu bekasnya dibersihkan,” ujarnya.

Orang yang kencing di masjid tersebut kemudian dinasihati dan diberi tahu oleh Rasulullah tentang etika memperlakukan masjid. Rasulullah menyelesaikannya dengan sangat baik dan tidak menghukumnya.

Menurut KH Yusnar, cerita tersebut mengandung pelajaran untuk umat Islam agar tidak cepat emosi. Maka sebaiknya umat Islam tidak emosional dan husnudzan dalam melihat kejadian di Masjid Al Munawaroh.

Ia mengatakan, karena kasus tersebut sudah ditangani oleh aparat keamanan, maka serahkan kepada polisi. Jika polisi melakukan upaya untuk menjunjung tinggi hukum, serahkan saja kepada polisi bagaimana proses hukum seharusnya. “Dari aspek hukum di negara ini, bagaimana sebetulnya memperlakukan orang yang membawa anjing ke dalam masjid,” ujarnya.

Ia juga mengimbau semua masjid sebaiknya membuat suatu aturan seperti Masjid Istiqlal. Orang yang hendak masuk Masjid Istiqlal diatur agar tidak memakai sandal atau sepatu. Jika tidak membawa kerudung, petugas di masjid akan menyiapkan kerudung untuk menutupi auratnya.

Sumber: republika.co.id

Masyarakat Antusias Kunjungi Halal Expo di JCC

 

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Terhitung sejak 27-30 Juni 2019, pengunjung pameran Agro Food, Wisata, dan Halal Expo mencapai 25 ribu orang lebih.

Jumlah tersebut jauh melebihi capaian pada pameran di tahun sebelumnya berkisar 12 ribu pengunjung. Pameran halal menjadi salah satu sektor yang memberikan kontribusi terbesar jumlah pengunjung.

Project Manager Agro Food, Wisata, dan Halal Expo 2019 Sri Rahayu mengatakan, antusiasme penunjung melebihi ekspektasi panitia.

Di tahun sebelumnya, dia menjelaskan, tanpa memasukkan pameran halal jumlah pengunjung yang hadir tidak terlalu membludak.

Di tahun ini, kontribusi pameran halal menjadi magnet tersendiri terhadap nilai transaksi serta jumlah kunjungan yang ada.

“Ini nilai transaksi dan pengunjungnya meningkat 100 persen, tapi belum kita akumulatifkan angka detailnya. Sebab kami masih menghitung,” kata Sri saat ditemui Republika, di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Ahad (30/6).

Sri menjelaskan, upaya menghadirkan pengunjung ke dalam tiga pameran tersebut dinilai sukses.

Sukses tersebut salah satunya didukung dengan adanya peran serta komunitas media sosial Muslim yang sangat aktif. Sehingga di hari pertama memulai pameran, kata dia, terdapat 18 ribu pengunjung yang telah melakukan registrasi secara lebih awal.

Untuk itu ke depannya, dia menimbang untuk membentuk pameran khusus halal tersendiri.

Kendati demikian, dia menjelaskan, berbagai evaluasi dan juga masukan dari pameran yang berlangsung tahun ini akan dijadikan parameter pameran halal di tahun depan.

Terutama, terkait kapasitas ruang dan fasilitas penunjang seperti toilet, mushala, serta ruang menyusui.

“Tadi memang kita lihat, pengunjung desak-desakan di toilet, karena memang antri sekali,” kata dia.

sumber: republika.co.id

DMI Kutuk Perbuatan Wanita Bawa Anjing ke Dalam Masjid Apapun Alasannya

JAKARTA (Jurnalislam.com)—Seorang wanita yang mengaku beragama katolik diamankan polisi karena membawa seekor anjing ke Masjid Al Munawaroh, Sentul, Bogor.

Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengutuk keras kejadian tersebut apapun alasannya.

“Oleh karenanya saya selaku ketua harian DMI menyampaikan mengutuk keras perbuatan itu apapun alasannya apapun backgroundnya apapun kondisinya yang bersangkutan dan sudah diberitakan tapi kejadian itu DMI mengutuk keras kejadian itu,” kata Ketua Harian DMI Pusat, Syafruddin, Senin (1/7/2019).

Ia mengatakan bahwa DMI perlu untuk menyampaikan sikap agar situasi masyarakat tak terganggu.

Ia juga meminta masyarakat menjaga ketenangan dan jangan terpancing isu yang berkembang.

“Saya atau DMI menyampaikan sekaligus mengimbau khususnya kepada umat Islam karena banyak berita berita yang sudah berkembang di tengah-tengah masyarakat simpang siur dan sudah berkembang dan sudah ada yang dikembang-kembangkan untuk bersabar memang umat Islam saat ini sedang diuji kesabarannya oleh Allah SWT terutama di berbagai belahan dunia banyak kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa penting di berbagai belahan dunia saat ini yg diuji oleh Allah SWT,” tambanya.

Ia juga mengaku sudah menghubungi Kapolres Bogor AKBP AM Dikcy untuk menanyakan penanganan kasus perempuan membawa anjing ke masjid itu. Syafruddin meminta polisi transparan dalam mengusut kasus tersebut.

“Menginginkan pihak-pihak yang menangani baik itu aparat penegak hukum maupun MUI di Kabupaten Bogor agar ditangani secara transparan, terbuka, tidak ada yang ditutupi semua dibuka ke publik dan media dibebaskan untuk mengakses prosesnya supaya tidak terjadi fitnah berita-berita bisa yang bisa menghebohkan kehidupan masyarakat terutama kehidupan berbangsa dan bernegara terutama kehidupan keumatan,” pungkasnya.

Sumber: detik.com

Ini Pesan MUI Kepada Presiden dan Wapres Terpilih

JAKARTA (Jurnalislam.com)– Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zainut Tauhid berharap kepada Presiden-Wakil Presiden terpilih, Joko Widodo (Jokowi) – Ma’ruf Amin untuk segera mengambil sikap terkait polarisasi yang ada di masyarakat Indonesia setelah berlangsungnya Pilpres 2019 lalu.

Sebab, tak dapat dipungkiri akibat pesta demokrasi itu menghasilkan sedikit ketegangan di kehidupan masyarakat.

“Kami berharap beliau akan mengayomi semua pihak, tidak membedakan suku dan golongan. Karena hakekat dari sebuah kepemimpinan itu adalah untuk kesejahteraan dan kemaslahatan semua masyarakat,” kata Zainut, Senin (1/7/2019).

Menurut dia, jabatan yang akan diemban kedua tokoh itu merupakan sebuah amanat dari seluruh rakyat Indonesia.

Sehingga, janji-janji yang pernah terlontar saat kampanye lalu harus ditunaikan dan dibuktikan tak hanya kepada para pendukungnya, melainkan kepada 200 juta lebih penduduk Indonesia.

“Jabatan yang beliau emban harus dimaknai sebagai amanah dari seluruh rakyat Indonesia yang harus ditunaikan dengan penuh tanggung jawab, jujur dan adil demi mewujudkan kehidupan masyarakat yang maju, makmur, sejahtera, bahagia lahir dan batin, serta penuh keberkahan dan ampunan dari Allah SWT,” ujarnya.

sumber: okezone.com

 

SDIT Taqiya Rosyida Angkatan 1 Gelar Wisuda Tahfidzul Qur’an

SOLO (Jurnalislam.com)- SDIT Taqiyya Rosyida menggelar kegiatan Akhirusanah angkatan pertama dan wisuda Tahfidzul Qur’an bertempat di Hotel Multazam Syariah Solo dengan meriah pada kamis, (27/6/2019).

“Dan masa pun silih berganti, bersua pasti akan berpisah. Semoga anak-anak SDIT Taqiyya Rosyida menjadi generasi penerus bangsa yang berbudi, mandiri, dan berprestasi sesuai dengan visi misi sekolah,” ujar Isnandariawan, kepala SDIT Taqiyya Rosyida.

USBN pertama kalinya yang diikuti oleh SDIT Taqiyya Rosyida itu sudah mampu meraih segudang prestasi. Muhammad Zidane Arroyan memperoleh nilai 100 untuk mata pelajaran matematika.

SDIT Taqiyya Rosyida juga mendapat peringkat 10 besar USBN se-Kartasura. Selain itu, peserta wisuda tahfidzul qur’an sejumlah 112, dengan perolehan juz 30 (1 juz) sebanyak 44 anak, juz 29 30 (2 juz) sebanyak 35, juz 28 29 30 (3 juz) sebanyak 22 anak. Semoga mampu menjaga dan mengamalkan isi Al Qur’an dengan baik.

Suyadi Widodo selaku Camat Kartasura turut menghadiri dan mengapresiasi segudang prestasi siswa-siswi SDIT Taqiyya Rosyida. Kebetulan, pelaksanaan Akhirusanah dan Wisuda Tahfidzul Qur’an bertepatan dengan ulang tahun beliau yang ke-47.

“Semoga para penghafal Al Qur’an mampu menjaga Al Qur’an dengan baik, agar ajaran Al Qur’an tetap terjaga dari zaman Nabi hingga sekarang,” ujarnya.

Sebagai bentuk rasa bangga dan syukur, Purnomo selaku wali murid juga menyampaikan kesan dan pesan.

“Pada hari ini, segala rasa ragu yang mungkin kami rasakan karena ini adalah angkatan pertama SDIT Taqiyya Rosyida terjawab jelas, bahwa sekolah ini mampu memberikan yang terbaik dan kejutan yang spektakuler,” ungkapnya.

Inilah Penilaian Dewan Hakim dalam STQN 2019 Pontianak

PONTIANAK (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Hakim Ahmad Muhajir menjelaskan bahwa dari setiap kategori yang dilombakan di STQ ke-25 ini, dewan hakim akan melakukan penilaian kepada peserta kemudian akan memilih para juaranya.

“Untuk menentukan pemenang kategori tilawah, hakim yang menilai ada 12 orang. Hakim tajwid 3 orang, fashahah 3 orang, hakim lagu 3 orang dan hakim suara 3 orang,” katanya saat ditemui di sela-sela penilaian, Minggu (30/06/2019) di Taman Alun-alun Kapuas, Pontianak.

Hampir sama dengan tilawah, namun pada cabang tahfidz, Dewan Hakim akan menilai peserta hanya dari segi tahfidz, tajwid, dan fashahah. Kategori penilaian yang dilihat dari suara dan lagu tidak ada pada kategori ini.
 
Sedangkan di kategori tafsir, yang pertama adalah dari kosa kata, kemudian dewan hakim akan menanyakan sabab nuzul dari ayat yang ditafsirkan, lalu wawasannya tentang keagamaan Iptek, Sosial, Ekonomi, Sejarah, dan lain-lain, kolerasi antar ayat satu yang dibaca dengan ayat sebelumnya, serta dari bahasanya.
 
Dari Dewan Hakim sendiri dalam memberikan penilaian, menurut Muhajir, sama sekali tidak bisa “bermain” karena sudah diberi sumpah terlebih dahulu. Jika ada perbedaan dalam penilaian diantara Dewan Hakim, nilai perbedaan intervalnya hanya satu. Setelah itu akan di musyawarahkan, baru nilainya akan ditampilkan.
 
“Dewan hakim ini adalah mereka yang memang menguasai di bidangnya, misal yang di tilawah tidak ada dewan hakim yang bukan qori dan qoriah. Kalau bukan ‘pemain’ maka dalam nomor penilaian akan beda, konsep, teori dan operasional berbeda,” katanya.