Berita Terkini

Twitter Larang Cuitan Sudutkan Agama

SAN FRANCISCO (Jurnalislam.com) — Jejaring sosial Twitter akan memberlakukan larangan penggunaan kata-kata atau bahasa yang menunjukkan kebencian serta hal-hal negatif lainnya terhadap kelompok umat beragama pada Selasa (9/7).

Larangan ini juga dikatakan dapat meluas ke kategori lainnya seperti ras dan gender.

Aturan membuat para pengguna Twitter tidak dapat menuliskan ucapan yang tidak manusiawi seperti ujaran kebencian pada para penganut agama tertentu.

Ucapan negatif yang ditujukan terhadap ras, jenis kelamin, dan mengenai hal lainnya juga akan dilarang.

Twitter serta sejumlah jejaring sosial lainnya seperti Youtube dan Facebook telah dikecam karena prevalensi pelecehan dan kebencian yang mungkin terjadi dalam layanannya.

Keputusan Twitter untuk memperbaharui larangan tersebut datang menyusul ribuan tanggapan pengguna saat dimintai saran bagaimana memperluas kebijakan mengatasi ujaran kebencian yang beredar secara daring.

Sebelumnya, Twitter dikecam oleh sejumlah kelompok-kelompok hak sipil yang dinilai belum dapat mengatasi beredarnya ujaran kebencian melalui media sosial tersebut. Kelompok-kelompok hak sipil juga menyoroti diskriminasi yang terjadi kepada kelompok agama tertentu.

“Twitter gagal melarang seluruh bentuk dehumanisasi dalam platform mereka. Bukan rahasia lagi jika CEO Jack Dorsey dan pimpinan di perusahaan ini enggan memberantas diskiriminasi dan kesalahan informasi karena takut akan serangan balasan yang konservatif,” ujar Rashad Robinson, ketua kelompok keadilan rasial Color of Change dalam sebuah pernyataan, dilansir East Bay Times, Rabu (10/7).

Facebook memiliki kebijakan serupa yang melarang ujaran atau perkataan tidak manusiawi terhadap orang atau kelompok tertentu.

Secara khusus adalah atas mereka yang memiliki karakteristik yang dilindungi seperti ras, etnis, orientasi seksual, kasta atau afiliasi agama.

Kebijakan yang dimiliki Youtube juga melarang materi yang mempromosikan kekerasan serta kebencian terhadap individu atau kelompok.

Diantaranya termasuk mereka dengan kategori usia, disabilitas, ras, status imigrasi, dan sejenis lainnya.

sumber: republika.co.id

 

Ucapan ‘Terima Kasih Jokowi’ di Badan Pesawat Garuda Dinilai Berlebihan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Stiker bertulis ucapan terima kasih kepada Presiden Jokowi di badan pesawat Garuda Indonesia yang akan memberangkatkan jamaah haji ke Tanah Suci, menuai polemik dan menjadi sorotan masyarakat. Terlebih, hal itu tidak pernah dilakukan di era presiden-presiden sebelumnya.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera, menilai ungkapan terima kasih ke Jokowi di pesawat itu sebagai sesuatu yang berlebihan.

Menurut dia, sesuatu yang dilakukan secara berlebihan akan menuai pandangan negatif dari masyarakat dan menjadikan citra maskapai pelat merah itu semakin rusak pasca insiden tertolaknya laporan keuangan mereka, beberapa waktu lalu.

“Sesuatu yang berlebihan itu buruk. Apalagi berlebihan dalam memuji,” kata Mardani kepada Jurnalislam.com saat dihubungi di Jakarta, Selasa (09/07/2019).

Mardani pun lantas mempertanyakan apakah maskapai Garuda baru pertama ini mendapat kepercayaan memberangkatkan haji, sampai-sampai membuat “ritual” ucapan terima kasih dan pecahkan kendi semacam launching rute baru.

Menurut dia, pemberangkatan ribuan jamaah haji bukan hanya kerja maskapai penerbangan dan presiden, tetapi juga seluruh pihak, termasuk Pemerintah Arab Saudi yang memberikan tambahan kuota haji kepada masyarakat Indonesia.

“Prosesi pemberangkatan jamaah haji hasil kerja banyak pihak, bukan hanya segelintir orang,” tuturnya.

Mardani justru mengaku risih jika keberangkatan jamaah haji dikapitalisasi untuk menutupi laporan kinerja maskapai Garuda yang semakin menurun.

Meskipun hal itu telah diklarifikasi oleh pihak manajemen Garuda, namun kemunculan stiker ucapan terima kasih ke presiden tetap layak menjadi sorotan publik.

“Saya khawatir ini politisasi rendahan. Semoga Pak Jokowi tidak terjebak,” ujarnya.

Maskapai Garuda Indonesia memberikan penjelasan terkait ucapan terima kasih ke Jokowi di badan pesawat mereka.

Menurut mereka, langkah itu hanya untuk kepentingan pelepasan penerbangan perdana calon jamaah haji 2019 yang semula dijadwalkan dilakukan oleh Presiden Joko Widodo.

Namun, lanjut dia, karena sesuatu hal dan jadwal yang berubah, presiden tidak jadi melepas jamaah calon haji Kloter (Kelompok Terbang) 1 Solo, Jawa Tengah, akhir pekan lalu.

KPAI Dukung Eksistensi Pendidikan Agama di Sekolah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komisioner Perlidungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti menentang keras usulan Darmono terkait wacana penghapusan materi pendidikan agama di sekolah.

Dengan tegas, kata Retno, KPAI tentu mendukung pendidikan agama tetap diberikan di sekolah.

Namun, substansi materi yang diajarkan maupun metode pembelajarannya memang masih memerlukan masukan banyak pihak, agar menjadi tepat dan bermakna.

Sebab, selama ini pendekatan pembelajaran yang mayoritas digunakan guru masih konvensional, kurang membuka ruang dialog.

Sehingga kurang membangun daya kritis peserta didik.

Ketika budaya literasi terjadi disekolah, maka ruang dialog dan kemampuan berpikir kritis akan terbangun dengan sendirinya, sehingga sekolah dapat dengan mudah menangkal paham radikal dan fanatisme sempit lainnya.

“Menyoroti kegiatan pendidikan agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu) yang selama ini berlangsung di sekolah, memang lebih terkonsentrasi pada persoalan-persoalan teoritis, kurang memperhatikan persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi ‘makna’ dan ‘nilai’ yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik,” ungkap Retno.

Dalam kurikulum 2013, Pendidikan Agama di jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah, digabung dengan pendidikan budi pekerti yang diajarkan selama 4 jam tatap muka untuk jenjang SD dan 3 jam  untuk SMP dan SMA/SMK.

Penggabungan ini, dulu banyak dikritik beberapa pihak. Karena, Pendidikan Agama berlandaskan kitab suci masing-masing agama,

Norma dan Budaya

sedangkan budi pekerti berlandaskan norma-norma dan budaya yang berlaku di suatu tempat. Namun, kedua hal tersebut diajarkan oleh orang yang sama.

Padahal, menurut kitab suci dengan menurut norma dan budaya terkadang bisa berbeda.  Penambahan jam pendidikan agama saat itu, dilakukan dengan alasan penambahan “Budi Pekerti”.

“Barangkali, hal ini yang justru perlu dikritisi juga secara arif dan bijaksana demi kepentingan terbaik bagi anak didik di seluruh Indonesia.”

Karenanya, menurut Retno, pelajaran agama masih diperlukan di berikan di sekolah.  Namun,  perlu diberi masukan secara bersama-sama adalah metode pembelajaran dan materinya.

Misalnya, penting memberikan materi bahwa setiap agama mengajarkan kerukunan, saling menghormati, saling menghargai.

Saling menyayangi (bukan menyebar kebencian)  baik kepada umat agama yang sama maupun umat agama yang berbeda.

“Hal ini bisa menjadi materi yang dianggap utama, memgingat mata di negeri ini kita sangat majemuk, keragaman dan perbedaan adalah keniscayaan di Indonesia. Jadi penting pelajaran agama jg memperkuat nilai nilai kebangsaan dan memperkokoh persatuan bangsa,” tandas Retno.

KPAI Minta Pemerintah Abaikan Usulan Penghapusan Pelajaran Agama

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komisioner Perlidungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti menentang keras usulan Darmono terkait wacana penghapusan materi pendidikan agama di sekolah.

Karenanya, pemerintah, khususnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) tidak perlu menanggapi wacana tersebut.

“Sebenarnya, polemik tersebut muncul hanya dari usulan seorang WNI bernama Darmono, hanya usulan, bahkan sebenarnya usulan tersebut  dapat diabaikan pemerintah, karena pemerintah Indonesia memang tidak pernah merencanakan penghapusan pelajaran agama di sekolah,” kata Retno dalam keterangan persnya, Selasa (09/07/2019).

Retno menjelaskan, dalam kurikulum 2013 yang disusun pemerintah pusat, pendidikan agama meliputi enam agama di Indonesia, bukan hanya agama tertentu saja.

Artinya, kata Retno, ide Darmono tersebut meliputi pendidikan agama di sekolah, mulai dari  agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha sampai Konghucu.

Padahal, Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara  menyatakan bahwa lingkungan sekolah memang bukan satu-satunya tempat anak-anak belajar, termasuk belajar pendidikan agama.

Karena, masih ada pendidikan di lingkungan keluarga yang pertama dan utama menenamkan karakter anak,  dan juga pendidikan di lingkungan masyarakat.

“Ki Hajar menyebutnya dengan istilah ‘Tri Pusat Pendidikan’. Artinya, pendidikan agama sejatinya memang diajarkan di semua ranah, yaitu di keluarga, di sekolah dan di masyarakat,” ungkapnya.

 

Anies Jadi Pembicara di Forum Pemimpin Kota Sedunia

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, beserta sejumlah jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghadiri World Cities Summit Mayors Forum (WCSMF) ke-10 di Medellin, Kolombia pada 10-12 Juli 2019.

Kehadiran Anies memenuhi undangan Wali Kota Medellin, Federico Gutierrez, untuk mengikuti forum tersebut.

Pada tahun ini, WCSMF mengangkat topik kepercayaan atas kota dengan tema utama ”Liveable and Sustainable Cities: Building a High Trust City”

(Kota Layak Huni dan Berkelanjutan: Membangun Kota dengan Tingkat Kepercayaan Tinggi).

“Forum ini adalah forum tahunan yang akan diadakan untuk ke-10 kalinya. Saat ini, kita tinggal pada era di mana kompetisi di antara kota dan daerah tumbuh dengan pesat,” kata Anies dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta Pusat, Selasa (9/7).

Masing-masing daerah berusaha menarik sumber daya manusia terbaik,

mengembangkan infrastruktur yang canggih untuk menjadikan tujuan kota metropolis dunia.

Jakarta hadir bukan hanya untuk menjadi contoh di tingkat nasional, namun juga rujukan di tingkat global.

WCSMF merupakan forum internasional tahunan yang dihadiri oleh 74 pemimpin kota terpilih dunia.

Tujuan penyelenggaraan forum ini sebagai upaya bersama dalam menjawab tantangan perkotaan,

serta saling bertukar pikiran dan pengalaman, agar terbentuk kota dan wilayah perkotaan yang lebih baik bagi warganya.

sumber: republika.co.id

 

Kian Diminati, Produk Halal Kini Menjadi Tren

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Selama ini pemasaran produk halal lokal dianggap kaku dan menyasar segmentasi terbatas, kini kesan tersebut justru sebaliknya, produk halal menjadi tren tersendiri di tengah masyarakat.

Hal ini menurut pegiat hijrah Arie Untung berkat peran emak-emak yang ikut mempopulerkan produk halal.

“Kita bisa lihat sendiri sekarang, emak-emak justru menjadi pelopor utama dalam memasarkan produk-produk halal. Apakah yang sifatnya pakaian seperti busana syari, makanan, ataupun obat-obatan,” terang Arie di acara ulang tahun (milad) ke-7 Halal Network International (HNI), di ICE BSD, Tangerang, Banten, Ahad kemarin

Untuk itu, Arie sangat mendukung sekali pemberdayaan para emak-emak, terutama melalui jaringan HNI dalam memasarkan produk halal lokal.

“Emak-emak dengan segala kesibukannya mengurus anak-anak, justru akan mempunyai peran besar memasarkan produk halal lokal ketika dipercaya untuk itu,” ucapnya.

Arie optimis ke depannnya produk halal lokal semakin dipercaya di dalam negeri dan menguasai pasar internasional.

“Jika kita terus fokus memasarkan produk halal lokal, saya yakin Indonesia dapat menguasai jejaring pasar internasional dalam hal produk halal,” tuturnya.

Menurut Arie, semakin ke sini, tren produk halal semakin diminati di tengah masyarakat.

“Ketika semakin banyak orang yang hijrah, maka secara otomatis akan semakin banyak orang yang sadar untuk mencari dan mengkonsumsi produk-produk halal,” tandasnya.

Acara Milad HNI sendiri dimeriahkan penampilan sejumlah artis papan atas, seperti Sabyan dan Opick.

Tak hanya sekadar bersifat konser semata, Ari Untung, Opick dan Sabyan juga terlibat menggalang donasi kemanusiaan. Tercatat donasi yang terkumpul mencapai 3 miliar lebih.

sumber: republika.co.id

Hadirkan Artis Hijrah, SKPI Centre Gelar Tabligh Akbar di Sukabumi

SUKABUMI (Jurnalislam.com)–Syarikat Kebangkitan Pemuda Islam (SKPI) Centre menggelar Tabligh Akbar di Kota Sukabumi yang bertempat di UPC Lapangan Terminal C Jalur Sukabumi, Sabtu (6/7/2019).

Acara ini dihadiri oleh ribuan peserta dari pelbagai wilayah Sukabumi. Tablig Akbar dengan Tema Menyatukan Kembali ini menghadirkan Ulama Nasional dan Artis-artis Hijrah diantaranya Ustadz Haikal Hassan, Ustadz Dasad Latif, Ust Ahmad Ridwan, Lc, Ust Munzir Situmorang, Habib Idrus Al Jufri.

Hadir juga  kalangan artis seperti Teuku Wisnu, Donni Alamsah, Mario Irwansyah, Cuping Topan, swara Andika dan yang lainnya. Tabligh Akbar ini juga sebagai momentum dibentuknya SKPI Jawa Barat dan Sukabumi sebagai Pusatnya.

Arief Atman Pembina SKPI Sukabumi Arief Atman mengatakan bahwa SKPI di Sukabumi ini termasuk yang istimewa karena SKPI yang dibentuk di Sulteng dan hadir di Sukabumi.

Ia menambahkan bahw tablig akbar ini tidak kalah pentingnya dengan pembangunan Masjid, Pondok Pesantren, dll.

“Maka disinilah membangun umat  Islam ini diantaranya dengan tabligh kbar dan pembangunan Umat Islam itu dibanguna dari pemudanya , karena sesuai yang dikatakan tadi oleh para penceramah pemuda sebagai masa depan agama dan bangsa,” katanya.

reporter: Taufik Hadi

UU JPH Diberlakukan, Ini Cara UMKM Dapat Sertifikat Halal

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Pemerintah mewajibkan seluruh pelaku industri termasuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki sertifikat halal mulai Oktober mendatang. Masih banyak pengusaha yang belum mengajukan sertifikasi tersebut.

Wakil Kepala Lembaga Sertifikasi Institut Per tanian Bogor (IPB) Elvina Agustin Rahayu menya takan, pada 2018, dari empat juta usaha mikro, baru se kitar 12 ribu yang memiliki sertifikat halal.

Kemudian, baru empat persen pengusaha besar yang mengantongi sertifikat halal.

“Masih banyak yang belum halal,” ujar Elvina.

Salah satu kendalanya, kata dia, karena pengajuan perizinan yang cukup rumit dan harus melalui banyak pintu.

“Jadi, perusahaan mau naik kelas, tapi karena satu hal jadi tidak bisa. Sertifikasi halal memang penting, apalagi 40 persen pelaku usaha mikro bergerak di bidang pangan dengan komposisi besar,” lanjut dia.

Kendala lainnya, tutur Elvina, meliputi sumber bahan baku serta infrastruktur yang belum mema dai.

“Banyak pelaku industri rumah tangga yang fasilitas produksinya belum memenuhi persyaratan. Baru sekitar 10 persen yang peralatan dan produksinya sudah sesuai kehalalan,” ujar dia.

Untuk UMKM

Seperti diketahui, sebelum mendapat sertifikat halal, produk bersangkutan akan diaudit atau diuji kehalalannya terlebih dahulu.

Setelah seluruh proses dan komponennya dipastikan sesuai standar kehalalan, barulah sertifikat diterbitkan.

Agar pengusaha UMKM bisa lulus uji sertifikasi halal dengan mudah, General Manager Operation PT Lion Boga Chef Adam Rachmat membagikan beberapa tips.

Di antaranya, gunakan bahan-bahan yang sudah masuk dalam daftar bersertifikat halal Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Di MUI sudah ada namanya positive list, yaitu bahan-bahan yang sudah masuk sertifikasi halal MUI. Jadi, kalau kita ambil bahan makan dari list itu, sudah pasti akan cepat lulus,” jelas Chef Adam kepada Republika.

Tips berikutnya, kata dia, pelaku UMKM harus memperhatikan proses produksinya. Dari persiapan produksi, cara pembuatan. Sampai penyimpanannya harus benar-benar halal.

“Artinya tidak ada lagi tercampur bahan-bahan yang tidak halal. Kalau kedua tips tersebut diikuti, sudah pasti ke sananya lebih gampang,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia tidak memungkiri, kalau untuk mendapat cita rasa original, ada beberapa bahan ma kanan yang belum bisa digantikan.

Dia memisalkan menu steak dengan red wine sauce yang jelas harus menggunakan wine.

“Wine kan khamer, maka untuk masalah cita rasa ini memang tantangan dari teknologi pangan.

Hanya saja saya rasa, makanan yang dibuat dengan cita rasa mendekati (original) saja sudah cukup. Tidak harus sangat original,” kata Chef Adam.

Dia berharap, kesadaran industri UMKM terhadap sertifikasi halal semakin meningkat.

Hal itu karena banyak manfaat yang bisa mereka dapat dengan menghalalkan produknya.

“Jangan dipikir tidak ada manfaatnya. Banyak UMKM mikir ‘buat apa sertifikasi halal, toh tetap laku’ iya sekarang laku, tapi satu, dua, atau lima tahun ke depan mungkin mereka sudah ketinggalan. Jadi, lebih baik sertifikasi sekarang, halal pun kini sudah menjadi gaya hidup,” jelasnya.

Tidak hanya itu, menurut dia, memiliki atau meng ajukan serifikat halal pun berarti melindungi konsumen.

Apalagi, lebih dari 80 persen masyara kat Indonesia merupakan Muslim.

“Itu kepedulian kita sebagai umat Muslim untuk melindungi konsumen. Jadi, bukan hanya soal mendapat banyak uang,” tutur Chef Adam.

Sumber: republika.co.id

 

LAZ Nurul Hayat Gelar Khitan Massal untuk 97 Anak

SEMARANG (Jurnalislam.com)—LAZ Nurul Hayat Semarang kembali mengadakan Khitan Massal, Sabtu (6/7/2019).

Pendaftaran peserta sudah dibuka sejak akhir ramadhan dan dalam waktu sepekan bada Idul Fitri, kuota terpenuhi.

Bertempat di Klinik IB, bekerja sama dengan Khitan Center Semarang, acara ono dihadiri 101 anak yang terdaftar dan dihadiri 97 anak.

Kepala Cabang Nurul Hayat Semarang Arfanu Romlan berharap acara ini sangat  bermanfaat untuk kaum dhuafa Semarang.

Acara ini dipandu oleh Kak Slam dan diisi dengan berkisah dan kuis interaktif, sehingga bisa mencairkan suasana.

Peserta juga diberikan sarung dan uang saku. tak lupa hadiah doorprize games berupa gelas mug dan alat tulis.

“Kami orangtua dari Abdurrahman Yusuf Faza mengucapkan jazakumulloh khoirol jaza’ kepada Nurul Hayat,” kata Eko, seorang orang tua peserta.

 

BMKG Pantau Perkembangan Pasca Gempa 7 Magnitudo di Ternate

TERNATE (Jurnalislm.com)—Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) mengumumkan bahwa telah terjadi gempa magnitude 7 , Ahad malam (7/7/2019).

Gempabumi berpusat di laut 133 Km Barat Daya Ternate Maluku Utara.

BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami karena berdasarkan pemodelan matematis terdapat ancaman tsunami dengan status ancaman Waspada  untuk daerah Minahasa bagian selatan dan Minahasa Utara bagian selatan.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono  mengatakan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan gempa yan terjadi.

“Dari hasil monitoring BMKG selama satu jam, telah terjadi 8 kali gempabumi susulan yang tercatat, dengan M=3.5 s/d 4.9,” katanya dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com, Ahad malam.

BMKG juga terus memonitor perkembangan gempabumi susulan dan tinggi muka air laut yang terdapa tdi 6 stasiun pasang surut ( Bitung, Tobelo, Ternate, Taliabu, Jailolo, dan Xanana).

“Hasilnya akan diinformasikan kepada masyarakat melalui media,” katanya.