Berita Terkini

Pemerintah Ancam Masyarakat Tak Bisa Urus SIM hingga Surat Tanah Jika Tunggak BPJS

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Presiden Joko “Jokowi” Widodo sedang menggodok regulasi yang bakal menetapkan penunggak iuran BPJS Kesehatan tidak bisa mengakses pelayanan publik.

Aturan ini nantinya akan berbentuk Instruksi Presiden (Inpres).

Menurut Direktur Utama BPJS Kesehatan, Fachmi Idris, aturan ini bertujuan untuk meningkatkan kolektibilitas iuran peserta BPJS Kesehatan dari segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU).

“Kita masuk ke fase berikutnya, sedang disusun Inpres di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan yang menginisiasi pelayanan publik,” ujar Fachmi dalam Forum Merdeka Barat di Kemenkominfo, Jakarta, Senin (7/10).

Dalam Inpres ini, nantinya penunggak iuran BPJS Kesehatan tidak akan bisa memperpanjang paspor, Surat Izin Mengemudi (SIM), mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR), hingga mengurus administrasi pertanahan, bila memiliki tunggakan atau belum membayar iuran.

Pelaksanaan sanksi layanan publik akan diotomatiskan secara daring antara data di BPJS Kesehatan dengan basis data yang dimiliki oleh Kepolisian RI, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil, Badan Pertanahan Negara, dan lain-lain.

“Dengan adanya instruksi ini, kita bisa melakukan koordinasi penegakan,” kata Fahmi.

Sanksi layanan publik tersebut sebenarnya sudah tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.86 Tahun 2013 Tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif Kepada Pemberi Kerja Selain Penyelenggara Negara Dan Setiap Orang, Selain Pemberi Kerja, Pekerja, Dan Penerima Bantuan Iuran Dalam Penyelenggaraan Jaminan Sosial.

sumber: beritagar.id

Gerindra – Istana Bicarakan Posisi Menteri Jokowi

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sekretaris Jenderal Gerindra Ahmad Muzani mengakui adanya pembicaraan soal portofolio menteri antara Prabowo Subianto dan pihak Istana.

Pembicaraan itu seputar kemungkinan Gerindra bergabung dengan koalisi pemerintahan.

“Pembicaraan itu memang ada dan kita tidak bisa mungkiri bahwa ada pembicaraan, ada pemikiran di sekitar istana untuk itu. Sekali lagi, kita tidak serta-merta menerima tawaran itu,” kata Ahmad Muzani di Kompleks Parlemen RI, Jakarta, Senin (7/10).

Muzani mengatakan, Gerindra menyadari posisinya di Pemilu 2019 sebagai lawan utama Joko Widodo dan koalisinya.

Menurut dia, Prabowo pun belum mengajukan secara perinci posisi yang diajukan bila diajak berkoalisi.

Wakil Ketua MPR ini juga membantah adanya informasi dari Wakil Ketua Gerindra Arief Poyuono yang menyebut Prabowo meminta tiga menteri pada koalisi.

Pada dasarnya, Muzani mengklaim, Gerindra hanya ingin berkontribusi dalam posisi yang bisa membuat Gerindra ‘mencicil janji kampanyenya’ pada masyarakat.

“Jadi, Pak Prabowo tidak gede rumongso atau tidak menggeret-geret (menarik-narik), beliau masih menunggu proses ini sebagai sebuah cara kita kelola negara bila kita ditawari dan itu betul-betul jadi tugas negara,” ujar dia.

Isu seputar tawar-menawar menteri sempat mencuat saat Muzani berkontestasi sebagai kandidat ketua MPR.

Dalam musyawarah, dari sembilan parpol dan satu kelompok DPD, hanya Gerindra yang mendukung Muzani menjadi ketua MPR, hingga akhirnya melunak dan Bambang Soesatyo menjadi ketua MPR.

Prabowo disebut menerima keputusan tidak dipilihnya Gerindra sebagai ketua MPR itu dengan iming-iming posisi menteri.

Sumber: republika.co.id

BMH dan Sakinah Mart Gelar Pengobatan Gratis

SURABAYA(Jurnalislam.com)–Sakinah Supermarket bekerja sama dengan Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menyelenggarakan cek kesehatan gratis di halaman Sakinah Mart Jl. Wonorejo, Sambikerep, Kota Surabaya, Ahad (6/10/2019).

Kegiatan yang dihadiri ratusan warga tersebut disambut antusias oleh masyarakat di sekitar lokasi kegiatan, terutama yang mempunyai masalah kesehatan untuk datang mengikuti kegiatan tersebut.

Imam Muslim, Manager Program & Pendayagunaan BMH Perwakilan Jawa Timur mengatakan kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis ini merupakan salah satu bagian dari program sosial dan kemanusian BMH.

“Ini dilakukan dengan tujuan membantu program pemerintah dalam rangka meningkatkan kesehatan masyarakat, serta membina hubungan baik antara BMH, Sakinah, dengan warga,” ungkapnya dalam keterangan yang diterima redaksi.

Selain itu, Muslim menuturkan bahwa kegiatan itu juga sebagai wujud kepedulian kepada warga yang membutuhkan layanan kesehatan.

Adapun beberapa agenda kegiatan yang dilakukan yakni penyuluhan masalah kesehatan, Cek Kesehatan setiap warga, dan Kupon Belanja terbatas Sakinah Mart khusus undangan warga sekitar.

“Ini sudah ke sekian kalinya, tahun 2019 ini mungkin sudah 5 kali BMH mengadakan cek atau pemeriksaan kesehatan gratis di Surabaya, ada di kampung pemulung Keputih, kampung makam Rangkah, CFD (Car free day) Taman Bungkul, dan lain-lain. Insya Allah, BMH akan terus mengadakan program pemeriksaan kesehatan gratis ini,” ujar dia.

Warga Sekitar khususnya Sambikerep mengapresiasi program pemeriksaan gratis yang diadakan BMH dan Sakinah Mart ini.

“Saya sangat senang dengan kegiatan ini mas, awalnya saya merasa sehat-sehat saja sebelum cek kesehatan ini, eh iseng ikutan ternyata kolesterol saya tinggi. Alhamdulillah jadi tau, dan selanjutnya lebih menjaga pola makan saya,” ungkap Bagio warga Jelidro, Sambikerep.

Habib Rizieq Dukung Musyawarah Ulama dan Tokoh Umat di Bandung

MEKAH ALMUKAROMAH (Jurnalislam.com) – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab menyatakan dukungannya kepada acara Musyawarah Ulama dan Tokoh Umat Se-Indonesia yang akan digelar di Bandung pada tanggal 15-17 Oktober mendatang.

“Saya dari kota suci Mekah Al-Mukaromah mendukung sepenuhnya musyawarah tersebut, Insya Allah musyawarah tersebut akan digelar dengan sukses dan berkah,” katanya dalam sebuah video yang beredar di sosial media pada Senin (7/10/2019).

Habib Rizieq berharap musyawarah tersebut dapat menghasilkan keputusan-keputusan strategis bagi perjuangan umat Islam Indonesia.

“Selamat bermusyawarah, selamat bersilaturahi, dan semoga menang,” tegasnya.

Dalam video berdurasi 1.12 menit itu HRS bersama 4 orang lainnya tampak saling memegang tangan saat menyampaikan pernyataannya. HRS menyebutkan keempat orang itu adalah Ketua Badan Pekerja Musyawarah Ulama dan Tokoh Umat Se-Indonesia Bapak Bambang, Anggota Badan Pekerja Ustadz Achwan, dan Ketua Organizing Committee Ustadz Asep Syaripudin.

https://twitter.com/i/status/1181247520585863169

Muhammadiyah Minta Pemerintah Tak Larang Minyak Curah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – PP Muhammadiyah menentang rencana pemerintah untuk melarang peredaran minyak goreng yang akan diberlakukan mulai Januari 2020.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Ekonomi Anwar Abbas menegaskan, kebijakan tersebut hanya akan menguntungkan pengusaha besar dan akan merugikan pengusaha kecil.

Sebab, lanjutnya, hampir 50% dari kebutuhan minyak goreng dalam negeri dikonsumsi dalam bentuk minyak curah yang notabene diproduksi oleh pengusaha-pengusaha kecil.

“Kebijakan ini sekilas kelihatan bagus karena memiliki komitmen yang tinggi bagi melindungi kesehatan rakyat tapi bila di dalami lebih lanjut maka kebijakan ini jelas-jelas akan sangat menguntungkan usaha-usaha besar yang ada dan sebaliknya tidak mustahil akan menjadi bencana dan malapetaka bagi pengusaha dan rakyat kecil,” paparnya dalam siaran pers kepada Jurnalislam.com, Senin (7/10/2019).

Menurutnya, seharusnya pemerintah tidak melarang itu, tapi bagaimana pemerintah bisa menginventarisasi secara cermat produsen-produsen minyak curah yang jumlahnya sangat banyak tersebut.

Anwar menjelaskan, pemerintah seharusnya memberikan bimbingan dan pelatihan kepada mereka, sehingga kualitas produksi mereka bisa meningkat dan dapat memenuhi standar yang ditetapkan oleh pemerintah.

“Sehingga usaha mereka tetap bisa jalan dan kesejahteraan mereka tetap dapat terus terjaga dan ditingkatkan.

Kementerian Perdagangan akan melarang peredaran minyak goreng dalam bentuk curah dan mengalihkannya ke minyak goreng kemasan dengan dalih untuk meningkatkan mutu dan keamanan pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat. Peraturan tersebut akan berlaku mulai Januari 2020 mendatang.

Menurut Mendag, minyak goreng curah yang kini beredar di tengah-tengah masyarakat merupakan minyak bekas pakai yang diolah sedemikian rupa seakan-akan minyak baru yang tidak bermasalah.

Organisasi Pemuda Solo Gelar Doa Bersama dan Aksi Solidaritas Mahasiswa yang Meninggal

SOLO(Jurnalislam.com)- Organisasi Kepemudaan (OKP) Kota Solo menggelar aksi damai Panggung Rakyat di depan Patung Soekarno, Manahan, Solo, kamis, (3/10/2019).

 

Aksi damai tersebut terdiri dari pembacaan puisi, akustik dan mimbar bebas. OKP terdiri dari sejumlah organisasi kemahasiswaan yang ada di kota Solo diantaranya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Gerakan Nasional Mahasiswa Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

 

Lalu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (Hikmabudhi). Sekertaris IMM Surakarta Suryadik menyebut bahwa tujuan aksi damai tersebut bentuk wujud rasa keprihatinan mereka terhadap bangsa Indonesia.

 

“Dalam perjalanannya Indonesia mengalami suasana kemelut pasca proklamasi. Sejarah nasional resmi berpuncak pada pembacaan proklamasi 17 Agustus 1945.

Penyerahan kedaulatan resmi dari Belanda ke RI tahun 1949 dikerdilkan. Sejumlah peristiwa besar yang terjadi antara 1945 dan 1949 tidak dikisahkan,” katanya.

 

Menurutnya, Kebanyakan orang Indonesia tidak mengetahui tentang kekerasan politik rasis besar-besaran, termasuk pembunuhan serta pemerkosaan terhadap kaum minoritas Tionghoa pada tahun 1947.

 

“Mereka juga tidak tahu pada masa itu terjadi kekerasan politik besar-besaran terhadap ratusan ribu warga minoritas Eropa dan Indonesia. Pada masa yang sama, terjadi pergolakan dikalangan elite kaum Nasionalis sendiri, yang sebagian mendorong terjadinya ‘Peristiwa Madiun 1948’,” ungkapnya.

 

Namun, katanya, alih-alih terselesaikannya polemik yang dirasa telah selesai kemudian perlu memerlukan kesadaran penuh dalam pelaksanaanya. Masalah berikutnya pun muncul tatkala usaha mewujudkan tatanan ideal dalam kedaulatan Indonesia, yaitu munculnya kasus rasisme dikalangan bangsa Indonesia sendiri.

 

“Jika didalam novel Multatuli yang telah terlanjur tersebar ke negeri Belanda, yang pada akhirnya rakyat Belanda sedih dan tidak terima bahwa Belanda adalah penjajah negeri orang. Hari ini hal itu dilakukan oleh negeri jajahannya yaitu Indonesia untuk menjajah negerinya sendiri,” ungkapnya.

 

Lebih lanjut Supriyadik menuturkan bahwa selama 74 tahun Indonesia merdeka semua anak bangsa telah berusaha melakukan penataan konstitusi yang imbang dengan proses dan dialektika yang panjang.

 

“Hasil dari kontestasi politik di Pemilu 2019 akan menjadi puncak dari nasib Indonesia untuk satu periode berikutnya. Semoga Indonesia mampu menjadi bangsa besar yang diidam-idamkan oleh Soekarno yakni bangsa yang mandiri, atau berdikari,” tandasnya.

Mahasiswa, Papua, dan Perang Asimetris di Indonesia

Oleh: Ainul Mizan 

Tanggal 23 September 2019, di Indonesia telah terjadi 2 (dua) demonstrasi. Pada satu sisi adalah aksi demonstrasi mahasiswa yang meluas di beberapa kota, di antaranya Jogyakarta, Kendari, Jakarta, dan kota lainnya. Aspirasi yang diusung beraneka ragam. Aksi demo mahasiswa berawal di Pekanbaru, Riau, secara khusus terkait dengan penanganan terkait Karhutla, pada tanggal 16 – 17 September 2019. Aksi di Jogyakarta dengan tajuk “Gejayan Memanggil”, dalam rangka mengkritisi beberapa RUU bermasalah. Sedangkan aksi di Jakarta, massa mahasiswa menuntut pembatalan RUU bermasalah, di antaranya RUKUHP, RUU KPK, dan lainnya. Bahkan tuntutan agar Jokowi mundur juga menggema. Hingga kemudian aksi di Jakarta tidak hanya massa mahasiswa, ada beberapa elemen lainnya. Dan di antara mereka ada elemen yang menuntut disahkannya RUU PKS.

Sementara di sisi lainnya, di Papua telah terjadi aksi massa besar – besaran di Wamena. Diberitakan bahwa aksi yang awalnya damai tersebut, berujung ricuh dan terjadi kerusuhan. Pembakaran rumah serta timbul korban jiwa sebanyak 17 warga meninggal dan 318 orang ditangkap untuk penyidikan (www.suara.com, 23 September 2019). Ironisnya yang menjadi korban adalah warga pendatang di Papua.

Kedua aksi massa ini baik yang dilakukan mahasiswa dan yang ada di Papua, terjadi hampir pada waktu yang bersamaan. Dan hingga tulisan ini hadir, aksi massa tersebut masih terus berlangsung hingga kemungkinan besar sampai terwujudnya tuntutan mereka.

Melihat Aksi Mahasiswa dan Tuntutannya

Menilik aksi mahasiswa, tentu saja sebagai agent of change, mahasiswa harus memiliki kepekaan sosial dan politik yang tinggi dibandingkan dengan tingkatan pelajar di bawahnya. Adalah wajar selanjutnya bila mahasiswa dianggap sebagai penyambung lidah rakyat.

Nurani mahasiswa terketuk dengan berbagai macam kerusakan dan pengabaian kepentingan rakyat oleh negara. Dari kasus korupsi yang merajalela dengan ditandai banyaknya OTT pejabat oleh KPK, masalah Karhutla yang tidak kunjung selesai, kriminalisasi aktifis, kecurangan pemilu 2019 yang menodai demokrasi dan yang lainnya, menjadi pemantik bangkitnya mahasiswa. Bagi mereka, orde reformasi telah dibajak demi kepentingan oligarki kekuasaan. Maka perlu adanya perubahan segera.

Penguasa yang dholim dengan hasil kecurangan pemilu menjadi inti persoalan. Penguasa harus mundur, di samping di era Jokowi, menurut mereka banyak persoalan yang tidak mampu diselesaikan.

Para mahasiswa sudah mampu menyadari adanya fakta kerusakan di negeri ini. Hanya saja agenda yang disuarakan adalah dengan memperbaiki demokrasi. Di sinilah pentingnya mahasiswa merumuskan lebih detail dengan gambaran yang jelas akan format baru pemerintahan di negeri ini. Jangan sampai kasus reformasi tahun 1998 terulang kembali. Tanpa adanya kejelasan arah dan format berbangsa dan bernegara pasca reformasi, tentunya terjadi pembajakan reformasi. Tingkat kesejahteraan yang masih rendah hingga terciptanya oligarki kekuasaan. Dengan kata lain, Indonesia saat ini menjadi negara kekuasaan dan atau meminjam istilah Asyari Usman, Police State. UU ITE dan Ujaran Kebencian menjadi alat yang ampuh digunakan untuk menggebuk lawan politik.

Melihat Masalah Papua dan Tuntutannya

Tragedi kemanusiaan yang terjadi di Wamena ibaratnya adalah seperti gunung es. Artinya, tragedi kemanusiaan di Wamena itu tidaklah berdiri sendiri sehingga diambil kesimpulan bahwa akar persoalannya hanyalah dipicu oleh kasus rasial, yang bermula dari kejadian di Malang dan di Surabaya pada bulan Agustus lalu.

Memang ketidakcepatan pemerintah merespon dengan menindak pelaku yang diduga rasial bisa masih memungkinkan menyisakan sakit hati. Hanya saja ketika ditimbang dengan akal yang sehat dan nurani kemanusiaan yang lurus, kasus rasial yang berimbas pada pembunuhan, pembantaian kaum pendatang di Papua sangat tidak masuk akal dan tidak manusiawi. Justru ketika yang disasar adalah pendatang, ini tentunya juga tergolong aksi rasialis. Padahal para pendatang yang kebanyakan berasal dari Minang dan Bugis, sebagian ada yang dari Jawa dan Madura, mereka semua datang ke Papua untuk mencari penghidupan, bukan mencari musuh. Sebagian ada yang karena tugas pengabdian, seperti dokter Soeko Marsetiyo. Beliau menjadi dokter pengabdian di daerah Tolikara. Justru para pendatang ini sangat mencintai Papua dan anak – anaknya.

Persoalan Papua adalah mengenai rendahnya tingkat kesejahteraan hidupnya. Kekayaan yang begitu melimpah ironisnya tidak berimbas kepada kesejahteraan rakyat Papua. Keberadaan PT Freeport misalnya, yang mengeruk tambang emas dan perak yang melimpah, hanya menyisakan kerusakan lingkungan akibat limbah tailingnya.

Dengan demikian bisa dipahami sentimen ingin lepas dari Indonesia menjadi lebih mudah untuk dipasarkan. Maka dibentuklah OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang tujuannya adalah untuk memperjuangkan terlepasnya Papua dari Indonesia. Bahkan OPM ini didukung oleh situs berbahasa Inggris Free West Papua yang membuka kantor di Belanda, Australia, dan di Inggris pada April 2013 (www.bbc.com, 30 Nopember 2014). Dengan kata lain, kasus Papua sudah mengalami internasionalisasi.

Bisa diurai sumber masalah yang ada di Papua adalah terletak pada 2 hal mendasar yakni adanya kebijakan pemerintah Indonesia yang abai terhadap rakyatnya dan adanya upaya disintegrasi yang dipicu oleh OPM.

Dampak Perang Asimetris di Indonesia

Penulis percaya bahwa konstelasi politik dunia sedikit banyak akan mempengaruhi kebijakan politik dan pemerintahan suatu negara. Bagi negara utama yang merupakan adidaya, akan banyak bisa berpeluang memenangkan pertarungan kepentingan di dunia. Negara utama bisa memaksakan nilai – nilainya yang bersumber dari ideologinya untuk diadopsi negara lain, terutama bagi negara – negara lemah.

Amerika Serikat sebagai negara utama saat ini, berlaku layaknya Polisi Dunia. Barometer nilai di dunia adalah merujuk ke nilai USA. Oleh karenanya. USA tidak segan – segan memaklumkan war on terorism kepada dunia. Bahkan dengan pongahnya membelah dunia, dengan menyatakan anda bersama Amerika atau bersama teroris.

Adapun dalam memasukkan nilainya tersebut harus dengan menumpahkan darah, baik dalam gelaran perang konvensional maupun perang non konvensional. Selanjutnya bentuk perang non konvensional ini disebut dengan Perang Asimetris.

Perang asimetris merupakan perang yang dilakukan dengan memanfaatkan semua potensi ekonomi dan politiknya demi mencapai tujuan tertentu yang lebih luas cakupannya. Dampak perang asimetris lebih hebat dan luas dalam segala bidang kehidupan. Korban tentu saja akan lebih banyak, demi ambisi negara – negara utama dan atau negara maju yang menjadi pesaingnya.

Tidak hanya dalam bidang militer. Dalam pendidikan, saat ini nilai yang masih diagungkan adalah Demokrasi yang berasaskan sekulerisme. Tentunya tidak mengherankan bila para siswa termasuk mahasiswa yang muslim pun lebih fasih terhadap sistem Demokrasi daripada sistem pemerintahan di dalam agamanya sendiri.

Dengan demokrasi yang bertumpu pada 4 kebebasan yakni kebebasan ekonomi, pendapat, perilaku dan berkeyakinan, menjadi dagangan ampuh dalam perang asimetris USA.

Di Indonesia, USA mempunyai tandingan dalam perang asimetris ini yakni China. China saat ini menjelma menjadi raksasa ekonomi di kawasan laut China Selatan. Perang dagang antara keduanya berlangsung cukup sengit. Memang USA masih belum memandang China sebagai rival ideologinya. Akan tetapi USA melihat ada potensi China akan menjadi rival ideologi yang bermula dari kejayaan ekonominya di kawasan.

China dalam melakukan perang asimetrisnya menggunakan 2 pola pendekatan yakni, pendekatan politik dan pendekatan ekonomi.

Secara politik, China itu one state two system. China merupakan sebuah negara yang menerapkan Komunisme Kapitalis. Pola represif dan ketat ala Komunisme akan diterapkan kepada warga negaranya. Oleh karena itu, aksi protes mahasiswa di Tiananmen, disikapi dengan operasi cleansing. Otoritas China melihat bahwa aksi mahasiswa itu ditunggangi oleh barat untuk menyusupkan ideologi Liberalismenya di China.

Sedangkan pendekatan keluar China, menggunakan pola pendekatan ekonomi yang lebih santun. Turn Project Manajement merupakan paket bantuan investasi ekonomi China. Dari modal, manajerial, hingga tenaga kerja semuanya disediakan China. Untuk memuluskannya, OBOR menjadi mega project besar guna menguasai suatu wilayah negara.

Indonesia sudah menandatangani 23 proyek investasi melalui OBOR. Bila Indonesia tidak bisa membayar utangnya, maka sebagai jaminan adalah aset kekayaan alam Indonesia. Begitu pula dengan kebijakan satu paket investasi tersebut, berpotensi eksodus besar besaran warga China ke Indonesia. Maka tidak mengherankan bila ada prediksi, warga Indonesia akan menjadi babu di tanahnya sendiri dan terusir.

Melihat fenomena demikian, USA melihat ada potensi membahayakan kepentingannya di Indonesia. Ada potensi ekonomi yang semakin sulit. Di samping perang dagangnya yang dilancarkannya mengalami kesulitan di negara Asia lainnya. Jepang bersitegang ingin memiliki akses ekonomi yang lebih luas setara dengan AS. Dengan India yang menuntut membebaskan dari pajak impor aluminium dan baja yang tinggi.

Di sisi yang berbeda, pemerintah Indonesia dan beberapa parpol yang respek dengan PKC (Partai Komunis China). Dengan kata lain, AS ingin melakukan gertakan kepada 2 pihak sekaligus, yakni pemerintahan Jokowi dan China.

Kepada pemerintah China, hendaknya tetap memperhatikan kepentingan ekonomi dan ideologis dari AS. Sedangkan kepada pemerintah Indonesia, AS seolah berkata bahwa ia bisa menjungkalkan siapapun dari kursi kekuasaannya dengan melakukan pembajakan kepada aksi aksi mahasiswa, serta guna menambah kuat tekanan kepada Indonesia dengan menginternasionalisasi persoalan pelanggaran HAM di Papua.

Vanuatu di dalam sidang umum PBB, 27 September 2019, mendesak agar komisi tertinggi HAM PBB untuk menyelidiki kasus HAM di Papua. Bahkan ia mendesak agar Indonesia bisa bersikap kooperatif. Benny Wenda berusaha untuk ikut menyuarakan, akan tetapi ia tidak bisa ikut di dalam forum PBB tersebut (www.cnninternasional.com, 25 September 2019). Bahkan Sekda Papua dalam sebuah video youtube mengatakan bahwa Papua adalah tanah Israel kedua. Memang, di tahun 2018, di Papua pernah heboh adanya peristiwa pengibaran bendera Israel.

Untuk bisa keluar dari perang asimetrik negara – negara maju baik yang mengemban ideologi Kapitalisme maupun Komunisme, maka umat Islam di Indonesia harus memiliki agenda politik tersendiri. Sebuah agenda politik yang hanya bersumber dari Islam. Umat Islam menyuarakan tegaknya syariat. Umat Islam harus menolak semua solusi dan tawaran dari Ideologi Kapitalisme maupun Komunisme.

Di titik inilah, urgensinya para mahasiswa muslim yang saat ini sedang menyuarakan keadilan bagi rakyat agar mendasarkan gerakannya kepada ideologi Islam. Dengan begitu, aspirasi anda tidak akan mampu dibajak lagi. Aspirasi anda menjadi aspirasi Islam.

Sebuah aspirasi yang hanya ingin diatur dengan Islam. Semua bentuk kedholiman dan kekufuran pastinya akan menjadi lenyap.

Penguasa negeri ini seharusnya mengambil Islam dan menerapkannya. Niscaya kekuasaan itu akan ditopang oleh umat. Dengan demikian negara akan menjadi kuat dan berwibawa. Ia akan menjadi penguasa yang menjalankan kewajibannya guna mensejahterakan seluruh rakyatnya. Ia akan mendapat dukungan rakyatnya di saat akan melakukan penumpasan terhadap kelompok – kelompok separatis.

Adalah rakyat kota Homs yang beragama Nasrani justru membela Khilafah Abbasyiyah dengan berperang melawan pasukan salib yang notabenenya beragama Nasrani, sama dengan warga Homs.

Sebelum terlambat, segeralah ambil Islam sebagai aturan pemerintahanmu. Bersegeralah untuk melindungi wargamu dari kekejian kelompok separatis Papua yang mengatasnamakan rakyat Papua. Pahamkanlah kepada rakyat Papua bahwa lepasnya mereka dari negeri Islam Indonesia hanya akan menjadikan mereka berada dalam kungkungan sistem Demokrasi Kapitalisme yang sejatinya adalah sistem penjajah. Ingatkanlah bahwa tanah Papua adalah bagian dari Kesultanan Melayu Raya, yang berpusat di Kesultanan Bacan dan Jailolo, Maluku.

 

*Penulis tinggal di Malang

 

 

 

 

 

 

Wamena Mulai Kondusif, BSMI Siapkan Bantuan Rehabilitasi

WAMENA(Jurnalislam.com) — Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Jayawijaya bersama Tim Peduli Ummt Jayawijaya telah mendirikan posko gabungan untuk membantu korban kerusuhan Wamena yang terjadi beberapa waktu lalu.

Hal ini diungkapkan Ketua Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Cabang Jayawijaya Muhammad Safrul Wijaya mengatakan. Posko Gabungan telah menghimpun 1,5 ton beras serta bahan makanan pokok lainnya dan siap didistribusikan ke titik-titik pengungsi di Wamena.

Safrul menyebut saat ini suasana di Wamena berangsur kondusif. Warga di tengah kota sudah mulai kembali ke rumah dan membersihkan puing-puing bekas kerusuhan.

Namun, papar Safrul, warga di daerah pinggiran belum sepenuhnya kembali ke rumah. Mereka biasanya kembali ke rumah untuk membersihkan puing pada siang hari dan malam harinya menginap di kerabat yang ada di kota.

“Pengungsi berangsur berkurang. Hingga saat ini sudah 250 KK yang mendapat santunan dari Posko Gabungan Tim Peduli Ummat Jayawijaya. Pengungsi yang bertahan adalah warga yang kehilangan rumah ataupun tempat usaha,” papar Safrul di Wamena, Jumat (4/10).

Safrul menyebut saat ini BSMI Jayawijaya mulai memetakan bantuan untuk tahap rehabilitasi yakni membangun rumah-rumah warga yang hancur dan rusak. Ia menyebut Pemerintah Daerah juga sudah mendata rumah-rumah warga yang terkena dampak.

“Kita berharap Wamena kembali tersenyum kembali. Banyak relawan BSMI yang lahir dan besar disini sehingga tidak meninggalkan tanah kelahirannya. Kami ingin Wamena bangkit seperti sediakala,” papar Safrul.

Safrul mengisahkan, beberapa relawan BSMI juga turut menjadi korban dalam peristiwa pilu tersebut. Salah seorang relawan Bulan Sabit Merah Remaja (BSMR) ada yang rumahnya hangus terbakar.

“Meski menjadi korban tetapi sejak hari pertama hingga sekarang para relawan ikut terjun membantu saudara-saudara yang lain tanpa membeda-bedakan suku, agama dan ras. Ini bukti Wamena bersatu dan kuat,” papar Safrul.

Mahasiswa Unindra Diduga Jadi Korban Penganiayaan Aparat

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Seorang mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) Jakarta, Ahmad Ghifari Hanif, diduga menjadi korban penganiayaan oknum polisi saat aksi unjuk rasa di sekitar DPR RI, Senin (30/9) lalu. Anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Unindra, Yazid Fahmi membenarkan informasi tersebut.

“Iya betul mahasiswa Unindra atas nama Ahmad Ghifari menjadi korban kekerasan oleh aparat yang ditangkap pada 30 September 2019,” kata Yazid saat dkonfirmasi, Jumat (4/10).

Kronologi penganiayaan itu pun diunggah dalam sebuah video oleh akun @reformasidikorupsi di Instagram pada Rabu (2/10/l). Dalam keterangan dalam video itu, Ghifran diduga dianiaya di kawasan Semanggi.

Video tersebut menunjukkan bekas luka akibat pukulan benda tumpul pada punggung Ghifar.

Berikut kronologi yang ditulis oleh akun @reformasidikorupsi:

  1. Kurang lebih pukul 19.00 korban mundur ke belakang karena keadaan semakin panas/chaos.
  2. Karena dia merupakan bagian medis juga logistik, maka dia langsung pergi ke belakang untuk bagi-bagi air kepada kawan-kawan yang lain terkena gas air mata. Setelah keadaan mulai sedikit agak tenang, dia dan teman-temannya meminum kopi dan rehat sejenak.
  3. Tiba-tiba Ghifari dicekik oleh orang berbadan besar berbaju preman, dipukul dibawa ke Polda, dalam perjalanan dia bercerita jika dia mendapatkan tindakan kekerasan. Mulai dari pantat ditusuk-tusuk oleh pemukul hingga dipukulin rame-rame. Sampai polda dia tetap dipukuli, saat di Polda tidak sempat sadarkan diri, tak lama berselang Ghifar diintrograsi, telepon disita, motor entah kemana.
  4. Dalam proses pemeriksaan, Ghifar mendapat intimidasi, “Kalau minta minum ditampar, kencing ditendangin”.

Sementara itu, dihubungi terpisah, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, pihaknya akan terlebih dahulu mengecek video yang diunggah oleh akun Instagram @reformasidikorupsi. Argo menyebut, kepolisian juga akan menindak anggotanya jika terbukti menganiaya mahasiswa saat aksi unjuk rasa tanggal 30 September lalu.

“Kita cek dulu kebenaran videonya dan kalau ada polisi yang melakukan (penganiayaan), akan kita tindak sesuai dengan aturan,” ujar Argo.

Di sisi lain, Argo juga menyarankan agar Ghifari membuat laporan atas dugaan kasus tersebut. “Jika mahasiswa itu merasa dirugikan, silakan buat laporan,” imbuh Argo.

Sumber: republika.co.id

 

 

LBH Ungkap Dugaan Kasus Kekerasan Aparat Saat Demo Mahasiswa

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Direktur LBH Jakarta, Arif Maulana mengatakan penyampaian aksi pada 24-30 September lalu, seharusnya dijamin dan dilindungi kepolisian.

Namun sayang, dalam prosesnya, ia menduga kuat ada pengamanan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan untuk menyampaikan pendapat di muka umum.

“Dari pemantauan kami sejak 24 September sampai hari ini kami menemukan beberapa catatan penting yang kami bisa sampaikan sebagai temuan awal,” Kata Arif di kantor Kontras, Jakarta, kemarin.

Menurut dia, hal pertama yang menjadi pelanggaran dalam aksi sebelumnya adalah penanganan dan pendekatan represif yang dilakukan kepolisian. Bahkan dalam prosesnya ada kekerasan dan cenderung lebih brutal untuk massa aksi.

Hal selanjutnya yang ia catat adalah penangkapan aksi massa tidak murni penegakan hukum, melainkan juga sebagai upaya untuk membungkam gerakan kritik massa.

“Yang ketiga, kami catat adalah terjadi berbagai dugaan kuat bahwa ada berbagai penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian dalam menjalankan tugasnya untuk mengamankan dan memfasilitasi masyarakat menyampaikan pendapat di muka umum,” Kata dia.

Merujuk pada UU Nomor 9 tahun 1998 dan Perkap Nomor 7 Tahun 2012 dan Nomor 1Tahun 2019, ia mencatat bahwa pelanggaran oleh kepolisian terpampang jelas. Bahkan menurut dia, dalam proses penangkapan dan penyampaian pendapat juga terdapat kesewenang-wenangan dari Penegak hukum.

“Kita tahu yang ditangakap ini luar biasa besar, tidak biasa, sangat fantastis mencapai 1.489 orang. Dan kurang lebih 380 orang, seingat saya, ditetapkan sebagai tersangka. Saya kira ini angka yang begitu besar dan fantastis untuk bangsa kita,” Ungkap dia.

Dia menegaskan, penangkapan yang dilakukan kepolisian itu lebih kepada perburuan. Penangkapan dilakukan secara sewenang-wenang. Lebih lanjut ia mengatakan, ke depan pihaknya merasa khawatir jika menyampaikan pendapat di muka umum bisa dianggap sebagai pelanggaran hukum atau bahkan kejahatan.

“Padahal jelas konstitusi kita, peraturan perundang-undangan kita, menjamin, menghormati dan melindungi hak menyampaikan pendapat di muka umum,” ucapnya.

Sumber: republika.co.id