Lagi, Tentara Israel Tembak Mati Anak Palestina 13 Tahun di Tepi Barat

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Tentara Israel menembak mati seorang anak Palestina berusia 13 tahun dalam bentrokan di sebuah kamp pengungsi di dekat Bethlehem, polisi dan layanan darurat mengatakan.

Abdel Rahman Abdullah ditembak di dada oleh tentara Israel di kamp pengungsi Aida, Senin (05/10/2015), kata sumber-sumber.

Dia adalah remaja Palestina kedua yang dibunuh oleh tentara Israel dalam waktu hanya 24 jam saat bentrokan tersebar di seluruh wilayah.

Pada Ahad malam, Huthaifa Suleiman, seorang anak Palestina berusia 18 tahun, juga ditembak oleh pasukan Israel dalam bentrokan di kota Tulkarem, Tepi Barat.

Ayed Abu Qtaish, direktur Pertahanan untuk Anak Internasional Palestina, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa tentara Israel telah membunuh anak-anak Palestina sebelumnya dan bertindak dengan impunitas karena mereka telah diberi "lampu hijau" oleh para senior.

"Mereka (tentara Israel) ingin menekan tindakan apapun oleh warga Palestina yang menolak kebijakan Israel, khususnya perluasan pemukiman, dan pembangunan dinding," kata Qtaish.

"Setiap protes oleh warga Palestina akan direspon dengan tindakan yang keras … kebijakan Israel terbaru tentang bagaimana menangani protes memberikan lampu hijau untuk tentara Israel membunuh warga Palestina, termasuk anak-anak."

Bentrokan menyebar setelah aksi perlawanan Palestina baru-baru ini menewaskan empat warga Israel dan melukai seorang anak.

Perdana Menteri Zionis Yahudi Israel Benjamin Netanyahu telah berjanji "bertarung sampai mati melawan teror (baca: perlawanan, red) Palestina" dan mengumumkan langkah-langkah keamanan yang baru.

Pemuda Palestina terus melakukan  perlawanan terhadap pasukan Israel yang menggunakan peluru tajam dan peluru karet.

Kekerasan yang meningkat ini akan menjadi intifada Palestina ketiga.

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

Biarawan Anti-Muslim Myanmar Berkumpul untuk Dukung Undang-undang Ras Baru

YANGON (Jurnalislam.com) – Perwakilan wali ras dan agama Myanmar menyatakan politik anti-Muslim mereka di atas panggung di stadion nasional negara dan mengatakan bahwa kebijakan tersebut "diperlukan dalam situasi tertentu", lansir Anadolu Agency, Senin (05/10/2015).

Berbicara di acara final tur nasional untuk hukum perlindungan ras dan agama yang baru diberlakukan di Yangon yang berlangsung dua minggu, Ma Ba Tha menyatakan bahwa kerja politik mereka diperlukan untuk melindungi mayoritas penduduk Buddhis negara tersebut selama masa transisi.

Wali biarawan berjubah Safron tersebut menantang pemerintah yang berkuasa dan Liga Nasional untuk Demokrasi milik Aung San Suu Kyi dalam pemilihan 8 November – pemilihan negara yang pertama sejak pemerintah sipil diperkenalkan pada tahun 2011, mengakhiri hampir 50 tahun kekuasaan militer.

Pemimpin Ywarma Sayadaw menggarisbawahi bahwa kekerasan agama 2012 yang meletus di barat di negara bagian Rakhine antara umat Buddha dan Muslim telah membuat diperlukannya keterlibatan politik yang termotivasi agama.

Pada 2012, biarawan ekstrimis terlibat dalam gelombang kekerasan anti-Muslim secara brutal, yang menyebabkan ratusan tewas dan ribuan muslim mengungsi. Ma Ba Tha diciptakan tidak lama kemudian oleh kelompok-kelompok yang terlibat dalam kekerasan dan sejak itu menyulut ketegangan agama melalui pidato kebencian mereka yang anti-Muslim.

Wakil Ketua kelompok anti-Muslim Sayadaw Ashin Nyanissara – yang juga dikenal sebagai Sitagu Sayadaw, pada hari Ahad, Nyanissara mendesak masyarakat untuk tidak merasa kesal dan mengikuti saran biarawan Ma Ba Tha yang mempengaruhi politik.

"Ketika biarawan melakukan kampanye untuk melindungi ras dan agama (Budha), orang mengatakan mereka melakukan politik," katanya. "Ada yang mengatakan biarawan melewati batas. Jangan merasa kesal. Jika Anda kesal, Anda akan mendapatkan masalah. Kamu akan kalah."

Kelompok hak asasi manusia telah menyuarakan keprihatinan serius atas penandatanganan empat hukum terbaru yang secara khusus menargetkan hak-hak perempuan dan Muslim.

Banyak kandidat Muslim juga telah dikeluarkan dari pencalonan di pemilu mendatang.

Hukum Kesehatan Pengendalian Penduduk (the Population Control Healthcare Law) juga memberikan otoritas kekuatan untuk membatasi jumlah anak yang dapat dimiliki – para kritikus mengatakan hukum itu secara khusus menargetkan minoritas muslim Rohingya – yang 120.000 di antaranya menetap di kamp-kamp penampungan yang penuh sesak dalam kondisi kumuh.

Deddy | Jurniscom

Inggris Kecam Perang Asimetris Rusia di Suriah

INGGRIS (Jurnalislam.com) – Rusia terlibat dalam "perang asimetris klasik" di Suriah dengan menggunakan kekuatan militernya untuk menopang Presiden Bashar al-Assad dengan beralasan bahwa mereka menyerang militan Islamic State (IS), menteri luar negeri Inggris mengatakan pada hari Ahad, 4 Oktober 2015.

Rusia pekan lalu mulai menyerang target-target di Suriah – pertanda meningkatnya keterlibatan asing secara dramatis dalam perang Suriah yang dikritik oleh Internasional sebagai upaya untuk menopang Assad, bukan menyerang IS.

"Itu tampak seperti perang asimetris klasik Rusia – Anda mengeluarkan pesan propaganda kuat yang mengatakan Anda melakukan satu hal padahal Anda melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda, dan ketika ditantang Anda hanya menyangkalnya secara datar," kata Philip Hammond kepada Reuters di sebuah wawancara di Manchester.

Ia mengatakan bahwa Inggris telah melakukan diskusi dengan Rusia tetapi terus mendapatkan respon yang sama – bahwa Moskow beralasan menyerang militan IS di Suriah.

"Anda mencoba berbicara dengan Rusia," katanya. "Mereka hanya terus mengulangi posisi mereka – yaitu sama juga dengan menjelaskan posisi Iran."

Dia mengatakan bahwa Inggris membutuhkan "kejelasan mutlak" bahwa Assad tidak akan lagi  menjadi bagian dari masa depan Suriah.

"Saya bukan terobsesi dengan masalah itu; namun tanpa komitmen kita tidak akan pernah mendapatkan spektrum yang luas dari kelompok pejuang Suriah untuk duduk dan setuju dalam diskusi tentang masa depan Suriah," katanya.

Hammond menolak proposal yang diajukan oleh Rusia dan Iran untuk pemilu, mengatakan Suriah terletak "satu juta mil jauhnya" untuk mampu mengadakan pemungutan suara yang bebas dan adil.

"Di negara yang 250.000 warganya tewas dan 12 juta warga lainnya mengungsi, setengah dari mereka mengungsi ke luar negeri… Bagaimana Anda dapat berbicara tentang pemilihan umum yang bebas dan adil dengan kondisi seperti itu?" katanya.

Hammond mengatakan kunci untuk mengakhiri penderitaan yang disebabkan oleh perang empat tahun tersebut adalah dengan transisi perdamaian,  akan berhasil jika  Assad hanya mempertahankan kekuasaan untuk  sementara saja.

"Jika harga untuk melakukan hal itu adalah bahwa kita harus tetap menerima Assad sebagai kepala tituler negara untuk sementara waktu, apakah saya benar-benar peduli jika itu tiga hari, tiga minggu, tiga bulan atau bahkan lebih lama? Saya tidak berpikir saya peduli," katanya.

Tapi Hammond mengatakan bahwa untuk transisi seperti ini, Assad harus berjanji untuk tidak mencalonkan diri di setiap pemilu mendatang dan tidak mengendalikan militer lagi di Suriah. 

Dia menambahkan bahwa Inggris tidak ada kesepakatan dengan Moskow dan Teheran mengenai transisi tersebut.
 

Deddy | Reuters | Jurniscom

Pasukan Penjajah Israel Larang Warga Palestina Masuki Al Quds

AL QUDS (Jurnalislam.com) – Polisi Israel membatasi ketat jalan masuk ke Old City Yerusalem yang bersejarah pada Ahad (04/10/2015), sehari setelah perlawanan pemuda Palestina dengan serangan penusukan yang fatal, Andolu Agency melaporkan.

Hanya warga Palestina yang tinggal, bekerja atau belajar di Kota Tua tersebut yang akan diizinkan masuk sampai hari Selasa, polisi zionis mengatakan dalam sebuah pernyataan. Warga Israel dan wisatawan masih akan memiliki akses.

"Unit Polisi berjaga di pintu masuk ke daerah pasar di Old City. Keamanan berlanjut di lingkungan Arab," juru bicara polisi zionis, Superintendent Micky Rosenfeld, dalam twitter.

Tindakan perlawanan pemuda Palestina tersebut mengikuti dua serangan penusukan di Kota Tua Yerusalem; pertama pada Sabtu malam yang menewaskan dua orang Yahudi Israel dan melukai dua lainnya, dan yang kedua melukai seorang anak 15 tahun di Ahad pagi.

Dalam kedua kasus tersebut, polisi Zionis mengatakan mereka membunuh aksi tersebut  yang diduga warga Palestina.

Rami Saleh, direktur Pusat Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Yerusalem, mengatakan pembatasan di Kota Lama "mempengaruhi kita dalam cara yang sangat, sangat buruk".

"Mereka membatasi warga Palestina mengunjungi kotanya sendiri. The Old City adalah pusat Yerusalem, pusat Palestina itu sendiri. The Old City adalah pusat komersial untuk Palestina. Pembatasan ini akan menghasilkan banyak dampak ekonomi komersial," katanya.

Surat kabar Israel Haaretz melaporkan bahwa ratusan ekstrimis sayap kanan Zionis Yahudi berbaris di Yerusalem setelah serangan pada Sabtu malam, diduga menyerang beberapa orang Palestina.

Polisi juga telah menambah batas masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa, situs paling suci ketiga bagi umat Islam, hanya mengizinkan akses bagi orang-orang di atas 50 tahun dan wanita.

Pembatasan tersebut meningkatkan ketegangan di Kota Al Quds.

Akibatnya, pemuda Palestina sering melakukan perlawanan dengan polisi Israel di dan sekitar Al-Aqsha.

Mereka mengatakan bahwa pembatasan melanggar hak-hak mereka untuk beribadah di lokasi tersebut, yang secara resmi dikelola oleh umat Islam, bukan Israel. Meskipun Yahudi dilarang berdoa di lokasi tersebut, namun kelompok-kelompok Yahudi garis keras sering melakukan tur di sana disertai oleh pasukan penjajah Israel pada beberapa kesempatan sejak 13 September.

Pembunuhan pasangan Israel di Tepi Barat pada hari Kamis akibat ulah Israel sebelumnya juga meningkatkan ketegangan, yang mengarah ke serangan balasan oleh para pemukim yahudi  hingga membakar kendaraan dan properti warga Palestina, namun demikan serangan mematikan terhadap warga Yahudi tersebut yang di identifikasi sebagai perwira militer mendapatkan apresiasi oleh Brigade Al Qassam.  

Deddy | Jurniscom

 

Pertempuran Kembali Memanas, Tentara Boneka AS Lari dari Medan Perang Kota Kunduz

KUNDUZ (Jurnalislam.com) – Taliban dilaporkan telah kembali menguasai sebagian besar kota Kunduz, setelah berhari-hari melancarkan pertempuran sengit melawan pasukan Afghanistan yang didukung oleh serangan udara AS, Al Jazeera melaporkan, Ahad (04/10/2015).

Sebelum hari Ahad, pasukan pemerintah, yang mencoba mengambil kendali kota itu, mengatakan mereka telah memperoleh kemenangan, tetapi tampaknya tidak lama.

Reporter Al Jazeera, Qais Azimy, melaporkan dari Puli Khumri di selatan Kunduz, mengatakan bahwa pada sekitar 12.00 GMT, mujahidin Taliban melancarkan serangan balik, mengalahkan kembali pasukan pemerintah di daerah itu, di mana mereka sebelumnya mengklaim telah  meraih kemenangan.

Seperti yang dilansir El Emarah News, situs resmi Imarah Islam Afghanistan mengatakan, sejumlah besar pasukan musuh yang dipimpin oleh pasukan penjajah AS masuk Kunduz pada hari Ahad untuk mengusir Mujahidin tapi pasukan musuh terkejut menghadapi perlawanan Mujahidin yang kuat, yang menyebabkan hancurnya empat kendaraan lapis baja pengangkut personel musuh.

Pasukan musuh gabungan tersebut menderita kekalahan telak, lalu melarikan diri dari kota Kunduz dengan kerugian besar.

Kemudian, Mujahidin menyerang pangkalan udara Kunduz dengan sejumlah putaran rudal, menargetkan sasaran kunci dalam pangkalan, menurut laporan terbaru dari provinsi Kunduz. Laporan tidak memberi informasi jumlah korban di pihak musuh.

Emarah News juga mengatakan pada hari Ahad bahwa Imarah Islam Mujahidin menembaki konvoi berisi banyak persediaan dan persenjataan yang dijaga militer di sepanjang jalan raya Kabul Jalalabad, memaksanya untuk berhenti di perbatasan kabupaten Sarubi. Pertempuran sengit pun terjadi yang berlangsung sepanjang hari Sabtu. Setidaknya 14 tentara boneka tewas dan 8 orang lainnya terluka.

Pasokan konvoi tersebut diserang di berbagai sudut antara Kabul dan Jalalabad di mana 2 tank, 2 kendaraan militer dan 8 truk penuh persediaan hancur.

Juga di hari Sabtu, seorang tentara musuh tewas dan empat lainnya terluka dengan dua kendaraan hancur setelah Mujahidin menyerang konvoi musuh sepanjang jalan Kabul Jalalabad di distrik Sarubi provinsi Kabul.

Sebuah laporan terbaru dari Kabul menyatakan ledakan bom pinggir jalan merobek tank musuh di distrik Sarubi provinsi Kabul pada Ahad malam, menghancurkan tank dan membunuh serta melukai semua orang yang berada di dalamnya.

Deddy | Jurniscom

Recep Tayyip Erdogan: Rusia Buat Kesalahan Fatal di Suriah

ANKARA (Jurnalislam.com) – Langkah Rusia di Suriah tidak dapat diterima oleh Turki, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan kepada wartawan, Ahad (04/10/2015), lansir Anadolu Agency.

Berbicara di Bandara Internasional Esenboga di Ankara sebelum berangkat ke Perancis, Erdogan mengatakan: "Sayangnya, Rusia sekarang dalam kesalahan serius dan saya memiliki kesan bahwa langkah ini menandakan bahwa itu Rusia akan mengisolasi wilayah tersebut."

Rusia memulai serangan udara pada hari Rabu untuk memperkuat rezim Presiden Bashar al-Assad. Moskow menegaskan bahwa serangan mereka menargetkan Islamic State (IS) dan afiliasi pejuang Suriah, tetapi negara-negara Barat dan sekutu Teluk-nya percaya bahwa kelompok anti rezim Assad dan warga sipil menanggung beban pemboman Rusia.

Erdogan bertanya: "Apa yang akan dicapai Rusia di sini? Hanya ada Assad yang sedang melakukan terorisme di negara dan sayangnya Rusia dan Iran malah mendukung orang ini.

"Negara-negara yang berkolaborasi dengan rezim Assad akan mencetak sejarah (kelam)."

Erdogan bertanya, “Berapa banyak pengungsi yang berlindung di Rusia dan Iran?”

Turki telah menyambut pengungsi Suriah sejak awal perang saudara pada Maret 2011 dan sekarang menjadi rumah bagi sekitar dua juta orang di bawah peraturan perlindungan sementara.

"Hingga kini, kami telah menghabiskan $ 7,5 milyar," kata Erdogan, menambahkan itu adalah "tugas penuh tanggung jawab" yang dilakukan Turki.

Presiden menegaskan perlunya zona aman di Suriah utara sambil menambahkan: ".. wajib untuk memiliki zona larangan terbang, jika tidak, wilayah itu akan menjadi daerah yang terbuka untuk kematian."

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

 

 

Serangan Rusia untuk Koalisi Mujahidin Suriah Bukan untuk Islamic State

SURIAH (Jurnalislam.com) – Dewan Turkmen Suriah mengatakan bahwa intervensi Rusia adalah untuk mendukung rezim Bashar al-Assad dari serangan Koalisi mujahidin Suriah, bukan untuk melawan Islamic State (IS), lansir World Bulletin, Ahad (04/10/2015).

Pada hari Rabu, pesawat tempur Rusia menyerang sasaran di dalam wilayah Suriah untuk pertama kalinya. Kementerian Luar Negeri Rusia pada hari Sabtu (03/10/2015) mengklaim, serangan tersebut menargetkan posisi yang dipegang oleh kelompok IS,

Berbicara kepada Anadolu Agency pada hari Ahad, Omer Ceren, anggota dewan penasehat kelompok Turkmen yang berbasis di Ankara, mengatakan bahwa intervensi Rusia hanyalah "dalih" untuk mendukung rezim Assad. Dia melanjutkan bahwa tidak ada operasi Rusia yang menargetkan IS.

Dewan Turkmen Suriah adalah yayasan yang mewakili orang Turkmen di Suriah dan bertujuan untuk melindungi hak-hak mereka.

Ceren, yang juga bertanggung jawab untuk Turkmen di daerah Bayir Bucak, Latakia, di barat laut Suriah, mengatakan bahwa dukungan Rusia untuk  rezim Assad dilakukan ketika rezim itu dilemahkan oleh koalisi mujahidin Suriah.

Ceren mengatakan bahwa pasukan anti-Assad saat itu "hendak mengambil kendali jalan Homs-Damaskus serta membuka blokade yang ditetapkan rezim untuk Northern Ghouta … lalu Rusia datang menyelamatkan Assad dari eksekusi".

"IS  tidak ada di daerah-daerah yang ditargetkan oleh serangan Rusia," kata Ceren, menambahkan: "Terutama di rumah sakit dan desa-desa yang menjadi sasaran."

Perwakilan Turkmen mengatakan bahwa di provinsi Idlib, Aleppo dan Latakia, 200 warga sipil telah tewas dalam tiga hari terakhir pemboman.

Dalam lima hari terakhir, pemboman terutama di desa-desa Turkmen di daerah Bayir Bujak telah meningkat "300 persen," kata Ceren, mengutuk serangan yang ia gambarkan "belum pernah terjadi sebelumnya" sejak awal perang  Suriah.

Turkmen adalah kelompok etnis Turki yang sebagian besar berasal dari Suriah dan Irak, di mana mereka tinggal bersama komunitas besar penduduk Arab dan Kurdi.

Perang yang menghancurkan Suriah, yang sekarang memasuki tahun kelima, telah menyebabkan sekitar 250.000 orang tewas, menurut angka PBB.

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

Faksi Jihad Jamaah Krimea Berbaiat Kepada Jabhah Nusrah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sebuah faksi jihad yang beranggotakan etnis Tartar Krimea dan mujahid berbahasa Rusia lainnya, yang disebut Crimean Jamaat, berbaiat (janji setia) kepada Jabhah Nusrah, cabang resmi al Qaeda di Suriah.

Seperti yang dilansir The Long War Journal, Sabtu (03/10/2015), baiat itu dikatakan terjadi kemarin (Jumat, 02/10) menurut jihadis yang terhubung dengan  Jabhah Nusrah di Twitter. Situs media sosial resmi aliansi Jabhah Nusrah lainnya, yaitu Saifullah Shishani Brigade, yang sebagian besar terdiri dari etnis Chechen, juga melaporkan sumpah tersebut.

"Kataib Crimean Tartar di bawah pimpinan Amir Ramadhan al Krim (Crimean) berjanji setia kepada al Qaeda di Syam dan bergabung dengan Jabhah Nusrah," sebuah pernyataan di White Minaret, halaman media sosial Sayfullah Shishani Brigade. Halaman tersebut juga merilis gambar faksi tersebut, yang  berbasis di provinsi Hama.

Crimean Jamaat menjalankan kamp pelatihan di pedesaan provinsi Hama. Militan yang berbicara bahasa Rusia, serta warga Suriah lokal, ditunjukkan dalam video yang menyoroti kamp pelatihan tersebut awal tahun ini. Video ini juga menunjukkan anak-anak kecil berbahasa Rusia dilatih untuk menembak senjata, termasuk senapan sniper.

Janji setia kepada Jabhah Nusrah dari Crimean Jamaat dilaporkan hanya beberapa hari setelah faksi jihad dominan Uzbek Katibat al Tawhid wal Jihad melakukan hal yang sama. Janji setia ini juga terjadi hanya beberapa minggu setelah Jaish al Muhajirin wal Ansar, sebuah faksi jihad yang terutama terdiri dari pejuang asing, juga berjanji setia kepada Jabhah Nusrah. Jajaran Jabhah Nusrah terus membesar dengan pejuang asing saat mereka melakukan re-organisasi dan meningkatkan jejak resminya.

Deddy | TLWJ | Jurniscom

 

Uni Jihad Islam Ikut Dalam Pengepungan Kunduz Bersama Taliban

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com)Uni Jihad Islam (IJU), yang secara terbuka menyatakan kesetiaan kepada Taliban dan juga berafiliasi dengan al-Qaeda, berpartisipasi dalam pengepungan kota Kunduz oleh Taliban, menurut pernyataan dan foto yang dirilis online, dalam pesan yang diposting di situs resmi IJU pada 1 Oktober, membantah laporan yang mengatakan bahwa Kunduz telah direbut kembali oleh pemerintah Afghanistan dan sekutu-sekutunya, lansir The Long War Journal, Sabtu (03/10/2015).

Serangkaian foto diterbitkan bersama dengan pernyataan itu. Gambar tersebut menunjukkan "rampasan" IJU, pejuangnya di pos pemeriksaan kota, dan kejadian lain setelah serangan. Selain itu, para tahanan yang dibebaskan setelah serangan sukses di kota Kunduz digambarkan sedang berjalan di jalanan.

"Daerah yang dibebaskan" ditampilkan dalam foto termasuk "Bandara di kawasan itu," serta sebuah distrik di pusat Kunduz, menurut IJU,  bahwa laporan tentang Kunduz direbut kembali oleh "pasukan murtad" adalah "palsu dan tidak berdasar," menurut terjemahan yang diperoleh The Long War Journal. IJU mengatakan bahwa "mujahidin bebas bergerak di pusat" Kunduz dan "mendirikan kendali di sana."

Juru bicara Taliban, Zabiullah Mujahid, merilis pernyataan yang sama dengan IJU pada 1 Oktober. Mujahid mengatakan bahwa kota Kunduz tetap berada di bawah kendali Taliban dan sekutunya.

Dalam pernyataan sebelumnya yang diterbitkan pada 29 September, IJU mengatakan pejuang mereka tidak akan berhenti di Kunduz. IJU mengatakan bahwa "mujahidin" sedang bersiap untuk meluncurkan operasi terhadap daerah lain di Afghanistan utara, termasuk Mazar-e-Sharif di provinsi Balkh.

"Kami mengingatkan Anda bahwa kota Kunduz adalah satu-satunya kota di Provinsi Kunduz yang belum ditaklukkan oleh mujahidin," kata IJU pada 29 September, menurut terjemahan yang diperoleh The Long War Journal sebelum di taklukannya kota Kunduz.

"Mujahidin memiliki rencana untuk mengepung Mazar-e-Sharif dan area lain di provinsi Balkh setelah mereka "benar-benar menaklukkan" provinsi Kunduz, IJU meneruskan pernyataannya, mengatakan telah mencegat bala bantuan yang dikirim dari ibukota Kabul dan bahwa "gubernur boneka" Kunduz terlihat telah melarikan diri ke Tajikistan dengan helikopter.

Pada 20 Agustus, IJU merilis sebuah pernyataan mengumumkan janji setianya kepada Mullah Akhtar Mohammad Mansour, Amir baru Imarah Islam Afghanistan.

Deddy |TLWJ | Jurniscom

 

PM Yaman Kepada Syiah Houthi: Tidak Ada Lagi Tempat “Berpetualang”

Aden (Jurnalislam.com) – Perdana Menteri Yaman, Khaled Bahah, memperingatkan milisi Syiah Houthi yang didukung oleh Iran pada hari Sabtu (03/102015) bahwa tidak ada lagi tempat di negara tersebut untuk "berpetualang" dan bersumpah menekan Houthi dengan serangan militer untuk merebut kembali wilayah mereka.

"Tidak ada ruang lagi untuk petualangan politik atau militer lainnya," kata Bahah, yang juga menjabat sebagai wakil presiden. "Ini adalah peringatan terakhir untuk Syiah Houthi dan sekutu mereka," diantaranya adalah pasukan yang setia kepada presiden terguling Ali Abdullah Saleh.

Bahah berbicara di sebuah kamp militer di dekat Selat Bab al-Mandab yang strategis, yang berhasil direbut kembali oleh pasukan loyalis pada hari Selasa.

Selat Malaka yang sempit merupakan corong pengiriman menuju dan dari Terusan Suez, yang terletak di ujung utara Laut Merah.

Presiden Abdrabbu Mansour Hadi dan pemerintahannya kembali ke Aden bulan lalu setelah enam bulan di pengasingan, setelah pasukan loyalis kembali menguasai kota pelabuhan dan empat provinsi selatan lainnya dari pemberontak.

Milisi Houthi masih menguasai ibukota dan provinsi utara dekat perbatasan dengan Arab Saudi, tapi loyalis telah menekan serangan militer yang bertujuan mendapatkan kembali Sana'a.

Bahah mengatakan operasi saat ini "akan mendorong untuk merebut kembali Mokha dan Hodeida," keduanya di Laut Merah, dan kemudian "seluruh pantai sampai ke perbatasan dengan Arab Saudi".

Pelabuhan Mokha terletak sekitar 20 kilometer di utara dari daerah yang disita pekan ini.

Hodeida, sekitar 190 kilometer jauhnya di utara, terletak di sebelah barat dari Sanaa. Mengendalikan Hodeida akan membantu menjepit ibukota, saat pasukan loyalis juga telah menekan pemberontak di provinsi Marib, di sebelah timurnya.

Para pejabat militer mengatakan pesawat tempur koalisi yang dipimpin Arab mendukung mereka dalam melakukan beberapa serangan pada hari Sabtu ke arah posisi pemberontak, sambil mengatakan bentrokan dalam 24 jam terakhir telah menyebabkan 19 tewas, termasuk 12 milisi Syiah Houthi.

Deddy | AFP | Jurniscom