Anshar Dine Menyoroti Serangan terhadap Separatis Salibis Tuareg di Mali

MALI (Jurnalislam.com) – Dalam sebuah video berkualitas rendah yang dirilis awal pekan lalu, Anshar Dine, kelompok Al Qaeda di Maghreb Islam (AQIM) yang sebagian besar beranggotakan warga Tuareg, menyoroti serangan terkoordinasi terhadap kelompok separatis Salibis Tuareg di bagian utara Mali bulan lalu, The Long War Journal melaporkan Rabu (27/01/2016).

Video dimulai dengan rekaman arsip intervensi Perancis di Mali pada awal 2013 sebelum mengirim pesan ke Gerakan Nasional untuk Pembebasan Azawad (MNLA).

"Itu adalah pesan dari para mujahidin dalam perang yang jelas bahwa target pertama adalah Tentara Salib yang menyerang bersama dengan tentara Mali dan kelompok-kelompok yang mengaku sebagai kelompok pertahanan nasional, terutama yang memperlihatkan permusuhan yang jelas terhadap para mujahidin."

Pernyataan itu berlanjut dengan mengatakan, “Posisi kami adalah bersatu dengan mereka dalam netralitas, tidak menargetkan mereka kecuali mereka menyerang kami atau menentang jalan kami."

Video kemudian bergeser menunjukkan persiapan dan kemudian pelaksanaan serangan terhadap kota Talhandak yang dikuasai MNLA, dekat perbatasan Aljazair. Jihadis ditampilkan menyerang kota dengan truk pickup bersenjata, varian senapan serbu AK-47, senapan mesin ringan, dan granat berpeluncur roket (RPG). Beberapa menit terakhir video menunjukkan mereka mengumpulkan senjata rampasan dan kemudian membakar truk milik MNLA.

Menurut video, 11 anggota MNLA tewas dalam operasi itu. Selain itu, empat kendaraan dibakar, dua direbut, dan Anshar Dine menguasai kota setelah pertempuran selama empat jam. Penguasaan Talhandak dikonfirmasi oleh Sahara Media bulan lalu.

Serangan terhadap MNLA atas nama Anshar Dine oleh AQIM, cabang resmi al Qaeda di Afrika Utara, akhir bulan lalu. Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh AQIM dan kemudian diterjemahkan oleh SITE Intelligence Group, kelompok jihadis mengatakan menargetkan agen lokal Tentara Salib yang dikenal sebagai Trawa Trawa, yang memimpin sel keamanan internal yang didanai oleh Perancis di utara Mali untuk melawan Islam dan kaum Muslimin. Dalam pernyataan yang sama, AQIM memperingatkan MNLA untuk berhenti bekerja dengan Tentara Salib.

Konflik sporadis telah dilaporkan sejak tahun lalu. Misalnya, pada 26 Januari 2015, AQIM mengatakan membunuh seorang pejabat senior MNLA di rumahnya di dekat Tessalit. Seminggu sebelum itu, dua pasukan MNLA tewas dalam serangan IED, yang dilakukan oleh Al Qaeda. Pada tanggal 2 Maret 2015, tiga pasukan MNLA tewas dalam serangan IED lain dekat Kidal. Dan saat serangan di Talhandak itu terjadi, Anshar Dine menyergap konvoi MNLA dekat Kidal yang berusaha untuk memperkuat pasukannya yang terkepung  oleh Anshar Dine di utara.

 

Deddy | TLWJ | Jurnalislam

Dua Serdadu Israel Terluka Parah Dihantam Aksi Tabrak Lari di Ramallah

RAMALLAH (Jurnalislam.com) – Dua orang serdadu penjajah Israel terluka parah pada Selasa (26/01/2016) malam dalam aksi penabrakan di dekat permukiman Yahudi Bet Horon di barat Ramallah, wilayah tengah Tepi Barat, lansir Infopalestina Rabu (27/01/2016).

Saluran TV7 Zionis mengatakan, sebuah mobil mendekat dari persimpangan permukiman Yahudi Bet Horon di barat Ramallah dan menabrak dua orang serdadu Zionis.

Sumber-sumber media Zionis menyebutkan bahwa sopir mobil yang melakukan aksi penabrakan meloloskan diri dari lokasi. Sementara itu pasukan penjajah Israel sedang memburunya.

Selanjutnya sumber-sumber media Zionis mengatakan bahwa pasukan penjajah Israel telah menangkap seorang pemuda yang melakukan aksi penabrakan tersebut dengan mengklaim bahwa peristiwa tersebut bisa jadi hanyalah kecelakaan lalu lintas biasa dan buka aksi berani mati dari aktivis intifadhah Palestina.

 

Deddy | Infopalestina | Jurnalislam

Eks Gafatar Dipulangkan, Muhammadiyah Banten : Pulangkan Aqidah Mereka!

BANTEN (Jurnalislam.com) – Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Banten, Dr. Syamsudin M.Pd mengatakan, penyelewengan akidah Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) adalah upaya penyatuan tiga agama: Islam, Yahudi dan Nasrani.

Hal tersebut dikatakan Syamsudin menyinggung pernyataan mantan Ketua Umum Gafatar, Mafhul Tumanurung yang mengatakan Gafatar telah keluar dari agama Islam dan menganut faham milah ibrahim.

“Tidak ada istilah milah Abraham, ada juga Ibrahim, Ibrahim menurut pandangan kita kan agama yang dilanjutkan oleh Nabi Muhammad, memang mereka menarik talinya kelihatan seperti ada benang merah, menyatukan tiga agama besar: Islam, Yahudi dan Nasrani. Disitu letak menyelewengnya,” katanya kepada Jurnalislam, Selasa (26/1/2016).

Syamsudin juga melihat ada keganjilan dalam kasus Gafatar ini. Kelompok bentukan Ahmad Musadeq itu sudah ada sejak tahun 2011, tapi kenapa baru diekspos sekarang.

“Yang tidak bisa saya terima, Gafatar berdiri tahun 2011 dan baru diekspos setelah ada masalah besar, seolah ada pembiaran oleh pemerintah. Sudah besar baru ribut,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah seharusnya menyelesaikan masalah dengan tuntas tidak reaksioner. “Hampir semua masalah tidak diatasi dengan tuntas oleh pemerintah. Padahal yang namanya paham ajaran itu takkan pernah hilang contoh seperti PKI masih tetap ada,” tandasnya.

Syamsudin menjelaskan, untuk mengatasi masalah Gafatar harus diikuti dengan pembinaan secara bertahap sampai mereka kembali kepada ajaran yang benar

“Kedua, harus melibatkan banyak pihak seperti MUI, Kemenag dan ormas. Harus ada team work untuk penanggulangan bersama yang dilakukan secara komperhensif sampai mereka kembali kepada jalan yang benar. Membentengi yang ada dan mengembalikan yang tersesat,” paparnya.

Ketiga, Syamsudin menjelaskan Al Qur'an surat Ali Imran ayat 110. Menurutnya, seharusnya ulama lah yang menginisiasi untuk melakukan sebuah gerakan yang diikuti umat. "Bukan Islam reaksioner. Islam itu konsepsional, sistematis, langkah-langkahnya pasti. Pembinaan dalam Islam mempunyai tahapan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW," terangnya.

Terkait pemulangan eks-Gafatar, Syamsudin menegaskan, masalahnya bukan pada pengembalian orang, akan tetapi pengembalian keyakinan. “Pulangkan aqidah mereka,” tegas Syamsudin.

“Seharusnya ada pihak yang bertanggung jawab dalam pengembalian keyakinan kepada jalan yang benar. Tugas kementerian agama untuk menghandle ini, harusnya pakai berita acara ditandatangani kepada siapa diserahkan pembinaannya,” pungkasnya.

Untuk diketahui, sebanyak 115 warga Banten yang sempat bergabung dengan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) akan dipulangkan ke daerah masing-masing dan dijemput oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten.

Reporter : Muhammad Fajar | Editor: Ally | Jurnalislam

Terbukti Sediakan Miras dan PL, Almanar Gerebek Tempat Karaoke “Bandel”

CIREBON (Jurnalislam.com) – Puluhan laskar dari Aliansi Masyarakat Amar Ma’ruf Nahi Munkar (Almanar) Cirebon merazia tempat maksiat berkedok karaoke keluarga di Jl. Kartini, Kota Cirebon, Selasa (26/1/2016) malam.

Berawal dari pengaduan dari warga sekitar yang diresahkan, pada pukul 22.30 WIB Almanar masuk dan membubarkan kegiatan kemasksiatan di tempat karaoke yang tidak jauh dari Masjid Raya At Taqwa itu.

Di dalamnya laskar mendapati muda-mudi yang tengah bernyanyi ditemani wanita-wanita pemandu lagu (PL) yang berpakaian seronok. Selain itu, laskar juga berhasil menemukan beberapa botol miras.

Tak lama kemudian aparat dari Polresta Cirebon datang dan membawa sejumlah barang bukti serta menggelandang beserta 2 PL.

Ketua Almanar, Ustadz Andi Mulya mengatakan, razia di tempat karaoke itu adalah yang keempat kalinya. Pihak pengelola sebelumnya bersikeras membantah keberadaan miras dan meyediakan PL.

“Namun nyatanya warga sekitar banyak yang lapor kepada Almanar bahwa memang tempat ini menjual miras dan menyediakan PL,” terangnya.

Bahkan beberapa bulan lalu, ustadz Andi mengungkapkan, seorang pengunjung karoke yang kecelakaan akibat mengendarai mobil dalam keadaan mabuk berat.

“Namun sampai sekarang aparat tidak menindak tempat karoke ini. Maka jangan salahkan Almanar bilamana aparat tidak bersikap tegas terhadap fantasy maka Almanar yang akan menindaknya dengan cara kami sendiri,” tegasnya.

Reporter: Yusuf | Editor: Ally | Jurnalislam

Taliban: Serangan IED Hancurkan Tank Musuh

BAGHLAN (Jurnalislam.com) – Salaar, seorang petugas yang bertanggung jawab terhadap sebuah pos militer diserang dan tewas dalam operasi Mujahidin di distrik Baghlan-e-Markazi provinsi Baghlan utara, menurut laporan Al-Emarah News Selasa (26/01/2016).

Dalam laporan lain, 3 agen NDS (National Directorate of Security ) termasuk 2 ANA (Afghanistan National Army) tewas ketika tank yang membawa mereka menjadi sasaran (IED) ledakan ranjau yang diledakkan di bawah tank dan menjadikannya berkeping-keping di distrik Poli Khomri provinsi Baghlan utara pada hari Selasa.

Mujahidin Imarah Islam mencegat konvoi militer musuh di distrik Poli Khomri, mengunci musuh dalam baku tembak sengit di mana setidaknya 3 tentara musuh tewas dan 5 lainnya menderita luka fatal.

Kemudian di distrik Paktia sedikitnya  8 tentara Arbaki tewas dan 4 orang lainnya menderita luka-luka di Jani Khel ketika ledakan bom pinggir jalan merobek kendaraan musuh pada hari yang sama.

Dalam serangan serupa, tiga tentara Arbaki tewas dan tiga lainnya luka-luka ketika tank yang mereka tumpangi menjadi sasaran ledakan ranjau darat di distrik Zurmat provinsi Paktia, Senin.

Deddy | Al Emarah News | Jurnalislam

Militer Zionis Setujui 153 Unit Pemukiman Baru di Tepi Barat

TEPI BARAT (Jurnalislam.com) – Kementerian Tentara Israel pada hari Senin telah menyetujui rencana untuk membangun 153 unit pemukiman baru di pemukiman Tepi Barat yang ilegal, Palestine News Network melaporkan, Selasa (26/01/2016).

Pihak militer zionis,  Israeli Occupation Authorities (IOA) menyetujui puluhan unit pemukiman setidaknya di empat permukiman di Tepi Barat, termasuk Yerusalem, Betlehem selatan, dan lembah Jordan.

Menurut kelompok Peace Now, rencana itu menandai akhir pembekuan konstruksi informal di wilayah Palestina yang berlangsung 18 bulan.

Peace Now mengatakan pada 28 Desember bahwa penjajah Israel sedang berusaha menghidupkan kembali dan memperpanjang rencana untuk rumah pemukim Yahudi baru di wilayah Tepi Barat yang diperdebatkan yang dikenal sebagai E1.

Dalam laporan berdasarkan data pemerintah yang diperoleh atas permintaan Freedom of Information Act, kelompok itu mengatakan kementerian perumahan zionis sedang berupaya membangun 55.548 unit di Tepi Barat – termasuk dua pemukiman baru – dimana lebih dari 8.300 rumah akan berada di E1.

 

Deddy | PNN | Jurnalislam

 

 

Kegagalan Revolusi Mesir: Sebuah Perjalanan Waktu Selama 5 Tahun

KAIRO (Jurnalislam.com) – Pada bulan Desember 2010, seorang pedagang jalanan Tunisia membakar diri memprotes penghinaan dan pelecehan yang ia derita di tangan polisi Mesir.

Insiden itu memicu protes anti-rezim yang kemudian dikenal sebagai "Arab Spring", yang meledak ke jalan-jalan Mesir pada 25 Januari 2011.

Keadaan setelah kejadian itu hampir tidak bisa diramalkan. Mesir adalah negara yang paling padat penduduknya di dunia Arab.

Demonstrasi berikutnya mengakhiri pemerintahan 30 tahun Presiden otokratis Hosni Mubarak dan memicu serangkaian peristiwa mendalam yang akan berdampak pada masa depan Mesir.

Berikut ini adalah beberapa peristiwa penting yang menandai periode lima tahun sejak 25 Januari 2011 hingga saat ini yang dirilis Andolu Agency, Selasa (26/01/2016):

25 Januari 2011: Mesir mengadakan demonstrasi untuk memprotes pengangguran, korupsi dan rezim tirani Mubarak. Bentrokan antara demonstran dan pasukan keamanan Mesir mengakibatkan kematian ratusan orang.

11 Februari 2011: Mubarak mundur, mengakhiri 30 tahun kekuasaannya, dan meminta tentara untuk membentuk pemerintahan baru. Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (SCAF) membubarkan parlemen dan menunda konstitusi.

14 Juni 2012: Mahkamah Agung Konstitusi Mesir membubarkan parlemen pasca-revolusi di mana Ikhwanul Muslimin sebelumnya telah memenangkan mayoritas kursi.

16/17 Juni 2012: Mesir memberikan suara dalam pemilihan presiden pertama yang bebas di negara itu. Muhammad Mursi dan Ikhwanul Muslimin mengalahkan Ahmed Shafik, perdana menteri terakhir Mubarak, dan menjadi presiden pertama Mesir yang terpilih secara demokratis.

30 Juni 2012: Presiden Mursi resmi bersumpah di depan kabinetnya.

12 Agustus 2012: Mursi menunjuk Abdel Fattah al-Sisi-sebagai menteri pertahanan, menggantikan panglima militer lama Hussein Tantawi Mohamed.

22 November 2012: Presiden Mursi mengeluarkan keputusan presiden yang melindungi keputusannya dari peradilan yang sebagian besar masih dikendalikan oleh loyalis Mubarak. Langkah ini memicu protes luas dan seruan agar Mursi mundur.

15-22 Desember 2012: Sebuah rancangan konstitusi, yang didukung oleh Mursi dan Ikhwanul Muslim serta afiliasinya, diterima dengan 63,8 persen suara dalam referendum nasional.

Februari-Maret 2013: Tujuh puluh empat orang tewas dalam kerusuhan yang berhubungan dengan sepak bola di kota utara Port Said. Pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada 21 orang karena keterlibatan mereka dalam insiden itu, yang memicu protes luas. Mursi memberlakukan keadaan darurat di kota kanal Mesir, memicu protes lebih lanjut di mana pasukan keamanan menolak untuk campur tangan.

30 Juni 2013: Pada putaran  tahun pertama Mursi sebagai presiden, gelombang besar protes anti-Mursi meledak di Tahrir Square Kairo dan di kota-kota lain di mana demonstran menuntut Mursi mundur sebagai presiden. Tentara memperingatkan akan bertindak jika konsiliasi nasional tidak dapat dicapai.

3 Juli 2013: Tentara, yang dipimpin oleh al-Sisi, mengkudeta Mursi dari kantor presiden dan menempatkan dia di bawah tahanan militer. Al-Sisi bertindak sebagai kekuasaan eksekutif, menangguhkan konstitusi dan mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi pejabat Ikhwanul Muslimin. Kepala Mahkamah Agung Adly Mansour ditunjuk sebagai presiden interim Mesir, sementara al-Sisi memperkenalkan sebuah "rencana" untuk masa depan politik Mesir.

 Arab Saudi mengucapkan selamat kepada presiden sementara yang baru diangkat, sementara Mursi dan Ikhwanul Muslimin dituduh bekerja sama dengan kekuatan asing dan spionase. Ratusan pemimpin Ikhwanul dan anggotanya ditangkap oleh pasukan keamanan.

5 Juli 2013: pendukung Mursi meluncurkan protes duduk besar terhadap kudeta berdarah militer di Kairo di Rabaa al-Adawiya Square, dimana puluhan ribu orang berpartisipasi.

8 Juli 2013: Delapan puluh empat demonstran pro-Mursi ditembak mati oleh pasukan keamanan di dekat markas Garda Republik di Kairo.

13 Juli 2013: Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Kuwait mulai memberikan dukungan keuangan bagi rezim kudeta Mesir, dan menjanjikan miliaran dolar untuk menopang perekonomian negara yang sedang sakit.

14 Agustus 2013: Lebih dari seribu orang tewas ketika pasukan keamanan membantai  para pelaku demo duduk pro-Mursi di Nahda dan Rabaa al-Adawiya Square, memicu protes nasional.
Dalam minggu-minggu berikutnya, pasukan keamanan membubarkan demonstrasi pro-Mursi dengan meningkatkan kebrutalan, menewaskan sejumlah pengunjuk rasa di seluruh negeri.
Ribuan orang, termasuk wartawan yang meliput peristiwa tersebut juga ditangkap oleh polisi.

25 Desember 2013: Pemerintah hasil kudeta Mesir (As Sisi) menjadikan Ikhwanul sebagai  organisasi teroris.

26-28 May 2014: Setelah mengundurkan diri sebagai menteri pertahanan, al-Sisi memenangkan pemilihan presiden – yang dinodai oleh kecurangan meluas – dengan 96,9 persen suara.

29 November 2014: Sebuah pengadilan Kairo membebaskan mantan Presiden Mubarak dari tuduhan korupsi dan tuduhan telah memerintahkan pembunuhan demonstran selama aksi unjuk rasa  18 hari pada tahun 2011.

Mei 2015: Mursi dan 100 anggota Ikhwanul Muslimin lainnya dijatuhi hukuman mati secara massal dengan berbagai tuduhan kriminal. Pengadilan membolehkan banding tapi belum dilakukan.

25 Januari 2016: Tahun kelima setelah pemberontakan 2011 protes tersebar di seluruh negara dimana pasukan keamanan dilaporkan menangkap puluhan demonstran.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

 

 

Tidak Valid, ISAC Desak Kapolri Ralat DPO Terduga Teroris

SOLO (Jurnalislam.com) – Pengacara dari Islamic Studies and Action Center (ISAC), Endro Sudarsono meminta Polri untuk mengklarifikasi foto DPO yang disebar oleh Polresta Banda Aceh pada Jumat (22/1/2016) yang dimuat di aceh.tribunnews.com. 

"Terkait dengan pemberitaan media online aceh.tribunnews.com tentang instruksi dari Mabes Polri dan Polda Aceh kepada Kapolresta Banda Aceh Kombespol Zulkifli, SstMk tentang penyebaran foto terduga teroris di Banda Aceh, ISAC menemukan kejanggalan terhadap foto-foto tersebut," kata Endro kepada Jurnalislam pagi ini, Rabu (27/1/2016).

Endro mengungkapkan beberapa kejanggalan yang diantaranya adalah orang-orang di dalam daftar DPO itu sebagian sudah meninggal dan ada yang sedang berstatus wajib lapor.

1. Mencantumkan foto Ahmad Yosepa alias Hayat. Yang bersangkutan sudah meninggal dunia diduga sebagai pelaku Bom di Gereja Kepunton Solo

2. Mencantumkan foto Cahya alias Ramzan. Yang bersangkutan masih berada di LP Tangerang

3. Mencamtumkan nama Nanang Irawan alias Nangndut. Yang bersangkutan sedang menjalani hukuman 5 tahun terkait kasus Bom di Masjid Cirebon dan sekarang ini mendapatkan hak bebas bersyarat, Nangndut keluar dari LP sejak Desember 2014 dan masih wajib lapor di Bapas Solo hingga 9 bulan kedepan.

Dengan demikian foto foto tersebut sudah tidak layak untuk ditampilkan ke publik karena sebagian data sudah tidak valid lagi.

Untuk itu ISAC meminta kepada Kapolri untuk:
1. Mengklarifikasi tentang informasi penyebaran foto-foto terduga teroris di Banda Aceh
2. Menarik semua foto foto tersebut karena sebagian data sudah tidak valid
3. Jika foto tersebut tidak benar kami minta Kapolri meminta maaf dan memulihkan nama baik kepada pihak-pihak yang sesungguhnya tidak masuk dalam daftar DPO

Diberitakan aceh.tribunnews (Serambinews.com), foto orang-orang yang diklaim sebagai teroris itu disebar ke-19 polsek dan satu pospol di wilayah hukum Polresta Banda Aceh.

"Fotonya kita sebar dan kita tempel di pusat keramaian seperti terminal, bandara, pelabuhan, pasar, taman kota, dan tempat-tempat umum lainnya," kata Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Zulkifli SStMk kepada Serambinews.com, Sabtu (23/1/2016)

Reporter: Dyo | Editor: Ally | Jurnalislam

Dampak Infiltrasi Mujahidin Taliban pada Angkatan Bersenjata Rezim Kabul

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Mujahidin telah banyak menyusupkan relawan mereka ke dalam barisan tentara nasional Afghanistan, pasukan polisi serta milisi Arbaki dari pemerintah Kabul yang terkenal. Taktik cerdas  ini sebagian besar dilakukan para Mujahidin pemberani dari Imarah Islam untuk melakukan serangan cepat dan  mematikan terhadap basis musuh yang dikelilingi benteng kuat, kantor serta pertemuan penjajah asing sehingga berakibat beberapa pejabat tinggi, Jenderal dan tentara penjajah asing terluka hingga tewas, lansir Al Emarah News Selasa (26/01/2016).

Jenis-jenis serangan penyusup terutama bertujuan untuk membunuh, melukai dan akhirnya membongkar pasukan invasi asing. Tetapi kemudian, dengan menilai keberhasilan mereka, ruang lingkup mereka diperpanjang untuk mengalahkan pasukan tentara bayaran rezim Kabul.

Di sini, mereka terbukti lebih sukses karena banyak komandan antek asing dan angkatan bersenjata mereka yang tewas dalam serangan ini.

Dua target serangan tersebut sebagian dapat disimpulkan sebagai berikut:

Seorang Mujahid penyusup membunuh komandan pos militer dan empat tentara antek asing  lainnya di daerah Abpashak kabupaten Babajee di provinsi Helmand. Kemudian ia berhasil menghilang  dan mengambil sejumlah besar senjata dari musuh yang tewas serta amunisi lain yang diperlukan menuju pasukan Mujahidin di posisi terdekat. Kejadian ini dikonfirmasi oleh pejabat provinsi Helmand, saat mengekspresikan kebodohan mereka.

Dalam insiden kedua, tiga Mujahidin penyusup berhasil membunuh sembilan tentara dari pos militer mereka dan kemudian mengambil semua senjata dan amunisi untuk Mujahidin yang berada di dekat mereka. Insiden ini juga diakui dan dikonfirmasi oleh antek admin Kabul.

Jenis serangan sukses ini sangat efektif dalam melemahkan semangat pasukan musuh. Pada saat ini, batalyon bersenjata antek musuh tidak mampu lagi menghadapi Mujahidin Imarah Islam yang berani. Sejumlah besar tentara mereka melarikan diri dari medan pertempuran dan orang-orang yang sebelumnya tertipu oleh propaganda berbahaya dari penyerbu asing dan antek internal mereka sekarang dengan cerdas mengakui realitas yang berlaku dan bergabung dengan Mujahidin, sehingga bukan hanya hidup dan harta mereka terjaga, namun mereka menjadi sangat dipuji dan dihargai.

Para pejabat militer dan sipil dari admin Kabul harus menyadari bahwa rezim ini adalah musuh bagi keyakinan dan negara mereka. Semua janji dan jaminan mereka kepada rakyat Afghanistan yang tertindas, tidak berhasil memulihkan perdamaian atau stabilitas maupun pembangunan ekonomi dan kemakmuran. Perjanjian keamanan bilateral yang mereka tandatangani bersama dengan penyerbu asing brutal (pasukan Multinasional) malahan memperbudak dan memalukan sejarah Afghanistan.

Di satu sisi, angkatan bersenjata antek rezim Kabul menderita serangan konfrontatif dan penyusupan dari Mujahidin namun di sisi lain anarki internal mereka berkembang dari hari ke hari. Laporan tak putus-putusnya mengatakan bahwa ribuan tentara, polisi dan milisi Arbaki rezim Kabul melarikan diri dari barisan mereka setiap tahun. Mereka tidak lagi bekerja dengan admin tentara bayaran, di mana hidup mereka selalu berisiko, mereka lebih memilih untuk mengatur dan menjalankan bisnis pribadi mereka di mana setidaknya, hidup dan martabat mereka terjaga.

Serangan-serangan penyusup telah mengacaukan penyerbu asing arogan serta rezim antek mereka. Karena serangan ini tidak bisa ditebak korban dan kerugian yang ditimbulkan lebih tinggi dibandingkan dengan pertempuran konvensional.

Serangan penyusup adalah operasi dan taktik jihadi yang sangat dihargai oleh Mujahidin Imarah Islam karena musuh dapat dikalahkan dari dalam basis dan tempat-tempat penting mereka sendiri. Mereka menjadi bingung dan kehilangan semangat. Dan akhirnya, mereka melarikan diri dari medan tempuran atau menyerah dan bergabung kepada Mujahidin Imarah Islam.

Deddy | Al Emarah News | Jurnalislam

Amnesty Internasional Kutuk Hukuman Mati Iran terhadap Anak-anak

IRAN (Jurnalislam.com) – Puluhan orang yang ditangkap di Iran untuk kejahatan yang dilakukan sebelum mereka berusia 18 tetap berisiko hukuman mati meskipun reformasi terjadi baru-baru ini. Banyak yang sudah bertahun-tahun menjalani hukuman mati, menurut laporan oleh Amnesty International, lansir Aljazeera Selasa (26/01/2016).

Laporan kelompok hak asasi manusia sepanjang 110 halaman, yang dirilis pada hari Selasa, mengatakan bahwa Iran telah mengeksekusi sedikitnya 73 pelaku Anak-anak dibawah 18 tahun antara tahun 2005 dan 2015, termasuk sedikitnya empat anak yang dieksekusi tahun 2015.

Iran adalah salah satu pelaksana hukuman mati terbesar di dunia, peringkat kedua di belakang Cina pada tahun 2014, menurut angka terbaru dari Amnesty.

Peneliti Amnesty mampu mengidentifikasi nama-nama dan lokasi 49 pelaku remaja yang menghadapi hukuman mati, meskipun kelompok mencatat bahwa angka yang sebenarnya bisa lebih tinggi. Sebuah laporan PBB 2014 menyebutkan jumlah pelaku remaja yang berisiko dieksekusi lebih dari 160.

Deddy | Aljazeera | Jurnalislam