Haedar Nashir Dorong KUII Satukan Gerak Langkah Umat Islam

JAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir Nashir mengatakan, Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII momentum baik untuk mengakselerasi dan melakukan transformasi strategi perjuangan umat Islam Indonesia.

Supaya umat Islam sebanding dengan posisinya selaku mayoritas.

Haedar mengatakan, perlu keberanian muhasabah diri dalam menyusun strategi dari reaktif-konfrontatif ke proaktif-konstruktif. Sehingga umat Islam menjadi tuan di negerinya sendiri. Umat Islam jangan merasa terasing dan terpinggirkan.

“Tetapi (umat Islam) perlu kerja keras dan menyatukan langkah kolektif, tidak berfirqah-firqah. Satukan gerak keislaman dan keindonesiaan secara konstruktif,” kata Haedar, Selasa (25/2).

Ia menyampaikan, Indonesia yang mayoritas Muslim harus menjadi bangsa dan negara yang maju, adil, dan beradab. Dalam bahasa Muhammadiyah disebut Indonesia berkemajuan.

Maju artinya harus unggul di segala bidang secara seimbang, baik fisik maupun kerohaniannya. Adil ditandai dengan tidak adanya kesenjangan, adanya keadilan hukum, dan kekayaan Indonesia untuk sebesar-besarnya bagi hajat hidup rakyat bukan untuk segelintir pihak.

“Beradab dicirikan berkarakter mulia sebagaimana diajarkan agama, Pancasila, dan kebudayaan luhur bangsa,” ujarnya.

KUII VII bertema ‘Strategi Perjuangan Umat Islam Indonesia dalam Mewujudkan NKRI yang Maju, Adil dan Beradab’. Kongres ini diselenggarakan di Kota Pangkal Pinang, Bangka Belitung pada 26-29 Februari 2020.

Sumber: republika.co.id

Peserta KUII terdiri dari ulama, tokoh bangsa, tokoh agama, zuama pemerintahan, ormas Islam, cendekiawan, pengusaha, utusan partai politik, dan lain sebagainya. Di KUII akan membahas politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, hukum, kehidupan beragama, Islam wasthiyah, filantropi Islam, media dan yang lainnya

sumber: republika.co.id

AS Bersiap Hadapi Kemungkinan Terburuk Virus Corona

AMERIKA SERIKAT (Jurnalislam.com)– Amerika Serikat (AS) bersiap menghadapi penyebaran virus corona ketika wabah di Iran, Korea Selatan dan Italia meningkat.

Nancy Messonnier, seorang pejabat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, mengatakan kepada wartawan bahwa data penyebaran virus selama sepekan terakhir telah meningkatkan harapan akan penularan di Amerika. “Gangguan pada aktivitas sehari-hari mungkin parah,” tuturnya Selasa (25/2/2020).

Sekretaris Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS Alex Azar juga meminta subkomite Senat untuk menyetujui anggaran US$ 2,5 miliar untuk memperluas sistem pengawasan virus corona, membantu pengembangan vaksin dan meningkatkan stok peralatan pelindung.

Pakar WHO mendesak negara-negara untuk meningkatkan persiapan. “Pikirkan virus ini akan muncul besok. Jika kamu tidak berpikir seperti itu, kamu tidak akan siap,” kata Bruce Aylward, kepala misi gabungan WHO-China terkait wabah Corona.

Meski corona dinyatakan sudah mencapai puncak di China namun penyebaran corona di luar negeri itu kian meningkat. Setidaknya sudah ada 39 negara mengonfirmasi kasus corona per Selasa.

Korsel misalnya menjadi negara kedua terbanyak setelah China dengan jumlah kasus 977 dan 10 kematian. Iran juga mencatat lonjakan pada jumlah korban tewas menjadi 16 dan membuat negeri itu sebagai negara dengan pasien meninggal terbanyak setelah China.

Kasus corona yang naik signifikan juga terjadi di Eropa. Italia menjadi sumber corona dengan 280 kasus positif dan 11 orang meninggal.

Sumber: cnbcindonesia

Ikapi: Islamic Book Fair Milik Seluruh Umat Islam

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta menyampaikan bahwa Islamic Book Fair (IBF) adalah milik semua umat Islam.
Ikapi DKI Jakarta hanya sebagai penyelenggara yang memfasilitasi para pagiat literasi dan umat.
Ketua Ikapi DKI Jakarta, Hikmat Kurnia, berharap IBF menjadi ajang berkumpulnya para pegiat literasi dan orang-orang yang peduli pada dunia Islam serta dakwah.
Dia menegaskan, karena IBF milik umat Islam maka umat jangan ragu-ragu untuk datang ke arena IBF. Di IBF bukan hanya ada pameran buku, tapi ada banyak acara-acara lainnya.

Mulai dari bedah buku, diskusi tentang keislaman, literasi, dan buku. Selain itu, dia menambahkan, IBF akan menghadirkan ustadz-ustadz terkenal yang bisa memberi pencerahan kepada umat. Artinya IBF adalah sarana untuk menimba ilmu pengetahuan keislaman.

Hikmat juga mengingatkan bahwa generasi milenial pada 20 tahun mendatang akan menjadi pemimpin Indonesia. Indonesia suatu saat nanti akan dipimpin generasi milenial.
“Sehingga generasi milenial harus paham permasalahan bangsa ini, IBF membekali generasi milenial dengan ilmu pengetahuan yang baik, dengan bacaan yang baik dan dengan acara baik,” ujarnya.

Ikapi DKI Jakarta juga berharap generasi milenial akan menjadi generasi yang pintar, cerdas, berkarakter dan beradab baik. Sehingga negara ini bisa dibawa maju oleh mereka.

IBF ke-19 yang mengusung tema ‘Literasi Islam; Cahaya Untuk Negeri’ diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC) pada 26 Februari – 1 Maret 2020. Di IBF akan ada 175 penerbit buku dan 168 non penerbit.

Sebanyak 343 stan di IBF akan diisi penerbit buku, travel, perbankan, lembaga filantropi, instansi pemerintah, media massa, UMKM, busana Muslim, properti syariah, mainan anak, kuliner, dan lain sebagainya.

Sumber: republika.co.id

BPJPH: Selama 4 Bulan, Baru 1158 Pelaku Usaha Ajukan Sertifikasi Halal

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kepala Pusat Registrasi dan Sertifikasi Halal Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Mastuki menuturkan, sampai saat ini ada 1.158 pelaku usaha yang sudah terdaftar di Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Pelaku usaha yang melakukan pendaftaran sertifikasi halal diklaim meningkat.

“Saat ini kami sedang memeriksa dokumen lagi yang masuk sekitar 150 pelaku usaha. Selama 4 bulan ini ada peningkatan jumlah meski tidak drastis,” kata dia, Selasa (25/2).

Mastuki melanjutkan, peningkatan kunjungan dan pendaftaran terjadi pada Desember 2019 dan Januari 2020, yakni sekitar 120 persen. Peningkatan ini dipengaruhi pembentukan Satuan Tugas (Satgas) BPJPH di seluruh daerah provinsi di Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama.

“Kami sudah melakukan desentralisasi layanan. Sehingga pelaku usaha bisa langsung mengajukan sertifikat halal di Satgas BPJPH di Kanwil Kemenag seluruh Indonesia.” ucap dia.

Untuk sementara ini, desentralisasi layanan sertifikasi halal baru dilakukan di tingkat pusat dan provinsi. Layanan tersebut juga akan ada di tingkat kabupaten/kota. Namun, pembentukannya direncanakan baru dimulai pada 2021.

“Prinsipnya, pelayanan harus mendekati pelaku usaha. Apalagi usaha mikro dan kecil yang ada di daerah-daerah, kampung, desa, pasti dibutuhkan layanan yang cepat dan menjangkau,” katanya.

Peningkatan kunjungan dan pendaftaran sertifikasi halal, kata Mastuki, juga karena adanya bantuan pembiayaan dari pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi UMK kepada banyak pelaku usaha. Daerah tersebut di antaranya Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Berdasarkan data BPJPH dari dokumen yang masuk, besaran persentase pemohon sertifikasi halal yaitu pelaku usaha kecil 29 persen, usaha menengah 17 persen, usaha mikro 20 persen, tanpa keterangan 17 persen, dan usaha besar 17 persen. Sebanyak 95 persen dari kalangan pelaku usaha makanan dan minuman.

“Selebihnya produk lain yang merupakan perpanjangan atau pembaharuan sertifikat dari sertifikat sebelumnya yang diajukan melalui LPPOM MUI,” tutur dia.

Sumber: republika.co.id

Wapres Minta NU Jaga Indonesia dari Paham dan Aliran Menyimpang

JAKARTA—Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengingatkan warga Nahdlatul Ulama (NU) untuk menjaga Indonesia dari pemahaman-pemahaman yang menyimpang dan tidak moderat.

Wapres mengatakan, sebagai organisasi yang lahir dalam semangat menentang penjajahan, NU memiliki tanggung jawab dalan mengawal keagamaan dan kebangsaan.

Karena itu, Ma’ruf meminta agar NU terus menyebarkan pemahaman agama yang moderat sebagaimana cita-cita NU.

“Tugas kalian sekarang, ke depan adalah menjaga negara ini dari pemahaman-pemahaman yang tidak sesuai yang diinginkan oleh NU, (keinginan NU) yaitu berkembangnya ajaran agama terutama ajaran Islam yang moderat, moderasi dalam beragama,” ujar Ma’ruf saat menghadiri acara Maulid dan Tasyakur Hari Lahir IPNU Ke-66 di GOR Soemantri Brojonegoro, Jakarta, Ahad (23/2) malam.

Ma’ruf menerangkan, dalam mewujudkan moderasi beragama, tidak boleh membiarkan berkembangnya cara berpikir maupun sikap yang intoleran. Sebab, sikap intoleran adalah bibit lahirnya radikalisme yang kemudian berubah menjadi terorisme.

Sebaliknya, narasi yang dibangun antara sesama adalah semangat toleran dan teologi kerukunan. “Karena itu maka kita harus mengembangkan cara berpikir yang toleran, jangan sampai berkembang narasi yang intoleran, narasi kebencian, narasi konflik dalam menyampaikan,” ujar Ma’ruf.

Tak hanya itu, Ma’ruf mengingatkan pentingnya membuang sifat ego kelompok. Sebab, moderasi beragama tidak mengenal ego kelompok, yang biasanya merasa kelompoknya paling benar di antara lain.

“Karena itu cara berpikir seperti ini yang harus kita kawal, kita jaga, agar Indonesia tetap dalam keadaan yang rukun, yang damai, yang sejuk dan ini bermula dari cara memberikan penafsiran keagamaan yang tidak intoleran,” ujar Ma’ruf.

Wapres menjelaskan, ajaran yang dibawa NU selama ini adalah Islam yang moderat, tidak tekstual namun juga tidak liberal dan radikal. Selain itu, Islam moderat yang diajarkan NU tidak statis, artinya terus bergerak (dinamis) menyesuaikan perkembangan zaman.

“Karena itu NU terus melakukan aktualisasi. Walaupun dinamis tetapi tidak liberal. Karena NU ber-manhaj, ada metodologi yang digunakan dalam cara berpikirnya,” kata Ma’ruf.

Sumber: republika.co.id

Kampung Qur’an Berdampak Tingkatkan Produktivitas

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Direktur Utama Program Pembibitan Penghafal Alquran Daarul Qur’an, Abdul Ghofur, menuturkan hasil kaji dampak Program Kampung Qur’an ini menjadi masukan yang baik untuk pengembangan di masa mendatang.

Dari hasil kajian tersebut, dia meyakini program Kampung Qur’an bisa memberi dampak yang semakin luas.

“Sudah menjadi bagian dari tugas kami untuk melakukan aktivitas pembesaran Kampung Qur’an ini. Tadi ada masukan terkait produktifitas perekonomian dan sebagainya,” kata dia di Kebayoran Baru, Jakarta, Senin (24/2).

Menurut Ghofur, pelatihan membaca dan menghafal Alquran akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di lingkungan masyarakat Kampung Qur’an itu. “Efek dari melatih baca dan hafal Alquran ini juga akan ke ekonomi di Kampung Qur’an tersebut,” kata dia.

PPPA Daarul Qur’an bekerja sama dengan Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CI-BEST) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di bawah naungan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mengkaji manfaat keberadaan program Kampung Qur’an.

Kepala CI-BEST Lukman Mohammad Baga mengatakan, kajian ini dilakukan untuk mendapatkan potret program Kampung Qur’an di beberapa sampel wilayah.

Dia melihat pelaksanaan program Kampung Qur’an dari persepsi para penerima manfaat mulai dari fase tanggap darurat awal, fase pemulihan, hingga pemberdayaannya.

“Ternyata memang apa yang dilakukan ini boleh dikatakan angkat jempol ya, bagus, sangat baik, meski ada beberapa catatan perbaikan,” ucap dia.

Meski masih memiliki beberapa catatan dan ada proses penyempurnaan terhadap laporannya, Lukman memberikan apresiasi karena program Kampung Qur’an sangat baik untuk masyarakat sekitar. Penilaian sangat baik ini dilihat dari kecepatan pemberian bantuan, kecukupan bantuan yang diberikan, ketepatan pemberian bantuan kepada sasaran, keterampilan petugas, dan sikap petugas.

sumber: republika.co.id

 

Sambangi Wapres, DMI Ingin Dukungan Masjid Ramah Anak

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia Imam Addaruqutni menemui Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Senin (24/2). Imam mengungkap harapannya agar Wapres Ma’ruf mendukung program-program yang digencarkan DMI terhadap masjid-masjid di Indonesia, salah satunya multifungsi masjid.

Imam mengatakan, masjid diharapkan berfungsi tidak hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga untuk kegiatan ekonomi. “Masjid yang sebagai tempat ibadah difungsikan lagi sebagai misalnya soal ekonomi masyarakat, ekonomi masyarakat, ini pemerintah juga punya program termasuk misalnya program pemberdayaan ekonomi,” ujar Imam di Kantor Wapres, Jakarta, Senin (24/2).

Selain untuk kegiatan ekonomi, masjid juga diharapkan ramah untuk bermain anak. Imam menjelaskan, ramah bagi anak dilakukan untuk mengajarkan anak-anak dekat dengan masjid sejak dini.

“Jangan sampai ada pengumuman dilarang anak-anak main di masjid misalnya, itu sekaligus mengundang anak bisa senang ke masjid sambil sosialisasi, mengenal rasa kemanusiaan dari awal dan juga dengan bimbingan dari masjid,” ujar Imam.

Sehingga, lanjut Imam, anak-anak bisa mengenal ajaran dan pemahaman agama yang baik dari masjid. Menurutnya, ini juga sekaligus membangun jati diri anak agar toleran terhadap anak-anak lainnya.

Dia mengatakan, program ini, saat ini, juga telah dimulai dan menunjukan progres yang sigifikan. Menurutnya, sudah ada enam ribu masjid yang menerapkan konsep tersebut.

“Enam ribu masjid itu ini terus berkelanjutan karena jumlah masjid itu ratusan ribu. Kalau itu terjadi dengan baik dapat dukungan dengan baik, ya nanti anak-anak kita saya kira tunbuh dengan baik,” ujarnya.

Apalagi, menurutnya, saat ini banyak orang tua yang khawatir jika anaknya keluar rumah.

“Tapi kalau ini berjalan ke masjid juga ada iramanya. karena kehadiran itu sampai masjid mengeluarkan notice anak-anak jangan ke masjid, padahal justru masjid itu bermainlah di masjid,” katanya.

Sebelumnya, Dewan Masjid Indonesia (DMI) bertekad mewujudkan masjid lebih ramah terhadap anak hingga 2030 mendatang.

Panduan Pengembangan Masjid Ramah Anak (MRA) yang merupakan hasil Silaturahim Nasional Sejuta Masjid Ramah Anak (SEMARAK) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur yang digelar sejak Selasa (12/3), merupakan upaya untuk mewujudkan tekad tersebut.

Sumber: republika.co.id

 

Direktur Pristac Sampaikan Konsep Pendidikan dalam Syair-Syair Imam Syafi’i

MAKASSAR(Jurnalislam.com) – Direktur Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization (PRISTAC/Setingkat SMA) Ustadz Dr. Muhammad Ardiansyah, M.Pd.I menyampaikan Konsep Pendidikan dalam Syair-Syair Imam Syafi’i di Masjid Ulil Albab UNM, baru-baru ini.

 

Imam Syafi’i dikenal sebagai seorang ulama ushul fiqh dan muhaddits (pakar hadits). Sebagai pakar ushul fiqh, ia menjadi orang pertama yang merumuskan kitab ushul fiqh yang kemudian dinamakan ar-Risalah.

Sebagai pakar hadits, ia telah men-syarah banyak hadits dan membukukannya dalam suatu karya berjudul Musnad Imam Syafi’i. Begitu juga dengan syair-syair pendidikan Imam Syafi’i. Termasuk adab dalam menuntut ilmu.

 

“Kita bisa melihat bagaimana kisah Imam Syafi’i belajar sama Imam Malik. Hingga Imam Syafi’i di minta Imam Malik untuk membacakan muwathanya yang sampai ribuan hadits,” ucapnya.

 

Begitu juga dengan adab menuntut ilmu adalah meninggalkan dosa. Jika kita ingin mendapatkan ilmu yang besar adalah menjauhi maksiat dan dosa. Ilmu itu tempatnya di hati dan Allah tidak akan berikan cahayanya kepada yang kotor.

 

“Syair-syair Imam Syafi’i tentang adab dalam pendidikan. Misalnya adab dalam menuntut ilmu adalah dengan meninggalkan dosa. Aku pernah mengadu kepada Imam Waqi di Baghdad, susah menghafal. Lalu Imam Waqi menasehati aku untuk meninggalkan dosa, dan Imam Waqi mengatakan ilmu Allah itu adalah cahaya dan cahayanya Allah tidak diberikan kepada orang yang berdosa,” imbuhnya.

 

Lebih lanjut, Dr. Muhammad Ardiansyah menjelaskan tentang syair Imam Syafi’i tentang pentingnya menulis ilmu yang di dapatkan.

 

“Syair Imam Syafi’i tentang menulis. Ilmu itu bagaikan binatang buruan, menulis itu adalah ikatannya. Termasuk sebuah kebodohan adalah memburu sebuah buruan kamu tidak ikat, akhirnya buruan itu lepas lagi,” ungkapnya.

 

Sejarah telah mencatat bahwa para ulama dahulu di suguhi oleh karya-karya yang gemilang. Bahkan mereka disebut sebagai ulama engkslopedia.

 

“Tradisi ilmu itu telah tercatat dalam sejarah sebagaimana Imam Al-Haramain guru Imam Al-Ghazali yang menulis kitab sebanyak 35 jilid dan juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menulis Majmu’ Fatawa sebanyak 35 jilid. Jadi, ulama dulu adalah uluma engkslopedia,” tandasnya.

 

Di akhir materinya, Direktur Pristac ini menyampaikan syair Imam Syafi’i tentang pentingnya usaha dan berjuang dalam menuntut ilmu.

 

“Orang yang berakal dan beradab tidak betah terhadap suatu tempat. Oleh karenanya tinggalkan tempat kelahiran kamu untuk menuntut ilmu. Berangkat jauh kesana, kalian akan mendapatkan apa yang kalian tinggalkan. Dan jangan pernah bosan untuk bersusapayah, karena hidup ini kenikmatannya di dapatkan melalui kesusahan,” tutupnya./* Muhammad Akbar

Dikti: Disrupsi Berpengaruh kepada Peradaban dan Pendidikan

MAKASSAR(Jurnalislam.com) – Muktamar III Pimpinan Pusat Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (Muktamar III PP LIDMI) mengadakan Dialog Kebangsaan yang bertempat di Baruga A.P Pettarani Universitas Hasanuddin Kota Makassar Sulawesi Selatan, Sabtu, (22/02/2020).

 

Dialog kebangsaan ini mengusung tema “Tantangan Pendidikan di Era 4.0 dan Masa Depan Peradaban Indonesia”. Menghadirkan pemateri Prof. Dr. Jasruddin, M.Si yang menjabat sebagai Kepala LLDIKTI Wilayah IX (Sulawesi dan Gorontalo).

 

Dalam pengantarnya, Prof. Jasruddin menyampaikan era disrupsi ini berdampak kepada tercabutnya nilai-nilai yang menjadi akar peradaban.

 

“Kalau kita melihat dari asal katanya, disrup, kacau. Disruption, kekacauan, itu secara bahasa. Lalu kemudian karena kekacauan inilah ada satu hal yang salah, karena tercabutnya nilai-nilai dari akarnya, itu memang salah satu inti dari peradaban”, tegasnya.

 

Era disrupsi ini juga berdampak kepada pendidikan yang menjadi lahirnya peradaban. Kemajuan ini juga akan berakibat pada perkembangan industri.

 

“Disruption ini justru sangat mempengaruhi pendidikan kita. Pendidikan ini mempengaruhi peradaban. Ketika pendidikan itu maju, maka industri juga akan berkembang dengan baik industri akan melahirkan barang-barang dan salah satu ciri kemajuan revolution industy 5.0, lahirnya Artivicial Intelligence,” jelas Kepala LLDIKTI Wil IX (Sulawesi dan Gorontalo) ini.

 

Diakhir penyampaiannya, Prof. Jasruddin memaparkan empat buta huruf yang dilahirkan dari revolusi industri 4.0 ini.

 

“Yang pertama buta huruf teknologi, tidak bisa tidak, kita harus menguasai teknologi. Yang kedua kita butu huruf bahasa, dan ini kalau adek-adek mau sukses, mau survive maka adek-adek harus mempelajari bahasa. Buta huruf ketiga enterpreneur, tidak bisa tidak, Rasulullah itu sebelum diangkat menjadi Rasul, belajar bagaimana menjadi enterpreneur yang handal. Dan terakhir buta huruf tentang akhlak,” tutupnya./*Amrul Hidayat & Akbar

Dorong Perkembangan Keuangan Syariah, Investree Tawarkan Sukuk Ritel SR012

JAKARTA(Jurnalislam.com)Untuk pertama kalinya, Investree (PT Investree Radhika Jaya) sebagai marketplace lending platform yang ditunjuk oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia untuk menjadi Mitra Distribusi Penjualan Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) memasarkan Sukuk Negara Ritel Seri SR012 melalui platform Investree.

Co-Founder & CEO Investree, Adrian Gunadi mengatakan bahwa sebagai satu-satunya fintech lending yang memegang status “Berizin dan Diawasi” oleh Otoritas Jasa Keuangan untuk 2 (dua) jenis usaha salah satunya syariah, pihaknya sangat bersemangat menawarkan Sukuk Negara Ritel Seri SR012.

“Karena Investree dan Kemenkeu mempunyai misi yang sama: meningkatkan partisipasi investor syariah domestik agar dapat memajukan perekonomian Islam di Indonesia,” kata dia dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com.

Adanya SR012 dan rangkaian produk SBSN lainnya juga, menurutnya, akan memperkaya kelas aset Investree, sehingga Lender semakin memiliki alternatif investasi yang beragam di Investree terlebih mereka yang berpreferensi syariah.

“Satu hal penting, SR012 ini bisa diperdagangkan di Pasar Sekunder dan Investor SBSN berpeluang memperoleh keuntungan dari selisih harga (capital gain),” tambahnya.

Dengan tingkat imbalan minimal tetap (fixed) sebesar 6,30% p.a., SR012 memiliki berbagai keuntungan antara lain sesuai prinsip syariah, aman dijamin oleh Pemerintah Republik Indonesia, minimal pemesanan Rp 1 juta sehingga siapa pun bisa berpartisipasi.

SR012 merupakan produk investasi berlandaskan prinsip-prinsip syariah: tidak melibatkan unsur perhitungan bunga (riba), judi (maisyir), penipuan (gharah), dan tidak mendatangkan kerugian kepada orang lain (mudharat).

SR012 dibuat dengan mengacu pada struktur akad-akad syariah dan dituangkan ke dalam dokumen hukum penerbitan. Landasan SR012 adalah Fatwa DSN-MUI (No. 76/DSN-MUI/VI/2010) tentang SBSN Ijarah Asset to be Leased dan telah mendapatkan opini syariah dari DSN-MUI ((B-141/DSN-MUI/II/2019).

Investree sendiri menjadi satu-satunya perusahaan fintech lending yang telah mengantongi Surat Rekomendasi Penunjukkan Tim Ahli Syariah dari Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) untuk layanan Investree Syariah.