Direktur Pristac Sampaikan Konsep Pendidikan dalam Syair-Syair Imam Syafi’i

Direktur Pristac Sampaikan Konsep Pendidikan dalam Syair-Syair Imam Syafi’i

MAKASSAR(Jurnalislam.com) – Direktur Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization (PRISTAC/Setingkat SMA) Ustadz Dr. Muhammad Ardiansyah, M.Pd.I menyampaikan Konsep Pendidikan dalam Syair-Syair Imam Syafi’i di Masjid Ulil Albab UNM, baru-baru ini.

 

Imam Syafi’i dikenal sebagai seorang ulama ushul fiqh dan muhaddits (pakar hadits). Sebagai pakar ushul fiqh, ia menjadi orang pertama yang merumuskan kitab ushul fiqh yang kemudian dinamakan ar-Risalah.

Sebagai pakar hadits, ia telah men-syarah banyak hadits dan membukukannya dalam suatu karya berjudul Musnad Imam Syafi’i. Begitu juga dengan syair-syair pendidikan Imam Syafi’i. Termasuk adab dalam menuntut ilmu.

 

“Kita bisa melihat bagaimana kisah Imam Syafi’i belajar sama Imam Malik. Hingga Imam Syafi’i di minta Imam Malik untuk membacakan muwathanya yang sampai ribuan hadits,” ucapnya.

 

Begitu juga dengan adab menuntut ilmu adalah meninggalkan dosa. Jika kita ingin mendapatkan ilmu yang besar adalah menjauhi maksiat dan dosa. Ilmu itu tempatnya di hati dan Allah tidak akan berikan cahayanya kepada yang kotor.

 

“Syair-syair Imam Syafi’i tentang adab dalam pendidikan. Misalnya adab dalam menuntut ilmu adalah dengan meninggalkan dosa. Aku pernah mengadu kepada Imam Waqi di Baghdad, susah menghafal. Lalu Imam Waqi menasehati aku untuk meninggalkan dosa, dan Imam Waqi mengatakan ilmu Allah itu adalah cahaya dan cahayanya Allah tidak diberikan kepada orang yang berdosa,” imbuhnya.

 

Lebih lanjut, Dr. Muhammad Ardiansyah menjelaskan tentang syair Imam Syafi’i tentang pentingnya menulis ilmu yang di dapatkan.

 

“Syair Imam Syafi’i tentang menulis. Ilmu itu bagaikan binatang buruan, menulis itu adalah ikatannya. Termasuk sebuah kebodohan adalah memburu sebuah buruan kamu tidak ikat, akhirnya buruan itu lepas lagi,” ungkapnya.

 

Sejarah telah mencatat bahwa para ulama dahulu di suguhi oleh karya-karya yang gemilang. Bahkan mereka disebut sebagai ulama engkslopedia.

 

“Tradisi ilmu itu telah tercatat dalam sejarah sebagaimana Imam Al-Haramain guru Imam Al-Ghazali yang menulis kitab sebanyak 35 jilid dan juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menulis Majmu’ Fatawa sebanyak 35 jilid. Jadi, ulama dulu adalah uluma engkslopedia,” tandasnya.

 

Di akhir materinya, Direktur Pristac ini menyampaikan syair Imam Syafi’i tentang pentingnya usaha dan berjuang dalam menuntut ilmu.

 

“Orang yang berakal dan beradab tidak betah terhadap suatu tempat. Oleh karenanya tinggalkan tempat kelahiran kamu untuk menuntut ilmu. Berangkat jauh kesana, kalian akan mendapatkan apa yang kalian tinggalkan. Dan jangan pernah bosan untuk bersusapayah, karena hidup ini kenikmatannya di dapatkan melalui kesusahan,” tutupnya./* Muhammad Akbar

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X