Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah, Tanda Balas Cinta dari Allah

 (Jurnalislam.com)–Bulan Dzulhijjah selalu dikenal dengan bulan haji, bulan qurban. Dimana bulan yang dirindu oleh orang-orang yang telah mengumpulkan harta bertahun-tahun demi dapat melaksanakan ibadah haji. Bulan yang dirindu oleh si papa yang dibulan lain tak mampu mencicipi nikmat hidangan daging sapi.

Rupanya dibalik itu, banyak orang tidak tahu, bahwa di bulan Dzulhijjah ada hari-hari yang harganya melebihi dari berlimpahnya intan permata, harganya melebihi ribuan unta. Apakah itu?

Ia adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

“Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 awal Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Apakah lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah ?” Beliau bersabda, “Iya. Lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati syahid).” (HR. Al Bukhari)

Bagaimana menurut Anda?

Hari-hari yang amal shalihnya lebih dicintai oleh Allah dan lebih baik dari jihad fii sabilillah apakah harganya mengalahkan limpahan emas permata?

Apakah harganya mengalahkan ribuan unta?

Tentu saja iya, karena adakah yang lebih baik dari dunia serta isinya dibanding sesuatu yang dicintai Allah.

Bukan tanpa sebab, Allah menjadikan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah menjadi spesial, yang segala amal kebajikan didalamnya menjadi lebih dicintai Allah. Hal ini dikarenakan Allah yang Maha Mensyukuri kebaikan dan pengorbanan hamba – Nya. Yaitu kepada keluarga Ibrahim ‘alaihissalam.

Dari kisah Siti Hajar yang tunduk dan patuh atas perintah Allah tatkala Allah memerintahkan suaminya (Ibrahim ‘Alaihissalam) meninggalkannya di lembah yang tandus tanpa ada tanda-tanda penghidupan disana, ditinggal suami tercinta, hanya berdua dengan bayi yang masih disusuinya. Dapat kita bayangkan, keikhlasan dan kesabaran Siti Hajar atas perintah Allah,  yang tentu dalam pandangan manusia itu adalah sebuah hal yang menakutkan di tinggal hanya bersama bayi di lembah yang sunyi.

Begitu pula sang suami (Ibrahim ‘alaihissalam), tentu bukan hal yang mudah, mengorbankan rasa cinta, meninggalkan istri yang dicintainya dan anak yang didamba-damba bertahun-tahun lamanya harus ia tinggal di lembah yang tak ada satu manusia pun disana, kecuali istri dan anak yang dicintainya, bahkan pepohonan pun tidak ada disana. Akan dari mana makannya, akan dari mana minumnya. Bagaimana jika ada hewan buas atau perompak yang membahayakan mereka. Tak terbayangkan sudah, apa yang dirasa Ibrahim ‘alaihissalam tatkala meninggalkan istri dan anaknya. Namun ia tunduk patuh dan sabar terhadap perintah Tuhan nya.

Kemudian, anaknya yang ditinggal di lembah sunyi telah beranjak dewasa, ayah dan anak ditakdirkan kembali berjumpa, belum juga puas melepas rindu dan cinta, Allah pun kembali menguji mereka. Allah perintahkan Ibrahim ‘alaihissalam melalui mimpinya agar menyembelih anaknya. Lagi-lagi Ibrahim ‘alaihissalam berpasrah dan meminta pendapat anaknya.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail Berkata: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As-Shaffat : 102)

Bagai buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya, Ismail ‘alaihissalam anak dari Ibrahim ‘alaihissalam dan Siti Hajar, mengikuti ketaatan ayah dan ibu nya. Ia pun begitu tunduk, patuh, ikhlas dan sabar pada ketentuan Allah. Sungguh, keluarga yang indah. Suami, istri dan anak semua begitu tulus dan kuat ketaatan dan keyakinannya pada Allah.

Allah Yang Maha Baik dan Maha Mensyukuri kebaikan hambanya membalas ketaatan mereka dengan mengabadikan kisah ketaatan mereka dalam syari’ah ibadah haji dan qurban. Bukan hanya itu, Allah pun menjadikan amal baik yang dilakukan di 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah menjadi amalan yang lebih dicintainya mengalahkan jihad fiisabilillah. Maha Baik Allah,  rupanya balasan Allah kepada ketaatan keluarga Ibrahim bukan semata-mata untuk keluarga Ibrahim melainkan juga kepada hamba-hamba Nya yang bersungguh-sungguh memanfaatkan momentum keutamaan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah mengikuti ketaatan keluarga Ibrahim ‘alaihissalam.

Amalan apa saja yang dapat dilakukan di 10 hari pertama bulan dzulhijjah?

  1. Memperbanyak Amal Salih di 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah.

Amalan ini bersifat umum, seperti sedekah, berbuat baik pada orangtua, kerabat dan sebagainya.

  1. Memperbanyak puasa di 9 hari pertama bulan Dzulhijjah

Dari Ummul Mukminin, Hafshah radiyaullahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa asyura, sembilan hari pertama Dzulhijjah, dan tiga hari tiap bulan. (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, dan disahihkan Al-Albani).

Abu Qatadah radliallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“…puasa hari arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai penebus (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..” (HR. Ahmad dan Muslim).

Puasa Arofah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, sementara puasa tarwiyah dilakukan pada tanggal 8 Dzulhijjah.

  1. Memperbanyak dzikir, takbir dan tahlil

Melakukan dzikir, takbir, dan tahlil tidak hanya sehabis sholat, melainkan dianjurkan untuk lebih memperbanyak membaca dzikir, takbir, dan tahlil di waktu-waktu luang, ataupun ketika melakukan aktivitas.

Hadis dari Abdullah bin Umar , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada amal yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan pada tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid pada hari itu.” (HR. Ahmad dan Sanadnya dishahihkan Syekh Ahmad Syakir).

Bahkan para sahabat radhiallahu ‘anhum bertakbir di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

  1. Sholat Idul Adha

Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

Bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, masyarakat Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan dengan bermain. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Dua hari apakah ini?” Mereka menjawab, “Kami merayakannya dengan bermain di dua hari ini ketika zaman jahiliyah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memberikan ganti kepada kalian dengan dua hari yang lebih baik: Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. An-Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, dan disahihkan al-Albani).

  1. Menyembelih Qurban

Diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dan imam Ibnu Majah dari Aisyah ra, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seorang anak Adam melakukan pekerjaan yang paling dicintai Allah pada hari nahr kecuali mengalirkan darah (menyembelih hewan qurban). Hewan itu nanti pada hari kiamat akan datang dengan tanduk, rambut dan bulunya. Dan pahala qurban yang menetes pada suatu tempat sebelum menetes ke tanah. Maka hiasilah dirimu dengan ibadah qurban.”

  1. Melaksanakan Haji dan Umroh

Ibadah haji merupakan napak tilas ketaatan keluarga Ibrahim ‘alaihissalam

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah SAW bersabda, dari satu umrah ke umrah yang lainnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya. Dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR Bukhari dan Muslim).

Masih bersisa beberapa hari lagi, untuk memaksimalkan momentum keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Semoga dapat meraih amalan yang dicintai Allah yang nilainya melebihi dari jihad fiisabilillah.

( Jumi Yanti Sutisna / Dari berbagai sumber)

Corona Tembus 100 Ribu Kasus, Pemerintah: Indonesia dalam Kondisi Krisis!

JAKARTA(Jurnalislam.com)--Pemerintah memastikan Indonesia masih berada dalam kondisi krisis, menyusul kasus positif virus corona (Covid-19) yang sudah menembus angka lebih dari 100.000 per hari ini, Senin (27/7).

 

Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada mengingat kasus corona terus melonjak.

“Indonesia mencapai angka yang secara psikologis cukup berarti dan ini mengingatkan semua pihak bahwa Indonesia dalam kondisi krisis, kita perlu tetap waspada,” kata Wiku Adisasmito saat jumpa pers di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (27/7/2020).

Menurut Wiku, apabila dibandingkan dengan negara lain per 1 juta penduduk, Indonesia berada di urutan ke 142 dari 215 negara yang terpapar virus corona. “Kita berada di urutan 142 dari 215 negara di dunia,” sambungnya.

Sedangkan di banding dengan negara lain di Asia, Indonesia menempati urutan ke 28 dari 49 negara di kawasan tersebut. Namun demikian kondisi ini bukan berarti Indonesia aman, masyarakat harus tetap waspada.

“Kondisi ini tidak serta merta Indonesia aman. Indonesia masih dalam kondisi krisis, kita tidak boleh lengah hadapi Covid,” jelas Wiku.

Sebagaimana diketahui, pemerintah, Senin (27/7/2020) mencatat ada penambahan 1.525 kasus positif  virus corona baru pada hari ini. Dengan demikian total jumlah warga yang terinfeksi mencapai 100.303.

 

Sementara itu kasus sembuh hari ini sebanyak 1.518 sehingga totalnya 58.173. Kasus meninggal juga bertambah 57 orang sehingga totalnya 4.838. Adapun kasus suspek yang dipantau sebanyak 54.910 orang.

Sumber: okezone.com

Spanduk Ulama Dirusak, GNPF: Cermin Manusia Biadab Tak Berakhlak

 JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama), Yusuf Muhammad Martak menanggapi aksi vandalisme sekelompok orang terhadap foto dan spanduk bergambar Habib Rizieq Shihab (HRS).

GNPF Ulama, kata dia, tidak akan bisa menerima perlakuan biadab yang dilakukan oleh siapapun yang selalu menjadi pemecah belah bangsa.

 

“Siapa sebenarnya manusia-manusia biadab tersebut yang tidak jelas asal usulnya, lebih sampah dari ucapan sampahnya terhadap HRS. Sekelompok manusia yang ada dalam aksi terlihat tidak berakhlak dan tidak mencerminkan adat ketimuran,” kata Yusuf dalam keterangannya, Selasa (28/7).

Dia menegaskan kepada kelompok tersebut bahwa FPI, GNPF Ulama, PA 212 beserta seluruh jaringan sesama pejuang yang berjuang bersama bukan penghianat dan musuh negara maupun musuh bangsa.

“Kami tidak pernah menjadi penghianat bangsa, kami tidak pernah menggarong dan merampok harta negara dan isi bumi yang di miliki oleh negara Indonesia, kami bukan koruptor, kami bukan bandar narkoba, kami bukan pengusaha tempat-tempat maksiat dan perjudian,” katanya.

 

“Kami juga tidak pernah melecehkan bangsa Indonesia di mata dunia internasional. Kami hamba Allah yang taat menyembah Tuhan kami, kami bukan seperti Anda si penyembah petugas partai maupun yang menugaskan,” imbuhnya.

 

Bahkan, saking geramnya, Yusuf mengingatkan agar kelompok tersebut tidak kabur dan berlindung di ketiak aparat yang selama dijadikan pelindung.

“Kalau kalian jantan, jawab tantangan kami dan setelah itu kami akan datangi di manapun Anda sembunyi,” katanya.

100 Ribu Kasus, Epidemiolog: Pemerintah Diingatkan Sejak Awal, Tapi Tak Diindahkan

YOGYAKARTA(Jurnalislam.com)–Kasus konfirmasi positif virus corona (COVID-19) per hari ini mencapai 100.303 kasus. Pakar Epidemiologi UGM Bayu Satria melihat peningkatan kasus konfirmasi positif ini sudah diprediksi sebelumnya. Dia pun menyoroti belum adanya tindakan signifikan dari pemerintah.

 

“Secara umum memang sudah diprediksi lebih dari seratus ribu kasus positif tapi belum ada perubahan tindakan signifikan dari pemerintah,”

Dia menjelaskan para ahli epidemiologi telah memberikan peringatan serta pertimbangan kepada pemerintah. Namun, pemerintah tidak mengindahkannya. Hasilnya, saat ini muncul klaster perkantoran.

“Sudah dari dulu diberi peringatan oleh ahli agar jangan terlalu cepat membuka pembatasan, kalau pun dalam membuka kantor harus dengan pertimbangan matang dan assesment yang detail. Tetapi ternyata pemerintah hanya buka saja,” urainya.

“Karena banyak kasus yang ada hubungannya dengan kantor atau dimulai dari mobilitas pergerakan orang,” tambahnya.

Masalah lain, kata dia, akan muncul saat sekolah ikut dibuka. Pemerintah harus dengan cermat mempertimbangkan segala risikonya.

“Itu baru kantor, belum nanti kalau sekolah. Kalau orang tua minta sekolahnya masuk lagi, itu kalau tidak dikelola dengan baik bisa memicu munculnya klaster v,” ucapnya.

sumber; detik.com

PKB Minta Pemerintah Buka Data Klaster Covid Agar Masyarakat Waspada

JAKARTA(Jurnalislam.com)–PKB meminta pemerintah menyosialisasikan di mana saja klaster virus corona (COVID-19). Dengan menyosialisasikan klasternya, PKB meyakini publik akan lebih waspada.

“Sekarang masalahnya klaster-klaster yang menyebar itu dimungkinkan melalui apa, supaya kita tahu di mana, di lapangan, di pasar atau di perkantoran, atau di sekolah, atau di mana? Mestinya, dengan 100 ribu (kasus positif) itu sudah bisa kita cek klasternya di mana,” kata Waketum PKB Jazilul Fawaid kepada wartawan di kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Senin (27/7/2020).

“Nah, kalau klasternya ada di perkantoran, maka pengetatan ada di kantor, kalau klasternya di desa berarti di desa, kalau klasternya transportasi, transportasi apa? Ini yang penting disosialisasi ke masyarakat,” imbuhnya.

Menurut Jazilul, dengan mengetahui klasternya, pemerintah nantinya dapat menentukan juga mana aspek yang harus diperketat penanganannya, mana yang tidak. Wakil Ketua MPR RI itu khawatir jumlah kasus positif Corona di RI semakin meningkat jika klasternya tidak diketahui.

“Makanya klasternya apa? Supaya bisa kita cek. Kalau di perkantoran kira-kira yang memungkinkan itu karena ruangan atau karena apa? Kalau jumlah 100 ribu terus membengkak dan klasternya nggak diketahui, kita kan nggak bisa prediksi, kecuali angkanya. Yang bisa kita prediksi kan angkanya, naik lagi, naik lagi, kok nggak bisa turun-turun,” papar Jazilul.

Sumber: detik.com

 

Corona Tembus 100 Ribu Kasus, Pemerintah Didesak Ambil Kebijakan Tegas  

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Kasus positif virus Corona (Covid-19) di Indonesia mencapai angka 100 ribu lebih. PAN meminta pemerintah tidak menganggap remeh dan segera membuat langkah antisipatif menghadapi pandemi Corona.

“Penambahan jumlah yang terpapar COVID-19 ini tidak bisa dianggap remeh. Pemerintah harus melakukan langkah-langkah antisipatif. Kalau mata rantai penyebaran virusnya tidak diputus, dikhawatirkan ke depan akan lebih sulit lagi untuk menanganinya,” kata Plh Ketua Fraksi PAN, Saleh Partaonan Daulay, kepada wartawan, Senin (27/7/2020).

Anggota komisi IX DPR ini meminta Komite Penanganan COVID-19 segera melakukan evaluasi. Serta membuat langkah inovatif.

“Saran saya, presiden segera memerintahkan komite yang baru dibentuk kemarin untuk melakukan langkah-langkah inovatif. Semua aturan dan kebijakan yang ada direview. Yang baik dipertahankan, yang tidak baik harus dibuang. Aturan harus diterapkan dengan tegas di tengah masyarakat,” tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, kasus baru virus Corona di Indonesia bertambah 1.525 kasus hari ini. Jadi, total kasus Corona Indonesia kini mencapai 100.303 kasus.

Sumber: detik.com

 

 

100 Ribu Kasus Covid-19 Indonesia, Zona Merah Bertambah

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia hingga 27 Juli 2020 terus bertambah. Kemarin Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mencatat adanya penambahan 1.525 kasus. Penambahan itu membuat akumulasi kasus corona menembus 100.303 orang.

Berdasar data yang dipublikasikan di https://www.covid19.go.id dan laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui laman https://www.kemkes.go.id/, juga dilaporkan adanya peningkatan kasus sembuh, yakni mencapai 1.518 orang. Dengan demikian, jumlah total sembuh menjadi 58.173 orang.

Melihat kondisi tersebut, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengajak masyarakat untuk tetap konsisten mematuhi protokol kesehatan agar penyebarluasan virus korona bisa dikendalikan. ”Kami mohon agar masyarakat bersama pemerintah daerah untuk lebih disiplin menerapkan dan mematuhi protokol kesehatan agar kondisi ini bisa membaik,” ujarnya di Kantor Kepresidenan kemarin.

Wiku mengungkapkan adanya peningkatan jumlah daerah dengan risiko tinggi atau zona merah dan risiko sedang atau zona oranye. Kenaikan zona merah dari pekan lalu 6,81% menjadi 10,31%. Adapun zona kuning kenaikannya dari 32,88% menjadi 35,99%.

“Kalau kita lihat jumlah kabupaten/kota zona merah berkembang dari minggu lalu ke minggu ini, dari 35 ke 53, sedangkan kabupaten/kota dengan zona oranye dari 169 menjadi 185. Ini bukan kabar yang menggembirakan dan ini perlu perhatian kita bersama,” katanya.

Ulama Besar Uighur Syaikh Amin Yunus Meninggal di Penjara Pemerintah Cina

XINJIANG (Jurnalislam.com) – Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun, kabar duka menyelimuti muslim dunia, ulama besar Asy Syaikh Muhammad Amin Yunus, 56 tahun meninggal dunia.

Seperti dilansir akun twitter @turkistantuzbah, As Syaikh Muhammad Amin Yunus menghembuskan nafas terakhirnya karena siksaan di dalam penjara komunis China.

“Muhammad Amin Yunus mati syahid di penjara komunis teroris China pada usia 56 tahun, beliau adalah seorang sarjana senior Turkistan Timur yang diduduki, beliau seorang ahli fiqh yang taat dan menguasai kutubus sittah (6 kitab induk hadits). Beliau merupakan ilmuwan terakhir dari serangkaian cendekiawan, konservasi dan para imam yang dibunuh oleh China dengan tujuan untuk menghapuskan Islam dari ingatan muslim. Dan kepada Allah ia kembali.” tulis @turkistantuzbah di twitter kemarin.

Asy Syaikh Muhammad Amin Yunus merupakan anggota terakhir yang menjadi ulama dari keluarganya yang dikenal ‘alim dan para penghafal Alquran yang sebelumnya pun sudah banyak yang meninggal dalam rezim pemerintahan komunis China.

Rahimahumullah wa taqabbalahum minasy syuhada, semoga Allah merahmati dan menerima mereka dalam barisan syuhada.

oleh : Jumi Yanti Sutisna

Kemenag Undang Asosiasi PPIU, Bahas Rancangan PMA Umrah

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Kemenag tengah menyusun Rancangan Peraturan Menteri Agama (RPMA) tentang Penyelenggaraan Umrah. Direktorat Bina Umrah dan Haji Khusus Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah mengundang Pengurus Asosiasi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah dan Forum Silaturahmi Asosiasi Travel Haji dan Umrah (Forum SATHU) untuk ikut membahas draft RPMA tersebut.

“Sebagai regulator, tugas kita menyusun peraturan perundangan. Agar regulasinya lebih efektif, kita jalin komunikasi untuk menggali saran dan masukan, termasuk dari pihak asosiasi,” kata Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Nizar, Senin (27/07).

Rapat awal pembahasan RPMA ini berlangsung di kantor Kementerian Agama, Jl Lapangan Banteng, Jakarta. Rapat diikuti perwakilan lima asosiasi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (Himpuh, Amphuri, Asphurindo, Kesthuri, dan Sapuhi) dan Forum SATHU. Hadir juga para pejabat Eselon II Ditjen PHU dan jajaran Direktorat Bina Umrah dan Haji Khusus.

“Ini momen penting untuk menerjemahkan UU Nomor 8 tahun 2019 ke dalam turunannya, yakni Peraturan Menteri Agama,” jelas Nizar.

“RPMA ini sekaligus akan merevisi Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 8 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU),” lanjutnya.

Mewakili Forum SATHU, Asrul Aziz Taba dari Kesthuri mengapresiasi inisiatif Dirjen PHU melibatkan asosiasi dalam pembahasan RPMA. Dia berharap regulasi yang terbit bisa menjadi aturan bersama. “Kita berharap apa pun yang dihasilkan dari forum ini akan menjadi peraturan kita bersama dan dapat dijalankan bersama,” ujar Asrul.

Akreditasi PPIU

Salah satu isu yang muncul dalam pembahasan RPMA Umrah adalah terkait akreditasi PPIU. Asosiasi berharap proses akreditasi PPIU dikembalikan kewenangannya kepada Kemenag.

Berdasarkan PMA No. 8 Tahun 2018, sejak Januari 2020, kewenangan akreditasi diberikan kepada pihak ketiga. Untuk melaksanakan amanat tersebut, Ditjen PHU telah bekerjasama dengan Komite Akreditasi Nasional (KAN) pada tahun 2018. Selanjutnya, KAN melakukan akreditasi terhadap para calon lembaga sertifikasi/akreditasi.

“Kami berharap kewenangan Akreditasi dikembalikan ke Kemenag. Pelaksanaan akreditasi oleh lembaga akreditasi yang ditunjuk dinilai memberatkan PPIU, terutama yang jemaahnya tidak banyak,” tutur Sekjen Asphurindo M. Iqbal.

Hal senada disampaikan Sekjen Himpuh Anton Subekti. Dia berharap RPMA yang akan disusun nantinya tidak membelunggu dan membebani pelaku usaha. Apalagi, penyelenggaraan perjalanan ibadah umrah tengah memasuki era digitalisasi yang mengaburkan batas-batas regional sehingga membutuhkan daya saing tinggi.

Dirjen PHU Nizar mempersilahkan agar substansi ini dibahas secara obyektif dalam rapat-rapat pembahasan RPMA. Keterlibatan asosiasi penting, tidak hanya dalam pembahasan regulasi, tapi juga dalam pembinaan dan pengawasan PPIU.

“Akan bagus kalau para asosiasi ikut terlibat dalam pembinaan dan pengawasan terhadap PPIU,” tegasnya.

Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Arfi Hatim mengatakan bahwa pembahasan PMA ini merupakan salah satu amanat UU Nomor 8 Tahun 2019. Selain RPMA Umrah, pihaknya juga menargetkan pembahasan RPMA Haji Khusus karena tenggat waktu yg diamanatkan UU sudah semakin dekat.

Pertemuan ini, menurut Arfi, merupakan tindak lanjut dari tahap sebelumnya, yaitu penyiapan draft dan penyerapan aspirasi dari Kanwil Kemenag serta para PPIU. Rapat ini menghasilkan beberapa kesimpulan. Di antaranya, masing-masing asosiasi diminta menyiapkan Daftar Inventaris Masalah (DIM) atas RPMA Umrah. “Kita juga akan membentuk tim kerja yang terdiri dari Kementerian Agama, Asosiasi PPIU, serta Kementerian/ Lembaga lainnya untuk membahas tentang RPMA secara intensif,” tutup Arfi.

Istiqlal Tidak Gelar Salat Idul Adha 1441H Tingkat Kenegaraan

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Masjid Istiqlal tidak akan menggelar Salat Idul Adha 1441H tingkat kenegaraan. Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan, perkembangan pandemi Covid-19 hingga saat ini belum memungkinkan Istiqlal menggelar Salat Idul Adha tingkat kenegaraan.

“Mencermati perkembangan pandemi Covid-19 di Indonesia, khususnya DKI Jakarta, Istiqlal tidak akan menggelar Salat Idul Adha 10 Zulhijjah 1441H,” tegas Menag di Jakarta, Senin (27/07).

Menurutnya, sebagai Masjid Negara, Salat Idul Adha di Istiqlal selama ini diikuti puluhan ribu peserta. Hal tersebut akan menyulitkan penerapan protokol kesehatan di tengah pandemi. Untuk proses pengecekan suhu saja misalnya, dengan jumlah puluhan ribu jemaah, tentu membutuhkan waktu.

“Prosesnya juga tidak mudah karena akses keluar masuk juga harus dibatasi seiring penerapan protokol kesehatan. Sehingga potensi kerumuman sangat tinggi,” ujarnya.

Menag menambahkan, renovasi Masjid Istiqlal memang sudah hampir selesai, namun situasi pandemi belum berakhir. Menag berharap kondisi segera membaik sehingga masyarakat bisa beribadah di rumah ibadah dengan nyaman.

Sidang Isbat yang digelar Kementerian Agama pada 21 Juli 2020 menetapkan bahwa 1 Zulhijjah 1441H bertepatan 22 Juli 2020. Sehubungan itu, Salat Idul Adha akan digelar pada 31 Juli 2020.