Innalillahi, Sastrawan Ajip Rosidi Meninggal Dunia

MAGELANG(Jurnalislam.com) — Berita duka datang dari dunia sastra Indonesia. Sastrawan senior, Ajip Rosidi, dikabarkan meninggal dunia pada Rabu (29/7) malam. Tokoh kebudayaan Sunda itu diketahui wafat di Magelang, Jawa Tengah, dalam usia 82 tahun

Kabar itu dikonfirmasi oleh rekannya, Prof Abdul Hadi WM. Menurut sastrawan yang juga guru besar Universitas Paramadina itu, Ajip Rosidi sempat menjalani perawatan medis sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Almarhum diketahui sempat mengeluhkan sakit pada perutnya.

“Benar (kabar bahwa Ajip Rosidi meninggal dunia). Saya dapat kabarnya dari Magelang,” ujar Abdul Hadi, Rabu (29/7) malam.

“Masyarakat sastra Indonesia kehilangan tokoh penting karena Pak Ajip banyak memberikan perhatian pada perkembangan sastra Indonesia dan juga sastra Sunda,” sambung dia.

Sumber: republika.co.id

BMH Jatim Salurkan 2.772 Ekor Hewan Qurban

SURABAYA(Jurnalislam.com)–Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Jawa Timur kembali siap menyalurkan hewan qurban dari amanah yang diperoleh dalam Program Qurban Plus Sedekah Jariyah Sumur Bor 1441 H kali ini.

Hingga pra Idul Adha 2020 H-2 ini, Laznas BMH telah menerima amanah hewan qurban sebanyak 2.772 ekor hewan qurban. Dimana dengan komposisi hewan qurban yakni 2.584 ekor qurban kambing & 188 ekor qurban sapi serta total pequrban 3.904 orang dermawan telah mengamanahkan & mempercayakan ibadah qurbannya melalui Laznas BMH Perwakilan Jawa Timur.

Ketua Divisi Program & Pendayagunaan, Imam Muslim mengatakan bahwa pencapaian ini diperoleh berkat kepercayaan donatur & dermawan melalui Program Qurban Laznas BMH, serta sinergi dari mitra, komunitas dan lainnya. Sehingga amanah qurban mampu dihimpun untuk disalurkan nantinya meliputi 30 kabupaten/kota, 47 desa krisis air bersih, 173 desa binaan di pelosok, 73 Pesantren & panti asuhan serta 241 dai tangguh yang berdakwah di pedalaman negeri.

“Dalam implementasinya, Laznas BMH akan memprioritaskan distribusi hewan qurban di Desa krisis air bersih, kekeringan, kampung muallaf pedalaman, pesantren binaan dan daerah rawan pangan yang tersebar di Jawa Timur.”jelas Muslim.

Selain itu, Imam Muslim menyampaikan rasa syukur terkait capaian yang telah diraih oleh Laznas BMH dalam moment qurban 1441 H ini. Menurutnya hal ini merupakan sebuah pencapaian yang sangat luar biasa, mengingat kondisi ekonomi negara saat ini yang sedang dalam kondisi krisis Covid-19.

“Alhamdulillah, Allah telah memudahkan urusan kami semua, semoga dalam distribusi nantinya juga berjalan dengan lancar hingga sampai kepada penerima manfaat. Terima kasih atas doa & dukungan yang sangat luar biasa dari para donatur & antusiasme kaum dermawan semuanya. Satu amal sudah kita tuntaskan, saatnya bergegas untuk menjemput kebaikan lainnya.”imbuhnya.

Sebagai lembaga pengelola qurban yang profesional, Laznas BMH terus berkomitmen untuk memberikan kemudahan & meluaskan maslahat qurban.

Selain itu, selama dalam kondisi pandemi Covid-19 ini, Laznas BMH telah menyalurkan bantuan pembuatan Sumur Bor di 8 Desa krisis air bersih. Dimana dengan adanya bantuan tersebut mampu membantu warga memenuhi kebutuhan air untuk sehari-harinya.

Satgas MUI: Agar Terhidar dari Covid-19, Ikhtiar Harus Terus Dilakukan

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan webinar berjudul “Revitalisasi Peran Ulama Dalam Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Era New Normal,” Selasa (28/07) sore.

Ketua Satgas Covid-19 MUI Pusat KH Muhammad Zaitun Rasmin MA menyampaikan, kesadaran masyarakat Indonesia terkait pencegahan penularan covid-19 ini masih sangat rendah. Semua protokol kesehatan hanya sebatas teori tanpa aksi.

“Kita ingin mengingatkan bahwa keadaan di negeri kita akan lebih panjang dan lebih banyak korban kalau kita semakin tidak waspada dan menganggap biasa, banyak yang tidak peduli memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Sudah ada berita gembira di awal Juni itu sekarang berubah lagi, termasuk Jakarta,” kata Zaitun.

Berkaca pada kondisi Wuhan, China sebagai kota pertama yang mendeteksi adanya virus corona yang saat ini sudah dalam kondisi membaik dan tidak terlalu membahayakan. Hal ini dikarenakan tingkat kepatuhan masyarakat yang tinggi, sehinga dengan ‘lockdown’ 3 bulan Wuhan mampu menekan angka kekahwatiran penyebaran covid-19.

“Saat ini, angka penyebaran covid-19 di masyarakat semakin tinggi, sudah menembus angka 100 ribu, sudah lebih tinggi dari negara yang pertama kali, kita sudah di atas 100 ribu dan kematian sudah mendekati angka 4000 orang, tentu saja ini angka yang besar,” tegasnya.

Zaitun mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat untuk membantu menekan laju penyebaran virus ini, dan sama-sama menyadari bahwa covid-19 ini berbahaya.

“Memang kalau sudah terjadi tidak bisa lepas dari takdir, tapi sebagai umat Islam, kita harus melakukan ikhtiar, dan inilah yang dilakukan MUI agar umat dapat bukan saja terhindar dari Covid-19, tapi juga menjadi contoh bagi yang lainnya baik di negeri ini maupun tempat lain tentang bagaimana kita berinteraksi dan menghadapi Covid-19 ini,” ungkapnya.

Ketua umum Wahdah Islamiyyah ini juga berpesan agar masyarakat sebagai umat bisa saling memperkuat, saling mengingatkan dan menyadarkan, juga membangun keperihatinan atas kondisi ini.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan menjelaskan pentingnya kerja sama seluruh elemen untuk mengubah mindset masyarakat dalam melihat covid-19 ini sebagai wabah yang membahayakan. Jika hanya berpangku tugas pada pemerintah, maka edukasi tentang bahaya covid-19 ini tidak akan tersampaikan secara maksimal kepada masyarakat.

“Semua kebutuhan untuk penyembuhan dan pencegahan covid masih sangat terbatas. Jadi cara yang terbaik adalah mengubah mindset masyarakat nya, dari yang awalnya mudah menulari menjadi tidak mudah menulari,” paparnya.

Ia juga menjelaskan mengenai 4 tahap strategi untuk merubah mindset masyarakat, yakni dimulai dari tahap ‘to know’. Tahapan pertama ini dilakukan dengan memberitahu masyarakat bahwa pandemi ini ada dan nyata.

Selanjutnya naik kepada tahap ‘to understand’, mengajak masyarakat untuk mengerti apa dan seperti apa dampak dari pandemi ini, serta bagaimana cara pencegahan dan penanganan virus ini.

Tahapan ketiga, yaitu penanaman deep awareness. Dalam tahapan ini, dilakukan penyadaran secara mandalam kepada masyarakat bahwa covid-19 adalah virus yang harus dihadapi secara serius dan diperlukan kerjasama seluruh lapisan masyarakat dalam menekan laju penularan nya.

Terakhir, yakni tahapan aksi. Setiap protokol kesehatan yang sudah tersampaikan kepada masyarakat agar diwujudkan dalam bentuk aksi nyata bersama.

“Menjelaskan protokol kesehatan kepada masyarakat tidaklah mudah, saya tiga hari mengumpulkan pemerintah daerah, lembaga usaha, para akademisi, MUI (ulama), budayawan, dsb untuk membantu menjelaskan ini kepada masyarakat,” paparnya

Warga di Zona Merah Diminta Shalat Id di Rumah

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Masyarakat yang berada di wilayah zona merah diimbau untuk menunaikan sholat Idul Adha di rumah masing-masing bersama dengan keluarganya. Kepala Biro Pendidikan, Mental, dan Spritual DKI Jakarta, Hendra Hidayat, mengatakan, sholat di rumah dilakukan guna kebaikan, kesehatan, dan keselamatan bersama untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

Hendra mengimbau masyarakat sebailnya sholat di rumah saja, mengingat angka Covid-19 di 33 RW di Ibu Kota terbilang cukup tinggi. Hanya saja, Hendra tidak menyebut secaar pasti lokasi 33 RW yang masuk zona merah tersebut.

Dia menyebutkan, nanti jika warga di 33 RW zona merah itu melaksanakan sholat, tetap ada penjagaan dari pihak aparat wilayah. Dia menjelaskan, pihak kecamatan dan kelurahan sudah diinstruksikan untuk melakukan pengamatan secara lebih seksama kepada RW di zona merah.

“Begini nanti kalau penjagaan secara khusus, mungkin terlalu banyak kalau memang harus diawasi, paling tidak DMI dan MUI akan bertangung jawab untuk menetapkan pelaksanaan sholatnya, penjagaan tetap dari kepolisian, camat, lurah serta pejabat setempat. Lalu, terkait zona merah ini perhatian nya akan lebih dari zona lainnya,” ujar Hendra saat dihubungi pada Selasa (28/7).

Hendra menuturkan, jika nanti masyarakat tetap menunaikan sholat Id berjamaah maka diminta untuk mematuhi protokol kesehatan demi pencegahan penularan Covid 19. Jamaah terutama diminta senantiasa melakukan 3M, mencuci tangan, menggunakan masker saat sebelum dan sesuai sholat Idul Adha.

Dia mengakui, perayaan Hari Raya Idul Adha ditandai umat Muslim dengan bersuka cita yang menyambutnya dengan menggelar sholat berjamaah dan melakukan penyembelihan hewan qurban. Ibadah demikian, sambung dia, dilakukan semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT.

“Iya tolong patuhi, dan pastinya pihak kami tetap berkordinasi dengan pamong setempat, terutama lurah lah karena masing-masing kan masjid di kelurahan itu sudah berkordinasi dengan seluruh DMI pengurus masjid untukmengingatkan membawa peralatan sholat masing-masing seperti sajadah membawa dari rumah, karena tidak ada karpet jika ingin tetap sholat di masjid,” ucap Hendra.

Sumber: republika.co.id

IDI: Pandemi Belum Selesai, Kasus Terus Naik

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan, terus bertambahnya kasus positif virus corona SARS-CoV2 (Covid-19) bahkan kini mencapai lebih dari 100 ribu kasus memberikan makna lain. IDI menegaskan, hal itu artinya pandemic covid-19 belum selesai.

“Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilonggarkan tetapi kejadian Covid-19 di Indonesia justru meningkat. Artinya masalah belum selesai, (kasusnya) masih terus naik,” ujar Ketua Satgas Covid-19 IDI Zubairi, Rabu (29/7).

Zubairi melanjutkan, tanda ini bisa dilihat jumlah pasien di rumah sakit (RS) yang semakin banyak. Karena itu, ia meminta semua pihak harus lebih disiplin, baik pihak masyarakat maupun pemerintah.

Ia menegaskan, banyak hal yang harus dikerjakan. Pertama, yaitu mengenai protokol kesehatan yang diterapkan masyarakat dan ini terkait dengan perubahan perilaku. Ia menyebutkan jika semula masyarakat tidak terbiasa menerapkan protokol kesehatan maka dibutuhkan perubahan perilaku dan kemudian melakukannya.

“Memang ini tidak mudah karena harus ada perubahan perilaku manusia yang awalnya harus tahu dulu, kemudian paham, setelah itu baru mengerjakan,” katanya.

Selain itu, Zubairi menganalisis sebagian masyarakat tidak menerima informasi ini karena gaya bahasa maupun pendidikan masyarakat dari segmen yang berbeda. Ia mengakui ada kalangan masyarakat yang bisa tahu hanya ketika cukup membaca atau melihat pemberitaan media, ada juga yang paham setelah mendengar penjelasan dokter, tetapi ada juga kelompok yang percaya dan mudah diajak bicara setelah tokoh masyarakat atau tokoh agama panutannya mengatakannya.

“Saya kira kadang-kadang tokoh masyarakat, tokoh agama di beberapa tempat lebih didengar. Jadi, pelatihan tokoh masyarakat dan tokoh agama menjadi penting agar setelah itu bisa memberikan informasi dengan baik dan benar,” katanya.

Di satu sisi, Zubairi meminta pemerintah benar-benar menerapkan tindakan disiplin pada warganya. Pernyataannya bukan tanpa alasan karena selama ini setelah PSBB di Jakarta diterapkan, ia merasakan belum pernah ditanya aparat apakah menggunakan masker wajah.

Padahal, menurutnya aturan yang baik dari pemerintah adalah yang harus konsekuen. Ia menyebutkan bentuk pendisiplinannya bermacam-macam, misalnya Australia yang menerapkan hukuman denda.

Sumber: republika.co.id

  Ulama Aceh ke Pembakar Spanduk HRS: Aparat Diam, Kami Bertindak Sendiri

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ulama yang juga Ketua FPI Aceh, Tgk Muslim At-Thahiri mengutuk tindakan ‘biadab’ yang dilakukan oleh kelompok orang membakar foto Imam besar Habib Rizieq Shihab (HRS). Mereka juga mencaci maki HRS karena tak mengakui kepemimpinan Presiden Jokowi sebagaimana terekam dalam video.

 

“Maka dari alasan yang mereka ungkapkan tersebut dapat terbaca bahwa mereka kelompok Projo (Pro Jokowi),” kata Muslim dalam keterangan yang diterima, Selasa (28/7).

 

Ia menegaskan,apapun alasananya FPI Aceh tak terima foto Imam Besar disobek-sobek dan dicaci-maki. Apabila pihak aparat membiarkan caci maki dan penghinaan terhadap Imam besar, maka jangan salahkan apabila para pecinta Habaib membuat perhitungan dan akan membalasnya dengan cara sendiri.

 

“Kami harapkan pihak penegak hukum jangan cuma teriak negara hukum kalau hukum cuma berlaku untuk lawan politik, jangan teriak cinta NKRI jika ada orang yang membela NKRI mati-matian dari penjajah China dimusuhi, jangan teriak pancasilais jika orang yang menjaga kemurnian pancasila dari faham komunis dicaci maki dan bahkan dianggap sampah,” ujarnya.

 

Ia menyatakan sudah umat cukup bersabar para ulama dan habaib dikriminalisasi serta dicaci maki. Namun tak sabar lagi melihat pelecehan terhadap habaib dan ulama.

 

“Kami bersumpah demi Allah jika keadilan tidak ada lagi, maka kami akan tegakkan keadilan dengan cara kami. Kami akan berjuang sampai ke akar rumput untuk menumbangkan partai partai politik yang bersekongkol memusuhi ulama dan mendukung rezim yang membiarkan ulama dihina,” ujarnya menegaskan.

MUI: Shalat Idul Adha Ikuti Keputusan Pemda dan Protokol

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak melarang masyarakat untuk Salat Idul Adha di lapangan maupun di masjid. Karena tidak ada larangan mengenai hal tersebut dari pemerintah maupun Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

“Kita tidak bisa melarang orang untuk Salat Id di lapangan maupun di masjid. Karena itu sunah dan itu tidak ada larangan dari pemerintah maupun gugus tugas (Covid-19) itu,” kata Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis di Jakarta, Selasa (28/7/2020).

Dia menjelaskanFatwa MUI Nomor 36 tahun 2020 tentang pedoman berlebaran Idul Adha dan berkurban. Pertama soal salat yang mengaju kepada fatwa sebelumnya soal rawan dan tidak rawannya Covid-19.

“Sehingga di tempat yang rawan tentunya kalau itu sangat berbahaya ya tentu tetap harus mengikuti protokol kesehatan sebagaimana jumatan, kan sekarang sudah boleh tetap menjaga protokol kesehatan itu. Memang protokol kesehatan disetiap masjid dipastikan ya selalu ada pengecekan protokol kesehatan jaga jarak, menggunakan masker ya tentu jaga kebersihan,” tuturnya.

Meski demikian, dia menganjurkan, panitia pelaksana Salat Idul Adha maupun panitia kurban seyogyanya melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat. Sedangkan untuk pemotongan hewan kurban, kata dia, pihaknya menganjurkan untuk dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH).

Sumber: sindonews.com

Peneliti Identifikasi 21 Calon Obat Covid-19

LOS ANGELES(Jurnalislam.com) — Para peneliti Sanford Burnham Prebys Medical Discovery Institute, Amerika Serikat mengidentifikasi 21 obat yang bisa menghentikan replikasi virus corona dalam uji laboratorium. Pengembangan penelitian ini berpotensi menemukan obat Covid-19.

Para peneliti optimistis ke-21 obat itu aman bagi perawatan pasien Covid-19. Obat-obat tersebut sementara ini mengandung molekul yang bisa menyetop replikasi virus corona. Disebutkan bahwa empat kandungan obat bisa dikombinasikan dengan remdesivir yang sudah digunakan merawat pasien Covid-19.

“Remdesivir terbukti sukses mempercepat waktu pemulihan pasien Covid-19, tapi obat tidak berefek sama pada semua orang. Jadi ini belum cukup bagus,” kaga Direktur Imunitas dan Patogen Sanford Burnham Prebys, Sumit Chanda dilansir Times Now News, dikutip Rabu (29/7).

Hasil penelitian Chanda dan rekan peneliti lainnya sudah dipublikasikan dalam salah satu jurnal. Chanda menekankan masih ada pekerjaan menemukan obat yang efektif, terjangkau, dan siap pakai untuk mendukung penggunaan remdesivir.

“Masih mendesaknya untuk menemukan obat yang terjangkau, efektif, dan tersedia yang dapat melengkapi penggunaan remdesivir, serta obat yang dapat diberikan secara profilaksis atau pada tanda pertama infeksi pada pasien rawat jalan,” tutur Chanda.

Dalam studi itu, peneliti melakukan tes lengkap sekaligus divalidasi, termasuk evaluasi obat pada sistem paru manusia yang dinfeksi Covid-19. Dari 21 obat, ada 13 obat yang sebelumnya sudah masuk uji coba klinis melawan Covid-19.

Peneliti menyebut sudah ada dua obat yang disetujui oleh otoritas obat Amerika (FDA), yaitu astemizole (alergi) dan clofazamine (leprosi).

“Studi ini secara signifikan meluaskan kemungkinan pengobatan pasien Covid-19, khususnya karena banyak molekul aman bagi manusia,” ujar Chanda.

“Laporan ini menyediakan persenjataan obat yang lebih mungkin mengalahkan pandemi global Covid-19 bagi komunitas ilmiah,” lanjut Chanda.

Sumber: republika.co.id

Korban Berjatuhan, Pemerintah: Covid Bukan Konspirasi

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Satuan Tugas (satgas) Penanganan Covid-19 menegaskan, virus corona SARS-CoV2 (Covid-19) bukanlah sebuah konspirasi. Sudah banyak korban berjatuhan akibat tertular virus ini.

“Perlu kami tegaskan bahwa Covid-19 bukan konspirasi,” ujar Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito saat konferensi virtual di akun youtube saluran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Selasa (28/7).

Dia menjelaskan, jumlah kasus positifnyanya semakin lama semakin meningkat, tidak hanya di Indonesia melainkan di seluruh dunia. Karena itu, dia memohon, semua pihak melihat angka kasus dan kematian yang terjadi di seluruh dunia.

Bahkan, dia menyebutkan, sudah banyak korban yang berjatuhan. Kata dia, banyak tenaga kesehatan (nakes) yang gugur, bukan hanya di Indonesia melainkan juga di berbagai tempat lain di dunia.

Menurutnya, ini menunjukkan data yang riil dan bukanlah berupa konspirasi. “Sehingga tidak ada ruang untuk kita lengah. Kita harus benar-benar menjaga keamanan dan keselamatan seluruh anggota keluarga kita,” katanya.

Sumber: republika.co.id

 

DKI Rilis 9 Klaster Utama Sebaran Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Dinas Kesehatan DKI Jakarta merilis sebanyak 9 klaster penyebaran virus corona di Jakarta. Data ini dihimpun sejak 4 Juni sampai 26 Juli dengan total 11.838 kasus positif.

Pertama, klaster pasien yang datang ke rumah sakit yakni sebanyak 46,2 persen atau 5.475 kasus.

“Artinya orang bergejala yang ke rumah sakit kemudian yang diperiksa dan dinyatakan positif,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Widyastuti saat webinar, Selasa (28/7/2020).

Klaster kedua, yakni pasien komunitas. Dimana kasus ini didapat oleh petugas puskesmas dari komunitas yakni sebanyak 34.7 persen atau 4.120 kasus.

Ketiga, lain-lain mulai dari pekerja migran Indonesia (PMI) atau warga Indonesia yang bekerja di luar negeri dan harus transit di Jakarta ada 6,3 persen 749 kasus.

Keempat, klaster dari komunitas pasar sebesar 4,6 persen atau 547 kasus. Kelima, klaster perkantoran 3,9 persen atau 440 kasus. Keenam, klaster pegawai fasilitas kesehatan sebanyak 2,9 persen atau 350 kasus.

Ketujuh, klaster kegiatan keagamaan 0,9 persen atau 108 kasus. Kedelapan, kluster panti 0,2 atau 29 kasus. Terakhir klaster rutan 0,2 persen atau 20 kasus.

“Dari setiap pasien ternyata ada 54 persen pasien yang ditemukan tanpa gejala. Kalau merujuk data sebelumnya di mana angka tertinggi di usia produktif, di situ tidak menunjukkan angka yang berat. Jadi sebagian besar ditemukan pada usia produktif,” ucapnya.

Sumber: republika.co.id