Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah, Tanda Balas Cinta dari Allah

Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah, Tanda Balas Cinta dari Allah

 (Jurnalislam.com)–Bulan Dzulhijjah selalu dikenal dengan bulan haji, bulan qurban. Dimana bulan yang dirindu oleh orang-orang yang telah mengumpulkan harta bertahun-tahun demi dapat melaksanakan ibadah haji. Bulan yang dirindu oleh si papa yang dibulan lain tak mampu mencicipi nikmat hidangan daging sapi.

Rupanya dibalik itu, banyak orang tidak tahu, bahwa di bulan Dzulhijjah ada hari-hari yang harganya melebihi dari berlimpahnya intan permata, harganya melebihi ribuan unta. Apakah itu?

Ia adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

“Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 awal Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Apakah lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah ?” Beliau bersabda, “Iya. Lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati syahid).” (HR. Al Bukhari)

Bagaimana menurut Anda?

Hari-hari yang amal shalihnya lebih dicintai oleh Allah dan lebih baik dari jihad fii sabilillah apakah harganya mengalahkan limpahan emas permata?

Apakah harganya mengalahkan ribuan unta?

Tentu saja iya, karena adakah yang lebih baik dari dunia serta isinya dibanding sesuatu yang dicintai Allah.

Bukan tanpa sebab, Allah menjadikan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah menjadi spesial, yang segala amal kebajikan didalamnya menjadi lebih dicintai Allah. Hal ini dikarenakan Allah yang Maha Mensyukuri kebaikan dan pengorbanan hamba – Nya. Yaitu kepada keluarga Ibrahim ‘alaihissalam.

Dari kisah Siti Hajar yang tunduk dan patuh atas perintah Allah tatkala Allah memerintahkan suaminya (Ibrahim ‘Alaihissalam) meninggalkannya di lembah yang tandus tanpa ada tanda-tanda penghidupan disana, ditinggal suami tercinta, hanya berdua dengan bayi yang masih disusuinya. Dapat kita bayangkan, keikhlasan dan kesabaran Siti Hajar atas perintah Allah,  yang tentu dalam pandangan manusia itu adalah sebuah hal yang menakutkan di tinggal hanya bersama bayi di lembah yang sunyi.

Begitu pula sang suami (Ibrahim ‘alaihissalam), tentu bukan hal yang mudah, mengorbankan rasa cinta, meninggalkan istri yang dicintainya dan anak yang didamba-damba bertahun-tahun lamanya harus ia tinggal di lembah yang tak ada satu manusia pun disana, kecuali istri dan anak yang dicintainya, bahkan pepohonan pun tidak ada disana. Akan dari mana makannya, akan dari mana minumnya. Bagaimana jika ada hewan buas atau perompak yang membahayakan mereka. Tak terbayangkan sudah, apa yang dirasa Ibrahim ‘alaihissalam tatkala meninggalkan istri dan anaknya. Namun ia tunduk patuh dan sabar terhadap perintah Tuhan nya.

Kemudian, anaknya yang ditinggal di lembah sunyi telah beranjak dewasa, ayah dan anak ditakdirkan kembali berjumpa, belum juga puas melepas rindu dan cinta, Allah pun kembali menguji mereka. Allah perintahkan Ibrahim ‘alaihissalam melalui mimpinya agar menyembelih anaknya. Lagi-lagi Ibrahim ‘alaihissalam berpasrah dan meminta pendapat anaknya.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail Berkata: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As-Shaffat : 102)

Bagai buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya, Ismail ‘alaihissalam anak dari Ibrahim ‘alaihissalam dan Siti Hajar, mengikuti ketaatan ayah dan ibu nya. Ia pun begitu tunduk, patuh, ikhlas dan sabar pada ketentuan Allah. Sungguh, keluarga yang indah. Suami, istri dan anak semua begitu tulus dan kuat ketaatan dan keyakinannya pada Allah.

Allah Yang Maha Baik dan Maha Mensyukuri kebaikan hambanya membalas ketaatan mereka dengan mengabadikan kisah ketaatan mereka dalam syari’ah ibadah haji dan qurban. Bukan hanya itu, Allah pun menjadikan amal baik yang dilakukan di 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah menjadi amalan yang lebih dicintainya mengalahkan jihad fiisabilillah. Maha Baik Allah,  rupanya balasan Allah kepada ketaatan keluarga Ibrahim bukan semata-mata untuk keluarga Ibrahim melainkan juga kepada hamba-hamba Nya yang bersungguh-sungguh memanfaatkan momentum keutamaan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah mengikuti ketaatan keluarga Ibrahim ‘alaihissalam.

Amalan apa saja yang dapat dilakukan di 10 hari pertama bulan dzulhijjah?

  1. Memperbanyak Amal Salih di 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah.

Amalan ini bersifat umum, seperti sedekah, berbuat baik pada orangtua, kerabat dan sebagainya.

  1. Memperbanyak puasa di 9 hari pertama bulan Dzulhijjah

Dari Ummul Mukminin, Hafshah radiyaullahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa asyura, sembilan hari pertama Dzulhijjah, dan tiga hari tiap bulan. (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, dan disahihkan Al-Albani).

Abu Qatadah radliallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“…puasa hari arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai penebus (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..” (HR. Ahmad dan Muslim).

Puasa Arofah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, sementara puasa tarwiyah dilakukan pada tanggal 8 Dzulhijjah.

  1. Memperbanyak dzikir, takbir dan tahlil

Melakukan dzikir, takbir, dan tahlil tidak hanya sehabis sholat, melainkan dianjurkan untuk lebih memperbanyak membaca dzikir, takbir, dan tahlil di waktu-waktu luang, ataupun ketika melakukan aktivitas.

Hadis dari Abdullah bin Umar , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada amal yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan pada tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid pada hari itu.” (HR. Ahmad dan Sanadnya dishahihkan Syekh Ahmad Syakir).

Bahkan para sahabat radhiallahu ‘anhum bertakbir di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

  1. Sholat Idul Adha

Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

Bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, masyarakat Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan dengan bermain. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Dua hari apakah ini?” Mereka menjawab, “Kami merayakannya dengan bermain di dua hari ini ketika zaman jahiliyah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memberikan ganti kepada kalian dengan dua hari yang lebih baik: Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. An-Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, dan disahihkan al-Albani).

  1. Menyembelih Qurban

Diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dan imam Ibnu Majah dari Aisyah ra, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seorang anak Adam melakukan pekerjaan yang paling dicintai Allah pada hari nahr kecuali mengalirkan darah (menyembelih hewan qurban). Hewan itu nanti pada hari kiamat akan datang dengan tanduk, rambut dan bulunya. Dan pahala qurban yang menetes pada suatu tempat sebelum menetes ke tanah. Maka hiasilah dirimu dengan ibadah qurban.”

  1. Melaksanakan Haji dan Umroh

Ibadah haji merupakan napak tilas ketaatan keluarga Ibrahim ‘alaihissalam

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah SAW bersabda, dari satu umrah ke umrah yang lainnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya. Dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR Bukhari dan Muslim).

Masih bersisa beberapa hari lagi, untuk memaksimalkan momentum keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Semoga dapat meraih amalan yang dicintai Allah yang nilainya melebihi dari jihad fiisabilillah.

( Jumi Yanti Sutisna / Dari berbagai sumber)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X