Penulis: Mazaya
Latih Kepemimpinan Santri, Ponpes Salman Al Farisi Gelar Kegiatan Berkemah
KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Pondok Pesantren Islam Salman Al Farisi (PPISF) Karanganyar menggelar kamping massal Selama 4 hari mulai Senin – Kamis (2-5/3/2018), bertempat Bumi Perkemahan TAHURA Ngargoyoso, Karanganyar.
Sembanyak 135 Santri dengan penuh semangat menerima materi dari instruktur yang berasal dari SAR Puma Peta Karanganyar.
Ditemui Jurnalislam.com Mudir PPSIF Ustaz Sanif Ali Syahbana mengungkapkan bahwa helatan berkemah atau kamping kali ini selain sebagai bagian pendidikan santri juga sebagai wahana untuk mengasah kedisiplinan, kepemimpinan, dan ketangkasan santri.
“Mukhayam atau yang biasa disebut kamping kali ini merupakan ajang bagi santri untuk mengasah kedisiplinan, mandiri serta sebagai ajang untuk merekatkan ukhuwah,” kata Ustaz Sanif yang merupakan alumni salah Universitas di Yaman.
Senada dengan Ustaz Sanif, Ketua Panitia Camping Massal PPISF Chusnul Febrianto menjelaskan bahwa kamping yang digelar kali kedua ini adalah salah satu upaya Pondok untuk melatih kebersamaan dan Kedisiplinan bagi para Santri.
Sementara itu menurut salah satu santri yang mengikuti Acara tersebut mengungkapkan rasa senangnya karena selain bisa bertadabur Alam juga mendapatkan pengalaman baru.
“Saya merasa sangat senang sekali, karena selain sebagai mendapatkan pengalaman baru juga bisa menambahkan wawasan tentang Alam semesta” ungkap Mujahidin.
Acara ditutup dengan jalan kaki dari tempat Camping menuju Pondok yang berjarak kuranglebih sepuluh kilometer.
Puisi Sukmawati Berbalas Felix Siauw: Kamu Tak Tahu Syariat
JAKARTA (Jurnalislam.com) — Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ pada Perayaan 29 Tahun Berkarya desainer senior Anne Avantie di panggung peragaan busana Indonesia Fashion Week (IFW) 2018, Jakarta pekan lalu.
Puisi itu dinilai sebagian pihak khususnya elemen umat Islam menyinggung hal SARA karena membahas tentang syariat Islam, cadar hingga azan. Ustaz Felix Siauw dalam akun instagramnya @felixsiauw membuat puisi balasan untuk Sukmawati.
Berikut isinya yang dikutip Jurnalislam.com
Kamu Tak Tahu Syariat
Kalau engkau tak tahu syariat Islam, seharusnya engkau belajar bukan berpuisi, harusnya bertanya bukan malah merangkai kata tanpa arti
Bila engkau mau mengkaji, engkau akan memahami bahwa hijab itu bukan hanya pembungkus wujud, tapi bagian ketaatan, sebagaimana saat engkau ruku dan sujud
Engkau juga akan mengerti, bahwa membandingkan konde dan cadar itu perkara menggelikan, sebab yang satu ingin terjaga, yang lain malah mengumbar
Kalau engkau tak tahu syariat Islam, hal paling pintar yang engkau lakukan adalah diam. Sebab bicara tanpa ilmu itu menyesatkan, berjalan tanpa pelita di gelap malam
Pastinya juga engkau tak tahu bahwa negeri ini dibangkitkan darah perlawanannya oleh kalimat takbir, yang enam kali dilantangkan dalam azan yang engkau tuduh tak lebih merdu dibanding kidung ibu
Tanpa Islam tak ada artinya Indonesia, maka dimulakan negeri ini dengan “Atas berkat rahmat Allah”. Islam adalah ruh Indonesia, nyawa Indonesia
Takkan berdaya wanita Indonesia tanpa Islam, yang telah menuntun mereka dari gelapnya penjajahan menuju cahaya kemerdekaan. Dari sekeder pelengkap jadi tiang peradaban
Dan kini aku menggugat dirimu, mempertanyakan dirimu, siapa kamu sebenarnya? Mengapa cadar dan azan begitu mengganggu dirimu, membuat engkau resah? Yang kutahu, hanya penjajah yang begitu
Tak paham konde, tak mampu berkidung, tak jadi masalah. Tapi tak tahu syariat mana bisa taat? Tak Indonesia tetap bisa menghuni surga, tak Islam maka tak ada lagi penolong di satu masa yang tak ada keraguan di dalamnya
Kalau engkau tak tahu syariat. Mari sini ikut melingkar dan merapat. Akan aku sampaikan biar engkau pahami, bagi mereka yang beriman, tak ada yang lebih penting dari Allah dan Rasul-Nya
Pasca Puisi Sukmawati, Akun Instagram Anne Avantie Hilang dari Pencarian
JAKARTA (Jurnalislam.com) — Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ pada Perayaan 29 Tahun Berkarya desainer senior Anne Avantie di panggung peragaan busana Indonesia Fashion Week (IFW) 2018, Jakarta pekan lalu.
Puisi itu dinilai sebagian pihak khususnya elemen umat Islam menyinggung hal SARA karena membahas tentang syariat Islam, cadar hingga azan.
Tak lama pasca beredar video puisi Sukmawati, akun instagram Anne Avantie yang bernama @anneavantiheart tiba-tiba menghilang dari pencarian di instagram. Padahal, akun tersebut sebelumnya cukup aktif dan diikuti hingga 600 ribu follower lebih.
Puisi Sukmawati Berbalas Felix Siauw: Kamu Tak Tahu Syariat
Hingga berita ini dibuat Selasa (3/4/2018) pagi, belum ada keterangan mengapa akun instagram @anneavantieheart nonaktif. Ada sebagian netizen yang mengaitkan dengan puisi Sukmawati di helatan Anne Avantie itu. Berikut petikan Sukmawati Soekarno Putri :
Ibu Indonesia
Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut
Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia
Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi
Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.
Suasana Haru di Peletakan Batu Pertama Gedung Dakwah ANNAS
BANDUNG (Jurnalislam.com)–Ahad, 1 April 2018, persis di seberang Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI), bilangan Martanegara Bandung, tampak berkumpul ratusan ulama, pejabat, dan tokoh masyarakat di sebuah tanah kosong seluas 360 meter persegi.
Ada Ketum MUI Kota Bandung cum Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jabar, Prof. Dr. KH Miftah Faridl. Ketum Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Pusat. Ir Kusmayadi Tatang Padmadinata, Asisten Kesra Pemprov Jabar. Pjs Walikota Bandung, Doktor Muhammad Solihin. Kaporestabes Kota Bandung Kombes Hendro Pandowo. Anggota DPR RI H Shodiq Mujahid. Wakil Ketua DPRD Kota Bandung Edwin Senjaya. Pakar Hukum Tata Negara, Prof. Asep Warlan Yusuf. Tampak pula Guru Besar Komunikasi Unpad, Prof. Engkus Kuswarno, dan beberapa lainnya.
Ada apa gerangan sampai sosok-sosok spesial itu berkumpul? Tentu saja kumpul yang tak sekadar berkerumun. Kumpul yang tak semata tatap muka antar kolega, lantaran lama tak bersua.
Gedung Dakwah ANNAS Diharap Jadi Sarana Dakwah Tangkal Paham Syiah
Tersimpan sebuah mimpi dan harapan. Dalam sambutannya di perhelatan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Dakwah ANNAS (Aliansi Nasional Anti Syiah) tersebut, KH Athian Ali M Da’i L c MA, sang Ketum yang juga inisiator ANNAS berujar, “Betapa mahalnya harga aqidah bagi umat Islam. Maka penting dibentengi dari bahaya beragam aliran dan pemikiran menyimpang, khususnya Syiah. Alhamdulillah ada seorang dermawan yang mewakafkan sebidang tanah di lokasi strategis ini, untuk dibangun gedung dakwah.”
Gedung Dakwah ini, kata Ketua Umum Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) ini, kelak akan menjadi Pusat Dakwah, pendidikan dan silaturahim ulama dan umat.
“Pembangunan Gedung 3 lantai seluas 360m2 itu akan berlangsung secara bertahap selama 6 bulan hingga 1 tahun ke depan, dengan proyeksi biaya mencapai 3,5 Milyar Rupiah,” kata KH Athian Ali dilansir Islamic News Agency (INA), Kantor Berita yang dirintis Jurnalis Islam Bersatu (JITU).
Karenanya, Athian berharap, dengan doa dan dukungan segenap elemen umat, mudah-mudahan pembangunan gedung ini bisa segera terwujud.
Di tempat dan acara yang sama, Pj Walikota Bandung Muhammad Solihin, mengapresiasi rencana pembangunan Gedung Dakwah ANNAS.
“Atas nama Pemerintah Kota Bandung, saya mengapresiasi peletakan batu pertama Gedung Dakwah ini. Semoga menjadi sarana dakwah dalam menjaga aqidah, serta membentengi umat dari paham-paham menyimpang, penyebab lingkungan tidak kondusif.”
Di puncak acara, di satu sudut yang sudah dipersiapkan, pekik takbir dari lisan para tokoh, mengiringi satu per satu batu berlapis semen yang mulai tersusun, sebagai simbol dimulainya pembangunan Gedung Dakwah ANNAS.
Acara lantas dipungkas oleh lantunan do’a syahdu Ketum MUI Kota Bandung yang juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jabar, Prof. Dr. KH. Miftah Faridl.
Tetiba haru membuncah. Atmosfir acara yang sejak awal diwarnai senyuman, sontak berubah. Bulir-bulir bening tampak meleleh dari sudut-sudut mata sang pelantun doa, juga tuan rumah, KH Athian Ali. Doa dan air mata, yang semoga mengetuk pintu langit, sehingga terbuka seluas-luasnya untuk terwujudnya sebuah niat dakwah. Bentengi akidah ummah.
Reporter: Abdullah emha/INA/ Jurnalis Islam Bersatu
Asep Warlan : Gedung Dakwah Bukti Keseriusan ANNAS Tolak Syiah
BANDUNG (Jurnalislam.com) – Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Parahyangan (Unpar) yang juga anggota Dewan Pakar Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Prof. Dr. Asep Warlan mengatakan bahwa pembangunan gedung dakwah ANNAS merupakan bukti keseriusan organisasi tersebut dalam menangkal gerakan syiah.
“Gedung dakwah adalah center of action, tempat kita berdiskusi, menyusun strategi, berinteraksi dengan umat. Bagaimana kita meyakinkan kepada semua pihak bahwa dengan adanya gedung ini menunjukman bahwa kita memang sangat serius dalam dakwah ini. Bahwa dakwah ini harus sampai kepada umat,” katanya dalam peletakan batu pertama Gedung Dakwah ANNAS di Bandung, Ahad (1/4/2018).
Suasana Haru di Peletakan Batu Pertama Gedung Dakwah ANNAS
Asep Warlan menekankan bahwa menilik bahaya gerakan syiah yang mengancam keutuhan NKRI, maka dakwah harus terus digencarkan. “ANNAS Foundation berkomitmen untuk mempunyai kinerja yang baik dalam dakwah. Dakwah itu bagaimana mendayagunakan sarana dan salah satu yang kita hadirkan adalah pembangunan Gedung Dakwah ANNAS ini,” tambahnya.
Gedung ini, diharapkan dapat mempererat ukhuwah dan kesatuan perjuangan menjaga akidah umat dari akidah syiah.
“Karena perjuangan membutuhkan pengorbanan, pengorbanan membutuhkan kekuatan, kekuatan membutuhkan kebersamaan, kebersamaan membutuhkan kemauan, dan kemauan membutuhkan keihlasan. Mudah-mudahan gedung ini akan menjadi maslahat, barokah dan mencapai pada tujuannya,” pungkasnya.
Gedung Dakwah ANNAS Diharap Jadi Sarana Dakwah Tangkal Paham Syiah
BANDUNG (Jurnalislam.com)–Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Indonesia menggelar helatan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Dakwah, Minggu (1/4/2018).
Acara ini dihadiri oleh ratusan tamu undangan mulai dari kalangan ulama, media, tokoh nasional hingga pejabat daerah seperti Ketua MUI Kota Bandung Prof. K.H. Miftah Faridl, Kapolrestabes Bandung, Kombes Hendro Pandowo serta dari Wali Kota Bandung yang diwakili oleh Pejabat Sementara (PJS) Muhammad Solihin dan Wakil DPRD kota Bandung Edwin Sanjaya.
Acara dibuka dengan pembacaan Ayat Suci Al Qur’an hingga menampilkan cuplikan video dukungan serta ucapan selamat dari Tokoh Nasional maupun Jawa Barat, dan dilanjutkan dengan seremonial Peletakan Batu Pertama. Acara ditutup dengan doa dan foto bersama.
Dalam sambutannya Ketua ANNAS Pusat K.H. Athian Ali Da’i, Lc, MA. Mengucapkan rasa syukur atas terlaksana nya acara ini dan berharap agar gedung dakwah digunakan sebagai pusat penangkalan syiah di Indonesia khususnya di Jawa Barat.
“Puji Syukur tidak henti-hentinya kepada Allah SWT atas rahmat serta karunia dan Innayah nya kepada kita sekalian pada kesempatan ini bisa bertemu dengan Bapak dan Ibu Sekalian,” kata KH Athian Ali.
Dalam kesepatan yang sama, Pejabat Sementara (Pjs) Walikota Bandung Muhammad Solihin mengucapakan selamat dan mengapresiasi atas peletakan batu pertama Gedung Dakwah Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS).
“Dalam kesempatan yang berbahagia ini Kami atas nama pemerintah Kota Bandung mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas peletakan batu pertama Gedung Dakwah Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS)”, ungkapnya
Dengan visi ANNAS yaitu : Menjadikan Aliansi Nasional Anti Syiah sebagai kekuatan strategis ummat Islam mengahadapi ajaran sesat di indonesia, Muhammad Solihin pun berharap dengan dibangunnya Gedung Dakwah ANNAS ini bisa menjadi gedung sarana dakwah yang sesuai dengan nilai-nilai islam yang tercantum dalam Alquran dan Hadits.
Reporter : Kiki Firmansyah
Kapolres Cimahi Datang Lebih Awal Demi Ikut Tausiah Ustaz Abdul Somad
PAROMPONG (Jurnalislam.com), — Kapolres Cimahi, AKBP Rusdy Pramana Suryanagara tak Ingin melewatkan safari dakwah ulama besar Ustad Abdul Somad di Bandung barat. Bahkan dirinya duduk paling depan untuk mendengarkan tausiah Ustad Abdul Somad tersebut, Ahad (1/4/2018) di Eco Pesantren Daarut Tauhid, Bandung.
Kapolres Cimahi mulai mengikuti tausiah Ustaz Abdul Somad sejak selesai shalat subuh di Kota Baru Parahyangan. Bahkan untuk menuju ke Eco Pesantren dirinya rela mengendarai sepeda motor demi menghindari macet. Bahkan sebelum ramai orang dirinya sudah berada di barisan paling depan.
“Iya tadi saya dari subuh ikut di Kota Baru Parahyangan, tadi saya kira-kira jam tujuhan udah sampe disini,” kata saat kajian selesai, di Eco Pesantren DT, Ahad, (1/4/18).
Tak ada pengawalan khusus, Rusdy terlihat mengenakan peci putih dengan seragam lengkap. Di Eco Pesantren DT sendiri ada tiga ulama besar yang memberikan tausiah yaitu, KH Abdullah Gymnastiar, Ustaz Abdul Somad, dan TGB Muhamad Zainul Majdi.
Reporter: Saifal
Ketika Aa Gym, TGB dan Ustaz Abdul Somad Satu Panggung
PAROMPONG (Jurnalislam.com) –Apa jadinya jika tiga tokoh agama nasional yaitu dai kondang KH Abdullah Gymnastiar, Ustaz Abdul Somad, dan Gubernur NTB TGB Muhamad Zainul Majdi berada dalam satu panggung dakwah?
Tentu, materi dari mereka sangat ditunggu-tunggu. Rupanya pertemuan langka ini terjadi pada hari Ahad (1/4/2018) di di Eco Pesantren DT , Bandung.
Tak ada rasa canggung diantara ketiganya, bahkan sesekali mereka saling memuji satu sama lain. Tidak hanya memberikan nasehat kepada jamaah yang hadir namun mereka juga saling memberikan nasehat sesama tiga ulama besar ini.
Ustad Abdullah Gymnastiar, atau akrab disapa Aa Gym ini menjadi moderator dan duduk berada ditengah diantara Ustad Abdul Somad Dan TGB Muhamad Zainul Majdi. Dirinya menceritakan pengalamannya ketika banyak orang yang menghujatnya, hingga ia merasa bahwa telah menuhankan manusia yang kerap memujinya.
Bahkan ketika itu dirinya merasa orang-orang yang dahulu mendekati dirinya kini tak lagi mau mendekat, namun dirinya memetik pelajaran bahwa kawan sejati adalah mereka yang mau bersama kita ketika kita sulit.
” Dari situ kita akan tau siapa teman sejati kita,” katanya dalam menceritakan kisahnya.
Ia melanjutkan, Kala itu dirinya sadar bahwa harta dan popularitas telah menjadi tuhan secara tidak sadar, hingga dirinya meratapi semua hal itu.
Sementara dirinya bercerita, kedua ulama yang berada di samping kiri dan kanannya terlihat terdiam sembari menundukkan pandangan. Diakhir cerita dirinya menyampaikan jangan sampai hal itu terjadi kepada kedua ulama yang ada di samping kiri dan kanannya itu.
Kedua ulama yakni Ustad Abdul Somad, Dan TGB Muhamad Zainul Majdi menerima dan mengaku hal itu adalah pelajaran berharga bagi mereka.
Diakhir acara, ketiganya memimpin doa secara bergantian, mulai dari AA Gym, Ustad Abdul Somad, dan terakhir dari TGB, sementara ketiganya berdoa tak terasa diantara mereka ada yang meneteskan air mata.
Reporter: Saifal
Kaum Milenial dan Geliat Wisata Halal
JAKARTA –Pasar wisatawan muslim terus tumbuh signifikan dari tahun ke tahun. Laporan yang dirilis Mastercard-Halal Trip Muslim Millennial Travel Report (MMTR) 2017 menyebut nilai pengeluaran wisatawan muslim milenial secara global pada 2025 akan mencapai sekitar USD100 miliar.
Sebanyak 10 negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja sama Islam (OKI), yaitu Arab Saudi, Turki, Malaysia, Kazakstan, Mesir, Indonesia, Oman, Iran, Uni Emirat Arab, dan Qatar, dalam beberapa tahun ke depan akan terus menjadi tujuan utama wisatawan muslim milenial. Adapun lima negara di luar OKI yang akan menjadi destinasi utama muslim milenial adalah Jerman, Rusia, Inggris, India, dan China.
CEO Crescent Rating & Halal Trip Fazal Bahardeen mengatakan, laporan MMTR 2017 memberikan wawasan mengenai pasar wisatawan muslim milenial yang berkembang pesat. “Kelompok tersebut memiliki pengaruh yang semakin besar sehingga menumbuhkan peluang dan tren secara global,” ujar Fazal.
Dalam survei MMTR 2017 juga disebutkan, saat ini terdapat sekitar 1 miliar muslim yang berusia di bawah 30 tahun. Angka itu mewakili 60% dari populasi di negara-negara dengan mayoritas muslim sehingga menjadi kesempatan bagi pasar perjalanan wisata halal. Adapun Crescent Rating memperkirakan lebih dari 30% wisatawan muslim pada 2016 merupakan kaum milenial dengan 30% lainnya merupakan generasi Z yang merupakan kelompok demografis setelah kaum milenial.
Vice President Core & Digital Products, Indonesia, Malaysia & Brunei Division Mastercard Aisha Islam mengatakan, nilai-nilai yang dipegang kaum milenial kini beralih dari hanya ingin memiliki sebuah barang menjadi ingin mendapatkan pengalaman. Hal ini bisa dipenuhi dengan melakukan perjalanan. “Bagi para muslim milenial, perjalanan lebih dari sekadar liburan. Mereka sering kali menganggap perjalanan sebagai sebuah kesempatan untuk mengembangkan diri,” jelasnya.
Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), salah satu provinsi yang pernah menerima penghargaan World Halal Travel Awards 2015, akan terus meningkatkan dan membenahi wilayahnya sebagai salah satu wilayah tujuan utama wisatawan asing. Kepala Dinas Pari wisata Provinsi NTB Lalu Mohammad Faozal mengungkapkan, wisata halal merupakan sebuah produk wisata yang memberikan warna baru. Target utama wisatawan juga bukan hanya dari kunjungan wisatawan lokal, melainkan wisatawan mancanegara.
“Kami juga tidak sekadar fokus pada wisatawan muslim yang datang dari Timur Tengah, tetapi mengharapkan semua turis dari mana pun bisa menikmati keindahan NTB,” ujar Faozal dilansir KORAN SINDO.
Selama dua tahun terakhir, NTB menurutnya telah mempercepat stimulus untuk memaksimalkan pariwisata. Pemerintah daerah ikut menggelontorkan anggaran sebesar Rp2 miliar kepada industri lokal untuk bersiap dengan konsep wisata halal. “Kita akan menyiapkan NTB sebagai kota wisata halal seperti mulai dari bandara yang dilengkapi dengan tempat ibadah yang nyaman sampai semua brand yang kami pasarkan sudah halal. Sampai saat ini produk di NTB sekitar 80% sudah mendapatkan sertifikasi halal meski pasarnya konvensional,” jelasnya.
Selain NTB, wisata halal di Indonesia juga diusung Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Kepala Dinas Pariwisata NAD Reza Pahlevi mengatakan, wisa tawan yang datang beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan yang signifikan seiring dengan tren wisata halal yang semakin digemari. Aceh pun menurutnya terus melakukan peningkatan dalam berbagai hal, mulai dari Sabang, Banda Aceh, Aceh Simeulue hingga Singkil.
“Kami akan terus menciptakan wisata halal, utamanya memfokuskan pada ketersediaan makanan serta hotel yang besertifikasi.
Ada standar global yang harus terus kami penuhi dan kami juga melakukan kerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan serta Majelis Ulama Indonesia,” paparnya.
Upaya peningkatan wisata halal secara langsung telah mendapatkan dukungan pemerintah pusat sejak tiga tahun lalu melalui tim percepatan wisata halal yang dibentuk Kementerian Pariwisata. Sekretaris Tim Percepatan Wisata Halal, Tazbir, mengungkapkan, wisata halal merupakan potensi perekonomian baru yang sudah diyakini banyak negara. Bahkan pasar bisnisnya pun memiliki potensi yang sangat besar sehingga Indonesia tidak boleh ketinggalan untuk menggarap wisata halal.
Konsep wisata halal ke depan menurut Tazbir juga akan meluas pada pemberian label halal bukan hanya kepada sektor industri makanan dan minuman, tetapi juga kepada bisnis perhotelan dan restoran. Menurutnya, tidak tertutup kemungkinan hotel dan restoran akan diberi label halal.
Dia mencontohkan lokasi wisata halal yang ada di Korea Selatan yang telah menerapkan konsep halal tersebut kepada hotel dan restoran. Akibat berkembangnya budaya Korea seperti KPop dan K-Drama yang mampu menghipnosis masyarakat dunia, Korea mampu menyiapkan diri bagi kedatangan turisturis muslim.
“Kita sudah bukan lagi hanya memasang pengumuman tidak menggunakan babi, tetapi akan langsung mengumumkan restoran mereka telah mendapatkan sertifikasi halal. Kalau caranya seperti ini, turis mana yang tidak akan tertarik? Mereka tentu tidak akan berpikir dua kali untuk makan di restoran tersebut,” tuturnya.
Pengamat pariwisata syariah Azril Azahari mengatakan, jika mengacu pada Fatwa MUI Nomor 108/2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pariwisata, semua lini dan area setempat harus berdasarkan prinsip syariah. Artinya bukan hanya makanan yang berlabel halal, tetapi keseluruhan daerah tersebut harus sesuai dengan syariat Islam. Meski demikian Azril menyadari bahwa tidak bisa sepenuhnya wisata halal menerapkan syariat Islam.
“Untuk produk memang sangat memungkinkan (mendapat label halal), tetapi untuk urusan layanan belum banyak yang menerapkan. Misalnya pemeriksaan kartu pengenal untuk memastikan wisatawan bersama muhrimnya,” tutur Azril.
Meski demikian Indonesia menurutnya sudah siap dengan tren wisata halal ini. Pemerintah pun dinilai sukses dalam menangkap potensi yang ada pada wisata halal. Namun dia berharap Indonesia tidak hanya terfokus pada wisatawan muslimnya saja sebagai target pasar, melainkan pada wisatanya itu sendiri.
(sumber: sindonews)